<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598</id><updated>2011-11-25T12:57:48.104-08:00</updated><category term='cerita pendekku'/><category term='dialog imajiner'/><category term='sajak'/><category term='esei'/><category term='artikel'/><title type='text'>phyloginik</title><subtitle type='html'>kalau tersudut tak mampu mengelak, kepada kata aku mengadu. kalau sudah jaya tak mampu menahan gelak, kepada kata aku mencumbumu. maka inilah kamar kata-kata itu...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>122</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-4054667465607353600</id><published>2011-10-14T11:55:00.002-07:00</published><updated>2011-10-14T12:00:44.699-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Saya Tidak Bisa Berenang</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya tidak bisa berenang. Tetapi saya sudah di tengah laut. Di atas  perahu bermesin ini, sudah tersedia kacamata plus pipa “insang” untuk &lt;em&gt;snorkeling&lt;/em&gt;. Di bagian depannya, puluhan sepatu katak bertumpuk-tumpuk.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kecuali empat orang awak perahu, penumpang lainnya adalah rekan sekantor. Mereka bersemangat meskipun beberapa orang mabuk laut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perahu  bergerak menjauhi pulau Tidung dan mendekati pulau lainnya. Perjalanan  sekitar 45 menit. Saya tak tahu nama pulau yang didekati perahu itu.  Saya baru kali pertama datang ke Kepulauan Seribu. Sulit menghapal  nama-nama dan memastikan lokasi pulau-pulau yang berdekatan itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perahu  tak menepi di pulau tujuan. Hanya berhenti di wilayah yang tak terlalu  dalam, mungkin sekitar satu kilometer dari pulau. Di bawah perahu, air  berwarna biru dan jernih. Dan saya belum pernah berenang ke laut, selain  juga tidak bisa berenang. Tetapi toh ada pelampung.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  turun ke air tanpa rasa takut. Tubuh mengapung tanpa harus menggerakkan  kaki. Pipa insang sudah saya masukkan ke dalam mulut. Selanjutnya,  kacamata &lt;em&gt;snorkeling &lt;/em&gt;saya lekatkan ke wajah. Astaga! Saya tidak  bisa bernafas. Setiap kali saya mencelupkan kepala ke dalam air, saya  muncul kembali ke atas permukaan dengan nafas terengah-engah. Air laut  terminum juga sedikit-sedikit. Asin.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang teman  mengajarkan caranya. Saya harus bernafas lewat mulut. Hanya lewat mulut.  Seperti ikan. Ketika saya mencoba bernafas lewat mulut, saya baru tahu  trik dari wisata laut yang belum pernah saya coba ini. Untuk pertama  kali ketika saya berhasil bernafas dan mencelupkan kepala ke laut, saya  melihat keadaan di bawah laut begitu terang dan berwarna-warni.  Ternyata, bawah laut memang ajaib, indah, seperti dunia sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejak  itu, saya berkeliaran ke sana-kemari untuk melihat-lihat terumbu karang  beserta ikan-ikan berbagai jenis dan warna. Ikan-ikan itu berseliweran  di atas kepala saya. Berenang bergerombol di depan mata saya tanpa rasa  takut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sekali-sekali saya iseng mendekati gerombolan yang  tampak sedang berhenti di satu rumpun karang. Mungkin mereka mencari  makan. Ketika saya mendekat, mereka menjauh dan sulit saya tangkap.  Tetapi mereka sama sekali tidak punya rasa takut terhadap saya, si  manusia yang baru pertama kali berkeliaran di dalam laut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Belakangan,  ketika saya sudah sampai di Jakarta lagi, saya ceritakan ke teman-teman  saya betapa cueknya ikan-ikan itu terhadap saya. Teman-teman saya  menjawab dengan sederhana: “ya wajarlah! Itu memang alamnya dia.” Saya  lupa, bahwa di dalam laut, manusia hanyalah orang asing. Ikan adalah  tuan rumah di sebuah dunia lain yang mungkin saja seperti surga.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pukul  empat sore, kami semua naik ke kapal. Saya sedikit mual. Rasanya angin  yang tidak pernah keluar dari tubuh saya terdesak hingga ke ujung  pori-pori. Tetapi pemandangan bawah laut yang dilihat dari permukaan  membuat rasa mual itu tak ada artinya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Malam itu kami tak jadi bakar ikan di pinggir laut. Sebagian dari kami lelah. Sore sehabis &lt;em&gt;snorkeling&lt;/em&gt;, beberapa dari kami bersepeda ke Jembatan Cinta. Jembatan Cinta mungkin sekitar dua kilometer dari rumah sewa (&lt;em&gt;home stay&lt;/em&gt;) yang kami tumpangi. Di halaman rumah sewa berderet puluhan sepeda jenis mini dengan keranjang di depan setang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bersepeda  ke Jembatan Cinta memberikan hiburan yang lumayan. Kami melewati jalan  setapak yang membujur nyaris sepanjang pulau. Hari itu Minggu. Jadi,  Jembatan Cinta sangat ramai. Ada perempuan-perempuan dengan rambut  basah, anak kecil, dan pemuda-pemuda yang sedang berhitung sebelum  melompat ke air dari jembatan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kelelahan bermain sepanjang  hari membuat sebagian dari kami malas ke pinggir laut. Malam itu,  cumi-cumi dan ikan baronang dipanggang di halaman di samping &lt;em&gt;home stay&lt;/em&gt;.  Rasanya lumayan. Bumbu dan bakarannya pas. Di televisi, Everton  ditaklukkan Liverpool 0-2. Manchester United mengalahkan Norwich City  juga dengan skor 2-0.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi tak ada bir di pulau ini.  Rekan-rekan sekantor saya, terutama yang lelaki, adalah penikmat bir.  Biasanya, acara-acara malam seperti itu selalu diwarnai bir. Menurut  salah seorang penduduk, bir dilarang di pulau itu. Kafe-kafe di pinggir  pantai bahkan tak menjual minuman keras apapun. Bahkan, kata penduduk  itu, ada pengunjung yang tertangkap karena membawa ganja. Pengunjung itu  langsung diserahkan ke polisi setempat dan dikirim ke Jakarta untuk  dimasukkan ke penjara.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi, bagaimana bisa liburan malam di pinggir pantai tanpa bir? Malam pun bergerak begitu cepat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beruntung  saya punya Giyatno. Dia bagian pembantu umum di kantor saya. Sebelum  orang-orang tidur karena kelelahan, Giyatno mengajak saya berjalan-jalan  ke pinggir pantai. Saya mengiyakan. Kami berjalan ke dermaga papan di  mana perahu wisata &lt;em&gt;snorkeling&lt;/em&gt; bersandar.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tempatnya  terlalu ramai. Sebagian pengunjung duduk di atas tikar sambil membakar  jagung. Saya, dan juga Giyatno, butuh tempat yang sepi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah  berjalan-jalan ke sana kemari, akhirnya kami menemukan tempat yang kami  inginkan. Sebuah balai-balai dari papan dengan sandaran kepala. Jika  anda mengantuk, anda bisa merebahkan badan dan menyandarkan kepala  dengan kemiringan leher yang pas. Di kiri-kanan, terdapat rumah  penduduk.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di depan balai-balai, tegak sebuah lampu listrik  berwarna merkuri. Anehnya, lampu merkuri tersebut menyala dan mati  dalam jarak lima menit sekali. Di sebelah kanannya, dua perahu terikat  pada tambatannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan kami melakukan semacam, sebutlah  kegiatan kriminal kecil yang tetap punya resiko. Setelah tubuh dan  pikiran bergerak semakin pelan, saya merebahkan badan dan menyandarkan  kepala. Ketika memejamkan mata, yang terdengar hanya deru angin,  gemerisik dedaunan yang tak berhenti diusik angin, serta lampu yang  terus nyala-mati tiap lima menit. Tubuh seperti di dalam buaian. Betapa  indahnya!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Giyatno bilang kami bisa saja tertidur di sana.  Tetapi saya lebih memilih pulang. Namun begitu, sebelum kami pulang,  Giyatno bercerita tentang perjalanan hidupnya. Ia pernah ditangkap  polisi karena menggores bodi mobil saat ngamen. Itu terjadi di  Yogyakarta saat usianya 15 tahun. Giyatno dibawa ke semacam markas  tentara atau polisi. Menurut dugaannya, mobil yang digoresnya di jalanan  itu milik petinggi militer atau polisi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari Giyatno juga  saya tahu, bahwa di jalanan kota Yogyakarta, orang-orang yang  berkeliaran justru tak berasal dari kota itu. Sebagian mereka berasa  dari Magelang, Gunung Kidul, dan daerah sekitarnya. Giyatno sendiri  berasal dari Solo.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya ia pernah masuk ke dalam  diskotik-diskotik di Yogyakarta. Siasatnya, sebelum ke diskotik, dia  bersama teman-temannya membeli anggur merah. Anggur merah itu dimasukkan  ke dalam tas dan di bawa ke dalam diskotik. Tujuannya untuk menghemat  belanja di dalam diskotik. Jadi, di dalam diskotik mereka cukup memesan  3-4 botol bir. Untuk mencari efek mabuk, anggur merah yang dibeli dari  luar ditenggak diam-diam.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya punya kecocokan sama  Giyatno. Pertama, mungkin karena saya dan Giyatno seumuran. Yang kedua,  kita sama-sama penggila sepak bola. Saya mencintai Barcelona dan  pesimistis dengan liga Indonesia. Tetapi Giyatno berbeda. Dia anggota  Pasopati, nama untuk fans Persis Solo. Dalam perjalanan pulang, Giyatno  mengenakan kaos berwarna merah dengan tulisan di bagian punggung: Salam  Edan Asal Mapan. Saya tak terlalu mempersoalkan arti kalimat itu. Yang  jelas, itu semacam semboyan Pasopati.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat fans Persebaya,  Bonek (Bondo Nekat), dilempari batu dalam perjalanan kereta yang mereka  tumpangi lewat Solo, Giyatno rajin mengikuti beritanya. Dari dia juga  saya tahu kini Bonek dan Pasopati berdamai. Kalau Bonek masuk ke Solo,  Pasopati akan mengawal.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kami pun pulang ke rumah sewa  dalam keadaan pikiran berjalan sangat pelan. Giyatno mendengar suara  dangdut. Dia mengajak saya untuk mencari sumber suara musik itu. Dan  kami berhenti di sebuah pagar yang membatasi pinggir pantai.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  balik pagar ada sebuah panggung dengan seorang pria pemain keyboard. Ia  mengiringi penyanyi perempuan yang mengenakan baju langsung dengan dada  terbuka yang berhenti di atas lutut. Seorang rekan perempuan di kantor  saya memberi tahu saya istilah pakaian jenis itu:&lt;em&gt; baby dolls&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Baby dolls&lt;/em&gt; itu melekat mengikuti lekuk tubuh si penyanyi. Pas pada tubuhnya yang kecil dan ramping. Dari jauh, gadis &lt;em&gt;baby dolls&lt;/em&gt;  itu tampak bermotif tutul macan berwarna hitam. Ia sedang menyanyikan  lagu dangdut ala Pantura. Tetapi dari cengkoknya, saya menebak penyanyi  itu memiliki bahasa ibu Sunda.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sementara dentam &lt;em&gt;beat&lt;/em&gt;  dangdut pesisir itu terus keluar dari pengeras suara, penyanyi itu  dikelilingi beberapa lelaki muda yang sengaja merapatkan diri ke  tubuhnya. Saya menduga, laki-laki muda itu mabuk. Mereka bergantian  merapatkan diri ke tubuh si penyanyi sambil nyawer. Penyanyi hanya  tertawa sambil sesekali menghindar dari tatapan mata pemuda yang  berjoget di depan tubuhnya. Tawanya terdengar sebagai sesuatu yang  terpaksa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lagu itu pun berhenti. &lt;em&gt;Baby Dolls&lt;/em&gt; macan  tutulnya masih tetap sedap dipandang. Lalu dia berkata pada lelaki  mabuk itu untuk jeda sejenak. Dia mau menyanyikan lagu yang pelan. Maka  menyanyilah dia sebuah lagu yang bercerita tentang perasaan perempuan  yang tak percaya pada cinta laki-laki. Saya mendengarnya sebagai sebuah  pernyataan terhadap lelaki yang nyawer dan merapat-rapatkan tubuh mereka  pada tubuhnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Giyatno bertanya pada seorang ibu-ibu. Ibu  itu tampak seperti penduduk yang tinggal tak jauh dari sana. Dia duduk  menyaksikan si &lt;em&gt;baby dolls&lt;/em&gt; dari pinggir pagar kawat. Dalam  cahaya malam, saya ingat dia mengenakan daster berwarna merah jambu yang  memudar. Giyatno bertanya apakah acara gadis&lt;em&gt; baby dolls&lt;/em&gt; dibuka  untuk umum. Si ibu menjawab tidak tahu. Yang diketahuinya hanyalah  acara itu disewa oleh salah satu perusahaan. Dugaan saya, jika acara itu  dibuka untuk umum, Giyatno pasti akan joget.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sela-sela  lagu yang sedih itu, Giyatno mengajak saya pulang dalam keadaan agak  sempoyongan. Tetapi lagu sedih yang dinyanyikan gadis &lt;em&gt;baby dolls &lt;/em&gt;tetap menarik perhatian. Belum jauh dari panggung, saya berhenti. Saat saya melihat kembali ke panggung, gadis &lt;em&gt;baby dolls&lt;/em&gt;  sudah tidak ada lagi, tetapi suaranya masih mengalun. Saya bertanya ke  Giyatno kemana pergi si penyanyi. Giyatno menjawab tak tahu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah melihat ke sana-ke mari, barulah saya tahu ternyata gadis &lt;em&gt;baby dolls&lt;/em&gt;  meninggalkan panggung dan mendekat ke arah penonton. Dia terus  bernyanyi dan bergoyang. Sesekali keluar tawanya yang masih saja  terdengar keluar dengan terpaksa. Ternyata, lagu yang berkisah tentang  rasa sakit hati perempuan karena begitu mudahnya lelaki mengumbar  “cinta” hanyalah sebatas musik. Lagu yang sedih itu jelas tak  dinyanyikan dengan sedih. Tetapi, namanya dangdut, apalagi lagu tentang  kesedihan, meski dinyanyikan hanya demi saweran, tetap saja terdengar &lt;em&gt;mellow. Blue&lt;/em&gt;!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selamat tinggal gadis &lt;em&gt;baby dolls&lt;/em&gt;!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pukul setengah dua belas kami meninggalkan &lt;em&gt;home stay&lt;/em&gt;.  Kapal yang kami tumpangi saat datang, sama dengan yang kami tumpangi  untuk kembali ke Muara Angke. Kapal penumpang dua tingkat itu bernama  Pesona Indah. Penumpang duduk rapat di atas tikar. Sebagian mengenakan  pelampung. Karena memang demikianlah standar keamanannya. Saya malas  mengenakannya. Terlalu repot.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam keadaan mata yang  mengantuk, kapal bergerak menuju Angke. Saya sempat tertidur di bagian  depan tanpa atap lantai dua kapal. Saya terjaga ketika gedung-gedung di  pinggir laut yang disebut orang sebagai hunian Pantai Indah Kapuk mulai  tampak. Di bawah, air laut berwarna keruh, jika tidak disebut hitam dan  kotor.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dua kapal pom bensin laut Pertamina bergerak pelan.  Dalam perjalanan pulang ini, yang saya ingat adalah perubahan warna  air. Di sekitar Kepulauan Seribu, air laut biru jernih di mana ikan-ikan  berenang tanpa takut di sela-sela manusia yang&lt;em&gt; snorkeling&lt;/em&gt;.  Semakin menjauh ke tengah, air laut berubah menjadi hijau. Ketika kapal  berhenti di Muara Angke, air laut berubah menjadi hitam dan kotor.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beberapa  hal yang saya ingat dari Pulau Tidung adalah pulau itu terlalu kotor  untuk sebuah pulau wisata. Lagi pula, banyak orang gila yang berkeliaran  di sana. Mungkin menjadi semacam tempat pembuangan orang gila. Tetapi,  kami tetap bersenang-senang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sekitar pukul setengah tiga  siang, air laut di dermaga Angke dan pasarnya yang semrawut adalah  situasi khas yang menyambut kami. Kami menumpang angkutan umum ke  shelter busway di sela-sela jalan macet. Lewat pukul lima sore bus  berhenti di depan kebun binatang Ragunan. Selamat datang kembali  rutinitas!  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, 9 Oktober 2011&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-4054667465607353600?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/4054667465607353600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=4054667465607353600&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4054667465607353600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4054667465607353600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#4054667465607353600' title='Saya Tidak Bisa Berenang'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-4598935036317474253</id><published>2011-10-14T11:52:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T11:53:55.169-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>di depan tivi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;p&gt;aku pernah berkemah di halaman tak dikenal&lt;/p&gt;&lt;p&gt;pohon tak bertuan, sebiji alpukat belum jatuh&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;...di rumah itu, tiga gadis kembar 9 tahun menaburi meses di atas es krim.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;bisakah kau dengar kemeriahannya?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;jakarta, agustus 2011&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-4598935036317474253?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/4598935036317474253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=4598935036317474253&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4598935036317474253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4598935036317474253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#4598935036317474253' title='di depan tivi'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-5316953489302064213</id><published>2011-10-14T11:50:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T11:52:16.651-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>di jalan tenang...</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;aku kencing. seekor kucing berguling, menebak kecoa, lalu lenyap di gelap parit&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;kudekati api kecil jadi kawan. petasan! tadarus!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;cuma penjara kosong, sendirian di pedalaman taman&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;tetapi, di manakah kuncinya?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;jakarta, agustus 2011&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-5316953489302064213?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/5316953489302064213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=5316953489302064213&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5316953489302064213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5316953489302064213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#5316953489302064213' title='di jalan tenang...'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-4892976670747904126</id><published>2011-10-14T11:49:00.001-07:00</published><updated>2011-10-14T11:49:59.234-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>setasiun yang terbakar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;p&gt;adakah kau cium harumku&lt;/p&gt;&lt;p&gt;di sela abjad surat kabar, tentang setasiun yang terbakar?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;jakarta, juli 2011&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="post_form_id" value="62a62620bc00bcfc8c821cae461f2260" type="hidden"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" value="AQB-t9wk" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="feedback_params" value="{&amp;quot;actor&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;target_fbid&amp;quot;:&amp;quot;10150286107742560&amp;quot;,&amp;quot;target_profile_id&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;type_id&amp;quot;:&amp;quot;14&amp;quot;,&amp;quot;source&amp;quot;:&amp;quot;2&amp;quot;,&amp;quot;assoc_obj_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;source_app_id&amp;quot;:&amp;quot;0&amp;quot;,&amp;quot;extra_story_params&amp;quot;:[],&amp;quot;content_timestamp&amp;quot;:&amp;quot;1313998044&amp;quot;,&amp;quot;check_hash&amp;quot;:&amp;quot;a4fd2eec5eb85fa2&amp;quot;}" type="hidden"&gt;&lt;span class="UIActionLinks UIActionLinks_bottom" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;20&amp;quot;}"&gt;&lt;button class="like_link stat_elem as_link" title="Suka item ini" type="submit" name="like" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:22}"&gt;&lt;span class="default_message"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/button&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-4892976670747904126?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/4892976670747904126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=4892976670747904126&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4892976670747904126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4892976670747904126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#4892976670747904126' title='setasiun yang terbakar'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-2175306589737672824</id><published>2011-10-14T11:42:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T11:47:43.814-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Rock and Roll Indonesia Belum Ada</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada akhirnya, kita harus bicara terus-menerus tentang televisi.  Karena dengan cara itulah kita bisa meraba bagaimana generasi awal di  Indonesia menyambut rock and roll. Televisi adalah alat yang  mengembangbiakkan, menggandakan, dan menyebarkan di keramaian. Dan rock  and roll memainkan pemberontakannya di “era televisi.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Masalahnya,  televisi datang ke Indonesia ketika setiap rumah di Amerika Serikat  sudah disibukkan dengan makhluk televisi bernama Elvis Presley. Elvis  bisa dibilang salah satu agen kebudayaan yang memperkenalkan rock and  roll kepada dunia melalu televisi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketika Elvis mendaulat dirinya sebagai “&lt;em&gt;The King&lt;/em&gt;”,  jalanan di Jakarta mungkin masih dipenuhi lubang sebesar kambing.  Setidaknya, itulah keadaan Jakarta yang digambarkan majalah &lt;em&gt;National Geographic&lt;/em&gt;  edisi Agustus 1955. Majalah paling terkenal di dunia itu bahkan  menyebut Jakarta saat itu sebagai wilayah kota dengan pola masyarakat  desa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketika televisi masuk pada 1962 untuk meramaikan  Asian Games, Jakarta masih belum banyak berubah dari keadaan itu. Sadar  atau tidak, masuknya televisi bersamaan dengan Asian Games menjadi salah  satu terusan yang mengenalkan masyarakat Indonesia dengan dunia rock  and roll.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai seorang yang kosmopolit, Soekarno adalah  orang yang membaca fenomena rock and roll. Dengan kebanggaan atas kulit  sawo matangnya, Soekarno menjalankan ideologi Pancasila yang kekirian  dengan mengusir rock and roll dan memenjarakan Koes Bersaudara.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kisah  ditangkapnya Koes Bersaudara pada 29 Juni 1965 berkembang menjadi salah  satu legenda dalam sejarah musik pop(uler) Indonesia. Dari kisah itu,  bisa disimpulkan sebenarnya sejak awal rock and roll sudah bersentuhan  dengan politik dan &lt;em&gt;status quo&lt;/em&gt; di Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Momen  itu seakan lewat begitu saja tanpa ada hingar bingar sebagaimana rock  and roll yang terjadi di tanah asalnya. Penangkapan itu tak  menginspirasi anak muda Indonesia untuk mengkultuskan Koes Bersaudara  sebagaiana dunia mengkultuskan The Beatles. Tak ada berita demonstrasi  kebudayaan untuk membela Koes Bersaudara.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pemenjaraan Koes  bersaudara memberikan makna yang cenderung “negatif” terhadap rock and  roll. Alasannya karena kebudayaan sub kultur yang menggemparkan Amerika  itu dianggap bertentangan dengan kebudayaan asli Indonesia yang  diagungkan Soekarno. Rock and roll dalam kisah Koes Bersaudara dianggap  sebagai sesuatu yang asing (baca: tak pantas). Politik tak menyambut  rock and roll.  &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rock and roll berjalan pincang karena  televisi tak memberi tempat. Saat rock and roll mengalami masa emas di  Amerika dan Inggris, di Indonesia menjadi sesuatu yang dilarang oleh  kekuasaan. Televisi dan rock and roll tak berjalan mesra.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi  saya, peristiwa penangkapan Koes Bersaudara sangat mempengaruhi  bagaimana rock and roll itu dipahami oleh anak muda Indonesia. Dalam  beberapa segi, Soekarno berhasil menjalankan doktrinnya agar Indonesia  tak kena wabah “ngak ngik ngok”.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Andai Soekarno tak  dijatuhkan pada 1966, mungkin ia bisa berubah pikiran terhadap rock and  roll. Di negeri asalnya, rock and roll berkembang menjadi gerakan yang  memusuhi apa yang juga dimusuhi Soekarno, yaitu imperialisme (baca:  pemerintah Amerika Serikat). Gelombang menentang perang Vietnam yang  dilakukan Generasi Bunga bisa jadi sejalan dengan visi politik Soekarno.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun  sayang, saat para hippie merayakan ekspresi kebudayaan dalam Woodstock  1969, Soekarno justru harus berjuang melawan penyakit dalam pengasingan.  Setahun kemudian, Soekarno wafat. Pada masa itu juga, Generasi Bunga  mengalami masa surut. The Beatles bubar. Jimi Hendrix tewas di usia 27  dan membentuk club 27 bersama Janis Joplin, Jim Morrison, serta gitaris  The Rolling Stones Bryan Jones.  &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di Amerika dan Inggris  Generasi Bunga dan rock and roll akhirnya berhadapan dengan ideologi  yang dipuja-pujanya, yakni perubahan. Woodstock ’69 adalah puncak  kebudayaan rock and roll sekaligus isyarat titik balik untuk perubahan.  Tahun 1970 menjadi ambang perubahan era yang meninggalkan Generasi  Bunga.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain, rock and roll sebagai musik dan  persepsi baru dimulai di Indonesia. Untuk mengambil hati anak muda,  Soeharto memanfaatkan kesempatan dengan menjadi antitesis Soekarno:  memberi kebebasan kepada musik “ngak ngik ngok”.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejak  itu, Koes Bersaudara kian sukses setelah berubah nama menjadi Koes  Ploes. Mereka disebut sebagai The Beatles-nya Indonesia. Mau tidak mau,  Koes Ploes harus diakui sebagai pionir yang melakukan pemaknaan awal  sekaligus menerjemahkan rock and roll melalui musik dalam sejarah  industri musik Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain karena faktor kultural  yang alami, doktrin ketakpantasan rock and roll yang diwariskan Soekarno  sesungguhnya masih bercokol dalam benak publik. Koes Ploes menjelma  menjadi band yang lebih mengedepankan romantisme serta keindahan alam  nusantara. Sebagai band, Koes Ploes adalah rock and roll rasa Indonesia.  Tetapi sebagai sebuah urat dalam kebudayaan populer, Koes Ploes hanya  memberi trend.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mungkin karena Koes Ploes hanya menyanyikan  cinta dan keindahan alam, ia bisa sukses di dekade 1970-an. Soeharto  menganggap keberadaan Koes Plus tak mengancam kekuasaan. Dalam konteks  ini, Koes Ploes menjadi &lt;em&gt;role model&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena Koes Ploes tak  menciptakan nyanyian perlawanan sebagaimana John Lennon sang idola,  sejarah musik Indonesia jauh dari gerakan politik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di era  70-an pula, majalah musik Aktuil menjadi pegangan bagi anak muda. Aktuil  menjadi barometer trend. Namun, Aktuil berbeda dari majalah Rolling  Stone. Aktuil lebih banyak memberitakan kehebohan kehidupan selebritas  rock and roll ketimbang ideologi kebebasan dalam perlawanan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aktuil, sebenarnya lebih tepat disebut majalah&lt;em&gt; showbiz&lt;/em&gt;  yang menonjolkan gosip musik. Sedangkan majalah Rolling Stone, adalah  majalah politik yang memanfaatkan sisi kebudayaan dalam musik. Kebebasan  yang ditawarkan Aktuil adalah kebebasan yang cenderung menunjukkan  hedonisme rock and roll.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meski begitu, sebenarnya Aktuil  juga memberikan gambaran yang bisa dianalisis secara kebudayaan tentang  rock and roll. Namun, kebanyakan itu tampak pada artikel-artikel tentang  musisi barat. Ambil contoh, akhir tahun 2010, saya mengikuti diskusi  tentang fanzine di Taman Ismail Marzuki. Di sana saya melihat beberapa  majalah Aktuil edisi 70 hingga 80-an.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya cukup terkesan  dengan Aktuil ketika memberitakan tur terakhir Sex Pistol pada Januari  1978. Artikel itu memberi tahu saya informasi tentang keruntuhan sebuah  band. Tur itu tak terlalu disorot media. Semula konser itu akan digelar  sebelum tahun baru, tetapi imigrasi AS menyulitkan visa Sex Pistol  karena catatan kriminal personilnya. Akibatnya, Sex Pistol hanya main di  kelab-kelab biasa di daerah selatan yang dihuni kelompok &lt;em&gt;red neck&lt;/em&gt; yang tak ramah dengan orang asing. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena  sentimen anti-Inggris dan perilaku Sid Vicious yang tak senonoh,  pengunjung kelab rusuh dan menghajar Sid Vicious. Namun, Sid tetap  memetik basnya dengan darah yang mengalir dari hidung. Adegan itu  diabadikan dan menjadi foto Sid Vicious yang paling terkenal.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi  saya, berita itu sangat berharga karena memberikan gambaran tentang  sambutan orang Amerika terhadap band paling berandalan dari Inggris.  Artikel itu menggambarkan sentimen antar bangsa. Dan artikel itu  menampilkan keliaran dari rock and roll, yakni Sid Vicious dan Sex  Pistol.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun artikel di Aktuil yang mengulas musisi lokal  tak banyak yang bisa dilihat dengan cara pandang seperti itu. Misalnya  saja, artikel yang membahas tentang retaknya hubungan antar personil  band Bentoel. Basis Bentoel merasa vokalisnya hanya mencari sensasi dan  tak berbakat menyanyi. Itulah informasi utama yang hendak diberitakan  artikel itu. Bagi saya, berita itu cumalah kabar tentang konflik dalam  sebuah band. Berita itu adalah berita tentang band, tapi tak memberikan  gambaran tentang kebudayaan yang menjadi implikasi dari band itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hanya,  artikel itu memberi tahu, bahwa band rock bernama Bentoel itu adalah  band milik perusahaan rokok Bentoel. Sebagai musisi, mereka digaji  bulanan, diberikan tempat tinggal, serta bermain dengan alat musik bagus  yang disediakan perusahaan. Bentoel mirip seperti kesebelasan sepakbola  atau klub voli yang bermain atas nama perusahaan. Ini adalah keganjilan  dalam kehidupan musisi, apalagi rock and roll. Sayangnya, tak ada  kritik terhadap keadaan itu dalam artikel di Aktuil. Yang menonjol  hanyalah kemelut perpecahan sebuah band.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain,  kepulangan Ahmad Albar dari Belanda bisa dicatat sebagai salah satu  peristiwa penting dalam industri musik dan rock and roll. Setelah  membentuk band Clover Leaf di Belanda, ia pulang ke Indonesia dan  memainkan lagu-lagu Deep Purple bersama God Bless. Pada 1975, God Bless  didaulat untuk bermain sebagai band pembuka konser Deep Purple di  Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana Koes Ploes menjadi penerjemah rock  and roll di dekade 1960-an, God Bless adalah penerjemah di dekade  1970-an. God Bless memboyong Indonesia ke dalam suasana heavy metal.  Sebagian besar pemusik di era itu memainkan musik “keras” seperti Led  Zeppelin dan Black Sabbath.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;God Bless mengambil jalur yang  berbeda ketimbang Koes Ploes. Pengaruh rock yang kian kasar menyebabkan  God Bless mulai menulis lagu tentang isu sosial. God Bless menjadi  istimewa karena karya-karyanya merepresentasikan keadaan masyarakat,  terutama Jakarta waktu itu. God Bless bisa bercerita cinta, namun juga  bisa bercerita tentang urbanisasi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi, posisi God  Bless dalam konteks rock and roll masih tetap sama dengan Koes Ploes.  Keduanya hanya menjadi ikon rock and roll dalam segi musik. Lirik  bertema sosial tak mengundang para penggemar untuk melakukan reaksi atas  tema yang diusung God Bless.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah diskusi,  pengamat musik Deny Sakrie mengatakan musisi era God Bless lebih banyak  memainkan lagu band barat yang terkenal ketimbang lagu sendiri. Sebuah  band akan dihargai dan diberi tepuk tangan jika bisa bermain semirip  mungkin dengan band barat yang sedang diidolakan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pendapat  Deny Sakrie itu mencerminkan bahwa sejarah industri musik di Indonesia  tak didasari dengan semangat untuk menciptakan. Memang rock and roll  produk kebudayaan barat. Namun ideologi rock and roll adalah kebebasan.  Dan dewa-dewi rock and roll di barat, menyanyikan kebebasan dan  perlawanan dalam musik-musik mereka.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tanpa sadar,  paradigma meniru ketimbang menafsirkan ulang menjadi definisi bersama  tentang rock and roll. Kita terpengaruh untuk menyama-nyamakan musisi  Indonesia dengan musisi barat yang mendunia. Misalnya, kita menyebut  Farid Hardja sebagai Elton John-nya Indonesia. Kita tak bermasalah  ketika Koes Ploes disebut The Beatles-nya Indonesia. Bahkan, kita akan  terkagum-kagum melihat band Indonesia yang merupakan imitasi band  Islandia Sigur Ros.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya pernah menonton film tentang sejarah &lt;em&gt;scene&lt;/em&gt;  musik Islandia. Dalam satu dekade terakhir, musik Islandia memberikan  ciri khas yang menonjol dalam industri musik dunia. Bjork dianggap  sebagai pelopor yang membawa Islandia ke MTV. Dalam sebuah wawancara di  film itu, Bjork membahas musik dengan menjelaskan jati diri orang  Islandia. Ia mengatakan, menjadi Islandis adalah menjadi orang yang  melakukan perlawanan untuk kebebasan. Bjork mengatakan definisinya itu  terinspirasi dari sejarah perlawanan Islandia yang merdeka dari jajahan  Denmark pada 1944.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sisi ini saya melihat Bjork memahami  musik tak sekedar musik. Ketika bicara musik, ia bicara bangsa,  sejarah, dan kelebihan-kelebihan bangsa Islandia. Sebagai musisi, ia  membawa jati dirinya sebagai seorang Islandia melalui musik. Ia  menciptakan musik yang akan dikenang dunia sebagai musik Islandia.  Elemen dasarnya boleh diambil dari Inggris dan Amerika, tetapi warnanya  tetap Islandia. Bjork adalah Bjork. Dan Bjork adalah perempuan Islandia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semangat  penciptaan itulah yang luput dari industri musik Indonesia. Rock and  roll yang sampai ke Indonesia hanyalah aksi panggung, tak lebih dari  itu. Rock and roll yang sampai ke Indonesia tak mewabah hingga ke gaya  hidup dan menjadi “iman” sebagian besar penggemarnya. Ini menunjukkan  bahwa rock and roll benar-benar dianggap sesuatu yang “lain”.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Majalah  Tempo edisi 1 September 1973 pernah menurunkan artikel tentang konser  Summer ’28. Summer adalah singkatan dari Suasana Meriah Menjelang Hari  Kemerdekaan RI ke-28. Konser yang diadakan di Ragunan ini dimaksudkan  sebagai Woodstock-nya Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mengapa kata &lt;em&gt;summer&lt;/em&gt; dipilih sebagai akronim? Memang &lt;em&gt;summer&lt;/em&gt;  (musim panas) identik dengan hippies dan rock and roll. Tetapi  Indonesia tak mengenal musim panas seperti di Amerika dan Eropa. Di  Indonesia hanya ada dua musim, kemarau dan hujan. Acara itu  kebarat-baratan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tempo sendiri tak mengulas perdamaian  rock and roll dalam Summer 78. Tak ada penjelasan yang menyeluruh  tentang penampilan Bimbo, Harry Roesli, atau God Bless. Artikel itu  dipenuhi dengan informasi tentang kerusuhan, botol yang melayang ke  panggung, dan penonton yang tak menghargai musisi. Rock and roll lebih  banyak dikabarkan sebagai sesuatu yang buruk.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Terdengar  seseorang berteriak: "Bakar." Disusul beberapa orang membuat api  unggun, membakar kertas-kertas koran bekas alas duduk. Barangkali buat  sekedar melawan hawa dingin. Ketika ada yang mau membakar umbul-umbul -  bendera hias warna-warni -- bahkan melemparkan api ke panggung tapi tak  berhasil, suasana menjadi benar-benar panas. Anehnya, petugas pemadam  kebakaran yang sudah siap menstarter mobil malah lari membawa  perlengkapan mereka, minggir bersama petugas-petugas yang lain. Ancaman  beberapa pemuda tampaknya lebih menggetarkan hati daripada tugas  pengamanan. "Ini benar-benar barbar," komentar Sandra Reemer dari God  Bless. "Di negeri Belanda, penonton biasanya siap dengan tomat buat  melempar kepada artis yang mainnya jelek." Combi.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Masih  dengan nada kebarat-baratan, di lapangan Sabuga Bandung pada 31 Agustus  1975, digelar konser bernama Kemarau ’75. Tak jauh berbeda, Tempo edisi  13 September 1975 lebih banyak memberitakan kerusuhan di Kemarau ‘75  ketimbang musik dan perdamaian. Saya tak tahu, apakah acara itu memang  hanya dipenuhi kerusuhan atau Tempo yang tak berimbang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Pesta  Kemarau 75 itu benar-benar mulai panas. Blod-Stone: grup dari Bogor  yang muncul kemudian, tidak mampu mendinginkan massa yang hampir  seluruhnya remaja itu. Cuma dua lagu: sempat diselesaikan. Itupun  dibawakan bagaikan maling dikejar hansip. Karena satu dua sandal dan  batu mulai berseliweran ke atas pentas. Parit sedalam 1,5 M yang  membatasi panggung dan massa penonton, tak mampu berfungsi sebagai  benteng pertahanan dari desakan pengunjung ke arah panggung. Beberapa  penonton terjatuh dan terjepit dalam parit itu: pingsan dan luka-luka.  Lima polisi dari kesatuan Sabhara yang mempertahankan panggung dari  serbuan penonton, kewalahan. Di tengah ancaman lemparan sandal, sepatu  dan batu, ke 11 grup musik (direncanakan 15 grup) yang sudah hadir itu,  memang tak bisa berbuat apa-apa. Musik dengan lagu-lagu keras yang  menuntut perlengkapan elektronik mahal dan macam-macam itu, terpaksa  hasilnya menjadi tidak keruan. Kabel-kabel yang simpang-siur itu banyak  yang putus. Sistim suara listrik yang dibutuhkan oleh musik keras itu  ada yang macet. Lagi pula di atas panggung begitu berjubel orang (antara  lain dengan anak buah sutradara Ali Shahab yang memanfaatkan peristiwa  itu buat filmnya).&lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi,  terlepas dari sudut pandang Tempo, kerusuhan itu tetap saja tak harus  terjadi. Jika acara itu dimaksudkan sebagai perayaan anak muda sebagai  biang rock and roll di Indonesia, mereka seharusnya meniru Woodstock  ’69. Di Woodstock, penonton berbondong-bondong tanpa ada kekerasan.  Seorang hippie bahkan menerima informasi dari panggung bahwa kekasihnya  melahirkan anak pertamanya di ruang kesehatan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Televisi  dan media massa sama sekali tak menyiarkan sisi positif rock and roll.  Di tempat asalnya, rock and roll menyerukan kebebasan. Memang, di  sela-sela itu mereka melakukan seks bebas dan mengkonsumsi narkoba.  Namun, di Indonesia rock and roll hanya dikabarkan sebagai alat seks  bebas dan narkoba belaka.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Itu wajar terjadi karena memang  rock and roll berasal dari barat. Dalam beberapa segi ekspresi rock and  roll tak berkesesuaian dengan jati diri ketimuran. Namun media massa  hanya mempertontonkan kemewahan ketimbang spritualismenya. Itu pula  sebabnya, hingga kini kita belum menemukan musisi Indonesia seperti  Bjork yang membawa Islandia ke jagad dunia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Itulah yang membedakan musik dengan sastra. Sastra Indonesia memiliki sejarah yang bisa dirunut. Penyair-penyair memiliki &lt;em&gt;role model&lt;/em&gt;, yaitu Chairil Anwar. Chairil bagi sastra Indonesia ibarat Bjork bagi &lt;em&gt;scene &lt;/em&gt;musik Islandia. Tetapi musik populer, kita tak pernah memiliki sejarahnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Atas  alasan itu, saya menganggap rock and roll Indonesia belum (atau tidak)  ada. Mungkin, satu-satunya pengecualian yang bisa ditempatkan dalam  sejarah industri musik Indonesia adalah Iwan Fals. Seharusnya, ke  sanalah musik Indonesia mengambil jati dirinya, yakni menciptakan musik  untuk perlawanan demi kebebasan. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan  rock and roll!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apa dampak terhadap ketiadaan sejarah itu?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Koes Ploes adalah korban langsung. Koes Ploes yang memulai, dan Koes Ploes pula yang merasakan akibatnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  merasakan itu ketika saya kebetulan lewat di lapangan Blok S, Jakarta  Selatan, menjelang Pemilihan Umum 2009. Di lapangan itu sedang diadakan  kampanye Partai Demokrasi Pembaruan. Lapangan itu tak terlalu penuh  meski ramai. Massa partai berbaju merah itu sibuk bergoyang dan ikut  menyanyi mengikuti penyanyi di panggung.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Astaga! Di  panggung, saya melihat Yon Koeswoyo sedang memainkan gitar menyanyikan  lagu Kolam Susu. Saya berpikir, bukankah kita sudah sepakat bahwa Koes  Ploes adalah The Beatles-nya Indonesia? Seandainya The Beatles masih  lengkap, mungkin orang harus mengundi untuk bisa membeli tiket mahal  konser reuni mereka. Tidakkah kita seharusnya menghargai Koes Ploes  sebagaimana dunia menghargai The Beatles?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya sedih. Yon  tinggal sendiri di panggung itu. Tak ada lagi Tony, Yok, bahkan Murry.  Koes Ploes di lapangan Blok S itu diisi musisi muda yang mengiringi Yon  bernyanyi. Jika reuni Led Zeppelin minus John Bonham pada 2007 diadakan  di tempat pertunjukan O2 Arena yang bergengsi di London, maka nasib Koes  Ploes jatuh di panggung kampanye partai politik yang tak mendapat kursi  di parlemen. Menyedihkan!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana dengan God Bless?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nasibnya  tak jauh berbeda. Pada pertengahan 2010, saya untuk kali pertama  menonton konser God Bless di Bengkel Kafe, kawasan SCBD, Jakarta. Acara  yang disponsori bir itu menampilkan tiga band dari tiga generasi, yaitu  Nidji, Gigi, dan tentu saja God Bless.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nidji main sebagai pembuka. Sambutan penonton cukup hangat. Meski pop, Nidji cukup lumayan dalam penampilan &lt;em&gt;live-&lt;/em&gt;nya. Penonton padat dan ikut menyanyikan lagu Nidji.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sambutan penonton terhadap Gigi yang main setelah Nidji juga tak berubah. Mereka hangat meski Gigi bermain tak sebaik biasanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  tak datang ke Bengkel untuk dua band itu. Saya hanya datang untuk God  Bless. Saya harus melihat, paling tidak sekali, band rock paling  berpengaruh dalam sejarah musik Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat God Bless  naik, Achmad Albar tampak paling muda. Ian Antono dan Donny Fattah sudah  terlihat seperti kakek-kakek. Di posisi keyboard ada Abadi Soesman.  Tapi, bagi saya Abadi tetap tak bisa menggantikan Jockie Suryoprayogo.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sementara di belakang, kursi pemain drum diduduki oleh Yaya Moektio. Yaya adalah personil termuda di God Bless.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  bawah panggung, penonton yang tadinya ramai beringsut-ingsut menepi  bahkan pulang. Pertunjukan antiklimaks karena seharusnya penonton  menunggu God Bless. Itulah sebabnya God Bless diberikan jadwal manggung  terakhir. Oleh panitia, God Bless adalah bintang utama.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi  niat panitia tak berbanding lurus dengan sambutan penonton. Di bawah  panggung, hanya ada sekelompok anak muda yang mengenakan kaos &lt;em&gt;fans club&lt;/em&gt;  God Bless. Tetapi anak-anak muda itu tampak seperti kerumunan di tengah  lapangan yang sepi. Beberapa lagu baru dari album terbaru God Bless,  Nato, terdengar terlalu berat dan bijaksana bagi anak-anak muda itu.  Kerumunan itu hanyalah artifisial.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seharusnya, orang  Indonesia yang datang ke Bengkel hari itu menyambut God Bless  sebagaimana orang Inggris menghormati Led Zeppelin! Seharusnya,  anak-anak muda atau siapapun yang menyempatkan diri ke Bengkel malam itu  datang demi God Bless.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di luar, tiket seharga 30 ribu itu  tak ludes terjual. Sebagian panitia bahkan membagi-bagikan tiket itu  secara gratis kepada teman-temannya. Saya sedih, ikon rock Indonesia itu  bahkan harus main di panggung yang tiketnya dibagi-bagi secara percuma  karena tak laku.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-2175306589737672824?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/2175306589737672824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=2175306589737672824&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/2175306589737672824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/2175306589737672824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#2175306589737672824' title='Rock and Roll Indonesia Belum Ada'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-1378908911309012230</id><published>2011-10-14T11:36:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T11:38:03.494-07:00</updated><title type='text'>kadang,</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;p&gt;kadang,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;di dalam hati aku ingin melempar gelas ke tembok. aku perlu suaranya yang&lt;em&gt; prang!&lt;/em&gt; untuk melawan tangis bocah di halaman. bergulingan karena kehilangan mainan; sebenarnya mainan itu bukan miliknya&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kadang,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;di  dalam hati aku ingin menggunakan pikiranku untuk berbicara dengan  bungabunga. cuma bungabunga yang mampu mengajak si bocah berpikir;  bukankah, itu bukan milikmu?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kadang,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;di dalam hati  aku ingin menjerit lalu mempelajari amarah pada ombak. aku mau lebih  tegas daripada racau si bocah; air mata mengalahkan dendam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kadang,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;di  dalam hati aku ingin ditinggalkan di sebuah taman kecil bersama  selembar tikar piknik. tempat yang paling mungkin dalam ketiadaan: daun  gugur bunga berkembang...&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lenteng Agung, Juni 28 2011&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="post_form_id" value="62a62620bc00bcfc8c821cae461f2260" type="hidden"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" value="AQB-t9wk" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="feedback_params" value="{&amp;quot;actor&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;target_fbid&amp;quot;:&amp;quot;10150237549882560&amp;quot;,&amp;quot;target_profile_id&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;type_id&amp;quot;:&amp;quot;14&amp;quot;,&amp;quot;source&amp;quot;:&amp;quot;2&amp;quot;,&amp;quot;assoc_obj_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;source_app_id&amp;quot;:&amp;quot;0&amp;quot;,&amp;quot;extra_story_params&amp;quot;:[],&amp;quot;content_timestamp&amp;quot;:&amp;quot;1309206734&amp;quot;,&amp;quot;check_hash&amp;quot;:&amp;quot;f853c561c0e8b53b&amp;quot;}" type="hidden"&gt;&lt;span class="UIActionLinks UIActionLinks_bottom" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;20&amp;quot;}"&gt;&lt;button class="like_link stat_elem as_link" title="Suka item ini" type="submit" name="like" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:22}"&gt;&lt;span class="default_message"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/button&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-1378908911309012230?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/1378908911309012230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=1378908911309012230&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1378908911309012230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1378908911309012230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#1378908911309012230' title='kadang,'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-2392549556694621952</id><published>2011-10-14T11:31:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T11:33:58.185-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Cyber</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seperti judi, sesuatu yang datang tanpa melewati jalur logika, selalu  mendatangkan kenikmatan. Asalkan dimainkan tanpa kecurangan, judi  adalah permainan yang membayang-bayangkan keberuntungan. Judi menawarkan  sesuatu yang tak tampak, sesuatu yang berada di luar kesadaran.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi  hidup tentu saja bukan judi. Hidup dan mati jelas tak bisa diperjudikan  dengan bayang-bayang keberuntungan. Hidup dan mati adalah kepastian.  Sedangkan judi bermain-main dengan ketidakpastian.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka kepastian itulah yang sedang dikejar oleh dunia hari ini. Orang bicara dunia&lt;em&gt; cyber &lt;/em&gt;seolah-olah dunia itulah yang akan menentukan masa depan semesta. Amerika Serikat mengklaim perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; adalah perang masa depan. Entah kebetulan atau tidak, China juga bergejolak menuduh penyusup &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; yang merecoki tembok negara itu. Tuduhan ini semakin menegaskan bahwa dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; benar-benar bisa mempengaruhi konstelasi kekuasaan internasional.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;  adalah sesuatu yang gaib. Seseorang bisa berbicara, saling melihat  wajah, jatuh cinta, dengan seseorang di belahan dunia lain lewat dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;. Kehadiran fisik dimaknai dengan cara yang lebih “maya”. Fisik tak bertemu fisik, tetapi jiwa saling berbicara.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebab itulah &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;, sebagai dunia, juga tak mudah diperdaya hanya dengan slogan “perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;”.  Karena mau tidak mau, perang dalam dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; juga harus dipandang kehadirannya dengan cara yang gaib. Jika perang dalam dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; adalah gaib, maka slogan perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; bisa hanya tinggal slogan. Sebab, kegaiban itu membuat perang di dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; lebih bebas, heterogen, dan siapapun berpeluang menjadi pemenang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya, isu perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;  tampaknya masih belum bisa melepaskan diri dari cara pandang perang  fisik. Di era perang dingin, perang hanya akan diwakili oleh negara.  Sebagai contoh, mengirimkan manusia pertama ke bulan akan dinilai  sebagai representasi kekuatan Amerika Serikat. Di sisi lain,  keberangkatan Yuri Gagarin sebagai orang pertama yang berkunjung ke luar  angkasa beberapa tahun sebelumnya akan dipandang sebagai representasi  Uni Soviet.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;, perang tak lagi didominasi oleh aparatus yang umum sebagaimana dalam perang fisik. Perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; telah membawa satu kelompok lain yang juga bisa menjadi pemenang. Kelompok itu adalah publik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  Indonesia, setidaknya dua kali publik bisa memenangkan pendapatnya dan  memengaruhi kebijakan negara. Yaitu, kasus korban mal praktek Prita  Mulyasari dan penahanan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Bibit  Samad Riyanto-Chandra M Hamzah. Keduanya dibebaskan dari tuduhan karena  dukungan yang kuat di jejaring sosial seperti &lt;em&gt;facebook. &lt;/em&gt;Indonesia sudah merasakan betapa efektifnya &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; sebagai alat perlawanan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di Mesir dan Tunisia, &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; menjadi alat propaganda yang bisa menularkan semangat perlawanan. Dalam revolusi awal tahun 2011, seorang penyanyi &lt;em&gt;rap&lt;/em&gt; Tunisia bisa menggedor semangat demonstran dengan mengirimkan lagu-lagunya ke &lt;em&gt;myspace&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;youtube.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di lain sisi, dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; juga membentuk tren dan gaya hidup. Kini orang mulai sibuk mencari tempat di mana jaringan internet gratis (&lt;em&gt;wi-fi&lt;/em&gt;) bisa didapat. Dengan situasi itu, orang juga mulai akrab dengan komputer jinjing, &lt;em&gt;gadget&lt;/em&gt; (telepon seluler) dengan fasilitas internet, dan &lt;em&gt;modem.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  pernah mendengar pengalaman seseorang yang pernah berkunjung  keSingapura. Kata seseorang itu, internet gratis tersedia di seluruh  negeri Singapura. Di taman, restoran, halte, anda bisa mengakses  internet.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Benarkah &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; membuat orang demam tinggi?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ya. Tetapi tidak semua. Di tempat saya bekerja, di sebuah media &lt;em&gt;on-line&lt;/em&gt;  nirlaba, saya pernah mengalami internet macet sepanjang hari. Memang  menghambat pekerjaan, tetapi saya tidak (atau belum) merasa kehilangan  dengan ketiadaan internet.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memang saya masih bisa menyimak akun &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;yahoo mail&lt;/em&gt; di telepon seluler saya. Tetapi yang ingin saya bicarakan, ternyata untuk kantor media &lt;em&gt;on-line&lt;/em&gt; yang menggunakan &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; sebagai dunia, internetnya pun masih bisa macet.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat  itu internet menunjukkan kelemahannya: ia bisa disabotase dalam situasi  dan keadaan tertentu. Saya, selama internet di kantor saya mati, tentu  tak bisa menyimak apa yang terjadi di dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; dalam rentang waktu itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kehadirannya  sebagai sebuah dunia masih bisa diinterupsi. Padahal, dalam dunia fisik  tak ada yang bisa ditunda. Manusia hanya bisa mengarahkan momen, tetapi  tidak menghentikannya. &lt;em&gt;Cyber&lt;/em&gt; tak akan menjadi apa-apa tanpa manusia. Tetapi bumi ini, tetap saja memiliki sistem sekalipun hanya diisi oleh hewan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika berkaca pada isu perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; nan gagah itu, apa yang terjadi di kantor saya itu adalah sebuah “&lt;em&gt;noise” &lt;/em&gt;yang menunjukkan tata jaringan di kantor saya ternyata tak sigap. Jika saja perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;  antara Amerika Serikat dan China benar terjadi, maka saya mungkin  melewatkan beberapa peristiwa saat koneksi internet di kantor saya mati.  Ini jelas tak lazim bagi media massa. Tetapi kemacetan koneksi itu  menggambarkan perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; belum membuat orang tergagap-gagap ketika internet mati.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di tempat lain, &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; tak terlalu dianggap sebagai sebuah dunia yang lekat. Di bekas kampus yang masih sering saya kunjungi, fenomena &lt;em&gt;wi-fi&lt;/em&gt; tak membuat jumlah mahasiswa yang membawa komputer jinjing ke kampus semakin meningkat. Koneksi internet melalui &lt;em&gt;wi-fi&lt;/em&gt; memang tersedia di sana. Tapi tak ada demam &lt;em&gt;wi-fi.&lt;/em&gt; Tak membuat kampus saya dipenuhi orang-orang yang sibuk di depan layar monitor.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mungkin benar kata seorang teman, jiwa anak-anak muda di kampus itu masih agragris. Iklim peradaban &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;  tak melulu dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Dunia di kampus  itu, masihlah dunia fisik. Sebab, di kampus itu tersedia angin yang  sejuk, pohon yang hijau, rombongan burung sriti yang sesekali terbang  berputar di atas taman rumput yang kecil. Semuanya hanya bisa dirasakan  secara fisik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dulu saya berpikir, sikap acuh tak acuh anak-anak muda di kampus saya dengan dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; adalah bentuk ketertinggalan. Tetapi, lagi-lagi &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; adalah sesuatu yang gaib. Bukan tidak mungkin itu terjadi karena anak-anak di kampus saya masih menganggap dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; adalah dunia yang kualitas dan kelasnya di bawah kehidupan sehari-hari mereka yang sejuk.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, ketertinggalan itu kini bisa dilihat sebagai subversi secara tak langsung terhadap gelombang kegilaan &lt;em&gt;cyber.&lt;/em&gt; Orang boleh menyebut sikap seperti itu acuh dan apatis. Dalam isu besar perang &lt;em&gt;cyber,&lt;/em&gt; anak-anak kampus itu boleh absen. Tetapi itu tak mengubah fakta mereka adalah warga &lt;em&gt;cyber.&lt;/em&gt; Memilih untuk menjadikan dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; hanya sebagai tempat untuk melongok ke kiri dan kanan melalui &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;twitter, &lt;/em&gt;itu juga bisa dipandang sebagai sebuah sikap. Sikap yang khas warga dunia &lt;em&gt;cyber &lt;/em&gt;untuk menolak &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;-isasi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi, tentu itu bukanlah pilihan. Sebaik-baiknya dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;,  meski dia gaib, musuh atau pun orang lain bisa menggunakannya untuk  suatu saat menyerang diri kita. Maka, satu-satunya jalan yang paling  mungkin ialah memanfaatkan kegaiban &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; untuk melawan penindasan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Julian Assange mungkin adalah pahlawan abad &lt;em&gt;cyber.&lt;/em&gt; Dialah pendiri situs &lt;em&gt;Wikileaks&lt;/em&gt;, situs yang membongkar data-data rahasia dalam politik internasional dunia, terutama informasi rahasia milik CIA.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah Assange diadili dan geraknya dipersempit, dengan segera Amerika dan China sibuk menyoroti perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; sebagai perang masa depan. Bukan tidak mungkin, Amerika dan China berada pada pihak yang sama dalam perang &lt;em&gt;cyber.&lt;/em&gt; Karena mereka bukan saja bermusuh dengan negara-negara yang menjadi lawan dalam perang fisik, tetapi juga dengan masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Julian Assange membuktikan itu. Dengan gaib, perlawanan bisa dilakukan secara lebih “menyelusup” dalam dunia &lt;em&gt;cyber.&lt;/em&gt; Di Indonesia, gerakan di dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; justru menginspirasi gerakan di darat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Amerika mungkin lupa, bahwa dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; itu bisa menjadi senjata makan tuan. Amerika membuka jalan menuju &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;  dan menjualnya sebagai “dunia kebebasan”. Kini, ketika kebebasan itu  mulai diarahkan kepada dirinya sendiri, kepala militer Amerika berpidato  tentang perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; yang tak terelakkan. China menyambutnya.  Indonesia, dalam skala yang lebih sempit, melakukannya dengan UU ITE  serta pelarangan akses pornografi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam posisi itu,  antara Amerika Serikat, China, dan Indonesia, berada di posisi yang  sama. Yaitu, ketiganya mewakili negara. Bukan tidak mungkin, isu perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; diuapkan agar negara memiliki argumen untuk melegitimasi aturan di dunia &lt;em&gt;cyber.&lt;/em&gt; Dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; akan dibatasi. Dan kebebasan seperti yang dilakukan Julian Assange pelan-pelan mulai diancam.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi saya tak yakin negara fisik akan bisa menguasai perang &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt; secara total. Karena, siapa yang bisa menghukum 75.000 lebih akun &lt;em&gt;twitter&lt;/em&gt; yang menyebut gelandang Manchester United Ryan Giggs berselingkuh? Atau, siapa yang bisa menghukum jika ada 100.000 orang di &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; menyebut Hosni Mobarak tak becus memimpin Mesir?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tentu, selain masyarakat sipil yang gaib dan anonim, &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;  juga menghadirkan kepalsuan. Misalnya, maraknya pernyataan kritik  normatif terhadap pemerintah yang terkesan terdengar bijaksana tetapi  tanpa kedalaman. Longgarnya (atau bahkan tak ada?) proses penyuntingan  menyebabkan terlalu banyak informasi dan pernyataan yang tiba-tiba dan  entah dari mana di dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;. Namun begitu, Assange menganjurkan untuk tak menghapus informasi apapun yang ada di komputer atau akun anda.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya tak tahu, di tangan kita kini sebagai orang Indonesia, dunia &lt;em&gt;cyber&lt;/em&gt;  adalah kemajuan atau kemunduran?! Ataukah kita meletakkan kemajuan atau  kemunduran itu seperti taruhan sebuah perjudian? Atau, mungkin dunia  masa depan memang seperti itu. Dunia tanpa kepastian. Yang tersisa  hanyalah pencarian.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, Juni 15 2011&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-2392549556694621952?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/2392549556694621952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=2392549556694621952&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/2392549556694621952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/2392549556694621952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#2392549556694621952' title='Cyber'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-2400406767944572083</id><published>2011-10-14T11:20:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T11:25:17.509-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Catatan Seorang Fans (3)</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Messi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Spanyol kembali masuk ke musim panas.  Dan musim panas 2011 boleh jadi menjadi lebih panas dan melelahkan.  Selama 18 hari pada bulan April Guardiola harus menghadapi pertarungan  dengan tensi yang mungkin tak pernah diduganya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya menyaksikan &lt;em&gt;el clasico&lt;/em&gt;  di Bernabeu untuk liga dengan perasaan tak tenang. Selain strategi  bermain kasar yang diterapkan Madrid, Barcelona juga tampil tidak  terlalu baik. Jelas, Mourinho tak mau melakukan kesalahan lagi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  bersorak saat Raul Albiol menghentikan David Villa dengan kasar di  kotak pinalti. Wasit menunjuk titik putih. Dan Messi, mengelabui  Casillas dengan menempatkan bola yang tak kencang di tengah gawang.  Inilah kali pertama Messi menjebol gawang Mourinho. Madrid 0, Barcelona  1.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Keadaan itu tak bertahan hingga akhir. Alves dinilai melakukan pelanggaran terhadap &lt;em&gt;wing-back&lt;/em&gt; Madrid Marcelo. Dari tayangan lambat, saya merasa Marcelo melakukan &lt;em&gt;diving.&lt;/em&gt;  Tapi tak ada alasan untuk mengutuk. Sebab tak akan merubah keadaan.  Ronaldo secara meyakinkan berhasil menyelesaikan pinalti dengan  menempatkan bola di sudut kanan gawang Valdes. Valdes sendiri bergerak  ke kiri. Seperti Messi, pinalti ini merupakan gol pertama Ronaldo ke  gawang Barcelona. Skor akhir 1-1.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beberapa hari kemudian,  Mestalla membuat Madrid berpesta. Setelah saling berbagi dominasi di dua  babak, babak perpanjangan waktu menjadi milik Madrid. Ronaldo melakukan  sundulan ke gawang Jose Manuel Pinto di babak tambahan yang pertama.  Sebuah hasil dari serangan balik yang cepat. Pinto terperanjat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Madrid menjaga kemenangan itu dengan bertahan total. Al hasil, Piala Raja menjadi milik Madrid. Dari segi gol &lt;em&gt;el clasico&lt;/em&gt; musim ini, sementara Ronaldo unggul satu gol dari Messi. Messi tampak murung usai pertandingan. Ronaldo 2, Messi 1.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jelas,  kini rasa sakit berbalik ke Barcelona. Andaikan pertandingan itu adalah  pertemuan terakhir, niscaya musim ini masih terasa sakit meski juara  liga ada di tangan Barcelona. Untung saja pertarungan belum berakhir.  Masih ada dua kali lagi pertemuan di Liga Champions.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  melihat Barcelona datang ke Bernabeu untuk semifinal pertama dengan rasa  khawatir. Tapi saya punya sedikit keyakinan. Sebab, menurut saya  Guardiola adalah orang yang cepat belajar dari kesalahan. Sebagaimana  tercermin dalam pernyataannya menjelang final di Wembley akhir pekan  lalu, “kita harus punya sedikit rasa takut dengan kadar tepat agar bisa  tidak terlalu takut.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertarungan itu tak jauh dari dua &lt;em&gt;el clasico&lt;/em&gt;  sebelumnya, yaitu taktik bermain keras dan serangan balik Madrid.  Barcelona sendiri tak banyak berubah karena memang pola dasar  permainannya sama. Hanya, saya melihat Barcelona lebih percaya diri.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertarungan  itu terasa monoton karena begitu-begitu saja. Barcelona menyerang,  Madrid bertahan dengan cara keras lalu melakukan serangan balik. Terang  saja, pertandingan berlangsung panas dan seolah penuh intrik. Bagi saya,  inilah pertandingan puncak di era Guardiola dan Messi, serta Mourinho.  Pertandingan final di Wembley hanyalah penyempurna.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Entah  kenapa, saya merasa ada banyak kebetulan di dunia ini. Seperti nama  Messi, yang juga disebut Messiah, atau berarti Sang Penyelamat. Apakah  orang tuanya dulu sudah meramalkan anaknya bisa menjadi seorang  penyelamat sehingga memberikan nama bocah kurang hormon itu dengan  Messi? Kenyataannya, Messi benar-benar sebagai Messiah tidak saja untuk  Barcelona, tetapi juga sepak bola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kita harus memulai  pembicaraan ini dengan apa yang dituduhkan Mourinho dalam apa yang  disebut media “Opera Bernabeu.” Yakni, wasit berpihak kepada Barcelona  dengan memberikan kartu merah kepada Pepe karena dianggap melanggar  Alves dengan keras.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pelanggaran di pinggir lapangan itu  ibarat adegan “Adam memakan buah khuldi di surga”. Alves menggiring  bola, Pepe berusaha menghentikannya dengan menghunjamkan kakinya ke arah  kaki kanan Alves. Sebelum disiarkan tayangan ulang, pelanggaran Pepe  memang terlihat keras. Alves sampai memekik dan dibopong tandu ke  pinggir lapangan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi mengapa Alves terlalu cepat pulih setelah ditandu dan kembali berlari dengan gesit di lapangan?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mourinho menganggap Alves &lt;em&gt;diving.&lt;/em&gt; Ia memprotes kartu merah Pepe. Akibat protesnya yang dianggap berlebihan, Mourinho diusir dari &lt;em&gt;bench&lt;/em&gt;  dan hanya menonton di tribun penonton. Ibarat pesakitan, Mourinho duduk  ditemani petugas keamanan di Santiago Bernabeu. Di rumahnya sendiri,  Mourinho harus diamankan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Affellay masuk di menit 75  menggantikan Pedro. Sekali mendapat bola, ia mengejutkan Marcelo dengan  mengajak berduel lari. Dari sayap kanan, Affellay mengirim bola dengan  cepat ke arah kanan lapangan. Di sampingnya Marcelo mengejar.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Marcelo  kaget karena Affellay berbeda. Marcelo terbiasa menghadapi pemain  Barcelona yang lebih senang menggocek dan mengumpan ketimbang berlari.  Dari sana, saya melihat Affellay sebagai pemain masa depan Barcelona. Ia  memberikan perbedaan yang bisa menyempurnakan gaya bermain Barcelona.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai &lt;em&gt;the dutch man&lt;/em&gt;,  Affellay lebih Eropa sebab pemain Barcelona selain dia dalam  pertandingan itu adalah maestro-maestro aliran latin. Affellay ingin  menunjukkan sisi lain yang tak terlalu menonjol dalam diri kebanyakan  pemain Barcelona lainnya: duel bola pacu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan yang  terjadi, Affellay berhasil memenangkan adu lari itu. Ia meninggalkan  Marcelo dan mengumpan ke Messi. Messi berlari seperti diam-diam di  belakang dua bek Madrid. Ia datang sebagai Messiah dengan cara tiba-tiba  dan menyontek bola kiriman Affellay. Casillas hanya bisa terkejut  melihat bola melintasi dirinya dan menyentuh jala gawang. Madrid 0,  Barcelona 1.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Andaikan saja setelah pelanggaran Alves  terhadap Pepe pertandingan ibarat masuk pada periode Adam dan Hawa  tinggal di bumi. Ketika Messi mencetak gol keduanya, itulah adegan Adam  dan Hawa menemukan cinta dan membuat dunia ini adalah tempat paling  indah untuk ditinggali.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Gol kedua itu dimulai tak jauh  dari garis tengah lapangan. Messi memberikan bola kepada Sergio  Busquets. Busquets menghentikan bola sekaligus menghentikan tubuhnya  dengan posisi menyamping. Ia berhenti beberapa saat dan Messi berlari  pelan. Saat Messi melintasinya dengan arah ke gawang Madrid, Busquets  mengembalikan bola ke Messi. Selanjutnya, Messi melewati Arbeloa,  Carvalho, Marcelo, dan Ramos. Dengan cepat ia menendang bola yang tak  terlalu deras ke pojok kiri gawang Casillas.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dua kali  Casillas terkejut di Bernabeu. Madrid 0, Barcelona 2. Antara Ronaldo dan  Messi, kini situasi berbalik, Messi 3, Ronaldo 2.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertandingan &lt;em&gt;leg&lt;/em&gt;  pertama memang selesai dengan kemenangan Barcelona. Tetapi di media  massa, Barcelona harus membayar tuduhan Mourinho hanya dengan  mengalahkan United di Wembley.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lagi-lagi media terbelah.  Di satu sisi, ada fakta yang tak bisa dibantah: Messi menunjukkan daya  magisnya sebagai Messiah di Bernabeu. Di sisi lain, tayangan ulang jelas  memperlihatkan kaki Pepe sama sekali tak mengenai Alves. Alves  benar-benar memainkan drama dengan menggunakan teknis sepakbola. Anak  Brazil itu bergerak dan berteriak seolah-olah niat melanggar yang  dimiliki Pepe benar-benar terjadi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mourinho menuduh UEFA  melakukan konspirasi untuk memenangkan Barcelona. Ia mengulang  pertandingan yang membawa Barcelona menjadi juara Champions. Ia menyebut  wasit yang mengalahkannya bersama Chelsea saat Barcelona di era  Rijkaard. Ia juga menyebut wasit yang melakoni pertandingan  Chelsea-Hiddink saat Barcelona era Guardiola. Ia menyebut wasit yang  memimpin pertarungan Inter bersama dirinya melawan Barcelona di Nou  Camp, musim lalu. Kini, ia menyebut wasit yang memberikan kartu merah  pada Pepe.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai Barcelonistas, tuduhan itu jelas  merusak rasa senang saya sebagai fans Barca. Apalah rasanya memenangkan  sesuatu tetapi di tempat lain yang dikalahkan mencaci-maki. Kemenangan  malam itu belum memberi rasa aman. Kemenangan yang digugat dengan bahasa  luar lapangan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di media massa, bius Messi akibat golnya  ke gawang Madrid bisa ditandingi dengan tuduhan Mourinho. Tuduhan itu  terasa mengganggu karena pertandingan belum selesai. Masih ada satu laga  lagi di Nou Camp pekan selanjutnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memang, kemenangan  0-2 itu sudah menjelaskan Barcelona lebih mungkin ke final. Tetapi,  pertarungan yang belum selesai membuat kondisi mental fans seperti saya  cukup terganggu. Jika fans saja terganggu, bisa dibayangkan bagaimana  Guardiola dan skuad Barcelona harus menyiapkan mentalnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  Nou Camp, Messi masuk lapangan dan berbaris sebelum pertandingan dengan  bertolak pinggang. Terhadap Madrid, Messi tampil jumawa. Dia memang  jagoan. Di kesehariannya ia tampak rendah hati. Tetapi terhadap musuh  dalam pertandingan penting, ia menunjukkan diri.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertandingan  tak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Barcelona menyerang,  Madrid bertahan dan menyerang balik. Kali ini Madrid tak melakukan  taktik keras. Jelas mental mereka terguncang. Tetapi Barcelona tak kalah  guncang. Pertandingan berakhir 1-1. Pedro 1 gol, Marcelo 1 gol.  Barcelona merebut tiket ke Wembley diiringi cemoohan Mourinho.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi  saya, Mourinho berhak kesal atas aksi drama yang dimainkan Alves.  Pelatih Tottenham Hotspurs Harry Redknapp bahkan mengutuk pertandingan   di Bernabeu itu sebagai “sampah” dan tak akan terjadi di Inggris.Tetapi  ia tak bisa serta-merta menuduh kartu merah yang diberikan untuk Pepe  adalah konspirasi UEFA dan Unicef untuk memenangkan Barcelona.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk  menilai aksi Alves itu, saya memilih melihat kompetisi kedua tim secara  keseluruhan. Kekalahan 5-0 dari Barcelona jelas membuat Mourinho  dendam. Taktik bertahan yang dimainkannya saat menukangi Inter Milan  diterapkannya di Madrid untuk tidak mengulang kekalahan memalukan di Nou  Camp. Hanya saja, Madrid lebih keras ketimbang Inter. Itu tampak pada  pertandingan keras di &lt;em&gt;el clasico&lt;/em&gt; liga di Bernabeu dan final  Piala Raja di Mestalla. Di Bernabeu, pelanggaran Casillas atas David  Villa tak dianggap wasit. Permainan keras itu dilanjutkan di Mestalla  dan Madrid menang 0-1.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Akankah Barcelona terus-menerus  menghadapi permainan keras itu dengan permainan yang sehari-hari  diperagakannya? Itu bisa saja terjadi. Tetapi pertandingan akan panas  karena kekerasan masuk ke lapangan. Dan situasi panas itulah yang  diinginkan Mourinho. Dengan membuat pemain-pemain Barcelona panas,  konsentrasi Xavi cs terganggu. Jika serangan Barcelona terganggu,  berarti kesempatan untuk serangan balik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Resiko lain menghadapi permainan keras dengan “polos” adalah cedera. Dengan dasar itu, saya menganggap &lt;em&gt;diving&lt;/em&gt; yang dilakukan Alves adalah bagian dari strategi. Ketika kekerasan sebagai kecurangan dipilih, maka &lt;em&gt;diving&lt;/em&gt; sebagai kecurangan menjadi lawannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mourinho  boleh melakukan kelicikan dengan menggunakan kekerasan serta perang  urat syaraf. Tetapi Alves menggunakan kecerdasan untuk mengelabui wasit  dan mengusir Pepe ke luar lapangan. Ketiadaan Pepe berarti keleluasaan  Messi. Pepe keluar, Messi mencetak gol.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mourinho lupa,  bahwa ia pernah mengatakan setiap pelatih tidak boleh hanya memahami  soal pertandingan, tetapi juga hal di luar lapangan. Dengan alasan itu,  publik memaklumi Mourinho saat ia mengeluarkan pernyataan yang bisa  merusak mental lawan. Mourinho menggunakan sesuatu di luar lapangan  untuk mempengaruhi pertandingan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Barcelona justru mengkonfirmasi apa yang dikatakan Mourinho. &lt;em&gt;Diving&lt;/em&gt;  yang dilakukan Alves lebih baik ketimbang perang urat syaraf atau tekel  kasar. Alves melakukan itu sebagai cara untuk menghindari tekel Pepe.  Tapi Alves lebih cerdik, ia menghindari tekel dan memanfaatkannya untuk  mengelabui wasit.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya, Mourinho tak ubahnya  “malaikat” yang yang melarang Adam memakan buah khuldi. Alves melanggar  dengan memakan apel itu untuk menipu wasit. Dalam kutukan itu, Messi  justru menyelesaikan kebandelan Alves dengan menyarangkan dua gol ke  gawang Madrid.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Guus Hiddink berpendapat lebih jernih.  Menurutnya, kartu merah itu pantas karena wasit menilai Pepe dari  motivasinya menggerakkan kaki. “Seandainya kaki Alves ada di rumput,  pasti sudah patah,” kata Hiddink. Jika Anda ingin membuktikan pendapat  Hiddink, coba putar lagi rekaman pelanggaran itu, dan lihat ekspresi  Pepe saat menjatuhkan kaki. Bagi saya, matanya memang berniat melakukan  tekel kasar.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebelum pendapat Hiddink keluar, saya lebih banyak melihat cemoohan terhadap Barcelona. Media massa menyebut &lt;em&gt;el clasico &lt;/em&gt;di  Bernabeu adalah drama yang dimainkan kedua klub. Karena Barcelona  pemenang, maka Barcelona pula yang harus menerima tuduhan paling berat.  Harus diakui, terlalu banyak hal di luar sepak bola yang masuk ke dalam  lapangan malam itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Terima kasih Tuhan untuk Messi.”  Begitu bunyi kalimat pembuka di beberapa harian berbahasa Inggris  memberitakan pertarungan di Bernabeu itu.  Messi, seperti banyak orang  menggambarkannya sebagai anak autis, memang tampil bak anak autis di  Bernabeu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dua golnya, terutama golnya yang kedua,  menunjukkan bahwa dia orang yang hanya peduli pada pertandingan. Messi  tak peduli Mourinho, Messi tak peduli Pepe, Messi tak peduli pada apapun  di luar lapangan, Messi hanya peduli pada sepak bola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Gol keduanya ke gawang Madrid menggambarkan itu. Ia berlari, membuat gol, dan merayakannya. Harian &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; menyebut “dua gol Messi menyelamatkan derajat &lt;em&gt;el clasico&lt;/em&gt;”.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Guardiola-Messi dan Wembley&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Satu hal yang ingin saya ketahui setelah kemenangan Barcelona di Wembley, di mana Mourinho berada saat pertandingan berlangsung?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apakah  dia menonton dari rumahnya bersama istri dan anaknya? Atau ia menonton  dengan beberapa pemain Madrid lalu mendiskusikannya? Atau ia berlibur ke  suatu tempat yang sunyi tanpa gangguan televisi dengan mematikan alat  komunikasi apapun?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya jelas tidak tahu. Tapi ketiga  kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tetapi, apakah dia masih bertahan  dengan segala tuduhannya terhadap Barcelona? Termasuk tuduhan bahwa  Busquets bertindak rasis karena diduga mengejek Marcelo dengan kata &lt;em&gt;mono&lt;/em&gt; (monyet)?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Andaikan  dia melihat koran dan membaca berita tentang kemenangan Barcelona di  Wembley, saya ragu dia masih bertahan dengan pendapatnya. Sir Alex  Fergusonlah yang membungkam mulutnya. Mourinho pasti sulit membantah  lawan, sahabat, sekaligus pelatih yang paling dikaguminya itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Barca benar-benar menyihir kita dengan operan-operan mereka dan kami tidak mampu mengendalikan seorang Messi,” kata Ferguson.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ferguson  menganggap Barcelona adalah lawan terberat yang dihadapinya selama 26  tahun melatih United. Itu berarti Ferguson juga menganggap Barcelona  yang dihadapinya di Wembley lebih hebat ketimbang Chelsea era Mourinho.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pengakuan  Ferguson, kemenangan mutlak Barcelona, dan kegemilangan Lionel Messi  dua pekan lalu, seharusnya membuat Mourinho mau mengakui perubahan  angin. Setiap generasi berganti, setiap bintang lahir dan tenggelam.  Masa ini adalah milik Guardiola dan Messi. Keduanya sedang berada di  Barcelona. Dan keduanya sedang menjadi yang terbaik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bukankah Mourinho juga pernah merasa menjadi yang terbaik sampai-sampai ia menyebut dirinya &lt;em&gt;“The Special One&lt;/em&gt;?”  Kelak, Guardiola atau Messi juga akan berhadapan dengan bintang-bintang  baru yang akan lahir. Sebagai Barcelonistas, saya berharap Guardiola  dan Messi tak meniru Mourinho yang tak siap menerima kedatangan jagoan  baru yang lebih muda!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;selesai...&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-2400406767944572083?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/2400406767944572083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=2400406767944572083&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/2400406767944572083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/2400406767944572083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#2400406767944572083' title='Catatan Seorang Fans (3)'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-4115866854935045939</id><published>2011-10-14T11:14:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T11:18:49.798-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Catatan Seorang Fans (2)</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;El Clasico&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mourinho kembali menjadi diri yang diinginkannya. Gelar Liga Champions, &lt;em&gt;scudetto&lt;/em&gt;,  dan Coppa Italia, yang diberikannya untuk Inter Milan sudah cukup untuk  membuat dirinya menjadi orang yang paling diperhatikan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai  seorang penantang sejati, tantangan harus dicari dan ditaklukkan.  Sebagaimana dulu ia meninggalkan Chelsea, Mourinho kembali meninggalkan  Inter Milan. Musim 2010-2011, ia lebih memilih Real Madrid ketimbang  terus menambah gelar bersama Inter. Baginya, tantangan lebih menarik  ketimbang mempertahankan kebersamaan yang emosional.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mourinho  dan Madrid ibarat sepasang kekasih yang bertemu karena keduanya saling  menginginkan. Florentino Perez membutuhkan figur yang mampu menumbangkan  dominasi Barcelona selama dua musim. Sementara Mourinho membutuhkan  klub yang bisa memuaskan hasrat petualangannya untuk menaklukkan  Barcelona di Spanyol.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mourinho semakin pas di &lt;em&gt;los Merengues&lt;/em&gt;  karena ia bertemu dengan pemain yang juga berambisi untuk kembali  mencari diri, yakni Cristiano Ronaldo. Bersama Ronaldo yang kerap  dikait-kaitkan dengan Messi, Mourinho mengambil posisi sebagai orang  yang menantang Guardiola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai Barcelonistas,  kedatangan Mourinho ke La Liga bisa berarti dua hal. Pertama, Mourinho  adalah kekhawatiran karena bisa memperpendek usia kejayaan Guardiola.  Kedua, inilah kesempatan Guardiola untuk membungkam mulut masam  Mourinho.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hasil seri tanpa gol melawan Real Mallorca di debut liga membuat Mourinho gugup. Ia melempar botol minuman ke atap &lt;em&gt;bench &lt;/em&gt;saat Iker Casillas nyaris melakukan &lt;em&gt;blunder.&lt;/em&gt;  Mourinho menginjakkan kaki di Spanyol untuk pertama kali sebagai  pelatih dengan perasaan yang gugup. Kegugupan itu kian bertambah setelah  sebelumnya Barcelona menang 3-0 versus Racing Santander di jornada  pertama.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun Madrid segera mengambil alih klasemen  setelah Barcelona secara mengejutkan dikalahkan pendatang baru Hercules  0-2 di Nou Camp. Sejak itu, Madrid kokoh di atas Barcelona dengan  selisih dua poin. Skuad Mourinho semakin menggila. Seperti tak mau kalah  dengan Barcelona, Madrid menang terus-menerus dengan skor seperti  besar.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang teman fans Madrid pernah berkata pada saya,  “Di Spanyol, Barcelona dan Madrid seperti memiliki liga di dunianya  sendiri. Dan pesertanya cuma Barcelona dan Madrid.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memang  itulah kenyataan yang terjadi. Hampir satu dekade terakhir di La Liga,  klub di luar Barcelona dan Madrid hanyalah penggembira. Barcelona dan  Madrid boleh saja terpaut satu atau dua poin di klasemen, tetapi jarak  antara peringkat kedua dan ketiga bisa mencapai 10 poin.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kenyataan itu membuat pertemuan antara Barcelona dan Madrid di liga menjadi penting. Siapa yang memenangi &lt;em&gt;el clasico&lt;/em&gt;, kemungkinan besar menjuarai La Liga.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di musim pertamanya sebagai pengendali taktik Madrid, Mourinho datang ke Nou Camp pada sore yang cerah. &lt;em&gt;El clasico&lt;/em&gt;  pertama Mourinho itu diundur sehari. Awalnya, pertandingan digelar  Minggu sore 28 November 2010. Namun, di saat yang bersamaan, pemilihan  kepala daerah berlangsung di Catalonia. Khawatir pemilihan akan sepi  karena masyarakat lebih antusias menyaksikan &lt;em&gt;el clasico&lt;/em&gt;, pertandingan diundur menjadi Senin sore.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertandingan  itu kelak menjadi salah satu pertandingan yang akan dikenang dalam  sejarah kedua klub. Terutama di benak Guardiola dan Mourinho. Itulah  peristiwa di mana keduanya bertemu lagi sejak semifinal Liga Champions  beberapa bulan lalu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak perlu menceritakan jalannya  pertandingan. Dunia mengetahui, Barcelona menang segala-galanya atas  Madrid. Skor 5 – 0 untuk Barcelona. Publik Nou Camp bersorak atas dua  gol David Villa, satu dari Pedro, satu dari legenda hidup Xavi  Hernandez, dan terakhir dari pemain muda keluaran akademi &lt;em&gt;La Masia,&lt;/em&gt; Jeffren Suarez.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Messi  sendiri tak mencetak gol saat itu. Itu melanjutkan mitos bahwa Messi  tak mampu mencetak gol di gawang tim yang ditukangi Mourinho. Meski  demikian, tanpa Messi, dua gol Villa takkan menjadi. Messi tetap berdiri  di tempatnya sebagai pemain terbaik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Laga itu terlalu  panas. Di menit-menit penghujung, Sergio Ramos dikenakan kartu merah  usai mengganjal keras Messi. Tak terima dengan perlakuan Ramos, kapten  tim Carlos Puyol berlari menghampiri Ramos. Sebelum langkah Puyol  berhenti, Ramos mendorong wajah Puyol. Adegan itu menjadi salah satu  foto utama yang menghiasi media massa keesokan harinya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Los Cules&lt;/em&gt;  juga sempat meradang setelah Cristiano Ronaldo mendorong Guardiola di  pinggir lapangan. Ronaldo berjalan ke garis lapangan yang berbatasan  dengan &lt;em&gt;bench &lt;/em&gt;Barcelona. Di pinggir, Guardiola berdiri sambil  memegang bola. Ronaldo memerlukan bola itu karena wasit memberikan  lemparan ke dalam untuk Madrid. Saat Ronaldo mendekat, Guardiola  membuang bola ke dalam lapangan. Ronaldo emosi dan mendorong dada  Guardiola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menyaksikan kejadian itu, Andres Iniesta  berlari menghampiri Ronaldo. Wasit sibuk karena harus menengahi. Saya  berusaha melihat kejadian itu secara obyektif. Guardiola seharusnya tak  perlu membuang bola ke lapangan. Di sisi lain, Ronaldo juga tak  seharusnya mendorong Guardiola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mourinho sendiri tak  banyak bicara. Usai gol pertama dari Xavi, ia seperti biasa mengeluarkan  kertas sembari mencoret-coret. Biasanya, coretan itu membawa perubahan  di lapangan. Mourinho memang jago mengubah kekalahan menjadi kemenangan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun,  kali itu coret-coretan tak banyak membantu. Di babak pertama saja  Madrid sudah ketinggalan dua gol. Mourinho hanya duduk diam di &lt;em&gt;bench&lt;/em&gt;  ditemani asistennya Aitor Karanka. “Satu tim bermain bagus, satu tim  lagi bermain jelek. Tidak sulit melupakan kekalahan ini,” kata Mourinho  usai pertandingan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak ada pemain Madrid yang menemani  Mourinho di ruang konferensi pers. Media Spanyol yang berbasis di  Catalonia mengolok-olok pemain Madrid sebagai “pengecut-pengecut putih.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Xavi,  sebagai salah satu ikon Barcelona, meminta media tidak memanas-manasi  Madrid. Himbauan yang masuk akal karena di musim panas yang lalu Xavi  bersama Ramos bahu-membahu merebut Piala Dunia untuk pertama kali bagi  Spanyol di Afrika Selatan. Dua tahun sebelumnya, keduanya juga berada di  satu tim saat merebut Piala Eropa 2008 di Jerman.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pernyataan Xavi menunjukkan bahwa &lt;em&gt;el clasico&lt;/em&gt;  tak bisa dipandang sebagai pertandingan dua klub bersejarah belaka.  Ketegangan di antara kedua tim bisa membawa kerusakan dalam tubuh tim  nasional Spanyol. Maklum saja, memori konflik sejarah antara Catalonia  (Barcelona) dan Spanyol (Madrid) era diktator Franco selalu saja  mewarnai perseteruan dua tim. Jika tak cepat-cepat diredakan, kesuksesan  di tim nasional akan berubah menjadi keributan di ruang ganti.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi  Barcelonistas, kemenangan 5-0 atas Madrid sudah lebih dari pembalasan  dendam terhadap Mourinho. Masih di tahun yang sama, saya mengingat  Mourinho berlari di rumput Nou Camp sambil mengacungkan jari telunjuknya  ke tribun. Di musim dingin, saya melihat Mourinho tak sedikit pun  beranjak dari &lt;em&gt;bench&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Itulah kekalahan terburuk  dan terbesar dalam sejarah kepelatihan Mourinho. Media di Eropa menyebut  kekalahan itu sebagai penghinaan Barcelona terhadap Madrid. Saya lebih  senang mengatakan Guardiola mempermalukan Mourinho. Guardiola menyambut  tantangan Mourinho dengan cara yang melebihi harapan fans. Guardiola  ternyata juga seorang petarung. Barcelona semakin mencintai Guardiola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat  itu, bagi seorang Mourinho, kekalahan itu mungkin yang paling  menyakitkan. Ia tentu saja ingat, Guardiola adalah anak bawang yang  mencuri perhatian karena menaklukkan United di final Liga Champions  2009. Ia juga tentu saja ingat, anak bawang itulah yang ia lukai dengan  menikamkan belati secara diam-diam lalu merebut piala Liga Champions  beberapa bulan lalu. Kini, anak bawang itu membalas dengan membuat  Mourinho berjalan dengan cara merangkak.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejak itu,  Barcelona menutup perjalanan tak terkalahkan Madrid di La Liga.  Barcelona juga mengambil alih klasemen dan tak memberi kesempatan kepada  Madrid untuk menyalip hingga akhir musim.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun  pertarungan belum berakhir. Takdir memang menginginkan Guardiola dan  Mourinho menghabiskan musim ini dengan pertarungan panjang. Dengan sisa  satu &lt;em&gt;el clasico&lt;/em&gt; di liga, Barcelona dan Mourinho harus bertemu  empat kali dalam 18 hari. Yaitu di pertandingan liga di Bernabeu, final  Piala Raja di Mestalla-Valencia, dan dua kali di semifinal Liga  Champions.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;bersambung....&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-4115866854935045939?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/4115866854935045939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=4115866854935045939&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4115866854935045939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4115866854935045939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#4115866854935045939' title='Catatan Seorang Fans (2)'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-4750366462162224624</id><published>2011-10-14T11:07:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T11:29:29.202-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Catatan Seorang Fans (1)</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Tulisan ini adalah komentar saya sebagai fans Barcelona terhadap  musim 2010-2011 yang melelahkan. Saya yakin ini subjektif. Tapi saya  berusaha membubuhkan argumen yang saya anggap masuk akal. Agar tak  bosan, saya memuat tulisan ini menjadi tiga bagian. Selamat menikmati!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;Usai Barcelona mengalahkan Real Madrid di semifinal &lt;em&gt;leg&lt;/em&gt;  pertama Liga Champions 2011, saya mendapat pesan pendek dari seorang  kawan fans Manchester United yang tinggal di kepulauan Kei, Maluku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Gue berharap Barca ketemu MU di final. Biar MU bisa balas kekalahan di Roma,” kata kawan karib saya sewaktu di kampus dulu itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya menjawab, “kalah di final nggak apa-apa. Asal jangan kalah dari Real Madrid.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya,  fakta di Roma pada 2009 terulang lagi. Bahkan lebih gemilang. United  takluk di stadion kebanggaan Inggris, Wembley. Gawang Edwin Van der Sar  bergetar tiga kali melalui kaki Pedro Rodriguez, Lionel Messi, dan David  Villa. Sedangkan United membalas sekali melalui umpan Ryan Giggs yang  diselesaikan Wayne Rooney.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memang, kemenangan itu terasa  sangat indah karena di stadion itu pula Barcelona di bawah asuhan Johan  Crujff menjadi kampiun Eropa untuk kali pertama pada 1992. Joseph Pep  Guardiola, yang berada di lapangan Wembley pada 1992, mengulangnya  dengan menggantikan tempat Crujff sebagai pelatih pada 2011.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Gelar  itu terasa istimewa juga karena United punya ambisi setelah berhasil  melewati raksasa Liverpool dalam hal gelar Liga Inggris. United meraih  gelar ke 19, Liverpool tertinggal di angka 18. Jelas, target selanjutnya  adalah menjadi juara Eropa untuk yang ke empat di stadion utama  Wembley. Barcelona menghapus mimpi sang raja baru di istananya sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi,  bagi saya, seorang anak Indonesia yang terlalu mencintai Barcelona,  saya masih mengukur keberhasilan di Wembley itu lewat duel dengan Real  Madrid sepanjang musim.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jose Mourinho boleh jadi menjadi  pelatih yang paling tertekan di musim terakhir. Dibeli dari Inter Milan  dengan status juara Liga Champions 2010, ia harus memenuhi target  Florentino Perez untuk menyeret Real Madrid dari periode tanpa gelar  dalam beberapa tahun terakhir.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perez bukan presiden klub  yang pelit. Ia mendatangkan pemain-pemain terbaik dari seluruh penjuru  dunia untuk membuat Madrid sebagai klub yang paling gemerlap. Dan  Mourinho adalah orang terpilih untuk membawa galaksi Madrid menjelajah  semesta sepak bola sebagai bintang yang paling terang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi  kenyataan itu bukan tanpa resiko. Uang yang digelontorkan itu juga  berarti resiko pemecatan jika target tak tercapai. Dan di dunia ini,  seperti kata Crujff, masalah Mourinho cuma satu: Barcelona.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  tempat lain, publik lupa bahwa tekanan yang sama juga berada di pundak  Pep Guardiola. Ia seperti orang yang terlalu cepat besar dan menerima  tekanan untuk memperbesar kebesaran itu bersama klub. Dan bisa dibilang,  satu-satunya masalah bagi Guardiola adalah Mourinho.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Guardiola vs Mourinho&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertarungan  antara Guardiola dan Mourinho mungkin merupakan salah satu pertarungan  paling panas antar dua pelatih papan atas. Bagi saya, pertarungan itu  adalah sesuatu yang alami dalam dunia kompetisi seperti sepak bola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mourinho adalah figur fenomenal. Sebagaimana ia menjuluki dirinya sebagai &lt;em&gt;The Special One&lt;/em&gt;,  harus diakui ia memang khas. Kala julukan itu ia sebarkan kepada dunia,  dunia seakan mengakuinya tanpa debat. Media massa pun menyematkan  julukan bikinan Mourinho itu sebagai sesuatu yang lumrah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  termasuk orang yang membela Mourinho ketika ramai-ramai orang mengecam  mulut masamnya waktu menangani Chelsea. Ia datang dari klub papan atas  liga kelas dua di Eropa, FC Porto, dengan bekal juara Liga Champions  2004 usai menaklukkan finalis dari Prancis AS Monaco. Perlu diingat,  sebelum melaju ke final, Porto menyingkirkan raksasa Inggris United.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai  pendatang baru di Inggris, ia berhasil merubah konstelasi Premier  League. Klub medioker semacam Chelsea diangkatnya tinggi-tinggi dan  membuat Sir Alex Ferguson harus membiarkan Chelsea menjadi raja di  Inggris selama dua musim.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kiprah dua musim pertamanya di  Chelsea itu membuat dia patut dibela. Saya melihatnya sebagai orang muda  yang membuat perubahan. Segala cemoohan yang ditujukan pada Mourinho  hanyalah reaksi lazim yang muncul dari pihak yang tak ingin situasi aman  kompetisi terusik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Satu-satunya kekurangan Mourinho di  masa suksesnya bersama Chelsea adalah ia gagal membawa klub London itu  sebagai raja Eropa sebagaimana Porto. Setelah diisukan bersitegang  dengan pemilik klub Roman Abramovich, di penghujung musim ketiga ia  meninggalkan John Terry cs ibarat induk ayam yang meninggalkan  anak-anaknya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selepas kepergian Mourinho, kerajaan Inggris  kembali ke tangan United. Puncaknya, Sir Alex merebut gelar Eropa  keduanya dari tangan Chelsea dengan cara yang jelas menyakitkan John  Terry. Dalam adu pinalti di final Liga Champions di Moskow pada 2008,  Terry terpeleset sesaat sebelum mengayunkan kaki. Terry terjatuh dan  bola melenceng menjauhi gawang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Chelsea kalah dalam  keadaan compang-camping. Sebagai anak ayam yang kehilangan induk, klub  itu masih dibayang-bayangi kenangan manis bersama Mourinho. Dalam  semusim itu, mereka harus berhadapan dengan nama baru dari Israel, Avram  Grant.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Grant tak terlalu buruk. Sebab ia masih bisa  membawa klub yang sedang sedih itu ke partai paling bergengsi di Eropa.  Gengsinya menjadi berlipat setelah lawannya adalah United yang selama  dua musim bersama Mourinho mereka singkirkan dari kursi raja Inggris.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sayang,  seandainya mereka bersama Mourinho kala itu, mungkin keadaan bisa jadi  lain. Sir Alex belum tentu merasakan gelar kedua di Eropa. Dan gelar  pemain terbaik dunia tahun itu, bisa jadi tidak jatuh ke Cristiano  Ronaldo, tetapi Didier Drogba atau Frank Lampard.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Grant  tak bertahan. Abrahamovich mendatangkan Luiz Felipe Scolari yang  berhasil membawa Brazil memenangi Piala Dunia untuk yang kelima pada  2002. Di tengah jalan, Scolari dipecat dan digantikan Guus Hiddink.  Hiddink, yang kala itu juga mengurus tim nasional Rusia, hanya mampu  membawa Chelsea ke semifinal Champions.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Titik cerah baru  muncul setelah Ancelotti didatangkan dari AC Milan menggantikan Guus  Hiddink di awal musim 2009-2010. Ancelotti membawa harapan baru setelah  mengangkat Chelsea merenggut gelar liga dari United. Inilah gelar  pertama Chelsea di liga setelah ditinggalkan Mourinho. Ancelotti juga  melengkapinya dengan gelar Piala FA.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lagi-lagi, Mourinho  tak tergantikan. Ancelotti dipecat di ujung musim 2010-2011 karena  Chelsea kembali terpuruk. Krisis pelatih di Chelsea menunjukkan  kepergian Mourinho masih meninggalkan jejak di tubuh &lt;em&gt;The Blues.&lt;/em&gt; Silih berganti pelatih kawakan keluar masuk ke Stamford Bridge. Tetapi, tetap saja tak ada yang bisa menggantikan Mourinho.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Atas  alasan itu, saya menganggap Mourinho adalah salah satu pembaharu dalam  dunia sepakbola, terutama Inggris. Ia pantas menyebut dirinya sebagai &lt;em&gt;“The Special One.&lt;/em&gt;”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Satu-satunya  kekurangan Mourinho yang tidak saya sukai adalah sikapnya yang tak siap  menerima perubahan. Sebagai seorang yang membawa perubahan, ia cacat  karena tak mau menerima perubahan sebagai sebuah ketetapan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perubahan  yang tak pernah mau diterima Mourinho adalah kedatangan anak bawang  berusia 37 tahun bernama Joseph Guardiola. Bukan saja kedatangan ke  sebuah klub bernama Barcelona, tetapi juga kedatangan Guardiola ke dunia  sepakbola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Antara Mourinho dan Guardiola, keduanya punya  peran penting yang sama, yaitu membawa perubahan dalam usia yang muda.  Mourinho membawa Porto menjadi juara Eropa di usia 42 tahun (bandingkan  dengan Sir Alex Ferguson yang baru mengangkat trophi Champions di usia  58 tahun) dan Guardiola lebih muda lagi, 38 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari  segi permainan, Mourinho memperkenalkan gaya bermain yang disebut  sebagai taktik pragmatis. Yakni taktik yang mengutamakan kemenangan di  atas segala-galanya. Di sisi lain, sebagai orang baru, Guardiola datang  dengan antithesis Mourinho: sepak bola tak sekedar soal menang kalah,  tetapi meraih kemenangan dengan cara yang elegan dan mengutamakan  keindahan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Antara Mourinho dan Guardiola, keduanya memulai  di musim 2008-2009. Selepas masa menganggur setahun usai meninggalkan  Chelsea, Mourinho direkrut Massimo Moratti untuk menggantikan Roberto  Mancini. Sedangkan Guardiola, ditunjuk sebagai penerus Frank Rijkaard.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Inter  Milan dan Barcelona adalah dua klub besar. Yang berbeda, saat Mourinho  datang ke Giuseppe Meazza, klub itu adalah juara bertahan di liga Italia  selama tiga musim berturut-turut di bawah Mancini. Mourinho datang  dengan tugas untuk menggenapkan era gemilang itu dengan membawa Inter  menjadi juara Eropa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di mana posisi Guardiola saat itu?  Guardiola hanyalah pelatih Barcelona junior atau yang lebih dikenal  dengan Barcelona B. Sebagai pelatih yang belum pernah melatih klub  profesional di liga teratas, jelas tugas Guardiola lebih berat. Sebab,  saat ia datang, Barcelona mengalami masa suram selama dua musim tanpa  gelar liga domestik dan Eropa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beban itu menjadi berat  sebab pelatih sebelumnya, Frank Rijkaard, adalah pelatih yang kembali  menempatkan Barcelona sebagai klub berwibawa di tanah Eropa. Bersama  jagoan Nou Camp kala itu, Ronaldinho, Rijkaard memberi Barcelona tropi  kedua Eropa pada 2006 setelah Crujff pada 1992.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bukan cuma  itu, di bawah Rijkaard, Barcelona juga memaksa dunia menahbiskan  Ronaldinho sebagai pemain terbaik dunia dua kali. Mengulang kejayaan  itulah yang harus dilakukan anak bawang bernama Guardiola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mourinho  memang memiliki tugas berat sebab dia harus memberikan Piala Liga  Champions kepada Inter yang terakhir memenanginya pada 1965. Tetapi,  saat Mourinho datang Inter adalah raja di Italia. Sedangkan Guardiola  harus memulai debutnya untuk mengangkat klub juara yang terperangkap  dalam keadaan terpuruk. Saat ia datang, Madrid dua kali berturut-turut  menjuarai liga. Di sisi lain, bintang Nou Camp Ronaldinho terus-terusan  kehilangan daya magisnya dan berniat hengkang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di musim 2008-2009 pula media mulai jarang menyematkan predikat “&lt;em&gt;The Special One&lt;/em&gt;” terhadap Mourinho. Angin perubahan sedang bergerak ke Nou Camp dan Guardiola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak  ada yang menduga, memulai debut di liga dengan kekalahan 1-0 dari tim  promosi Numancia, Guardiola menyempurnakan peninggalan Rijkaard dengan  prestasi yang luar biasa. Mungkin ia satu-satunya yang bisa merebut enam  gelar juara semusim dalam sejarah Eropa. Enam gelar itu adalah seluruh  kompetisi yang diikuti Barcelona. Artinya, Guardiola membuat Barcelona  tak memberikan satu piala pun pada pesaingnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dunia mulai  melihat Guardiola ketika Barcelona mempermalukan Real Madrid di  Santiago Bernabeu dengan skor mencolok 2-6. Beberapa bulan sebelumnya,  Madrid baru saja memecat Bernd Schuster dari kursi pelatih. Pemecatan  itu diduga sebab Madrid takluk 2-0 di Nou Camp dalam &lt;em&gt;el clasico&lt;/em&gt; pertama.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Presiden  Madrid kala itu, Ramon Calderon, menggeser Schuster dan menunjuk mantan  pelatih Sevilla yang baru saja berhenti dari Tottenham Hotspur, Juande  Ramos. Namun di &lt;em&gt;el clasico&lt;/em&gt; kedua di Bernabeu, Ramos tak mampu mempertahankan diri. Madrid kalah dengan cara buruk, 2-6.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  musim itu, Barcelona terus-menerus menang dengan skor besar. Menang  dengan selisih tiga gol di musim itu adalah hal yang lumrah bagi  Barcelona. Dan selain menerangi Guardiola, lampu panggung juga mulai  menyoroti bintang masa depan berusia 21 tahun bernama Lionel Messi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Puncaknya  adalah ketika Guardiola menantang pelatih tersukses di Inggris dan  dihormati di seluruh dunia, Sir Alex Ferguson. Setelah menyingkirkan  Chelsea di semifinal secara dramatis, Guardiola hadir ke final Liga  Champions 2009 untuk menantang juara bertahan Manchester United.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semua  mata memang bergerak ke Barcelona waktu itu. Namun, keunggulan tetap  berada di United. Betapa tidak? Mereka memiliki Alex Ferguson dan pemain  terbaik dunia Cristiano Ronaldo. Di sisi lain, mereka adalah tim yang  tahun lalu mengalahkan Chelsea di final.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Roma akhirnya  menjadi milik Barcelona. Barcelona menang 2-0 berkat gol Samuel Eto’o  dan Lionel Messi. Bukan hanya menang dari segi gol, malam itu Barcelona  membuat juara bertahan tak berkutik. &lt;em&gt;Super star&lt;/em&gt; Old Trafford yang juga pemain terbaik dunia, Cristiano Ronaldo, lebih banyak berlari ketimbang menggiring bola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejak  itu, Barcelona, Guardiola, dan Messi, adalah hal yang paling ingin  dikalahkan oleh semua klub di dunia ini. Makanan empuk bagi si penantang  bernama Jose Mourinho.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di Inter, musim pertama Mourinho  tak buruk meski tak terlalu istimewa. Ia dengan kebiasaannya  menggetar-getarkan urat syarafnya untuk mengusik urat syaraf pesaingnya,  masih bisa melanjutkan &lt;em&gt;scudetto&lt;/em&gt; yang diwariskan Mancini.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari  sekian banyak pelatih yang paling berminat menaklukkan kegemilangan  Barcelona, saya hanya akan menyebut satu nama, yakni Mourinho. Dengan  dirinya sendiri, Mourinho menapaki musim keduanya dengan lebih yakin,  yaitu mengincar &lt;em&gt;scudetto&lt;/em&gt;, Coppa Italia, dan tentu saja Liga Champions.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  Liga Champions 2009-2010 pula rasa sakit John Terry cs semakin  menjadi-jadi. Setelah meninggalkan Chelsea seperti membiarkan anak-anak  ayam mencari makan sendiri, Mourinho datang ke Stamford Brigde sebagai  lawan. Alih-alih menunjukkan rasa cinta terhadap klub yang pernah  dibinanya dan membuat perubahan di Inggris, ia justru mengeluarkan  kata-kata yang tak setia: “Saya tidak pernah kalah di Stamford Bridge.”  Inter menang atas Ancelottian 0-1 di London.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perang antara  Mourinho dan Guardiola dimulai saat pertemuan di semifinal Liga  Champions 2009-2010. Barcelona, sebagai juara bertahan dan memiliki  pemain terbaik dunia, Messi, datang ke semifinal dengan lebih yakin dan  sedikit “besar kepala.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Guardiola melaju ke semifinal  setelah Messi menyarangkan empat gol sendirian ke gawang Arsenal di  perempat final yang dimainkan di Nou Camp. Di Emirates, kedua tim  bermain imbang 2-2. Di fase grup, Guardiola mengalahkan Inter 2-0 di Nou  Camp dan hanya seri tanpa gol di Giuseppe Meazza.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak ada  yang menyangka, Mourinho bisa membuat Guardiola tersadar dari euforia  kejayaannya. Di Giuseppe Meazza, sang juara bertahan lumpuh 3-1 lewat  aksi “menyelinap” Diego Milito. Meski satu dari gol Milito berbau &lt;em&gt;off-side&lt;/em&gt;  dan pelanggaran terhadap Dani Alves tak berbuah pinalti, kekalahan itu  tetap menampar kecenderungan yang bisa membawa Barcelona menjadi besar  kepala.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di &lt;em&gt;leg&lt;/em&gt; kedua, di Nou Camp, fans Barcelona  menyimpan dendam. Bukan kepada Inter, tetapi kepada sosok Jose  Mourinho. Barcelona kalah agregat 3-2 karena hanya berhasil melesakkan  satu gol melalui Gerrard Pique.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai orang yang terlalu  mencintai Barca, kekalahan itu terlalu menyakitkan. Mourinho memang  menggunakan pahamnya dengan cara yang terlalu totok: ia menempatkan 10  pemain sebagai pemain bertahan. Di kubu lawan, saya melihat jagoan yang  darahnya tetaplah merah-biru, Samuel Eto’o, ikut berlari-lari menjadi  pemain bertahan demi apa yang dikejar Mourinho.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Barcelona  memang menang, tapi tak mendapat tempat di final yang digelar di  Bernabeu. Usai wasit meniup peluit panjang, Mourinho berlari ke  tengah-tengah Nou Camp dan mengacungkan jari tunjuknya ke tribun sebagai  perayaan kesuksesannya. Kiper utama Azulgrana Victor Valdes yang masih  tak terima akan kenyataan itu, berlari mendekati Mourinho dan  menghalang-halangi &lt;em&gt;The Special One&lt;/em&gt; berlari-lari menginjak rumput Nou Camp.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Publik  terbelah. Yang membela Barcelona menyebut Inter Milan bermain seperti  banci karena menumpuk 10 pemain di daerah permainan sendiri. Sedangkan  fans Inter sekaligus penonton yang membenci Barcelona mengolok-olok  Guardiola ketemu batunya. Keputusan Mourinho menerapkan strategi  bertahan total dianggap sebagai buah kecerdasan ketimbang  ketidakjantanan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya, itulah pertarungan puncak di  Liga Champions waktu itu. Final Inter versus Bayern Muenchen yang  menyingkirkan United di semifinal tidak lagi saya hitung. Saya menduga,  siapapun yang berhasil menghentikan Barcelona, dialah juaranya. Dugaan  saya tak meleset, Inter juara setelah menang 2-0.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mourinho  semakin yakin dengan dirinya. Angin yang tadinya bergerak ke Guardiola,  kini berubah arah kembali ke dirinya sendiri. Di mata Mourinho,  Guardiola masih tetap anak bawang yang mencoba-coba menggantikan dirinya  sebagai yang paling fenomenal.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya, mungkin juga  Barcelonistas di seluruh dunia, sakit hati saat itu. Bukan karena kalah,  tetapi karena cara Mourinho menyingkirkan Barca. Beruntung Barcelona  memiliki seseorang yang berjiwa besar seperti Guardiola. Hati saya  melunak setelah mendengar komentar Guardiola usai pertandingan itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Pemenang tetaplah pemenang. Bagaimanapun caranya meraih kemenangan,” kata Guardiola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di musim itu, Guardiola menyisakan gelar liga sebagai obat bagi saya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;bersambung....&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-4750366462162224624?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/4750366462162224624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=4750366462162224624&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4750366462162224624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4750366462162224624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#4750366462162224624' title='Catatan Seorang Fans (1)'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-916734898101757764</id><published>2011-10-14T11:03:00.001-07:00</published><updated>2011-10-14T11:06:24.540-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>dingin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;p&gt;dunia lebih sempit dari katup mata&lt;/p&gt;&lt;p&gt;namun ia semesta, ketika air mata mendahului bulubulunya yang gugur ke bumi&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;lenteng agung, Mei 11 2011&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="post_form_id" value="62a62620bc00bcfc8c821cae461f2260" type="hidden"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" value="AQB-t9wk" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="feedback_params" value="{&amp;quot;actor&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;target_fbid&amp;quot;:&amp;quot;10150182165947560&amp;quot;,&amp;quot;target_profile_id&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;type_id&amp;quot;:&amp;quot;14&amp;quot;,&amp;quot;source&amp;quot;:&amp;quot;2&amp;quot;,&amp;quot;assoc_obj_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;source_app_id&amp;quot;:&amp;quot;0&amp;quot;,&amp;quot;extra_story_params&amp;quot;:[],&amp;quot;content_timestamp&amp;quot;:&amp;quot;1305130624&amp;quot;,&amp;quot;check_hash&amp;quot;:&amp;quot;8234728dd3cabedd&amp;quot;}" type="hidden"&gt;&lt;span class="UIActionLinks UIActionLinks_bottom" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;20&amp;quot;}"&gt;&lt;button class="like_link stat_elem as_link" title="Suka item ini" type="submit" name="like" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:22}"&gt;&lt;span class="default_message"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/button&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-916734898101757764?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/916734898101757764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=916734898101757764&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/916734898101757764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/916734898101757764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#916734898101757764' title='dingin'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-1828674734871673314</id><published>2011-10-14T10:57:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T11:00:25.259-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>ketika kumpulan burung sriti terbang rendah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;p&gt;ketika kumpulan burung sriti terbang rendah. meliuk-berputar seperti karnaval barcelona: suatu terang di musim panas&lt;/p&gt;&lt;p&gt;hey, bukankah nyaris sepekan kita lihat langit mendung sewarna cerobong pabrik? lalu hujan? di musim panas?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sejak itu, semua serba hijau. sehijau sehelai daun angsana berusia 27 tahun: adegan ranting membuang tampuk&lt;/p&gt;&lt;p&gt;aku  melihatnya gugur di dalam angin. tapi seekor sriti membuang kotorannya  seperti menjatuhkan botol di atas hidungku. waktu kucari burung aneh  itu, aku dengar suaramu di radio. engkau bicara, dan pohon angsana yang  belum lama ditebang itu terusterusan menumbuhkan dedaun baru&lt;/p&gt;&lt;p&gt;lenteng agung, mei 4 2011&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="post_form_id" value="62a62620bc00bcfc8c821cae461f2260" type="hidden"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" value="AQB-t9wk" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="feedback_params" value="{&amp;quot;actor&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;target_fbid&amp;quot;:&amp;quot;10150177788337560&amp;quot;,&amp;quot;target_profile_id&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;type_id&amp;quot;:&amp;quot;14&amp;quot;,&amp;quot;source&amp;quot;:&amp;quot;2&amp;quot;,&amp;quot;assoc_obj_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;source_app_id&amp;quot;:&amp;quot;0&amp;quot;,&amp;quot;extra_story_params&amp;quot;:[],&amp;quot;content_timestamp&amp;quot;:&amp;quot;1304670466&amp;quot;,&amp;quot;check_hash&amp;quot;:&amp;quot;f06ae4f69e635bea&amp;quot;}" type="hidden"&gt;&lt;span class="UIActionLinks UIActionLinks_bottom" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;20&amp;quot;}"&gt;&lt;button class="like_link stat_elem as_link" title="Suka item ini" type="submit" name="like" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:22}"&gt;&lt;span class="default_message"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/button&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-1828674734871673314?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/1828674734871673314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=1828674734871673314&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1828674734871673314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1828674734871673314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#1828674734871673314' title='ketika kumpulan burung sriti terbang rendah'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-7949333424845925812</id><published>2011-10-14T10:53:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T10:56:23.169-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>betapa manis, namun dingin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;p&gt;dunia tak lebih dari sesempit katup mata&lt;/p&gt;&lt;p&gt;tetapi ia semesta ketika bulubulunya terus berguguran ke bumi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;lenteng agung, april 19 2011&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-7949333424845925812?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/7949333424845925812/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=7949333424845925812&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7949333424845925812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7949333424845925812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#7949333424845925812' title='betapa manis, namun dingin'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-7857581569251882662</id><published>2011-10-14T10:51:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T10:53:25.785-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>ketika rose meniup peluit di segitiga bermuda</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;ketika rose meniup peluit di segitiga bermuda. pelukis muda adalah  benang wol di layar viking. melalui caranya masing-masing rose terlahir  sebagai tumbal&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;rose mendesakkan pertanyaan dalam suara peluitnya yang gagap, “apa maksudmu?”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;bulan  melarikan diri setelah membantu malaikat maut bunuh diri. sungguh  malaikat malang: ia tak tahan, sepasang mata merahbara milik rose  terusmenerus mengajukan protes&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;jakarta, april 10 2011&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-7857581569251882662?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/7857581569251882662/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=7857581569251882662&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7857581569251882662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7857581569251882662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#7857581569251882662' title='ketika rose meniup peluit di segitiga bermuda'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-6729702747392399832</id><published>2011-10-14T10:39:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T10:45:52.862-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Petani</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Hybrid&lt;/em&gt;, atau hibrida. Betapa rentannya kata itu. Baik dari segi keajegan makna, bahkan referensinya di luar bahasa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di  kota kecil saya dulu, saya mendengar istilah “kelapa hibrida.” Setelah  saya menyaksikan pohon serta meminum air-memakan daging kelapa hibrida,  pikiran saya tersugesti bahwa kelapa jenis ini tak sekuat kelapa asli.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maklumlah,  kampung halaman saya itu termasuk negeri kelapa. Meski bukan pantai,  kisah tua dari kesusasteraan klasik melayu mengajarkan kami: kelapa  lebih dari sekedar tumbuhan belaka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Jika kau tersesat di  rimba, maka carilah pohon tinggi, panjatlah. Jika sejauh mata memandang  kau temukan lambai pohon kelapa, maka bergeraklah ke sana. Sebab, di  sana pasti ada manusia, pasti ada masyarakat, meskipun hanya sepasang  petani tua.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan yang &lt;em&gt;hybrid&lt;/em&gt; itu tak pernah mampu  memberikan saya kesan sebagaimana pohon kelapa tradisional yang lebih  saya kenal. Kelapa hibrida hanya mengejar sesuatu yang cepat, yang  dipaksakan. Dia dihibridisasi agar masa tumbuh-panennya tak perlu  seperti kelapa biasa yang bisa hidup seumur rata-rata manusia. Tak  seperti kelapa asli, ia korban teknologi yang asing dari manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di  Indramayu, seorang petani melakukan kritik makna atas hibrida. Warsiah  namanya. Kakek berusia 60 tahun-an itu menuding bibit padi hibrida dari  pemerintah justru membuat masyarakat tak mandiri. Bibit padi hibrida  bikinan pemerintah tak ajeg, sehingga petani harus membeli bibit hibrida  baru setelah bibit hibrida lama tak mau tumbuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Warsiah  lantas mengadakan percobaannya sendiri. Dan pelan-pelan ia berhasil  menemukan bibit padi yang lebih tahan dengan perubahan iklim di  daerahnya. Di titik ini, Warsiah sedang melakukan perlawanannya sendiri  terhadap isu besar perubahan iklim. Tidak saja secara alamiah, tetapi  juga secara politik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika ada mereka yang meyakini negara  tak perlu karena masyarakat seharusnya independen dan diperlakukan  dewasa, maka Warsiah telah melakukannya. Kemampuannya mengawinkan bibit  dan memprotes manipulasi pemerintah atas makna hibrida adalah bentuk  ketidakpeduliannya terhadap negara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlebih dahulu, boleh  jadi Warsiahlah yang tak dipedulikan negara. Departemen Pertanian dan  sarjana-sarjana pertanianlah yang seharusnya bekerja melakukan penemuan  untuk mengatasi kendala petani. Negara, dalam hal ini, mengabaikan  masyarakat. Maka, masyarakat (baca Warsiah) dengan caranya sendiri  menunjukkan independensinya. Ya, Warsiah yang hanya lulus sekolah dasar  itu bisa melakukan pekerjaan ilmuwan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika ia membuka  selubung hibrida dan penemuannya adalah pemberontakan antinegara, apakah  ia benar-benar menyadarinya? Saya mencoba bertanya secara mendadak pada  Warsiah: apakah Anda ikut pemilihan umum?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“O iya dong. Saya kan warga negara,” jawab Warsiah yakin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di  sinilah sebuah paham menunjukkan wajahnya yang plural. Warsiah  melakukan sikap antinegaranya dalam praksis hidupnya sehari-hari.  Andaikan ia menyusun buku percobaan bibitnya secara sosiologis, niscaya  ada bau antinegara. Warsiah anarki dalam praktek!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi ia  tak sadar, bahwa sikap anarkinya itu bisa menjadi kekuatan yang  membahayakan politik kekuasaan. Andaikan sikap independensi Warsiah  terhadap Departemen Pertanian juga ia sadari merupakan independensi  terhadap pemerintah, dan negara, maka Warsiah mungkin saja menolak  pemilihan umum. Sebab, lewat pemilihan umumlah pemerintah dipilih. Dan  lewat pemerintah pula Departemen Pertanian diperintah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ternyata,  demokrasi itu tak seluwes yang dimimpikan Amerika Serikat dan barat  kepada kita. Dalam keluguannya, Warsiah memainkan peran untuk  membelokkan jalan demokrasi itu. Warsiah menyeret demokrasi dan (mungkin  secara tak sadar) menunjukkan pada birokrasi serta dunia akademi,  betapa wahyu filosof mahsyur asal Prancis itu ada benarnya: manusia  ditakdirkan untuk merdeka secara pribadi!&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-6729702747392399832?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/6729702747392399832/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=6729702747392399832&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/6729702747392399832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/6729702747392399832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#6729702747392399832' title='Petani'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-7377121808489999794</id><published>2011-10-14T10:32:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T10:35:29.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Ambisi Orang-Orang Slum</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana caranya menghitung ambisi yang berseliweran di bawah atap rumah-rumah kawasan &lt;em&gt;slum&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya sendiri tak tahu pasti sebenarnya apakah kata &lt;em&gt;slum&lt;/em&gt; itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Mungkin di Indonesia, khususnya di Jakarta, orang lebih terbiasa menyebut &lt;em&gt;slum&lt;/em&gt; dengan daerah kumuh.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  Jakarta, orang-orang dari daerah kumuh, atau kita sebut saja,  masyarakat jelata, bisa dilacak dari raut mukanya. Memang, pepatah lama  yang menganjurkan "jangan menilai buku dari sampulnya" masih bernada  positif. Tapi saya tidak berbohong, di Jakarta, kita bisa melihat dengan  jelas perbedaan kelas itu hanya dari raut wajah seseorang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemarin,  saya datang ke sebuah sasana kebudayaan di selatan Jakarta. Di sana  orang-orang berbicara tentang kebebasan. Mereka menyebut filsuf mahsyur  dari Paris, Jean Paul-Sartre, sebagai salah satu penggagas kebebasan.  Sartre, kata orang-orang di sana, menganggap kebebasan adalah mutlak  dalam diri manusia. Barang siapa tak menggunakan kebebasannya untuk  menjadi subjek bagi dirinya sendiri, maka hidupnya tak otentik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mendengar gagasan itu, saya langsung teringat orang-orang dari daerah &lt;em&gt;slum&lt;/em&gt;.  Pada kesempatan pertanyaan, saya mengajukan satu: andaikan Sartre lahir  di daerah kumuh di utara Jakarta, putus sekolah, dan miskin, apakah dia  memiliki gagasan kebebasan sebagaimana yang sudah dia tulis dan dikenal  orang?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak ada jawaban untuk itu. Dosen yang menjadi  pembicara di sasana kebudayaan itu justru balik bertanya pada saya,  "menurut Anda, apakah seorang dengan pikiran seperti Sartre bisa lahir  di daerah kumuh seperti di utara Jakarta?"&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  menggeleng. Di titik ini kebebasan itu menjadi sangat liar dan rentan.  Kebebasan agung yang disiarkan Sartre itu memang fenomenal. Bahkan,  ketika Sartre meninggal pada 1980, sebuah surat kabar di Prancis  mengatakan "Prancis telah kehilangan suara hatinya."&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada  usia 12 tahun, Sartre telah memutuskan tak percaya pada Tuhan. Jelas,  Sartre kecil terbiasa dengan buku. Ia kemudian berkelana dari kafe ke  kafe di Paris untuk berdiskusi. Dia terhormat. Dan gagasannya  mengguncang masyarakatnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tentu saja, kebebasan yang  dibayangkan Sartre itu ada dalam masyarakatnya (baca; barat). Sartre  membicarakan kebebasan di dalam kafe, di universitas: di tempat di mana  kebebasan untuk memikirkan tentang kebebasan itu terbuka lebar.  Jelaslah, dalam masyarakat seperti itu, pendapat Sartre bahwa kebebasan  mutlak manusia untuk menentukan hidupnya terasa begitu pantas. Apa yang  dikatakan Sartre seperti mengembalikan kebebasan seluas-luasnya terhadap  setiap manusia. Manusia menjadi sadar bahwa kebebasan yang memang sudah  menjadi miliknya itu harus dipergunakan sebaik-baiknya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi  cobalah bicarakan kebebasan semacam itu dengan seorang remaja pengikut  organisasi agama radikal di Jakarta. Justru, kebebasan itu terasa  menakutkan. Sebab, adakah semacam kebebasan di daerah &lt;em&gt;slum&lt;/em&gt;? Adakah kebebasan bagi masyarakat miskin.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Coba  kita bayangkan diri kita sebagai seorang anak yang lahir di kampung  kumuh di utara Jakarta. Putus sekolah dan miskin. Ketika seorang kita  menyadari kebebasan mutlak sebagaimana yang dikatakan Sartre, maka akan  ada dua kemungkinan: pertama, kita menjadi kuat, kedua, kita ketakutan  dengan kebebasan itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kebebasan bagi masyarakat jelata tak  sama dengan ukuran kebebasan yang didiskusikan Sartre di kafe-kafe  Paris. Kebebasan bagi masyarakat jelata di Jakarta adalah (sekedar)  terbebas dari rasa lapar dan rendah diri. Kebebasan menjadi mengerikan  karena kenyataan di dalam masyarakat miskin tak memberi mereka pilihan.  Dan kebebasan tak mungkin dibicarakan dalam situasi sedikit pilihan.  Lebih mengerikan lagi bahwa pilihan yang sedikit itu juga dipaksakan  kepada mereka.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Masalah muncul saat anak-anak dari daerah  kumuh itu mulai merumuskan siapa dirinya. Andaikan anda seorang  wartawan, maka ketika anda berada di masyarakat, diri anda akan  dirumuskan masyarakat sebagai wartawan. Dengan demikian, anda mendapat  pengakuan plus makna diri. Pertanyaannya, jika anda lahir di kampung  kumuh utara Jakarta, miskin, putus sekolah, mungkinkah anda akan menjadi  wartawan? Jawabannya mungkin. Tapi sulit.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka jangan  heran menyaksikan banyaknya remaja yang melibatkan diri dalam organisasi  keagamaan radikal. Sebab, di sanalah remaja dari daerah &lt;em&gt;slum&lt;/em&gt; merasa mendapat pengakuan. Mereka menggunakan &lt;em&gt;uniform&lt;/em&gt;,  melakukan kekerasan, masuk televisi, dan dengan demikian mereka diakui  di masyarakat. Mereka menyerahkan kebebasan mutlak yang mereka miliki ke  organisasi keagamaan radikal. Mereka menyerahkan hak mereka untuk  mendefinisikan diri mereka sendiri ke pemimpin agama. Mereka merasa  menjadi sesuatu ketika mereka bergabung dalam kelompok itu. Tapi jelas,  mereka tak lagi punya individualitas. Mereka, sebagaimana kata Sartre,  adalah orang-orang yang tak otentik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika sekali-sekali  anda menemukan demonstrasi atau aksi organisasi yang membawa-bawa agama  di jalan-jalan Jakarta, coba periksa dengan teliti para pengikutnya.  Jika dia remaja, teliti rautnya, minyak dan jerawat di wajahnya, sorot  matanya. Coba tebak harga bajunya, jeans-nya, bahkan sendal dan  sepatunya. Saya yakin, anda akan menemukan ikon-ikon yang terbiasa  ditemukan di kawasan kumuh atau perempatan jalan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketika  saya membenci fanatisme, saya sependapat dengan Sartre. Sebab fanatisme  adalah sikap orang-orang yang tidak otentik, yang takut dengan  kebebasannya sendiri, yang tidak menjadi subjek murni bagi dirinya  sendiri. Tapi jauh dalam diri mereka, apakah kita pernah berpikir, bahwa  mereka fanatik karena hanya fanatisme itulah satu-satunya pilihan di  tengah kenyataan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya mulai bingung. Antara benci dan  merasa orang-orang fanatik itu juga korban ketidakadilan. Siapa yang  mengorbankan mereka sudah tidak penting bagi saya. Yang jelas,  orang-orang itu akan tetap ada sepanjang masa. Seperti kecoa, mereka  tidak mati-mati, meski hanya keluar di malam hari.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Masih adakah ambisi di bawah atap-atap rumah kawasan &lt;em&gt;slum&lt;/em&gt;?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, 20 2 2011&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-7377121808489999794?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/7377121808489999794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=7377121808489999794&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7377121808489999794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7377121808489999794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#7377121808489999794' title='Ambisi Orang-Orang Slum'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-1676315242019596692</id><published>2011-10-14T10:20:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T10:30:05.838-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Hipokrisi</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Khotbahkan filsafat itu di Yunani sana, di mana cuaca hangat  dengan semerbak jeruk liar, tapi di sini filsafat itu tidak sesuai  dengan iklim. Dengan siapa itu saya bicara tentang Diogenes? Apa bukan  dengan Anda?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya menemukan paragraf dalam cerita pendek &lt;em&gt; Ruang Inap No. 6&lt;/em&gt;  karangan Anton Chekov sebelum saya datang ke sebuah desa yang aneh.  Saya baru merasakan keanehannya justru setelah saya meninggalkan desa  itu. Mungkin saya mau mengatakan, paragraf yang ditulis Chekov adalah  yang mempertajam ingatan saya terhadap sebuah kampung.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nama  desa itu dukuh Cihideung. Tercakup dalam dusun Talang Sari III, desa  Raja Basa Lama, Lampung Timur, Lampung. Di desa itu, suara daun-daun  jauh lebih semarak dari pada suara manusia. Hanya ada rumah, dan sedikit  pemuda. Senyap.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kesenyapan itu terjadi karena mereka  bertahan dengan kenangan yang terlampau pahit. Dua puluh dua tahun lalu,  rumah mereka dibakar, harta mereka dirampas, dan kerabat keluarga  mereka dibantai di depan mereka. Pelakunya, meski belum &lt;em&gt;inkracht&lt;/em&gt;, didesas-desuskan tentara. Lebih dari 200 orang, termasuk anak-anak dan perempuan, tewas.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi  yang bertahan hidup, mereka dikucilkan, dan dianggap sebagai kelompok  terlarang. Tak memiliki akses pendidikan dan pekerjaan membuat mereka  miskin. Yang lebih pedih, anak-anak mereka juga dikenal sebagai anak  “mujahidin.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mujahidin adalah sebutan bagi pesantren Warsidi di  Cihideung. Pengajian itu menolak asas tunggal Pancasila. Namun membantah  tuduhan ingin mendirikan negara Islam. Fitnah yang menyelimuti  pesantren itu membuat Cihideung diserbu tentara. Mereka dianggap  separatis.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kini sebagian dari mereka masih hidup. Hidup  bertahun-tahun dengan kenangan yang buruk.Hukum berjalan seperti keong.  Kepada saya, korban-korban itu berkeluh-kesah tentang ketidakadilan yang  mereka alami hingga kini. Saya merasa tak berdaya di hadapan  keluh-kesah mereka. “Apalah saya?” pikir saya. Saya belum tentu mampu  menghadirkan keadilan ke hadapan wajah mereka yang lugu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lalu  saya berbicara dengan nada yang terasa menggurui. Saya katakan kepada  mereka, jenderal yang berdosa atas darah di desa kalian itu selalu  ketakutan. Itulah sebabnya, meski diktator sudah tinggal belulang, dia  tetap mengirim intel ke desa kalian. Tapi, coba lihat kalian? Kalian  masih bisa mengisahkan kenangan pahit itu dengan senyum dan tertawa.  Bukankah itu berarti pada akhirnya kemenangan itu ada di tangan kalian?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  tersentak atas kata-kata saya itu setelah bertemu dengan paragraf  Chekov di atas. Itulah saya, orang yang berbicara filsafat yang tak  sesuai dengan iklim di mana saya berbicara. Saya berusaha menjadi  motivator. Sebagai motivator, saya berusaha menjelaskan persoalan  (seolah-olah) secara filosofis. Dengan begitu, saya mendapat kejayaan  karena mereka saya anggap memperoleh pencerahan dari kata-kata saya.  Saya bangga jika mereka bisa menghanguskan duka sejarah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi  apa? Sejarah tak mungkin pupus. Saya tersadar bahwa saya berbicara  dengan lantang karena sebenarnya saya tak mengetahui keadaan sebenarnya.  Dalam keadaan saya sekarang, andaikan saya seperti mereka yang  kehilangan kerabat dan disiksa di tahanan, mungkin saya sudah menjadi  gila gelandangan. Atau, gantung diri.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penderitaan mereka  sebenarnya adalah penderitaan yang tak tertanggungkan. Sebenarnya, saya  tak lebih kuat dari mereka. Saya menyembunyikan kerapuhan saya dengan  kata-kata filosofis ala motivator. Seingat saya, Nietzsche membenci  praktek seperti itu!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya tak mau menyimpulkan, karena  kesimpulan membuat tulisan ini seperti kata-kata filosofis yang munafik  sebagaimana yang saya katakan pada warga Talang Sari. Sebab, daya tahan  mereka dengan beban ketidakadilan yang temurun, membuat kita jangan  terlalu mudah memamerkan keadilan. Karena “ide” keadilan itu begitu  rentan, bisa jadi belati untuk menikam dari belakang!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jakarta Februari 9 2011&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-1676315242019596692?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/1676315242019596692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=1676315242019596692&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1676315242019596692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1676315242019596692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_10_01_archive.html#1676315242019596692' title='Hipokrisi'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-5442860139649120822</id><published>2011-01-18T14:55:00.000-08:00</published><updated>2011-01-18T15:05:10.671-08:00</updated><title type='text'>Psychedelia</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ainun tak terlalu ingat di mana ia berada terakhir kali. Barangkali seperti mimpi, yang terbayang adalah rok merah yang belum ia ganti sepulang sekolah. Ia duduk di beranda musholla di pojok kampungnya, tempat tersisih di utara Jakarta. &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Sambil memandangi jalan tol, ia juga ingat ibu dan ayahnya yang hidup terlalu datar. Kau mungkin tak percaya, ayah dan ibunya sama sekali tak kenal abjad. Bahkan, setahunya, ayah dan ibunya paling jauh melancong ke Semper, atau Cakung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ayahnya hanya menggarap kebon bayam milik juragan tetangganya. Sedang ibunya berdagang nasi uduk di kala pagi. Ia merasa sendiri di tengah keluarganya. Andai saja tak ada Burhan, mungkin Ainun takkan pernah bisa menghalau sepi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ouw! Burhan! Siapa dia? Ainun merasa tak pernah punya teman kecil seperti Burhan. Tapi mengapa? Dalam bayangan masa kecil yang sedang ia rasakan, ia sedang duduk di beranda sambil menyaksikan Burhan di halaman musholla. Burhan yang kurus itu sibuk bersiul-siul memanggil angin. Sambil memonyong-monyongkan mulut, Burhan menyentak-nyentak benang yang berujung pada teraju yang terikat di raku layang-layang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Seperti mimpi, ia menyaksikan layang-layang Burhan terbang tinggi, jauh, menembus awan. Semakin tinggi, layang-layang itu kian tampak bagai elang perkasa yang tak takut badai. &lt;i style=""&gt;Ainun, kau akan kubawa ke langit dengan layang-layangku&lt;/i&gt;. Ainun tersenyum mengenang seruan itu. Baginya terasa istimewa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Langit tiba-tiba mendung. Ainun tak suka hujan. Sebab, setiap kali hujan, air akan menggenangi kamar tidurnya yang sempit. Seperti yang sudah-sudah, keluarganya bersama beberapa tetangga harus mengungsi ke lantai dua musholla.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ainun memejamkan mata. Ia mencoba melepaskan diri dari fantasi masa lalu yang tak jelas dari mana asalnya itu. Saat ia menempuh perjalanannya menuju alam hidupnya yang dianggapnya nyata, ia berhenti tiba-tiba. Ia tak mau menganalisis dan membaca situasinya. Tapi entah mengapa, bayangan di tengah-tengah itu membuatnya takut. Baginya itu terlalu nyata. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tapi Ainun tak bisa untuk tak hirau. Yang tampak padanya adalah padang rumput berbukit dan permai. Ia merasa tempat ini seperti peternakan sapi. Tapi yang jelas, ia merasa damai di tempat itu. Walaupun ia tahu, ia tampak sangat asing di tengah keramaian orang-orang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di tempat yang dianggapnya nyata itu, Ainun merasa itu bukan tanah airnya. Udara di tempat itu terlalu dingin bagi Ainun. Lagi pula, tak ada pohon kelapa dan sinar mataharinya terlalu redup. Anehnya, jika di keluarganya ia merasa sendirian, di tempat itu ia justru melebur dengan ratusan ribuan orang yang hadir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ainun melihat perempuan-perempuan berparas Eropa mengenakan gaun-gaun sederhana yang indah. Mereka juga manis karena berpakaian seolah-olah menyerupai orang Indian. Satu hal yang paling mempesonanya, perempuan-perempuan manis itu menyematkan bunga di sela rambut. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di dalam alam pikiran tengahnya itu, Ainun tiba-tiba merasa ia juga semanis perempuan-perempuan berambut panjang itu. Saat dilihatinya penampilannya, alamak! Ainun memuji dirinya setinggi langit. &lt;i style=""&gt;Ternyata, aku yang tercantik&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ainun tahu ia meniru pakaian perempuan-perempuan lain yang ada di situ. Tapi, ia memang yang paling cantik. Kulitnya yang langsat dan tubuhnya yang ramping itu menunjukkan kekhasannya. Ia bak permata yang menyelinap dari ujung tenggara Asia untuk mempesona laki-laki berambut panjang dan bertampang cerdas yang berseliweran di tempat ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Lalu ia ingat, di suatu malam, ia berjalan sendirian, dan kedinginan. Di sana-sini dilihatnya orang-orang membakar api unggun, memasang tenda, berbicara sambil telanjang, bahkan bersanggama. Tapi ia sama sekali tak risih. Justru merasa akrab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dari kejauhan, Ainun melihat panggung yang terang. Dari panggung itu, mengalun musik pemberontakan yang membius. Semua orang yang menikmati musik di sekitar Ainun, bergerak seolah-olah berdansa dengan rohnya sendiri. Ainun tergoda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebuah mobil minibus biru muda tegak di tengah padang rumput. Memang, di tempat ini bukan hanya minibus itu saja yang parkir. Tapi, entah mengapa, bulan melimpahkan cahayanya yang utama terhadap minibus biru itu. Minibus itu seperti aktor teater yang disorot lampu sendirian di atas pentas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di pintu minibus yang terbuka, Ainun melihat Burhan. Ya, Burhan! Ainun melihat Burhan sedang membakar sejenis rokok, atau mungkin mariyuana. Burhan melihat Ainun dengan mata yang sayu. &lt;i style=""&gt;Dari mana saja kau, Ainun? Setengah mati aku menahan rindu&lt;/i&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dari mana Burhan datang? Tapi ia merasa akrab dengan Burhan. Ia melihat Burhan sebagai orang paling tampan di tempat itu. Burhan berkulit sawo matang, sama seperti dirinya. Laki-laki itu tampak sangat jenius. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ainun melipat-lipat lagi pikirannya, mencoba memutuskan keakrabannya dengan Burhan. Tapi ia hanya menampar awang-awang. Burhan hadir di sana tanpa alasan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ainun menghampiri Burhan. Ia duduk di bagian belakang mobil. Pintu yang terbuka membuat ia ingin memeluk Burhan dari samping. Dan tanpa alasan, Ainun melakukan itu setelah ia memaksa Burhan menempelkan sesuatu di langit-langit mulutnya. &lt;i style=""&gt;Dia terlalu dekat padaku&lt;/i&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Ainun,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita ini sebenarnya apa? Sebenarnya, siapa yang membawa kita ke sini? Tidakkah kau lihat, kita seperti orang yang datang dari negeri paling jauh. Tapi, semua orang-orang di sini seolah menganggap kita sepasang muda-mudi yang bersemangat dari New York.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pertanyaan demi pertanyaan terus diajukan Burhan. Ia merasa, perbincangannya dengan Burhan adalah situasi yang paling sering ia temui dalam hidupnya. Keabadian baginya adalah saat ia menjawab pertanyaan demi pertanyaan Burhan. Terus-menerus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Burhan, tahukah kau? Terlalu sering sadar itu membuat manusia menjadi lebih kejam. Mereka menggunakan pikiran sadarnya untuk menghitung kesempatan hidup. Apa yang terjadi? Mereka mengirim anak muda yang jenius seperti kau ke medan perang. Aku kira, takdir membawa kita ke sini untuk melawan kesadaran itu. Kita dipilih untuk ada di sini. Aku, dan juga kau.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ainun dan Burhan tidur bersebelahan di dalam minibus. Mereka menutup pintu belakang sekaligus menutup jendela dengan kain warna-warni. Cahaya bulan dari luar membuat kain warna-warni itu memancarkan cahaya. Dan Ainun pun kembali memejamkan mata. Ainun tertidur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dalam mimpinya, Ainun merasa dirinya semakin tua. Tapi tetap sadar, gurat pesona pada wajahnya tak akan lekang. Ia duduk di pintu rumahnya menjelang senja. Daun pintu rumah itu tidak memiliki engsel. Jika ingin menutup pintu, Ainun harus mengangkat daun pintu sejajar dengan rongga pintu. Tetap saja, pintu tidak tertutup dengan sempurna dan sangat gampang dibuka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tapi Ainun adalah orang yang ikhlas. Ia yakin tak ada orang jahat yang mau mencelakainya di rumahnya yang sempit. Lagi pula, di rumahnya hanya ada televisi berwarna 14 inchi, vcd rusak, ranjang tua dan kasur kapuk yang sudah kempes, kompor gas pemberian pemerintah, satu meja makan, dan dua kursi kayu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Benda lain yang ada di rumahnya adalah jam dinding rusak dan beberapa buku bacaan Burhan yang tergeletak di rak bawah meja. Burhan! Mana Burhan? Mengapa jam segini Burhan belum juga pulang? Apakah ia sempat pulang ke rumah dari sekolah sebelum pergi lagi. Ataukah Burhan tawuran lagi? &lt;i style=""&gt;Ah, mengapa sekarang Burhan terasa seperti anak lelaki semata wayangku. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebelum azan maghrib, dari ujung gang Ainun melihat sebuah mobil bak berhenti. Ia melihat Burhan turun dari bak mobil yang penuh. &lt;i style=""&gt;Allahuakbar! &lt;/i&gt;Burhan mengapalkan tinjunya pada orang-orang di bak mobil yang ia tumpangi saat mobil itu pergi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Seperti pertemuannya yang sudah-sudah, Burhan selalu jarang bicara. Di depan pintu rumah, Burhan hanya menatap Ainun. Ainun merasa Burhan adalah remaja lelaki SMA yang cerdas. Tapi satu yang tak dipungkirinya, kedekatannya dengan Burhan di alam pikirannya yang manapun tak berubah derajat. Burhan boleh berubah peran, tapi Ainun merasa selalu akrab dengannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Malam itu Ainun tak bisa tidur. Ia memicing-micingkan matanya agar lelap. Ia tak terbiasa tidur tanpa Burhan. Di rumah sempit dan reot itu, ia hanya tinggal bersama Burhan. &lt;i style=""&gt;Semoga saja, ini semua mimpi&lt;/i&gt;. Tapi ia tetap gelisah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Selepas makan malam, Burhan pamit lagi pada Ainun. Kali ini Ainun ingin sekali melarang Burhan pergi. Tapi, ia tahu, sejak dulu ia tak pernah bisa memaksa Burhan. Ia terlalu cinta terhadap Burhan. &lt;i style=""&gt;Burhan, kumohon, malam ini tinggallah denganku. Apa sebenarnya yang kau cari?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Sederhana saja! Aku ingin masuk televisi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;. Dan Burhan pun pergi dengan pakaian khusus: jubah putih beserta sorban. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dalam kegelisahannya itu, Ainun merasa dirinya semakin tua lagi, lagi, dan lagi. Ia memaksakan diri menonton televisi. Tak ada apa-apa. Yang ada hanyalah film &lt;i style=""&gt;Rambo&lt;/i&gt;, kuis berhadiah telepon genggam, siaran tunda sepakbola, serta kabar tentang perceraian artis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ainun tiba-tiba berhenti pada siaran berita tengah malam. Ia melihat berita tentang bentrokan antara sekelompok orang berjubah-bersorban dan sekelompok centeng sebuah rumah judi. Pertempuran itu menjadi pertempuran berdarah yang pernah ia tahu dari televisi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Jantung Ainun tersirap. Ia melihat Burhan berdarah dalam pertempuran itu. Ainun buru-buru mematikan televisi. Ia kembali berusaha tidur untuk menghilangkan rasa cemasnya. Hampir subuh, Ainun mendengarkan sekelompok orang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Ia merasa semakin aneh dan takut, sebab jelas itu bukan Burhan. Burhan tak pernah menutup pintu rumah. Burhan selalu menggeser pintu jika pulang malam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ainun tak mau menjawab panggilan dari luar rumah. Ia merasa dirinya terus menua. Ia menderita seperti perempuan kesepian yang kehilangan separuh nyawa. Ia hanya punya satu harapan. &lt;i style=""&gt;Semoga ini cuma mimpi&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dan Ainun terus memaksa untuk tidur dalam mimpinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kelapa Dua, 19 Januari 2011&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-5442860139649120822?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/5442860139649120822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=5442860139649120822&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5442860139649120822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5442860139649120822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#5442860139649120822' title='Psychedelia'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-7322695411043171095</id><published>2011-01-13T11:16:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T11:18:26.066-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Ibu</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;ibu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ceritakan padaku tentang ayah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"tiba-tiba, dengan lembut ibu berceloteh tentang mitos tentang mistis"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta, januari 13 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="post_form_id" value="86cab6a160f68a28322d662e8fba1e71" type="hidden"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" value="E4bgs" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="feedback_params" value="{&amp;quot;actor&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;target_fbid&amp;quot;:&amp;quot;493816997559&amp;quot;,&amp;quot;target_profile_id&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;type_id&amp;quot;:&amp;quot;14&amp;quot;,&amp;quot;source&amp;quot;:&amp;quot;2&amp;quot;,&amp;quot;assoc_obj_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;source_app_id&amp;quot;:&amp;quot;0&amp;quot;,&amp;quot;extra_story_params&amp;quot;:[],&amp;quot;content_timestamp&amp;quot;:&amp;quot;1294926513&amp;quot;,&amp;quot;check_hash&amp;quot;:&amp;quot;acf6b4faecae9210&amp;quot;}" type="hidden"&gt;&lt;span class="UIActionLinks UIActionLinks_bottom" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;action&amp;quot;}"&gt;&lt;button class="like_link stat_elem as_link" title="Suka item ini" type="submit" name="like"&gt;&lt;span class="default_message"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/button&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-7322695411043171095?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/7322695411043171095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=7322695411043171095&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7322695411043171095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7322695411043171095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#7322695411043171095' title='Ibu'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-6507283615602112596</id><published>2011-01-13T11:12:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T11:15:57.235-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>suatu malam di jalan raya</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;seperti isa, anak lelaki kecil itu menyematkan paku di telapak tangan  kanannya. lalu ia menancapkan tangan kanannya ke telapak tangan kiri  ibunya. ibunya yang berjalan di gang tanpa pernah membaca arah, bagai  membaca ayat suci yang tertera di aspal malam  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;aku kira  aku kenal anak kecil itu. sebab tak jauh di belakang mereka, aku  kepayahan berenang melawan arus air mata si ibu yang berusaha  menjauhkanku&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“pulanglah, kami ingin pulang”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;jakarta, januari 12 2011&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-6507283615602112596?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/6507283615602112596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=6507283615602112596&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/6507283615602112596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/6507283615602112596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#6507283615602112596' title='suatu malam di jalan raya'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8607489451583459722</id><published>2011-01-13T11:07:00.001-08:00</published><updated>2011-01-13T11:10:57.560-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Dan Nirvana akan Menjadi Lebih Baik Ketimbang The Melvins!</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Setelah berselancar kesana kemari di dunia maya, saya menemukan  artikel pertama yang memperkenalkan Nirvana ke masyarakat luas. Artikel  ini dimuat di fanzine yang berbasis di Seattle, Washington, Amerika  Serikat. Fanzine ini diurus seorang perempuan bernama Dawn Anderson.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dawn  agaknya jeli dengan bakat besar Kurt Cobain. Saat artikel ini  diterbitkan pada September 1988, Nirvana-yang baru memiliki single  pertama dengan dua lagu-untuk pertama kali tampil di acara Sub Pop. Kurt  baru berusia 21 tahun waktu itu. Namun, Nirvana batal tampil karena  mereka masih gugup. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dari artikel ini,  Dawn sudah menangkap spritualitas musik Nirvana. Spritualitas ini  kemudian melekat dalam diri Nirvana dan terus-menerus dibicarakan orang  di seluruh dunia. Dan yang paling penting, Dawn sudah mencium gelagat  band anak bawang bernama Nirvana bakal lebih besar ketimbang jagoan  Seattle saat itu, The Melvins.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Saya  menerjemahkan artikel ini secara kasar dan menambahkan sejumlah catatan  kaki. Yuk, kita simak, bagaimana Nirvana sewaktu mereka masih “di bumi”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Bisa Jadi Setan dan Bisa Jadi Tuhan, Tapi Sudah Pasti Bukan Manusia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Dawn Anderson&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ah,  Aberdeen – sebuah kota di mana tak ada yang bisa dilakukan selain  menenggak fish-beer[i] dan memuja setan. The Melvins[ii] berasal dari  Aberdeen. Ingat, kan? Sekarang beberapa &lt;em&gt;fans&lt;/em&gt; The Melvins mulai  menggeber kocokan gitar yang berat dan mempesona ala band itu. Mereka  menyebut diri mereka Nirvana, sebuah nama yang bisa berarti “ada dan  tiada”. Jika anda tidak memahami nama ini, anda bisa mengambil kursus di  bidang agama-agama dunia, atau anda bisa menyaksikan pemunculan Nirvana  yang berikutnya di kota yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maha guru  Nirvana Kurt Cobain tinggal di Olympia[iii] saat ini. Namun ia pertama  mencoba gaya kocokan gitar The Melvins/Soundgarden di kota itu  (Aberdeen), termasuk mempelajari semua yang ia ketahui dengan menonton  latihan The Melvins. Terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Gue udah lebih dari  seratus kali ngelihat latihan Melvins,” kata Kurt. “Gue nyupirin mobil  van mereka saat tur. Semua orang membenci mereka. Dan gue menggunakan  kartu nama yang sama dengan Matt (Matt Lukin-basis Melvin terdahulu),  kita nyaris kayak orang nikah.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Nirvana, yang terdiri dari  Kurt pada posisi gitar dan vokal, Krist Novoselic pada bass, dan Chad  Channing di posisi drum, masih tergolong band baru. Tapi jalan yang  mereka pilih membuat mereka begitu cepat menjadi pengikut Buddha, atau  paling tidak Bodhisattvas[iv], di komunitas musik rock-suram dari  wilayah Northwest.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejak sejumlah orang mulai berpikir &lt;em&gt;Backlash&lt;/em&gt;  adalah panduan konsumen (seperti novel!), rasanya saya agak sia-sia  memberi tahu tentang band ini jika anda tidak menyukai The Melvins. Atau  jika anda tidak menyukai The Melvins tapi menganggap musik Leadbelly[v]  tidak termasuk dalam pembahasan ini, anda sudah pasti tidak menyukai  Nirvana. Namun, penting juga untuk menekankan bahwa kelompok ini bukan  band kloningan The Melvins atau Leadbelly.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Grup ini  bersiap melakukan sesuatu yang mematikan dalam penulisan lagu dan,  beresiko dianggap menghina tuhan. Tapi saya yakin, dengan latihan keras,  Nirvana akan menjadi…lebih baik ketimbang the Melvins!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Ketakutan utama kita pada permulaan ini adalah orang akan berpikir kami hanya penerus Melvins secara totok,” kata Kurt.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya, bisa saja anggapan itu menjadi keuntungan untuk band ini. Namun Nirvana merekam sebuah demo&lt;em&gt; tape&lt;/em&gt;  yang bisa memecah telinga dan dengan segera menggetarkan bibir setiap  pencandu suara bising di kota ini sebagai harapan besar aliran grunge  masa depan…dan ini mungkin tidak akan menyakiti Melvins Dale yang duduk  di kursi penggebuk drum (sebelum Channing bergabung).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seharusnya, penampilan pertama band ini dengan nama Nirvana di &lt;em&gt;Sub Pop Sunday&lt;/em&gt;[vi] di Vogue. Tapi mereka tak siap.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Kita  grogi,” kata Kurt. “Ini nggak kayak yang terlihat di pertunjukan yang  sebenarnya. Kita merasa seperti dihakimi, setiap orang orang punya papan  nilai. Ditambah lagi gue sakit. Gue muntah-muntah hari ini. &lt;em&gt;Excuse&lt;/em&gt; yang keren kan?!”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Kita sudah punya beberapa lagu yang diputar di radio,” tambah Krist. “Semua orang ngomongin kita. Itu jadi tekanan banget.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sayang,  Kurt gugup sebelum naik panggung malam ini. Tapi saya sudah menyaksikan  mereka dua kali dan mereka semakin kompak. Mereka akan menjadi band  yang bisa merubah semua penonton menjadi manusia zombie berkepala kacang  polong semata-mata hanya dengan kekasaran (ini adalah pujian).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Satu-satunya  kritik saya adalah Kurt tidak bernyanyi sebaik yang ia lakukan di dalam  rekamannya sejak ia memainkan gitar sambil bernyanyi. Tapi saya yakin  dia pasti bisa mengatasinya. Nah, sekarang waktunya, rasakan salah satu &lt;em&gt;single&lt;/em&gt; band pendatang baru &lt;em&gt;Sub Pop&lt;/em&gt;, dengan satu lagu mereka sendiri dan cover lagu&lt;em&gt; Shocking Blue&lt;/em&gt;[vii]&lt;em&gt;, Love Buzz&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan jangan alihkan kuping anda dari Aberdeen, sebab kota yang hening itu adalah tempat berlatih para Setan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sumber: Backlash-September 1988. Versi asli bisa disimak di &lt;a href="http://www.kurtcobain.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;www.kurtcobain.com&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;[i]  Sejenis bir yang terbuat dari ikan. Jepang adalah salah satu produsen  bir jenis ini. Yang menarik, pagi setelah bom atom dijatuhkan sekutu di  Hiroshima pada Perang Dunia II, Tosa Kuroshio, bos produsen bir ikan  Jepang menyatakan produknya meledak di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;[ii] Band  hardcore-punk yang terbentuk di Aberdeen, Seattle, Washington, pada  1983. Band yang beranggotakan tetap Buzz Osborne (gitar-vokal) dan Dale  Crover (bass) ini memiliki dua penggebuk drum. Mereka dikenal sebagai “&lt;em&gt;The Godfather of Grunge Music&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;[iii]  Kurt tinggal di Olympia, Washington, pada periode pra-Nirvana. Di  tempat itu ia kerap mengunjungi konser musik dan mengencani seorang  perempuan bernama Tracy Marander.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;[iv] Bodhisattva dalam  ajaran Buddha adalah mahkluk yang mendedikasikan hidupnya untuk  kebahagiaan manusia di alam semesta sebelum menuju Nirvana. Bodhisattva  juga berarti mengambil jalan hidup seperti Buddha. Dari artikel ini,  tampak Dawn Anderson menganggap Nirvana sebagai musisi yang spiritual;  bermain musik layaknya orang yang tengah menjalani hidup seperti Buddha.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;[v]  Leadbelly adalah pemusik yang hidup di Louisiana pada 1888-1949. Ia  dikenal sebagai pemusik yang mencampur musik folk amerika dan blues.  Sikapnya yang temperamental menyebabkan dia tiga kali dijebloskan ke  dalam penjara sepanjang hidupnya. Pada 1915, dia ditangkap atas tuduhan  kepemilikan senjata api dan keterlibatan dalam sebuah geng. Tiga tahun  berselang ia kembali masuk bui karena membunuh temannya sendiri akibat  masalah perempuan-ia bebas pada 1925. Pada 1930, Leadbelly kembali  mendekam di penjara karena percobaan pembunuhan-menusuk pria kulit putih  dalam satu perkelahian. Leadbelly merupakan salah satu inspirasi Kurt  Cobain. “&lt;em&gt;Where did You Sleep Last Night&lt;/em&gt;” merupakan lagu ciptaan Leadbelly yang dibawakan Kurt secara impresif dalam konser MTV Unplugged di New York, 1994.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;[vi]  Sub Pop adalah label rekaman independen yang berawal dari fanzine yang  dikelola Bruce Pavitt. Pavitt mendirikan Sub Pop sebagai label rekaman  pada 1986 di Seattle. Sub Pop tercatat sebagai label rekaman yang berada  di balik kejayaan grunge dan Seattle Sound. Sub Pop mengorbitkan  sejumlah band grunge seperti Sonic Youth, The Melvins, Sound Garden,  Green River, Mudhoney. Sub Pop Sunday adalah panggung unjuk gigi musisi  keluaran Sub Pop. Sejak kesuksesasan Nirvana, 49 persen saham Sub Pop  dimiliki oleh Warner Music.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;[vii] Shocking Blue merupakan  band rock asal Hague, Belanda, yang berdiri pada 1967. Salah satu yang  membuat band ini istimewa karena suara vokalis perempuan Mariska Veres.  Shocking Blue dianggap satu-satunya band dari luar daratan Amerika  Serikat dan Inggris yang setara dengan band rock n roll dari daratan di  era kejayaan Flower Generation seperti The Beatles, Jimi Hendrix,  Jefferson Airplane, dan Rolling Stones. Hits terbesar mereka, &lt;em&gt;Venus&lt;/em&gt;,  menduduki posisi pertama chart Billboard pada Februari 1970. Pada 1973,  penjualan rekaman mereka mencapai 13,5 juta di seluruh dunia. Band ini  bubar pada 1974. Mariska Veres meninggal akibat kanker pada usia 59  tahun pada 2 Desember 2006. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Backlash&lt;em&gt; adalah fanzine  yang dikelola Dawn Anderson dan terbit selama 1987-1991. Dawn sendiri  adalah seorang penikmat musik dan penulis. &lt;/em&gt;Backlash&lt;em&gt; memuat  scene musik rock underground dari Seattle yang berciri khas distorsi  kotor dan tebal. Dawn semula menulis di majalah musik bulanan berbasis  di Seattle, &lt;/em&gt;The Rocket&lt;em&gt;. Ia mendirikan &lt;/em&gt;Backlash&lt;em&gt; untuk mempublikasi musik underground Seattle yang tak tersentuh&lt;/em&gt; The Rocket&lt;em&gt;.  &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Backlash&lt;em&gt; memuat band punk, metal, underground rock, grunge sebelum dikenal sebagai grunge, dan sejumlah kelompok hip-hop lokal. &lt;/em&gt;Backlash&lt;em&gt; juga dikenang sebagai media massa pertama yang memperkenalkan Nirvana.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Pada 1991, &lt;/em&gt;Backlash&lt;em&gt; berhenti terbit seiring dengan meledaknya Nirvana. Salah satu penggemar Dawn menganggap keputusan Dawn menghentikan &lt;/em&gt;Backlash&lt;em&gt; karena ia merasa sudah melaksanakan tugasnya dan Nirvana tak memerlukan buah tangannya lagi untuk populer.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;﻿Januari 8 2011&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;terjemahan ini bisa disimak di &lt;a href="http://www.jurnallica.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.jurnallica.com/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.jurnallica.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8607489451583459722?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8607489451583459722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8607489451583459722&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8607489451583459722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8607489451583459722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#8607489451583459722' title='Dan Nirvana akan Menjadi Lebih Baik Ketimbang The Melvins!'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-1857403049496704</id><published>2011-01-13T11:02:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T11:06:46.067-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>anggur</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;di dalam mulutmu, sekelompok anggur nyaris frustasi berusaha  mengunyahmu. mungkin karena kau meletakkannya di atas meja di siang  bolong. bahkan, sebelum kau melumatnya, anggur ciut nyali mencium bau  bijak mulutmu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dan mikropon yang berdiri di dekat piring memberi isyarat kepada anggur: “jangan macam-macam!”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;di  dalam mulutku, aku nyaris frustasi karena anggur hampir berhasil  menyudutkanku. mungkin karena aku meletakkannya di bawah pohon di tengah  malam. bahkan, sebelum aku menenggaknya, angin musim hujan yang buruk  mendadak sepoi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dan tiang listrik yang sendiri di simpang jalan itu menggodaku: “mengapa anggur tak berubah saja jadi jeruk?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, Desember 24 2010&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;﻿&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-1857403049496704?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/1857403049496704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=1857403049496704&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1857403049496704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1857403049496704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#1857403049496704' title='anggur'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8265918128808739110</id><published>2011-01-13T10:57:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T10:59:10.360-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Mie Instan</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Siang ini saya (masih) berhadapan dengan semangkuk mie instan, telor,  dan setangkup nasi. Menu itu, mie instan, sudah menemani hidup kita  selama puluhan tahun. Dalam waktu yang tak sebentar itu, mie instan  mendapatkan simbolnya sendiri dalam masyarakat. Dia mendapatkan  konotasinya.  &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya bisa menyebut makna konotasi mie  instan sebagai lambang persaudaraan antar lelaki muda yang tak banyak  memiliki uang. Mie instan adalah menu penyambung hidup bagi sekelompok  pemuda yang tinggal bersama dan tak memiliki uang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan pikiran saya hari ini sedang rumit, kalau tidak dibilang sedih dan ngawur.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam  kesedihan yang ngawur itu, tiba-tiba saya kembali memikirkan hubungan  antar lelaki muda dalam suatu periode dengan konsentrasi tertentu. Jika  mereka mahasiswa, maka “hidup bersama” sekelompok lelaki itu berada  dalam konsentrasi studinya. Jika mereka pengangguran, hidup bersama  dijadikan alat penghapus kesepian karena menganggur bisa membunuh mental  laki-laki secara perlahan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perempuan tentulah menjadi  guncangan terbesar dalam persaudaraan lelaki itu. Kehadiran perempuan,  membuat anggota kelompok memaklumi penurunan intensitas hubungan antar  mereka. Perempuan menjadi satu-satunya pembebas yang dianggap derajatnya  lebih tinggi ketimbang hidup bersama milik kelompok.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi  mengapa sekelompok lelaki muda bisa bertahan dan betah untuk hidup  bersama dalam satu rumah untuk waktu bertahun-tahun? Tidakkah di dalam  rumah itu mereka adalah homogen! Dan pada saat yang bersamaan, mereka  tak mau disebut sebagai homoseksual.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sigmund Freud  terlanjur dicap sebagai psikolog yang rajin membahas seksualitas. Dan  seksualitas itu selalu dilihat dalam hubungan soal tubuh dan persentuhan  kelamin. Misalnya saja gagasannya tentang &lt;em&gt;oedipus complex&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi  dalam satu diskusi, saya pernah mendengar seorang ahli psikologi  mengatakan rangsangan seksual yang dimaksud Freud tak melulu soal  persentuhan antar kelamin. Freud menyebut rangsangan seksualitas sebagai  tindakan manusia untuk mengendurkan ketegangan dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika  manusia makan untuk mengatasi lapar, itulah seksualitas. Jika seorang  kritikus menulis kritik untuk merespon sebuah polemik, itulah  seksualitas. Jika seorang ibu mencoba menenangkan tangis anaknya di  malam hari, itulah seksualitas.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lalu, bukankah kita bisa  mengatakan bahwa hasrat para lelaki muda untuk berkumpul dan hidup  bersama juga sebagai rangsangan seksualitas? Sebab, dengan berkumpul  mereka bisa mengendorkan banyak persoalan hidup. Karena yang utama dalam  perkumpulan itu hanyalah kebahagiaan. Apa saja yang menyokong  kebahagiaan bersama akan dibela. Dan untuk itulah kata persaudaraan (&lt;em&gt;brotherhood&lt;/em&gt;) menjadi tepat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Konsep &lt;em&gt;brotherhood&lt;/em&gt; ini pernah disorot oleh Michel Foucault dalam wawancara bertajuk &lt;em&gt;Friendship as a Way of Life&lt;/em&gt;.  Foucault memperluas maksud homoseksualitas hingga ke batas-batas  persaudaraan. Sejalan dengan Freud, Foucault yang merupakan seorang &lt;em&gt;gay&lt;/em&gt; itu, memberikan pemikiran tentang homoseksualitas yang sama sekali tak berhubungan dengan persentuhan kelamin.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan nada pembelaan, Foucault memprotes kemunafikan dunia modern yang meminggirkan kaum marjinal seperti kaum &lt;em&gt;gay&lt;/em&gt;.  Perang, sebagai produk modernitas, telah mengumpulkan laki-laki dalam  satu ketegangan bersama dan konsentrasi bersama. Bagaimana, kata  Foucault, menjelaskan daya bertahan prajurit yang sedang mempertaruhkan  nyawa jika bukan karena persaudaraan antar sesama (homo) prajurit yang  sebagian besar lelaki (seks)?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dapat dibayangkan  bagaimana dalam perang yang absurd dan mengerikan ini, dalam pembantaian  kejam ini, para lelaki itu bisa bertahan. Lewat jalinan emosional  pastinya. Tentunya saya tidak sedang mengatakan bahwa mereka sedang  berperang demi kekasihnya. Tapi kehormatan, keberanian, tidak kehilangan  muka, pengorbanan, meninggalkan parit perlindungan bersama dengan sang  kapten–semuanya menandakan ikatan emosional yang dalam. Bukan untuk  menyatakan: ‘Nah, itu namanya homoseksualitas!’ &lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Saya  jijik dengan penjelasan semacam itu. Tapi jelas dari sana ada satu dari  beberapa kondisi, bukan satu-satunya, yang mengindahkan kehidupan  seperti di neraka itu di mana para lelaki itu selama berminggu-minggu  harus bergelimang lumpur dan tahi, di antara mayat-mayat, kelaparan dan  bangun dalam keadaan mabuk pada suatu serangan pagi.&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Homoseksualitas  bagi Foucault adalah kerelaan untuk bersahabat, saling menjaga, dan  komitmen terhadap komunitas. Orang boleh berdebat mengenai penafsiran  Foucault soal homoseksualitas yang universal ini. Tetapi, dalam keadaan  sedih dan sepi, saya menemukan gagasannya itu dalam mie instan yang tak  mampu saya habiskan dan mulai dikerubungi semut ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mungkin juga ide itu ada dalam kebiasaan menghisap rokok sebatang bersama, atau menyedot es the manis dari sedotan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kelapa Dua, Desember 22 2010&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;﻿&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8265918128808739110?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8265918128808739110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8265918128808739110&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8265918128808739110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8265918128808739110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#8265918128808739110' title='Mie Instan'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8659135687443851468</id><published>2011-01-13T10:51:00.001-08:00</published><updated>2011-01-13T10:56:03.901-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>8 Dari 10 Perempuan Jakarta Memiliki Blackberry?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Delapan dari Sepuluh Perempuan Jakarta Memiliki Blackberry?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Delapan dari sepuluh perempuan muda dan aktif di Jakarta memiliki &lt;em&gt;gadget&lt;/em&gt;  Blackberry. Pernyataan ini memang belum teruji secara ilmiah. Tetapi,  setidaknya, di lingkungan terdekat saya, saya melihat kenyataan itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum masuk ke masalah itu, baiklah saya menceritakan lingkungan yang saya maksud  terlebih dahulu;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selama  lima atau enam tahun terakhir, saya nyaris setiap hari mengunjungi  sebuah kantin-lebih mirip warung makan-di gang sebelah kampus saya dulu,  di selatan Jakarta. Lima tahun itu saya habiskan saat saya mahasiswa,  lalu pengangguran, hingga menjadi buruh di sebuah lembaga nirlaba.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tempat  itu bagaikan magnet bagi saya. Juga teman-teman yang biasa duduk di  sana menghabiskan waktu hingga tengah malam. Boleh dikatakan, tempat itu  adalah salah satu tempat yang mampu membedakan diri dengan situasi  kebanyakan di sekitar kampus.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di kantin itu, kami membahas  filsafat, hubungan internasional, politik, kajian budaya, hingga  sastra, tanpa kami rencanakan. Membaca buku bukan merupakan kegiatan  ekstra di tempat itu. Perdebatan intelektual mengalir seperti  pembicaraan gosip warung kopi. Sejenak, kami merasa tempat itu bagaikan  kafe di mana intelektual Prancis sejak Voltaire menjadi akar dari  penyerangan penjara Bastille yang terkenal sebagai simbol Revolusi  Prancis.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya, sejenak saja. Setelah itu, masing-masing dari  kami mulai kerepotan menghadapi jalur tak terduga dalam kehidupan ini.  Mencari nafkah menjadi tantangan terberat yang tak mampu kami taklukkan  hingga kini. Tak ayal, di tempat itu, bangun pagi dan rutinitas bekerja  masih kami anggap sebagai kutukan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sikap itulah yang  tersisa bagi kami sebagai idealisme atas perdebatan yang kami lakukan  dulu. Setidaknya, kami masih mengambil sikap atas situasi yang  memenjarakan kreatifitas kami sebagai manusia. Kami tahu, pekerjaan dan  rutinitas itu mengeluarkan kami dari jati diri kami sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi  hidup tak semata soal idealisme, inilah ungkapan klasik yang tak  berhenti berulang. Di tempat itu pula, sebagian teman menemukan  kekasihnya-mungkin sebagian sedang merencanakan pernikahan. Kami masih  saja datang ke sana, meski kehidupan sudah mulai berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Guncangan  pertama yang dahsyat adalah ketika sikap dan pikiran kami mulai  bergeser dalam memandang uang. Dulu, uang kami anggap sebagai “mimpi  kecil” yang hanya berguna ketika ia menyokong mimpi besar. Apakah mimpi  besar itu? Sebagian dari kami menyebut mimpi besar itu adalah menjadi  ilmuwan sosial yang menuntut ilmu hingga ke negeri jauh. Sebagian  berangan-angan menjadi penyair. Sebagian lagi berkomitmen tenggelam  dalam aktivismenya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Uang, semula adalah alat. Tapi sejak  kami dihadapkan dengan keharusan mencari pekerjaan, kami menjadi sinis  terhadap uang. Dan pelan-pelan, menjadi sinis pula terhadap kehidupan.  Semasa mahasiswa, uang itu datang dari orang tua. Kami menganggap uang  bagian dari darah orang tua. Dan dengan sendirinya kami menganggapnya  sebagai bagian dari darah kami. Itulah sebabnya, karena uang itu melekat  sebagai darah, dalam kondisi tak beruang pun, hati kami tetap senang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika  sudah mulai bekerja, rata-rata dari kami mengeluhkan hari pertama masuk  kerja. Dan kesimpulannya adalah: jika ada pilihan lain yang membuat  hidup ini bisa lebih menggeliat ketimbang bekerja, pilihan itu adalah  pilihan terbaik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sinisme yang ditimbulkannya membuat kami  menganggap uang itu adalah benda yang harus diperlakukan dengan kejam.  Karena ia sendiri memperlakukan kami dengan kejam. Kami mengutuk tempat  kami bekerja dan lebih banyak berpikir menunggu uang gaji setiap bulan  ketimbang mempersembahkan apa yang terbaik dari kami untuk tempat kami  bekerja. Tak ada lagi aktualisasi diri sebagaimana yang kami lakukan  dulu di kantin samping kampus.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami sebenarnya mendendam  kepada pekerjaan yang merenggut waktu kami setiap hari, mungkin sampai  mati. Dan dendam itu dilampiaskan dengan memperkosa uang yang kami  peroleh dari hasil pekerjaan itu. Uang adalah makhluk yang memperalat  kami dan kami membalasnya dengan cara memperalat pula. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun,  dalam kondisi pertarungan dengan uang itulah kesadaran kami akan  keadaan agak terbuai. Nilai materi yang semula kami hayati sebagai  bagian dari darah, kini mulai bergeser keluar dari tubuh kami sendiri.  Kami perlu nilai-nilai dari luar untuk membuat hidup ini berdenyut.  Kami, tak lagi menjadi generasi yang percaya diri dengan membedakan diri  dari yang lain semasa di kantin di samping kampus. Kami, kini lebur  dalam masyarakat yang justru ingin menjadi “sama” dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pergeseran  pandangan kami atas uang itulah yang saya kira menyebabkan saya melihat  Blackberry menjadi fenomena yang “agak mengganggu” di lingkungan saya  sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suatu siang, seperti biasa, saya datang ke kantin  di samping kampus. Ada beberapa kawan perempuan dan beberapa kawan  laki-laki. Satu sama lain sedang membahas &lt;em&gt;gadget &lt;/em&gt;Blackberry  yang masing-masing mereka miliki. Pertanyaan tentang teknologi pencari  tempat, atau fitur-fitur lainnya di Blackberry, tidak henti-hentinya  mereka bahas.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya terganggu bukan karena saya tidak  memiliki Blackberry. Tetapi, karena mereka terlalu banyak “membicarakan”  Blackberry ketimbang “mempergunakan” fasilitas canggih yang ada dalam  benda itu. Sesungguhnya, mereka hanya ingin diterima dalam masyarakat  yang demam Blackberry dengan membahasnya terus-menerus. Apa yang mereka  inginkan dari Blackberry bukanlah kemudahaan melakukan komunikasi atau  pekerjaan, tapi mereka ingin menampilkan diri mereka melalui Blackberry.  Ya, Blackberry adalah penunjang identitas, penunjang pergaulan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memang,  saya melihat lebih banyak teman perempuan yang sibuk dengan Blackberry.  Saya maklum, karena perubahan teknologi dan trend, selalu disuburkan  oleh kaum perempuan. Sebab, perempuan lebih detail melihat sesuatu yang  ada di permukaan ketimbang lelaki. Tetapi, saya juga merasa beberapa  teman lelaki saya di kantin itu juga mulai membahas Blackberry  terus-menerus sebagaimana perempuan membicarakannya seperti membicarakan  gosip.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Itu namanya &lt;em&gt;lifestyle&lt;/em&gt;,” kata seorang kawan perempuan saya yang mengamini kalimat pertama saya dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Awalnya saya tak berpikir sejauh itu tentang Blackberry. Saya sendiri, adalah pengagum teknologi. Saya juga&lt;/p&gt;&lt;p&gt;menggunakan &lt;em&gt;gadget &lt;/em&gt;merk  lain namun sejenis Blackberry. Saya hanya menganggapnya sebagai alat,  yang harus diperlakukan dengan dingin, sebagaimana alat itu mendatangi  kita dengan dingin pula.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya tersentak dengan fenomena  Blackberry itu ketika suatu kali saya bertemu “kembali” dengan kawan  perempuan yang selalu saya bayangkan menjadi istri saya. Perempuan itu  adalah perempuan muda, aktif, dan seorang jurnalis radio yang  berdedikasi terhadap pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika delapan dari  sepuluh perempuan muda aktif di Jakarta menggunakan Blackberry, maka  secara awam seharusnya kawan perempuan saya itu memiliki Blackberry.  Sebagai jurnalis, memiliki Blackberry bukanlah semata &lt;em&gt;lifestyle&lt;/em&gt; baginya. Sebab, memang &lt;em&gt;gadget&lt;/em&gt;  itu menunjang pekerjaannya. Tapi dia berbeda! Dan itulah yang  menyebabkan saya tidak berhenti membayangkan dia menjadi istri saya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia tak punya Blackberry, dan sikap hidupnya seolah-olah tak peduli dengan Blackberry. Semasa mahasiswa, ia kuliah di kampus &lt;em&gt;highclass&lt;/em&gt;  yang bahasa pengantar kuliahnya adalah bahasa Inggris. Menurut  pengakuannya sendiri, tempat nongkrong teman-temannya semasa adalah di  kantin kampus yang berada dalam gedung, atau, mereka kongkow di mal.  Jika saja tidak menjadi jurnalis, dia belum tentu pernah menjalani hidup  dalam nuansa aktivisme.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenapa perempuan manis ini tidak  (atau belum) berminat memiliki Blackberry meski ia punya penghasilan  yang cukup? Apakah ia merasa tidak terganggu dalam pergaulannya sebagai  perempuan muda di Jakarta? Saya balik bertanya pada diri saya, kenapa  harus ada pertanyaan mengapa dia tidak punya Blackberry? Adakah yang  salah dalam dirinya sebagai seorang perempuan muda tanpa Blackberry?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya  senyum simpul dengan pertanyaan saya sendiri. Lewat diri perempuan yang  saya bayangkan menjadi istri saya itu, saya belajar fenomena budaya  pop. Lewat kontradiksi yang ditampilkannya, saya melihat betapa  teknologi yang saintifik telah berubah menjadi fenomena kebudayaan yang  ideologis, mitis, dan menyerang manusia secara tidak sadar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana Blackberry bekerja meracuni pikiran kita?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yasraf  Amir Pilliang dalam bukunya berjudul Sebuah Dunia yang Dilipat: Tamasya  Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, menunjukkan bagaimana kekuatan yang  bersifat abstrak bisa mempengaruhi perilaku manusia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia mencontohkan, kompetisi balap mobil &lt;em&gt;Formula One&lt;/em&gt;  adalah salah satu bukti yang menunjukkan kekuatan pikiran yang  dijadikan tujuan bersama. Apakah kekuatan pikiran itu? Ia adalah asumsi  kecepatan. Siapa tercepat, dialah yang menang. Paradigma percepatan  inilah yang justru mempengaruhi teknologi. Teknologi dibuat untuk  melayani paradigma percepatan itu. Setiap tim merahasiakan teknologi  mobilnya agar tim lain tak meniru dan tak bisa menyaingi percepatannya.  Jadi, iman percepatan itulah yang membuat teknologi bergerak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika pada &lt;em&gt;Formula One&lt;/em&gt;  iman percepatan itu dihayati demi sebuah kompetisi yang industrial,  pada Blackberry, iman percepatan itu justru dihayati untuk bisa hadir  dalam suatu gelombang besar yang menguasai masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Teknologi  memang menakjubkan, itu tak bisa dibantah. Dulu, ketika televisi warna  masuk ke Indonesia, masyarakat tergila-gila dan menganggapnya sebagai  sesuatu yang ajaib. Kini, televisi terus berkembang dengan teknologi  yang kemajuannya tak terduga. Kita memang harus memaklumi, bahwa inovasi  adalah bakat alam teknologi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi, dalam masyarakat negara berkembang, kapitalisme tidak semata menjual barang. Niscaya, jika produsen &lt;em&gt;gadget&lt;/em&gt; itu hanya menawarkan barang, kawan-kawan saya di kantin di samping kampus itu tetap aman.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang dijual kapitalisme adalah percepatan teknologi itu sendiri. Sebagian orang mungkin masih berkata begini: “ah, &lt;em&gt;handphone&lt;/em&gt;  nggak usah diikutin, nggak ada habis-habisnya.” Tapi kenyataannya,  masyarakat tak sanggup mempertahankan diri dari perubahan teknologi  telepon genggam yang tidak habis-habisnya itu. Mereka tetap membelinya,  melahapnya, setiap kali dia datang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertanyaan pertama  untuk mendiagnosa masalah ini bisa kita mulai dengan “mengapa harga  Blackberry atau teknologi sejenis bisa turun drastis dalam waktu  setahun? Tidakkah produsen merugi karena modal yang dikeluarkan untuk  membuat Blackberry setahun lalu itu tidak terbayar dengan harga yang  jatuh di tahun sekarang?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan pikiran awam, saya menduga  Blackberry itu memang semurah saat semua orang mampu membelinya. Harga  tinggi yang dibanderol produsen saat peluncuran pertama adalah untuk  membuat “&lt;em&gt;image&lt;/em&gt;” dalam pikiran masyarakat bahwa inovasi Blackberry memang berharga tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika  semua orang sudah menganggap Blackberry sebagai teknologi tinggi yang  hanya bisa diperoleh dengan harga yang tinggi, saat itulah kapitalisme  mulai bekerja secara ideologis. Blackberry telah memainkan apa yang  disebut Roland Barthes sebagai mitos, yaitu mitos kemewahan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Produsen  pelan-pelan menurunkan harga Blackberry hingga ke batas kemampuan  masyarakat. Ketika masyarakat merasa mampu, mereka menyerbu Blackberry!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah  serbuan masyarakat terhadap Blackberry itu memang didasari kebutuhan?  Tidak sama sekali! Apa yang ada di kepala mereka saat itu adalah,  “Blackberry adalah barang mewah berteknologi canggih yang setahun lalu  harganya masih jauh dari jangkauan kita. Kini, setelah harganya mampu  kita jangkau, tidak ada pilihan lain selain kita harus memilikinya.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang dijual Blackberry bukanlah sekedar &lt;em&gt;gadget&lt;/em&gt;  selebar telapak tangan yang kini ada di tangan kawan-kawan saya itu.  Tetapi, apa yang dijual adalah “percepatan teknologi” itu sendiri. Kita  diperintahkan oleh suara tak terdengar untuk membeli percepatan  perubahan teknologi itu. Seperti juara Formula One, kita merasa bangga  ketika menjadi yang tercepat mengikuti teknologi. Kita merasa diakui  dalam pergaulan ketika kita merasa berada di percepatan yang sama dengan  kebanyakan orang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itulah sebabnya, setahun atau dua tahun  lagi, Blackberry yang ada di tangan kawan-kawan saya itu akan menjadi  barang usang. Padahal, mungkin tak semua fitur canggih itu mereka  gunakan dengan maksimal semasa mereka menggunakan Blackberry. Mereka  sesungguhnya tak mengerti teknologi, mereka hanya menumpang bergaul  dengan identitas Blackberry.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika dulu di kantin itu kami  berusaha membedakan diri, kini kami ramai-ramai ingin menyamakan diri  dengan apa yang dikenal sebagai “&lt;em&gt;trend&lt;/em&gt;”. Dulu, kami berbicara  soal mitos, pembongkaran ideologi, gerak tersembunyi kapitalisme di abad  21, hingga menampilkan ekspresi untuk melawannya. Sebab itulah, di  kantin itu kami memiliki identitas kami sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekarang,  kami hanya menumpang makan dan membahas katabelece di tempat itu.  Sebab, tak ada gunanya lagi mengenang masa dulu. Kini, lebih baik ikut  dalam euforia zaman ketimbang meyakini jalur sendiri yang memang  membutuhkan tenaga lebih besar. Kami sudah lelah dengan situasi. Sebab  itulah, saya agak risih berlama-lama di sana.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untunglah,  saya sekali-sekali masih bertemu dengan kawan perempuan yang selalu saya  bayangkan menjadi istri itu. Meski dia bukan tipe yang banyak bicara  sebagaimana saya yang berbicara panjang lebar lewat tulisan ini, tapi  sikap hidupnya (yang mungkin tak disadarinya) justru membuat saya awas  dengan serangan bertubi-tubi yang samar itu. &lt;em&gt;I love You, Woman!&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;November 17 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;﻿&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8659135687443851468?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8659135687443851468/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8659135687443851468&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8659135687443851468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8659135687443851468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#8659135687443851468' title='8 Dari 10 Perempuan Jakarta Memiliki Blackberry?'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-7113998968732971516</id><published>2011-01-13T10:44:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T10:50:45.029-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Kembalinya Mbah Marijan ke dalam "Rahim"</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Merapi meletus! Mbah Marijan meninggal dunia dalam posisi sujud.  Entah sujud itu untuk apa, tapi media massa terlanjur menyebut Mbah  Marijan menghembuskan nafas terakhir dalam kondisi sholat. Andaikan Si  Mbah ditemukan meninggal dalam posisi sedang tidur, barangkali  kepergiannya kurang dikenang. Sujud menyebabkan kematian Mbah Marijan  menjadi dramatis.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Drama kematian Mbah Marijan  menyempurnakan ketenarannya sebagai juru kunci gunung Merapi. Kematian  Mbah Marijan seolah menunjukkan dirinya adalah abdi sejati Keraton yang  tetap setia pada tugas hingga akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mengapa Mbah Marijan tak turun demi menghindari &lt;em&gt;wedhus gembel&lt;/em&gt;?  Apa yang menyebabkan dia berani mempertaruhkan nyawa? Bagaimana Mbah  Marijan memandang kematian saat dia memilih bertahan untuk tetap di  gunung meski bencana mengancam?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Drama! Ya, tanpa kita  sadari, kita hidup untuk membuat hidup kita menjadi dramatis. Itulah  sebabnya, kematian di medan perang sebagai prajurit jauh lebih dicatat  sejarah dibanding meninggal di atas tempat tidur dalam keadaan tenang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bukan  kematian benar yang dicari, tapi cara kita menempuh kematian itu yang  lebih perlu. Kita butuh sesuatu yang berbeda saat mengucapkan selamat  tinggal pada bumi. Dengan cara yang berbeda itu, kelak bumi akan  mengenang dan selalu membahas masa-masa hidup kita. Dengan demikian,  manusia yang berhasil membuat kematiannya dramatis, adalah manusia yang  berusaha mengejar apa yang hanya dimiliki oleh tuhan, dan mungkin, alam  raya ini: keabadian.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mbah Marijan sesungguhnya tengah  menunjukkan watak khas masyarakat timur lewat kematian. Mengutamakan  dramatisasi dalam hidup dan kematian menunjukkan orang yang akan mati  itu tak takut terhadap kematian. Justru, kematian dilakukan secara  indah, yakni dengan drama.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai lelaki Jawa dan orang  timur, mbah Marijan agaknya ingin membuktikan kepada kehidupan yang  terus berjalan di dunia ini, bahwa falsafah atau firman kitab suci yang  bermakna “dari tanah kembali ke tanah” itu tak sekedar bumbu-bumbu dalam  kehidupan religi dan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya teringat pertemuan  saya dengan perempuan tua nan enerjik dari Jerman. Kalau tidak salah,  nama perempuan yang berusia di atas 70 itu Barbara Ossenkop. Ia menetap  di Indonesia sejak 1980-an. Setelah terpesona terhadap Bali lantas  menetap di sana, ia berpindah ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketertarikan  pertama Barbara untuk tinggal di Jakarta adalah orangutan. Suatu hari ia  bertemu dengan Ulrike. Ulrike atau biasa dipanggil ibu Ulla, adalah  pencinta orangutan yang berusia sekitar 90-an. Ulla tinggal di tengah  kebun binatang Ragunan, Jakarta, sejak kebun binatang itu pertama dibuka  setelah dipindahkan mantan gubernur Ali Sadikin dari Cikini (sekarang  Taman Ismail Marzuki). Dan Barbara adalah asisten Ulla mengurus  orangutan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Barbara mengajak saya ke rumahnya. Setelah  bertemu di satu tempat, saya memboncengi Barbara dengan sepeda motor.  Dalam perjalanan, saya membayangkan Barbara tinggal di lingkungan yang  asri di selatan Jakarta. Tapi, apa yang saya temui jauh dari perkiraan.  Barbara tinggal di sebuah rumah petak yang dindingnya hanya terbuat dari  triplek.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rumah yang panas dan agak sumpek itu terdiri  dari tiga sekat: ruang tamu, ruang tidur, dan dapur sekaligus kamar  mandi. Kepada saya, Barbara mengatakan ia bisa saja tinggal di di daerah  elit. Tapi, ia tidak akan mengenal masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Benar  saja, baru saja Barbara datang, sekitar 10 anak-anak kecil tetangganya  menghampiri Barbara dan memanggilnya dengan panggilan “tante.” Saya  takjub, karena Barbara yang sudah nenek-nenek itu mengingat nama  masing-masing anak itu. Sekilas, saya lihat Barbara bahagia dengan  penyambutan yang meriah itu. Mungkin tak ada kehangatan seperti itu di  Eropa. Sebagai ganjarannya, Barbara membelikan anak-anak itu roti.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Barbara  terus-menerus menyampaikan pandangannya tentang orang Indonesia. Dalam  satu pandangannya, dia mengatakan orang Indonesia boros. Ia menyebut  contoh saat mandi. Di Indonesia, kata Barbara, orang mandi tanpa mau  menghemat air. Sementara di Jerman, orang mandi dengan air secukupnya.  Karena air adalah energi yang bernilai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai orang  Indonesia, jelas saya tersinggung. Sebab, rasanya tak pantas orang  Jerman mencaci-maki bangsa saya di depan saya. Bahwa negara dan perilaku  masyarakat buruk, itu saya akui. Tapi, bukankah sudah banyak orang  Indonesia sendiri yang menyampaikan kritik terhadap keadaan bangsa ini?  Hanya karena dia orang Jerman, saya merasa dia lancang mengomentari  Indonesia. Hampir saja saya mau bicara demikian, “kalau memang Indonesia  buruk, kenapa Anda betah tinggal di sini?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Barbara tampil  dengan watak khasnya sebagai orang Barat. Mungkin ia tak sadar, bahwa  caranya mengomentari keburukan Indonesia itu menjadi semacam kenikmatan  bagi dirinya. Ia yang tak betah di tempat asalnya di Eropa, sengaja  mencari tempat yang jauh untuk menyepi. Tetapi begitu dia sampai di  tempat yang ia tuju, ia malah mengolok-olok tempat itu sendiri dan  menyebut-nyebut negaranya lebih baik! Ia menghayati penderitaan dan  keburukan masyarakat Indonesia sebagai “rekreasi” intelektual! Ya,  Barbara bersenang-senang dengan intelektualitasnya!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sekuat-kuatnya  posmodern, warisan filsafat modern tetap saja masih bersemayam dalam  pikiran orang Barat pada beberapa segi. Terutama ketika mereka  berhadapan dengan masyarakat dunia ketiga. Barbara masih kental dalam  suasana itu. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejak Rene Descartes mengumumkan sabdanya yang terkenal “&lt;em&gt;cogito ergo sum&lt;/em&gt;”,  tak ada yang lebih baik di dunia barat selain akal dan manusia. Karena  manusia diletakkan di posisi yang tinggi, manusia diasumsikan bisa  mengatasi segala sesuatu di luarnya. Manusia bisa mengatasi alam raya.  Manusia bisa menguak langit luas yang dulu misterius dengan mengirim  astronot ke bulan dan mars.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Modernitas memicu manusia  membuat “jarak” dengan segala sesuatu yang ada di luarnya. Karena  manusia berjarak dengan alam raya ini, mereka bisa menciptakan  perspektif terhadap apa yang mereka lihat. Masyarakat barat menjadi  sangat logis dan perhitungan. Jarak membuat mereka lebih dulu mengalami  konflik yang kejam. Jarak memaksa mereka membuat sistem yang dianggap  bisa mendamaikan sesama mereka.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jarak membuat mereka melihat alam sebagai benda yang bisa dinilai. Jarak, membuat mereka menciptakan “&lt;em&gt;property rights&lt;/em&gt;” untuk menghindari perselisihan atas kepemilikan kekayaan yang tertumpah di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada  2006, Mel Gibson menciptakan metafora yang kuat tentang watak  masyarakat barat lewat film yang disutradarainya, Apocalypto. Pada akhir  cerita, film yang berkisah tentang keruntuhan peradaban Maya di  Yucatan, Mexico, itu ditutup dengan pengejaran buronan kerajaan oleh  tentara kerajaan. Di akhir pengejaran, sang buron tak bisa melarikan  diri lagi karena pelarian berakhir di pinggir pantai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yang  menakjubkan, pengejaran itu tak diakhiri dengan kisah si buron dibunuh  tentara atau dijebloskan ke penjara. Di tepi pantai, si buron  terperangah menyaksikan sesuatu yang datang dari laut. Dua prajurit yang  mengejar si buron juga tak melanjutkan pengejarannya karena mereka juga  menyaksikan sesuatu yang aneh dari laut. Apakah yang datang dari laut?  Itulah pendaratan pertama kapal Spanyol di benua Amerika yang dipimpin  Christoporus Columbus.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Akhir cerita itu menjadi penting  sebab kontras tengah ditunjukkan. Dalam kisah pengejaran, si buron dan  prajurit berlarian di hutan, bersembunyi di balik pohon, juga melintasi  sungai. Meski penerus suku Maya mengkritik adegan di film itu seolah  menunjukkan bangsa Maya terlalu kejam, tapi buat saya itu bukan inti  dari keseluruhan cerita.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya, tak ada interupsi  kultural selama adegan pengejaran. Saya melihat orang-orang bangsa Maya  berlarian di hutan dan melintasi sungai seolah mereka adalah bagian dari  alam. Mereka tidak berjarak dengan alam. Tak ada &lt;em&gt;property rights&lt;/em&gt;  yang kaku di sana! Justru, interupsi itu muncul dalam mimik  keterperangahan mereka saat menyaksikan kapal Columbus merapat di  pantai. Itu adalah saat di mana batin mereka mulai merasakan bahwa  peradaban mereka akan hancur karena pelaut-pelaut itu mulai  mematok-matok tanah mereka. Lantas, pelaut-pelaut itu akan mengatakan  kepada mereka: “tanah ini milikku. Kalau kau masih memiliki tanah,  tunjukkan batas-batasnya, dan pandai-pandailah memberikan harga pada  tanahmu. Abad-abad kemudian, tanahmu itu bisa mempertahakan keberadaan  suku bangsamu.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jelas, paham berjarak dengan alam yang  dibawa orang Spanyol itu seperti tak masuk akal bagi orang Maya.  Bagaimana mereka bisa menerima bahwa suatu saat tanah bisa saja menjadi  bukan milik mereka sementara sepanjang hidupnya mereka tak mempersoalkan  siapa yang memiliki? Mereka tinggal di atas hutan yang luas itu seperti  orang yang menumpang tinggal saja. Kelak, jika mereka mati, toh memang  bumi menginginkannya kembali. Bangsa Maya merasa tak berjarak dengan  bumi! Karena merasa satu dengan bumi, watak mematok tanah dan  mematerikan sumber daya alam terasa janggal dan asing.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Barbara,  ketika dia memprotes orang Indonesia yang boros saat mandi, sedang  berperilaku seperti pelaut-pelaut Spanyol. Saya, dalam keadaan yang  mungkin lebih bisa mempertahankan diri, menjadi orang Maya itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  ingin bilang kepada Barbara, di negeri ini, air mengalir seolah tanpa  henti. Masyarakat Indonesia dan Timur, justru menganggap alam bukan  sebagai sesuatu yang ditaklukkan. Alam bukan objek dan sebab itu tak ada  jarak antara manusia dengan alam sebagaimana orang barat memperlakukan  alam.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika kita berjalan ke desa, maka kita bisa melihat  anak-anak menceburkan diri dengan bahagia ke dalam sungai. Di kepala  anak-anak itu, sungai yang mereka renangi itu akan berada di tempat itu  selama tuhan masih menginginkannya. Dalam memori kultural mereka, tak  ada pesan untuk mematok sungai meski suatu saat air di sungai itu bisa  digantikan dengan uang yang luar biasa banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  negara Barbara, mungkin tak ada anak-anak yang mandi di sungai sebagai  keseharian. Pada dasarnya, masyarakat Indonesia datang ke sungai,  gunung, atau alam, bukan untuk piknik. Tapi memang di sanalah  kehidupannya. Alam terbentang sejak mata kita bisa meresepsi lanskap  pertama. Alam itu adalah diri kita ini, darah, daging, pikiran, bahkan  jiwa. Andaikan kini masyarakat Indonesia banyak yang rakus, bukankah itu  sebenarnya perilaku mematok-matok yang diajarkan kolonial pada kita!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mungkin,  dalam kebersatuan dengan alam itulah mbah Marijan pergi meninggalkan  kita. Mbah Marijan tak takut mati karena mati baginya hanyalah bersatu  dengan jagad yang memberinya kehidupan. Mati bagi mbah Marijan adalah  drama kembalinya manusia ke dalam “rahim ibu” yang dulu memancarkannya  ke dunia. Saya menduga, itu sebabnya mbah Marijan bersujud menghadap ke  bumi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Dari tanah, kembali ke tanah!”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kelapa Dua, November 1 2010&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-7113998968732971516?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/7113998968732971516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=7113998968732971516&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7113998968732971516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7113998968732971516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#7113998968732971516' title='Kembalinya Mbah Marijan ke dalam &quot;Rahim&quot;'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8129728317580379887</id><published>2011-01-13T10:38:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T10:44:26.754-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Sepakbola: Nasionalisme yang Menumpang</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di negeri ini, sepakbola sudah masuk dalam wilayah perasaan. Dia tidak lagi menjadi sekedar “&lt;em&gt;game&lt;/em&gt;”  dengan bumbu-bumbu kebijaksanaan sebagai miniatur kehidupan. Perasaan,  sebagaimana dia mampu memperbudak kita saat jatuh cinta, acap membawa  kita pada keadaan yang tak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana,  misalnya, menjelaskan kerusuhan yang pecah di Ambon, Maluku, beberapa  saat setelah kesebelasan Spanyol menaklukkan Belanda secara dramatis  dalam laga final Piala Dunia 2010? Kerusuhan itu terjadi karena  pendukung Belanda kecewa karena tim yang dibelanya kalah. Setidaknya  sembilan kios rusak di jalan Diponegoro, Ambon. Untuk meredamnya, Satuan  Brimob Polda Maluku harus menurunkan satu peleton pasukan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mengapa  orang-orang Ambon yang juga warga negara berkebangsaan Indonesia itu  rela membiarkan energi dan perasaannya untuk kecewa terhadap kekalahan  negara yang bukan tanah airnya? Tidakkah situasi ini absurd karena  ekspresi perasaan itu menggugat nasionalisme sebagai bangsa?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Banyak  hal yang bisa dicurigai. Mungkin memang sepakbola sudah menjelma  fenomena budaya massa yang dahsyat setelah musik rock. Kini, manusia di  mana pun, tidak bisa tidak harus bersentuhan dengan sepakbola. Pun jika  dia tidak terlalu menyukai sepakbola sebagai sebuah cabang olah raga.  Karena mengabaikan sepakbola di zaman ini, sama saja dengan menolak  menjadi warga dunia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi, bukankah ada negara lain yang  demam sepakbola namun tidak terlalu menggunakan perasaan sebagaimana di  Indonesia? Di Malaysia, saat kesebelasan negara itu bertanding sebagai  tuan rumah Piala Asia 2007, stadion sepi. Sebagai orang Indonesia, saya  juga merasa situasi itu agak absurd. Sebab, keadaannya berbanding  terbalik dengan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya ingat saat pertandingan  pertama Indonesia melawan Bahrain dalam penyisihan Piala Asia. Saya  menonton lewat layar televisi di kantor tempat saya bekerja. Saya  termasuk orang yang merugi tak hadir di Gelora Bung Karno waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Euforia  pertandingan itu bermula sejak pagi. Seluruh pendukung Indonesia dari  penjuru manapun membludak di Senayan. Sebagian mengamuk karena tak  mendapat tiket. Mereka melempar loket pembelian tiket dengan uang receh.  Jumlah pendukung yang tak masuk ke stadion itu ribuan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lalu  masuklah ke dalam adegan pertandingan. Kegilaan orang Indonesia atas  sepakbola sekaligus menunjukkan kecintaannya terhadap negara mengemuka  saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan sebelum pertandingan.  Sekitar 100.000 lebih penonton yang memadati Senayan turut  mengumandangkan Indonesia Raya. Bayangkan: sebuah koor ratusan ribu  manusia dalam nada yang sama. Betapa mistis!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bambang  Pamungkas meledakkan kegembiraan! Dia babak kedua, dia melesakkan bola  ke pojok kanan gawang setelah penjaga gawang Bahrain menepis tembakan  Firman Utina. Skor menjadi 2-1. Gol sebelumnya dicetak oleh Elie Aiboy  dengan gocekan khas pemain asal Papua.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat mata kepala saya yakin  bahwa gol kedua dari Bambang Pamungkas itu sah sebagai gol, rasanya  darah saya naik ke otak. Gemuruh di stadion seolah mau melompat dari  layar televisi dan memporak-porandakan isi kantor saya. Saat itu saya  seperti merasa menjadi warga yang negaranya baru saja merdeka dari  penjajahan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meski menang melawan Bahrain, Indonesia tetap  tak lolos pada fase penyisihan grup karena keok melawan Arab Saudi dan  Korea Selatan. Tapi, pertandingan itu tetap menjadi pertandingan yang  bersejarah dalam catatan sepak bola Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi, kalau  kita mau jujur, sebenarnya kemenangan itu tidaklah istimewa dalam  lanskap sepakbola dunia. Kemenangan itu hanya sekali, pada fase  penyisihan, dan hanya di Piala Asia. Jika kita menonton Piala Dunia,  negara yang hanya menang sekali di penyisihan seperti Indonesia tentu  tak terlalu dianggap oleh warga dunia. Kecuali jika negara tersebut  memang memiliki prestasi gemilang dalam sejarah sepakbolanya. Sebut saja  mantan Juara Dunia 1998 Prancis yang harus pulang lebih dulu karena tak  lolos penyisihan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi mengapa kita terlalu bahagia dengan kemenangan yang sekali dan hanya pada babak penyisihan itu?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  merasa ekspresi itu adalah ekspresi masyarakat yang tertindas dan  selalu merasa inferior dalam konstelasi politik dunia. Sulit rasanya  membayangkan pemerintah mampu mengubah Indonesia menjadi negara kuat  yang diperhitungkan secara politik dan ekonomi di dunia. Jangankan  menyamai Amerika Serikat, untuk menjadi negara semaju Jepang atau  sefenomenal China, kita hanya menemui jalan buntu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain,  dunia memberikan peluang bagi negara-negara miskin dan berkembang untuk  tetap dihargai sebagai sebuah negara dalam gelanggang dunia. Peluang itu  hanya ada di sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Brazil, misalnya, bukanlah negara  kuat secara ekonomi dan politik. Tetapi, sejarah sepakbolanya yang  panjang membuat negara itu dipandang sebagai “negeri sepak bola.” Atau,  siapa yang peduli dengan negara-negara terbelakang di Afrika jika bukan  karena anak-anak Afrika menjadi bintang di klub-klub terbaik Eropa?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Itu  pula sebabnya pertandingan antara Spanyol dan Belanda menjadi dramatis.  Keduanya belum pernah menjuarai Piala Dunia. Bagi Belanda, final Piala  Dunia 2010 adalah yang ketiga. Sedangkan bagi Spanyol, ini final  pertamanya. Siapapun yang menang, keduanya akan dianggap sebagai negara  besar tidak hanya di dunia sepakbola, namun juga di kancah politik  dunia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Politik! Ya, itu sebabnya Presiden Prancis Nicholas  Sarkozy rela turun tangan untuk menyelesaikan kisruh di tubuh tim  nasional Prancis. Itu pula yang menyebabkan Presiden Brazil Luis Inacio  Lula da Silva memberi komentar yang membela pelatih Carlos Dunga karena  dihujat karena tak memanggil Ronaldinho ke timnas Piala Dunia 2010.  Bahkan, saat timnas Brazil pulang karena langkah mereka dihentikan  Belanda di perempat final, timnas Brazil tetap disambut dengan hormat.  Bahkan Lula da Silva angkat bicara. “Kalah bagi tim yang sering menang  itu biasa,” kata Lula yang tetap memuji tim nasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  Spanyol keadaan jauh lebih rumit. Barcelona, selalu dikaitkan dengan  pemberontakan Catalonia melawan pemerintah pusat di Madrid. Sebulan  setelah Perang Sipil Spanyol pecah pada 1936, sejumlah pemain Barcelonda  dan Athletic Bilbao yang mewakili etnis Basque masuk daftar orang-orang  yang melawan militer.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada 6 Agustus di tahun yang sama,  Presiden klub Barcelona dan perwakilan partai politik pro-kemerdekaan  untuk Catalan, Josep Sunyol, dibunuh oleh militer di dekat wilayah  Guadarrama, Spanyol. Momen ini menjadi catatan penting dalam perjalanan  Barcelona.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tentu saja ingatan akan pembunuhan itu menjadi  dendam. Sebab itu, saya memaklumi tindakan Xavi Hernandez dan Carlos  Puyol saat berlari sambil mengibarkan bendera Catalonia seraya membawa  Piala Dunia sebagai selebrasi kemenangan Spanyol atas Belanda.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Buat sebagian orang, mungkin tindakan Xavi dan Puyol terasa tidak bijak. Toh mereka bermain atas nama Spanyol!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi  luka sejarah Catalan yang mendalam membuatnya menjadi wajar. Xavi  adalah pemain paling penting di balik kemenangan Spanyol di Piala Eropa  2008 dan Piala Dunia 2010. Xavi juga dianggap sebagai roh Spanyol dan  Barcelona. Dan ketika membawa-bawa nama Barcelona dalam timnas Spanyol,  tidak bisa tidak kenangan akan pembunuhan Sunyol oleh tentara diktator  Franco akan muncul.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lagi pula, bagi saya, prestasi  terbesar Barcelona bukanlah ketika Josep Guardiola berhasil membawa  Barcelona menjuarai enam kejuaraan dalam semusim. Prestasi terbesar  Barcelona adalah ketika klub itu menyumbangkan sebagian besar pemain dan  pola permainan yang membawa Spanyol menjadi juara dunia. Dan Xavi  adalah jantung dari pola permainan sang juara.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain soal  kepiawaian meramu tim, pelatih Spanyol pun mau tidak mau harus memiliki  pandangan politik yang adil atas timnas Spanyol. Bintang Spanyol dan  Real Madrid di era 90-an, Fernando Hierro, pernah mengatakan bahwa jika  pemain Madrid membuat kesalahan saat bermain untuk Spanyol, pemain  Barcelona tidak akan menegurnya. Sementara Fernando Torres mengungkapkan  keadaan di timnas Spanyol lebih sulit dari yang dibayangkan orang-orang  dari luar. Inilah yang menyebabkan Spanyol tak pernah berbunyi di Piala  Dunia meski memiliki segudang pemain berbakat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Louis  Aragones adalah pembuka jalan. Sadar atau tidak, dia menggunakan  paradigma yang politis dalam timnas Spanyol. Dalam tubuh timnas Spanyol  yang menjuarai Piala Eropa 2008, Aragones memanggil sejumlah pemain yang  mewakili sejumlah etnis. Anak-anak Catalonia, Castillia (Madrid),  Asturia, bahkan Basque, masuk dalam gerbong Aragones.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apa  yang disebut rekonsiliasi sebagai jalan keluar konflik sudah dimulai  Aragones dengan bahasa sepakbola. Dan rekonsiliasi itu mencapai  puncaknya ketika Vicente del Bosque melanjutkan paradigma Aragones pada  Piala Dunia 2010.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Del Bosque sendiri adalah orang  Castillia yang sempat menjadi bintang di Real Madrid semasa menjadi  pemain. Ia juga sempat membawa Madrid mencapai kejayaannya kala menjadi  pelatih. Tetapi, pelatih yang kalem itu tak tersinggung dengan tindakan  Xavi dan Puyol. “Pemain sudah lupa persoalan politik,” kata del Bosque  sebelum penyerahan Piala Dunia 2010.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Inilah pendirian yang  arif bagi seorang pelatih yang sejarah negaranya bergelimang konflik.  Tentu saja, del Bosque menjadi moderat sebab dia juga punya sikap  terhadap diktator Franco. Dia berkisah, ayahnya adalah orang Madrid yang  sempat dipenjara Franco karena menentang kedikatorannya. Berdasarkan  pengalaman itu, dia lebih menghargai perbedaan di Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari  pernyataannya, saya menangkap del Bosque menganggap aksi Xavi dan Puyol  adalah ekspresi simbolik semata. Ekspresi simbolik itu menjadi penting  untuk mengatasi sejarah yang runyam. Toh, Spanyol tetap tegak meski  bendera Catalonia dikibarkan Xavi dan Puyol. Del Bosque sadar bahwa  sejarah kelam itu tetap takkan bisa pupus begitu saja di dada orang  Catalonia. Sebab itulah, bendera Catalan yang dibawa Xavi dan Puyol  merupakan sebuah kompromi yang mengarah pada perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain  itu, dari sosok del Bosque kita bisa menemukan bahwa tidak semua orang  Madrid membenci Catalans. Dalam konflik yang pahit itu, ternyata masih  ada sejumlah orang yang menginginkan kedamaian. Dari manakah kedamaian  itu bisa diraih jika politik tak merestuinya? Inilah sihir sepakbola!  Vicente del Bosque mewujudkannya!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lagi pula, yang menarik  dari timnas Spanyol yakni semua unsur yang bertikaian itu direkatkan  dengan cara yang sangat indah. Bayangkan, sebagian besar pemain Spanyol  adalah pemain Barcelona dan Castillia. Sebagian lagi mewakili etnis yang  lain. Lalu, meski gaya permainan dan jantung permainan diambil dari  Catalonia, toh kapten kesebelasan Iker Casillas dan pelatih Vicente del  Bosque adalah orang Madrid.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, gol-gol penting  yang membawa Spanyol ke tangga juara dilesakkan oleh anak-anak  Barcelona: Iniesta, Pique, dan Puyol. Uniknya, pahlawan Spanyol yang  mencetak gol tunggal kemenangan di final melawan Belanda, Andres  Iniesta, adalah anak Castillia yang sejak kanak-kanak diasuh oleh  Barcelona.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan jalan yang elegan itulah, Spanyol kini  diperhitungkan dunia. Dia menjadi negara baru yang sejajar dengan Italia  dan Jerman.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Spanyol kini tak lagi menjadi negara medioker dalam  sepakbola, sekaligus juga politik dunia. Sungguh kemenangan yang indah,  kemenangan yang dicapai dengan pikiran yang damai dan menghasilkan  perdamaian pula. Majalah &lt;em&gt;Tempo&lt;/em&gt; menyebutkan, di Basque orang tak pernah menyaksikan bendera Spanyol berkibar selain saat Spanyol juara dunia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika  kita ingin kembali ke Indonesia, kita tentu akan menghadapi situasi  yang sangat berbeda. Indonesia memang rawan konflik dan memiliki sejarah  politik yang kelam. Namun sejarah politik kita tak berimbang dengan  sejarah sepakbola. Kita belum pernah punya sejarah sepakbola yang mapan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika  di Spanyol perseteruan Catalan dan Madrid bisa dipindahkan ke lapangan  hijau dan melahirkan rivalitas yang sehat antara Barcelona dan Real  Madrid, Indonesia belum memilikinya. Satu-satunya kehebatan Indonesia  ketimbang Spanyol adalah, meski kita bersuku banyak, namun timnas tetap  satu, timnas Indonesia. Di timnas Indonesia, tak ada konflik yang  dilandasi perbedaan etnis itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi justru di sanalah  masalahnya menjadi pelik. Di satu sisi, masyarakat paham bahwa hanya  lewat jalur sepakbola keterpurukan di bidang politik dan ekonomi bisa  diatasi. Nasionalisme adalah bentuk lain dari perasaan cinta kepada  tanah air, tak mungkin menjadi nasionalis tanpa melibatkan perasaan.  Namun di sisi lain, perasaan nasionalisme yang seharusnya bisa  ditumpahkan dalam sepakbola itu tak pula berbanding lurus dengan  prestasi timnas. Indonesia jarang menang, liga kacau, PSSI-nya korup dan  tak berwibawa. Ada jarak antara harapan yang nasionalis dengan wajah  sepak bola Indonesia. Wajar saja jika kini cara masyarakat mengkritik  PSSI sama kerasnya dengan mengkritik pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai  generasi yang hidup di zaman ini, saya hanya bisa bertahan dan yakin  bahwa saya orang Indonesia sejati hanya karena pertalian yang erat  antara perasaan saya dengan Indonesia. Pertalian itu adalah, sebagaimana  disebut novelis Ayu Utami dalam novelnya Bilangan Fu, pengetahuan yang  kita peroleh dalam darah. Pengetahuan identitas kita sebagai bangsa itu  hadir dalam tubuh kita sejak kita dilahirkan.     &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Itu berarti  perasaanlah yang paling utama. Kalau tidak, dari manakah negara seribu  masalah ini bisa tetap tegak tak terpecah-pecah jika bukan karena  jalinan emosional yang kuat? Jalinan emosional itu pula yang saya kira  menyebabkan masyarakat miskin yang terserak di segala penjuru tidak  mudah mati seperti laron.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Buruk atau baiknya pemerintah,  perasaan kita sebagai bangsa takkan pernah lenyap. Demikian pula, buruk  atau tidaknya sepakbola, batin kita tetap terikat kuat dengan takdir  sebagai bangsa. Tapi, jika pemerintah dan sepakbola tak bisa memberi  kita semacam kebanggaan, kemana lagi kita harus mencarinya?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selama  ini, kita masih menumpangkan kebanggaan pada negara orang atau klub  dari negara orang. Saya pencinta Barcelona, bisa dikatakan fanatik. Saya  mencintai Barcelona seperti saya mencintai gitar listrik pertama saya.  Pada Piala Dunia 2010, saya mendukung Spanyol, meskipun saya juga  mendukung Argentina dan Brazil.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi, bukankah itu  sebenarnya pelarian? Bukankah saya seharusnya mendukung PSSI hidup dan  mati dengan perasaan saya? Oh, tidak! Zaman menjerumuskan saya masuk  dalam situasi tak menentu, pemerintah karut-marut, sepakbola pun suram.  Ya, untuk melepaskan keinginan menjadi “pemenang”, saya hanya bisa  menumpang pada Barcelona dan Spanyol dan Brazil dan Argentina. Saya  menyimak Lionel Messi seolah-olah dia adalah anak Papua. Saya menyimak  Xavi seolah-olah dia adalah pemain didikan PSM Makassar. Nasionalisme  saya muntah di tanah orang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan keadaan ini, maka wajar  jika kerusuhan terjadi di Ambon gara-gara Piala Dunia 2010. Mereka  mendukung Spanyol atau Belanda seolah-olah negara itu adalah negara  mereka sendiri. Dan ketika negara yang mereka dukung kalah, mereka tak  segan mengeluarkan amarah bagaikan negaranya sendiri sedang dicaci-maki.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yang  lebih berbahaya, kini sepakbola sudah menjadi keseharian yang penting  dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Paling tidak, ada lebih dari 10  pertandingan sepakbola langsung yang disiarkan per pekan di televisi  swasta Indonesia. Jumlah itu belum termasuk siaran yang ditayangkan di  televisi kabel.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hari-hari kita adalah hari-hari sepakbola.  Bahkan, kita tak merasa rugi jika televisi menayangkan pertandingan  tunda lebih dari sekali. Ya, menonton sepakbola membawa kita pada  pergaulan dunia. Tanpa sadar, saat menonton sepakbola, kita seolah  berada di Manchester, Turin, atau Valencia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak ada  tayangan yang menghadirkan kenyatakan faktual secara langsung di belahan  dunia lain sebanyak sepakbola. Peristiwa politik atau bencana alam  paling dahsyat sekalipun di negeri orang, takkan disiarkan secara  langsung sesering sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menonton sepakbola, kita  dapat menyaksikan tubuh, mimik, dan gesture, seluruh orang yang berada  di stadion di Inggris atau Italia. Kita menonton hal yang sama, berada  pada &lt;em&gt;event&lt;/em&gt; yang sama, dan pada saat yang bersamaan. Bukankah itu faktual!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan  Piala Dunia adalah festival bangsa-bangsa. Tak ada hajat yang  melibatkan miliaran manusia di seluruh dunia selain Piala Dunia. Semua  orang merasa berkepentingan dengan Piala Dunia meski negaranya sama  sekali tak tercatat dalam sejarah Piala Dunia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi  dunia sudah terlanjur berjalan tak seimbang. Jika saya, Anda, atau massa  yang rusuh di Ambon itu adalah salah satu dari orang yang terlibat di  festival bangsa-bangsa, maka kita hanya bisa bersorak kagum dengan  orang-orang yang ada di panggung utama festival. Mungkin kita sama  sekali tak masuk ke dalam arena festival. Tetapi, di sudut yang kelam,  kita menjadi gila ketika mendengar sayup-sayup kesebelasan negeri orang  yang kita banggakan itu berteriak “gooooooollllll…..!!!”    &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Oktober 8 2010&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;﻿&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8129728317580379887?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8129728317580379887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8129728317580379887&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8129728317580379887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8129728317580379887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#8129728317580379887' title='Sepakbola: Nasionalisme yang Menumpang'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-9191915053255119670</id><published>2011-01-13T10:25:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T10:37:57.226-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Murid Tumbal Guru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pagi, 15 Juli 2010. Seorang kawan semasa di kampus yang kini menjadi  wartawan salah satu radio swasta di Jakarta mengirimkan pesan pendek.  “Lihat TVone, sekarang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar lima belas menit kemudian, saya menyetel televisi. Program  bincang-bincang di televisi itu sedang membahas polemik mengenai apakah  infotainment termasuk kategori karya jurnalistik atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bukan tema perbincangan acara itu yang memicu kawan semasa di  kampus tadi meminta saya menonton TVone. Tapi, karena salah satu  pembicaranya adalah dosen kami di kampus dulu, DR Mulharnetty Syas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, kawan saya pernah berdebat di kampus dengan Bu  Netty-panggilan akrab Mulharnetty. Temanya soal apa, saya tak ingat  lagi. Yang jelas, waktu itu dia ingin mengatakan Bu Netty bukan orang  dengan pikiran yang terbuka. Jika berdebat dengan mahasiswa, ia akan  memposisikan dirinya sebagai “orang tua” ketimbang sebagai dosen yang  seharusnya menjadi rekan diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelumnya, saya membaca sebuah tautan seorang teman di akun  facebook-nya. Tautan itu adalah berita di salah satu portal online  tentang lulusnya Bu Netty sebagai doktor di Departemen Ilmu Komunkasi  Universitas Indonesia. Dalam berita itu, disebutkan Bu Netty lulus  dengan predikat sangat memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disertasi Bu Netty dengan co-promotor Ishadi SK itu bertajuk Relasi  Kekuasaan dalam Budaya Industri Televisi di Indonesia (Studi Budaya  Televisi pada Program Infotainment). Dalam disertasinya, Bu Netty  mengatakan “infotainment bukan jurnalistik.” Saya rasa, disertasinya  inilah yang mengantarkan Bu Netty hadir di TVone pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seumur-umur, baru sekali ini saya menyaksikan dosen dari kampus saya  hadir dalam perbincangan di televisi dalam kapasitasnya sebagai  akademisi. Saya dan siapa pun yang pernah bernaung di kampus saya dulu  itu patut berbangga hati. Sebagai kampus yang dikenal sebagai “sekolah  jurnalistik”, Bu Netty mungkin bisa memecah ironi tak adanya dosen atau  akademisi dari kampus jurnalistik yang pendapatnya dibutuhkan dalam  polemik di dunia jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pernahkah publik yang menonton TVone tahu? Bahwa sebagian besar  pekerja infotainment yang dikritik Bu Netty lewat disertasinya itu  adalah mahasiswa yang dulu dididiknya di kampus. Sebuah fakta yang  membuat disertasinya Bu Netty kurang membumi adalah karena sebagian  besar pekerja infotainment merupakan lulusan kampus kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wacana, disertasi itu penting untuk polemik mengenai  infotainment. Walapun kritik tetap harus diajukan, misalnya, argumentasi  Bu Netty soal infotainment itu sebenarnya sudah diketahui banyak orang,  termasuk mahasiswa-mahasiswanya yang belum lulus sarjana. Kehadiran  disertasi Bu Netty hanya memperkuat argumen umum karena dia disampaikan  melalui sebuah penelitian ilimiah. Tapi apa yang disimpulkan secara umum  oleh disertasi itu, sudah terlalu sering kami bahas di warung kopi di  sela-sela jam kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, disertasi itu hanya sebatas wacana. Apakah disertasi itu  mempunya implikasi praktis terhadap lingkungan terdekat di mana Bu Netty  hidup sehari-hari? Saya rasa tidak ada! Bukankah ironis? Seorang dosen  di sekolah jurnalistik mengkritik infotainment sementara mayoritas yang  bekerja di infotainment adalah mantan muridnya dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan-kawan semasa di kampus yang kini bekerja di infotainment menjadi  “tumbal” oleh gurunya sendiri demi sebuah gelar yang mewah: doktor  perempuan ke-22 yang dihasilkan Departemen Komunikasi Universitas  Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin diadakan penelitian tandingan, seorang mahasiswa tingkat  doktor jurusan pedagogi seharusnya bisa menulis disertasi dengan  mengajukan pertanyaan “mengapa kampus jurnalistik yang berusia hampir 60  tahun itu lebih banyak menelurkan pekerja infotainment ketimbang  jurnalis non-infotainment?” Saya rasa, Bu Netty harus menjadi narasumber  utama untuk penelitian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dunia luar yang luas, disertasi itu menjadi perhatian publik. Tapi  bagi rumahnya sendiri, disertasi itu sebenarnya pisau yang menikamkan  diri ke tubuh Bu Netty sendiri. Dan darahnya itu menciprati wajah  murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan sebenarnya bagi seluruh dosen, atau siapapun yang masih peduli  dengan kampus tua di selatan Jakarta itu, adalah mendidik mahasiswa  agar tak jatuh pada infotainment. Sebab, kalau sudah begini, terlepas  dari apapun kesalahan dan kecacatan infotainment, dia sudah menjadi  ladang pencaharian. Secara langsung atau tidak langsung, kampus kami  turut andil dalam membangun dan melestarikan infotainment sebagai mata  pencaharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kawan-kawan ingat, saat kita menulis skripsi, bab I berisi  pertanyaan tentang tujuan dan kegunaan penelitian. Kepada Bu Netty, kita  pertanyakan lagi pertanyaan itu, “sebenarnya apa tujuan Anda menulis  disertasi itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Juli 15 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan: artikel ini semula dimuat di facebook "ervin kumbang" dan mengundang 98 komentar. Silahkan simak di&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/ervin.kumbang?sk=notes&amp;amp;s=0#!/note.php?note_id=414049262559&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-9191915053255119670?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/9191915053255119670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=9191915053255119670&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/9191915053255119670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/9191915053255119670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#9191915053255119670' title='Murid Tumbal Guru'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-677373312545169783</id><published>2011-01-13T10:21:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T10:24:53.503-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Remaja Selamanya: The Who</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah wawancara, gitaris Rolling Stones Keith Richard  mengenang masa-masa terbaik di era 1960-an. Lalu Richard menyebut satu  nama: The Who. Bagi Richard, The Who adalah yang paling kontemporer  dalam “british invation”.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sementara mengenai hari-hari  pertama Stones dan The Beatles tampil di Amerika Serikat sebagai seniman  rock and roll berwibawa dari seberang lautan, Richard sedikit merendah.  Menurut Richard, apa yang mereka mainkan sebenarnya adalah memainkan  kembali musik yang mereka pelajari dari daratan Amerika. “Bukankah kami  menjual ‘kembali’ apa yang mereka mainkan?” Demikian Richard berkata.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Richard  tak salah. Seperti diakui oleh Sir Paul McCartney tentang Liverpool,  The Beatles bersyukur lahir di kota pelabuhan. Sebab, di kota itu  pelaut-pelaut yang sempat berlabuh ke Amerika membawakan mereka musik  dari negeri abang Sam. Dari Amerika mereka memperoleh blues dan  rockabilly yang mempengaruhi seluruh pemusik dalam british invation.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Richard  dan McCartney bagaikan ingin mengoreksi kata “invasi” dalam british  invation. Bagi mereka, tanah yang mereka serang itu justru tanah yang  memberikan mereka akar kreatifitas. Richard dan McCartney seolah mau  mengatakan bahwa merekalah yang lebih dulu kena racun oleh  “begundal-begundal jalanan” Amerika.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi asumsi itu  seolah mendapatkan pertahanan dalam The Who. Saya sepakat dengan Richard  yang menyebut band asal London itu sebagai yang paling kontemporer dari  british invation. Jika musik The Beatles dan Rolling Stones terdengar  seperti musik Amerika yang dimainkan dengan dialek inggris, the Who  justru memutarbalikkannya: memainkan musik tradisional Inggris dengan  keliaran cara Amerika.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sinilah arti penting The Who  dalam the holy trinity of british rock. The Who layak mendapat tempat  yang sejajar dengan The Beatles dan Rolling Stones. The Who adalah “the  identity”. The Who memiliki gitaris Pete Townshend yang jenius, vokalis  Roger Daltrey yang penuh perasaan, basis John Eistle si autis penjaga  ritmik, dan penggebuk drum yang impresif Keith Moon.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pionir Aksi Panggung&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;September  1964 adalah hari di mana The Who menyebar ke seluruh dunia. Band itu  baru tujuh bulan berganti nama dari The Detours menjadi The Who.  Kedatangan Keith Moon sebagai pengisi kursi drumer yang ditinggalkan  Doug Sandom menjadi penanda pergantian nama itu. Moon dan September 1964  adalah awal dari segala kegilaan di atas panggung dalam puak rock and  roll.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat konser di Railway Tavern, Harrow, London, Pete  Townshend tiba-tiba membanting gitarnya hingga hancur di atas panggung.  Pete frustasi karena sejumlah penonton yang tertawa cekikikan.  Selanjutnya, ia mengambil gitar yang lain dan melanjutkan pertunjukan.  Sepekan kemudian di panggung yang sama, penonton berjubal ingin  menyaksikan The Who. Lagi-lagi, Pete merusak gitarnya. Di belakang, Moon  merusak drum kit-nya sebagai tanda solidaritas terhadap Pete.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aksi  ini membuat The Who memiliki pengecualiannya sendiri di antara The  Beatles dan Rolling Stones. Melalui aksi panggung itu, The Who  mengungkapkan sisi destruktif manusia yang selalu ditutupi dalam bentuk  yang bisa dinikmati. Penghancuran berubah derajat menjadi seni dan  ideologis. Penghancuran instrumen melekat sebagai ciri The Who. Demikian  menginspirasinya, aksi itu turut dilakukan Jimi Hendrix dan jagoan  grunge dari Seattle, Kurt Cobain.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mengenai aksi panggung itu, &lt;em&gt;frontman &lt;/em&gt;U2  Bono mengatakan The Who adalah kelompok yang paling berhasil  menghidupkan panggung sebagai sebuah pertunjukan yang bertenaga. Bono  bahkan tak segan mengakui U2 adalah titisan The Who.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sementara  vokalis Pearl Jam Eddie Vedder menunjukkan kekagumannya kepada The Who  dengan ungkapan yang satir: “satu hal yang membuat saya muak tentang The  Who adalah cara mereka meruntuhkan setiap pintu sebagai jalan masuk  bagi yang tidak masuk &lt;em&gt;chart&lt;/em&gt; rock and roll tanpa meninggalkan banyak hal selain puing-puing yang tersisa untuk bisa kita nyanyikan.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jelas!  Apa yang ditinggalkan The Who bagi generasi di belakangnya adalah  pemberontakan dalam energi yang penuh. Jika The Beatles memberontak  dengan kebijaksanaan dan Rolling Stones dengan kenakalan yang  androginik, The Who hadir dengan kebrutalannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di masa  kemudian, anak kandung kebrutalan rock and roll ala The Who itu mengalir  pada musik punk. The Ramones, The Clash, Sex Pistol, bahkan Green Day,  adalah band yang tampil dengan keliaran dan energi yang seolah-olah  berlebih. Bagaimanapun, kebrutalan adalah ciri paling signifikan dalam  kehidupan remaja. The Who melakukannya saat mereka remaja.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya, mendengarkan musik The Who atau menyaksikan &lt;em&gt;live performance&lt;/em&gt;-nya,  tidak terdengar seperti musik yang lahir pada dekade 1960-an.  Mendengarkan The Who seolah-olah mereka sama mudanya dengan Green Day,  atau Arctic Monkey.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak salah lagi, The Who tidak pernah  beranjak menjadi pemuda separuh dewasa seperti The Beatles dengan Across  The Universe. The Who adalah remaja selamanya! Dan oleh karena itu,  saya seperti tidak rela menyaksikan fisik Pete Townshend menjadi seorang  kakek. The Who, adalah juru bicara para remaja!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Melalui  The Who, dunia melihat sosok remaja yang mampu menempatkan kebrutalannya  dalam cara yang intelektual. Seperti sepenggal lirik tembang abadi The  Who “&lt;em&gt;My Generation&lt;/em&gt;” ini:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;people try to put us d-down (talkin’ ‘bout my generation)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;just because we get around (talkin’ ‘bout my generation)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;things they do look awful c-c-cold (talkin’ ‘bout my generation)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;i hope I die before I get old (talkin’ ‘bout my generation)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;September 27 2010&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;﻿&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-677373312545169783?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/677373312545169783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=677373312545169783&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/677373312545169783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/677373312545169783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#677373312545169783' title='Remaja Selamanya: The Who'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-5319713973969922823</id><published>2011-01-13T10:13:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T10:20:27.714-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Anak-anak Pada Dasarnya Baik (Oleh-oleh dari Mudik)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja namanya Tanto Herianto (bukan nama sebenarnya). Dia  seorang teman yang saya kenal sejak saya duduk di sekolah menengah  pertama. Ketika melanjutkan ke sekolah menengah atas,  saya dan Tanto  juga masuk ke sekolah yang sama.&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  tidak terlalu akrab dengan Tanto. Gerombolan saya berbeda dengan  gerombolan Tanto. Gerombolan saya adalah remaja-remaja yang populer di  sekolah sebagai atlet basket, pengurus OSIS, dan sebagian terhitung  sebagai anak-anak tampan di sekolah. Gerombolan saya tidak suka narkoba,  rokok, berkelahi, dan bolos sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  tempat lain, gerombolan Tanto yang saya ingat adalah gerombolan  pemabuk, suka berkelahi, dan pembolos. Jelas, saya tidak mungkin bergaul  rapat dengan gerombolan Tanto. Hanya saja, karena kota kami itu terlalu  kecil dan hampir setiap orang di sekolah saling mengenal, sapa-menyapa  dengan hangat antara saya dan Tanto tetap terjadi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sosok  Tanto kembali menggedor kenangan saya ketika kabar itu datang tanpa  saya minta. Dalam perjalanan pulang mudik hari raya yang lalu, seorang  kawan memberi tahu saya: Tanto meninggal.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat  meninggal, tubuh Tanto dikabarkan kurus ibarat hanya menyisakan kulit  pembalut tulang. Sebelumnya saya pernah melihat kakak teman saya terkena  penyakit seperti itu. Seperti Tanto, kakak teman saya itu juga dijemput  maut. Dari desas-desus yang beredar, kakak teman saya itu meninggal  karena narkotika, sebagian menyebutnya terkena HIV/AIDS. Soal Tanto,  saya tidak tahu pasti penyebabnya. Tetapi kawan-kawan mengatakan Tanto  sempat menggunakan narkoba sebelum “pergi”.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Matinya  Tanto mengingatkan saya pada suatu hari saat saya SMA. Kala itu, pagi  beranjak siang. Dengan mata kepala saya sendiri, saya saksikan Tanto  berlari dari ruangan kepala sekolah, menuju gerbang sekolah, dan  melempar kaca majalah dinding dengan sebuah batu. “Praaaannnng!!!” Dan  Tanto kabur. Sementara itu, ayah Tanto gapah-gopoh mengejar  anaknya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya tak tahu pasti  penyebabnya. Tapi saya menduga, ayah Tanto waktu itu dipanggil karena  kenakalan Tanto di sekolah. Tapi mengapa Tanto justru membuat aksi  memecahkan kaca majalah dinding justru saat ayahnya ada di sekolah?  Tidakkah ia seharusnya merasa malu karena nyaris seluruh mata di sekolah  menyaksikan ayahnya setengah berlari mengejarnya? Atau, tidakkah  seharusnya Tanto mempermalukan ayahnya?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hati  dan pikiran saya tergoda untuk menghubungkan kematian Tanto dengan  peristiwa sekali waktu di masa SMA itu. Saya digiring pada satu masalah  klasik dan nyaris dialami seluruh manusia di dunia ini: kompleksitas  hubungan orang tua (ayah) dan anak.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  termasuk orang yang tak percaya pada kesalahan anak-anak. Anak-anak,  tetaplah anak-anak. Jika anak-anak diasuh dengan cara yang tidak benar,  maka kebrutalanlah yang  akan mereka lakukan di masa dewasa. Dengan  asumsi ini, saya mengajukan satu pertanyaan: apakah aksi Tanto di  sekolah itu adalah kesalahannya?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tanto,  saat itu masih remaja dalam jiwa yang belum lagi stabil, sebagaimana  juga saya. Jika Tanto nakal selama tak melakukan kriminal, saya rasa itu  wajar. Justru, saya melihat apa yang dilakukan Tanto di sekolah adalah  bentuk protes terhadap ayahnya. Tanto agaknya “sengaja” menunjukkan  pemberontakannya pada ayahnya di tempat di mana harga diri seorang  remaja sedang dipertaruhkan, yaitu di sekolah, di tengah teman-temannya,  di antara guru-gurunya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selebihnya,  kita tidak bisa menebak apa yang terjadi antara Tanto dan ayahnya, atau  keluarganya. Sebagai orang yang juga memiliki ayah, saya mencoba  memahami sikap Tanto melalui apa yang saya alami. Seorang ayah, meski  tak semua ayah, adalah seorang pemaksa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pikiran  ayah (baca: orang dewasa), selalu seperti terputus dengan dunia  anak-anak. Anak-anak tak boleh menderita, dan penderitaan orang tua  seharusnya tak boleh diterjemahkan dalam caranya mendidik anak-anak.  Orang dewasa, tanpa sadar terlalu sering menilai anak-anak,  menjustifikasi anak-anak. Orang dewasa, selalu ingin menjadikan  anak-anaknya sebagai “dirinya yang kedua”. Padahal, setiap manusia  memiliki dunianya masing-masing.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Inilah  paradoks dalam hubungan antara orang dewasa dalam adab ketimuran kita.  Di barat, kita sering mendengar remaja berusia 17  tahun sudah diberikan  kebebasan menentukan hidupnya sendiri. Namun di sisi lain, anak-anak  barat menjadi jauh lebih keras, tajam, brutal, bar-bar, dan memiliki  kreatifitas yang tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Orang  timur, dengan mudah menuduh “hubungan seks bebas” yang dilakukan  anak-anak barat sebagai bentuk filsafat hidup mereka yang menjunjung  kebebasan ekstrim. Hubungan antara anak-anak dan orang tua dinilai  terlalu dingin. Salah satu penyebab lainnya adalah lumrahnya perceraian  di keluarga barat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan tuduhan  kita terhadap masyarakat barat seperti itu, apakah kita akan mengatakan  bahwa hubungan anak-anak dalam ketimuran kita lebih bersifat hangat?  Apakah sebenarnya kehangatan itu? Apakah Tanto mendapat perlakuan yang  hangat dari ayahnya?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setiap  kata-kata yang disampaikan orang dewasa, setiap sentuhan atau siksaan,  akan mempengaruhi jiwa anak-anak. Itu akan mempengaruhi bagaimana sang  anak menjalani hidupnya sebagai manusia dewasa, bahkan hingga  “bagaimana” cara sang anak itu mati.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pentolan  rockabilly dekade 50-an di Amerika Serikat, Johny Cash, adalah salah  satu anak yang jarang menyapa sang ayah. Johny, yang mencintai musik  sejak kanak, selalu dianggap tak berarti oleh ayahnya. Ayahnya hanya  menganggap Jack Cash, abang Johny. Abang Johny adalah tipikal anak-anak  yang cerdas, rajin membaca, dan selalu mendapat nilai tinggi di  sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Suatu kali, Jack mati  saat bekerja di pemotongan kayu. Johny yang saat itu berada di  pemotongan kayu, mengajak abangnya untuk bersantai dengan memancing di  sungai. Sang abang menolak karena harus bekerja. Karena begitu sayang  dengan Johny, Jack mengizinkan Johny memancing.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nasib  buruk, Johny dipersalahkan ayahnya karena tidak menemani Jack di  pemotongan kayu. Jack tewas, dan Johny dipersalahkan ayahnya seumur  hidup (kisah ini dapat disaksikan dalam film &lt;em&gt;Walk of The Line&lt;/em&gt;. Johny Cash diperankan Joaquin Phoenix yang berpasangan dengan Resse Whiterspoon sebagai June Carter).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apa  yang terjadi dengan Johny selanjutnya? Hidup Johny kacau. Ia bercerai  dengan istri dan seorang anaknya. Meski tenar, ia tenggelam dalam  narkotika sampai June (Carter) bersedia mengasuhnya hingga  sembuh.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Johny lebih baik karena  masih bisa hidup, sementara Tanto harus mati. Johny masih lebih baik  karena ia menjadi individu yang tercatat dalam sejarah musik dunia,  sementara nama Tanto hanya disapa oleh angin yang kebetulan melintas di  pusaranya. Johny  lebih baik karena ia sempat merasakan hidup  bergelimang uang, sementara Tanto tetap “miskin” hingga  mati.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kawan-kawan, mengapa hidup  harus bertindak seperti itu? Apa sebenarnya salah anak-anak? Apakah  keluguan anak-anak membuat anak-anak tidak bisa mengajukan protes  terhadap orang dewasa?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Baiklah!  Mungkin tidak semua anak-anak di bumi ini yang mengalami hubungan yang  tak mengenakkan sebagaimana Johny Cash dan (mungkin) Tanto. Tapi saya  ingin menyebut satu nama: Afrizal Malna.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam  sebuah diskusi tentang kebudayaan bulan lalu di Galeri Nasional,  penyair Afrizal Malna memberikan satu sikap atas kejamnya dunia orang  dewasa terhadap anak-anak. Afrizal, menurut pengakuannya, adalah orang  yang tidak pernah mengalami kekerasan fisik dan menemukan hal-hal  seperti itu di dalam rumahnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ia  heran mengapa teman-temannya semasa kanak harus menghadapi pukulan  orang tua untuk membayar satu atau dua kesalahan. Karena perbedaan itu,  Afrizal membenci dunia orang dewasa. Dalam masa kanaknya, ia membentuk  dunianya sendiri, ia menciptakan bahasanya sendiri, peradabannya  sendiri, yang tak tersentuh oleh dunia orang dewasa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Haruskah  setiap anak-anak membuat dunianya sendiri seperti Afrizal? Apakah semua  anak-anak memiliki kecerdasan seperti Afrizal? Saya tidak tahu! Dan  saya berdoa untuk keselamatan setiap anak-anak yang saya tidak tahu apa  yang mereka alami di balik pintu rumah mereka!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mudah-mudahan, keadaan ini tidak membuat siapapun di dunia ini takut untuk menjadi orang tua.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;September 25 2010&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-5319713973969922823?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/5319713973969922823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=5319713973969922823&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5319713973969922823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5319713973969922823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#5319713973969922823' title='Anak-anak Pada Dasarnya Baik (Oleh-oleh dari Mudik)'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-210638842028546441</id><published>2011-01-13T10:11:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T10:12:34.406-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>darah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;br /&gt;maka jatuhlah sekerat sayap kelelawar&lt;br /&gt;menggelepar di atas tanah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara sang kelelawar,&lt;br /&gt;melarikan diri ke embun bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Agustus 21 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="post_form_id" value="86cab6a160f68a28322d662e8fba1e71" type="hidden"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" value="E4bgs" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="feedback_params" value="{&amp;quot;actor&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;target_fbid&amp;quot;:&amp;quot;426348937559&amp;quot;,&amp;quot;target_profile_id&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;type_id&amp;quot;:&amp;quot;14&amp;quot;,&amp;quot;source&amp;quot;:&amp;quot;2&amp;quot;,&amp;quot;assoc_obj_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;source_app_id&amp;quot;:&amp;quot;0&amp;quot;,&amp;quot;extra_story_params&amp;quot;:[],&amp;quot;content_timestamp&amp;quot;:&amp;quot;1282330118&amp;quot;,&amp;quot;check_hash&amp;quot;:&amp;quot;65403724a83b2d17&amp;quot;}" type="hidden"&gt;&lt;span class="UIActionLinks UIActionLinks_bottom" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;action&amp;quot;}"&gt;&lt;button class="like_link stat_elem as_link" title="Suka item ini" type="submit" name="like"&gt;&lt;span class="default_message"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/button&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-210638842028546441?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/210638842028546441/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=210638842028546441&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/210638842028546441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/210638842028546441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#210638842028546441' title='darah'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-7771003128144394484</id><published>2011-01-13T10:05:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T10:10:40.878-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Pagi...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;ia tak tahu, burung-burung di halaman rumahnya hanya bergunjing&lt;br /&gt;tentang malam yang bosan dengan tidur. tentang jantung yang menceraikan diam dari degup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia berkata, "mentari tak tahu diri, selalu datang dengan nafas bau logam yang itu-itu saja"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menghitung biji tasbih. sambil meniupkan tuberkolosis ke paru-paru matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus 9 2010&lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="post_form_id" value="86cab6a160f68a28322d662e8fba1e71" type="hidden"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" value="E4bgs" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="feedback_params" value="{&amp;quot;actor&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;target_fbid&amp;quot;:&amp;quot;422149222559&amp;quot;,&amp;quot;target_profile_id&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;type_id&amp;quot;:&amp;quot;14&amp;quot;,&amp;quot;source&amp;quot;:&amp;quot;2&amp;quot;,&amp;quot;assoc_obj_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;source_app_id&amp;quot;:&amp;quot;0&amp;quot;,&amp;quot;extra_story_params&amp;quot;:[],&amp;quot;content_timestamp&amp;quot;:&amp;quot;1281309381&amp;quot;,&amp;quot;check_hash&amp;quot;:&amp;quot;16fb0158bd03ac04&amp;quot;}" type="hidden"&gt;&lt;span class="UIActionLinks UIActionLinks_bottom" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;action&amp;quot;}"&gt;&lt;button class="like_link stat_elem as_link" title="Suka item ini" type="submit" name="like"&gt;&lt;span class="default_message"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/button&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-7771003128144394484?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/7771003128144394484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=7771003128144394484&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7771003128144394484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7771003128144394484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#7771003128144394484' title='Pagi...'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8618221558137663565</id><published>2011-01-13T09:58:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T10:04:38.622-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Jatuh Cinta Seorang Pertapa</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sebujur makam mengubur sebongkah batu di dalam perutnya. sebongkah batu membiarkan sebuah radio berkhotbah di dalam jantungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di luar, senja dalam gerimis terlalu panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;sejak itu, tak ada lagi ziarah…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Juli 18 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="post_form_id" value="86cab6a160f68a28322d662e8fba1e71" type="hidden"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" value="E4bgs" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="feedback_params" value="{&amp;quot;actor&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;target_fbid&amp;quot;:&amp;quot;420218577559&amp;quot;,&amp;quot;target_profile_id&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;type_id&amp;quot;:&amp;quot;14&amp;quot;,&amp;quot;source&amp;quot;:&amp;quot;2&amp;quot;,&amp;quot;assoc_obj_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;source_app_id&amp;quot;:&amp;quot;0&amp;quot;,&amp;quot;extra_story_params&amp;quot;:[],&amp;quot;content_timestamp&amp;quot;:&amp;quot;1280816530&amp;quot;,&amp;quot;check_hash&amp;quot;:&amp;quot;6fd7670cfc300888&amp;quot;}" type="hidden"&gt;&lt;span class="UIActionLinks UIActionLinks_bottom" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;action&amp;quot;}"&gt;&lt;button class="like_link stat_elem as_link" title="Suka item ini" type="submit" name="like"&gt;&lt;span class="default_message"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/button&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8618221558137663565?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8618221558137663565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8618221558137663565&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8618221558137663565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8618221558137663565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#8618221558137663565' title='Jatuh Cinta Seorang Pertapa'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8641841520408008583</id><published>2011-01-13T09:54:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T10:03:17.042-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>apa yang tak mampu diwujudkan pemimpin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;memerintahkan bunga-bunga berbicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta, juni 20 2010&lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="post_form_id" value="86cab6a160f68a28322d662e8fba1e71" type="hidden"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" value="E4bgs" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;input autocomplete="off" name="feedback_params" value="{&amp;quot;actor&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;target_fbid&amp;quot;:&amp;quot;405873737559&amp;quot;,&amp;quot;target_profile_id&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;type_id&amp;quot;:&amp;quot;14&amp;quot;,&amp;quot;source&amp;quot;:&amp;quot;2&amp;quot;,&amp;quot;assoc_obj_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;source_app_id&amp;quot;:&amp;quot;0&amp;quot;,&amp;quot;extra_story_params&amp;quot;:[],&amp;quot;content_timestamp&amp;quot;:&amp;quot;1277024960&amp;quot;,&amp;quot;check_hash&amp;quot;:&amp;quot;82002b8a23e18e68&amp;quot;}" type="hidden"&gt;&lt;span class="UIActionLinks UIActionLinks_bottom" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;action&amp;quot;}"&gt;&lt;button class="like_link stat_elem as_link" title="Suka item ini" type="submit" name="like"&gt;&lt;/button&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8641841520408008583?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8641841520408008583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8641841520408008583&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8641841520408008583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8641841520408008583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#8641841520408008583' title='apa yang tak mampu diwujudkan pemimpin'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-7143487522514302692</id><published>2011-01-13T09:49:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T10:01:35.805-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Seribu Pemuda Mati Di Pantai</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;seribu pemuda panjang umur bercita-cita mati di pantai kala senja. demi  kematian seperti itu, mereka tinggalkan dada di jendela kamar sebelum  tidur malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebatang pesawat perang kesepianlah yang menjemputnya. lalu  menjatuhkannya menjadi seribu bom-bom strawberry di tepi sebuah pantai.  menjelma menjadi seribu jantung yang terserak di pasir paling putih.  degupnya menjadi semacam nyanyi tak berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan yang berjalan menyusuri pantai itu adalah engkau yang Hermione  dewasa, bukan? sejak jatuh cinta, ia mematahkan tongkat sihirnya dan  menurunkan matanya ke setiap tempat di mana air mata bersembunyi di  balik kelopak yang setengah terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione memungut jantung-jantung yang berguling-gulingan itu,  menimang-nimangnya, dan berdoa seolah dia masih kanak-kanak dan  penyihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni 15 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-7143487522514302692?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/7143487522514302692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=7143487522514302692&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7143487522514302692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7143487522514302692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#7143487522514302692' title='Seribu Pemuda Mati Di Pantai'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-1791991520711423731</id><published>2011-01-13T09:36:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T09:48:48.405-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Daun Telinga Kananku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;kutinggalkan daun telinga kananku di depan pintu kamarmu. malam menyusupkan salju pada rawannya. semoga ia tak tahan hampir beku lalu mengetuk-ngetukkan jarinya di pintu kamarmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah kau dengar ketukannya? barangkali dengus nafasnya yang semakin memburu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telingaku itu takkan mau kembali lekat di kepalaku. apa yang didengarnya dalam sepi di depan pintu kamarmu biarlah jadi miliknya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke arah entah, aku terus saja berjalan sambil mencari perban penutup darah di kanan kepalaku. tak ada lagi yang bisa kudengar karena telinga kiriku sudah lama tuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, April 30 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-1791991520711423731?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/1791991520711423731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=1791991520711423731&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1791991520711423731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1791991520711423731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html#1791991520711423731' title='Daun Telinga Kananku'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-4766438183357320569</id><published>2010-06-23T03:05:00.000-07:00</published><updated>2010-06-23T03:21:42.230-07:00</updated><title type='text'>Yang Hidup dalam Mati, Kurt Cobain</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, sekitar 9 April 1994, di pulau Kalimantan. Seorang kawan berangkat ke sekolahnya, sebuah Sekolah Menengah Atas. Seperti pagi yang biasa, ia berangkat bersama udara pagi yang berembun. Tak ada yang istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah memasuki gerbang sekolah, ia mulai merasakan ada yang ganjil. Tiang bendera yang selalu tegak kokoh di tengah lapangan seakan menjadi layu. Tak ada suara-suara riuh-rendah remaja tanggung yang biasa membahana di kelas-kelas SMA. Saat dilihatnya kawan-kawannya, semua tampak lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa sih? Kok semua lesu?” Dia bertanya pada seorang kawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurt Cobain meninggal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan saya langsung terkejut mendengar jawaban itu. Tanpa sadar, ia pun terbawa pada situasi muram yang baru ia sadari apa sebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar pengakuan kawan saya itu setelah dia berusia lewat 30 tahun, di Jakarta, tahun lalu. Menurut dia, kematian Kurt Cobain menyebabkan remaja seusianya kehilangan idola. “Generasi waktu itu seperti kehilangan orang yang diidolakan. Kami generasi yang kacau, dan Kurt Cobain menyuarakan itu,” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lake Washington, tak jauh dari Seattle, Washington, Amerika Serikat, 8 April 1994. Kabar itu datang dari Gary Smith, seorang tukang listrik dari Veca Electric. Gary menemukan jenazah di atap garasi rumah yang dikunjunginya. Dari Gary, dunia mengetahui seseorang yang berpengaruh terhadap generasinya telah mati. Gary menemukan Kurt Cobain, vokalis plus gitaris Nirvana-band yang digilai nyaris seluruh anak muda di dunia saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengakuannya, Gary tak melihat tanda trauma atau depresi pada paras Cobain. Gary seperti melihat Cobain sedang tertidur dengan darah yang mengucur dari telinga. Berdasarkan hasil otopsi, diketahui Cobain meninggal 5 April 1994 dengan meledakkan peluru pistol di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, jarak antara Seattle dan Kalimantan itu ribuan mil. Kita tahu, bahasa dan adat orang Seattle berbeda dengan orang Kalimantan. Kita tahu, Seattle dan Kalimantan itu adalah hal yang jauh berbeda. Pertanyaannya? Mengapa kepergian Cobain bisa membuat muram anak-anak di SMA kawan saya di sebuah kota kecil Kalimantan? Mengapa Cobain yang jauh itu bisa begitu dekat dalam batin anak-anak di Kalimantan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakan dulu soal gaya berpakaian Kurt yang bersahaja, lupakan dulu soal liarnya dia di panggung, lupakan soal kharisma Kurt, lupakan segala soal yang berada di luar musiknya bersama Nirvana. Sebagaimana Chairil Anwar yang harus dinilai dari sajaknya ketimbang kehidupan pribadinya yang eksentrik, kita juga harus mencermati sekedar “musik” Kurt Cobain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya pula, menyelami musik Kurt Cobain dan mencoba menelisiknya lewat literatur umum yang mudah diperoleh di internet, tidak bisa tidak mengajak kita kembali pada masa lalunya. Saya mencoba memadatkan masa lalu Cobain. Mari simak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurt Donald Cobain lahir dari keluarga kelas pekerja pada 20 Februari 1967 di Grays Harbor Hospital, Aberdeen, Washington. Ibunya, Wendy Elizabeth Fradenburg, adalah seorang pelayan keturunan Kuba, Spanyol, Irlandia, Jerman, dan Inggris. Sedangkan ayahnya, Donald Leland Cobain, adalah seorang mekanik otomotif keturunan Skotlandia, Irlandia, dan Prancis. Nenek moyang Kurt hijrah ke daratan Amerika dari County Tyrone, Irlandia Utara, pada 1875&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, Kurt adalah bocah yang periang, bergairah, dan peduli. Bakat sebagai musisi besarnya tampak sejak usia delapan tahun. Ia juga senang menggambar tokoh-tokoh film seperti Aquaman, dan karakter ciptaan Walt Disney seperti Donald Bebek, Mickey Tikus, dan Pluto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guncangan pertama pada jiwanya terjadi pada usianya Sembilan tahun, saat ayah dan ibunya bercerai. Kurt berubah drastis: menjadi pembangkang dan suka menyendiri. Dalam sebuah wawancara pada 1993, Kurt menuturkan perasaannya saat itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I remember feeling ashamed, for some reason. I was ashamed of my parents. I couldn't face some of my friends at school anymore, because I desperately wanted to have the classic, you know, typical family. Mother, father. I wanted that security, so I resented my parents for quite a few years because of that.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengakuannya ini, tampaklah bahwa Kurt adalah orang yang emosional dan penuh perasaan. Kasus perceraian bukanlah hal baru di dunia ini, terlebih di negara seperti Amerika. Ada banyak anak-anak korban perceraian di dunia ini. Tetapi, Kurt tetaplah seorang bocah biasa yang membutuhkan orang tua. Ia membawa pengalamannya itu jauh ke dalam dasar jantungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesunyian masa kanaknya, Kurt bergaul dengan keluarga kristen yang alim, keluarga teman mainnya, Jesse Reed. Hidup di keluarga demikian, ia menjadi anak yang saleh. Agama, memainkan peranan penting dalam hidup Kurt, pun pada karyanya. Lagu “Lithium” dari album Nevermind disebut-sebut berkisah tentang keluarga Jesse yang religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, nama “Nirvana” dicomot Kurt dari konsep Buddhisme. Kurt menggambarkan konsep nirvana sebagai “kemerdekaan dari rasa sakit, penderitaan, dan dunia luar.” Penggambaran ini sejalan dengan etika punk rock dan menjadi semacam ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian pertama Kurt sebagai pemusik bisa dimulai dari sini. Dengan melihat sosok Kurt melalui apa dia tampil pada kita (televisi, internet, video, literatur), kita bisa mengetahui bahwa Kurt adalah sosok yang filosofis. Memang, setiap pemusik selalu punya semacam “asumsi kebijaksanaan” saat memberi nama band-nya, namun cara Kurt memilih nama Nirvana berikut menjelaskan konsep Nirvana menurut pikirannya itulah yang menunjukkannya sebagai seseorang yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memilih secara filosofis, Kurt pandai memilih nama yang gampang didengar dan disebutkan. Nirvana hidup dalam agama Buddha. Nirvana adalah kata dalam bahasa sanskrit. Sanskrit adalah bahasa resmi di India. Dan menyebut Nir-Va-Na tidaklah sulit bagi orang Asia seperti Indonesia. Dengan demikian, dari cara memilih nama, Kurt cermat membuat nama band-nya akrab di telinga penduduk dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kisah hidup Kurt. Setelah sempat hidup bersama ayah dan ibu tirinya, Kurt tinggal bersama ibunya mulai semester kedua pada tahun keduanya di SMA. Dua pekan setelah ujian kelulusan, Kurt dinyatakan tak lulus karena nilainya tak cukup. Kepada Kurt, ibunya memberi dua pilihan: cari pekerjaan atau pergi dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepekan setelah itu, Kurt menemukan pakaian dan beberapa barang pribadinya terbungkus dalam sebuah kotak. Sejak itu, Kurt hidup menumpang dari rumah ke rumah temannya. Sesekali ia menyelinap ke lantai dasar rumah ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa tuna wisma-nya, Kurt mengaku tinggal di bawah jembatan Sungai Wishkah. Basis Nirvana, Krist Novoselic, mengisahkan, “dia berada di sana, tapi anda tidak bisa hidup di pinggir sungai yang becek, dengan air yang kadang pasang kadang surut. Itu adalah revisionismenya (Kurt).” Pengalaman hidup di bawah jembatan kelak dibukukan Kurt dalam sebuah single di album Nevermind, “Something in the Way”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghujung 1986, Kurt pindah ke sebuah apartemen setelah memperoleh penghasilan sebagai pekerja di Polynesian, sebuah resort pinggir pantai yang berjarak 20 mil dari Aberdeen. Selama masa ini, Kurt kerap mengunjungi Olympia, Washington, untuk menyaksikan konser rock. Selama kunjungannya ke Olympia, Kurt mengencani Tracy Marander, yang disebut-sebut sebagai “girl” dalam single dari album Bleach bertajuk “About A Girl.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari Marander, Kurt bertemu Tobi Vail, seorang pengurus punk zine dan gitaris sebuah band bernama Bikini Kill. Usai bertemu Vail, Kurt tergila-gila pada gadis itu. Vail kelak menjadi inspirasi dalam lirik “love, you so much it makes me sick,” dari lagu Aneurysm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibilang, Vail adalah salah satu perempuan terpenting dalam hidup Kurt Cobain. Bersama Vail, Cobain merasakan kenyamanan “keibuan”. Vail adalah intelektual yang dihormati sebagai pejuang jender dalam komunitas punk. Kurt dan Vail menghabiskan waktunya untuk mendiskusikan isu politik dan filsafat. Vail disebut-sebut sebagai inspirasi sebagian besar lirik pada album Nevermind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, Vail sedang mendiskusikan tema seputar anarkisme dan punk rock bersama temannya Kathleen Hanna. Vail menyemprotkan cat semprot di tembok apartemennya. Semprotan itu membentuk kalimat yang berbunyi “Kurt Smells Like Teen Spirit”. Hanna berkelakar, tulisan itu berarti Kurt menyukai bau ketiak Vail. Sebab, Teen Spirit merupakan merek deodorant Vail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurt peduli dengan tulisan itu dan menafsirkannya sebagai slogan yang memiliki makna revolusioner. Dari tulisan tembok yang disemprot Toby Vail itulah kini Nirvana sampai pada kita sebagai Smells Like Teen Spirit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sengaja tidak memperpanjang kisah hidup Kurt. Mengulang biografi Kurt hari ini adalah pekerjaan sia-sia jika tak mempunyai data yang baru. Sebab, ada banyak orang yang sudah mendalami Kurt. Sebagaimana saya singgung di bagian pembuka tulisan ini, membicarakan masa lalu Kurt hanyalah untuk melihat Kurt sebagai pemusik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan satu kata “intens.” Banyak orang, mungkin banyak pemusik, lebih senang mengatakan “intenslah dalam bermusik jika ingin sukses di musik.” Bagi saya, Kurt bukanlah orang yang seperti itu, Kurt memang intens, tapi intensitasnya terlebih dulu bukan pada musik, tapi pada kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejarah masa lalunya yang jejak-jejaknya dapat kita temukan pada karya-karyanya, tampak Kurt begitu dekat dengan peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Perceraian orang tuanya, pengalamannya di bawah jembatan sungai Wishkah, hingga bertemu dengan setiap perempuan dalam hidupnya, membekas pada dirinya secara mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, Kurt tidak lari dari kehidupannya saat mendekati musik. Kehidupannya yang ia jalani sejak masa kanak hingga kematiannya itulah yang ia ceritakan dalam musiknya. Dan Kurt berhasil! Itulah sebabnya, dengan menyimak satu persatu lagu Nirvana, kita seperti diajak menyusuri lika-liku kehidupan Kurt. Kurt menyajikan siapa dirinya di dalam musik. Dan memang demikianlah seharusnya pemusik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurt begitu dekat dengan lirik dan musik yang dikarangnya. Seperti Friedrich Nietzsche, ia “tidak melarikan diri” dari segala kenyataan hidupnya. Kurt malah berjabat tangan dengan kehidupan, menantangnya, menyelaminya, dan berhasil menampilkan kehidupan itu dalam bakat terbesarnya. Kurt, adalah eksistensialis yang menjadi juru bicara bagi generasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurt menggerakkan zaman. Kurt menjadi simbol keresahan anak muda, terutama anak muda Amerika yang mengalami masa lalu seperti Kurt. Karena kejujuran dan kedekatannya dengan karyanya, ia pun dengan sendirinya dekat dengan “kapitalisme” yang mendekatkannya pada anak-anak muda di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, tak ada orang yang ingin meniru kisah hidup Kurt. Makanya, sejak awal saya menegaskan untuk membicarakan musik semata. Apa yang perlu diambil dari Kurt adalah cara dia memperlakukan hidup yang kemudian menjadi semacam “imannya” dalam bermusik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi siapapun yang percaya musik adalah bahasa universal yang menghubungkan manusia antar benua, iman “mendekati kehidupan” yang diterapkan Kurt dalam musiknya, boleh menjadi ilham. Siapapun yang mencintai musik, baik pemusik atau pun bukan, harus mengembalikan musik pada kehidupan. Karena musik itu adalah “sejenis” kehidupan yang tidak mungkin kita tolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Kurt masih hidup, mungkin dia tak mau dianggap serumit ulasan ini. Tapi, tugas manusia yang hidup, adalah membaca jejak kebijaksanaan dari segala yang sudah lalu. Pun kebijaksanaan itu diliputi tragedi dan bunuh diri. Kurt, menurut saya, pantas dimasukkan dalam masa lalu yang menjadi tugas manusia yang hidup untuk membaca kebijaksanaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurt bunuh diri, dan mati, karena ia terlalu akrab dengan kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 22 Mei 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-4766438183357320569?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/4766438183357320569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=4766438183357320569&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4766438183357320569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4766438183357320569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_06_01_archive.html#4766438183357320569' title='Yang Hidup dalam Mati, Kurt Cobain'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-5284017805577426096</id><published>2010-06-23T03:00:00.000-07:00</published><updated>2010-06-23T03:02:43.131-07:00</updated><title type='text'>Jika Angklung Di Tangan Anak-Anak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Kalau dunia tak adil, itu sudah pasti. Tapi kalau tentang keadilan dunia, itu cuma proses dan usaha: untuk itulah manusia hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tak terjangkau dalam keadilan. Dan itu menyusup dalam suara angklung yang dimainkan oleh sekelompok anak-anak sekolah dasar di museum negara ini. Anak-anak itu menunjukkan “kelasnya” dalam wacana keadilan melalui musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masuk ke museum ketika pagi di ibukota menjadi pagi yang damai. Dalam perjalanan sekitar lebih dari setengah jam menuju museum, ibu kota negara sepi. Jalanan lengang. Maklumlah, hari Minggu, sebagian besar orang libur. Semua orang yang bertindih-tindih saban hari di setiap penjuru sedang melupakan jalanan, macet, asap knalpot, dan ambisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak usah sebut acara apa yang membuat saya datang ke museum. Sebab, pada akhirnya, acara itu tidak terlalu penting selain soal keadilan yang menyeruak lewat musik angklung yang dimainkan anak-anak sekolah dasar itu. Yang pasti, niat utama saya bukan untuk menziarahi benda-benda kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, di panggung sederhana itu, saya menyaksikan sekitar 30 anak berusia 7-9 tahun. Mereka datang sebagai murid dari sekolah dasar berlabel internasional. Internasional dan berlabel nama salah satu negara besar di Eropa Barat. Jelas, tak semua anak di kota yang sesak ini bisa bersekolah di tempat tersebut. Yang saya ingat, anak pasangan mantan presenter berita di salah satu televisi nasional dan seorang pengamat politik kondang, ada di panggung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, tibalah saat yang menggetarkan saya: anak-anak menggetarkan angklung. Dengan angklung, mereka memainkan sebuah lagu populer dari Austria yang berjudul “Edelweiss”. Soalnya, mengapa lagu yang dipilih itu berjudul Edelweiss? Apakah anak-anak di sekolah tak terurus di sudut kota ini juga mengenal lagu berjudul Edelweiss? Atau, jangan-jangan, mereka sama sekali belum pernah mendengar kata Edelweiss? Apa lagi mengetahui sebenarnya Edelweiss adalah bunga yang tumbuh indah di atas gunung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik tetaplah musik. Di dalamnya, kita bisa merasakan harmoni, nuansa, emosi, dan imajinasi. Betapa beradabnya manusia saat menikmati musik. Musik menyajikan kedamaian. Tapi, saat itu saya tidak bisa menyimak musik sebatas musik. Musik, saat dimainkan oleh orang dalam situasi dan keadaan tertentu, bisa menyiratkan politik, dan juga ketidakadilan. Demikian pula ketika lagu Edelweiss itu dimainkan oleh anak-anak dari sekolah mewah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edelweiss adalah lagu yang lembut dan indah. Ketika anak-anak tersebut menggetarkan setiap angklung sebagai penanda nada secara bergantian, musiknya tampak sebagai sebuah keteraturan. Itulah kemenangan anak-anak dari sekolah internasional itu. Mereka bisa memainkan sebuah keteraturan dalam musik, mereka mengenal harmoni, mereka merasakannya, dan mereka melakukannya. Saat melihat anak-anak itu memainkan nada demi nada, yang ada dalam batin saya adalah “betapa beradabnya anak-anak ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka beradab karena sejak kanak-kanak sudah melakukan sesuatu secara bersama dalam disiplin keindahan. Dalam musik, setiap orang yang memegang instrumen mendapat gillirannya masing-masing sesuai dengan skenario urutan nada sebuah lagu. Dalam musik, seberapa banyak giliran setiap orang memainkan instrumennya bukan berdasarkan siapa yang lebih lihai. Dalam musik, yang dikejar adalah harmoni, keindahan. Bayangkan, anak-anak itu menggetarkan angklung pada giliran masing-masing demi harmoni, demi keindahan. Mereka, sadar atau tidak sadar, sedang menjadi makhluk berbudaya. Mereka bekerja sama menggunakan perasaan, pikiran, mengikuti aturan, demi tujuan mencapai keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah anak-anak di sekolah tak terurus di kampung kumuh tak berhak menjadi beradab dan berbudaya? Apakah mereka tak berhak memainkan Edelweiss dan menjadi pelaku kebudayaan dalam harmoni musik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak, sebagaimana musik, tetaplah anak-anak. Dunia anak-anak, sebagaimana novelis Ayu Utami menulis dalam salah satu novelnya, dunia yang terpisah dari orang dewasa. Saat manusia menyadari menjadi dewasa, ia lupa kapan imajinasi kanak-kanaknya itu terputus. Anak-anak sekolah internasional itu sama dengan anak-anak di sekolah tak terurus, sama-sama anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan apa pun, orang dewasa tak berhak mendendam pada anak-anak dari sekolah mewah itu. Mungkin, dengan alasan ketidakadilan, hanya anak-anak dari sekolah kumuhlah yang berhak iri pada anak-anak di museum itu. Hanya anak-anak yang berhak iri terhadap anak-anak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagi saya, beradabnya anak-anak sekolah internasional itu, bukan karena keinginan mereka sendiri. Adalah dunia orang dewasa yang membentuknya. Orang dewasalah yang merumuskan bahwa musik dapat membuat seorang anak belajar berbudaya. Orang dewasalah yang memasukkan anaknya dalam kegiatan bermusik dengan niat agar anaknya berbudaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, beradab atau tidaknya anak-anak di sekolah kumuh bukan kemauan mereka. Dunia orang dewasalah yang memaksakannya. Mereka, semiskin-miskinnya, berhak mengetahui dan menyaksikan karya besar bernama Monalisa yang dilukis Leonardo Da Vinci. Mereka, semelarat-melaratnya, berhak mendengarkan Fur Elise gubahan Ludwig Von Beethoven. Sekalipun sehari-hari mereka menikmati pop melayu murah yang melayang-layang di televisi. Sekalipun mereka sehari-hari diajarkan menepuk rebana dalam kasidah atau marawis sekedar penerus kebiasaan. Mereka berhak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya perhatikan wajah anak-anak yang main angklung itu, betapa lembut, betapa ranum, betapa murni. Lalu saya kenangkan wajah saya sendiri semasa kanak, wajah anak-anak di sekolah tak terurus di pojok gang di utara Jakarta. Saya bayangkan wajah anak-anak yang memainkan musik dengan kecrekan dari tutup botol di perempatan jalan. Saya bayangkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin jauh saya membayangkannya, saya lupa kalau saya sedang berada di museum negara. Saya lupa kalau museum adalah tempat untuk membuat setiap anak di bangsa ini bangga terhadap negeri dengan menziarahi masa lalu. Saya lupa kalau harga tiket masuk museum untuk anak-anak tidak terlalu mahal, cuma dua ribu perak. Saya lupa caranya menikmati musik. Saya lupa apa sebenarnya tujuan awal saya ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan perempuan yang saya bayangkan menjadi istri saya, berdiri di sebelah saya. Tujuan kami sama, tapi saya tak akan menyebutkannya. Sebab saya terlanjur terpukau oleh Edelweiss yang keluar dari getar angklung, saya terpesona karena yang memainkannya adalah anak-anak sekolah dasar. Dalam permenungan saya yang semakin ketat, kawan perempuan yang saya bayangkan menjadi istri saya itu menepuk pundak saya. Saya tersentak. Lalu dia bilang pada saya, “berhentilah menjadi orang yang sinis. Mereka cuma anak-anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diam. Dalam hati, saya bilang, “ya, aku cinta padamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 3 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-5284017805577426096?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/5284017805577426096/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=5284017805577426096&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5284017805577426096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5284017805577426096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_06_01_archive.html#5284017805577426096' title='Jika Angklung Di Tangan Anak-Anak'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-4825109194582544216</id><published>2010-05-04T02:27:00.000-07:00</published><updated>2010-05-04T02:29:51.102-07:00</updated><title type='text'>Antara Hans Christian Andersen dan Aku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;i&gt;Suatu kali di masa kanak&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang temanku mendapatkannya entah dari mana. Dia sebuah buku. Tebalnya kira-kira sepanjang jari tengah kiriku. Yang pasti, sampulnya menarik mata. Latarnya berwarna coklat cat lukis, bukan cat komputer. Kalau tak salah, di atasnya ada gambar bidadari, kurcaci, angsa, dan sebuah danau di tengah padang rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas gambar-gambar itu asing. Di beranda rumah salah satu teman-tempat kami bermain nyaris setiap hari-aku menyaksikan pohon nyiur, ikan mas dalam kolam beton yang berlumut, jalan tanah, rumput, ayam kampung, kucing kampung, dan batu kerikil. Tak ada angsa, danau dan padang rumput, apalagi kurcaci apalagi bidadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi buku itu benar-benar menarik hati. Kepada temanku yang mengaku menemukan buku itu dalam tong sampah di depan rumah orang kaya, aku meminta izin meminjam sebagai yang pertama. Izinku dikabulkan sebab temanku tak terlalu suka buku. Dia bilang dia sudah puas dengan melihat gambar-gambar di antara tulisan yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalamnya, aku menemukan cerita Anak Itik Buruk Rupa, Putri Duyung, Tom si Jempol, Prajurit Porselen, dan Putri Salju. Maka melanglanglah khayalanku sejak kisah-kisah itu tandas kubaca. Dalam tidur, dunia antah-berantahku menjadi berbeda dari biasanya. Aku kadang tiba di jembatan separo bulat di atas sebuah danau. Di dalam danau, angsa-angsa putih berenang dengan damai. Sekali-sekali aku sedang berlari di padang rumput dengan kincir angin dan kebun sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia mimpi kanakku sudah mulai campur aduk dengan dunia yang “lain” dari yang kuhuni sehari-hari. Saat dewasa, aku sadar, buku terjemahan yang tercampakkan itu telah menanamkan dalam ingatanku tentang suatu daerah di belahan dunia yang jauh: Eropa. Pelakunya adalah Hans Christian Andersen, pengarang idiosinkretik berkebangsaan Denmark yang hidup pada abad ke-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dari teman-temanku di masa kanak, hanya aku yang terbius dengan buku Andersen itu. Apa sebabnya? Aku tak pernah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, ayah atau ibuku tak punya kesadaran bahwa membaca itu penting. Yang kutahu, ibuku senang membaca, tapi ia tak sadar bahwa membaca adalah investasi pengetahuan. Maka dari itu, membaca bukan (disadari sebagai) kebiasaan di rumah kami. Ibuku hanya membaca apa yang dia temukan di sekitarnya. Mungkin Al Quran, mungkin buku agama, mungkin komik, mungkin koran bekas bungkus teri sepulang ibuku belanja dari pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa akibat Andersen padaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khayalanku agak melenceng dari teman-temanku. Imajinasiku sudah “tercemar” oleh sesuatu yang datang padaku tanpa kuminta dan tanpa tanda-tanda. Buku tebal itu hanyalah sampah bagi orang kaya. Lagi pula, agaknya hanya orang kaya dan bukan orang-orang dari lingkungan tempat tinggalku yang akrab dengan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khayalanku tak lagi sekedar nyiur dan kolam ikan. Khayalanku bercampur di antara gaun gadis-gadis eropa, salju, dan musim gugur. Khayalanku melewati batas sehari-hariku. Mungkin inilah pertamakalinya pikiran dan alam bawah sadarku menjadi, sebutlah, kosmopolit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dewasa, aku sadar bahwa imajinasi dapat menghantarkan seorang anak manusia ke tengah-tengah dunia. Imajinasi yang membuat seorang anak dari daratan melayu yang tak terbiasa dengan pengetahuan tentang “sesuatu yang luar” dapat menjadi warga dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketegangan jua yang dihasilkannya. Andersen telah membawaku pada ketegangan antara primordialku sebagai melayu dan imajinasiku yang mulai merambah Eropa. Pikiranku tak lagi tulen. Barangkali itulah sebabnya aku dinilai agak melenceng saat berkhayal bersama teman-teman, aku membayangkan sapi di samping gubuk dekat kincir angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya gejala itu juga yang mau dijelaskan Goenawan Mohammad dalam esainya yang terkenal, “Potret Penyair Muda Sebagai si Malin Kundang”. Dalam esai itu, Goenawan menyebut dirinya sebagai penyair yang terlalu jauh berjalan dari ranah aslinya. Ia, yang merantau ke Jakarta dari pedesaan di pesisir Jawa Tengah, mulai rasuk oleh nilai-nilai kota dan universitas. Sementara “kedesaan” sebagai asal yang tak mungkin dibantah, tetap menunjukkan diri dengan tegas. Ia berada dalam “ketegangan identitas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Waktu itu ia tak tahu. Waktu itu ia tak tahu bahwa khayalan-khayalannya menggelikan kawan sepermainannya, ketika untuk beberapa lama, sambil bermain bola dibayangkannya padang-padang Prairie, meskipun yang mengitarinya hanyalah lapangan rumput dan bekas pabrik, di mana sebatang randu tua tegak dan pohon-pohon mangga menggelebat&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal Andersen, entahlah, barangkali ia berhasil menggambarkan keindahan Eropa padaku. Ia menyebut danau dan angsa, serta padang rumput, dan aku membayangkannya sebagai tempat yang indah. Bukankah ini sebenarnya penjajahan pikiran untuk menegaskan bahwa Eropa selalu lebih indah? Kucurigai diriku bahwa aku termakan rayuan Andersen sehingga kebun karet, sungai yang tenang, hutan durian, menjadi tidak terlalu indah (lagi) bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mengapa teman-temanku tidak menganggap Eropa sebagai keindahan? Masalahnya mungkin mereka tidak tertarik dengan buku itu dan tidak mau membacanya. Sebab itu, mereka tidak masuk ke dalam alam dan kisah Andersen tentang orang-orang di benua Eropa. Dengan demikian, mereka secara tidak sadar tak perlu melakukan perbandingan keindahan alam dan keadaan sosial tempat tinggalnya dengan dongeng-dongeng Andersen. Pendeknya, teman-temanku tidak tercampak dalam “ketegangan identitas” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, ya, kebetulan temanku mengais buku itu di tong sampah orang kaya. Kebetulan aku bertemu dengan temanku saat dia membawa buku itu. Kebetulan aku tertarik dengan gambar buku itu. Lalu kebetulan aku membaca kisah-kisah di dalamnya. Dan aku diseret imajinasiku untuk berada di tengah-tengah dunia bernama Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, aku menyelidiki siapa sebenarnya Hans Christian Andersen yang meracuni pikiran masa kanakku. Dari sejarah yang umum, beginilah kuketahui tentang dia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andersen lahir di kawasan kumuh Odense, selatan Denmark, 2 April 1805. Ayahnya, Hans Andersen adalah seorang pembuat sepatu yang miskin dan buta huruf yang merasa dirinya masih keturunan bangsawan. Sedangkan ibunya, Anne Marie Andersdatter, bekerja sebagai buruh cuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya meninggal pada 1816. Sejak itu, ia menjalani masa sulit dengan bekerja pabrik rokok, menjadi penenun dan penjahit, serta kerja serabutan. Pada 1819 ia merantau ke ibukota Denmark, Kopenhagen, dengan niat menjadi aktor. Dalam tiga tahun masa sulitnya di Kopenhagen, Andersen bertemu dengan raja Denmark, Frederik VI. Karena tertarik dengan penampilan Andersen, Frederik VI mengirimkan Andersen ke sekolah bahasa di Slagelse dan Elsinore. Andersen menjalani pendidikannya ini hingga 1927.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1872, Andersen jatuh sakit dan terbaring tanpa daya selama tiga tahun di Rolighead, dekat Kopenhagen. Menyedihkan, ia meninggal dunia tanpa pernah menikah. Perempuan yang disebut-sebut sebagai “cinta mati” Andersen, Riborg Voigt, menolak cintanya dan menikah dengan lelaki lain pada 1831. Pengalaman cintanya itu pernah dituangkan Andersen dalam kumpulan puisi berjudul &lt;i&gt;Phantasier og Skisser&lt;/i&gt;. Pada 14 Agustus 1875, Andersen mati dalam keadaan bujang dan diliputi cemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui sejarah hidup Andersen, barulah aku mulai menyadari apa yang menyebabkan kisah-kisah Andersen begitu berkesan dalam pikiran masa kanak-kanakku. Latar belakang ekonomi keluarga Andersen dan keluargaku tak jauh berbeda. Itulah sebabnya, mungkin, meski dongeng-dongeng Andersen berlatar Eropa, tapi mengena padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andersen senantiasa memunculkan tokoh-tokoh miskin dan tertindas dalam tiap tokoh-tokohnya. Mungkin, meski aku tak pernah merumuskannya waktu masih anak-anak, masa kanak-kanakku adalah masa yang tak berbeda dengan tokoh-tokoh rekaan Andersen. Andersen datang padaku menjadi teman, bahwa dalam hidupku yang sepi di masa kanak, ada bagian dunia lain yang juga menghadapi soal yang sama dengan apa yang kuhadapi. Andersen mendamaikan kesusahan hatiku dengan mengajakku bertualang ke Eropa, meski di dunia khayal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mengenang kembali Andersen pada saat masa remaja dan dewasa, lagi-lagi kutemui apa yang dialami Andersen. Yakni, sepi pada perempuan dan selalu diliputi cemburu. Andersen, kau membuatku mengakui apa yang tak mau kuakui. Terima kasih racunku, teman masa laluku, dan teman masa depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, April 30 2010 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-4825109194582544216?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/4825109194582544216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=4825109194582544216&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4825109194582544216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4825109194582544216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_05_01_archive.html#4825109194582544216' title='Antara Hans Christian Andersen dan Aku'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-3777684571599252942</id><published>2010-04-29T20:22:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T20:26:06.948-07:00</updated><title type='text'>Nikmat yang Berjarak</title><content type='html'>&lt;div class="note_header"&gt;&lt;div class="note_title_share clearfix"&gt;&lt;div class="note_title"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bayangkan seorang penyerang belia dalam sebuah pertandingan  sepakbola penting. Katakanlah, sebenarnya ia adalah penyerang penuh  bakat yang baru mulai mampu membukakan mata dunia akan kebesaran  bakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pertandingan penting ini bukan saja penting bagi karir  kesepakbolaannya, tapi juga penting bagi jati dirinya, bahkan bagi rasa  malu bangsa dan negaranya. Sebagai seorang pemain muda, tak ada jalan  lain baginya selain memasukkan gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga menit-menit genting, tak ada satu pun gol tercipta. Lawan memang  tangguh, tapi kesebelasan tempat sang penyerang belia  bernaung pun tak  kalah tangguh. Pertarungan yang seru dan seimbang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu ketika, ketika sorak sorai penonton riuh-rendah karena  menahan tegang dan mengendalikan harapan, sang penyerang belia  mendapatkan sebuah kesempatan yang tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja, ia berhasil mengelabui pemain belakang lawan, terus  membawa bola, juga mengelabui penjaga gawang. Ia yakin, 99 persen  kakinya akan menghasilkan gol, lalu kemenangan berlari menjemput  kesebelasannya, memberikan ia jati diri, dan memberikan kebanggaan bagi  bangsa dan negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, tendangan yang tak kencang namun mengecoh itu hanya membentur  tiang. Hanya tiga kali ia mendenguskan nafas, wasit meniup peluit  panjang tanda usainya pertandingan. Kebahagiaan yang sudah  berpandang-pandangan dengannya tiba-tiba menutup mata, lalu terbang  menjauh bak lelayang putus yang tak terkejar karena lenyap ditelan  langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak perpanjangan waktu pun digelar. Namun tak ada bola yang bersarang  di gawang. Nasib buruk, adu pinalti menaklukkan kesebelasan si penyerang  belia. Dalam gemilang tepuk tangan dan sorak pendukung lawan, sang  penyerang belia lunglai: menjatuhkan lutut ke tanah sambil membiarkan  air mata runtuh menyentuh rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak, berpuluh tahun kemudian, setelah ia gemilang sebagai pemain  profesional, bahkan sempat menjadi pelatih yang melegenda, bayangkan ia  menulis sajak berdasarkan kenangannya atas pertandingan penting itu.  Demikian bunyi sajaknya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nikmat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Segala hasrat                                                                                                                                                               &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Tapi tak didapat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; adalah nikmat &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; yang paling padat&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, tokoh penyerang belia itu adalah fiktif, pun kesebelasan dan  bahwa ia menulis sajak yang berjudul “Nikmat.” Namun sajak sederhana  dan kuat-ketat itu bukan fiktif. Ia sajak yang nyata dan ditulis oleh  pengarang yang benar-benar ada. Sajak pendek itu ditulis oleh penyair  negeri jiran bernama A Samad Said. Samad Said lahir di Durian Tunggal,  Malaka, pada 1935.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungan tokoh fiktif dengan segala masalahnya dengan sajak A  Samad Said?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawabnya, mari lontarkan lagi pertanyaan: bagaimananya caranya  menjelaskan penderitaan dalam dunia yang sedang mengusung “nikmat”  sebagai peristiwa utama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak pendek namun padat karangan penyair kenamaan negeri jiran itu  dalam pembuka tulisan ini telah membawa saya ke dalam dunia kepenyairan  yang penuh simbah peluh dan darah. Ia agaknya sedang berfilsafat tentang  kehidupan sehari-sehari seorang penyair dalam dunia yang tak mungkin  kering dalam puisi: penderitaan. Yakni penderitaan yang dapat dijelaskan  sebagai “kenikmatan yang paling padat adalah segala hasrat yang tak  didapat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samad Said membenturkan wawasan kenikmatan yang berarti kesenangan  dengan rasa sakit sebagai hasrat yang tak pernah didapat. Kepada  pembaca, ia sedang memberikan gelanggang di mana pembaca dipaksa untuk  menilai penderitaannya sebagai (mungkin) kenikmatan terbaik dalam  kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian penyair mungkin lebih senang menyebut penderitaan itu sebagai  “momen puitik.” Momen di mana suatu peristiwa meninggalkan jejak yang  dalam dan dapat digubah menjadi puisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan momen puitik pun  menyergap penyerang belia yang tak jadi mencetak  gol dalam pertandingan itu. Seluruh proses pertandingan, bahkan latihan  yang ia jalani sebelum pertandingan, boleh jadi ia lakukan hanya demi  pertandingan penting yang menyakitkan itu. Dalam saat genting, saat ia  membawa bola sendirian, berhasil mengecoh pemain belakang berikut  penjaga gawang, lalu dengan doa yang penuh menyepak bola, adalah  peristiwa yang sensasional. Namun, sensasi itu kian berlipat ganda  setelah gol itu tak jadi sebab bola membentur gawang. Sensasi menjadi  luka setelah pertarungan itu diakhiri adu pinalti yang dimenangkan  lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan ia berhasil mencetak gol tunggal dan memenangkan pertandingan  itu, tentu sensasinya tak kalah gila. Sebab ialah pahlawan bagi bangsa  dan negaranya, serta di tempat dan waktu itulah ia menemukan “siapa  dirinya.” Kemenangan itu juga membawa kesan serta akan terkenang  sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bukankah penderitaan selalu lebih lekat dalam ingatan ketimbang  rasa senang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa girang yang hanya dalam sekejap pada diri pemain belia itulah  pengalaman puitik. Ia yang hampir saja berlarian ke tepi lapangan untuk  merayakan golnya harus mundur terus-menerus sampai ke titik duka  terdalam. Gol dan kemenangan bagi penyerang belia itu adalah “segala  hasrat yang tak didapat”. Beberapa saat usai pertandingan itu, mungkin  ia menganggap kiamat membentang di seluruh tribun penonton dan langit di  atas stadion: ia sama sekali tak mengalami nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak mudah menghentikan kehidupan dalam keadaan duka yang paling  basah sekalipun. Sang penyerang harus tetap hidup, jatuh cinta pada  perempuan, beranak-pinak, menjadi uzur, sakit, lalu pergi mengunjungi  ajal. Dalam rentang waktu yang membuat ia mengendapkan kenangannya itu,  ia mulai mengenangnya dengan senyum. Itulah saat rasa sakitnya mulai  berubah menjadi kebanggaan. Kebijaksanaan yang sudah mulai kokoh dalam  jiwa membuatnya merasakan kenikmatan atas kegagalannya mencetak gol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jarak.” Itulah yang menjadi rahasia bagaimana sang pemain dapat  menyuling rasa sakit menjadi sejenis kenikmatan? Dalam dunia puisi,  penyair Sutardji Calzoum Bachri mengatakan, “maka itu wahai penyair,  jika engkau kebanjiran, menulislah di atas atap agar engkau tidak mudah  tenggelam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Sutardji, seorang penyair yang terjebak dalam situasi kebanjiran,  harus naik ke atap, dan membangun jarak dengan banjir itu sendiri untuk  meraih kearifan yang akan dieksepresikan dalam puisi. Dari atas atap,  penyair mungkin dapat melihat dari kejauhan sebatang pohon kelapa yang  tenggelam separuh, sumber air serta arus yang tak kencang, suara  orang-orang yang bahu-membahu menyelamatkan harta benda, tangis anak  kecil. Di atas atap, ia mungkin terharu mendengar tangis bayi yang  kedinginan, mungkin juga ia mengutuk pemerintah yang tak becus mengatur  sistem air, mungkin juga ia kian mengagumi alam yang kehendaknya tak  dapat dibantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia berada di dalam air, tentu ia tak sempat melihat hal-hal yang  mengharukan hatinya itu. Sebab ia sibuk menyelamatkan diri, kerabat,  atau harta bendanya. Dengan berada di atas atap, ia seperti masuk ke  dalam apa yang disebut Sutardji “realitas lain” melalui realitas  keseharian/peristiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan penyerang belia, ia mungkin tak dapat melihat makna yang  arif saat ia tertunduk layu sesaat setelah adu pinalti. Namun, hidup  tetap memberikannya jarak pada rasa sakitnya. Jarak itu dapat dikatakan  rentang usia saat ia mengalami kegagalan mencetak gol dengan saat ia  menulis sajak tentang kegagalannya. Lewat jarak usia itu, barangkali  saja ia bisa berpikir bahwa untuk menemukan keberhasilan, ia harus  mempertaruhkan jati diri serta harga diri bangsa dan negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ia akan menitikkan air mata untuk yang kesekian kali. Namun, air  mata itu sudah menjadi air mata yang berbeda. Ia adalah air mata yang  mengalir dari mata air yang jauh dan melewati berpuluh tahun perjalanan  kehidupan. Dalam setiap persinggahannya, air mata itu terus-menerus  berusaha menjadi “kristal”. Kristal itulah yang menjelma sebagai “nikmat  terpadat dari segala hasrat yang tak didapat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan penderitaan, adalah sejarah yang tak akan pernah habis dalam  kehidupan manusia. Barangkali, cara melihat kegagalan yang digunakan  penyerang belia yang sudah menjadi tua itu dapat kita pinjam untuk kelak  mengenang ketidakterdugaan yang mutlak dalam hidup ini. Sebagaimana  juga cara Samad Said, sebagaimana juga cara Sutardji Calzoum Bachri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, April 23 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt; &lt;input name="charset_test" value="€,´,€,´,水,Д,Є" type="hidden"&gt;&lt;input name="fb_dtsg" value="AE8H1" type="hidden"&gt;&lt;input id="feedback_params" name="feedback_params" value="{&amp;quot;actor&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;target_fbid&amp;quot;:&amp;quot;387049567559&amp;quot;,&amp;quot;target_profile_id&amp;quot;:&amp;quot;785254474&amp;quot;,&amp;quot;type_id&amp;quot;:&amp;quot;14&amp;quot;,&amp;quot;source&amp;quot;:&amp;quot;2&amp;quot;,&amp;quot;assoc_obj_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;source_app_id&amp;quot;:&amp;quot;&amp;quot;,&amp;quot;extra_story_params&amp;quot;:[],&amp;quot;check_hash&amp;quot;:&amp;quot;3b04ac5d145932c1&amp;quot;}" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;input id="post_form_id" name="post_form_id" value="54f4103f25913e48eb65418239c98778" autocomplete="off" type="hidden"&gt;&lt;span class="UIActionLinks  UIActionLinks_bottom" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;action&amp;quot;}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-3777684571599252942?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/3777684571599252942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=3777684571599252942&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/3777684571599252942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/3777684571599252942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_04_01_archive.html#3777684571599252942' title='Nikmat yang Berjarak'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8303346644538368105</id><published>2010-04-21T06:03:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T23:28:15.378-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Kejelataan</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Kekejaman yang paling keji adalah kemiskinan (Mahatma Gandhi)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan adalah mayoritas. Dan negara dunia ketiga adalah rumahnya yang utama. Sebab itu, segala soal tentang kemiskinan menjadi penting. Yang miskin selalu menjadi buah bibir, selalu menjadi soal dengan membangkitkan setiap musuhnya demi menghidupkan pertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena yang miskin adalah mayoritas, maka ia tak dapat dianggap enteng. Itulah sebabnya banyak penguasa, dan calon penguasa, di tempat mana pun, mencoba-coba membahas kemiskinan. Kemiskinan menjadi penting karena ia adalah modal besar untuk dipertukarkan dalam padang kekuasaan yang tak bertuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dunia menyelipkan tangan kanannya untuk menuju ke kiri tubuh melewati punggung. Kemiskinan itu dibahas namun di saat bersamaan diringkus ke dalam karung bolong hingga tak pasti lagi tampak lekuk tubuhnya. Inilah situasi di mana kemiskinan itu dibenci namun ditarik ke gelanggang untuk mencapai kemenangan-kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang miskin itu disederhanakan dengan nama “angka kemiskinan”, atau “pendapatan per kapita”, atau “jumlah minimal dollar sebagai pendapatan minimal per hari setiap warga di suatu negara.” Yang miskin, dalam diskursusnya sebagai mayoritas, bukan lagi orang-orang dengan kulit yang nyaris bersisik, wajah yang berminyak karena akrab dengan polusi. Tapi ia adalah angka-angka dalam mulut seorang menteri bidang ekonomi atau bidang kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malanglah yang miskin, sebab model hidup seperti yang mereka tampilkan pada dunia menjadi model yang kotor. Tak ada satu negeri pun di bumi ini yang mencita-citakan masyarakatnya menjadi miskin. Terminologi miskin menyala sebagai kata sifat untuk dijadikan musuh. Dari sana, negara pun mulai mengatur-ngatur bagaimana yang miskin dapat dilenyapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah kemiskinan itu hilang meski semua pemimpin bercita-cita tentang hilangnya kemiskinan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara dunia ketiga adalah akuarium yang jernih untuk melihat keadaan itu. Pun, pengertian kemiskinan dalam akuarium itu baru bisa muncul setelah ada sesuatu di luar akuarium yang bisa menyimpulkannya sebagai kemiskinan. Boleh jadi, sesuatu dari luar akuarium yang pandai bicara itu kita sebut dengan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemiskinan adalah &lt;i&gt;“given”&lt;/i&gt; dalam jiwa kehidupan. Maka dari itu, tak ada jiwa yang tak kenal dengan kemiskinan, pun anak raja yang sejak lahir hingga mati tetap jadi raja. Kemiskinan adalah wajah dunia sebenarnya. Sementara kesejahteraan, hanyalah upaya yang terus-menerus diupayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal itu tidak terdengar sebagai keputusasaan. Sebab, justru dalam upaya yang abadi pengertian sejahtera itu bisa diperoleh. Segalanya terukur dalam sebuah pusaran yang berputar tak menentu-sejumlah perubahan kecil juga signifikan. Sementara orang-orang yang berjarak dari pusaran itu, selamanya akan menjadi miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang miskin sebagai orang-orang jelata, sebagaimana yang sering bergulung dalam air ludah menteri bidang keuangan atau bidang kesejahteraan, tentu adalah pihak yang merugi berlipat ganda. Jelata, tidak saja miskin secara harta, tapi juga kemiskinan hartanya itu merusak jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya perilaku-perilaku jelata seperti mencuri ayam, merampok toko, mencopet di pasar tradisional, menjambret di bis, memalak, selalu dijahanamkan. Kemiskinan, rentan jatuh pada kegiatan yang melompat ke luar batas norma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friedrich Nietzsche dalam Zarathustra episode Tentang Rakyat Jelata, bahkan dengan sinis mengomentari jelata sebagai orang kehausan, menjijikkan, dan penyakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kehidupan adalah air mancur kegembiraan; tetapi di mana para jelata juga minum, semua sumur menjadi teracuni…Aku mencintai semua yang bersih tetapi aku tidak suka melihat mulut-mulut menyeringai dan kehausan dari orang-orang penyakitan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi jelata yang sebenar-benar jelata, memang pernyataan ini menyakitkan. Kerugian yang mereka terima berlipat ganda: mental dan material. Tetapi, mari kita bersihkan kata “jelata” itu sehingga sekedar menjadi kata sifat. Dan mari kita gunakan “sifat jelata” itu untuk menunjukkan kejelataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat jelata, atau sifat sebagai yang miskin, itulah yang sebenarnya berbahaya. Miskin sebagai sifat itulah yang menyebabkan tak ada orang di dunia ini yang benar-benar tak miskin. Seseorang boleh jadi adalah pengusaha atau politikus terkenal, tapi tidakkah dalam banyak atau sedikit waktu mereka menggunakan cara-cara yang merugikan orang lain? Jika seorang pengusaha dinilai oleh buruhnya tak adil, maka ketidakadilan itu adalah sifat miskinnya. Sebab, bukankah yang miskin adalah pihak yang rentan bertindak mengambil sesuatu yang bukan haknya? Bukankah dia sendiri menjadi tidak adil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, Zarathustra berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dan aku balikkan punggungku terhadap aturan-aturan bilamana aku melihat apa yang kini mereka sebut sebagai peraturan: tukar-menukar dan tawar menawar demi kekuasaan-dengan jelata!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lagi-lagi, jelata itu adalah wajah dunia yang sebenarnya. Berkata Zarathustra, dan banyak orang yang berpaling dari kehidupan, sebenarnya berpaling dari para jelata: mereka tidak ingin berbagi sumur dan api dan buah dengan jelata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini sifat kemiskinan itu menampakkan wajahnya yang ganda, yang bersisian ibarat kembar siam yang mati kedua-duanya jika dipisahkan. Kemiskinan dan kejelataan adalah musuh, di sisi lain, dia pulalah yang menjadi pupur di wajah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi jelata yang ada dalam angka-angka di mulut menteri bidang keuangan atau bidang kesejahteraan, kehidupan adalah dunia dan dirinya sendiri sebagai manusia yang terlanjur lahir. Hidup bernilai sebagai kegagalan penciptaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, hukum ini juga berlaku bagi mereka yang mampu keluar dari air liur menteri bidang keuangan atau bidang kesejahteraan. Mereka memang tak akan dihantui rasa lapar dan mandi di air yang kumuh, tetapi kemiskinan yang tak punah di sekelilingnya akan menyebabkan kesejahteraan bukan sesuatu yang mutlak. Segalanya terancam. Dan hidup dalam keadaan terancam adalah hidup yang kekurangan, sementara hidup dalam kekurangan adalah kemiskinan, lalu kemiskinan adalah jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menganggap rasa jijik Zarathustra terhadap jelata sebagai inspirasi. Ini bisa dilakukan jika kita membelokkan pikiran kita sesuai arah yang kita mau pada pernyataan-pernyataannya yang sekali didengar akan menghunjam ulu hati jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jadi, biarlah kita hidup di atas mereka bagaikan angin-angin teguh, bertetangga dengan elang-elang, bertetangga dengan salju, bertetangga dengan matahari: demikianlah angin kuat itu hidup.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari seabad sejak kematian sang filosof, kemiskinan yang ia hentakkan sampai terbenam ke bumi itu tak jua lenyap, malah makin terbang menyaingi sayap “elang-elang” di “angin-angin teguh.” Tentulah, ia bercerita tentang cita-cita. Lazimnya cita-cita, adalah inspirasi, perangsang yang membuat kehidupan bergerak menghasilkan zaman. Itulah inspirasi mencibir kemiskinan agar kemiskinan itu lenyap. Meski perasaan belum pasti, sebab yang miskin masih bercakap-cakap dengan jelas di dekat lubang telinga kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Jakarta, April 19 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8303346644538368105?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8303346644538368105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8303346644538368105&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8303346644538368105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8303346644538368105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_04_01_archive.html#8303346644538368105' title='Kejelataan'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8894495432412298379</id><published>2010-04-21T05:11:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T23:27:50.165-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Penjajahan Air Conditioner</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;“Enak juga ya, semilirnya,” ujar seorang kawan yang matanya setengah mengantuk di bawah lubang penyejuk ruangan &lt;i&gt;(air conditioner/ac)&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Lho, kok semilir?” protes saya. Saya tiba-tiba tersengat dan merasa terganggu dengan kata semilir untuk angin yang berasal dari mesin penyejuk ruangan itu. Buat saya, “semilir” terlalu indah untuk menunjuk hembusan angin dari ac.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Apa sebab?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Barangkali benar kata para ahli linguistik itu, bahwa bahasa adalah juga sebuah dunia. Bahasa, dalam sistemnya, memiliki aturan mainnya sendiri yang tidak (selalu) bisa diterabas begitu saja oleh masyarakat yang menggunakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bagi masyarakat Indonesia, apa yang terbayang ketika mendengar kata “se-mi-lir?” Jika ia digunakan untuk hubungannya dengan angin, Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikannya sebagai “sejuk karena ada angin yg bertiup perlahan-lahan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jika kata semilir itu dibaca secara kaku menurut pengertian yang tercantum dalam kamus, maka tak ada yang salah dengan “angin yang semilir dari lubang ac.” Lagi-lagi, karena bahasa adalah sebuah dunia-semacam organisme, ia terikat dengan segala situasi yang melingkunginya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bahasa, atau kata, merupakan abstraksi dari benda-benda dan peristiwa. Dengan menyebut suatu kata, maka ia memunculkan imaji dalam pikiran yang mengasosiasikan kata tersebut pada sesuatu yang konkrit. Misalnya, kata semilir akan menunjuk pada peristiwa nyata adanya angin yang bertiup perlahan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi apakah peristiwa bertiupnya angin itu sama sekali bebas dari situasi? Apakah ia lahir tanpa masyarakat? Tidakkah mungkin ada pohon, manusia, rumput, bukit, gedung, pesawat terbang, anak kecil, layang-layang, atau antene, di saat angin perlahan itu muncul? Di titik inilah bahasa menggugat: ia tidak bisa digunakan disembarang tempat. Jika pun digunakan, ia akan menggugat pertalian wawasan kultural dan kebahasaan masyarakat yang menggunakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Semilir, dalam kenangan saya, akrab dengan alam pedesaan Indonesia yang tropis, hijau, penuh pohonan, padang rumput dan gembala, serta pantai. Kenangan saya itu menjadi wajar karena memang demikianlah alam asli Indonesia. Dan kata semilir itu digunakan masyarakat Indonesia jauh sebelum teknologi bernama ac masuk dalam keseharian masyarakat Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bagi saya, ac dan angin di padang rumput adalah sesuatu yang sangat jauh bedanya. Di padang rumput, angin bukanlah hasil rekayasa, setidaknya, demikianlah kita membayangkan angin saat dilekatkan dengan kata semilir. Sementara ac, adalah teknologi yang memanipulasi angin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lalu, apa kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk menyebut angin perlahan yang berhembus dari ac? Inilah pelik bahasa. Tidak semua kata dari bahasa Inggris dapat diterjemahkan ke bahasa Indonesia sesuai konteks tanah air di mana kata itu lahir. Pendeknya, tak semua bahasa asing itu memiliki ungkapan yang pas dalam lidah melayu kita. Akibatnya, kita dipaksa untuk memadan-madankan bahasa asli kita pada benda yang datang dari jauh itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Gejala ini tak bisa dipandang sebagai masalah pelik bahasa semata. Saya melihatnya sebagai penjajahan bahasa (saya kira ada ahli yang menjelaskan soal ini, sayang wawasan saya soal teori linguistik tak luas).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Teknologi seperti ac, sebagai produk masyarakat barat, ia juga akan membentuk pola hidup pada kita. Memang, tak bijak jika hanya dengan alasan mempertahankan keaslian tradisi, teknologi dari barat hendak ditolak mentah-mentah. Masalahnya, apakah kita berada dalam “posisi yang setara” dengan teknologi yang asing itu saat menyambutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Masalahnya lagi, dunia sudah tampil secara tak seimbang. Gagap barat dan teknologinya (sekaligus memujanya) memang sudah kita lewatkan gonjang-ganjingnya sekitar dua-tiga dekade lalu. Tapi, ia tetap berlangsung dalam bentuk yang lebih ajeg dan smooth: di alam bawah sadar. Dan, karena sudah terlanjur tak seimbang, saya yakin, itu adalah penjajahan yang ideologis. Sebagaimana seorang kawan saya yang menggunakan kata semilir tanpa merasa ada yang ganjil saat menyebutnya untuk ac.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Apakah kita berada pada posisi yang seimbang saat menggunakan semilir untuk ac? Tidakkah sebenarnya kita harus menahan benda mati seperti ac di pintu rumah kita sebelum kita mencarikannya tempat yang justru menambah indah rumah kita? Kasus seperti semilir dan ac saya kira bukan satu-satunya dalam problem kebahasaan kita. Dan penjajahan terselubung itu masih berjalan dengan dingin seperti aliran sungai bawah tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Berhati-hatilah dengan benda mati di sekeliling kita! Sebab, pada dirinya terkandung sesuatu hegemoni yang mampu menjajah kesadaran manusia melalui bawah sadar. Jika Louis Althusser menyebut manusia tidak mungkin lahir ke dunia yang nir-ideologis, maka kini, benda-benda juga lahir ke dunia dan menciptakan ideologi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jakarta, April 7 2010 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8894495432412298379?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8894495432412298379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8894495432412298379&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8894495432412298379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8894495432412298379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_04_01_archive.html#8894495432412298379' title='Penjajahan Air Conditioner'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-7836026220011160095</id><published>2010-02-25T03:07:00.000-08:00</published><updated>2010-02-25T03:10:09.129-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Antara Naluri (Indonesia) Dan Kemakmuran (Singapura)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;“LKY (Lee Kuan Yew), begitu dia dikenal di Singapura, lebih dari sekedar  ‘bapak bangsa.’ LKY adalah penemu, seolah dia yang merumuskan secara  ilmiah negeri itu dengan racikan yang pas antara Republic karya Plato,  latar belakangnya yang pendidikan tinggi Inggris, represi tangan besi  yang kuno.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Demikianlah cara majalah National Geographic (NG) edisi bahasa Indonesia  memuji LKY. Majalah geografi internasional itu mencantumkan pujian bagi  LKY sebagai bagian alinea pembuka artikel bertajuk “Kisah Sukses  Singapura” edisi Februari 2010.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Apa yang ingin dikatakan oleh feature NG tentang kemegahan negeri kecil  itu adalah sebuah taktik untuk mengarahkan masyarakat dalam suatu  disiplin bersama. Disiplin yang diyakini akan membawa kemakmuran. Ada  dua kata kunci mengenai itu: “LKY” dan, menggunakan istilah NG,  “rekayasa masyarakat.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; LKY adalah pioneer yang merancang Singapura hingga mengundang decak  kagum sebagaimana pulau di ujung selatan semenanjung Malaya itu tampil  seperti sekarang. Ia memimpin Singapura selama 26 tahun sebelum turun  takhta pada 1990. Namun gaungnya sebagai tokoh bagi rakyat Singapura,  barangkali dapat disamakan dengan Leo Tolstoy semasa hidup bagi Rusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Sejak memimpin Singapura pada 1965, LKY berhasil membuat warga Singapura  tidak membuang sampah sembarangan. Ia juga mampu menjadikan Singapura  sebagai negara industri tersukses di Asia Tenggara. Bagaimana LKY  melakukan semua itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Saya ingat, LKY datang ke Indonesia saat Soeharto meninggal dunia. LKY  datang sebagai seorang sobat lama yang mengunjungi seorang kawan yang  lebih dulu berpulang. Dalam beberapa hal, LKY dan Soeharto memiliki  keyakinan bersama dalam memandang apa yang perlu dilakukan bagi  masyarakatnya. Keyakinan itu adalah rekayasa masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Kata rekayasa, mengasumsikan ada sesuatu yang “asli” untuk kemudian  “dipalsukan” demi suatu kepentingan. LKY merekayasa Singapura yang  semula daerah kumuh dan penuh pengangguran menjadi surga belanja. Tentu  saja, memalsukan keaslian (meski dianggap mengarah pada kebaikan)  menciptakan sejumlah problem. Dan problem yang seolah menjadi cacat  dalam keberhasilan Singapura adalah soal kebebasan dan demokrasi.  Beberapa hal yang dapat disebutkan mengenai cacat itu adalah minimnya  kebebasan pers dan kebebasan berekspresi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Namun, LKY tentu dapat saja menangkis itu dengan mengasumsikan bahwa  ketidakbebasan itu membuahkan kemakmuran ekonomi. Masyarakat tidak perlu  turun ke jalan untuk berbicara soal kemiskinan, karena kemiskinan itu  sudah teratasi. Tetapi, tidakkah masyarakat makmur tanpa kebebasan  adalah masyarakat yang sakit? Sebab, naluri menjadi bebas itu adalah  salah satu naluri yang paling manusiawi dalam diri setiap manusia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Untuk menjawabnya, mari mengalihkan pandang ke negeri besar di seberang  Singapura dengan jarak tempuh satu jam 45 menit perjalanan kapal ferry.  Dalam waktu yang tak sampai dua jam itu, warga Singapura akan sampai di  Batam, sebuah pulau kecil yang masuk dalam bagian negara Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Jika malam turun, masyarakat Batam dapat melihat kelap-kelip lampu-lampu  Singapura. Betapa gemerlapnya! Dari Singapura, Batam mungkin juga  kelihatan. Tapi, apakah lampu-lampu Batam tampak &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; segemerlap Singapura? Saya yakin Batam tidak lebih terang dari  Singapura.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Perbandingan gemerlap antara dua pulau berdekatan itu seolah menjelaskan  perbandingan dua negara. Batam akan menyaksikan gemerlapnya lampu-lampu  Singapura sebagai lambang kemakmuran. Lampu yang gemerlap itu dapat  menjadi tanda untuk menafsirkan keadaan negara itu secara keseluruhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Sebaliknya, Singapura akan menyaksikan Batam sebagai kampung kecil yang  redup. Jika Batam bisa menafsirkan kemeriahan lampu-lampu Singapura  sebagai simbol kemakmuran, maka bukan tidak mungkin Singapura  menafsirkan lebih redupnya Batam dalam pengertian sebaliknya, yakni  ketidakmakmuran. Uniknya, ketidakmakmuran Batam tidak saja menjadi  definisi bagi Batam, tapi bagi negeri besar yang menaunginya, yakni  Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Di sini terkandung ironi: jika Batam membaca lampu-lampu (pulau)  Singapura untuk membaca keseluruhan negeri, maka seharusnya, Singapura  tidak bisa membaca Indonesia melalui Batam saja. Lagi-lagi, inilah  ironi, dalam soal ketidakmakmuran, tidak lebih terangnya lampu-lampu  Batam ketimbang Singapura, dapat menjelaskan keadaan umum seluruh  Indonesia: kemiskinan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Lalu, apakah Indonesia tidak pernah merekayasa masyarakat demi  kemakmuran seperti yang dicapai Singapura?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Sekali lagi, kita akan menyaksikan pertemuan antara LKY dan Soeharto.  Garis singgung itu bernama “tangan besi.” Dalam hal ini, LKY dan  Soeharto, menggunakan tangan besi untuk menggeser sesuatu, meminjam  istilah yang digunakan Robertus Robet, yang antropologis menjadi  semata-mata politis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Soeharto menghabiskan waktu 32 tahun untuk proyek rekayasa  masyarakatnya. Jika LKY dicatat sebagai pemimpin yang berhasil, maka  Soeharto jatuh dari kekuasaan dengan label “diktator.” Perbedaan ini dapat dijelaskan dengan sederhana dalam sarana pelayanan  publik. LKY sampai pada kemakmuran karena tangan besinya berbanding  lurus dengan baiknya sarana pelayanan publik. Sementara Soeharto tak  kunjung sampai pada kemakmuran (menyeluruh) karena tangan besinya justru  mengabaikan sarana pelayanan publik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Permaafan boleh saja diajukan, bahwa tak mudah mengurus negeri seluas  dan semajemuk Indonesia. Namun di situ pula masalahnya muncul: rekayasa  masyarakat yang dijalankan dengan tangan besi bagi negeri yang luas dan  majemuk bagaikan menimbun api dalam sekam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Robertus Robet dalam artikel bertajuk “Gagasan Manusia Indonesia dan  Politik Kewargaan Indonesia Kontemporer” (majalah Prisma, edisi Juni  2009) mengatakan, orde baru menggunakan istilah “manusia Pancasila dan  manusia Indonesia seutuhnya” sebagai cara untuk mengintegrasikan wilayah  mental-biologis menjadi politis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; “Sejak itu, muncul istilah ‘aspek-aspek’, yakni semacam pembidangan yang  membagi manusia berdasarkan bagian-bagian tertentu: aspek moral, aspek  mental, aspek fisik, aspek emosional. Istilah tersebut sangat digemari  dalam diskursus manusia di Indonesia dan biasanya dipakai untuk  menegakkan ciri partikular manusia Indonesia, misalnya, bahwa ‘manusia  Indonesia’ sebagai ‘orang timur’ harus memiliki aspek ‘rasa’ selain  aspek akal. Singkatnya, melalui konsep itu, Orde Baru bisa secara  sewenang-wenang menentukan siapa saja yang ‘warga indonesia’ dan ‘bukan  warga Indonesia’, siapa saja ‘warga yang baik’ dan ‘warga yang tidak  baik’”(Robertus Robet, Prisma edisi Juni 2009;27-28).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Rekayasa masyarakat ala Soeharto mereduksi eksistensi etnografis sebagai  sesuatu yang inheren dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Sebuah  ambisi totalitas nilai (yang juga dilakukan LKY) yang seringkali  diprasangkai sebagai “Jawanisasi”. Orde Baru menjadi juru dandan untuk  penampilan dan ekspresi kultural warga negara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; “…kita bisa menyimpulkan bahwa melalui proyek ‘manusia Indonesia  seutuhnya’, Orde Baru tidak hanya menghancurkan etnografi, tetapi secara  filosofis Orde Baru juga bermaksud menghancurkan subjektivitas. Di  dalam Orde Baru, subjektivitas tidak dibiarkan menjadi pencarian  eksistensialis per individu, dia dibentuk dan diobjektivikasikan. Di  dalam Orde baru, individu tidak mencari dirinya. Negaralah yang  membentuk dan mengisi siapa dan apa makna kediriannya secara  keseluruhan, bahkan hingga ke kehidupan spiritual”(Robet, Prisma edisi  Juni 2009;28).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Di Singapura, perlawanan terhadap totalitas filosofis tersebut terwujud  dalam penggunaan “Singlish” (bahasa melayu Singapura yang bercampur  bahasa Inggris). Mark Jacobson, penulis artikel “Kisah Sukses Singapura”  di NG, mengomentari penggunaan Singlish sebagai perlawanan terhadap  represifitas total pemerintah. Mark menulis, “Singlish tampak seperti  serangan subversif yang cemerlang terhadap pengekangan yang, menurut  pemerintah, sedang diusahakan untuk ditangani.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Di Indonesia, perlawanan terhadap totalitarian itu muncul dalam banyak  bentuk. Perlawanan itu menemukan momen puncaknya pada gerakan reformasi  1998. Lalu apakah yang kita hasilkan dari momen yang belum dialami oleh  masyarakat Singapura itu? Jawabannya adalah “sebagian” kebebasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Di Indonesia, para demonstran yang menghujat Presiden Susilo Bambang  Yudhoyono dalam kaitannya dengan dugaan aliran dana Bank Century boleh  tertawa ngakak menyaksikan demonstran Singapura yang hanya diperbolehkan  berdemonstrasi di sebuah taman. Di negeri ini, hampir semua tempat  (terutama gedung-gedung pemerintahan dan parlemen) dapat dijadikan  tempat demonstrasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Baik, (sebagian) kebebasan itu memang telah kita peroleh. Namun, apakah  kita sudah terbebas dari rekayasa masyarakat yang gagal dilakukan  Soeharto? Apakah dengan lubernya tanggul kebebasan itu kita bebas  mengaku bahwa kita tidak sakit seperti masyarakat Singapura? Apakah kita  memang tidak lagi memerlukan istilah rekayasa masyarakat itu?   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Rangkaian pertanyaan itu bagaikan menempatkan kita sebagai pelaut pemula  di tengah lautan penuh badai dan gelombang. Segalanya sulit diprediksi,  karena waktu memprediksi itu habis buat mengendalikan kemudi dan  mengatur layar. Setiap waktu adalah setiap resiko, karena kehidupan  dalam badai adalah kehidupan (sekedar) untuk menyelamatkan diri dari  kematian dan berharap perjalanan sampai di tujuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Tidak seperti masyarakat Singapura, penyakit masyarakat kita bukan  muncul karena diredamnya “naluri kebebasan”, tetapi tampak dari cara  kita yang liar mengungkapkan kebebasan. Betapa liarnya!   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-7836026220011160095?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/7836026220011160095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=7836026220011160095&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7836026220011160095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7836026220011160095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#7836026220011160095' title='Antara Naluri (Indonesia) Dan Kemakmuran (Singapura)'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8683498166160536614</id><published>2010-02-17T04:13:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T04:15:00.723-08:00</updated><title type='text'>Kado*</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;sebuah kado mengalir menuju pintu kamarku. isinya, selingkar jam dinding dengan jarum patahpatah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;sambil tetap berderik, ujung patahannya menitikkan darah. merembes ke lantai merangkak ke ranjang menyebabkan bantal gulingku basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8683498166160536614?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8683498166160536614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8683498166160536614&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8683498166160536614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8683498166160536614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#8683498166160536614' title='Kado*'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-7758435231872759895</id><published>2010-02-17T03:14:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T03:26:53.141-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Kado</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sebuah kado mengalir menuju pintu kamarku. isinya, selingkar jam dinding dengan jarum yang patahpatah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil tetap berderik, ujung patahannya menitikkan darah. merembes ke lantai merangkak ke ranjang dan menyebabkan bantal gulingku basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-7758435231872759895?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/7758435231872759895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=7758435231872759895&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7758435231872759895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7758435231872759895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#7758435231872759895' title='Kado'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8231898474994692731</id><published>2010-02-15T02:49:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T02:50:05.202-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Milik Minah atau Prita?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Entah merendah atau sekedar pemanis dalam retorika, Vladimir Ilyich  Ulyanov Lenin pernah mengakui ia tidak lebih paham isi &lt;i&gt;Das Kapital&lt;/i&gt;  karya Karl Marx ketimbang buruh yang tunggang-tunggit di balik pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali tokoh pusat atas berdirinya Republik Komunis Uni Soviet itu  termasuk orang yang sentimentil. Pengakuannya itu menunjukkan bahwa ia  menganggap penghayatan dengan perasaan jauh lebih berharga ketimbang  tajamnya analisa pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruh, kata Lenin, menghayati teori-teori yang ditulis Karl Marx dalam  empat jilid &lt;i&gt;Das Kapita&lt;/i&gt;l-nya dengan perasaan. Mengapa demikian?  Karena apa yang ditulis Marx adalah segala sesuatu yang mereka (buruh)  temukan setiap hari. Pendeknya, Marx menulis segala sesuatu yang  berkenaan dengan hidup yang dirasakan buruh itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan Lenin barangkali memang tak berlebihan. Sebab, siapapun manusia  di bumi ini cenderung lebih gampang memahami tulisan yang berkenaan  dengan kehidupan mereka sendiri. Dan &lt;i&gt;Das Kapital&lt;/i&gt; adalah tentang  buruh. Mengikuti logika itu, maka dapat dipahami kerendahhatian Lenin  yang mengatakan siapapun yang bukan buruh, tidak akan dapat begitu saja  memahami &lt;i&gt;Das Kapital&lt;/i&gt;. Marx saja yang bukan berasal dari kelas  buruh, kata Lenin, harus mencapai perasaan seperti buruh dengan  perjalanan bertahun-tahun, bahkan harus mengorbankan keluarga dan  dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lenin mungkin ingin mengatakan, kelas borjuis sebagai penyambung  perasaan kelas buruh tidak selamanya diperlukan. Dan di titik inilah  Lenin bertentangan dengan pengarang besar Rusia yang menjadi sahabat  sekaligus musuhnya, Maxim Gorky. Bagi Gorky, kelas borjuis tetap  dibutuhkan karena kesadaran dan aksesibilitasnya terhadap ilmu  pengetahuan dan fasilitas mendukung revolusi. Masyarakat kelas borjuis  masih diperlukan untuk membahasakan perjuangan kelas buruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya tiba-tiba menemukan kebenaran dalam sikap Gorky itu di zaman  ini. Untuk itu, mari mengalihkan mata ke dalam geliat demokrasi di  Indonesia. Saya menemukannya dalam pengumpulan poin dukungan untuk Prita  Mulyasari. Dan saya juga menemukannya dalam kasus pencurian tiga buah  kakao yang dilakukan nenek Minah di Banyumas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Asia Tenggara, kita boleh berbangga dalam soal kebebasan. Di daratan  melayu dan indocina, barangkali tak ada negara dengan kebebasan sebesar  yang kita miliki di Indonesia. Indonesia begitu tanggap dengan teknologi  kontemporer. Dan ini mau tidak mau mempengaruhi denyut kebebasan di  negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja jejaring sosial semacam &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;. Dalam waktu yang tak  terlalu jauh jaraknya, dua peristiwa besar yang menandai intervensi  masyarakat sipil terhadap negara dicapai (salah satunya) lewat &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;.  Kemenangan fenomenal masyarakat sipil pertama adalah dihentikannya  status tersangka dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Bibit Samad  Riyanto-Chandra M Hamzah. Peristiwa kedua adalah dikumpulkannya koin  untuk Prita Mulya Sari yang dihukum membayar denda karena dituduh  mencemarkan nama RS Omni Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partisipasi publik yang mewabah dengan pesat itu, tentu tak bisa  dilepaskan dari &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;. Tumpukan manusia ”maya” yang  menunjukkan diri dalam akun-akun pribadi itu sudah dipertimbangkan  sebagai sebuah kekuatan politik. Prita adalah sebuah contoh yang baik  dan mengundang decak kagum bagi penggemar demokrasi. Dalam kasus ini,  demokrasi sudah menggeliat di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, kita juga harus mengajukan pertanyaan, kenapa kasus nenek  Minah yang dihukum karena mencuri 3 buah kakao tak segemilang kasus  Prita di media massa? Pertanyaan ini bukan sekedar mempertanyakan &lt;i&gt;magnitude&lt;/i&gt;  sebuah pemberitaan, tapi juga menguji kembali apa sebenarnya demokrasi  bagi negeri ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya menemukan satu benda: &lt;i&gt;facebook!&lt;/i&gt; Lewat ”tongkrongan” maya  itu, kasus Prita secepat kilat menyebar ke pojok-pojok, secepat kilat  kasus Bibit-Chandra! Jika demikian, bisakah kita mengajukan hipotesa:  nenek Minah tak terlalu ramai diperhatikan karena dia tinggal di daerah  nun jauh dari Jakarta dan dalam wawasannya tak mengenal &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, kemiskinan selalu menciptakan drama yang seringkali akal  sehat kemanusiaan tak sanggup menyaksikannya. Kasus nenek Minah dan tiga  buah kakao tak lain adalah soal kemiskinan. Dan kasus nenek Minah jauh  lebih dramatis ketimbang kasus Prita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak ada niat saya untuk mempertentangkan secara  berhadap-hadapan antara pembelaan terhadap Prita dan nenek Minah. Kasus  Prita tetaplah preseden yang baik untuk sejarah demokrasi kita. Namun,  di sisi lain, tidak terlalu gemerlapnya kasus nenek Minah juga membuat  kita bertanya, untuk siapakah demokrasi itu? Dan siapakah yang bisa  menggerakkan demokrasi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah, perbandingan Prita dan nenek Minah menunjukkan demokrasi itu  masihlah milik dan digerakkan oleh kelas menengah. Dalam khasanah  marxian, kelas menengah disebut dengan borjuis. Prita dan &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;  adalah fenomena demokrasi paling kontemporer di negeri ini. Prita dan &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;  adalah simbol kelas menengah. Bukankah &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt; adalah mainan  manusia perkotaan yang relatif bermental kelas menengah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kemenangan yang kita dicapai masyarakat sipil beberapa  waktu terakhir ini masihlah kemenangan kelas menengah, kemenangan kaum  borjuis. Demokrasi di negeri ini, masihlah bahasa kelas menengah, dan  kelas menengah belum mampu menerjemahkan demokrasi itu ke dalam  kegelisahan kelas jelata semacam nenek Minah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah sikap Maxim Gorky dalam perseteruan prinsip dengan Lenin  berbicara. Demokrasi, sebagai anak dari pemberontakan borjuis, masih  memerlukan borjuis. Sebab borjuis, dengan kesadaran kelasnya mampu  menggunakan dan menggerakkan fasilitas ala borjuis demi kepentingan  demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah Gorky ingin mengatakan, pencerahan dalam diri buruh, petani  miskin, dan jelata seperti nenek Minah mustahil terwujud? Sehingga kita  membutuhkan kelas menengah yang saban hari tenggelam dalam layar &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;  untuk mengancam pemerintah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati saya sebenarnya ingin sepakat dengan Lenin, bahwa kaum buruh (dan  petani dan jelata) jauh lebih mudah memahami &lt;i&gt;Das Kapital&lt;/i&gt;  ketimbang anak-anak kampus yang setiap hari membahas revolusi di negara  dunia ketiga. Oleh sebab itu, dalam suatu masa, kaum buruh, petani, dan  jelatalah yang akan memimpin revolusi dan menggerakkan demokrasi yang  dibahasakan dengan kebudayaan buruh, petani, dan jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di Indonesia yang gerak majunya seperti keong ini, kapan kita  menunggu orang-orang seperti nenek Minah punya kesadaran bahwa ada  makhluk baru bernama media massa, teknologi informasi, jejaring sosial  dunia maya, sebagai salah satu senjata untuk membela hak-haknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Gorky benar, kaum borjuis masih diperlukan dalam demokrasi.  Hanya saja, mendidik kaum borjuis untuk memahami logika dan penghayatan  hidup sebagaimana masyarakat jelata itulah yang lebih penting. Dengan  demikian, apa yang disebut dengan kesadaran kelas ”jelata” itu dapat  bersemayam dalam pikiran dan sanubari borjuis. Jika sudah demikian,  meskipun yang dianiaya adalah nenek Minah di pojok Banyumas, dengan  intervensi kelas menengah melalui teknologi, gaungnya bisa menggetarkan  daun jendela kamar tidur Barack Obama di Gedung Putih sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh! Tiba-tiba saya melihat kampus-kampus itu seperti rumah kaca yang  penghuninya tak sadar bahwa ada ”dunia besar” bernama tata surya yang  menaungi rumah kacanya! Uh, betapa lelap mereka dalam hari raya sebagai  anak muda! Uh Lenin! Uh Gorky!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 17 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8231898474994692731?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8231898474994692731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8231898474994692731&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8231898474994692731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8231898474994692731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#8231898474994692731' title='Milik Minah atau Prita?'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-4901304814373815464</id><published>2010-02-15T02:47:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T02:48:01.071-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Tentang Normal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Kamar mandi, yang nyaris kita kunjungi setiap hari, adalah tempat yang  diandaikan sebagai wilayah pencucian, penyucian. Kamar mandi, adalah  tempat membuang segala yang hina pada tubuh. Ia tempat melemparkan yang  kumuh, sekaligus menjadi tempat yang membuat kita merasa tubuh kita  kembali cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan kamar mandi, entah itu mandi, entah itu buang tai, entah  itu kencing, entah itu masturbasi, entah itu menangis, entah itu  melenyapkan duka, kita seolah mengandaikan suatu ritual tentang  ketidaknormalan. Dalam pengertian umum, yang dianggap tidak normal,  selalu menjadi subversi, marjinal. Maka itu, yang tidak normal,  seringkali kita singkirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka itulah, nyaris saban hari, saban pagi, saban sore, kita mengunjungi  kamar mandi untuk membuang apa yang dianggap tubuh kita sebagai sesuatu  yang tidak normal. Daki dan tai misalnya. Lalu, sejauh mana sebenarnya  yang normal dalam mekanisme biologis tubuh kita yang otomatis itu dapat  bertahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, kata normal itu tak lepas pula dari lingkungan masyarakat. Ia  diciptakan, tentu saja, tidak untuk sekedar menandai sesuatu peristiwa  dengan begitu saja. Kata normal seringkali dibebankan oleh kepentingan  untuk menilai sesuatu (di luar diri) sebagai sesuatu yang tak normal,  dan sesuatu (di dalam diri) sebagai yang normal. Dengan demikian,  kategori normal menjadi relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, apakah kamar mandi menjadi sesuatu yang normal bagi orang yang  hidup di jalan? Sementara mereka barangkali tak pernah mandi dalam  sebulan. Atau, apakah makna kamar mandi bagi masyarakat pedesaan yang  masih terbiasa buang air di sungai? Masihkah normalitas ala kamar mandi  itu berada pada pengertian yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi ini, sebenarnya normalitas itu tidak pernah ada. Ia, hanya  ada, ketika kita mempersandingkannya dengan apa yang kita sebut dengan  tidak normal. Orang jalanan yang tidak mandi berhari-hari dapat menjadi  pembanding bagi kita bahwa “mereka” tidak normal, maka itu janganlah  meniru hidup yang seperti itu. Sebab, penyakit akan terlalu gampang  merasuk tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jika dalam suatu masyarakat yang belum mengenal standar kesehatan  “normal”, apakah penyakit yang datang itu dinilai sebagai sesuatu yang  datang dari lubuk ketidaknormalan karena pola hidup yang tak bersih? Di  titik ini, yang “normal” mungkin masih dapat diterima sebagai nilai  bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lagi-lagi, apakah benar kehidupan normal sungguh-sungguh ada?  Ataukah kita setiap hari sebenarnya hanya mengandaikan kehidupan yang  normal sebagai “ide” sembari mencoba mencocok-cocokkan kehidupan ini  dengan ide itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya dengan pernyataan, “hidup saya lurus-lurus saja. Saya  berpendidikan, meraih gelar sarjana tepat waktu, bekerja di perusahaan  dengan upah yang lumayan, punya suami tampan/istri cantik,  anak-anak  yang sehat dan cerdas tanpa kekurangan. Tidak ada yang aneh-aneh, normal  saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah “normal” dalam hidup yang sebenarnya itu tercermin dalam  pernyataan itu? Ataukah itu, sekali lagi, cuma pengandaian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang berjalan normal, biasanya tak disadari sebagai  sesuatu  yang normal. Misalnya, kita (hampir) tidak pernah mengatakan bahwa  matahari terbit dari timur sebagai sesuatu yang normal. Dengan begitu  saja, tidak ada pembanding terhadap peristiwa alam tersebut. Misalnya,  tidak pernah ada pembanding bahwa matahari terbit dari barat (kecuali  dalam kisah kiamat) sebagai sesuatu yang menjadi tak normal dalam  keseharian kita. Kita cukup mengatakan, “matahari terbit dari timur”  tanpa harus membebaninya dengan kategori normal atau abnormal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula hidup. Jika kita masih menyematkan sesuatu di sekitar kita  dengan kata normal, maka sebenarnya kita sedang berada dalam  ketidaknormalan. Yang normal, hanyalah harapan kita, ideal bagi kita.  Sebab, jika yang normal itu memang sudah berjalan  begitu adanya tanpa  interupsi, barangkali kita tak pernah mengenal istilah normal dalam  wawasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama adalah salah satu bentuk nyata dari ide tentang yang normal itu.  Kehidupan ini, diandaikan sebagai sesuatu yang tak normal dan sarat  konflik. Kisah digodanya Hawa menelan buah khuldi hingga ia dan Adam  dicampakkan ke dunia merupakan salah satu bentuk ketidaknormalan dalam  asal mula kehidupan. Kita, dipaksa untuk memahami kehidupan dalam  situasi konflik. Kehidupan selalu bermula dari konflik. Dan konflik  adalah suatu ciri dalam situasi yang tidak normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan agama, dengan segala ajarannya, membawa pengandaian tentang yang  ideal tentang normal itu agar manusia dapat terbebas dari rangkaian  konflik yang tak kunjung henti dengan sedikit luka dan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah itu yang kita jalani hingga kini? Yakni, membayang-bayangkan  normalitas sebagai pemandu dan sensor diri terhadap situasi. Yang normal  itu, hanyalah konsep, dan kita terus-menerus bertarung dengan kehidupan  yang tak terduga ini untuk mewujudkan konsep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah, “normalitas” yang ideal itu seringkali dengan begitu  saja dianggap ada dalam kehidupan sehari-hari. Jika yang ideal dan tak  nyata itu itu hendak diwujudkan, kepentingan sepihak akan tampil di  sana. Maka akan muncul situasi normal “menurut kehendak siapa”. Lambat  laun, yang “normal” menurut kehendak siapa itu disadari sebagai  keinginan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam esainya &lt;i&gt;Ideological State Aparatus&lt;/i&gt;, gagasan Louis Althusser  tentang ideologi dapat  dibaca sebagai situasi yang menganggap normal  “menurut kehendak siapa” itu menjadi hal yang normal begitu saja apa  adanya. Namun, sesungguhnya, semakin dalam dan semakin lama yang normal  menurut kehendak siapa itu dipertahankan, maka kita seluruhnya, umat  manusia di bumi ini, tidak pernah hidup dalam situasi yang normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di negara ini, dengan situasi politik yang tak terduga dan berubah  secara ekstrem, bukankah perasaan kita dibuat selalu berada dalam  ketidaknormalan. Mereka, generasi yang menyadari krisis moneter dan orde  baru, akan cenderung menganggap negara sedang berada dalam situasi  tidak normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan abnormalitas itu, sebagai situasi sesungguhnya, kini sudah mulai  berubah menjadi “ide” sebagaimana yang terjadi pada normalitas.  Misalnya, kita akan gampang dan pesimistis mencerca tim nasional  kesebelasan sepakbola Indonesia yang miskin prestasi. Selanjutnya,  masalah itu akan dikaitkan dengan ketua PSSI yang terlibat korupsi.  Lama-lama, kita mulai memberikan idiom general bernada penghukuman pada  apa saja yang terlintas di depan mata kita. Itu tampak pada begitu  seringnya kita mendengar bahwa “bangsa kita tertinggal, bangsa kita  cenderung pemalas, politisi pasti makan uang, dan polisi lalu lintas  pasti makan sogok di pinggir jalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, inilah sebenarnya hidup. Sejak digemakan oleh Friedrich  Nietzsche pada abad 19, situasi itu tak pernah berubah. Kita, yang hidup  di negara dunia ketiga, adalah laboratorium ketidaknormalan umat  manusia. Oleh sebab itu, kini, apalah gunanya menyebut-nyebut soal  normal dan abnormal, sedangkan kehidupan itu sendiri adalah pertempuran  antara yang normal dalam awang-awang dan yang abnormal dalam kehidupan  nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia, dicampakkan dalam episode-episode ketidaknormalan. Dan absennya  normalitas, membuat kita ditugaskan merumuskannya di dalam kepala, dan  berjuang mewujudkannya di kehidupan nyata. Semakin tak terwujud yang  ideal itu, semakin cintalah kita pada kehidupan, karena semakin kuat  lagi kita berusaha mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 23 2009&lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-4901304814373815464?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/4901304814373815464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=4901304814373815464&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4901304814373815464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4901304814373815464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#4901304814373815464' title='Tentang Normal'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-1433913419842744844</id><published>2010-02-15T02:46:00.001-08:00</published><updated>2010-02-15T02:48:44.196-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Mati Lampu!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;lampu dipadamkan hutan. listrik menjelma pekik bayi yang hampir dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jantung jalanan bergetar-debar. jantungku berdebar-gentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesunyi ini, segala bunyi menyanyi lunak yang lantang. semakin karib saja, dia yang sejak lama ingin datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-1433913419842744844?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/1433913419842744844/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=1433913419842744844&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1433913419842744844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1433913419842744844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#1433913419842744844' title='Mati Lampu!'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-3672375933709926169</id><published>2010-02-15T02:44:00.001-08:00</published><updated>2010-02-15T02:48:31.716-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Kebangkitan Para Figuran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;gugurnya para figuran, adalah mati dendam. dendam yang kini menjelma semacam doa terdalam-tertahan. dan bersama doa yang pecah dari dada selunak pualam, figuran bangkit lalu merusak kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mati bagi figuran, adalah “sekali mati, sejak dulu tiada arti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kubangkitkan figuran, lalu dengan doa, mereka memburu kisah yang membunuh mereka secara percuma. selanjutnya, menuntut sutradara berikut pemeran utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bangkitnya para figuran, sebab dunia selebar sumur ini selalu ingin pemeran utama: dia yang butuh mematikan tanpa takut rasa dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-3672375933709926169?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/3672375933709926169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=3672375933709926169&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/3672375933709926169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/3672375933709926169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#3672375933709926169' title='Kebangkitan Para Figuran'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8839700698859742266</id><published>2010-02-15T02:42:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T02:48:20.366-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Sepotong Pizza tersesat Di Simpang Empat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;sepotong pizza tersesat di simpang empat. lampu merah yang tersesat di simpang empat yang memaksanya terus menyala sebagai merah. simpang empat yang tersesat di antara kendaraan berbaju zirah yang tak tahan merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepotong pizza tiba-tiba merasa ngeri. sebab, waktu ia mau beramah-ramah menyapa lampu merah, ia hanya mendapat bisu. “betapa keriputnya lampu merah itu. kelaparan sepanjang tahun membunuh senyum dan lesung pipitnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepotong pizza melarikan diri ke pangkuan seorang bocah. bocah perempuan berambut merah yang mengibas-ngibaskan rambut sebagai rayuan pelucut zirah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;huh! sungguh sepotong pizza yang tak berpengalaman. sebab setiap bocah di simpang empat, hanyalah bocah yang menilai sepotong pizza tak lebih dari sepotong pizza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8839700698859742266?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8839700698859742266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8839700698859742266&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8839700698859742266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8839700698859742266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#8839700698859742266' title='Sepotong Pizza tersesat Di Simpang Empat'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-755182655208027464</id><published>2010-02-15T02:40:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T02:41:45.496-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Di Atas Kursi Roda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;di atas kursi roda, kaki yang patah mulai belajar melangkah. kaki berdarah yang baru saja menceraikan sepasang sepatu setianya di lantai. sepatu yang duka karena kesetiaan itu kini apatah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan seperti belulang bayi, jalan bertumbuh semakin memanjang ke depan. rambu-rambu berdiri, lampu jalan berseri, dan penunjuk arah bernyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan jalan ini mempersembahkan pawai tunggal, hanya bagi sepasang kaki yang patah berdarah, yang kaki ayam karena cerai dengan sepasang sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan perlahan, anak-anak yang meriah di tepi jalan mengembangkan senyum lalu tawa. menyebabkan aku tergesa-gesa meraih pistol yang tergantung di roda kursi roda. lalu aku tembak mereka semua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-755182655208027464?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/755182655208027464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=755182655208027464&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/755182655208027464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/755182655208027464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#755182655208027464' title='Di Atas Kursi Roda'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-4797784176149969202</id><published>2010-02-15T02:36:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T02:39:24.155-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Kebosanan Yang Tak Terlumpuhkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Matahari terbenam, dan kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai. Malam adalah ancaman. Karena malam menyebabkan setiap manusia kembali ke rumahnya, menggauli ranjang, dan berbicara dengan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam adalah ancaman, sebab, sepi jua yang ditawarkannya. Betapa hidup ini mau diidentifikasi secara intens pada malam hari. Siang adalah waktu mabuk. Mabuk dalam hura-hura mencari nafkah. Saat siang, manusia tenggelam dalam situasi yang nyaris membuatnya alpa dari “kegiatan bersama dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa pun hebat air mata yang membasahi bantal di malam hari, siang mampu membiusnya. Siang, dengan segala kemeriahannya, membuat manusia terbang dan lupa dengan malam yang menusuk-nusukkan dingin. Siang, adalah narkotika yang menimbun kesadaran diri-pribadi secara kejam. Sebab, kesadaran diri-pribadi itu hanya ditimbun, dia tidak mati, dia masih tersimpan di bawah, dan selalu menjadi ancaman ketika setiap malam datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sudah berapa botolkah air alkohol yang masuk ke perut kita saban malam datang? Narkotika siang, yang melumpuhkan kita dari kesadaran diri-pribadi, hanya bertahan sebelum kelelawar mulai mengepakkan sayap membelah-belah langit. Narkotika siang, mampus ketika bulan mulai memancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kehidupan itu membosankan? Mengapa kebosanan itu harus didefinisikan sebagai kebosanan? Mengapa kebosanan itu harus disadari sebagai kebosanan? Tidakkah kebosanan itu adalah sesuatu yang tak bermakna? Apakah hidup itu tak bermakna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebuah perbandingan: jika siang membius manusia dalam kemeriahan aktivitas dan membuat manusia mabuk-tak sadar dari “diri-pribadi”-nya, maka malam menghasut manusia untuk lari dari kesadaran “diri-pribadi” dan mabuk-tak sadar dari aktivitas siangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bicaralah pada dirimu sendiri!” Itulah ungkapan malam yang membuat setiap manusia ketakutan. Siang telah membuat manusia mabuk dari “kesepiannya”, dan kemabukan itu diperoleh dengan rencana-rencana pagi hari yang dirancang pada jejak pertama saat meninggalkan rumah. Mabuk di siang hari, dilakukan seolah tanpa sadar, namun sistemik dan begitu awet hingga ia berubah menjadi keyakinan yang perlu diyakini tanpa dasar sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mabuk di malam hari, dilakukan dengan sepenuhnya sadar. Ia juga bisa menjadi sistemik dan awet justru dengan kesadaran. Mabuk di malam hari sebagai cara untuk mengelak dari tuntutan malam untuk bicara pada diri sendiri, bekerja dalam mekanisme psychedelia dan biologis. Mabuk di malam hari membutuhkan “picu” dari luar, seperti alkohol, untuk mengatasi kesadaran “diri-pribadi” yang di dalamnya mengandung takdir kebosanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin keras manusia bertanya apa yang akan terjadi esok hari, maka sesungguhnya manusia itu sedang bertarung melawan takdir kebosanan, takdir keputusasaan, takdir keterputusan impian, takdir kesemrawutan jalan panjang yang memanjang di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lari Adalah Pengecut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika rasa bosan adalah takdir, maka hidup ini tak lain dari pada upaya untuk mengingkari takdir agar hidup tak membosankan. Manusia kemudian menggelar sejumlah perayaan, menggelar pertarungan, menggelar kategori, menggulirkan rasa sakit dan hasrat. Manusia, menurut Friederich Nietzsche, melakukan segala sesuatu karena kehendak untuk berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehendak untuk berkuasa adalah motif manusia untuk menghindari kebosanan. Bukankah, mencari uang dan kemakmuran dalam satuan terkecil adalah upaya untuk menguasai diri sendiri dari pemberontakan atas kepapaan? Bukankah hidup benar-benar membosankan tanpa politik demi kekuasaan? Bukankah hidup menjadi tanpa isi jika tak ada acara tangkis dan serang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seringkali manusia tak pernah mampu berbicara secara jujur tentang pertarungan melawan kebosanan itu. Manusia menciptakan ilusi seperti agama, rasio, teori, dan semua apa yang dihujat Nietzsche sebagai metafisika. Upaya manusia untuk menghindari kebosanan dan mengoptimalkan apa yang paling potensial dari manusia-akal budi-berubah menjadi ilusi, mirip seperti alkohol dan narkotika yang menimbun kejamnya kenyataan yang menghinggap dalam kesadaran diri, mirip juga dengan terbenamnya manusia dalam aktivitas siang harinya untuk menomerduakan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh: seorang kawan memberikan anjuran, “kau harus mencari tahu apa masalahmu, dan carilah solusinya”. Bah! Lihatlah, pernyataan ini sangat “metafisis” dan merupakan taktik untuk melarikan diri dari kenyataan hidup yang sepahit empedu. Kalimat tersebut terdiri dari dua unsur utama yang bertentangan, “masalah dan solusi”. Apakah setiap masalah ada solusinya? Baik, jika sebagian masalah ada solusinya, bagaimana menjelaskan masalah yang tak terpecahkan? Misalnya, apakah penderita AIDS yang menunggu ajal akan merasa anjuran untuk tetap “semangat dan berdoa” sebagai sebuah solusi? Solusi bagi sebuah penyakit, adalah obat penyembuh. Jika obat penyembuh belum ada, apapun itu bukanlah solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa semua masalah harus dianggap dapat diselesaikan dan harus diselesaikan dengan solusi. Permainan bahasa dalam soal “solusi dan masalah” itu tak lain adalah cara untuk melarikan diri dari kesakitan yang tak terpecahkan. Kebosanan hidup, ingin dengan gampang saja diselesaikan dengan konsep abstrak (metafisika) masalah dan solusi. Metafisika itu tak lain adalah ilusi yang menyebabkan manusia justru tidak keluar dari masalah, namun mabuk dalam kategori-kategori abstrak yang mengabaikan dirinya, tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nietzsche menghujat Sokrates dalam soal melarikan diri dari kebosanan hidup itu. A Setyo Wibowo dalam diskusi tentang Nietzsche baru-baru ini di Jakarta menjelaskan, Sokrates menganggap manusia menjadi manusia paling manusia ketika mampu mengoptimalkan keutamaannya. Apa yang utama dari manusia adalah akalnya, intelejensinya, rasionya. Pendeknya, Sokrates mau mengatakan, manusia mencapai keutamaan hidupnya jika ia mengoptimalkan kodratnya, yakni akalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, pernyataan Sokrates bisa jadi bermanfaat. Dengan meyakini kemuliaan rasio, maka ia dapat melawan penilaian status sosial yang dangkal seperti kaya-miskin. Pernyataan “kecerdasan akan membuatmu terhormat ketimbang kekayaan” dapat dikatakan bermanfaat dalam situasi masyarakat yang mengukur segalanya dari harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Nietzsche menikung lebih tajam lagi dari Sokrates. Baginya, Sokrates dengan memuliakan kategori rasio hanya melarikan diri dari situasi terburuk yang ia (Sokrates) sendiri tak menginginkannya. Sokrates, kata Nietzsche, memuliakan kecerdasan (rasio) karena secara fisik ia buruk rupa. Untuk mengatasi kodratnya sebagai seseorang yang buruk rupa, maka ia melarikan diri ke dalam penganggungan rasio (Setyo Wibowo menilai genealogi Nietzsche atas Sokrates ini diungkapkan secara berlebih-lebihan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pemuliaan rasio, karena setiap masalah selalu diasumsikan harus diselesaikan dengan solusi, maka kehidupan ini terjebak dalam kategori-kategori. Misalnya, apa yang tidak sesuai dengan pemuliaan rasio, bukanlah sesuatu yang baik. Dan masalah yang tak memiliki solusi adalah buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan memastikan kategori ini, tidak lain adalah ilusi dan mitos yang dibangun untuk melarikan diri dari kenyataan hidup yang tak mau diajak kompromi. Rasa sakit karena kesepian dan kebosanan ingin diatasi begitu saja dengan konsep abstrak solusi dan rasio. Nietzsche menyebut orang-orang ini (termasuk Sokrates) sebagai dekaden yang tak berani menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua masalah ada solusinya? Terkadang, berada di tengah pertempuran dengan masalah yang tak tahu kapan henti itu adalah hakikat dari kehidupan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nietzsche dan Shypilis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti Sokrates, Nietzsche tidak berusaha lari pada metafisika, teori abstrak, selubung rasio, untuk mengatasi betapa pahitnya hidup. Nietzsche, tidak mau keluar dari dirinya sendiri, ia tidak mau keluar dari darah dalam pembuluh tubuhnya, keluar dari daging jantungnya yang berdenyut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sokrates telah mengandaikan kemuliaan akal sebagai alat untuk membuat hidup ini bermakna, sementara kata akal itu sendiri, jauh di awang-awang. Setyo Wibowo memberikan jawaban yang menarik saat ditanya bagaimana “Anda menerapkan genealogi dalam diri Nietzsche sebagaimana Nietzsche menerapkan genealogi pada diri Sokrates.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setyo menyebut shypilis yang diderita Nietzsche sebagai asal-usul gaya filsafatnya. Semasa mahasiswa, Nietzsche pernah beberapa kali mengunjungi pelacuran. Dari kunjungannya itu, Nietzsche mengidap shypilis yang harus ia tanggung hingga akhir hayatnya. Keadaan kesehatan yang tak stabil itulah yang menyebabkan Nietzsche menjadi inspirasi hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shypilis pada zaman Nietzsche belum memiliki obat penyembuh. Ia harus hidup dengan penyakitnya. Ia harus bergelut dengan tubuhnya sendiri. Kalau Sokrates berupaya mencari jawaban pada rasio-sesuatu yang bukan tubuh- maka Nietzsche berfilsafat pada tubuhnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nietzsche tidak lari dari rasa sakit akibat shypilisnya. Sebagaimana ia mengecam Sokrates yang melarikan diri ke rasio, ia menganggap mencari-cari sesuatu untuk melupakan rasa sakitnya menyebabkan dirinya menjadi dekaden. Untuk itu, ia menjawab tantangan penyakitnya, ia siapkan dirinya melawan shypilisnya, ia melawan tanpa harus lari pada teori, pada kategori yang abstrak. Ia menjawab shypilis yang melekat pada tubuhnya dengan tubuhnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalamannya atas shypilis ini yang menyebabkan ia mengafirmasi atau berkata “Ya” pada kehidupan yang tak terduga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nietzsche di Tengah-tengah Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita menyenangi alkohol? Mengapa kita stress tanpa pekerjaan? Mengapa kita menenggelamkan diri dalam pekerjaan pada siang hari? Mengapa kita harus pulang ke rumah? Mengapa tiba-tiba otak berpikir sejenak tentang hidup beberapa saat sebelum tidur malam? Mengapa malam begitu indah sekaligus mencemaskan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup itu jenuh dan nihil. Tapi, manusia terus menerus menghindar dari kejenuhannya. Menghindar, berarti menolak bertemu, menolak bertempur. Nietzsche memberikan usulan lain pada kita: menghadapi hidup yang jenuh itu. Menghadapi berarti bersedia bertemu, bersedia bertempur, menghindari ilusi metafisika dan teori yang abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari, kalau harus menyambut alkohol, lakukan demi hidup itu sendiri, demi yang menubuh itu sendiri. Kalau pun harus sibuk di siang hari, lakukan demi rasa lapar itu sendiri, demi nafsu birahi itu sendiri. Lakukanlah segalanya dengan sopan. Bertempurlah dengan sopan. Tantanglah hidup ini dengan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tiba masa pahit yang paling empedu, maka menarilah dalam kolam empedu yang melumpur itu. Tidak semua masalah harus dihancurkan dengan kasak-kusuk membolak-balik arti kata “solusi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-4797784176149969202?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/4797784176149969202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=4797784176149969202&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4797784176149969202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4797784176149969202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_02_01_archive.html#4797784176149969202' title='Kebosanan Yang Tak Terlumpuhkan'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8636010133185559925</id><published>2010-01-08T01:47:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T05:11:11.895-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Sepasang Tangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;setiap kali hendak menampar, tangan kiri bersembunyi ke dalam tangan kanan. “tangan kanan adalah tangan kiri. dan kami adalah tangan,” kata tangan kiri seperti tukang obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap kali hendak menyingkirkan najis, tangan kanan tak pernah mau bersatu dengan tangan kiri. “tangan kanan adalah tangan kanan. dan tangan adalah tangan kanan,” kata tangan kanan seperti sebuah bus kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;January 9 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8636010133185559925?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8636010133185559925/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8636010133185559925&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8636010133185559925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8636010133185559925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_01_01_archive.html#8636010133185559925' title='Sepasang Tangan'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-6232880468545595329</id><published>2010-01-03T04:41:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T05:11:24.263-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Jikalau Tuan Tentara Sudah Digambar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;duhai langit betapa luas, tuan tentara menantangmu. sebab ia cuma gambar di tembok sebuah gang. tuan tentara benci musabab yang senang bergelap-gelap: mengapa ia jadi gambar yang terpampang di tembok sebuah gang. jikalau bukan sekedar gambar, ia mau menjadi prajurit lagi dan berperang menumpas apa saja yang begitu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuan tentara yang cuma gambar itu mulai mengupak wajahnya sendiri. tak percaya lagi pada parasnya sendiri. tak percaya pada pemuda pengangguran yang melukis dirinya menjelang ulang tahun kemerdekaan dua tahun lalu. pemuda pengangguran yang menggambar seadanya. penggemar cat minyak warna abu-abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini perayaan tahun baru ketiga sejak ia digambar di tembok gang. seperti yang sudah-sudah, ia ingin menaklukkannya! mengapa pengangguran senang dengan keabadian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jenazah-jenazah terompet kertas bergelimpangan di jalan. sebab dibunuh hujan. bunga-bunga api angkat tangan dan menyerah. siap-sedia menghunjamkan diri ke tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuan tentara yang cuma gambar memungut gambar senapan yang tersangkut di belakang punggungnya. dengan pipi separuh kupak, ia menembak mati pengangguran yang mempersatukannya bersama tembok, tepat pada pagi pertama milik januari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 3 Januari 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-6232880468545595329?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/6232880468545595329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=6232880468545595329&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/6232880468545595329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/6232880468545595329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2010_01_01_archive.html#6232880468545595329' title='Jikalau Tuan Tentara Sudah Digambar'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-1753530432372223617</id><published>2009-12-27T07:19:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T05:12:20.877-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Doa Untuk Khotbah Pahlawan Di Dalam Pabrik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;seorang pahlawan terseok menyeret peti matinya ke dalam pabrik. peti mati yang tak lagi berpintu. peti mati yang semakin lapuk itu ia tegakkan jadi mimbar yang bolong di bagian wajah. dari sana, sang pahlawan melancarkan khotbah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;soal kertas rekening listrik yang berjuntaian di tali jemuran. soal bulu-bulu di ujung celana pendeknya. soal dengung agas yang merimbun di atas luka basah puncak lututnya. soal sepasang kakinya yang tampak jelas lewat bolong mimbar, seperti pangkal beringin yang membelit didukung akar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;soal doa sebelum ia memulai kerja setiap pagi: semoga terselamatkan dari segala celaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suara khotbah tenggelam ditelan mikropon. pahlawan mengejar suaranya sendiri ke liang paling rahasia dalam mikropon. sementara di luar, mikropon menutup khotbah pahlawan dan, kembali menyeret mimbar sebagai peti mati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai ke luar pabrik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Desember 27 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-1753530432372223617?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/1753530432372223617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=1753530432372223617&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1753530432372223617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1753530432372223617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_12_01_archive.html#1753530432372223617' title='Doa Untuk Khotbah Pahlawan Di Dalam Pabrik'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8553491002182035143</id><published>2009-12-23T12:09:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T02:31:05.502-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>rebana di dalam kafe</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cgembi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cgembi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;di atas pentas:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;seorang penabuh rebana menempelkan telinganya di corong saksofon. dari kelamnya corong, ia dengarkan kisah bohlam yang selalu berkedip siang malam. kedip yang lebih sedikit terang ketimbang kelam. wajah-wajah jadi lebih sedikit terang ketimbang kelam. tak pasti mana siang mana malam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;pada kisah terakhir, ia dengarkan suara koin yang meluncur menuju telinganya. bukan koin biasa. mungkin koin bujangan alkahfi. bukankah mereka yang mendengkur di atas meja mencoba meniru lelap seperti alkahfi? namun gagal sebab terlalu cepat terjaga dan tidur lagi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;di bawah pentas:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;hanya seorang perempuan yang tersisa. rambut setengah pirangnya menjuntai dari meja sampai lantai. “ayo tuan, tabuhlah lagi. ini gelas terakhir. aku akan lempar koin terakhir untuk kemuliaan kulit rebanamu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;di atas pentas:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;dan pemain rebana memainkan semacam musik pop-jazz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Desember 2009 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8553491002182035143?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8553491002182035143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8553491002182035143&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8553491002182035143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8553491002182035143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_12_01_archive.html#8553491002182035143' title='rebana di dalam kafe'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-1627645155500195685</id><published>2009-12-15T05:42:00.000-08:00</published><updated>2009-12-27T07:18:17.094-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Lelaki Tua Gila Yang Menunjuk Rambutan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;lelaki tua gila tak pernah berperkara. saat lewat di depan sebuah pekarangan, ia bertanya menduga, ”mengapa rumah tak berpenghuni itu tak pernah memasang pagar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti waras, lelaki tua gila tahu di mana langkahnya mesti berhenti. ”di sini seharusnya pagar dipancangkan. inilah batas.” dan ia mulai menunjuk-nunjuk rambutan merah saga yang tergayut di ranting pohon. seperti cherry di pucuk kue tart milik orang kaya yang mendarahi liur masa masa kecilku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam senyum yang polos, lelaki tua gila terus mempertunjukkan tunjuknya pada sepi. ”rambutan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepi tak berani menjawab dan sebelah wajahnya terbakar. sepi mempertunjukkan tunjuknya yang menunjuk lelaki gila tua padaku. aku tak berani menjawab sepi dan seluruh wajahku seluruh jantungku pun terbakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak sanggup menduga, lelaki tua gila melanjutkan kelananya dengan tangan hampa, dan rambutan-rambutan itu luntur merah saganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 15 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-1627645155500195685?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/1627645155500195685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=1627645155500195685&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1627645155500195685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/1627645155500195685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_12_01_archive.html#1627645155500195685' title='Lelaki Tua Gila Yang Menunjuk Rambutan'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-912347587719128173</id><published>2009-12-13T08:47:00.000-08:00</published><updated>2009-12-13T08:48:56.604-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>Privat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Di manakah batas kata “privat”dapat dipancangkan di zaman ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menjadi menakutkanlah kata privat itu bagi orang-orang yang berkuasa dan memiliki uang. Kini, manakala orang-orang yang berada dalam lingkar kekuasaan dan uang berusaha bermain-main dengan kata “privat”, terbayang pada mereka sebilah pisau tajam yang akan menusuk dengan buas ke jasad mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara dunia ketiga (bahkan mungkin di negara maju sekalipun), privasi hanyalah milik para penguasa dan milyarder. Orang miskin dan jelata “dilarang” menuntut yang privat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalanlah ke kompleks perumahan orang kaya (Pondok Indah, misalnya), sebatas mana anda mampu menerka isi rumah, atau kegiatan yang terjadi dalam salah satu rumah besar yang tegak di sana? Privasi pemilik rumah besar-rumah besar itu sudah dimulai sejak pandangan mata kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekali melintas, mata kita akan menyaksikan pagar tinggi, pos satpam sekaligus sang satpam, dan terkadang anjing penjaga yang gampang menyalak. Panorama itu sudah memberikan pengertian pada kita bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam rumah besar itu, bukan sesuatu yang mudah ditembus. Sekali lagi, privasi telah dimulai sejak pandangan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain, berjalanlah sekali malam di sekitar jalan Latuharhary, atau di sekitar Menteng. Kalau beruntung, anda akan menyaksikan sepasang manusia melakukan persetubuhan di bangku taman. Atau di sekujur jalanan Jakarta, bagi orang-orang di tepian jalan, tidur tidak berada dalam kata-kata “di balik selimut” atau “di dalam kamar”. Tidur dalam pengertian apapun, bukanlah pekerjaan yang privat. Siapa pun, kalau mau, dapat mengakses tidur (kecuali mimpinya) orang-orang jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, privasi itu kini menjadi pisau bermata dua bagi penguasa dan orang-orang banyak uang. Pisau mata pertama menjadi penanda agar hidup penguasa dan orang kaya dapat disusun sesuai keinginan. Sedangkan pisau mata kedua adalah segala sesuatu yang berusaha dibuat privat yang menghantam di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan itu terjadi sejak Mahkamah Konstitusi memperdengarkan rekaman pembicaraan orang-orang yang diduga terlibat dalam rekayasa kriminalisasi kasus pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Bibit Samad Riyanto-Chandra M Hamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasa dan orang kaya kerap mengaburkan atau lupa cara menggunakan hak istimewa dalam privasi. Praktek rahasia yang biasa mereka terapkan dalam kamar tidurnya mau diterapkan pula pada segala sesuatu yang sebenarnya milik publik. Inilah masalahnya: privasi menjadi menakutkan jikalau ia (sebenarnya) berhubungan erat dengan yang publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KPK, bail-out dana Bank Century adalah dua hal yang sangat erat hubungannya dengan publik. Ia menjadi pisau yang menakutkan ketika penguasa dan orang kaya berusaha menggunakan kebiasaannya dalam kerahasiaan rumah gedungnya untuk membunuh kebenaran dalam urusan itu. Kini, yang publik sudah menelan privasi yang bukan pada tempatnya itu. Dan bola pun bergulir tanpa basa-basi merobohkan pagar tinggi, pos satpam, dan memenggal moncong anjing penjaga di rumah-rumah besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, rekaman, teknik penyadapan, audio, semula adalah ilmu pengetahuan buah modernisme milik renaissance untuk “menaklukkan” dan “mengatasi” alam. Ia semata teknologi yang pada dirinya sendiri tak ada hubungannya dengan sosial, gerak masyarakat, apalagi meja terhormat Machfud Md di sisi taman Monas itu. Ia hanya keangkuhan lama untuk menghukum mitos asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-912347587719128173?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/912347587719128173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=912347587719128173&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/912347587719128173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/912347587719128173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_12_01_archive.html#912347587719128173' title='Privat'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-6214618210747329327</id><published>2009-12-08T02:57:00.000-08:00</published><updated>2009-12-08T03:05:54.877-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Mengeja Pisau</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;puan&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;jarak meringkus kami: aku dan pisau. aku di sana, dia di sini. kami sama-sama tak pasti di sebelah mana&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;astaga! kami lupa kalau jarak sudah lama mati. mati digantung karena menampar ciuman panas sang cemburu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan aku lupa mana badan pisau mana badanku. yang terbaca hanya telusupnya saja. meski kuhindari, aku dan pisau tambah mesra saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 7-8 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-6214618210747329327?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/6214618210747329327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=6214618210747329327&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/6214618210747329327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/6214618210747329327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_12_01_archive.html#6214618210747329327' title='Mengeja Pisau'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-4975325229610321946</id><published>2009-12-07T05:03:00.000-08:00</published><updated>2009-12-07T05:19:31.863-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Senin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;senin berjalan terhuyung di suatu senja sebuah ibukota. tak ada lagi yang menginginkan senin. sepeda motor tidur di dalam kamar. di garasi, mobil-mobil mengeram antara tidur dan kantuk. senin yang gagap sebab kehilangan kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai awal, senin hilang wibawa. sebagai awal, ia kehilangan awal. senin terseok di jalan tol tak berujung tak bernama. senin tak mampu mengeja namanya. seperti kusta, senin kehilangan kaki pelan-pelan. ditelan aspal yang tak menyediakan mata angin. ibukota yang lupa pengertian kota. bumi yang asing dengan istilah tatasurya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika tiba-tiba mendung bermegah-megah bersama badai, senin teringat sesuatu dari masa lalunya: hanya cuaca yang tak pernah lenyap. senin beringsut dengan pantat menuju tempat berlindung di balik kelam awan. &lt;i&gt;barangkali ada sesuatu di sana&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah pekan masih ada? senin menghitung-hitung jumlah hari dalam sepekan. ia meraba-raba ke dalam jantung pekan yang kelebihan cairan bernama kebencian. ”apakah pernah ada suatu masa yang menempatkan namaku di sela-sela pekan?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Desember 7 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-4975325229610321946?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/4975325229610321946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=4975325229610321946&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4975325229610321946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/4975325229610321946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_12_01_archive.html#4975325229610321946' title='Senin'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-3265926454598239164</id><published>2009-12-01T09:44:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T05:12:42.675-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Pagi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;sebilah pisau terlempar sendirian di halaman belakang. menjadi-jadi rasa sepinya sebab terganggu suara cengkerama laki-bini di balik pintu. sepagi ini, belum lagi ada darah. sepagi suci, luka belum luka. karena masih ngembara di padang dingin seraya berlarian menertawakan layang-layang yang melayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;merayaplah dia yang sebilah itu. seperti kaki seribu ia menyiangi kabut. ia lewat dan menggarit pada buku catatan utang tukang sayur. lalu menyelinap dan berdiam dalam seonggok daging sapi yang dibantai kemarin lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 2009 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-3265926454598239164?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/3265926454598239164/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=3265926454598239164&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/3265926454598239164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/3265926454598239164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_12_01_archive.html#3265926454598239164' title='Pagi'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-5646414322767162339</id><published>2009-11-26T02:39:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T05:14:11.154-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Apakah Sampai?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;merpati dikutuk menjelma ayam, melompat-lompat saja dari pucuk ke pucuk rumah. merpati cuma mengepak, tak mampu lagi menyeberangkan naskah. o, langit tiada bertulang, rindu kami apakah sampai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;merpati disumpah menjelma nazar, mematuk-matuk topi tukang pos yang tertidur di tengah jalan. merpati sepucat pelayat, melihat sepeda yang melipat-lipat mayat surat seputih kafan. o, jalan tualang, pesan kami mungkinkah sampai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CGuest%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="date"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:date month="11" day="26" year="2009"&gt;November 26 2009&lt;/st1:date&gt; &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-5646414322767162339?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/5646414322767162339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=5646414322767162339&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5646414322767162339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5646414322767162339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_11_01_archive.html#5646414322767162339' title='Apakah Sampai?'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-8000382032090004158</id><published>2009-11-20T02:49:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T05:15:48.339-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Kalau Musik Lebih Benar Dari Berita,</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;maka gramopon bisu dihisap radio lugu ditelan televisi balu dikunyah jagad internet berderu debu melahirkan ular kepala seribu wajah yang kusai dipilih pemimpin sebagai lagu demi nyanyi di mimbar layu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 20 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-8000382032090004158?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/8000382032090004158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=8000382032090004158&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8000382032090004158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/8000382032090004158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_11_01_archive.html#8000382032090004158' title='Kalau Musik Lebih Benar Dari Berita,'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-3179770572944065780</id><published>2009-11-19T05:07:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T05:16:00.501-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Seekor Keledai Hampir Mati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;seekor keledai hampir mati. kau berhenti saat ia menghoyak-hoyak rambu tanda “stop” di jalan sepi. padamu nampak sesak napasnya mengutuk sekaleng &lt;i&gt;corned&lt;/i&gt; basi. &lt;i&gt;corned&lt;/i&gt; yang gerigi tutup kalengnya tersangkut di tenggorok keledai nyeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keledai nafasnya sesak hampir mati. pada bola matanya yang memutih, habis ia kau habisi. “agar rasa sakitnya cepat selesai,” katamu dalam suatu puisi usai kau tikamkan sepucuk belati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kau lari lagi, meski perjalananmu tak pernah pasti. sedang rambu tanda “stop” di jalan sepi, bertanya menguji, “antara kau dan keledai, siapa sesungguhnya tak tahan ngeri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 19 2009 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-3179770572944065780?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/3179770572944065780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=3179770572944065780&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/3179770572944065780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/3179770572944065780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_11_01_archive.html#3179770572944065780' title='Seekor Keledai Hampir Mati'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-9076048770988983024</id><published>2009-11-18T06:18:00.000-08:00</published><updated>2009-11-19T04:57:12.387-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Seperti Seekor Kucing</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;ada tuhan, yang tidur sepanjang tahun,&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;seperti seekor kucing&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;yang pura-pura lelap, saat majikan memanggang ikan asin usang hasil curian, dan asapnya berlayangan, di tembok yang mengolok lapar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semakin sedap, kucing semakin berwibawa. sekedar memejamkan mata dalam keadaan terhormat sambil berbaring gaya sphinx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di pedalaman kucing, terperangkap seekor harimau. seekor yang aum-mengaum. seekor yang matanya berdarah sebab kucing sibuk mencakaunya, sibuk memperbudaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 18 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-9076048770988983024?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/9076048770988983024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=9076048770988983024&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/9076048770988983024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/9076048770988983024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_11_01_archive.html#9076048770988983024' title='Seperti Seekor Kucing'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-7573039116897541507</id><published>2009-11-17T03:04:00.000-08:00</published><updated>2009-11-19T05:16:38.996-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Sajak Ini Memang Kutulis Buatmu, Puan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;:papua&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;di dalam mata televisi, masih ada mata lagi, di dalamnya, masih ada mata lagi. televisi kita yang sibuk menata cadar pada wajahnya yang pertama. televisi yang meratap karena kucabut cadarnya. sebab, engkau lebih cantik dari televisi. dan aku tak mau televisi menyembunyikan kecantikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti televisi, cantikmu pada mata. di dalam matamu, masih ada paruparu lagi, masih ada pipa darah lagi, masih ada embun yang turun pelanpelan mengikuti lagu jantung lagi, dan barangkali seplastik air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pernahkah kau uji kecantikanmu? masuk ke dalam televisi yang menophause diperkosa nasionalisme? maka mendaratlah kau di wamena, atau serui, atau biak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di langkah pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan kakimu, kau harus remukkkan &lt;i&gt;contact&lt;/i&gt; lens yang menyebabkan matamu nyaris seindah fajar muda. di papua, yang kabur di mata mungkin lebih asli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di langkah kedua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan tanganmu, kau mesti koyakkan baju yang nyaris selalu cemerlang di tubuhmu. di sana, kecuali aku, siapa ambil peduli misteri tubuhmu? lebih dari sekedar mulus kulitmu, mereka lebih tahu bagaimana misteri di sebaliknya. kulit bukan lagi tirai, sebab masa lalu terlalu terbiasa memaksa mengubah kulit dengan merah daging: setiap kali dendam dikisahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada lagi kesempatan mata &lt;i&gt;pace&lt;/i&gt; sebagaimana mataku. sebab mereka sedang berlari-lari menyusun kembali usus yang terburai. matamu takkan dipergunjingkan, tubuhmu takkan dikuakkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin lihat kau telanjang dan mendengarkan ribut di jantung mama-mama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bergeserlah sedikit! tubuhmu yang mempesona itu menutupi mata terakhir televisi. mata terakhir yang sedang kelimpungan menandingi mata air di mata mama-mama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 15 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-7573039116897541507?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/7573039116897541507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=7573039116897541507&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7573039116897541507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/7573039116897541507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_11_01_archive.html#7573039116897541507' title='Sajak Ini Memang Kutulis Buatmu, Puan'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-3385082905592236034</id><published>2009-11-15T00:23:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T00:33:23.419-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Di Puncak, Bogor</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;lesu saja majalah geografi yang cemburu itu. di kilap foto-fotonya, parasparas afrika menyembul dan melantunkan akapela dengan mata terpejam. sejuk di sini sekedar selera jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;blitz!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lanjur juga bangkai di sungai. dan kita berdebat soal lalu lintas dengan mikropon. seperti mau menaklukkan riam yang berderai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka malam turun. lembah berselonjor dengan mata yang mengendur. kalau sampai hening di sini, berhembus nyanyi peluit yang samar. dari pancar cahaya yang penyendiri di bukit kelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah itu rumah? apakah pos ronda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh! sudah lewat tengah malam! sudah lampau cekam! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 14 2009&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-3385082905592236034?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/3385082905592236034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=3385082905592236034&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/3385082905592236034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/3385082905592236034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_11_01_archive.html#3385082905592236034' title='Di Puncak, Bogor'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-5550669022894120626</id><published>2009-11-12T22:50:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T00:22:54.439-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Saban Jatuh Musim Hujan Di Jalanan Jakarta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;saban jatuh musim hujan di jalanan jakarta, aku jadi lalat patah sayap. dalam gigil merayaplah aku menembus dingin yang kelabu. dan angin menyapu-nyapuku ke bibir kali, seraya berupaya melenyapkanku bersama pelayaran buta bungkus mi instan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; aspal yang bisu sejak ali sadikin menyalakan lampion kali jodo, kini menjelma pemberontak. “biar malang, kau harus tetap di sana, sebentar lagi aku beraksi,” kata aspal padaku seraya melemparkan sepucuk pistol untuk berjaga-jaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka suara sirine ambulans itu memunahkan arah seluruh pengendara. malaikat, yang mengenakan kaca mata hitam, duduk di belakang setir: tancap gas!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"minggir! minggir! ambulans ini kosong!"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; kusaksikan melatimelati tanpa tangkai dibuang dari jendelanya. melatimelati hampir mati itu berlarian, dan mekar kembali di marka jalan. menurut pengeras suara di kubah surau: mereka oleh-oleh dari tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedang dari jauh, aspal gemetar menggulung diri, melingkar-lingkar, bernafsu menggelung ambulans…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 12 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5076217735140565598-5550669022894120626?l=phyloginik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phyloginik.blogspot.com/feeds/5550669022894120626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5076217735140565598&amp;postID=5550669022894120626&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5550669022894120626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5076217735140565598/posts/default/5550669022894120626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phyloginik.blogspot.com/2009_11_01_archive.html#5550669022894120626' title='Saban Jatuh Musim Hujan Di Jalanan Jakarta'/><author><name>phyloginik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08693416173985051234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5076217735140565598.post-1196271980234240175</id><published>2009-11-11T05:55:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T06:04:45.232-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita pendekku'/><title type='text'>Aku Si Cantik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Setiap Jumat siang, selalu saja, aku tak dapat tidak harus melintasi jalan di depan gedung Walikota itu. Ketika melintas, aku selalu memilih melangkah di trotoar seberang gedung. Dan aku akan berjalan mengendap-ngendap sembari menyembunyikan diri di balik pohon penyejuk yang berjajar di sepanjang trotoar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguhlah mereka yang setiap Jumat terik ada di depan gedung Walikota itu adalah orang-orang berkepala batu. Mereka masih saja bersetia berteriak-teriak ke arah gedung yang tak pernah menjawab itu. Mereka mengibar-ngibarkan spanduk dan panji-panji sambil menuntut yang mati hidup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kembalikan kawan kami! Kembalikan ayah kami! Hidupkan lagi suamiku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarlah kawan, ke mana pun kalian pergi, takkan pernah ada orang mati bisa kembali hidup. Dongeng-dongeng mukjizat yang dapat mengembalikan nyawa manusia itu hanya ada di kitab-kitab usang. Kisah-kisah itu hanyalah perumpaan kaum bijaksana agar rakyat dapat dituntun. Namun soal kebenarannya, jelas itu dusta belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kehidupan takkan kembali setelah kematian yang mutlak datang, kita pun memakamkan jenazah. Sebenarnya, apalah gunanya makam dan nisan? Makam dan nisan hanyalah isyarat bahwa kita sebenarnya tak begitu rela dengan hilangnya sesuatu yang pernah hidup di sekitar kita. Mengunjungi makam dan menatap lekat-lekat sebuah nisan, hanyalah cara bagi kita untuk mengatasi kerinduan yang tak mungkin terpuaskan terhadap yang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, manusia mungkin seperti sepokok beringin di tengah taman kota yang hidup ratusan tahun. Berapapun banyaknya sejarah dan peristiwa yang menyertai beringin itu, dia juga akan rebah dengan sendirinya jika kematian sudah menamatkan. Beringin mati, dan kita memakluminya lebur bersama tanah tanpa memberi tanda dan bersedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kematian bukan demikian bagi orang-orang yang berkumpul di depan gedung Walikota setiap Jumat itu. Bagi mereka, kematian dapat dan harus dikembalikan lagi. Dan orang-orang yang ada di gedung itu dihujat dan dituntut agar dapat menghidupkan kembali. Benar-benar pekerjaan gila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, semuak-muaknya aku terhadap mereka yang berteriak-teriak itu, aku tetap tidak bisa melewatkan satu Jumat pun dengan tidak melintas di jalan itu. Tentu selalu dengan mengendap-ngendap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku si cantik. Itulah pengetahuan tentang diriku yang paling kuketahui sejak kukenal pergaulan dengan orang lain. Sewaktu masih kanak-kanak, tak kumengerti benar apa dan akibat apa yang harus kuterima disebabkan “aku si cantik” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teranglah kemudian, ketika kali pertama aku masuk ke sekolah menengah, nyaris semua mata kakak kelasku yang lelaki menuju padaku. Mata yang dulu tak kumengerti. Mata dengan niat yang sama. Saat menatapku, mereka tak lagi punya bola mata. Yang ada hanya labirin warna yang tak berhenti berputar seperti lingkar obat nyamuk tanpa ujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan itu terus berlangsung hingga aku dewasa. Mula-mula kunikmati itu. Sebagai perempuan, siapa yang menolak puji-puja? Bukankah perkataan “kamu cantik” dari lelaki buaya mana pun tetap saja membuat diri melambung dan melayang-layang lupa turun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dari sekian banyak lelaki tukang puja itu, bagiku satu saja. Aku memang tak menolak pujaan siapa pun. Dan sekali-sekali kutanggapi juga pujaan itu dengan bersedia berkencan sekedar nonton bioskop atau makan malam. Tapi, tentang siapa sebenarnya yang menyebabkan aku sungguh-sungguh merasa menjadi perempuan, aku tak punya nama lain selain “Juan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juan menyenangkan. Dulu, dialah laki-laki yang kuanggap paling gila. Dia atraktif, ekspresif, selalu berpikiran ringan. Berada di dekatnya, aku merasa dunia selalu menghadirkan kegembiraan yang tak pernah usai. Dia suka pesta, namun tidak suka ke diskotik. Dia doyan mabuk, menenggak alkohol, dan menghisap marijuana. Dan dia adalah gitaris blues yang menawan. Hal yang sulit hilang dari kenanganku adalah saat dia mengecup bibirku untuk pertama kali. Dia mengecup sambil menitikkan air mata dan berbisik, “aku lumpuh tanpa kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, tak ada hari tanpa Juan. Kebahagiaanku mencapai puncak. Jika kebanyakan perempuan cantik sulit menemukan cinta karena hanya tubuhnya yang menonjol, aku sudah menemukannya. Aku tak perlu jauh-jauh memikirkan siapapun, aku cukup membayangkan Juan, lelaki kurus pemabuk yang pemberontak itu. Semakin kularang dia mabuk, semakin membelotlah dia, dan semakin dalam perasaanku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hidup memang menyediakan tikungan tajam tak terduga. Hidup memang enggan memberikan kebahagiaan dengan gampang. Lewat “waktu”, hidup menghajarku hingga babak belur. Aku pun mulai meragu, sebenarnya tak ada kebahagiaan dalam hidup. Yang ada hanyalah perburuan demi perburuan mencari bahagia. Dan manusia, senantiasa terjebak dalam perburuan tanpa akhir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hajaran “waktu” datang pada suatu pagi. Ibu membangunkanku lebih awal. Tanpa berbasa-basi, ibu memintaku mandi dan merias diri secantik mungkin. “Dandan yang cantik. Kita ke rumah pamanmu. Sudah ditunggu,” kata ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku menolak. Sebab hari itu aku ada jadwal kuliah. Dan yang lebih penting lagi bertemu dengan Juan. Juan, pasti, dan akan selalu pasti, menjemputku. Dengan sepeda motor tuanya, selepas kuliah Juan biasanya mengajakku menyusuri kota. Atau mengunjungi rumah sahabat lamanya di pinggir kota, meminjam kamar beberapa saat untuk bercumbu-cumbuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ibu seperti tak peduli. Tanpa merasa perlu menjelaskan banyak hal, dia hanya memerintahku untuk membersihkan diri dan bersolek. Itu saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan taksi yang kami tumpangi pun sampai ke rumah paman. Sebagai saudagar peternak ikan, paman mampu membeli rumah yang besar, halamannya luas dan teduh. Semasa kanak, aku sering berkunjung ke tempat paman. Menghabiskan hari bersama Ani dan Linda, anak perempuan paman yang usianya sedikit di bawahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman belakang rumah, paman dan tante menyambut kami. Di meja, sudah tersedia makanan dan minuman yang menerbitkan selera. Ani dan Linda yang kini sudah dewasa pun sudah mengambil tempat masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada yang berbeda kali ini. Mata ibu, paman, tante, Ani, dan Linda, tak seperti biasanya. Bukan tatapan sebagaimana dulu aku datang untuk menghabiskan hari dengan berlari-larian di halaman. Ada cahaya yang ganjil dari wajah mereka semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana ganjil yang sedikit hening itu, paman memecah keadaan dengan meminta tante memanggil Patra. “Suruh dia kemari,” kata paman dengan nada sedikit memerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka datanglah Patra. Lelaki tinggi kurus yang setengah rapi itu duduk di salah satu kursi dengan mata yang tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Patra, kamu ingat Aida bukan. Lihat, Aida, anak tante Marni. Dia cantik dan menjadi kembang di mana pun,” ujar Paman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku tak suka dengan perkataan paman. Dia seperti menawar-nawarkan aku kepada Patra. Dia seperti menyuguh-nyuguhkan aku dengan anak sulungnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O ya, mengenai Patra, sejak bocah aku tak terlalu suka dan terlalu peduli dengan dia. Patra, yang usianya terpaut dua tahun di atasku itu, terlalu pendiam. Dia terlalu banyak tinggal di kamarnya, membaca buku. Sepenglihatanku, dunianya hanyalah buku-buku. Sesekali aku menganggapnya mengidap kelainan jiwa. Jikalau aku dan Linda dan Ani berlarian di halaman, dia hanya sesekali melongok ke luar. Namun, tatapannya tidak menuju padaku, Ani, atau Linda. Tatapannya seperti menuju langit, menuju arah yang tak bersimpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hari, tahulah aku ihwal perjumpaan di halaman belakang rumah paman pada pagi itu. Ibu memintaku (untuk tidak menyebut memaksaku) menikah dengan Patra. Alasannya, paman khawatir dengan tindak-tanduk Patra. Sejak dia mulai belajar di perguruan tinggi, Patra semakin jarang di rumah. Dan sejak itu pula, paman seringkali merasa rumahnya diintai orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paman merasa pernikahan barangkali dapat menghentikan tindak-tanduk Patra. Setidaknya, dia akan lebih sering di rumah, ada teman berbicara. Jika punya anak, dia akan terikat dengan tanggung jawab, dan hidupnya akan lebih aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perempuan, satu yang tak bisa kubantah: perintah ibu. Hanya dengan a
