Aku tidak butuh lukisan untuk mengingat
Sungai Westfield melingkar di bawah
tebing-tebing curam, matahari membakar wajah
menengadahku yang berparas jelas, tanganku yang kaku
dan kakiku yang menekuk berusaha untuk tampak rileks
di atas bebatuan demi Deborah berlatih
lukisan figuratifnya. Telanjang, aku ingin
menjadi berguna baginya di lapangan warna-warna
Juli dan Agustus–di mana aku kesakitan
karena melindungi rasa maluku dengan jubahku,
untuk menukar tubuhku yang baru saja 24 tahun
yang telah diterima untuk seseorang
yang bisa kukagumi sebagaimana aku mengaguminya.
Tetap saja, ketika dia mengirimku sebuah PDF lukisan
berusia lima puluh tahun–pepohonan hemlock dan pinus
menghalangi air–aku ingat ketika berjalan
menuruni bukit dengan senterku, seorang gadis kota
yang bodoh ketakutan di jalan berkerikil dengan suara aneh.
Aku berusaha untuk berani, setiap hari di mejaku,
berusaha menemukan bahasa untuk hasrat lesbianku
saat melewati Rute 9 dibasahi gerimis
bersama Deb melalui Hadley dan Williamsburg.
Ketika aku melihat lukisan itu saat ini
aku berharap dulu aku menemukan beberapa kelembutan
untuk orang yang berbaring di bebatuan–
bergairah, tekun dengan dada muda dan perutnya
yang tak sempurna.
Andai saja aku melihatnya anggun
di hadapan sungai biru-perak, bangkit bersama
keraguan dan ketakutannya pada kaki-kaki yang bisa diandalkan
sepanjang musim untuk panas melompat dari batu ke tepian.
Woman In
A Landscape (The New Yorker–March 24th 2025)
Robin Becker (1951 - )