Semua temanku punya tuhan-tuhan mereka
& surga-surga mereka & rencana-rencana mereka tentang bagaimana untuk
sampai di sana. Mereka mengorbankan seks untuk Prapaskah, daging babi untuk
hidup, mereka menyalakan dupa, mereka menyalakan lilin, mereka menawarkan buah
untuk orang mati. inikah waktu yang tepat untuk mengakui bahwa aku pernah menggigit seorang bocah
laki-laki karena memanggilku seorang buddhis. Lupakan bahwa aku masih enam
tahun & tidak tahu apa artinya buddhis, lupakan bahwa kami berada di dalam
sebuah kuil Buddha. Untuk waktu yang lama, aku pikir tuhan diperankan
berganti-ganti oleh orang dekatku yang mati. Untuk waktu yang lama, tuhan
adalah seorang bocah laki-laki dengan cincin kunci di lingkaran ikat
pinggangnya. Aku tak pernah punya iman sebesar yang kulakukan dulu, tetapi aku
tak pernah bicara pada tuhan sebanyak yang kulakukan saat ini-saat ini
keinginanku hanyalah menginginkan burung. Pada beberapa titik, seseorang
mengundangku ke Paskah, kemudian ke Seder, kemudian ke Idul Fitri & untuk
satu malam aku bicara pada tuhannya Andrew, & untuk satu malam aku bicara
pada tuhannya Sam. Aku bicara pada tuhannya Saf. Aku adalah sebuah sumbu yang
dinyalakan oleh siapapun tuhan yang mengembara–sebuah selera yang bersedia
untuk keajaiban orang lain. & kemudian Paul sakit & kemudian membaik,
& aku bilang terimakasih terimakasih. Paul & aku berasal dari kota yang nama pertamanya berasal dari seorang
penyelundup minuman keras & kemudian dinamai ulang dari seorang santo &
ketika ia meninggal dunia, aku mengejar penerbangan ke sebuah kota yang hanya
aku yang tahu, di mana kelembaban meratakan lipatan yang kusetrika di celana
panjangku.
seluruh hidupku, aku menginjilkan penghinaanku, menyorot santo bocah-bocah
lelaki dengan cahaya buruk, tak pernah mempertimbangkan surga, hanya cuaca
baik. Tetapi sejak seluruh orang dekatku yang mati menyebut rumah dengan tuhan
yang berbeda-beda, aku tahu mereka tak begitu, seperti yang kubayangkan, semua
menunggu di tempat yang sama untukku. Untuk waktu yang lama, aku pikir aku bisa
melewatinya dengan melemparkan imanku ke arah mimbar mana saja yang umum.
Terimakasih teman karena sudah menunjukkanku tuhanmu, & terimakasih tuhan-tuhan
karena sudah menunjukkanku teman-temanku, tetapi surga yang aku pilih adalah
surga yang bisa kutinggalkan.
Saint Paul
(The New Yorker–August 17 2026)
Hieu Minh Nguyen (2004 - )