Semalam, setelah berbulan-bulan jauh dari rumah,
seekor burung turek mematuk gelap yang diam tetap
dengan peringatan-peringatannya. Bahasa, barangkali,
mulai seperti ini. Api unggun. Satu orang
untuk berjaga-jaga, yang akan membutuhkan
sesuatu untuk membunyikan bahaya. Sebuah kata seperti Harimau!
Serangan Udara! Lari! Dan ketika kata-kata masuk
mereka tak terbendung, menyeret debu masuk ke koridor-koridor
otak kita, mendirikan tenda-tenda untuk melihat matahari terbenam di atas
rawa-rawa yang mulai kelabu. Kita dulu sudah belajar membuat celurit dan beliung,
alat-alat untuk mengukir daging sisa bison dan mammoth-mammoth.
Bahasa dan kekerasan berproses bersama. Hanya kelak,
di taman berbunga, bersenjatakan kacamata lorgnette,
kita bisa mengatakan hal-hal seperti Pergi
dan berikan pantat seteguk
anggur untuk membasuh buah ara. Atau Akankah
menghabiskan waktu untuk bersolek setelah bersetubuh. Ketika kita berbaring, engkau dan Aku, punggung kita
menyandari goresan tanah di negara terbuka yang bergantung pada hujan ini,
seluruh horor pecahan peluru terbakar tahun ini tak bisa dinamai
dan tak bisa lewat dari tanah jiwa yang gembur
ke dahan, ke tenggorokan. Kita pergi. Mengangkat kaki kita ke langit
seakan mereka bisa menahan surga. Makna
surut. Di Armenia, salah satu cara mengatakan aku mencintaimu adalah
aku ingin memakan livermu. Dalam
bahasa Arab, aku ingin kau menguburku,
aku ingin engkau berjalan di bulumataku.
Rasakan
turunnya laut es tebal runtuh di sekujur tubuh kita. Para leluhur
burung turek–mereka punya bulu-bulu untuk satu juta tahun
sebelum menggunakannya untuk terbang. Lidah kita.
Raja-raja dalam buaian mulut kita.
Kini menjeritlah. Kini menyanyilah.
A Theory on the Origin of Language (The New Yorker–April 27 2026)
Tishani Doshi (1975– )