Wednesday, August 26, 2026

Santo Paul

Semua temanku punya tuhan-tuhan mereka & surga-surga mereka & rencana-rencana mereka tentang bagaimana untuk sampai di sana. Mereka mengorbankan seks untuk Prapaskah, daging babi untuk hidup, mereka menyalakan dupa, mereka menyalakan lilin, mereka menawarkan buah untuk orang mati. inikah waktu yang tepat untuk mengakui bahwa aku pernah menggigit seorang bocah laki-laki karena memanggilku seorang buddhis. Lupakan bahwa aku masih enam tahun & tidak tahu apa artinya buddhis, lupakan bahwa kami berada di dalam sebuah kuil Buddha. Untuk waktu yang lama, aku pikir tuhan diperankan berganti-ganti oleh orang dekatku yang mati. Untuk waktu yang lama, tuhan adalah seorang bocah laki-laki dengan cincin kunci di lingkaran ikat pinggangnya. Aku tak pernah punya iman sebesar yang kulakukan dulu, tetapi aku tak pernah bicara pada tuhan sebanyak yang kulakukan saat ini-saat ini keinginanku hanyalah menginginkan burung. Pada beberapa titik, seseorang mengundangku ke Paskah, kemudian ke Seder, kemudian ke Idul Fitri & untuk satu malam aku bicara pada tuhannya Andrew, & untuk satu malam aku bicara pada tuhannya Sam. Aku bicara pada tuhannya Saf. Aku adalah sebuah sumbu yang dinyalakan oleh siapapun tuhan yang mengembara–sebuah selera yang bersedia untuk keajaiban orang lain. & kemudian Paul sakit & kemudian membaik, & aku bilang terimakasih terimakasihPaul & aku berasal dari kota yang nama pertamanya berasal dari seorang penyelundup minuman keras & kemudian dinamai ulang dari seorang santo & ketika ia meninggal dunia, aku mengejar penerbangan ke sebuah kota yang hanya aku yang tahu, di mana kelembaban meratakan lipatan yang kusetrika di celana panjangku.
seluruh hidupku, aku menginjilkan penghinaanku, menyorot santo bocah-bocah lelaki dengan cahaya buruk, tak pernah mempertimbangkan surga, hanya cuaca baik. Tetapi sejak seluruh orang dekatku yang mati menyebut rumah dengan tuhan yang berbeda-beda, aku tahu mereka tak begitu, seperti yang kubayangkan, semua menunggu di tempat yang sama untukku. Untuk waktu yang lama, aku pikir aku bisa melewatinya dengan melemparkan imanku ke arah mimbar mana saja yang umum. Terimakasih teman karena sudah menunjukkanku tuhanmu, & terimakasih tuhan-tuhan karena sudah menunjukkanku teman-temanku, tetapi surga yang aku pilih adalah surga yang bisa kutinggalkan.

Saint Paul (The New Yorker–August 17 2026)
Hieu Minh Nguyen (2004 - )

Thursday, July 30, 2026

Lebih Muda

Hanya beberapa bagianku
di sini di atas Bumi.
Seperti ketika kututup
mantelku di pintu mobil–  
sisanya adalah luar.
Kukatakan ini untuk memastikan-

mu bahwa engkau sudah menyakiti
sebagian dariku;
sisanya tidak,
dari lapisan planet ini,
bisa dijangkau dari jauh.
aku mengatakan ini untuk mengajarkan.

Lain kali lebih beruntung.
Ciumlah permata biru itu
dalam bingkainya. Dan
sebaiknya buru-buru. Selamat
ulang tahun. Tebaklah
apa yang tak kau dapatkan.

Any Younger (The New Yorker – Juy 27th 2026)
Natalie Saphero (1982 - )

Saturday, June 27, 2026

Sebuah Impian Amerika

Para akuntan melayang di atas bumi seperti helikopter,
Menjatuhkan tulang-tulang kecil berukirkan nama Hegel.
Seekor luak membawa tulang dengan bulunya
Menuju sarangnya, tempat seluruh keluarganya mati malam itu.

Seorang gadis paduan suara berdiri berjam-jam di belakang tirai
Melihat ke jalan.
Ada dahan-dahan mati dicat putih
Di jendela-jendela layanan angkut;
Seekor buaya mungil mencengkeram dahan-dahan itu dengan rapat
Demi menjauh dari daun-daun kering di lantai.

Sarang madu pada malam hari punya mimpi-mimpi aneh:
Kereta hitam kecil berputar dan berputar–
Kapal perang tua tenggelam dalam rintik hujan.

An American Dream (Poetry–1966)
Robert Bly (1926-2021)

Thursday, June 4, 2026

Menjadi Tua

Tak usah resah soal
leher
gelas sampanye.
Minum saja sampanyenya.

Daging lengan bagian dalam,
krep sayap kelelawar.
Kereta untuk penerbangan malam.

Mengharapkan rambut tubuh
jadi
menipis,
seperti Alpine.
Penjepit sampah,
alat cukur.

Di kamar mandi,
menemukan sebuah pulau karang daging
hangat di atas perut.
Cangkir dengan lembutnya di tanganmu
seperti adonan tortilla mentah.
Mengagumi hasil akhir satinnya.
Mengucapkan terimakasih.

Suatu hari engkau akan terjaga
terkesima seperti Gregor Samsa
dan mendapati dirimu telah
berubah wujud ke dalam sebuah gunung berapi.

Memikirkan Paricutin, Popo, Ixta, Orizaba.
Berikan dirimu sebuah nama yang keren,
lebih disukai dengan sebuah “x” atau “z” atau “tl”:
Xandra Xiznerox
Zandra Zixneroz
XXandra ZZizneroz
Xztl Zxtl.

Muntah asap. Muntah abu. Pada
peristiwa, yang sama sekali layak untuk
melambungkan batu-batu. Batu apung populer.

Berusaha supaya mirip Dewi Coatlique.

Berlatih menjadi ilahi dengan sebuah batu cermin obsidian.
Mengintip dengan kesehari-harian yang tulus.
Itu akan memberitahumu apa yang ngeri kau dengarkan.
Biasakan.

How to Grow Old (The New Yorker–June 8th 2026)
Sandra Cisneros (1954 - )

Saturday, May 16, 2026

Garam

Jika engkau ingin mempelajari esensinya, tujuannya,
kegunaannya di dunia,
engkau harus melihatnya secara keseluruhan. Garam
bukanlah individu-individu yang membuatnya
melainkan suku yang bersolidaritas. Tanpa itu
setiap partikel akan menjadi satu fragmen ketiadaan,
mengurai dalam beberapa lubang hitam tak terpikirkan.

Permukaan garam berasal dari laut. Busanya
yang membatu.
Lautnya dipanggang matahari.

Dan sebab itu akhirnya usang,
kehilangan kekuatan airnya yang besar,
ia mati di pantai untuk menjadi batu di pasir.

Garam adalah gurun yang pernah jadi laut.
Air dan daratan
berdamai,
tak ada sesiapa bermasalah.

Itulah mengapa dunia merasakan apa yang membuatnya hidup.

La Sal (Desde Entonces-1979. Translated to Bahasa Indonesia from English translation by Katherine M Hedeen with the title 'Salt'. Published on LA Review Books November 14th 2014)
Jose Emilio Pacecho (1939-2014)

Friday, May 15, 2026

Sebuah Teori Tentang Asal-Usul Bahasa

Semalam, setelah berbulan-bulan jauh dari rumah,
seekor burung turek mematuk gelap yang diam tetap
dengan peringatan-peringatannya. Bahasa, barangkali,
mulai seperti ini. Api unggun. Satu orang
untuk berjaga-jaga, yang akan membutuhkan
sesuatu untuk membunyikan bahaya. Sebuah kata seperti  Harimau!
Serangan Udara!  Lari!  Dan ketika kata-kata masuk
mereka tak terbendung, menyeret debu masuk ke koridor-koridor
otak kita, mendirikan tenda-tenda untuk melihat matahari terbenam di atas
rawa-rawa yang mulai kelabu. Kita dulu sudah belajar membuat celurit dan beliung, alat-alat untuk mengukir daging sisa bison dan mammoth-mammoth.
Bahasa dan kekerasan berproses bersama. Hanya kelak,
di taman berbunga, bersenjatakan kacamata lorgnette,
kita bisa mengatakan hal-hal seperti Pergi dan berikan pantat seteguk
anggur untuk membasuh buah ara. Atau Akankah menghabiskan waktu untuk bersolek setelah bersetubuh. Ketika kita berbaring, engkau dan Aku, punggung kita
menyandari goresan tanah di negara terbuka yang bergantung pada hujan ini,
seluruh horor pecahan peluru terbakar tahun ini tak bisa dinamai
dan tak bisa lewat dari tanah jiwa yang gembur
ke dahan, ke tenggorokan. Kita pergi. Mengangkat kaki kita ke langit
seakan mereka bisa menahan surga. Makna
surut. Di Armenia, salah satu cara mengatakan aku mencintaimu adalah
aku ingin memakan livermu. Dalam bahasa Arab, aku ingin kau menguburku,
aku ingin engkau berjalan di bulumataku. Rasakan turunnya laut es tebal runtuh di sekujur tubuh kita. Para leluhur
burung turek–mereka punya bulu-bulu untuk satu juta tahun
sebelum menggunakannya untuk terbang. Lidah kita.
Raja-raja dalam buaian mulut kita.
Kini menjeritlah. Kini menyanyilah.

A Theory on the Origin of Language (The New Yorker–April 27 2026)
Tishani Doshi (1975– )



Wednesday, May 13, 2026

Para Pengemis

Engkau tak tahu
apa yang ada di tumpukan. Seorang pengunjung
mendapatinya sebagai tempat pengemis. Mereka menjual
rongga kosong tangan mereka.

Mereka menunjukkan para pelancong
mulut mereka yang penuh kotoran,
dan membiarkan mereka (ia mampu melakukannya) mengintip
kudis yang menggerogoti mereka.

Dalam penglihatan mereka yang dipelintir
wajah asingnya miring;
mereka senang dengan pencapaian mereka
dan ketika dia bicara mereka muntah.

The Beggars (Poetry Foundation-translated from Germans to English by Michael Hofmann)
Rainer Maria Rilke (1875-1926)