Friday, September 25, 2026

Utang

Utang macam apa ini yang matauangnya adalah tidur?
            Apa tanda yang memberitahuku

Keterlambatanmu? Apakah kandungan sehelai daun?
            Siapa yang cukup bodoh

Untuk bersekutu di dalamnya? Apa pilihan racun
            Bercampur dengan klorofil

Yang mengejar kita ke ujung kehancuran
            Yang lain?

Ke alamat mana kami bisa mengirimkan bunga-bunga
            Atau dalam pengganti bunga

Dana apa yang harus kami investasikan dengan Tatapan
            ribuan mil melalui api ini

Ladang-ladang aster, sulur-sulur diterangi bintang
            Penglihatan kami bersitegas

Dalam pola pucat berdebu meninggalkan beberapa ruang
            Untuk sumbangan hantu?

Bisakah aku bertanya padamu siapa yang memanggil? Bukankah engkau
            tertidur?

Kapan aku akan bangun, dihapus oleh satu tatapan dingin
            Beku

Seperti alas cembung obsesi udara
            dengan sebuah piramid?

Apa pembanding puisi dengan mulut?
            Siapa di sana yang mendengarkannya?

Mengapa semua teksmu ditulis dengan
            tinta tak terlihat

Pada jam yang larut ini? Kepada Siapa
            aku berutang kenikmatan?

Debt (The New Yorker-September 20 2026)
Daniel Poppick

Monday, September 21, 2026

Siang Musim Panas

Siapa yang menciptakan dunia?
Siapa yang menciptakan angsa, dan beruang hitam?
Siapa yang menciptakan belalang?
Belalang yang ini, maksudku–
yang melemparkan dirinya keluar dari rumput,
yang memakan gula dari tanganku,
yang menggerakkan rahangnya maju dan mundur alih-alih
turun dan naik–
yang menatap sekitar dengan matanya yang besar
dan rumit.
Kini ia mengangkat lengan bawahnya yang pucat dan
membasuh wajahnya sepenuhnya.
Kini ia menjentikkan sayapnya terbuka, dan melayang menjauh.
Aku tidak tahu apa itu doa.
Aku tahu bagaimana memerhatikan, bagaimana jatuh
ke rumput, bagaimana berlutut di rumput,
bagaimana berdiam dan merasa diberkati, bagaimana berjalan-jalan
di ladang,
hal yang sudah kulakukan sepanjang hari.
Beritahu aku, apa lagi yang harus kulakukan?
Tidakkah semuanya mati pada akhirnya, atau mati terlalu cepat?
Beritahu aku, apa rencanamu untuk dilakukan
dengan hidupmu satu-satunya yang liar dan berharga?

The Summer Day (Poets.org)
Mary Oliver (1935-2019)



Wednesday, August 26, 2026

Santo Paul

Semua temanku punya tuhan-tuhan mereka & surga-surga mereka & rencana-rencana mereka tentang bagaimana untuk sampai di sana. Mereka mengorbankan seks untuk Prapaskah, daging babi untuk hidup, mereka menyalakan dupa, mereka menyalakan lilin, mereka menawarkan buah untuk orang mati. inikah waktu yang tepat untuk mengakui bahwa aku pernah menggigit seorang bocah laki-laki karena memanggilku seorang buddhis. Lupakan bahwa aku masih enam tahun & tidak tahu apa artinya buddhis, lupakan bahwa kami berada di dalam sebuah kuil Buddha. Untuk waktu yang lama, aku pikir tuhan diperankan berganti-ganti oleh orang dekatku yang mati. Untuk waktu yang lama, tuhan adalah seorang bocah laki-laki dengan cincin kunci di lingkaran ikat pinggangnya. Aku tak pernah punya iman sebesar yang kulakukan dulu, tetapi aku tak pernah bicara pada tuhan sebanyak yang kulakukan saat ini-saat ini keinginanku hanyalah menginginkan burung. Pada beberapa titik, seseorang mengundangku ke Paskah, kemudian ke Seder, kemudian ke Idul Fitri & untuk satu malam aku bicara pada tuhannya Andrew, & untuk satu malam aku bicara pada tuhannya Sam. Aku bicara pada tuhannya Saf. Aku adalah sebuah sumbu yang dinyalakan oleh siapapun tuhan yang mengembara–sebuah selera yang bersedia untuk keajaiban orang lain. & kemudian Paul sakit & kemudian membaik, & aku bilang terimakasih terimakasih. Paul & aku berasal dari kota yang nama pertamanya berasal dari seorang penyelundup minuman keras & kemudian dinamai ulang dari seorang santo & ketika ia meninggal dunia, aku mengejar penerbangan ke sebuah kota yang hanya aku yang tahu, di mana kelembaban meratakan lipatan yang kusetrika di celana panjangku.
seluruh hidupku, aku menginjilkan penghinaanku, menyorot santo bocah-bocah lelaki dengan cahaya buruk, tak pernah mempertimbangkan surga, hanya cuaca baik. Tetapi sejak seluruh orang dekatku yang mati menyebut rumah dengan tuhan yang berbeda-beda, aku tahu mereka tak begitu, seperti yang kubayangkan, semua menunggu di tempat yang sama untukku. Untuk waktu yang lama, aku pikir aku bisa melewatinya dengan melemparkan imanku ke arah mimbar mana saja yang umum. Terimakasih teman karena sudah menunjukkanku tuhanmu, & terimakasih tuhan-tuhan karena sudah menunjukkanku teman-temanku, tetapi surga yang aku pilih adalah surga yang bisa kutinggalkan.

Saint Paul (The New Yorker–August 17 2026)
Hieu Minh Nguyen (2004 - )

Thursday, July 30, 2026

Lebih Muda

Hanya beberapa bagianku
di sini di atas Bumi.
Seperti ketika kututup
mantelku di pintu mobil–  
sisanya adalah luar.
Kukatakan ini untuk memastikan-

mu bahwa engkau sudah menyakiti
sebagian dariku;
sisanya tidak,
dari lapisan planet ini,
bisa dijangkau dari jauh.
aku mengatakan ini untuk mengajarkan.

Lain kali lebih beruntung.
Ciumlah permata biru itu
dalam bingkainya. Dan
sebaiknya buru-buru. Selamat
ulang tahun. Tebaklah
apa yang tak kau dapatkan.

Any Younger (The New Yorker – Juy 27th 2026)
Natalie Saphero (1982 - )

Saturday, June 27, 2026

Sebuah Impian Amerika

Para akuntan melayang di atas bumi seperti helikopter,
Menjatuhkan tulang-tulang kecil berukirkan nama Hegel.
Seekor luak membawa tulang dengan bulunya
Menuju sarangnya, tempat seluruh keluarganya mati malam itu.

Seorang gadis paduan suara berdiri berjam-jam di belakang tirai
Melihat ke jalan.
Ada dahan-dahan mati dicat putih
Di jendela-jendela layanan angkut;
Seekor buaya mungil mencengkeram dahan-dahan itu dengan rapat
Demi menjauh dari daun-daun kering di lantai.

Sarang madu pada malam hari punya mimpi-mimpi aneh:
Kereta hitam kecil berputar dan berputar–
Kapal perang tua tenggelam dalam rintik hujan.

An American Dream (Poetry–1966)
Robert Bly (1926-2021)

Thursday, June 4, 2026

Menjadi Tua

Tak usah resah soal
leher
gelas sampanye.
Minum saja sampanyenya.

Daging lengan bagian dalam,
krep sayap kelelawar.
Kereta untuk penerbangan malam.

Mengharapkan rambut tubuh
jadi
menipis,
seperti Alpine.
Penjepit sampah,
alat cukur.

Di kamar mandi,
menemukan sebuah pulau karang daging
hangat di atas perut.
Cangkir dengan lembutnya di tanganmu
seperti adonan tortilla mentah.
Mengagumi hasil akhir satinnya.
Mengucapkan terimakasih.

Suatu hari engkau akan terjaga
terkesima seperti Gregor Samsa
dan mendapati dirimu telah
berubah wujud ke dalam sebuah gunung berapi.

Memikirkan Paricutin, Popo, Ixta, Orizaba.
Berikan dirimu sebuah nama yang keren,
lebih disukai dengan sebuah “x” atau “z” atau “tl”:
Xandra Xiznerox
Zandra Zixneroz
XXandra ZZizneroz
Xztl Zxtl.

Muntah asap. Muntah abu. Pada
peristiwa, yang sama sekali layak untuk
melambungkan batu-batu. Batu apung populer.

Berusaha supaya mirip Dewi Coatlique.

Berlatih menjadi ilahi dengan sebuah batu cermin obsidian.
Mengintip dengan kesehari-harian yang tulus.
Itu akan memberitahumu apa yang ngeri kau dengarkan.
Biasakan.

How to Grow Old (The New Yorker–June 8th 2026)
Sandra Cisneros (1954 - )

Saturday, May 16, 2026

Garam

Jika engkau ingin mempelajari esensinya, tujuannya,
kegunaannya di dunia,
engkau harus melihatnya secara keseluruhan. Garam
bukanlah individu-individu yang membuatnya
melainkan suku yang bersolidaritas. Tanpa itu
setiap partikel akan menjadi satu fragmen ketiadaan,
mengurai dalam beberapa lubang hitam tak terpikirkan.

Permukaan garam berasal dari laut. Busanya
yang membatu.
Lautnya dipanggang matahari.

Dan sebab itu akhirnya usang,
kehilangan kekuatan airnya yang besar,
ia mati di pantai untuk menjadi batu di pasir.

Garam adalah gurun yang pernah jadi laut.
Air dan daratan
berdamai,
tak ada sesiapa bermasalah.

Itulah mengapa dunia merasakan apa yang membuatnya hidup.

La Sal (Desde Entonces-1979. Translated to Bahasa Indonesia from English translation by Katherine M Hedeen with the title 'Salt'. Published on LA Review Books November 14th 2014)
Jose Emilio Pacecho (1939-2014)