Tenggat waktu lauthijau tergelincir meluncur dari
bantal kertas-kertas dan buku-bukuku yang tak dibaca.
Kapankah kita menemukan diri kita, dan di mana?
JANGAN PINDAHKAN KARTU INI
Ia harus memuji dari buku-buku yang kucuri
pada hari-hari berdarah Saigon dan Negara Bagian Jackson.
Kami bekerja untuk memisahkan kengerian dari
kengerian.
Dalam hidup, tentang hidup, kegembiraan dari kegembiraan yang berbahaya.
BAYAR SEPULUH SEN KALAU HILANG
Buku-buku menandai kita untuk kebaikan tetapi tak selalu membantu.
Fakta-fakta, momen-momen, dambaan-dambaan, dan kehilangan
menyerbu hari-hari kita. Gelincir tak bertuju menutupi
film-film yang memainkan Selancar yang sudahlamapergi,
jauh dari Jalan Raya, jauh ke luar ke Matahariterbenam
ketimbang dari perpustakaanku. Di baris kedelapan, di sampingku,
Mifune merajuk dan bersungut. Di luar, kabut
menyelempangi lampu-lampu jalan dan kemah besar Selancar.
Tetapi itu buku apa? Apa urusannya denganku?
Aku pasti sudah mematahkan tulang punggungnya
di sana,
menggarisbawahi apa yang tampak penting ketika itu.
Buku-buku menggantikan pengakuan dosa masa kanak-kanak,
teater-teater dosa berbisik kita, yang tertutup.
Nostalgia bikin sakit tetapi menunjukkan kita.
Kita ingin sakit, dilepaskan dari
momennya, satu-satunya rumah kita
sesungguhnya. Aku mencuri
untuk membuat buku-buku tetap dekat, seperti puisi-puisinya Hardy,
Di sana mereka mengukir nama-nama rintik hujan yang mencangkul.
Bersemangatlah. Hati-hati dengan pengunjung-pengunjung tak diinginkan.
Kemiripan membuat yang bodoh disandera. Tetaplah dekat
dengan apa yang membuat mistis dan benar.
Aku masih berhasrat mencuri rahasia-rahasia
dan aku adalah sandera untuk apa yang mungkin tak pernah.
Lamunan dan arwah gentayangan. Sebuah kenangan,
kenangan ini, membakar momen, waktu milikku
ini bukan milikku tetapi adalah aku.
Kegembiraan tenggat waktu yang sudah lama lewat.
W.S Di Piero (1945 - )