Thursday, March 19, 2026

Puisi Panjang Tentang Kesepian

Ia bersandar pada jam yang larut ini
membuka pintu usianya yang berderak
temperaturnya jatuh
menyebabkan salju di matanya.

Ia berdiri
untuk duduk di tepi jendela
sadar bahwa ia telah duduk
di tepi jendela selama berjam-jam.

Seekor burung
mematuk sudut langit yang berkarat
Tidakkah ia ingin mati dengan lebih indah?
Tidakkah seseorang selalu ingin jatuh ke tanah demi mati?
Tidakkah bumi
mengisi mulut yang mati
untuk menghentikan mereka dan menggambarkan apa yang sudah mereka lihat?
Sudahkah dia membiarkan cambangnya tumbuh
untuk menyingkap semua pertanyaan
dalam lipatan-lipatan wajahnya?

Apakah mungkin untuk bangkit
mematuki sedikit hidupnya dengan paruhnya
dan menaruhnya di mulut anak-anaknya?

Ia membuka jendela
jeruk-heruk kehidupan adalah jeruk darah
ia tidak mengerti alasan tentang bulan
ia tidak mengerti alasan tentang langit yang kosong-melompong.

Ia matikan lampu
berbaring di atas ranjang ia membuang dirinya
bertahun-tahun lalu
ia berbaring di atas kejauhan
dan ketika telepon berdering,
ia harus bangkit ke sebuah jalan sepanjang kehidupan seorang manusia.

Di sisi lain garis
terbaring tulang kerangka saudara lelakinya yang terpotong-potong
yang meledak ketika memegang telepon dengan tangannya
sebuah tulang kerangka yang kini mengumpulkan kalimat-kalimat terakhirnya
dari tanah.

Di sisi lain garis
seorang wanita
menghubungi dua puluh tujuh tahun lalu
hanya untuk bilang,
“Nak, gas oven menyala
aku mati
dan saudarimu kini
bersedih tumbuh semakin tinggi setiap hari…
Jagalah kesedihanmu
kerjakan pekerjaanrumah mereka
bicaralah pada mereka.”

Di sisi lain hubungan telepon
adalah aku
yang ingin mengangkutnya keluar dari puisi ini
yang ingin menyelamatkannya dari kata-kata ini.

Tetapi seseorang sibuk
mengawasi kabel-kabel telepon
seseorang sibuk
mengintai hubunganku dengan diriku sendiri
dan hidung yang gatal engkau dengar
berasal dari pisaumu, mengukir kata-kata…
Darah bersikulasi di dalam kabel-kabel
dan keabadian merah nada sambung
tumpah ke dalam telinga
setetes demi setetes.

Ini adalah kesepiannya
yang melayukan bunga-bunga di kemejanya.

Teh meluncur di dalam mulutnya
kancing-kancing hidupnya ditelantarkan begitu saja
dan sebagian jiwanya berkeliaran.

Ia mengeluarkan surat dari laci
akankah ia semakin hangat dengan membacanya
atau membakarnya?

Ia nyalakan rokoknya
dan menggerakkannya seperti sebuah kail tersangkut di dinding
kemarin sudah selesai
esok sudah selesai
dan dengan setiap desahan kejauhan hidup yang abu-abu
menarik mendekat ke mulutnya.

Ia telah menyentuh kedua sisi kematian
seperti sampul depan dan belakang buku ini
yang ia tutup di bagian tengah
melemparnya ke lantai
tetapi tidak jatuh
ia bangkit
dan terbang
dengan dua baris kisahnya.

Kini sepasang burung putih
melintasi pikiran angkasa seperti kata-kata mungil.

Kini mereka membawa jeruk-jeruk
untuk musim-musim yang lain.

Kini mereka meninggalkan panggung
kosong.

Dia menutup tirai kelopak matanya
seperti seekor kura-kura
mundur ke delam dunia batunya.

Sher Baland Tanhayi (2020)
Garous Abdolmalekian (1980 – )

Monday, February 23, 2026

Tawaran Ramping

Semua mengalami kemenyusutannya.
                                                   Semuanya menyusut.

Keeleganan lama hatiku menjadi sekecil
sebuah petimati diukir untuk seekor kumbang tai yang hidup

Tiga ribu tahun lalu dan mati karena matahari
dan pisaubedah, supranatural, tetapi musikal.

Setengah hidup yang lalu, ketika ada badai salju,
Kami akan mencuri susu dari yang muda chimera.

Semacam pilihan kecil tak alami seperti kami.

Cinta diriku–mustahil seperti sebuah kapal yang dibuat dari anggrek
Numidia yang tetap engkau tutup dalam botol

                                                     Meledak dalam bentuk
                                                     kebaikan-kebaikan tertentu.

Hal-hal berkarat. Tak ada bukti burung-burung; tak ada bukti terbang.
Aku bahagia aku tidak akan ada di sini ketika bumi sedang hangat.

Slender Offering (The New Yorker, February 23th 2026)
Lucie Brock-Broido (1956-2018)

Saturday, February 14, 2026

Rutinitas

     Untuk Micah

Udara pagi menahan
gemuruh para tukang bersih-bersih
Gagak-gagak berjalan angkuh melewati bayang-bayang
mengumpulkan serpihan yang tumpah
Jangan Menoleh ke Belakang!
ketika aku ditarik ke pamflet-pamflet
aneh Yesus di perpustakaan
gratis dan engkau menghitung
berat dunia dalam pikiranmu
Langit punya segumpal kabut tetapi lebih biru
ketimbang abu-abu. Aku memindai kembalinya bahasa
Kristus untuk kemiripan dan berusaha
menangkap sekilas dirimu di atas
bukit. Bertemu dengan silauan kaca depan
ketika matahari naik sedikit lagi. Aku melambai
pada cahaya untuk jaga-jaga

Routines (Poetry Foundation January 2026)
Sunnylyn Thibodeaux (1975- )

 

Wednesday, February 4, 2026

100 Kuda

Semua orang
Semua orang harus senyum
Di masa-masa perang

Jenderal Smith bilang padaku
Aku tak akan pernah tersenyum lagi
Dia bilang aku tak akan pernah tersenyum lagi
Tetapi tak perlu cemas
Karena semua orang, berhenti tersenyum
Ketika mereka mendapatkan apa yang mereka mohonkan

Semua orang
Di masa-masa perang
Harus turun ke sirkus

Jenderal Adams bilang padaku
“Nak, engkau terlahir takut mati”
Maka ia berkata, “Suatu hari engkau akan mati ketakutan
Tetapi tak perlu cemas
Karena semua orang pasti mati ketakutan atau mati gugup”

Semua orang
Semua orang harus pergi joged
Di sana di lantai joged

Ada seratus kuda berjoged
Mungkin 124
Semua kuda pasti berjoged
Hanya ada satu-satunya musik joged di masa-masa perang

Seratus kuda
Berjoged bersamaku dengan bebas
Tetapi kami sudah berjoged terlalu lama
Kami sudah berjoged terlalu lama
Dan kini aku harus berubah sepenuhnya

Semua orang

100 Horses (Getting Killed-2025)
Geese (Gus Green/Cameron Winter/Max Bassin/Dominic Digesu)

Tuesday, February 3, 2026

Bercabang Matahari Terbenam

Tenggat waktu lauthijau tergelincir meluncur dari
bantal kertas-kertas dan buku-bukuku yang tak dibaca.
Kapankah kita menemukan diri kita, dan di mana?
JANGAN PINDAHKAN KARTU INI
Ia harus memuji dari buku-buku yang kucuri
pada hari-hari berdarah Saigon dan Negara Bagian Jackson.

Kami bekerja untuk memisahkan kengerian dari kengerian.  
Dalam hidup, tentang hidup, kegembiraan dari kegembiraan yang berbahaya.
BAYAR SEPULUH SEN KALAU HILANG
Buku-buku menandai kita untuk kebaikan tetapi tak selalu membantu.
Fakta-fakta, momen-momen, dambaan-dambaan, dan kehilangan
menyerbu hari-hari kita. Gelincir tak bertuju menutupi

film-film yang memainkan Selancar yang sudahlamapergi,
jauh dari Jalan Raya, jauh ke luar ke Matahariterbenam
ketimbang dari perpustakaanku. Di baris kedelapan, di sampingku,
Mifune merajuk dan bersungut. Di luar, kabut
menyelempangi lampu-lampu jalan dan kemah besar Selancar.
Tetapi itu buku apa? Apa urusannya denganku?

Aku pasti sudah mematahkan tulang punggungnya di sana,
menggarisbawahi apa yang tampak penting ketika itu.
Buku-buku menggantikan pengakuan dosa masa kanak-kanak,
teater-teater dosa berbisik kita, yang tertutup.
Nostalgia bikin sakit tetapi menunjukkan kita.
Kita ingin sakit, dilepaskan dari

momennya, satu-satunya rumah kita sesungguhnya. Aku mencuri
untuk membuat buku-buku tetap dekat, seperti puisi-puisinya Hardy,
Di sana mereka mengukir nama-nama rintik hujan yang mencangkul.
Bersemangatlah. Hati-hati dengan pengunjung-pengunjung tak diinginkan.
Kemiripan membuat yang bodoh disandera. Tetaplah dekat
dengan apa yang membuat mistis dan benar.

Aku masih berhasrat mencuri rahasia-rahasia
dan aku adalah sandera untuk apa yang mungkin tak pernah.
Lamunan dan arwah gentayangan. Sebuah kenangan,
kenangan ini, membakar momen, waktu milikku
ini bukan milikku tetapi adalah aku.
Kegembiraan tenggat waktu yang sudah lama lewat.

The Sunset Branch (The New Yorker, February 2th 2026)
W.S Di Piero (1945 - )

Monday, January 19, 2026

Hari Ketika Sang Nyonya Mati

Jam 12:20 di New York suatu Jumat
tiga hari setelah hari Bastille, ya
ini 1959 dan aku akan menyemirsepatu
karena aku akan keluar jam 4:19 di Easthampton
jam 7:15 dan langsung ke makan malam
dan aku tak tahu siapa yang akan memberiku makan

Aku berjalan di jalanan panaslembab mulai menuju matahari
dan memegang sebuah hamburger dan roti gandum dan membeli
sebuah NEW WORLD WRITING buruk untuk melihat apa yang dilakukan para penyair di Ghana hari-hari ini

                                                                       Aku pergi ke bank
dan Nona Stillwagon (pernah kudengar nama depannya Linda)
bahkan tak melihat saldoku sekalipun seumur hidupnya
dan di GOLDEN GRIFFIN aku mendapatkan buku kecil Verlaine
untuk Patsy dengan gambar oleh Bonnard meskipun aku memikirkan
Hesiod, trans. Richmond Latimore atau naskah drama baru Brendan Behans atau Le Balcon atau Les Negres-nya
Genet, tetapi tidak, aku tetap dengan Verlaine
setelah praktis akan tidur dengan ketidakmenentuan

Dan untuk Mike aku hanya berjalan-jalan ke toko minuman keras
PARK LANE dan meminta sebotol Strega dan
kemudian aku kembali ke tempat aku datang di Jalan 6th
dan tukang tembakau di Teater Ziegfeld dan
biasanya meminta kartun Gauloises dan kartun
Picayunes, dan NEW YORK POST dengan wajahnya di sana

dan aku kini sangat berpeluh dan membayangkan
bersandar di pintunya john di 5 SPOT
sementara dia bersiul sebuah lagu dengan kibor
untuk Mal Waldron dan semua orang dan aku berhenti bernafas

The Day Lady Died (Poetry Foundations from Lunch Poems 1964)
Frank O’Hara (1926-1966)

Tuesday, January 13, 2026

Macbeth (Act IV: Scene III)

Macbeth:

Seyton! Aku sakit hati,
Ketika kulihat–Seyton, kubilang!–Desakan ini
Akan menyambutku atau menyingkirkanku kini.
Aku sudah hidup cukup lama: jalan hidupku
jatuh ke dalam kering, daun kuning;
Dan yang seharusnya menemani masa tua,
Seperti kehormatan, cinta, kepatuhan, teman-teman tentara
Aku seharusnya tak mencari itu; tetapi, dalam tenangnya mereka
Kutukan, tidak keras tapi dalam, penghormatan lisan, nafas
Yang hanya oleh hati yang miskin akan menyangkal, dan tak berani.
Seyton!

Seyton:

Apa yang engkau inginkan?

Macbeth (1623)
William Shakespare (1564-1616)