Ia bersandar pada jam
yang larut ini
membuka pintu usianya yang berderak
temperaturnya jatuh
menyebabkan salju di matanya.
Ia berdiri
untuk duduk di tepi jendela
sadar bahwa ia telah duduk
di tepi jendela selama berjam-jam.
Seekor burung
mematuk sudut langit yang berkarat
Tidakkah ia ingin mati dengan lebih indah?
Tidakkah seseorang selalu ingin jatuh ke tanah demi mati?
Tidakkah bumi
mengisi mulut yang mati
untuk menghentikan mereka dan menggambarkan apa yang sudah mereka lihat?
Sudahkah dia membiarkan cambangnya tumbuh
untuk menyingkap semua pertanyaan
dalam lipatan-lipatan wajahnya?
Apakah mungkin untuk
bangkit
mematuki sedikit hidupnya dengan paruhnya
dan menaruhnya di mulut anak-anaknya?
Ia membuka jendela
jeruk-heruk kehidupan adalah jeruk darah
ia tidak mengerti alasan tentang bulan
ia tidak mengerti alasan tentang langit yang kosong-melompong.
Ia matikan lampu
berbaring di atas ranjang ia membuang dirinya
bertahun-tahun lalu
ia berbaring di atas kejauhan
dan ketika telepon berdering,
ia harus bangkit ke sebuah jalan sepanjang kehidupan seorang manusia.
Di sisi lain garis
terbaring tulang kerangka saudara lelakinya yang terpotong-potong
yang meledak ketika memegang telepon dengan tangannya
sebuah tulang kerangka yang kini mengumpulkan kalimat-kalimat terakhirnya
dari tanah.
Di sisi lain garis
seorang wanita
menghubungi dua puluh tujuh tahun lalu
hanya untuk bilang,
“Nak, gas oven menyala
aku mati
dan saudarimu kini
bersedih tumbuh semakin tinggi setiap hari…
Jagalah kesedihanmu
kerjakan pekerjaanrumah mereka
bicaralah pada mereka.”
Di sisi lain hubungan
telepon
adalah aku
yang ingin mengangkutnya keluar dari puisi ini
yang ingin menyelamatkannya dari kata-kata ini.
Tetapi seseorang sibuk
mengawasi kabel-kabel telepon
seseorang sibuk
mengintai hubunganku dengan diriku sendiri
dan hidung yang gatal engkau dengar
berasal dari pisaumu, mengukir kata-kata…
Darah bersikulasi di dalam kabel-kabel
dan keabadian merah nada sambung
tumpah ke dalam telinga
setetes demi setetes.
Ini adalah kesepiannya
yang melayukan bunga-bunga di kemejanya.
Teh meluncur di dalam
mulutnya
kancing-kancing hidupnya ditelantarkan begitu saja
dan sebagian jiwanya berkeliaran.
Ia mengeluarkan surat dari
laci
akankah ia semakin hangat dengan membacanya
atau membakarnya?
Ia nyalakan rokoknya
dan menggerakkannya seperti sebuah kail tersangkut di dinding
kemarin sudah selesai
esok sudah selesai
dan dengan setiap desahan kejauhan hidup yang abu-abu
menarik mendekat ke mulutnya.
Ia telah menyentuh kedua
sisi kematian
seperti sampul depan dan belakang buku ini
yang ia tutup di bagian tengah
melemparnya ke lantai
tetapi tidak jatuh
ia bangkit
dan terbang
dengan dua baris kisahnya.
Kini sepasang burung putih
melintasi pikiran angkasa seperti kata-kata mungil.
Kini mereka membawa
jeruk-jeruk
untuk musim-musim yang lain.
Kini mereka meninggalkan panggung
kosong.
Dia menutup tirai kelopak
matanya
seperti seekor kura-kura
mundur ke delam dunia batunya.
Sher Baland Tanhayi (2020)
Garous Abdolmalekian (1980 – )