Friday, April 18, 2008

Bosan


:kawan-kawanku di Melati

Sudah sepekan ini, saban hari kudatangi tempat yang dulu saat masih kuliah kerap kusinggahi: Melati, sebuah kantin di samping sebuah kampus kecil dekil di selatan Jakarta. Di tempat itu, dulu, semua gejolak yang berdebam-debam di dalam kepala membuncah, menguar, dan berserak-serak.

Sebenarnya aku belum pantas menyebut kata dulu dalam frasa “dulu saat masih kuliah” di alinea di atas. Sebab, baru delapan bulan saja kutinggalkan Melati. Ya, sejak aku diterima di sebuah cabang korporat media yang sangat mengurungku, praktis aku tak terlibat lagi dalam hiruk-pikuk kantin Melati. Dan delapan bulan itu belumlah cukup rasa-rasanya untuk diwakili oleh kata dulu yang bernuansa sungguh “lampau.”

Namun bukan itu yang hendak kusampaikan benar. Ada hal lain yang lebih penting yang kukira dialami kawan-kawan seperjuangan yang dulu – bahkan hingga saat ini – menghabiskan waktunya berjam-jam setiap hari di Melati. Dia adalah “Kebosanan.”

Dengan sadar, aku dan kawan-kawanku itu (selanjutnya akan kusebut dengan kami) hampir setiap hari berhadapan dengan kebosanan. Dan Melati adalah tempat kami memperpekat kebosanan itu.

Bayangkan saja! Bertahun-tahun di kampus yang ketinggalan zaman dan kian hari semakin tak menggairahkan itu membuat kehidupan menjadi kering. Memang pernah ada masa-masa di mana kami merasa jaya sebagai pemegang zaman kemudaan. Tapi itu begitu cepat melesat pergi. Seolah-olah kejayaan yang demikian nikmat hanya datang beberapa saat untuk memicu degup jantung, kemudian pergi hilang meninggalkan baunya yang khas sambil mencibir-cibir dalam samar dan berkata: “kini carilah kejayaanmu sendiri.” Lalu kami ditinggalkan dalam keadaan cemburu.

Kini, kami datang ke kantin itu dengan nuansa yang tak banyak berubah. Sedangkan kehendak jiwa kamilah yang terbang melintasi batas apa yang pernah kami capai di kampus kami. Itulah sebabnya kebosanan datang menghantu dan mengekap batin kami.

“Apalagi yang harus kita cipta? Kita sudah kehilangan niat! Mengapa hidup kian pelik dan hanya di tempat yang itu-itu juga kita menumpahkannya dalam keadaan yang sama!”

Itulah kira-kira beberapa geliat gelisah yang mendebur di balik dada kawan-kawanku. Sepulang kuliah yang tinggal beberapa, keluar berjalan ke Melati, datang dan memesan es teh manis, atau makan jika lapar, berhaha-hihi dengan gurauan yang juga sebenarnya tak banyak berbeda dari sebelumnya, menyapa kekasih dan mungkin dilanjutkan dengan berkasih-kasihan, itu ke itu saja! Tapi kami bagai tak punya daya untuk pergi dari Melati, seolah impoten guna mencari ladang-ladang baru demi mencari sesuatu yang baru.

Tapi, bagiku, kini kebosanan itu tampaknya adalah sebuah takdir bagi kami. Lebih luas lagi, kebosanan adalah takdir bagi manusia yang menyadari kemanusiaannya. Percayalah! Adalah kesia-siaan jika kita selalu terobsesi untuk menghilangkan kebosanan sambil memancar-mancarkan bayangan ideal mengenai sesuatu yang baru dalam kehidupan ini.

Dan ini bukan pula sebuah nada untuk berputus asa. Sebaiknya kita sebut kondisi ini sebagai situasi yang pesimistik, namun pesimistis bukanlah berputus asa. Dia adalah situasi yang membuat kita sadar bahwa secepat mungkin kita harus memberi gairah dalam pengulangan-pengulangan yang menjerat kita dalam kebosanan.

Ada sebuah ilustrasi menarik yang ditulis penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam eseinya yang berjudul “Aku Tak Mau Jadi Bayam, Kata Popeye.” Dalam intermezonya di esei itu, dia mengungkapkan pandangannya yang menarik mengenai kebosanan.

Mari simak, sedikit kukutipkan di bawah ini;

Hari itu, seperti biasa senja di sekitar warung Lidah Buaya Taman Ismail Marzuki tetap begitu-begitu saja bagaikan sajak hambar. Senja jingga berdebu yang itu-itu juga, pohon-pohon yang sama dengan pohon yang kemarin dan kemarinnya lagi berjajar begitu-begitu saja di pinggir jalan di depan warung, seperti biasanya acuh tak acuh menggeraikan warna senja lewat ranting yang sama…

Dalam suasana senja yang sama itu aku harus memberikan makna pada kekosongan yang ada…Jajaran benda-benda, makhluk, suasana yang kosong, kering, hambar. Segala yang mengitariku itu harus kuberi makna, agar aku tidak menjadi kosong, hampa, dan lengang.

Ah, senja pukimak! Ingin melepaskan diri dari suasana senja yang sama, kosong, hambar dan membosankan itu, aku coba mengubah menungging-balikkan senja, agar aku mungkin meraih makna segar dari kekosongan…

Ah, Tardji Pukimak! Engkau mencoba melepaskan diri dari kehambaran dan kau sampai pada kehambaran yang lain, menertawakan diri.

Menurutku, apa yang disampaikan Sutardji di atas adalah hal yang sama yang dialami oleh kami di Melati. Namun dengan setting yang berbeda. Dan kukira, dari ilustrasi yang ditulis Sutardji itu, tampaklah padaku bahwa memang kebosanan itu tidak akan pernah bisa lenyap (ingat, esei Sutardji itu dimuat di Kompas pada tahun 2000-an. Kuperkirakan dia menuliskannya di periode itu juga. Artinya, Tardji menulisnya pada usianya sekitar 60-an. Itu menunjukkan adanya kemonotonan terhadap apa yang ia temui di setiap senja yang pernah ditemuinya, dan kami sudah menghadapinya di usia kami 20-an).

Menyadari bahwa kebosanan itu sebenarnya adalah takdir atau yang diistilahkan Nietzsche dengan amor fati, dan merupakan pengulangan, Tardji berusaha keras mengatasinya dengan “mengisi” kekosongan yang ada. Tentu saja, sebagai seorang penyair dia punya kiat-kiat yang sesuai dengan kepenyairannya.

Lalu apa yang bisa kami petik dari ilustrasi Tardji tersebut? Bagiku, apa lagi selain dengan “mengisi” kekosongan itu dengan “gaya kami” di Melati. Sebut saja misalnya, meningkatkan intensitas tawa dan kegembiraan saat memainkan kartu domino. Maksudku, benar-benar menikmati dan menyadari bahwa tawa dan kegembiraan dalam kebosanan sehari-hari lewat domino itu mempunyai daya yang luar biasa untuk membuat hidup ini menjadi lebih berwarna.

Tentu saja bukan hanya itu yang bisa dilakukan. Dan banyak berceloteh tentang bagaimana mengatasi kebosanan itu juga akan membuatku menjadi orang yang membosankan juga. Maka tulisan ini juga tidak mampu terlalu jauh berpretensi untuk menjadi pengatas kebosanan. Sebab, aku, sebagai penulisnya, juga salah satu pihak yang terjebak dalam kebosanan.

Tapi paling tidak, menyadari bahwa kebosanan itu adalah sesuatu yang tak bisa terhindarkan mungkin akan membuat kami tidak melulu mengecam keadaan yang sama sekali bagai tak bisa dirubah.

Hahahaha…tentulah! Jika kebosanan adalah takdir, siapa bisa mengubah? Tapi membuat kebosanan itu berdaging dan punya nadi tentulah tugas manusia dalam hidupnya di bumi.

Bising

Pada suatu malam saya berdiri menunggu bis ke Pancoran. Tepat di seberang saya adalah gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat. Baru saja saya meninggalkannya setelah saya diperintahkan untuk meliput sidang paripurna soal Rancangan Undang-Undang Pemilu yang akan diterapkan pada 2009 nanti.


Masih terngiang di kepala saya betapa bisingnya gedung itu usai sidang . Sebab sidang yang seharusnya melakukan voting itu ditunda lagi setelah sebelumnya juga sempat ditunda-tunda. Tidak semua anggota parlemen yang sepakat dengan penundaan itu. Maka, yang muncul adalah bunyi komentar yang saling bertolak belakang di antara sesama mereka.


Saya tidak mau berlama-lama dalam kebisingan itu. Agaknya kebisingan di jalanan Jakarta yang super sibuk lebih bisa dinikmati ketimbang kebisingan di dalam gedung parlemen. Di parlemen, di dalam kebisingan itu terlalu banyak rahasia. Sedangkan di jalanan, kita adalah rahasia itu sendiri.


Dan bus kota trayek Grogol-Cililitan menghampiri saya. Mungkin karena sudah agak larut malam, sekitar pukul 22.00 wib, bis itu agak santun menjemput saya. Tidak seperti saat pagi atau sore menjelang malam, keganasan bus kota itu menampakkan wajah masamnya.


Beruntung, bus yang senantiasa padat itu tidak penuh. Saya mendapat tempat duduk. Dan saya bertemu dengan sebuah lanskap klise khas Jakarta: seorang anak mengguncang-guncangkan botol plastik berisi beras sambil menyanyikan sebuah lagu yang sedang populer di televisi.


Mungkin karena klise, saya sama sekali tidak tersentuh atau iba dengan bocah lelaki dekil yang masih menyala kejernihan kekanak-kanakannya itu. Satu lagu saja yang dinyanyikannya. Dan saya tidak mengeluarkan sepeser pun untuknya. Dia, si bocah, juga seperti tidak terlalu peduli lagi apakah nyanyian sumbangnya itu akan dibayar dengan uang receh oleh saya.


Begitulah Jakarta, penderitaan dan kemiskinan sudah menjadi common sense. Niscaya, warga Jakarta kebingungan jika secara tiba-tiba kemiskinan, kriminalitas, dan kemacetan di ibu kota Indonesia ini tiba-tiba raib begitu saja. Dan tanpa disadari, alam bawah sadar mereka akan berbicara begini: Mana kemiskinan itu? Mana kriminalitas itu? Mana kemacetan itu? Kalau tidak seperti itu bukan Jakarta namanya!”


Penderitaan dan kemiskinan milik Jakarta itu, karena sudah terlampau sering kita saksikan, sudah tidak lagi dramatis. Ini melumpuhkan hasrat warga Jakarta untuk mau melihat orang lain di luar kita. Orang-orang pinggiran itu, sama sekali tidak punya akses untuk menampilkan diri sebagai bagian dari Jakarta dengan kesadarannya sendiri.


Sedangkan, di gedung parlemen yang saya tinggalkan itu, anggotanya berlelah-lelah membunyikan suara yang bertolak belakang sebagai buntut dari istilah seksi yang kini melanda masyarakat kita: demokrasi. RUU Pemilu yang mereka ributkan itu pun sebenarnya adalah demi rakyat juga, demi bocah pengamen yang tidak mampu membuat saya iba itu.


Ah, terlalu naïf dan klise membanding-bandingkan jalanan dengan parlemen. Tapi saya tetap merasa lebih nikmat berada di tengah kebisingan jalanan ketimbang kebisingan di parlemen. Apalagi, ketika bus yang saya tumpangi hampir sampai di tempat yang saya tuju. Ketika saya beranjak ke pintu bagian belakang bus, saya lagi-lagi melihat bocah pengamen tadi. Dia duduk berdua dengan seorang kawan sebayanya, mungkin abangnya. Mereka tidur, dari tidur mereka, saya yakin tidur mereka nyenyak. Sebab, tidak sedikit pun mereka terjaga meski laju bus menggoyang-goyang leher mereka.


Kali ini saya tidak bisa berbohong, saya tersentuh dengan dua bocah itu. Sebab, seingat saya, saya tidak pernah lagi memperoleh tidur selelap tidur mereka saat itu.

Monday, February 25, 2008

Ular Telepon Genggam

"Kau lebih mencintai ular daripada aku!" demikian ia menghilang ke dalam sebuah lorong yang muncul ketika mataku terbuka dengan sipit. Mataku yang sedang menangkap cahaya redup, sebentar gelap sebentar terang, hingga ia, perempuan yang kucintai terlihat kabur. Tapi, dari suaranya, aku yakin, ia adalah perempuanku yang ranum.

Bukan, bukan waktu yang pesat untuk membawanya ke dalam ruang jantungku. Bukan hitungan yang singkat untuk membiarkan bibirku yang kedinginan menyebut ia sebagai "perempuanku." Terlebih lagi, untuk mengaku kepada diri sendiri saja bahwa aku sungguh-sungguh mencintainya, perlu kujelajahi dulu semesta yang luas tak terbantahkan ini.

Aku pernah sampai di negeri awan-awan. Duduk mangu menyempurnakan hening, sepi, dan sepi. Membiarkan irama jantung mengiringi setiap kata yang mengalun sebagai setiap puisi kepada perempuanku. Aku pernah memejamkan mata di palung samudera yang biru hampir hitam akibat kedalamannya yang sungguh. Di situ, aku berlama-lama menumpang duduk, mendentingkan nada-nada blues, sebagai upaya untuk mengakui diri bahwa sungguhlah aku menyebutnya sebagai perempuanku.

Bertahun, ya bertahun penjelajahan itu kulalui. Tanpa pernah sedikit pun kukatakan lelah, bahkan kepada kalbuku sendiri.

***

Aku memang suka main ular. Bukan ular sesungguhnya. Tapi, ular, ya ular dalam telepon genggam ini. Semenjak aku punya telepon genggam, hari-hariku dapat dipastikan akan selalu bersentuhan dengannya. Ular ini, akan selalu menurut terhadapku. Ke sana, kataku, ia melesat dengan segera ke arah yang kutunjuk. Kembali, seruku, ia datang dengan bodoh dan sukarela.

Bermain dengan ular ini membuat waktu kosongku yang suntuk akan terisi. Diam sedikit, tanpa diperintah, aku langsung merogoh kantung celanaku dan meraih telepon genggamku. Kemudian lampunya menyala. Langsung kubuka bilik di mana ular menyemayamkan diri. Entah sedang tidur, entah sedang masturbasi, atau menari. Aku mampu memaksanya untuk berlari ke mana arah yang kutunjuk.

Sesungguhnya ular adalah pengiringku. Sementara pikiranku berkelebat mengenai segala sesuatu, ularlah yang mengawaniku, menghilangkan sunyi pikirku. Ia berfungsi sebagai motor penggerak benakku untuk memikirkan segala macam yang masuk ke kepalaku.

Demikian pula tentang perempuanku. Kuakui, sebagian besar waktu berpikirku kuhabiskan untuk merenungi perempuanku. Setiap kesunyianku, adalah waktu berpikirku, setiap kesunyianku adalah waktu memikirkan perempuanku. Tapi, semenjak aku memiliki telepon genggam, waktu berpikirku tentang perempuanku selalu mengikutsertakan ular.

Itulah aku. Aku tidak pernah sendiri, aku selalu ditemani oleh seekor ular yang meliuk kaku dan hanya memangsa saja yang ia kerjakan. Setiap pikiranku mengenai perempuanku mulai membabi buta, ular selalu berada di sampingku. Ia adalah kawan sejatiku.

Hingga pada suatu senja yang tiba dari perjalanan panjangnya, aku duduk di bibir pintu kamar menghadap ke langit. Kantung celanaku kukusai. Tapi di mana telepon genggamku? Aku kelimpungan. Di mana ular? Ini waktunya untuk memikirkan perempuanku. Aku tak mampu berpikir tanpa telepon genggam, tanpa ular.

Tiba-tiba ada suara yang berdering. Ya, itu suara telepon genggam, tapi bukan suara dering telepon genggam yang sudah kuatur. Kalau demikian, suara dering telepon genggam siapakah itu? Siapa? Seingatku aku tak pernah mengganti model suara dering telepon genggamku.

Suara dering itu terus meresahi pedalaman kupingku. Masuk menusuk-nusuk sedikit perih yang lama-lama menjadi pedih. Lebih lanjut menyerang pikiranku, berjalan lagi menuju hatiku. Suara dering itu memaksaku untuk memadamkannya. Ada apa ini?

Dalam kesakitan itu, aku begitu liar mengusai-usai setiap jengkal ruang kamarku mencari-cari sumber suara dering yang memekakkan jiwa. Ah! Di dalam laci di samping ranjang sepertinya sarang suara dering laknat itu. Kusergap dan kutarik pegangan laci dengan beringas. Benar! Telepon genggamku, tapi mengapa suara deringnya berbeda dengan yang biasa kugunakan?

Peduli setan! Sekarang harus kubinasakan suara dering ini. Tapi, ada yang meneleponku dengan suara dering ini. Nomor pribadi. Tanpa basa-basi kutekan tombol jawab. Tiba-tiba telepon genggamku mati, ah baterainya soak! Kunyalakan lagi. Ada sebuah pesan pendek yang masuk. Kutekan lagi tombol baca, ternyata bukan dari siapa-siapa, dari ular! Ular menulis, "akkiradirkutakbihartidarpadwakpikirtangpempuantu!"

Tidak jelas! Aku sungguh tak mengerti apa yang ditulis si ular. Tapi bagaimana bisa ular menelepon? Bukan, ini bukan ular sungguhan, tapi ini ular di telepon genggam. Sudahlah, hari sudah maghrib, barangkali ini pikiran gila sewaktu senja. Aku ingat ibuku pernah berucap kepadaku supaya jangan bermenung sendirian di waktu maghrib, sebab maghrib adalah waktu di mana iblis berkeliaran. Ah…mana yang harus kupercaya? Yang pasti ular sedang tidak bermain-main denganku.

Malam itu, aku jatuh lelap waktu bias-bias fajar mulai tampak. Memang ular sudah tidak menyala-nyala lagi. Tapi aku masih memikirkannya. Esok malam, aku hendak menunaikan janji kepada perempuanku. Untuk pertamakalinya ia mengajakku bersua setelah sekian waktu undanganku selalu dihanguskannya. Pukul tujuh malam, di sebuah kafe.

***

Malam ini hendak kuombakkan setiap kata yang tumbuh subur di kepala dan jiwaku. Malam ini pula hendak kutamatkan kegelisahanku mengenai perempuanku. Akan kuburai-burai isi hatiku, seperti memindahkan daging hatiku ke atas meja kami dan membiarkan hatiku bercerita dengan sendirinya tentang apa yang kurasakan terhadap perempuanku.

Tak terlupakan pula, dan yang terutama, beberapa puisi cinta yang telah kutulis dalam bertahun aku mencintainya. Puisi cinta yang lahir di benakku saat aku bersama ular. Opps! Ular! Di manakah ia? Telepon genggamku? Langsung kukacau kantung celanaku, tak ada! Kugali-gali sampai dalam tasku yang dihuni beberapa buku. Tak ada! Ah aku meninggalkannya di dalam laci. Tak apalah, yang penting aku akan bertatap mata dengan perempuanku malam ini.

Di sudut, seorang perempuan dipayungi lampu merah temaram. Sendiri. Ternyata perempuanku, perempuan dengan kerudung hitam, mengenakan kaos lengan panjang berwarna biru kelam, aku terpukau. Ia telah tiba lebih dulu.

"Sudah lama?" Tanyaku kaku.

"Lumayan," jawabnya singkat dengan menyertakan senyumnya yang meruntuhkan keberanianku.

Tanpa berbasa-basi ia menyerbu kedua tanganku dengan genggaman tangannya, "aku rindukan kau," ucapnya dengan lembut.

Aku bahkan belum bersiaga. Perlahan-lahan kuangkat kedua belah mataku, memberanikan diri menentang matanya. Aku sungguh-sunguh tak tahan dengan matanya, benar-benar hendak menyemburkan cinta. Selanjutnya kami berbincang-bincang layaknya sepasang kekasih. Kemudian tibalah saatnya aku hendak memberikan beberapa patah puisi.

"Selama aku pikirkan kau, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menulis puisi-puisi tentangmu." Kukeluarkan carik-carik kertas yang terbubuh puisi-puisi tentang perempuanku itu. Kubaca dalam hati beberapa waktu, lalu kuletakkan di atas meja sebagai tanda kuserahkan kepadanya.

Beberapa saat sebelum tangan perempuanku meraih puisi-puisi itu, tiba-tiba susunan huruf-huruf itu berubah menjadi ular! Ular dalam telepon genggam. Ia kemudian melata-lata mengerikan di atas kertas, berjalan-jalan di atas meja, menggelungi gelas-gelas. Dan yang menyeramkan ia menjelajahi wajah perempuanku. Masuk ke lubang hidung, keluar lewat mata. Melingkari kepala perempuanku sampai menutupi kedua mata teduh perempuanku.

Aku bergidik. Ular masih menari-nari lambat di kepala perempuanku ketika gadis berkerudung yang kucintai itu hendak meraih kertas-kertas puisiku di atas meja. Seketika kurebut kembali kertas-kertas itu. Perempuanku tersenyum-senyum memperhatikanku tanpa tahu apa yang terjadi denganku. Ular kemudian kembali ke dalam kertas ketika kertas telah tiba di tanganku. Kertas-kertas kulipat dengan paksa dan kumasukkan kembali ke dalam tas.

"Nanti, nanti saja Sayangku. Puisi-puisi itu belum sempurna," aku terbata-bata mencari kata agar ketakutanku tak diketahui oleh perempuanku.

Untungnya, dalam keheranannya perempuanku tersenyum memaklumi. "Dasar penyair! Aneh dan tak bisa ditebak." Kalimatnya diikuti derai tawanya yang anggun dan mengobati kecemasanku akan ular.

Aku pulang kembali ke kamarku, kepalaku memang agak berat. Kupaksakan tidur, namun pikiranku bergerak-gerak antara ular dan perempuanku. Aku bangkit dari ranjangku, menyeduh secangkir kopi hitam pekat, merenggut gitar yang berdiri di dekat rak buku, lalu menuju ke bibir pintu kamarku dan menghadap langit. Pelan-pelan kumainkan blues, bersenandung sendiri tanpa pernah tahu dari mana kuperoleh kumpulan nada-nada itu. Aku teringat perempuanku.

Dalam larutku akan nada-nada, aku dikejutkan kembali dengan suara dering telepon genggam seperti kemarin. Kecemasan dan ketakutan mulai menjalar ke segenap urat syarafku. Ular..? Benarkah ular? Mau apalagi ular?

Di laci samping ranjang. Ya, seingatku ia masih kubiarkan di sana. Ah, suaranya menyesakkan dada, aku tak tahan. Aku menyerbu gagang laci, dalam rasa takut dan kepedihan kuhela gagang laci. Kali ini, akan kubanting telepon genggamku, atau kulempar jauh-jauh lewat jendela biar jadi keping-keping sampah. Akan kubinasakan ular yang membuatku mabuk dengan rasa takut.

Waktu mataku memelototi ruang laci, yang kutemukan ular sedang meliuk-liuk pelan namun ganas. Sebesar pergelangan tangan. Kulitnya legam mengkilap seperti ular padang pasir yang tak pernah menyentuh pemukiman manusia. Telepon genggamku benar-benar telah berubah menjadi ular!

Keterkejutanku membawaku agak mundur sedikit dari laci. Tapi aku masih memperhatikan liuk-liuk ular. Lama-lama liukkannya semakin cepat dan semakin kejam. Tidak itu saja, ular perlahan-lahan menjadi besar sepaha kaki, sebesar kepala, sebesar pohon pisang, sebesar pohon kelapa. Liuknya tambah lihai dan dahsyat.

Tidak berhenti hingga di situ, ular membiakkan diri dengan cepat. Satu, tiga, tujuh, tujuh puluh, tiga ratus sembilan puluh enam, seribu. Ular-ular merayap-rayap di dinding, di ranjang, di buku-buku, di potret ayah ibuku yang telah lama mati, di poster Jimi Hendrix, di kaset-kaset, di atas radio tape, di kipas angin, di potret perempuanku yang carut marut.

Aku masih terpana dan tak mampu ke mana-mana. Seperti dikomandoi ular besar, ular-ular lain pelan-pelan segera melata-lata, berburu-buru, dan tumpang tindih bergerak ke arahku. Dari depan, belakang, samping, dan segenap penjuru, ular bergerak menujuku. Aku tak bisa lari.

Lihat itu, seekor ular telah menjalari kakiku. Aku mengenyahkannya dengan tanganku. Ular terlempar ke sudut ruang. Tapi ular-ular lain menyerbu tanpa basa-basi. Mereka masuk ke bagian dalam lewat ujung celanaku, menuju kemaluanku. Mereka juga masuk dari ubun-ubunku menjalari punggung. Ular-ular menguasai setiap wilayah tubuhku. Lubang hidungku, telingaku, mataku.

Dalam suasana seperti ini, mataku tak mampu membuka penuh, hanya sipit-sipit saja. Redup, sebentar gelap, sebentar terang, Hingga penglihatanku yang sipit dan kabur merasai ketibaan seseorang yang datang dari sebuah lorong. Ternyata ia adalah perempuanku, perempuanku yang mungil, telah tiba dengan kerudung hitam dan kaos berlengan panjang berwarna biru kelam.

"Ular telah lama bicara kepadaku," ujarnya dengan sinis. "Mereka tak sudi kau manfaatkan hanya sebagai pengisi waktu luangmu melalui telepon genggam. Padahal kau sesungguhnya telah bergantung kepadanya, setiap hari, bahkan setiap detik. Saat-saat terpenting dalam hidupmu yang kau akui adalah memikirkan aku, selalu dengan ularmu yang patuh. Ular menjadi cemburu kepadaku. Tak setitik jua kau pernah mengguratkan setidaknya sebaris puisi kepadanya, padahal ialah yang menemanimu menjelajahi dunia kata-kata. Dunia kata-kata tentang diriku. Aku juga mencemburui ular. Kau lebih sering menghabiskan waktu bersamanya daripada bersamaku, waktu berpikirmu tentang diriku pun kau habiskan dalam pelukan ular. Kami bertengkar hebat memperebutkan engkau. Kami bergumul, cakar-mencakari, gigit-gigitan. Akhirnya kami bersepakat untuk mengungkapkan kegelisahan kami tentang engkau dengan cara kami sendiri-sendiri. Untuk itulah aku datang." Ia hening beberapa saat.

"Kau lebih mencintai ular dari pada aku," demikian ia menghilang ke dalam sebuah lorong yang muncul ketika mataku terbuka dengan sipit.

Tubuhku hampir rebah, kepalaku pening. Saat tegak kedua helai kakiku sudah mulai rubuh, ular menghilang dan kembali ke dalam laci di samping ranjang. Aku seperti tersadar dari tidur panjang dalam kesendirian yang khusyuk. Tiba-tiba suara dering telepon genggam menyala, tapi itu bukan suara dering dari ular. Itu model suara dering yang kuatur. Dengan ketakutan yang belum sembuh, aku tetap memberanikan diri membuka laci. Ternyata memang benar telepon genggam sungguhan. Rupanya perempuanku meneleponku.

Kurenggut telepon genggam dari laci, kupegang erat-erat, ia masih berdering-dering meronta-ronta. Aku tak peduli. Kulempar sekuat tenaga, sejauh-jauhnya. "Mampus kau!"

Jakarta, Februari 27 2005

Ervin Kumbang

Friday, August 10, 2007

Memuja

duhai penggalan tulang…..

mata ini
mata jantan

sekali melambungkanmu:
jadilah dikau langit

sekali mendakwamu :
deritalah dikau sakit

Juni 23 2006

Kehilangan

yang hilang jadi tiada
mengapa membentuk sungguh begini benar

rasailah!
di dada lagi mendenyut
dicengkeramnya jantung
direnggutnya
jantung copot
tertinggal menggayut-gayut daging-daging kecil sisa jantung
di tulang dada

sudah tak tertegah

begitu ngilunya

setujukah kau?
begini benar rasa kehilangan

Juli 6 2007

Aku, Diriku, Gadis, dan Sajak

aku dan diriku sedang bergaul di sebuah sudut sepi. Tapi untunglah kami tak sampai bercinta. Sebab ada seorang gadis yang kami kenang, yang kami kenang dalam deru amarah kemudaan.

diriku bertanya kepada aku: "Apa yang kau punya lelaki? Apa?"

aku menjawab gegas: "Yang kupunya cuma kau, diriku!"

"Ah, sudah lama itu kutahu, apa lagi yang lain?"

aku berpikir, setelah seribu purnama, aku mendapat jawaban lalu dengan yakin aku bicara,
"yang ku punya hanya mistik yang ada dalam jiwaku."

"mistik?" diriku bertanya dalam penantiannya yang sudah lapuk purnama. "Adakah itu kau maksudkan dengan tuhan?"

aku berpikir lagi, mengaitkan tuhan dan mistik. dengan kemalu-maluan, aku berkata, "ah jangan diurai soal tuhan, terlalu pribadi itu bahasan."

"ah kau, masih saja pemalu, jangan sampai persoalan itu membuntingimu, lalu tiba-tiba meledak tanpa pernah bisa kau siapkan!" diriku menginterupsi aku.

aku terdesak, dan didesak. tiba-tiba dari sudut yang jauh tapi dekat, dekat tapi jauh, perempuan yang kami kenangkan bersama-sama memprotesku dan membuka kalimatnya:
"Assalammualaikum"

"Tak biasa," aku menggumam, "salamnya itu terlampau ditegas-tegaskannya. biasanya salamnya singkat."

diriku berbisik, bukankah itu perempuan yang kita kenangkan bersama, dan bukankah dia perempuan yang kau guratkan dalam sajakmu.
aku diam, tapi diriku tahu bahwa aku mengangguk.

sang gadis angkat bicara, lalu berkata kepada aku, "sajakmu gampang luntur, tak mengena padaku."

aku diam dalam seribu purnama lagi, lalu menjawab ungkapan sang gadis, "tak pernah kupikirkan keajaiban sajak-sajak itu. laut dadaku mendesak-desaknya hingga keluarlah ia sebagai sajak. mana pernah kutahu dan tak ku mau tahu sajak-sajak itu bisa membius kau, gadis."

"Laut dalam dada?" sang gadis menyerang dengan tanya.

"Ya, mistik, gaib, ilham, wahyu, mendesak-desak dari sana dan menelurkan sajakku tentang kau."

aku tiba-tiba terkejut dengan ungkapanku sendiri ketika menyebut asal sajak itu adalah mistik. teringat aku akan ungkapan diriku yang menanyakan padaku apakah mistik itu tuhan, dengan demikian apakah sajak itu adalah wahyu dari tuhan? hingga dia jadi mistik?

tak lah! kata hatiku, sajak bukan wahyu, sebab aku bukan nabi, jibril ku tak sampailah untuk sampai pada wahyu.

"pantas tak mengena padaku sajakmu. sebab mistikmu itu di pinggir jurang. aku tak senang kau main-main di titian ngeri soal tuhan. sudahlah! aku tak butuh lagi sajakmu, cuma baris-baris huruf pengejut singkat," sang gadis membuatku seolah jalang.

diriku geram, ia marah pada sang gadis, tapi aku mencegahnya. aku bicara kepada diriku, "jangan, alam kita berbeda dengan dia. tak patut sekali kibas mengajak ia menyelam. lagi pula ia gadis yang keras, prinsipil, dan masih muda. kita terlalu liar. sedang soal tuhan bukan suatu hal yang bisa diajak dibincangkan jauh dengannya. sudahlah, sajakku mampus padanya."

"tapi mengapa kau begitu dipukaunya?" diriku bertanya lagi.

"aku tak tahu. itu pula yang kumaksud dengan mistis. dimensi jadi terlupakan dalam hal cinta. dan ia belum menyadarinya."

"ah kau dikirainya tak bertuhan, atau kau dikirainya tak berkeyakinan. sedang dia terus menegasi diri dengan kebertuhanannya dan berkeyakinannya. sajakmu jadi lembar-lembar busuk di hadapannya," diriku mendakwa.

saat langit mulai mendung, dari sela-sela rambut sang gadis, tampak huruf-huruf sajakku jatuh bagai kutu dan berlarian mencari selamat.
aku dan diriku mangulah kini. sang gadis membalik badan dan tak menengok lagi.

August di Sore 5 2007

kita


mataku rebah di matamu
telaga mata nan berpadu
hambur yang lalu-lalu
memilih satu-satu
yang layak sebut kauaku

Juli 7 2007