Wednesday, October 28, 2009

Dari Sepi maka Jadi Seks dan Cinta


"orang-orang atheis itu hanya ada di buku filsafat. Dan buku filsafat terlalu sulit untuk dipahami orang awam" ( F Budi Hardiman)


Siapapun mungkin tak membantah, jatuh cinta pada transisi periode remaja pubertas ke remaja dewasa adalah jatuh cinta yang paling hebat. Jika banyak orang mengenang masa SMA adalah masa yang indah, maka masa kuliah (atau pada usia kuliah), jauh lebih indah lagi.

Mengapa bisa demikian?

Menjelang dewasa, manusia itu bagai dicampakkan ke bumi. Peringatan Jean Paul Sartre agaknya tepat untuk menjelaskan situasi ini: bahwa manusia itu terkutuk untuk berada di bumi ini. Dia bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, dan itulah otentisitas hidup.

Menjelang dewasa adalah masa di mana setiap manusia mulai menyadari betapa nafas yang mengalir dalam rongga udara tubuhnya itu sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Ia mulai menyadari sebuah realitas yang seringkali disembunyikan-bahkan dimanipulasi-dalam tiap manusia yang hidup; SEPI.

Kepada seorang kawan perempuan saya pernah bertanya: apa hal yang paling dasar sebagai sebab manusia menikah? Atau memutuskan hidup bersama dengan seseorang pilihannya?

Dan dengan mulut saya sendiri saya jawab: karena manusia pada dasarnya tak tahan sepi. Kesepian itu mengerikan!

Bagi marxis yang positivis, mungkin jawaban itu terlalu puitis, romantis, tak membumi, dan membual. Jawaban yang lebih nyata adalah karena seks, kebutuhan biologis.

Saya tak menampik jawaban ini. Tapi, jawaban itu terlalu kasar. Ada yang lebih filosofis dari sekedar seks: SEPI. Seks adalah bentuk nyata dari sepi. Bukankah seks membutuhkan atau mengandaikan sebuah relasi yang lebih dari satu orang? Bahkan masturbasi yang dilakukan satu orang membutuhkan stimulasi dengan mengajak orang lain ke dalam imajinasi. Itulah ciri dari sepi. Setiap orang yang dilandanya tak tahan sendiri, ia akan mengajak orang lain untuk masuk ke dalam dirinya yang paling dalam dan purba.

Dengan kata lain, seks adalah manifestasi dari sepi. Ia adalah wujud perlawanan terhadap ketidaksanggupan akan kesendirian. Seks menjadi begitu tinggi, suci, jika ia dengan sadar dan intens dilakukan karena sepi. Sebab, dalam kesadaran akan sepi, manusia yang melakukan seks menghargai orang yang bersetubuh dengannya. Betapa penting orang lain baginya. Orang lain adalah penyelamat hidupnya. Keindahan seks kian berlipat ganda karena perasaan saling merasa penting itu terjadi secara dialogis. Dengan kata lain, sikap penghargaan itu bertimbal-balik dalam individu yang melakukan hubungan.

Itulah sepi, betapa agungnya, betapa manusiawinya, betapa tingginya. Sepi itu jualah yang datang dan disadari manusia saat ia beralih dari remaja pubertas ke remaja dewasa. Sepi dalam fase awal itu mewujud dalam jatuh cinta. Kemuliaan sepi itu membuat jatuh cinta menjadi hebat dan aduhai. Sudah jadi hukum alam, segala sesuatu yang dialami pada kali pertama selalu lebih mengesankan. Termasuk jatuh cinta di kala kesadaran akan sepi itu datang sebagai pengalaman pertama.

Jika jatuh cinta itu sukses, kebahagiaan memancur bagai airyang terbebas dari tanggul di musim hujan. Jika jatuh cinta itu patah, darah dari luka yang nganga itu lebih deras ketimbang tsunami mana pun. Mencucur dan terus mencucur....

Namun, kenanglah: sukses atau patah, sama indahnya.

Agustus 4 2009

Seorang Pengelana Meninggalkan Kekasih


yang menyebabkan tajuk nyiur di tepi sungai menjadi layu
ialah matamu
setelah kau tabur bunga-bunga dari dalam payudaramu di lantai perahu
karena matamu tahu, kayuhku tak menemu tentu
ke kelam rimba arah menuju
sebelum ku pergi
aku sedang mencari batu
sebagai penetap janji
satu di genggammu, yang lain di genggamku

semoga batu yang kan tetap kita cengkam
selama alam

agar kau tak takut cinta melupa pulang
agar aku tak takut cinta meminta pulang

lalu oleh-oleh apa yang kau harapkan jelita?

hingga bergerak kayuh pertama
hingga jarak berkabut melenyapkan kita
kau tak berkata

dan entah mengapa
kian kukayuh, sungai ini semakin ngeri
jeramjeram meninggi:
pilu tak terperi


Jakarta, July 1 2008

Gadis Manis


manisnya gadis,
adalah seribu anjing pemburu di paru-paruku
menyalak-melolong berkeliar kehilangan mangsa!

o, mataku yang hina!

Jakarta, April 2009

Di Lenteng Agung

1980-
di kali tak bernama itu
sepotong kaki terlempar dari rel kereta
hanyut dengan dingin
dan kita mengenalnya sebagai kisah tua di keruh air

apakah riwayat itu yang akan kita gubah jadi peta?
yang sesak oleh tanda seperti sepanjang jalan dua arah yang berseteru saban pagi saban senja
dengan kereta rel merah yang berbirahi mengangkang benua-benua

menebar bius dari mawar buta
merentang jala demi remuk masa

di tempat ini, mawar tumbuh menubuh seluas jalan
menyediakan tampuk, merelakan duri
untuk sepintas pandang kita tusukkan ke ujung kelingking nan lunglai
sembari meraba-raba merayakan darah yang senoktah
sebagai ungkapan cinta paling redup yang tersisa

tak!

sedikitpun takkan terbebas dari tanya
siapa pemilik sepenggal kaki yang mencapai merdeka selepas muara


Jakarta, Februari 23 2009

Anak Anjing Mengenang Ahmad Hassanain


sepi menjadi segala di batas ini
setelah cuma seekor bidadari bersayap kurus
sambil mabuk dan bertelanjang
menegah laju peluru dan membenamkan selembutnya,

di kepala tak berdarah
Ahmad Hassanain belum mati

mengapa tak mampu kau punahkan benak Hassanain wahai peluru? sehingga cerailah impiannya tentang donald bebek di tembok Gaza yang senantiasa dikisahkannya padaku, aku si anak anjing di negeri jauh banyak laut banyak sungai banyak rimba?

Israel jemu tak menemu darah
Ahmad Hassanain berbisik kepada peluru
"darahku, mencucur di dada perempuannya yang malam"

lalu, kotaku jadi lembah

setelah terkaing-kaing menahan air mata
kuburu dadamu, kasih
sebab Hassanain telah berpesan padaku

dadamu kini milikku
darahnya pembasuh mukaku
sebagai syarat sembahyang kecil untuk tawa paling kencang
demi Hassanain kecil kembali berkuasa di jalan

Jakarta, Februari 2 2009

Sekedar Kepergian


anyir dalam lidahku adalah bau masa yang jauh
yang ditinggalkan bersama secangkir susu berwarna lampau
oleh seorang perempuan yang menurunkan ungu lidahnya
di ulu hati,
lubuk badan yang kini menjadi ladang
tempat kanak-kanak menganjung lelayang
seraya menyenandungkan dendang perpisahan
"putus benang, terbanglah layang
rusak taut, intailah maut"
kini tinggal gagu,
sebentar lagi menjelma bisu

Jakarta, Januari 30 2009

Thursday, January 1, 2009

Obama, atau Amerika?

Sebuah Tinjauan Budaya dan Politik Media Massa

Oleh: Ervin Kumbang

Kemenangannya atas Hillarry Rodham Clinton dalam konvensi calon presiden dari Partai Demokrat, seolah-olah sudah menyediakan kursi tertinggi bagi Barack Hussein Obama di Gedung Putih. Dugaan itu memang jitu, suara kemenangan Obama atas kandidat Presiden dari Partai Republik, John McCain, jauh lebih besar ketimbang saat Obama menaklukkan Hillary.

Jauh sebelum pemilihan 4 November itu diraih Obama, lelaki Afro-Amerika itu sebenarnya sudah lebih dahulu “dianggap” sebagai Presiden AS. Hiruk-pikuk kampanye dan penampilannya yang elegan sebagai kandidat pertama calon presiden dari kalangan minoritas negro AS, membuat masyarakat “mabuk” Obama.

Betapa tidak? Ketika perhatian masyarakat dunia tumpah ruah ke AS, secara tidak sadar sebenarnya ada hal penting yang nyaris dilupakan: George Walker Bush. Di saat Obama menjadi buah bibir, di manakah posisi Bush di benak publik? Ada fakta yang seolah-olah ingin cepat dihapus masyarakat, yaitu Presiden AS saat itu masih di tangan Bush. Secara hukum Bush memang masih Presiden, tetapi secara image, Presiden AS adalah Obama. Padahal, kala itu Obama masih kandidat, belum terpilih.

Sekali lagi, kita harus bertepuk tangan atas kehebatan media massa dalam kampanye pemilihan presiden AS. Media massa mampu mendahului kenyataan. Fenomena ini menunjukkan kemampuan media memanipulasi ruang dan waktu yang diperuntukkan bagi seseorang atau satu kelompok. Kemampuan media massa ini, menjadikan Obama di benak khalayak sudah menjadi Presiden sebelum Bush angkat koper dari Gedung Putih.

Demikianlah khasiat bius Obama yang diterjemahkan media massa mampu menghanyutkan masyarakat bahwa Bush telah mati, dan yang ada kini hanya Obama. Di sisi lain, mungkin ini bisa jadi hasil yang mesti didulang Bush atas kebijakan selama pemerintahannya yang membuat AS dipandang sinis oleh dunia. Namun, percepatan kematian Bush di mata masyarakat dunia sejak hadirnya Obama, niscaya digerakkan terutama oleh media massa .

Dalam sebuah perayaan politik, kemampuan media massa mendahului takdir menjadi salah satu alat untuk memainkan kelompok mana yang harus diangkat ke permukaan dan merebut kuasa. Boleh jadi karena kita bersimpati dengan Obama sebagai wakil dari kelompok yang lama tertindas, kemampuan media massa memanipulasi ruang dan waktu itu kita anggap sebagai sesuatu yang sejalan dengan kehendak batin kita.

Lagi pula, sekali pun kita menyatakan tidak sepakat dengan kelompok yang memainkan kepentingannya dengan menggunakan kemampuan manipulasi ruang dan waktu oleh media massa, tentu kita tidak gampang menentangnya. Sebab, sebagaimana yang kita ketahui dari Antonio Gramsci tentang hegemoni, bagaimana pun media massa memanipulasi kesadaran kita akan situasi seseorang melalui situasi bawah sadar - Karl Marx menyebutnya dengan kesadaran palsu.

Dalam konteks yang lebih luas, jika dicermati lagi kemampuan media massa menciptakan kenyataan simulatif sebenarnya tidak hanya menampilkan image kematian Bush dan Obama adalah Presiden AS sebelum waktu riilnya. Namun, media massa bahkan menciptakan “perbedaan dimensi yang tajam” antara Obama dan Amerika Serikat dalam pemilu itu.

Bagaimana perbedaan dimensi antara Obama dan Amerika Serikat dalam kaitannya sebagai produk media massa ?

Usai kemenangan Obama, salah satu editorial surat kabar terkemuka negeri ini pernah menulis seperti ini, “kali ini kita perlu belajar dari AS.” Pernyataan itu merupakan komentar terhadap pidato McCain yang mengakui kekalahannya atas Obama. Sikap McCain ini dianggap sebagai tindakan yang berjiwa besar dan patut dicontoh oleh politisi lokal yang miskin kepercayaan dari publik.

Coba lihat dengan cermat kalimat “kali ini kita perlu belajar dari AS”. Jika dibaca dalam konteks kerja produksi media massa, kalimat itu sebenarnya sedang berusaha memainkan dan mempertahankan hegemoni AS sebagai status quo. Obama dan McCain tidak lebih dari sekedar objek yang digandakan sedemikian rupa dengan cepat lewat layar televisi. Dengan kata lain, AS menggunakan ilusi Obama dan McCain di media massa untuk mengafirmasi apa yang mereka tampilkan selama ini kepada dunia.

Barangkali, sang penulis editorial itu tidak bermaksud memperkokoh hegemoni itu. Namun,ketika dia melemparkan kalimat itu di media massa, maka terjadi interaksi dua pihak yang berjarak sejarak ribuan mil - satu pihak mungkin sedang berada di Chicago, dan satu pihak lagi mungkin sedang berada di Sukabumi. Transaksi wacana yang hegemonik tersebut memancarkan kedigdayaan sebuah negara di atas negara dunia ketiga yang rentan karena cenderung miskin dan ruwet.

Kalimat perlu belajar dari AS itu mencoba memainkan kesadaran di dalam pikiran masyarakat Indonesia - warga dari sebuah negara yang bagaikan haus demokrasi - bahwa “AS adalah negara yang patut menjadi percontohan praktek demokrasi. Dan dalam demokrasi yang (diklaim) sungguh indah itu sedang bermain bintang utama bernama Barack Obama.

Menurut saya, kalimat itu menunjukkan upaya AS memperbaiki citranya dengan memainkan peran Obama. Bius keterpukauan atas Obama sebagai pribadi, ingin dipergunakan untuk menyembuhkan sinisme dunia (khususnya Indonesia) atas AS. Melalui Obama, AS berupaya mempertahankan kebanggaannya atas demokrasi yang diumbarnya dan kini menjadi keyakinan yang seksi dalam situasi sosial Indonesia pasca orde baru.

Saya ingin menggambarkan sebuah ilustrasi guna menjelaskan perbedaan dimensi Obama dan AS dalam konteks Pemilu AS di benak masyarakat kita. Begini, jika diadakan suatu survei dengan pertanyaan seperti ini: “Apakah Anda yakin Obama bisa menjadikan AS lebih baik? Misalnya, AS mampu pro-aktif dengan membangun rekonsiliasi antara Israel dan Palestina dengan posisi ke dua negara setara?” Saya mengira, sebagian besar masyarakat Indonesia tidak akan menjawab dengan kata “tidak”, tetapi “belum tentu”.

Tetapi, jika pertanyaannya seperti ini: “Apakah Anda menaruh harapan akan perubahan perangai AS dengan terpilihnya Obama?” Saya yakin banyak orang, dan bukan saja di Indonesia, akan menjawab dengan kata “ya.”

Keadaan seperti itu telah menunjukkan secara tajam sebenarnya Obama tidak lagi dianggap hanya sebagai seorang warga negara AS yang beruntung terpilih menjadi Presiden. Obama mewakili perasaan dunia yang lelah dalam ketidakstabilan. Dan dalam ketidakstabilan itu, siapakah yang menjadi musuh?” Dalam pendapat saya, yang menjadi musuh bukanlah George Walker Bush, namun AS secara keseluruhan.

Sejarah AS tentu sudah terbenam di benak masyarakat dunia, terutama di negara dunia ke tiga dan Timur Tengah. Memikirkan AS, tidak bisa tidak kita harus mengakui ada perang saudara sebelum George Washington mendeklarasikan kemerdekaan, kematian John F Kennedy dan Martin Luther King, nafsu Richard Nixon dalam perang Vietnam, dukungan terhadap Israel yang menjajah Palestina, hingga kelakuan George Walker Bush yang memperkosa Irak karena kebatuan Saddam Hussein.

Tanpa bermaksud hanya menunjukkan keburukan AS, peristiwa itu menjadi semacam kesimpulan jika membayangkan AS. Maka tidak ada yang mengherankan ketika dunia begitu bergairah menyambut kemenangan Obama.

Sementara itu, dari sisi politik rasial, kemenangan Obama adalah konsensus yang sebenarnya dimenangkan oleh kaum mayoritas kulit putih. Demokrasi, sebagai anak kandung filsafat modern, telah dikhianati oleh AS. Betapa tidak, jika AS menghujat masyarakat tradisional di banyak negara dunia ketiga tidak demokratis karena masih terjebak dalam jerat feodalisme, kasta, dan sukuisme, kemenangan Obama justru menunjukkan betapa kakunya kulit putih memandang manusia dalam hubungannya dengan kesempatan di ruang sosial.

Sebagaimana kita tahu, ibunda Obama, Anne Dunham, adalah kulit putih yang juga keturunan Indian. Sementara ayahnya, Obama Senior, adalah seorang Kenya tulen. Komposisi ras yang mengalir dalam tubuh Obama ini menjadikan Obama diterima hampir di seluruh kalangan AS. Semua pihak di AS merasa hadir dalam tubuh Obama. Namun, takdir Obama memiliki ibu kulit putih itulah sebenarnya yang mendorong kemenangannya secara utama.

Saya mengira, jika saja Obama murni dari ayah dan ibu kulit hitam, dia akan lebih sulit menang. Karena dengan sendirinya masyarakat kulit putih akan alpa kepemilikan atas diri Obama. Dengan asumsi ini, saya berpendapat, untuk menjadi Presiden AS, seseorang harus memiliki keturunan ras kulit putih, meski secara fisik dia Negro atau Indian. Akan tetapi, jika masyarakat kulit putih yang mencalonkan diri jadi Presiden, darah minoritas tidak perlu mengalir dalam dirinya: dia cukup saja seorang kulit putih!

Pandangan demikian semakin menegaskan kepada saya paradoksal demokrasi, dan itu muncul di AS sebagai pilar terbesarnya. Di satu sisi, mereka mengagumi konsensus, di sisi lain, secara bersamaan dalam konsensus itu satu pihak meminta bagian paling banyak. Tentu saja kita tidak bisa menafikkan, bahwa dalam demokrasi dengan sendirinya mayoritas tetap akan dominan. Tetapi lihatlah, AS masih menggunakan warna kulit sebagai ukuran keterwakilan dalam sebuah sistem yang mereka sebut sebagai demokrasi.

Lalu, apakah bedanya dengan masyarakat tradisional yang mereka protes masih menggunakan feodalisme untuk memperoleh tempat utama dalam pertempuran sosial? Bagi saya, yang membedakan adalah demokrasi memainkan diskriminasinya secara lunak dan halus ketimbang feodalisme masyarakat tradisional.

Analisa di atas saya kemukakan untuk menunjukkan bahwa AS merupakan entitas terpisah yang tidak bisa serta merta membersihkan diri melalui Obama. Karena saya menduga, masyarakat hanya terpukau dengan Obama secara pribadi. AS bisa jadi hanya menyediakan tempat untuk sang bintang. Dengan sendirinya tempat tersebut akan dikesankan sehebat sang bintang.

Menggeser kehebatan “sang bintang” menjadi kehebatan “sang tempat” itulah yang saya kira dilakukan AS dengan media massa. Penggandaan image Obama secara luar biasa di media massa seakan menjadi katarsis bagi dosa-dosa AS dengan memainkannya di alam kesadaran kita yang paling rendah.

Saya kira, tulisan ini tidak untuk membangun sebuah prasangka buruk terhadap AS. Namun ini hanya upaya agar masing-masing kita dapat mengambil posisi yang tepat dari serbuan satu kelompok dengan segala kemauannya melalui media massa. Di masa mendatang, image Obama mungkin hanya menjadi satu kasus yang dapat kita jadikan rujukan untuk berhati-hati menghadapi media massa.

Lagi pula, seperti yang disampaikan teoretikus kritis terkemuka Raymond Williams dan Stuart Hall, hegemoni dalam konteks politik mana pun sangat rapuh. Keberlangsungan hegemoni hanya dapat dipertahankan dengan memodifikasi dan menginovasi pesan-pesan dalam media massa sebagai upaya tidak henti-hentinya melakukan penegasan kembali kekuasaan.

Selalu ada celah bagi kita untuk membuat hegemoni itu pincang dan tertatih-tatih. Tulisan ini, hendaknya memancing kita untuk mencucuk celah-celah itu dengan centil dan nakal.

Jakarta, Desember 11 2008