Kekejaman yang paling keji adalah kemiskinan (Mahatma Gandhi)
Kemiskinan adalah mayoritas. Dan negara dunia ketiga adalah rumahnya yang utama. Sebab itu, segala soal tentang kemiskinan menjadi penting. Yang miskin selalu menjadi buah bibir, selalu menjadi soal dengan membangkitkan setiap musuhnya demi menghidupkan pertentangan.
Karena yang miskin adalah mayoritas, maka ia tak dapat dianggap enteng. Itulah sebabnya banyak penguasa, dan calon penguasa, di tempat mana pun, mencoba-coba membahas kemiskinan. Kemiskinan menjadi penting karena ia adalah modal besar untuk dipertukarkan dalam padang kekuasaan yang tak bertuan.
Namun, dunia menyelipkan tangan kanannya untuk menuju ke kiri tubuh melewati punggung. Kemiskinan itu dibahas namun di saat bersamaan diringkus ke dalam karung bolong hingga tak pasti lagi tampak lekuk tubuhnya. Inilah situasi di mana kemiskinan itu dibenci namun ditarik ke gelanggang untuk mencapai kemenangan-kemenangan.
Yang miskin itu disederhanakan dengan nama “angka kemiskinan”, atau “pendapatan per kapita”, atau “jumlah minimal dollar sebagai pendapatan minimal per hari setiap warga di suatu negara.” Yang miskin, dalam diskursusnya sebagai mayoritas, bukan lagi orang-orang dengan kulit yang nyaris bersisik, wajah yang berminyak karena akrab dengan polusi. Tapi ia adalah angka-angka dalam mulut seorang menteri bidang ekonomi atau bidang kesejahteraan.
Dan malanglah yang miskin, sebab model hidup seperti yang mereka tampilkan pada dunia menjadi model yang kotor. Tak ada satu negeri pun di bumi ini yang mencita-citakan masyarakatnya menjadi miskin. Terminologi miskin menyala sebagai kata sifat untuk dijadikan musuh. Dari sana, negara pun mulai mengatur-ngatur bagaimana yang miskin dapat dilenyapkan.
Tapi, apakah kemiskinan itu hilang meski semua pemimpin bercita-cita tentang hilangnya kemiskinan?
Negara dunia ketiga adalah akuarium yang jernih untuk melihat keadaan itu. Pun, pengertian kemiskinan dalam akuarium itu baru bisa muncul setelah ada sesuatu di luar akuarium yang bisa menyimpulkannya sebagai kemiskinan. Boleh jadi, sesuatu dari luar akuarium yang pandai bicara itu kita sebut dengan Barat.
Dan kemiskinan adalah “given” dalam jiwa kehidupan. Maka dari itu, tak ada jiwa yang tak kenal dengan kemiskinan, pun anak raja yang sejak lahir hingga mati tetap jadi raja. Kemiskinan adalah wajah dunia sebenarnya. Sementara kesejahteraan, hanyalah upaya yang terus-menerus diupayakan.
Dan hal itu tidak terdengar sebagai keputusasaan. Sebab, justru dalam upaya yang abadi pengertian sejahtera itu bisa diperoleh. Segalanya terukur dalam sebuah pusaran yang berputar tak menentu-sejumlah perubahan kecil juga signifikan. Sementara orang-orang yang berjarak dari pusaran itu, selamanya akan menjadi miskin.
Yang miskin sebagai orang-orang jelata, sebagaimana yang sering bergulung dalam air ludah menteri bidang keuangan atau bidang kesejahteraan, tentu adalah pihak yang merugi berlipat ganda. Jelata, tidak saja miskin secara harta, tapi juga kemiskinan hartanya itu merusak jiwa.
Itulah sebabnya perilaku-perilaku jelata seperti mencuri ayam, merampok toko, mencopet di pasar tradisional, menjambret di bis, memalak, selalu dijahanamkan. Kemiskinan, rentan jatuh pada kegiatan yang melompat ke luar batas norma.
Friedrich Nietzsche dalam Zarathustra episode Tentang Rakyat Jelata, bahkan dengan sinis mengomentari jelata sebagai orang kehausan, menjijikkan, dan penyakitan.
Kehidupan adalah air mancur kegembiraan; tetapi di mana para jelata juga minum, semua sumur menjadi teracuni…Aku mencintai semua yang bersih tetapi aku tidak suka melihat mulut-mulut menyeringai dan kehausan dari orang-orang penyakitan.
Bagi jelata yang sebenar-benar jelata, memang pernyataan ini menyakitkan. Kerugian yang mereka terima berlipat ganda: mental dan material. Tetapi, mari kita bersihkan kata “jelata” itu sehingga sekedar menjadi kata sifat. Dan mari kita gunakan “sifat jelata” itu untuk menunjukkan kejelataan.
Sifat jelata, atau sifat sebagai yang miskin, itulah yang sebenarnya berbahaya. Miskin sebagai sifat itulah yang menyebabkan tak ada orang di dunia ini yang benar-benar tak miskin. Seseorang boleh jadi adalah pengusaha atau politikus terkenal, tapi tidakkah dalam banyak atau sedikit waktu mereka menggunakan cara-cara yang merugikan orang lain? Jika seorang pengusaha dinilai oleh buruhnya tak adil, maka ketidakadilan itu adalah sifat miskinnya. Sebab, bukankah yang miskin adalah pihak yang rentan bertindak mengambil sesuatu yang bukan haknya? Bukankah dia sendiri menjadi tidak adil?
Untuk itulah, Zarathustra berkata:
Dan aku balikkan punggungku terhadap aturan-aturan bilamana aku melihat apa yang kini mereka sebut sebagai peraturan: tukar-menukar dan tawar menawar demi kekuasaan-dengan jelata!
Tapi, lagi-lagi, jelata itu adalah wajah dunia yang sebenarnya. Berkata Zarathustra, dan banyak orang yang berpaling dari kehidupan, sebenarnya berpaling dari para jelata: mereka tidak ingin berbagi sumur dan api dan buah dengan jelata itu.
Kini sifat kemiskinan itu menampakkan wajahnya yang ganda, yang bersisian ibarat kembar siam yang mati kedua-duanya jika dipisahkan. Kemiskinan dan kejelataan adalah musuh, di sisi lain, dia pulalah yang menjadi pupur di wajah kita.
Bagi jelata yang ada dalam angka-angka di mulut menteri bidang keuangan atau bidang kesejahteraan, kehidupan adalah dunia dan dirinya sendiri sebagai manusia yang terlanjur lahir. Hidup bernilai sebagai kegagalan penciptaan.
Tetapi, hukum ini juga berlaku bagi mereka yang mampu keluar dari air liur menteri bidang keuangan atau bidang kesejahteraan. Mereka memang tak akan dihantui rasa lapar dan mandi di air yang kumuh, tetapi kemiskinan yang tak punah di sekelilingnya akan menyebabkan kesejahteraan bukan sesuatu yang mutlak. Segalanya terancam. Dan hidup dalam keadaan terancam adalah hidup yang kekurangan, sementara hidup dalam kekurangan adalah kemiskinan, lalu kemiskinan adalah jelata.
Saya menganggap rasa jijik Zarathustra terhadap jelata sebagai inspirasi. Ini bisa dilakukan jika kita membelokkan pikiran kita sesuai arah yang kita mau pada pernyataan-pernyataannya yang sekali didengar akan menghunjam ulu hati jelata.
Jadi, biarlah kita hidup di atas mereka bagaikan angin-angin teguh, bertetangga dengan elang-elang, bertetangga dengan salju, bertetangga dengan matahari: demikianlah angin kuat itu hidup.
Lebih dari seabad sejak kematian sang filosof, kemiskinan yang ia hentakkan sampai terbenam ke bumi itu tak jua lenyap, malah makin terbang menyaingi sayap “elang-elang” di “angin-angin teguh.” Tentulah, ia bercerita tentang cita-cita. Lazimnya cita-cita, adalah inspirasi, perangsang yang membuat kehidupan bergerak menghasilkan zaman. Itulah inspirasi mencibir kemiskinan agar kemiskinan itu lenyap. Meski perasaan belum pasti, sebab yang miskin masih bercakap-cakap dengan jelas di dekat lubang telinga kita.