Sebut saja namanya Tanto Herianto (bukan nama sebenarnya). Dia seorang teman yang saya kenal sejak saya duduk di sekolah menengah pertama. Ketika melanjutkan ke sekolah menengah atas, saya dan Tanto juga masuk ke sekolah yang sama.
Saya tidak terlalu akrab dengan Tanto. Gerombolan saya berbeda dengan gerombolan Tanto. Gerombolan saya adalah remaja-remaja yang populer di sekolah sebagai atlet basket, pengurus OSIS, dan sebagian terhitung sebagai anak-anak tampan di sekolah. Gerombolan saya tidak suka narkoba, rokok, berkelahi, dan bolos sekolah.
Di tempat lain, gerombolan Tanto yang saya ingat adalah gerombolan pemabuk, suka berkelahi, dan pembolos. Jelas, saya tidak mungkin bergaul rapat dengan gerombolan Tanto. Hanya saja, karena kota kami itu terlalu kecil dan hampir setiap orang di sekolah saling mengenal, sapa-menyapa dengan hangat antara saya dan Tanto tetap terjadi.
Sosok Tanto kembali menggedor kenangan saya ketika kabar itu datang tanpa saya minta. Dalam perjalanan pulang mudik hari raya yang lalu, seorang kawan memberi tahu saya: Tanto meninggal.
Saat meninggal, tubuh Tanto dikabarkan kurus ibarat hanya menyisakan kulit pembalut tulang. Sebelumnya saya pernah melihat kakak teman saya terkena penyakit seperti itu. Seperti Tanto, kakak teman saya itu juga dijemput maut. Dari desas-desus yang beredar, kakak teman saya itu meninggal karena narkotika, sebagian menyebutnya terkena HIV/AIDS. Soal Tanto, saya tidak tahu pasti penyebabnya. Tetapi kawan-kawan mengatakan Tanto sempat menggunakan narkoba sebelum “pergi”.
Matinya Tanto mengingatkan saya pada suatu hari saat saya SMA. Kala itu, pagi beranjak siang. Dengan mata kepala saya sendiri, saya saksikan Tanto berlari dari ruangan kepala sekolah, menuju gerbang sekolah, dan melempar kaca majalah dinding dengan sebuah batu. “Praaaannnng!!!” Dan Tanto kabur. Sementara itu, ayah Tanto gapah-gopoh mengejar anaknya.
Saya tak tahu pasti penyebabnya. Tapi saya menduga, ayah Tanto waktu itu dipanggil karena kenakalan Tanto di sekolah. Tapi mengapa Tanto justru membuat aksi memecahkan kaca majalah dinding justru saat ayahnya ada di sekolah? Tidakkah ia seharusnya merasa malu karena nyaris seluruh mata di sekolah menyaksikan ayahnya setengah berlari mengejarnya? Atau, tidakkah seharusnya Tanto mempermalukan ayahnya?
Hati dan pikiran saya tergoda untuk menghubungkan kematian Tanto dengan peristiwa sekali waktu di masa SMA itu. Saya digiring pada satu masalah klasik dan nyaris dialami seluruh manusia di dunia ini: kompleksitas hubungan orang tua (ayah) dan anak.
Saya termasuk orang yang tak percaya pada kesalahan anak-anak. Anak-anak, tetaplah anak-anak. Jika anak-anak diasuh dengan cara yang tidak benar, maka kebrutalanlah yang akan mereka lakukan di masa dewasa. Dengan asumsi ini, saya mengajukan satu pertanyaan: apakah aksi Tanto di sekolah itu adalah kesalahannya?
Tanto, saat itu masih remaja dalam jiwa yang belum lagi stabil, sebagaimana juga saya. Jika Tanto nakal selama tak melakukan kriminal, saya rasa itu wajar. Justru, saya melihat apa yang dilakukan Tanto di sekolah adalah bentuk protes terhadap ayahnya. Tanto agaknya “sengaja” menunjukkan pemberontakannya pada ayahnya di tempat di mana harga diri seorang remaja sedang dipertaruhkan, yaitu di sekolah, di tengah teman-temannya, di antara guru-gurunya.
Selebihnya, kita tidak bisa menebak apa yang terjadi antara Tanto dan ayahnya, atau keluarganya. Sebagai orang yang juga memiliki ayah, saya mencoba memahami sikap Tanto melalui apa yang saya alami. Seorang ayah, meski tak semua ayah, adalah seorang pemaksa.
Pikiran ayah (baca: orang dewasa), selalu seperti terputus dengan dunia anak-anak. Anak-anak tak boleh menderita, dan penderitaan orang tua seharusnya tak boleh diterjemahkan dalam caranya mendidik anak-anak. Orang dewasa, tanpa sadar terlalu sering menilai anak-anak, menjustifikasi anak-anak. Orang dewasa, selalu ingin menjadikan anak-anaknya sebagai “dirinya yang kedua”. Padahal, setiap manusia memiliki dunianya masing-masing.
Inilah paradoks dalam hubungan antara orang dewasa dalam adab ketimuran kita. Di barat, kita sering mendengar remaja berusia 17 tahun sudah diberikan kebebasan menentukan hidupnya sendiri. Namun di sisi lain, anak-anak barat menjadi jauh lebih keras, tajam, brutal, bar-bar, dan memiliki kreatifitas yang tak terduga.
Orang timur, dengan mudah menuduh “hubungan seks bebas” yang dilakukan anak-anak barat sebagai bentuk filsafat hidup mereka yang menjunjung kebebasan ekstrim. Hubungan antara anak-anak dan orang tua dinilai terlalu dingin. Salah satu penyebab lainnya adalah lumrahnya perceraian di keluarga barat.
Dengan tuduhan kita terhadap masyarakat barat seperti itu, apakah kita akan mengatakan bahwa hubungan anak-anak dalam ketimuran kita lebih bersifat hangat? Apakah sebenarnya kehangatan itu? Apakah Tanto mendapat perlakuan yang hangat dari ayahnya?
Setiap kata-kata yang disampaikan orang dewasa, setiap sentuhan atau siksaan, akan mempengaruhi jiwa anak-anak. Itu akan mempengaruhi bagaimana sang anak menjalani hidupnya sebagai manusia dewasa, bahkan hingga “bagaimana” cara sang anak itu mati.
Pentolan rockabilly dekade 50-an di Amerika Serikat, Johny Cash, adalah salah satu anak yang jarang menyapa sang ayah. Johny, yang mencintai musik sejak kanak, selalu dianggap tak berarti oleh ayahnya. Ayahnya hanya menganggap Jack Cash, abang Johny. Abang Johny adalah tipikal anak-anak yang cerdas, rajin membaca, dan selalu mendapat nilai tinggi di sekolah.
Suatu kali, Jack mati saat bekerja di pemotongan kayu. Johny yang saat itu berada di pemotongan kayu, mengajak abangnya untuk bersantai dengan memancing di sungai. Sang abang menolak karena harus bekerja. Karena begitu sayang dengan Johny, Jack mengizinkan Johny memancing.
Nasib buruk, Johny dipersalahkan ayahnya karena tidak menemani Jack di pemotongan kayu. Jack tewas, dan Johny dipersalahkan ayahnya seumur hidup (kisah ini dapat disaksikan dalam film Walk of The Line. Johny Cash diperankan Joaquin Phoenix yang berpasangan dengan Resse Whiterspoon sebagai June Carter).
Apa yang terjadi dengan Johny selanjutnya? Hidup Johny kacau. Ia bercerai dengan istri dan seorang anaknya. Meski tenar, ia tenggelam dalam narkotika sampai June (Carter) bersedia mengasuhnya hingga sembuh.
Johny lebih baik karena masih bisa hidup, sementara Tanto harus mati. Johny masih lebih baik karena ia menjadi individu yang tercatat dalam sejarah musik dunia, sementara nama Tanto hanya disapa oleh angin yang kebetulan melintas di pusaranya. Johny lebih baik karena ia sempat merasakan hidup bergelimang uang, sementara Tanto tetap “miskin” hingga mati.
Kawan-kawan, mengapa hidup harus bertindak seperti itu? Apa sebenarnya salah anak-anak? Apakah keluguan anak-anak membuat anak-anak tidak bisa mengajukan protes terhadap orang dewasa?
Baiklah! Mungkin tidak semua anak-anak di bumi ini yang mengalami hubungan yang tak mengenakkan sebagaimana Johny Cash dan (mungkin) Tanto. Tapi saya ingin menyebut satu nama: Afrizal Malna.
Dalam sebuah diskusi tentang kebudayaan bulan lalu di Galeri Nasional, penyair Afrizal Malna memberikan satu sikap atas kejamnya dunia orang dewasa terhadap anak-anak. Afrizal, menurut pengakuannya, adalah orang yang tidak pernah mengalami kekerasan fisik dan menemukan hal-hal seperti itu di dalam rumahnya.
Ia heran mengapa teman-temannya semasa kanak harus menghadapi pukulan orang tua untuk membayar satu atau dua kesalahan. Karena perbedaan itu, Afrizal membenci dunia orang dewasa. Dalam masa kanaknya, ia membentuk dunianya sendiri, ia menciptakan bahasanya sendiri, peradabannya sendiri, yang tak tersentuh oleh dunia orang dewasa.
Haruskah setiap anak-anak membuat dunianya sendiri seperti Afrizal? Apakah semua anak-anak memiliki kecerdasan seperti Afrizal? Saya tidak tahu! Dan saya berdoa untuk keselamatan setiap anak-anak yang saya tidak tahu apa yang mereka alami di balik pintu rumah mereka!
Mudah-mudahan, keadaan ini tidak membuat siapapun di dunia ini takut untuk menjadi orang tua.
September 25 2010