Merapi meletus! Mbah Marijan meninggal dunia dalam posisi sujud. Entah sujud itu untuk apa, tapi media massa terlanjur menyebut Mbah Marijan menghembuskan nafas terakhir dalam kondisi sholat. Andaikan Si Mbah ditemukan meninggal dalam posisi sedang tidur, barangkali kepergiannya kurang dikenang. Sujud menyebabkan kematian Mbah Marijan menjadi dramatis.
Drama kematian Mbah Marijan menyempurnakan ketenarannya sebagai juru kunci gunung Merapi. Kematian Mbah Marijan seolah menunjukkan dirinya adalah abdi sejati Keraton yang tetap setia pada tugas hingga akhir hayatnya.
Mengapa Mbah Marijan tak turun demi menghindari wedhus gembel? Apa yang menyebabkan dia berani mempertaruhkan nyawa? Bagaimana Mbah Marijan memandang kematian saat dia memilih bertahan untuk tetap di gunung meski bencana mengancam?
Drama! Ya, tanpa kita sadari, kita hidup untuk membuat hidup kita menjadi dramatis. Itulah sebabnya, kematian di medan perang sebagai prajurit jauh lebih dicatat sejarah dibanding meninggal di atas tempat tidur dalam keadaan tenang.
Bukan kematian benar yang dicari, tapi cara kita menempuh kematian itu yang lebih perlu. Kita butuh sesuatu yang berbeda saat mengucapkan selamat tinggal pada bumi. Dengan cara yang berbeda itu, kelak bumi akan mengenang dan selalu membahas masa-masa hidup kita. Dengan demikian, manusia yang berhasil membuat kematiannya dramatis, adalah manusia yang berusaha mengejar apa yang hanya dimiliki oleh tuhan, dan mungkin, alam raya ini: keabadian.
Mbah Marijan sesungguhnya tengah menunjukkan watak khas masyarakat timur lewat kematian. Mengutamakan dramatisasi dalam hidup dan kematian menunjukkan orang yang akan mati itu tak takut terhadap kematian. Justru, kematian dilakukan secara indah, yakni dengan drama.
Sebagai lelaki Jawa dan orang timur, mbah Marijan agaknya ingin membuktikan kepada kehidupan yang terus berjalan di dunia ini, bahwa falsafah atau firman kitab suci yang bermakna “dari tanah kembali ke tanah” itu tak sekedar bumbu-bumbu dalam kehidupan religi dan spiritual.
Saya teringat pertemuan saya dengan perempuan tua nan enerjik dari Jerman. Kalau tidak salah, nama perempuan yang berusia di atas 70 itu Barbara Ossenkop. Ia menetap di Indonesia sejak 1980-an. Setelah terpesona terhadap Bali lantas menetap di sana, ia berpindah ke Jakarta.
Ketertarikan pertama Barbara untuk tinggal di Jakarta adalah orangutan. Suatu hari ia bertemu dengan Ulrike. Ulrike atau biasa dipanggil ibu Ulla, adalah pencinta orangutan yang berusia sekitar 90-an. Ulla tinggal di tengah kebun binatang Ragunan, Jakarta, sejak kebun binatang itu pertama dibuka setelah dipindahkan mantan gubernur Ali Sadikin dari Cikini (sekarang Taman Ismail Marzuki). Dan Barbara adalah asisten Ulla mengurus orangutan.
Barbara mengajak saya ke rumahnya. Setelah bertemu di satu tempat, saya memboncengi Barbara dengan sepeda motor. Dalam perjalanan, saya membayangkan Barbara tinggal di lingkungan yang asri di selatan Jakarta. Tapi, apa yang saya temui jauh dari perkiraan. Barbara tinggal di sebuah rumah petak yang dindingnya hanya terbuat dari triplek.
Rumah yang panas dan agak sumpek itu terdiri dari tiga sekat: ruang tamu, ruang tidur, dan dapur sekaligus kamar mandi. Kepada saya, Barbara mengatakan ia bisa saja tinggal di di daerah elit. Tapi, ia tidak akan mengenal masyarakat Indonesia.
Benar saja, baru saja Barbara datang, sekitar 10 anak-anak kecil tetangganya menghampiri Barbara dan memanggilnya dengan panggilan “tante.” Saya takjub, karena Barbara yang sudah nenek-nenek itu mengingat nama masing-masing anak itu. Sekilas, saya lihat Barbara bahagia dengan penyambutan yang meriah itu. Mungkin tak ada kehangatan seperti itu di Eropa. Sebagai ganjarannya, Barbara membelikan anak-anak itu roti.
Barbara terus-menerus menyampaikan pandangannya tentang orang Indonesia. Dalam satu pandangannya, dia mengatakan orang Indonesia boros. Ia menyebut contoh saat mandi. Di Indonesia, kata Barbara, orang mandi tanpa mau menghemat air. Sementara di Jerman, orang mandi dengan air secukupnya. Karena air adalah energi yang bernilai.
Sebagai orang Indonesia, jelas saya tersinggung. Sebab, rasanya tak pantas orang Jerman mencaci-maki bangsa saya di depan saya. Bahwa negara dan perilaku masyarakat buruk, itu saya akui. Tapi, bukankah sudah banyak orang Indonesia sendiri yang menyampaikan kritik terhadap keadaan bangsa ini? Hanya karena dia orang Jerman, saya merasa dia lancang mengomentari Indonesia. Hampir saja saya mau bicara demikian, “kalau memang Indonesia buruk, kenapa Anda betah tinggal di sini?”
Barbara tampil dengan watak khasnya sebagai orang Barat. Mungkin ia tak sadar, bahwa caranya mengomentari keburukan Indonesia itu menjadi semacam kenikmatan bagi dirinya. Ia yang tak betah di tempat asalnya di Eropa, sengaja mencari tempat yang jauh untuk menyepi. Tetapi begitu dia sampai di tempat yang ia tuju, ia malah mengolok-olok tempat itu sendiri dan menyebut-nyebut negaranya lebih baik! Ia menghayati penderitaan dan keburukan masyarakat Indonesia sebagai “rekreasi” intelektual! Ya, Barbara bersenang-senang dengan intelektualitasnya!
Sekuat-kuatnya posmodern, warisan filsafat modern tetap saja masih bersemayam dalam pikiran orang Barat pada beberapa segi. Terutama ketika mereka berhadapan dengan masyarakat dunia ketiga. Barbara masih kental dalam suasana itu.
Sejak Rene Descartes mengumumkan sabdanya yang terkenal “cogito ergo sum”, tak ada yang lebih baik di dunia barat selain akal dan manusia. Karena manusia diletakkan di posisi yang tinggi, manusia diasumsikan bisa mengatasi segala sesuatu di luarnya. Manusia bisa mengatasi alam raya. Manusia bisa menguak langit luas yang dulu misterius dengan mengirim astronot ke bulan dan mars.
Modernitas memicu manusia membuat “jarak” dengan segala sesuatu yang ada di luarnya. Karena manusia berjarak dengan alam raya ini, mereka bisa menciptakan perspektif terhadap apa yang mereka lihat. Masyarakat barat menjadi sangat logis dan perhitungan. Jarak membuat mereka lebih dulu mengalami konflik yang kejam. Jarak memaksa mereka membuat sistem yang dianggap bisa mendamaikan sesama mereka.
Jarak membuat mereka melihat alam sebagai benda yang bisa dinilai. Jarak, membuat mereka menciptakan “property rights” untuk menghindari perselisihan atas kepemilikan kekayaan yang tertumpah di muka bumi ini.
Pada 2006, Mel Gibson menciptakan metafora yang kuat tentang watak masyarakat barat lewat film yang disutradarainya, Apocalypto. Pada akhir cerita, film yang berkisah tentang keruntuhan peradaban Maya di Yucatan, Mexico, itu ditutup dengan pengejaran buronan kerajaan oleh tentara kerajaan. Di akhir pengejaran, sang buron tak bisa melarikan diri lagi karena pelarian berakhir di pinggir pantai.
Yang menakjubkan, pengejaran itu tak diakhiri dengan kisah si buron dibunuh tentara atau dijebloskan ke penjara. Di tepi pantai, si buron terperangah menyaksikan sesuatu yang datang dari laut. Dua prajurit yang mengejar si buron juga tak melanjutkan pengejarannya karena mereka juga menyaksikan sesuatu yang aneh dari laut. Apakah yang datang dari laut? Itulah pendaratan pertama kapal Spanyol di benua Amerika yang dipimpin Christoporus Columbus.
Akhir cerita itu menjadi penting sebab kontras tengah ditunjukkan. Dalam kisah pengejaran, si buron dan prajurit berlarian di hutan, bersembunyi di balik pohon, juga melintasi sungai. Meski penerus suku Maya mengkritik adegan di film itu seolah menunjukkan bangsa Maya terlalu kejam, tapi buat saya itu bukan inti dari keseluruhan cerita.
Bagi saya, tak ada interupsi kultural selama adegan pengejaran. Saya melihat orang-orang bangsa Maya berlarian di hutan dan melintasi sungai seolah mereka adalah bagian dari alam. Mereka tidak berjarak dengan alam. Tak ada property rights yang kaku di sana! Justru, interupsi itu muncul dalam mimik keterperangahan mereka saat menyaksikan kapal Columbus merapat di pantai. Itu adalah saat di mana batin mereka mulai merasakan bahwa peradaban mereka akan hancur karena pelaut-pelaut itu mulai mematok-matok tanah mereka. Lantas, pelaut-pelaut itu akan mengatakan kepada mereka: “tanah ini milikku. Kalau kau masih memiliki tanah, tunjukkan batas-batasnya, dan pandai-pandailah memberikan harga pada tanahmu. Abad-abad kemudian, tanahmu itu bisa mempertahakan keberadaan suku bangsamu.”
Jelas, paham berjarak dengan alam yang dibawa orang Spanyol itu seperti tak masuk akal bagi orang Maya. Bagaimana mereka bisa menerima bahwa suatu saat tanah bisa saja menjadi bukan milik mereka sementara sepanjang hidupnya mereka tak mempersoalkan siapa yang memiliki? Mereka tinggal di atas hutan yang luas itu seperti orang yang menumpang tinggal saja. Kelak, jika mereka mati, toh memang bumi menginginkannya kembali. Bangsa Maya merasa tak berjarak dengan bumi! Karena merasa satu dengan bumi, watak mematok tanah dan mematerikan sumber daya alam terasa janggal dan asing.
Barbara, ketika dia memprotes orang Indonesia yang boros saat mandi, sedang berperilaku seperti pelaut-pelaut Spanyol. Saya, dalam keadaan yang mungkin lebih bisa mempertahankan diri, menjadi orang Maya itu.
Saya ingin bilang kepada Barbara, di negeri ini, air mengalir seolah tanpa henti. Masyarakat Indonesia dan Timur, justru menganggap alam bukan sebagai sesuatu yang ditaklukkan. Alam bukan objek dan sebab itu tak ada jarak antara manusia dengan alam sebagaimana orang barat memperlakukan alam.
Jika kita berjalan ke desa, maka kita bisa melihat anak-anak menceburkan diri dengan bahagia ke dalam sungai. Di kepala anak-anak itu, sungai yang mereka renangi itu akan berada di tempat itu selama tuhan masih menginginkannya. Dalam memori kultural mereka, tak ada pesan untuk mematok sungai meski suatu saat air di sungai itu bisa digantikan dengan uang yang luar biasa banyaknya.
Di negara Barbara, mungkin tak ada anak-anak yang mandi di sungai sebagai keseharian. Pada dasarnya, masyarakat Indonesia datang ke sungai, gunung, atau alam, bukan untuk piknik. Tapi memang di sanalah kehidupannya. Alam terbentang sejak mata kita bisa meresepsi lanskap pertama. Alam itu adalah diri kita ini, darah, daging, pikiran, bahkan jiwa. Andaikan kini masyarakat Indonesia banyak yang rakus, bukankah itu sebenarnya perilaku mematok-matok yang diajarkan kolonial pada kita!
Mungkin, dalam kebersatuan dengan alam itulah mbah Marijan pergi meninggalkan kita. Mbah Marijan tak takut mati karena mati baginya hanyalah bersatu dengan jagad yang memberinya kehidupan. Mati bagi mbah Marijan adalah drama kembalinya manusia ke dalam “rahim ibu” yang dulu memancarkannya ke dunia. Saya menduga, itu sebabnya mbah Marijan bersujud menghadap ke bumi.
“Dari tanah, kembali ke tanah!”
Kelapa Dua, November 1 2010