Thursday, January 13, 2011

Kembalinya Mbah Marijan ke dalam "Rahim"

Merapi meletus! Mbah Marijan meninggal dunia dalam posisi sujud. Entah sujud itu untuk apa, tapi media massa terlanjur menyebut Mbah Marijan menghembuskan nafas terakhir dalam kondisi sholat. Andaikan Si Mbah ditemukan meninggal dalam posisi sedang tidur, barangkali kepergiannya kurang dikenang. Sujud menyebabkan kematian Mbah Marijan menjadi dramatis.

Drama kematian Mbah Marijan menyempurnakan ketenarannya sebagai juru kunci gunung Merapi. Kematian Mbah Marijan seolah menunjukkan dirinya adalah abdi sejati Keraton yang tetap setia pada tugas hingga akhir hayatnya.

Mengapa Mbah Marijan tak turun demi menghindari wedhus gembel? Apa yang menyebabkan dia berani mempertaruhkan nyawa? Bagaimana Mbah Marijan memandang kematian saat dia memilih bertahan untuk tetap di gunung meski bencana mengancam?

Drama! Ya, tanpa kita sadari, kita hidup untuk membuat hidup kita menjadi dramatis. Itulah sebabnya, kematian di medan perang sebagai prajurit jauh lebih dicatat sejarah dibanding meninggal di atas tempat tidur dalam keadaan tenang.

Bukan kematian benar yang dicari, tapi cara kita menempuh kematian itu yang lebih perlu. Kita butuh sesuatu yang berbeda saat mengucapkan selamat tinggal pada bumi. Dengan cara yang berbeda itu, kelak bumi akan mengenang dan selalu membahas masa-masa hidup kita. Dengan demikian, manusia yang berhasil membuat kematiannya dramatis, adalah manusia yang berusaha mengejar apa yang hanya dimiliki oleh tuhan, dan mungkin, alam raya ini: keabadian.

Mbah Marijan sesungguhnya tengah menunjukkan watak khas masyarakat timur lewat kematian. Mengutamakan dramatisasi dalam hidup dan kematian menunjukkan orang yang akan mati itu tak takut terhadap kematian. Justru, kematian dilakukan secara indah, yakni dengan drama.

Sebagai lelaki Jawa dan orang timur, mbah Marijan agaknya ingin membuktikan kepada kehidupan yang terus berjalan di dunia ini, bahwa falsafah atau firman kitab suci yang bermakna “dari tanah kembali ke tanah” itu tak sekedar bumbu-bumbu dalam kehidupan religi dan spiritual.

Saya teringat pertemuan saya dengan perempuan tua nan enerjik dari Jerman. Kalau tidak salah, nama perempuan yang berusia di atas 70 itu Barbara Ossenkop. Ia menetap di Indonesia sejak 1980-an. Setelah terpesona terhadap Bali lantas menetap di sana, ia berpindah ke Jakarta.

Ketertarikan pertama Barbara untuk tinggal di Jakarta adalah orangutan. Suatu hari ia bertemu dengan Ulrike. Ulrike atau biasa dipanggil ibu Ulla, adalah pencinta orangutan yang berusia sekitar 90-an. Ulla tinggal di tengah kebun binatang Ragunan, Jakarta, sejak kebun binatang itu pertama dibuka setelah dipindahkan mantan gubernur Ali Sadikin dari Cikini (sekarang Taman Ismail Marzuki). Dan Barbara adalah asisten Ulla mengurus orangutan.

Barbara mengajak saya ke rumahnya. Setelah bertemu di satu tempat, saya memboncengi Barbara dengan sepeda motor. Dalam perjalanan, saya membayangkan Barbara tinggal di lingkungan yang asri di selatan Jakarta. Tapi, apa yang saya temui jauh dari perkiraan. Barbara tinggal di sebuah rumah petak yang dindingnya hanya terbuat dari triplek.

Rumah yang panas dan agak sumpek itu terdiri dari tiga sekat: ruang tamu, ruang tidur, dan dapur sekaligus kamar mandi. Kepada saya, Barbara mengatakan ia bisa saja tinggal di di daerah elit. Tapi, ia tidak akan mengenal masyarakat Indonesia.

Benar saja, baru saja Barbara datang, sekitar 10 anak-anak kecil tetangganya menghampiri Barbara dan memanggilnya dengan panggilan “tante.” Saya takjub, karena Barbara yang sudah nenek-nenek itu mengingat nama masing-masing anak itu. Sekilas, saya lihat Barbara bahagia dengan penyambutan yang meriah itu. Mungkin tak ada kehangatan seperti itu di Eropa. Sebagai ganjarannya, Barbara membelikan anak-anak itu roti.

Barbara terus-menerus menyampaikan pandangannya tentang orang Indonesia. Dalam satu pandangannya, dia mengatakan orang Indonesia boros. Ia menyebut contoh saat mandi. Di Indonesia, kata Barbara, orang mandi tanpa mau menghemat air. Sementara di Jerman, orang mandi dengan air secukupnya. Karena air adalah energi yang bernilai.

Sebagai orang Indonesia, jelas saya tersinggung. Sebab, rasanya tak pantas orang Jerman mencaci-maki bangsa saya di depan saya. Bahwa negara dan perilaku masyarakat buruk, itu saya akui. Tapi, bukankah sudah banyak orang Indonesia sendiri yang menyampaikan kritik terhadap keadaan bangsa ini? Hanya karena dia orang Jerman, saya merasa dia lancang mengomentari Indonesia. Hampir saja saya mau bicara demikian, “kalau memang Indonesia buruk, kenapa Anda betah tinggal di sini?”

Barbara tampil dengan watak khasnya sebagai orang Barat. Mungkin ia tak sadar, bahwa caranya mengomentari keburukan Indonesia itu menjadi semacam kenikmatan bagi dirinya. Ia yang tak betah di tempat asalnya di Eropa, sengaja mencari tempat yang jauh untuk menyepi. Tetapi begitu dia sampai di tempat yang ia tuju, ia malah mengolok-olok tempat itu sendiri dan menyebut-nyebut negaranya lebih baik! Ia menghayati penderitaan dan keburukan masyarakat Indonesia sebagai “rekreasi” intelektual! Ya, Barbara bersenang-senang dengan intelektualitasnya!

Sekuat-kuatnya posmodern, warisan filsafat modern tetap saja masih bersemayam dalam pikiran orang Barat pada beberapa segi. Terutama ketika mereka berhadapan dengan masyarakat dunia ketiga. Barbara masih kental dalam suasana itu.

Sejak Rene Descartes mengumumkan sabdanya yang terkenal “cogito ergo sum”, tak ada yang lebih baik di dunia barat selain akal dan manusia. Karena manusia diletakkan di posisi yang tinggi, manusia diasumsikan bisa mengatasi segala sesuatu di luarnya. Manusia bisa mengatasi alam raya. Manusia bisa menguak langit luas yang dulu misterius dengan mengirim astronot ke bulan dan mars.

Modernitas memicu manusia membuat “jarak” dengan segala sesuatu yang ada di luarnya. Karena manusia berjarak dengan alam raya ini, mereka bisa menciptakan perspektif terhadap apa yang mereka lihat. Masyarakat barat menjadi sangat logis dan perhitungan. Jarak membuat mereka lebih dulu mengalami konflik yang kejam. Jarak memaksa mereka membuat sistem yang dianggap bisa mendamaikan sesama mereka.

Jarak membuat mereka melihat alam sebagai benda yang bisa dinilai. Jarak, membuat mereka menciptakan “property rights” untuk menghindari perselisihan atas kepemilikan kekayaan yang tertumpah di muka bumi ini.

Pada 2006, Mel Gibson menciptakan metafora yang kuat tentang watak masyarakat barat lewat film yang disutradarainya, Apocalypto. Pada akhir cerita, film yang berkisah tentang keruntuhan peradaban Maya di Yucatan, Mexico, itu ditutup dengan pengejaran buronan kerajaan oleh tentara kerajaan. Di akhir pengejaran, sang buron tak bisa melarikan diri lagi karena pelarian berakhir di pinggir pantai.

Yang menakjubkan, pengejaran itu tak diakhiri dengan kisah si buron dibunuh tentara atau dijebloskan ke penjara. Di tepi pantai, si buron terperangah menyaksikan sesuatu yang datang dari laut. Dua prajurit yang mengejar si buron juga tak melanjutkan pengejarannya karena mereka juga menyaksikan sesuatu yang aneh dari laut. Apakah yang datang dari laut? Itulah pendaratan pertama kapal Spanyol di benua Amerika yang dipimpin Christoporus Columbus.

Akhir cerita itu menjadi penting sebab kontras tengah ditunjukkan. Dalam kisah pengejaran, si buron dan prajurit berlarian di hutan, bersembunyi di balik pohon, juga melintasi sungai. Meski penerus suku Maya mengkritik adegan di film itu seolah menunjukkan bangsa Maya terlalu kejam, tapi buat saya itu bukan inti dari keseluruhan cerita.

Bagi saya, tak ada interupsi kultural selama adegan pengejaran. Saya melihat orang-orang bangsa Maya berlarian di hutan dan melintasi sungai seolah mereka adalah bagian dari alam. Mereka tidak berjarak dengan alam. Tak ada property rights yang kaku di sana! Justru, interupsi itu muncul dalam mimik keterperangahan mereka saat menyaksikan kapal Columbus merapat di pantai. Itu adalah saat di mana batin mereka mulai merasakan bahwa peradaban mereka akan hancur karena pelaut-pelaut itu mulai mematok-matok tanah mereka. Lantas, pelaut-pelaut itu akan mengatakan kepada mereka: “tanah ini milikku. Kalau kau masih memiliki tanah, tunjukkan batas-batasnya, dan pandai-pandailah memberikan harga pada tanahmu. Abad-abad kemudian, tanahmu itu bisa mempertahakan keberadaan suku bangsamu.”

Jelas, paham berjarak dengan alam yang dibawa orang Spanyol itu seperti tak masuk akal bagi orang Maya. Bagaimana mereka bisa menerima bahwa suatu saat tanah bisa saja menjadi bukan milik mereka sementara sepanjang hidupnya mereka tak mempersoalkan siapa yang memiliki? Mereka tinggal di atas hutan yang luas itu seperti orang yang menumpang tinggal saja. Kelak, jika mereka mati, toh memang bumi menginginkannya kembali. Bangsa Maya merasa tak berjarak dengan bumi! Karena merasa satu dengan bumi, watak mematok tanah dan mematerikan sumber daya alam terasa janggal dan asing.

Barbara, ketika dia memprotes orang Indonesia yang boros saat mandi, sedang berperilaku seperti pelaut-pelaut Spanyol. Saya, dalam keadaan yang mungkin lebih bisa mempertahankan diri, menjadi orang Maya itu.

Saya ingin bilang kepada Barbara, di negeri ini, air mengalir seolah tanpa henti. Masyarakat Indonesia dan Timur, justru menganggap alam bukan sebagai sesuatu yang ditaklukkan. Alam bukan objek dan sebab itu tak ada jarak antara manusia dengan alam sebagaimana orang barat memperlakukan alam.

Jika kita berjalan ke desa, maka kita bisa melihat anak-anak menceburkan diri dengan bahagia ke dalam sungai. Di kepala anak-anak itu, sungai yang mereka renangi itu akan berada di tempat itu selama tuhan masih menginginkannya. Dalam memori kultural mereka, tak ada pesan untuk mematok sungai meski suatu saat air di sungai itu bisa digantikan dengan uang yang luar biasa banyaknya.

Di negara Barbara, mungkin tak ada anak-anak yang mandi di sungai sebagai keseharian. Pada dasarnya, masyarakat Indonesia datang ke sungai, gunung, atau alam, bukan untuk piknik. Tapi memang di sanalah kehidupannya. Alam terbentang sejak mata kita bisa meresepsi lanskap pertama. Alam itu adalah diri kita ini, darah, daging, pikiran, bahkan jiwa. Andaikan kini masyarakat Indonesia banyak yang rakus, bukankah itu sebenarnya perilaku mematok-matok yang diajarkan kolonial pada kita!

Mungkin, dalam kebersatuan dengan alam itulah mbah Marijan pergi meninggalkan kita. Mbah Marijan tak takut mati karena mati baginya hanyalah bersatu dengan jagad yang memberinya kehidupan. Mati bagi mbah Marijan adalah drama kembalinya manusia ke dalam “rahim ibu” yang dulu memancarkannya ke dunia. Saya menduga, itu sebabnya mbah Marijan bersujud menghadap ke bumi.

“Dari tanah, kembali ke tanah!”

Kelapa Dua, November 1 2010

Sepakbola: Nasionalisme yang Menumpang

Di negeri ini, sepakbola sudah masuk dalam wilayah perasaan. Dia tidak lagi menjadi sekedar “game” dengan bumbu-bumbu kebijaksanaan sebagai miniatur kehidupan. Perasaan, sebagaimana dia mampu memperbudak kita saat jatuh cinta, acap membawa kita pada keadaan yang tak masuk akal.

Bagaimana, misalnya, menjelaskan kerusuhan yang pecah di Ambon, Maluku, beberapa saat setelah kesebelasan Spanyol menaklukkan Belanda secara dramatis dalam laga final Piala Dunia 2010? Kerusuhan itu terjadi karena pendukung Belanda kecewa karena tim yang dibelanya kalah. Setidaknya sembilan kios rusak di jalan Diponegoro, Ambon. Untuk meredamnya, Satuan Brimob Polda Maluku harus menurunkan satu peleton pasukan.

Mengapa orang-orang Ambon yang juga warga negara berkebangsaan Indonesia itu rela membiarkan energi dan perasaannya untuk kecewa terhadap kekalahan negara yang bukan tanah airnya? Tidakkah situasi ini absurd karena ekspresi perasaan itu menggugat nasionalisme sebagai bangsa?

Banyak hal yang bisa dicurigai. Mungkin memang sepakbola sudah menjelma fenomena budaya massa yang dahsyat setelah musik rock. Kini, manusia di mana pun, tidak bisa tidak harus bersentuhan dengan sepakbola. Pun jika dia tidak terlalu menyukai sepakbola sebagai sebuah cabang olah raga. Karena mengabaikan sepakbola di zaman ini, sama saja dengan menolak menjadi warga dunia.

Tetapi, bukankah ada negara lain yang demam sepakbola namun tidak terlalu menggunakan perasaan sebagaimana di Indonesia? Di Malaysia, saat kesebelasan negara itu bertanding sebagai tuan rumah Piala Asia 2007, stadion sepi. Sebagai orang Indonesia, saya juga merasa situasi itu agak absurd. Sebab, keadaannya berbanding terbalik dengan Indonesia.

Saya ingat saat pertandingan pertama Indonesia melawan Bahrain dalam penyisihan Piala Asia. Saya menonton lewat layar televisi di kantor tempat saya bekerja. Saya termasuk orang yang merugi tak hadir di Gelora Bung Karno waktu itu.

Euforia pertandingan itu bermula sejak pagi. Seluruh pendukung Indonesia dari penjuru manapun membludak di Senayan. Sebagian mengamuk karena tak mendapat tiket. Mereka melempar loket pembelian tiket dengan uang receh. Jumlah pendukung yang tak masuk ke stadion itu ribuan.

Lalu masuklah ke dalam adegan pertandingan. Kegilaan orang Indonesia atas sepakbola sekaligus menunjukkan kecintaannya terhadap negara mengemuka saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan sebelum pertandingan. Sekitar 100.000 lebih penonton yang memadati Senayan turut mengumandangkan Indonesia Raya. Bayangkan: sebuah koor ratusan ribu manusia dalam nada yang sama. Betapa mistis!

Bambang Pamungkas meledakkan kegembiraan! Dia babak kedua, dia melesakkan bola ke pojok kanan gawang setelah penjaga gawang Bahrain menepis tembakan Firman Utina. Skor menjadi 2-1. Gol sebelumnya dicetak oleh Elie Aiboy dengan gocekan khas pemain asal Papua.

Saat mata kepala saya yakin bahwa gol kedua dari Bambang Pamungkas itu sah sebagai gol, rasanya darah saya naik ke otak. Gemuruh di stadion seolah mau melompat dari layar televisi dan memporak-porandakan isi kantor saya. Saat itu saya seperti merasa menjadi warga yang negaranya baru saja merdeka dari penjajahan.

Meski menang melawan Bahrain, Indonesia tetap tak lolos pada fase penyisihan grup karena keok melawan Arab Saudi dan Korea Selatan. Tapi, pertandingan itu tetap menjadi pertandingan yang bersejarah dalam catatan sepak bola Indonesia.

Tapi, kalau kita mau jujur, sebenarnya kemenangan itu tidaklah istimewa dalam lanskap sepakbola dunia. Kemenangan itu hanya sekali, pada fase penyisihan, dan hanya di Piala Asia. Jika kita menonton Piala Dunia, negara yang hanya menang sekali di penyisihan seperti Indonesia tentu tak terlalu dianggap oleh warga dunia. Kecuali jika negara tersebut memang memiliki prestasi gemilang dalam sejarah sepakbolanya. Sebut saja mantan Juara Dunia 1998 Prancis yang harus pulang lebih dulu karena tak lolos penyisihan.

Tapi mengapa kita terlalu bahagia dengan kemenangan yang sekali dan hanya pada babak penyisihan itu?

Saya merasa ekspresi itu adalah ekspresi masyarakat yang tertindas dan selalu merasa inferior dalam konstelasi politik dunia. Sulit rasanya membayangkan pemerintah mampu mengubah Indonesia menjadi negara kuat yang diperhitungkan secara politik dan ekonomi di dunia. Jangankan menyamai Amerika Serikat, untuk menjadi negara semaju Jepang atau sefenomenal China, kita hanya menemui jalan buntu.

Di sisi lain, dunia memberikan peluang bagi negara-negara miskin dan berkembang untuk tetap dihargai sebagai sebuah negara dalam gelanggang dunia. Peluang itu hanya ada di sepakbola.

Brazil, misalnya, bukanlah negara kuat secara ekonomi dan politik. Tetapi, sejarah sepakbolanya yang panjang membuat negara itu dipandang sebagai “negeri sepak bola.” Atau, siapa yang peduli dengan negara-negara terbelakang di Afrika jika bukan karena anak-anak Afrika menjadi bintang di klub-klub terbaik Eropa?

Itu pula sebabnya pertandingan antara Spanyol dan Belanda menjadi dramatis. Keduanya belum pernah menjuarai Piala Dunia. Bagi Belanda, final Piala Dunia 2010 adalah yang ketiga. Sedangkan bagi Spanyol, ini final pertamanya. Siapapun yang menang, keduanya akan dianggap sebagai negara besar tidak hanya di dunia sepakbola, namun juga di kancah politik dunia.

Politik! Ya, itu sebabnya Presiden Prancis Nicholas Sarkozy rela turun tangan untuk menyelesaikan kisruh di tubuh tim nasional Prancis. Itu pula yang menyebabkan Presiden Brazil Luis Inacio Lula da Silva memberi komentar yang membela pelatih Carlos Dunga karena dihujat karena tak memanggil Ronaldinho ke timnas Piala Dunia 2010. Bahkan, saat timnas Brazil pulang karena langkah mereka dihentikan Belanda di perempat final, timnas Brazil tetap disambut dengan hormat. Bahkan Lula da Silva angkat bicara. “Kalah bagi tim yang sering menang itu biasa,” kata Lula yang tetap memuji tim nasionalnya.

Di Spanyol keadaan jauh lebih rumit. Barcelona, selalu dikaitkan dengan pemberontakan Catalonia melawan pemerintah pusat di Madrid. Sebulan setelah Perang Sipil Spanyol pecah pada 1936, sejumlah pemain Barcelonda dan Athletic Bilbao yang mewakili etnis Basque masuk daftar orang-orang yang melawan militer.

Pada 6 Agustus di tahun yang sama, Presiden klub Barcelona dan perwakilan partai politik pro-kemerdekaan untuk Catalan, Josep Sunyol, dibunuh oleh militer di dekat wilayah Guadarrama, Spanyol. Momen ini menjadi catatan penting dalam perjalanan Barcelona.

Tentu saja ingatan akan pembunuhan itu menjadi dendam. Sebab itu, saya memaklumi tindakan Xavi Hernandez dan Carlos Puyol saat berlari sambil mengibarkan bendera Catalonia seraya membawa Piala Dunia sebagai selebrasi kemenangan Spanyol atas Belanda.

Buat sebagian orang, mungkin tindakan Xavi dan Puyol terasa tidak bijak. Toh mereka bermain atas nama Spanyol!

Tapi luka sejarah Catalan yang mendalam membuatnya menjadi wajar. Xavi adalah pemain paling penting di balik kemenangan Spanyol di Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Xavi juga dianggap sebagai roh Spanyol dan Barcelona. Dan ketika membawa-bawa nama Barcelona dalam timnas Spanyol, tidak bisa tidak kenangan akan pembunuhan Sunyol oleh tentara diktator Franco akan muncul.

Lagi pula, bagi saya, prestasi terbesar Barcelona bukanlah ketika Josep Guardiola berhasil membawa Barcelona menjuarai enam kejuaraan dalam semusim. Prestasi terbesar Barcelona adalah ketika klub itu menyumbangkan sebagian besar pemain dan pola permainan yang membawa Spanyol menjadi juara dunia. Dan Xavi adalah jantung dari pola permainan sang juara.

Selain soal kepiawaian meramu tim, pelatih Spanyol pun mau tidak mau harus memiliki pandangan politik yang adil atas timnas Spanyol. Bintang Spanyol dan Real Madrid di era 90-an, Fernando Hierro, pernah mengatakan bahwa jika pemain Madrid membuat kesalahan saat bermain untuk Spanyol, pemain Barcelona tidak akan menegurnya. Sementara Fernando Torres mengungkapkan keadaan di timnas Spanyol lebih sulit dari yang dibayangkan orang-orang dari luar. Inilah yang menyebabkan Spanyol tak pernah berbunyi di Piala Dunia meski memiliki segudang pemain berbakat.

Louis Aragones adalah pembuka jalan. Sadar atau tidak, dia menggunakan paradigma yang politis dalam timnas Spanyol. Dalam tubuh timnas Spanyol yang menjuarai Piala Eropa 2008, Aragones memanggil sejumlah pemain yang mewakili sejumlah etnis. Anak-anak Catalonia, Castillia (Madrid), Asturia, bahkan Basque, masuk dalam gerbong Aragones.

Apa yang disebut rekonsiliasi sebagai jalan keluar konflik sudah dimulai Aragones dengan bahasa sepakbola. Dan rekonsiliasi itu mencapai puncaknya ketika Vicente del Bosque melanjutkan paradigma Aragones pada Piala Dunia 2010.

Del Bosque sendiri adalah orang Castillia yang sempat menjadi bintang di Real Madrid semasa menjadi pemain. Ia juga sempat membawa Madrid mencapai kejayaannya kala menjadi pelatih. Tetapi, pelatih yang kalem itu tak tersinggung dengan tindakan Xavi dan Puyol. “Pemain sudah lupa persoalan politik,” kata del Bosque sebelum penyerahan Piala Dunia 2010.

Inilah pendirian yang arif bagi seorang pelatih yang sejarah negaranya bergelimang konflik. Tentu saja, del Bosque menjadi moderat sebab dia juga punya sikap terhadap diktator Franco. Dia berkisah, ayahnya adalah orang Madrid yang sempat dipenjara Franco karena menentang kedikatorannya. Berdasarkan pengalaman itu, dia lebih menghargai perbedaan di Spanyol.

Dari pernyataannya, saya menangkap del Bosque menganggap aksi Xavi dan Puyol adalah ekspresi simbolik semata. Ekspresi simbolik itu menjadi penting untuk mengatasi sejarah yang runyam. Toh, Spanyol tetap tegak meski bendera Catalonia dikibarkan Xavi dan Puyol. Del Bosque sadar bahwa sejarah kelam itu tetap takkan bisa pupus begitu saja di dada orang Catalonia. Sebab itulah, bendera Catalan yang dibawa Xavi dan Puyol merupakan sebuah kompromi yang mengarah pada perdamaian.

Selain itu, dari sosok del Bosque kita bisa menemukan bahwa tidak semua orang Madrid membenci Catalans. Dalam konflik yang pahit itu, ternyata masih ada sejumlah orang yang menginginkan kedamaian. Dari manakah kedamaian itu bisa diraih jika politik tak merestuinya? Inilah sihir sepakbola! Vicente del Bosque mewujudkannya!

Lagi pula, yang menarik dari timnas Spanyol yakni semua unsur yang bertikaian itu direkatkan dengan cara yang sangat indah. Bayangkan, sebagian besar pemain Spanyol adalah pemain Barcelona dan Castillia. Sebagian lagi mewakili etnis yang lain. Lalu, meski gaya permainan dan jantung permainan diambil dari Catalonia, toh kapten kesebelasan Iker Casillas dan pelatih Vicente del Bosque adalah orang Madrid.

Selain itu, gol-gol penting yang membawa Spanyol ke tangga juara dilesakkan oleh anak-anak Barcelona: Iniesta, Pique, dan Puyol. Uniknya, pahlawan Spanyol yang mencetak gol tunggal kemenangan di final melawan Belanda, Andres Iniesta, adalah anak Castillia yang sejak kanak-kanak diasuh oleh Barcelona.

Dengan jalan yang elegan itulah, Spanyol kini diperhitungkan dunia. Dia menjadi negara baru yang sejajar dengan Italia dan Jerman.

Spanyol kini tak lagi menjadi negara medioker dalam sepakbola, sekaligus juga politik dunia. Sungguh kemenangan yang indah, kemenangan yang dicapai dengan pikiran yang damai dan menghasilkan perdamaian pula. Majalah Tempo menyebutkan, di Basque orang tak pernah menyaksikan bendera Spanyol berkibar selain saat Spanyol juara dunia.

Jika kita ingin kembali ke Indonesia, kita tentu akan menghadapi situasi yang sangat berbeda. Indonesia memang rawan konflik dan memiliki sejarah politik yang kelam. Namun sejarah politik kita tak berimbang dengan sejarah sepakbola. Kita belum pernah punya sejarah sepakbola yang mapan.

Jika di Spanyol perseteruan Catalan dan Madrid bisa dipindahkan ke lapangan hijau dan melahirkan rivalitas yang sehat antara Barcelona dan Real Madrid, Indonesia belum memilikinya. Satu-satunya kehebatan Indonesia ketimbang Spanyol adalah, meski kita bersuku banyak, namun timnas tetap satu, timnas Indonesia. Di timnas Indonesia, tak ada konflik yang dilandasi perbedaan etnis itu.

Tapi justru di sanalah masalahnya menjadi pelik. Di satu sisi, masyarakat paham bahwa hanya lewat jalur sepakbola keterpurukan di bidang politik dan ekonomi bisa diatasi. Nasionalisme adalah bentuk lain dari perasaan cinta kepada tanah air, tak mungkin menjadi nasionalis tanpa melibatkan perasaan. Namun di sisi lain, perasaan nasionalisme yang seharusnya bisa ditumpahkan dalam sepakbola itu tak pula berbanding lurus dengan prestasi timnas. Indonesia jarang menang, liga kacau, PSSI-nya korup dan tak berwibawa. Ada jarak antara harapan yang nasionalis dengan wajah sepak bola Indonesia. Wajar saja jika kini cara masyarakat mengkritik PSSI sama kerasnya dengan mengkritik pemerintah.

Sebagai generasi yang hidup di zaman ini, saya hanya bisa bertahan dan yakin bahwa saya orang Indonesia sejati hanya karena pertalian yang erat antara perasaan saya dengan Indonesia. Pertalian itu adalah, sebagaimana disebut novelis Ayu Utami dalam novelnya Bilangan Fu, pengetahuan yang kita peroleh dalam darah. Pengetahuan identitas kita sebagai bangsa itu hadir dalam tubuh kita sejak kita dilahirkan.

Itu berarti perasaanlah yang paling utama. Kalau tidak, dari manakah negara seribu masalah ini bisa tetap tegak tak terpecah-pecah jika bukan karena jalinan emosional yang kuat? Jalinan emosional itu pula yang saya kira menyebabkan masyarakat miskin yang terserak di segala penjuru tidak mudah mati seperti laron.

Buruk atau baiknya pemerintah, perasaan kita sebagai bangsa takkan pernah lenyap. Demikian pula, buruk atau tidaknya sepakbola, batin kita tetap terikat kuat dengan takdir sebagai bangsa. Tapi, jika pemerintah dan sepakbola tak bisa memberi kita semacam kebanggaan, kemana lagi kita harus mencarinya?

Selama ini, kita masih menumpangkan kebanggaan pada negara orang atau klub dari negara orang. Saya pencinta Barcelona, bisa dikatakan fanatik. Saya mencintai Barcelona seperti saya mencintai gitar listrik pertama saya. Pada Piala Dunia 2010, saya mendukung Spanyol, meskipun saya juga mendukung Argentina dan Brazil.

Tetapi, bukankah itu sebenarnya pelarian? Bukankah saya seharusnya mendukung PSSI hidup dan mati dengan perasaan saya? Oh, tidak! Zaman menjerumuskan saya masuk dalam situasi tak menentu, pemerintah karut-marut, sepakbola pun suram. Ya, untuk melepaskan keinginan menjadi “pemenang”, saya hanya bisa menumpang pada Barcelona dan Spanyol dan Brazil dan Argentina. Saya menyimak Lionel Messi seolah-olah dia adalah anak Papua. Saya menyimak Xavi seolah-olah dia adalah pemain didikan PSM Makassar. Nasionalisme saya muntah di tanah orang.

Dengan keadaan ini, maka wajar jika kerusuhan terjadi di Ambon gara-gara Piala Dunia 2010. Mereka mendukung Spanyol atau Belanda seolah-olah negara itu adalah negara mereka sendiri. Dan ketika negara yang mereka dukung kalah, mereka tak segan mengeluarkan amarah bagaikan negaranya sendiri sedang dicaci-maki.

Yang lebih berbahaya, kini sepakbola sudah menjadi keseharian yang penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Paling tidak, ada lebih dari 10 pertandingan sepakbola langsung yang disiarkan per pekan di televisi swasta Indonesia. Jumlah itu belum termasuk siaran yang ditayangkan di televisi kabel.

Hari-hari kita adalah hari-hari sepakbola. Bahkan, kita tak merasa rugi jika televisi menayangkan pertandingan tunda lebih dari sekali. Ya, menonton sepakbola membawa kita pada pergaulan dunia. Tanpa sadar, saat menonton sepakbola, kita seolah berada di Manchester, Turin, atau Valencia.

Tak ada tayangan yang menghadirkan kenyatakan faktual secara langsung di belahan dunia lain sebanyak sepakbola. Peristiwa politik atau bencana alam paling dahsyat sekalipun di negeri orang, takkan disiarkan secara langsung sesering sepakbola.

Menonton sepakbola, kita dapat menyaksikan tubuh, mimik, dan gesture, seluruh orang yang berada di stadion di Inggris atau Italia. Kita menonton hal yang sama, berada pada event yang sama, dan pada saat yang bersamaan. Bukankah itu faktual!

Dan Piala Dunia adalah festival bangsa-bangsa. Tak ada hajat yang melibatkan miliaran manusia di seluruh dunia selain Piala Dunia. Semua orang merasa berkepentingan dengan Piala Dunia meski negaranya sama sekali tak tercatat dalam sejarah Piala Dunia.

Tetapi dunia sudah terlanjur berjalan tak seimbang. Jika saya, Anda, atau massa yang rusuh di Ambon itu adalah salah satu dari orang yang terlibat di festival bangsa-bangsa, maka kita hanya bisa bersorak kagum dengan orang-orang yang ada di panggung utama festival. Mungkin kita sama sekali tak masuk ke dalam arena festival. Tetapi, di sudut yang kelam, kita menjadi gila ketika mendengar sayup-sayup kesebelasan negeri orang yang kita banggakan itu berteriak “gooooooollllll…..!!!”

Oktober 8 2010



Murid Tumbal Guru


Pagi, 15 Juli 2010. Seorang kawan semasa di kampus yang kini menjadi wartawan salah satu radio swasta di Jakarta mengirimkan pesan pendek. “Lihat TVone, sekarang!”

Sekitar lima belas menit kemudian, saya menyetel televisi. Program bincang-bincang di televisi itu sedang membahas polemik mengenai apakah infotainment termasuk kategori karya jurnalistik atau tidak.

Ternyata bukan tema perbincangan acara itu yang memicu kawan semasa di kampus tadi meminta saya menonton TVone. Tapi, karena salah satu pembicaranya adalah dosen kami di kampus dulu, DR Mulharnetty Syas.

Seingat saya, kawan saya pernah berdebat di kampus dengan Bu Netty-panggilan akrab Mulharnetty. Temanya soal apa, saya tak ingat lagi. Yang jelas, waktu itu dia ingin mengatakan Bu Netty bukan orang dengan pikiran yang terbuka. Jika berdebat dengan mahasiswa, ia akan memposisikan dirinya sebagai “orang tua” ketimbang sebagai dosen yang seharusnya menjadi rekan diskusi.

Sehari sebelumnya, saya membaca sebuah tautan seorang teman di akun facebook-nya. Tautan itu adalah berita di salah satu portal online tentang lulusnya Bu Netty sebagai doktor di Departemen Ilmu Komunkasi Universitas Indonesia. Dalam berita itu, disebutkan Bu Netty lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Disertasi Bu Netty dengan co-promotor Ishadi SK itu bertajuk Relasi Kekuasaan dalam Budaya Industri Televisi di Indonesia (Studi Budaya Televisi pada Program Infotainment). Dalam disertasinya, Bu Netty mengatakan “infotainment bukan jurnalistik.” Saya rasa, disertasinya inilah yang mengantarkan Bu Netty hadir di TVone pagi itu.

Seumur-umur, baru sekali ini saya menyaksikan dosen dari kampus saya hadir dalam perbincangan di televisi dalam kapasitasnya sebagai akademisi. Saya dan siapa pun yang pernah bernaung di kampus saya dulu itu patut berbangga hati. Sebagai kampus yang dikenal sebagai “sekolah jurnalistik”, Bu Netty mungkin bisa memecah ironi tak adanya dosen atau akademisi dari kampus jurnalistik yang pendapatnya dibutuhkan dalam polemik di dunia jurnalistik.

Namun, pernahkah publik yang menonton TVone tahu? Bahwa sebagian besar pekerja infotainment yang dikritik Bu Netty lewat disertasinya itu adalah mahasiswa yang dulu dididiknya di kampus. Sebuah fakta yang membuat disertasinya Bu Netty kurang membumi adalah karena sebagian besar pekerja infotainment merupakan lulusan kampus kami.

Sebagai wacana, disertasi itu penting untuk polemik mengenai infotainment. Walapun kritik tetap harus diajukan, misalnya, argumentasi Bu Netty soal infotainment itu sebenarnya sudah diketahui banyak orang, termasuk mahasiswa-mahasiswanya yang belum lulus sarjana. Kehadiran disertasi Bu Netty hanya memperkuat argumen umum karena dia disampaikan melalui sebuah penelitian ilimiah. Tapi apa yang disimpulkan secara umum oleh disertasi itu, sudah terlalu sering kami bahas di warung kopi di sela-sela jam kuliah.

Lagi-lagi, disertasi itu hanya sebatas wacana. Apakah disertasi itu mempunya implikasi praktis terhadap lingkungan terdekat di mana Bu Netty hidup sehari-hari? Saya rasa tidak ada! Bukankah ironis? Seorang dosen di sekolah jurnalistik mengkritik infotainment sementara mayoritas yang bekerja di infotainment adalah mantan muridnya dulu?

Kawan-kawan semasa di kampus yang kini bekerja di infotainment menjadi “tumbal” oleh gurunya sendiri demi sebuah gelar yang mewah: doktor perempuan ke-22 yang dihasilkan Departemen Komunikasi Universitas Indonesia.

Jika ingin diadakan penelitian tandingan, seorang mahasiswa tingkat doktor jurusan pedagogi seharusnya bisa menulis disertasi dengan mengajukan pertanyaan “mengapa kampus jurnalistik yang berusia hampir 60 tahun itu lebih banyak menelurkan pekerja infotainment ketimbang jurnalis non-infotainment?” Saya rasa, Bu Netty harus menjadi narasumber utama untuk penelitian ini.

Bagi dunia luar yang luas, disertasi itu menjadi perhatian publik. Tapi bagi rumahnya sendiri, disertasi itu sebenarnya pisau yang menikamkan diri ke tubuh Bu Netty sendiri. Dan darahnya itu menciprati wajah murid-muridnya.

Tantangan sebenarnya bagi seluruh dosen, atau siapapun yang masih peduli dengan kampus tua di selatan Jakarta itu, adalah mendidik mahasiswa agar tak jatuh pada infotainment. Sebab, kalau sudah begini, terlepas dari apapun kesalahan dan kecacatan infotainment, dia sudah menjadi ladang pencaharian. Secara langsung atau tidak langsung, kampus kami turut andil dalam membangun dan melestarikan infotainment sebagai mata pencaharian.

Jika kawan-kawan ingat, saat kita menulis skripsi, bab I berisi pertanyaan tentang tujuan dan kegunaan penelitian. Kepada Bu Netty, kita pertanyakan lagi pertanyaan itu, “sebenarnya apa tujuan Anda menulis disertasi itu?”

Juli 15 2010

catatan: artikel ini semula dimuat di facebook "ervin kumbang" dan mengundang 98 komentar. Silahkan simak di
http://www.facebook.com/ervin.kumbang?sk=notes&s=0#!/note.php?note_id=414049262559

Remaja Selamanya: The Who

Dalam sebuah wawancara, gitaris Rolling Stones Keith Richard mengenang masa-masa terbaik di era 1960-an. Lalu Richard menyebut satu nama: The Who. Bagi Richard, The Who adalah yang paling kontemporer dalam “british invation”.

Sementara mengenai hari-hari pertama Stones dan The Beatles tampil di Amerika Serikat sebagai seniman rock and roll berwibawa dari seberang lautan, Richard sedikit merendah. Menurut Richard, apa yang mereka mainkan sebenarnya adalah memainkan kembali musik yang mereka pelajari dari daratan Amerika. “Bukankah kami menjual ‘kembali’ apa yang mereka mainkan?” Demikian Richard berkata.

Richard tak salah. Seperti diakui oleh Sir Paul McCartney tentang Liverpool, The Beatles bersyukur lahir di kota pelabuhan. Sebab, di kota itu pelaut-pelaut yang sempat berlabuh ke Amerika membawakan mereka musik dari negeri abang Sam. Dari Amerika mereka memperoleh blues dan rockabilly yang mempengaruhi seluruh pemusik dalam british invation.

Richard dan McCartney bagaikan ingin mengoreksi kata “invasi” dalam british invation. Bagi mereka, tanah yang mereka serang itu justru tanah yang memberikan mereka akar kreatifitas. Richard dan McCartney seolah mau mengatakan bahwa merekalah yang lebih dulu kena racun oleh “begundal-begundal jalanan” Amerika.

Tapi asumsi itu seolah mendapatkan pertahanan dalam The Who. Saya sepakat dengan Richard yang menyebut band asal London itu sebagai yang paling kontemporer dari british invation. Jika musik The Beatles dan Rolling Stones terdengar seperti musik Amerika yang dimainkan dengan dialek inggris, the Who justru memutarbalikkannya: memainkan musik tradisional Inggris dengan keliaran cara Amerika.

Di sinilah arti penting The Who dalam the holy trinity of british rock. The Who layak mendapat tempat yang sejajar dengan The Beatles dan Rolling Stones. The Who adalah “the identity”. The Who memiliki gitaris Pete Townshend yang jenius, vokalis Roger Daltrey yang penuh perasaan, basis John Eistle si autis penjaga ritmik, dan penggebuk drum yang impresif Keith Moon.


Pionir Aksi Panggung

September 1964 adalah hari di mana The Who menyebar ke seluruh dunia. Band itu baru tujuh bulan berganti nama dari The Detours menjadi The Who. Kedatangan Keith Moon sebagai pengisi kursi drumer yang ditinggalkan Doug Sandom menjadi penanda pergantian nama itu. Moon dan September 1964 adalah awal dari segala kegilaan di atas panggung dalam puak rock and roll.

Saat konser di Railway Tavern, Harrow, London, Pete Townshend tiba-tiba membanting gitarnya hingga hancur di atas panggung. Pete frustasi karena sejumlah penonton yang tertawa cekikikan. Selanjutnya, ia mengambil gitar yang lain dan melanjutkan pertunjukan. Sepekan kemudian di panggung yang sama, penonton berjubal ingin menyaksikan The Who. Lagi-lagi, Pete merusak gitarnya. Di belakang, Moon merusak drum kit-nya sebagai tanda solidaritas terhadap Pete.

Aksi ini membuat The Who memiliki pengecualiannya sendiri di antara The Beatles dan Rolling Stones. Melalui aksi panggung itu, The Who mengungkapkan sisi destruktif manusia yang selalu ditutupi dalam bentuk yang bisa dinikmati. Penghancuran berubah derajat menjadi seni dan ideologis. Penghancuran instrumen melekat sebagai ciri The Who. Demikian menginspirasinya, aksi itu turut dilakukan Jimi Hendrix dan jagoan grunge dari Seattle, Kurt Cobain.

Mengenai aksi panggung itu, frontman U2 Bono mengatakan The Who adalah kelompok yang paling berhasil menghidupkan panggung sebagai sebuah pertunjukan yang bertenaga. Bono bahkan tak segan mengakui U2 adalah titisan The Who.

Sementara vokalis Pearl Jam Eddie Vedder menunjukkan kekagumannya kepada The Who dengan ungkapan yang satir: “satu hal yang membuat saya muak tentang The Who adalah cara mereka meruntuhkan setiap pintu sebagai jalan masuk bagi yang tidak masuk chart rock and roll tanpa meninggalkan banyak hal selain puing-puing yang tersisa untuk bisa kita nyanyikan.”

Jelas! Apa yang ditinggalkan The Who bagi generasi di belakangnya adalah pemberontakan dalam energi yang penuh. Jika The Beatles memberontak dengan kebijaksanaan dan Rolling Stones dengan kenakalan yang androginik, The Who hadir dengan kebrutalannya.

Di masa kemudian, anak kandung kebrutalan rock and roll ala The Who itu mengalir pada musik punk. The Ramones, The Clash, Sex Pistol, bahkan Green Day, adalah band yang tampil dengan keliaran dan energi yang seolah-olah berlebih. Bagaimanapun, kebrutalan adalah ciri paling signifikan dalam kehidupan remaja. The Who melakukannya saat mereka remaja.

Bagi saya, mendengarkan musik The Who atau menyaksikan live performance-nya, tidak terdengar seperti musik yang lahir pada dekade 1960-an. Mendengarkan The Who seolah-olah mereka sama mudanya dengan Green Day, atau Arctic Monkey.

Tak salah lagi, The Who tidak pernah beranjak menjadi pemuda separuh dewasa seperti The Beatles dengan Across The Universe. The Who adalah remaja selamanya! Dan oleh karena itu, saya seperti tidak rela menyaksikan fisik Pete Townshend menjadi seorang kakek. The Who, adalah juru bicara para remaja!

Melalui The Who, dunia melihat sosok remaja yang mampu menempatkan kebrutalannya dalam cara yang intelektual. Seperti sepenggal lirik tembang abadi The Who “My Generation” ini:


people try to put us d-down (talkin’ ‘bout my generation)

just because we get around (talkin’ ‘bout my generation)

things they do look awful c-c-cold (talkin’ ‘bout my generation)

i hope I die before I get old (talkin’ ‘bout my generation)

September 27 2010



Anak-anak Pada Dasarnya Baik (Oleh-oleh dari Mudik)


Sebut saja namanya Tanto Herianto (bukan nama sebenarnya). Dia seorang teman yang saya kenal sejak saya duduk di sekolah menengah pertama. Ketika melanjutkan ke sekolah menengah atas, saya dan Tanto juga masuk ke sekolah yang sama.

Saya tidak terlalu akrab dengan Tanto. Gerombolan saya berbeda dengan gerombolan Tanto. Gerombolan saya adalah remaja-remaja yang populer di sekolah sebagai atlet basket, pengurus OSIS, dan sebagian terhitung sebagai anak-anak tampan di sekolah. Gerombolan saya tidak suka narkoba, rokok, berkelahi, dan bolos sekolah.

Di tempat lain, gerombolan Tanto yang saya ingat adalah gerombolan pemabuk, suka berkelahi, dan pembolos. Jelas, saya tidak mungkin bergaul rapat dengan gerombolan Tanto. Hanya saja, karena kota kami itu terlalu kecil dan hampir setiap orang di sekolah saling mengenal, sapa-menyapa dengan hangat antara saya dan Tanto tetap terjadi.

Sosok Tanto kembali menggedor kenangan saya ketika kabar itu datang tanpa saya minta. Dalam perjalanan pulang mudik hari raya yang lalu, seorang kawan memberi tahu saya: Tanto meninggal.

Saat meninggal, tubuh Tanto dikabarkan kurus ibarat hanya menyisakan kulit pembalut tulang. Sebelumnya saya pernah melihat kakak teman saya terkena penyakit seperti itu. Seperti Tanto, kakak teman saya itu juga dijemput maut. Dari desas-desus yang beredar, kakak teman saya itu meninggal karena narkotika, sebagian menyebutnya terkena HIV/AIDS. Soal Tanto, saya tidak tahu pasti penyebabnya. Tetapi kawan-kawan mengatakan Tanto sempat menggunakan narkoba sebelum “pergi”.

Matinya Tanto mengingatkan saya pada suatu hari saat saya SMA. Kala itu, pagi beranjak siang. Dengan mata kepala saya sendiri, saya saksikan Tanto berlari dari ruangan kepala sekolah, menuju gerbang sekolah, dan melempar kaca majalah dinding dengan sebuah batu. “Praaaannnng!!!” Dan Tanto kabur. Sementara itu, ayah Tanto gapah-gopoh mengejar anaknya.

Saya tak tahu pasti penyebabnya. Tapi saya menduga, ayah Tanto waktu itu dipanggil karena kenakalan Tanto di sekolah. Tapi mengapa Tanto justru membuat aksi memecahkan kaca majalah dinding justru saat ayahnya ada di sekolah? Tidakkah ia seharusnya merasa malu karena nyaris seluruh mata di sekolah menyaksikan ayahnya setengah berlari mengejarnya? Atau, tidakkah seharusnya Tanto mempermalukan ayahnya?

Hati dan pikiran saya tergoda untuk menghubungkan kematian Tanto dengan peristiwa sekali waktu di masa SMA itu. Saya digiring pada satu masalah klasik dan nyaris dialami seluruh manusia di dunia ini: kompleksitas hubungan orang tua (ayah) dan anak.

Saya termasuk orang yang tak percaya pada kesalahan anak-anak. Anak-anak, tetaplah anak-anak. Jika anak-anak diasuh dengan cara yang tidak benar, maka kebrutalanlah yang akan mereka lakukan di masa dewasa. Dengan asumsi ini, saya mengajukan satu pertanyaan: apakah aksi Tanto di sekolah itu adalah kesalahannya?

Tanto, saat itu masih remaja dalam jiwa yang belum lagi stabil, sebagaimana juga saya. Jika Tanto nakal selama tak melakukan kriminal, saya rasa itu wajar. Justru, saya melihat apa yang dilakukan Tanto di sekolah adalah bentuk protes terhadap ayahnya. Tanto agaknya “sengaja” menunjukkan pemberontakannya pada ayahnya di tempat di mana harga diri seorang remaja sedang dipertaruhkan, yaitu di sekolah, di tengah teman-temannya, di antara guru-gurunya.

Selebihnya, kita tidak bisa menebak apa yang terjadi antara Tanto dan ayahnya, atau keluarganya. Sebagai orang yang juga memiliki ayah, saya mencoba memahami sikap Tanto melalui apa yang saya alami. Seorang ayah, meski tak semua ayah, adalah seorang pemaksa.

Pikiran ayah (baca: orang dewasa), selalu seperti terputus dengan dunia anak-anak. Anak-anak tak boleh menderita, dan penderitaan orang tua seharusnya tak boleh diterjemahkan dalam caranya mendidik anak-anak. Orang dewasa, tanpa sadar terlalu sering menilai anak-anak, menjustifikasi anak-anak. Orang dewasa, selalu ingin menjadikan anak-anaknya sebagai “dirinya yang kedua”. Padahal, setiap manusia memiliki dunianya masing-masing.

Inilah paradoks dalam hubungan antara orang dewasa dalam adab ketimuran kita. Di barat, kita sering mendengar remaja berusia 17 tahun sudah diberikan kebebasan menentukan hidupnya sendiri. Namun di sisi lain, anak-anak barat menjadi jauh lebih keras, tajam, brutal, bar-bar, dan memiliki kreatifitas yang tak terduga.

Orang timur, dengan mudah menuduh “hubungan seks bebas” yang dilakukan anak-anak barat sebagai bentuk filsafat hidup mereka yang menjunjung kebebasan ekstrim. Hubungan antara anak-anak dan orang tua dinilai terlalu dingin. Salah satu penyebab lainnya adalah lumrahnya perceraian di keluarga barat.

Dengan tuduhan kita terhadap masyarakat barat seperti itu, apakah kita akan mengatakan bahwa hubungan anak-anak dalam ketimuran kita lebih bersifat hangat? Apakah sebenarnya kehangatan itu? Apakah Tanto mendapat perlakuan yang hangat dari ayahnya?

Setiap kata-kata yang disampaikan orang dewasa, setiap sentuhan atau siksaan, akan mempengaruhi jiwa anak-anak. Itu akan mempengaruhi bagaimana sang anak menjalani hidupnya sebagai manusia dewasa, bahkan hingga “bagaimana” cara sang anak itu mati.

Pentolan rockabilly dekade 50-an di Amerika Serikat, Johny Cash, adalah salah satu anak yang jarang menyapa sang ayah. Johny, yang mencintai musik sejak kanak, selalu dianggap tak berarti oleh ayahnya. Ayahnya hanya menganggap Jack Cash, abang Johny. Abang Johny adalah tipikal anak-anak yang cerdas, rajin membaca, dan selalu mendapat nilai tinggi di sekolah.

Suatu kali, Jack mati saat bekerja di pemotongan kayu. Johny yang saat itu berada di pemotongan kayu, mengajak abangnya untuk bersantai dengan memancing di sungai. Sang abang menolak karena harus bekerja. Karena begitu sayang dengan Johny, Jack mengizinkan Johny memancing.

Nasib buruk, Johny dipersalahkan ayahnya karena tidak menemani Jack di pemotongan kayu. Jack tewas, dan Johny dipersalahkan ayahnya seumur hidup (kisah ini dapat disaksikan dalam film Walk of The Line. Johny Cash diperankan Joaquin Phoenix yang berpasangan dengan Resse Whiterspoon sebagai June Carter).

Apa yang terjadi dengan Johny selanjutnya? Hidup Johny kacau. Ia bercerai dengan istri dan seorang anaknya. Meski tenar, ia tenggelam dalam narkotika sampai June (Carter) bersedia mengasuhnya hingga sembuh.

Johny lebih baik karena masih bisa hidup, sementara Tanto harus mati. Johny masih lebih baik karena ia menjadi individu yang tercatat dalam sejarah musik dunia, sementara nama Tanto hanya disapa oleh angin yang kebetulan melintas di pusaranya. Johny lebih baik karena ia sempat merasakan hidup bergelimang uang, sementara Tanto tetap “miskin” hingga mati.

Kawan-kawan, mengapa hidup harus bertindak seperti itu? Apa sebenarnya salah anak-anak? Apakah keluguan anak-anak membuat anak-anak tidak bisa mengajukan protes terhadap orang dewasa?

Baiklah! Mungkin tidak semua anak-anak di bumi ini yang mengalami hubungan yang tak mengenakkan sebagaimana Johny Cash dan (mungkin) Tanto. Tapi saya ingin menyebut satu nama: Afrizal Malna.

Dalam sebuah diskusi tentang kebudayaan bulan lalu di Galeri Nasional, penyair Afrizal Malna memberikan satu sikap atas kejamnya dunia orang dewasa terhadap anak-anak. Afrizal, menurut pengakuannya, adalah orang yang tidak pernah mengalami kekerasan fisik dan menemukan hal-hal seperti itu di dalam rumahnya.

Ia heran mengapa teman-temannya semasa kanak harus menghadapi pukulan orang tua untuk membayar satu atau dua kesalahan. Karena perbedaan itu, Afrizal membenci dunia orang dewasa. Dalam masa kanaknya, ia membentuk dunianya sendiri, ia menciptakan bahasanya sendiri, peradabannya sendiri, yang tak tersentuh oleh dunia orang dewasa.

Haruskah setiap anak-anak membuat dunianya sendiri seperti Afrizal? Apakah semua anak-anak memiliki kecerdasan seperti Afrizal? Saya tidak tahu! Dan saya berdoa untuk keselamatan setiap anak-anak yang saya tidak tahu apa yang mereka alami di balik pintu rumah mereka!

Mudah-mudahan, keadaan ini tidak membuat siapapun di dunia ini takut untuk menjadi orang tua.

September 25 2010

Wednesday, June 23, 2010

Yang Hidup dalam Mati, Kurt Cobain


Suatu hari, sekitar 9 April 1994, di pulau Kalimantan. Seorang kawan berangkat ke sekolahnya, sebuah Sekolah Menengah Atas. Seperti pagi yang biasa, ia berangkat bersama udara pagi yang berembun. Tak ada yang istimewa.

Sesaat setelah memasuki gerbang sekolah, ia mulai merasakan ada yang ganjil. Tiang bendera yang selalu tegak kokoh di tengah lapangan seakan menjadi layu. Tak ada suara-suara riuh-rendah remaja tanggung yang biasa membahana di kelas-kelas SMA. Saat dilihatnya kawan-kawannya, semua tampak lesu.

“Ada apa sih? Kok semua lesu?” Dia bertanya pada seorang kawannya.

“Kurt Cobain meninggal.”

Kawan saya langsung terkejut mendengar jawaban itu. Tanpa sadar, ia pun terbawa pada situasi muram yang baru ia sadari apa sebabnya.

Saya mendengar pengakuan kawan saya itu setelah dia berusia lewat 30 tahun, di Jakarta, tahun lalu. Menurut dia, kematian Kurt Cobain menyebabkan remaja seusianya kehilangan idola. “Generasi waktu itu seperti kehilangan orang yang diidolakan. Kami generasi yang kacau, dan Kurt Cobain menyuarakan itu,” kata dia.

***

Lake Washington, tak jauh dari Seattle, Washington, Amerika Serikat, 8 April 1994. Kabar itu datang dari Gary Smith, seorang tukang listrik dari Veca Electric. Gary menemukan jenazah di atap garasi rumah yang dikunjunginya. Dari Gary, dunia mengetahui seseorang yang berpengaruh terhadap generasinya telah mati. Gary menemukan Kurt Cobain, vokalis plus gitaris Nirvana-band yang digilai nyaris seluruh anak muda di dunia saat itu.

Dalam pengakuannya, Gary tak melihat tanda trauma atau depresi pada paras Cobain. Gary seperti melihat Cobain sedang tertidur dengan darah yang mengucur dari telinga. Berdasarkan hasil otopsi, diketahui Cobain meninggal 5 April 1994 dengan meledakkan peluru pistol di kepalanya.

Kita tahu, jarak antara Seattle dan Kalimantan itu ribuan mil. Kita tahu, bahasa dan adat orang Seattle berbeda dengan orang Kalimantan. Kita tahu, Seattle dan Kalimantan itu adalah hal yang jauh berbeda. Pertanyaannya? Mengapa kepergian Cobain bisa membuat muram anak-anak di SMA kawan saya di sebuah kota kecil Kalimantan? Mengapa Cobain yang jauh itu bisa begitu dekat dalam batin anak-anak di Kalimantan itu?

Lupakan dulu soal gaya berpakaian Kurt yang bersahaja, lupakan dulu soal liarnya dia di panggung, lupakan soal kharisma Kurt, lupakan segala soal yang berada di luar musiknya bersama Nirvana. Sebagaimana Chairil Anwar yang harus dinilai dari sajaknya ketimbang kehidupan pribadinya yang eksentrik, kita juga harus mencermati sekedar “musik” Kurt Cobain.

Masalahnya pula, menyelami musik Kurt Cobain dan mencoba menelisiknya lewat literatur umum yang mudah diperoleh di internet, tidak bisa tidak mengajak kita kembali pada masa lalunya. Saya mencoba memadatkan masa lalu Cobain. Mari simak:

Kurt Donald Cobain lahir dari keluarga kelas pekerja pada 20 Februari 1967 di Grays Harbor Hospital, Aberdeen, Washington. Ibunya, Wendy Elizabeth Fradenburg, adalah seorang pelayan keturunan Kuba, Spanyol, Irlandia, Jerman, dan Inggris. Sedangkan ayahnya, Donald Leland Cobain, adalah seorang mekanik otomotif keturunan Skotlandia, Irlandia, dan Prancis. Nenek moyang Kurt hijrah ke daratan Amerika dari County Tyrone, Irlandia Utara, pada 1875

Sejatinya, Kurt adalah bocah yang periang, bergairah, dan peduli. Bakat sebagai musisi besarnya tampak sejak usia delapan tahun. Ia juga senang menggambar tokoh-tokoh film seperti Aquaman, dan karakter ciptaan Walt Disney seperti Donald Bebek, Mickey Tikus, dan Pluto.

Guncangan pertama pada jiwanya terjadi pada usianya Sembilan tahun, saat ayah dan ibunya bercerai. Kurt berubah drastis: menjadi pembangkang dan suka menyendiri. Dalam sebuah wawancara pada 1993, Kurt menuturkan perasaannya saat itu:

“I remember feeling ashamed, for some reason. I was ashamed of my parents. I couldn't face some of my friends at school anymore, because I desperately wanted to have the classic, you know, typical family. Mother, father. I wanted that security, so I resented my parents for quite a few years because of that.”

Dari pengakuannya ini, tampaklah bahwa Kurt adalah orang yang emosional dan penuh perasaan. Kasus perceraian bukanlah hal baru di dunia ini, terlebih di negara seperti Amerika. Ada banyak anak-anak korban perceraian di dunia ini. Tetapi, Kurt tetaplah seorang bocah biasa yang membutuhkan orang tua. Ia membawa pengalamannya itu jauh ke dalam dasar jantungnya.

Dalam kesunyian masa kanaknya, Kurt bergaul dengan keluarga kristen yang alim, keluarga teman mainnya, Jesse Reed. Hidup di keluarga demikian, ia menjadi anak yang saleh. Agama, memainkan peranan penting dalam hidup Kurt, pun pada karyanya. Lagu “Lithium” dari album Nevermind disebut-sebut berkisah tentang keluarga Jesse yang religius.

Bahkan, nama “Nirvana” dicomot Kurt dari konsep Buddhisme. Kurt menggambarkan konsep nirvana sebagai “kemerdekaan dari rasa sakit, penderitaan, dan dunia luar.” Penggambaran ini sejalan dengan etika punk rock dan menjadi semacam ideologi.

Kajian pertama Kurt sebagai pemusik bisa dimulai dari sini. Dengan melihat sosok Kurt melalui apa dia tampil pada kita (televisi, internet, video, literatur), kita bisa mengetahui bahwa Kurt adalah sosok yang filosofis. Memang, setiap pemusik selalu punya semacam “asumsi kebijaksanaan” saat memberi nama band-nya, namun cara Kurt memilih nama Nirvana berikut menjelaskan konsep Nirvana menurut pikirannya itulah yang menunjukkannya sebagai seseorang yang khas.

Selain memilih secara filosofis, Kurt pandai memilih nama yang gampang didengar dan disebutkan. Nirvana hidup dalam agama Buddha. Nirvana adalah kata dalam bahasa sanskrit. Sanskrit adalah bahasa resmi di India. Dan menyebut Nir-Va-Na tidaklah sulit bagi orang Asia seperti Indonesia. Dengan demikian, dari cara memilih nama, Kurt cermat membuat nama band-nya akrab di telinga penduduk dunia.

Kembali ke kisah hidup Kurt. Setelah sempat hidup bersama ayah dan ibu tirinya, Kurt tinggal bersama ibunya mulai semester kedua pada tahun keduanya di SMA. Dua pekan setelah ujian kelulusan, Kurt dinyatakan tak lulus karena nilainya tak cukup. Kepada Kurt, ibunya memberi dua pilihan: cari pekerjaan atau pergi dari rumah.

Sepekan setelah itu, Kurt menemukan pakaian dan beberapa barang pribadinya terbungkus dalam sebuah kotak. Sejak itu, Kurt hidup menumpang dari rumah ke rumah temannya. Sesekali ia menyelinap ke lantai dasar rumah ibunya.

Dalam masa tuna wisma-nya, Kurt mengaku tinggal di bawah jembatan Sungai Wishkah. Basis Nirvana, Krist Novoselic, mengisahkan, “dia berada di sana, tapi anda tidak bisa hidup di pinggir sungai yang becek, dengan air yang kadang pasang kadang surut. Itu adalah revisionismenya (Kurt).” Pengalaman hidup di bawah jembatan kelak dibukukan Kurt dalam sebuah single di album Nevermind, “Something in the Way”.

Penghujung 1986, Kurt pindah ke sebuah apartemen setelah memperoleh penghasilan sebagai pekerja di Polynesian, sebuah resort pinggir pantai yang berjarak 20 mil dari Aberdeen. Selama masa ini, Kurt kerap mengunjungi Olympia, Washington, untuk menyaksikan konser rock. Selama kunjungannya ke Olympia, Kurt mengencani Tracy Marander, yang disebut-sebut sebagai “girl” dalam single dari album Bleach bertajuk “About A Girl.”

Lepas dari Marander, Kurt bertemu Tobi Vail, seorang pengurus punk zine dan gitaris sebuah band bernama Bikini Kill. Usai bertemu Vail, Kurt tergila-gila pada gadis itu. Vail kelak menjadi inspirasi dalam lirik “love, you so much it makes me sick,” dari lagu Aneurysm.

Bisa dibilang, Vail adalah salah satu perempuan terpenting dalam hidup Kurt Cobain. Bersama Vail, Cobain merasakan kenyamanan “keibuan”. Vail adalah intelektual yang dihormati sebagai pejuang jender dalam komunitas punk. Kurt dan Vail menghabiskan waktunya untuk mendiskusikan isu politik dan filsafat. Vail disebut-sebut sebagai inspirasi sebagian besar lirik pada album Nevermind.

Suatu kali, Vail sedang mendiskusikan tema seputar anarkisme dan punk rock bersama temannya Kathleen Hanna. Vail menyemprotkan cat semprot di tembok apartemennya. Semprotan itu membentuk kalimat yang berbunyi “Kurt Smells Like Teen Spirit”. Hanna berkelakar, tulisan itu berarti Kurt menyukai bau ketiak Vail. Sebab, Teen Spirit merupakan merek deodorant Vail.

Kurt peduli dengan tulisan itu dan menafsirkannya sebagai slogan yang memiliki makna revolusioner. Dari tulisan tembok yang disemprot Toby Vail itulah kini Nirvana sampai pada kita sebagai Smells Like Teen Spirit.

***

Saya sengaja tidak memperpanjang kisah hidup Kurt. Mengulang biografi Kurt hari ini adalah pekerjaan sia-sia jika tak mempunyai data yang baru. Sebab, ada banyak orang yang sudah mendalami Kurt. Sebagaimana saya singgung di bagian pembuka tulisan ini, membicarakan masa lalu Kurt hanyalah untuk melihat Kurt sebagai pemusik.

Saya menemukan satu kata “intens.” Banyak orang, mungkin banyak pemusik, lebih senang mengatakan “intenslah dalam bermusik jika ingin sukses di musik.” Bagi saya, Kurt bukanlah orang yang seperti itu, Kurt memang intens, tapi intensitasnya terlebih dulu bukan pada musik, tapi pada kehidupan.

Dari sejarah masa lalunya yang jejak-jejaknya dapat kita temukan pada karya-karyanya, tampak Kurt begitu dekat dengan peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Perceraian orang tuanya, pengalamannya di bawah jembatan sungai Wishkah, hingga bertemu dengan setiap perempuan dalam hidupnya, membekas pada dirinya secara mendalam.

Menurut saya, Kurt tidak lari dari kehidupannya saat mendekati musik. Kehidupannya yang ia jalani sejak masa kanak hingga kematiannya itulah yang ia ceritakan dalam musiknya. Dan Kurt berhasil! Itulah sebabnya, dengan menyimak satu persatu lagu Nirvana, kita seperti diajak menyusuri lika-liku kehidupan Kurt. Kurt menyajikan siapa dirinya di dalam musik. Dan memang demikianlah seharusnya pemusik!

Kurt begitu dekat dengan lirik dan musik yang dikarangnya. Seperti Friedrich Nietzsche, ia “tidak melarikan diri” dari segala kenyataan hidupnya. Kurt malah berjabat tangan dengan kehidupan, menantangnya, menyelaminya, dan berhasil menampilkan kehidupan itu dalam bakat terbesarnya. Kurt, adalah eksistensialis yang menjadi juru bicara bagi generasinya.

Kurt menggerakkan zaman. Kurt menjadi simbol keresahan anak muda, terutama anak muda Amerika yang mengalami masa lalu seperti Kurt. Karena kejujuran dan kedekatannya dengan karyanya, ia pun dengan sendirinya dekat dengan “kapitalisme” yang mendekatkannya pada anak-anak muda di seluruh dunia.

Tentu saja, tak ada orang yang ingin meniru kisah hidup Kurt. Makanya, sejak awal saya menegaskan untuk membicarakan musik semata. Apa yang perlu diambil dari Kurt adalah cara dia memperlakukan hidup yang kemudian menjadi semacam “imannya” dalam bermusik.

Bagi siapapun yang percaya musik adalah bahasa universal yang menghubungkan manusia antar benua, iman “mendekati kehidupan” yang diterapkan Kurt dalam musiknya, boleh menjadi ilham. Siapapun yang mencintai musik, baik pemusik atau pun bukan, harus mengembalikan musik pada kehidupan. Karena musik itu adalah “sejenis” kehidupan yang tidak mungkin kita tolak.

Jika Kurt masih hidup, mungkin dia tak mau dianggap serumit ulasan ini. Tapi, tugas manusia yang hidup, adalah membaca jejak kebijaksanaan dari segala yang sudah lalu. Pun kebijaksanaan itu diliputi tragedi dan bunuh diri. Kurt, menurut saya, pantas dimasukkan dalam masa lalu yang menjadi tugas manusia yang hidup untuk membaca kebijaksanaannya.

Kurt bunuh diri, dan mati, karena ia terlalu akrab dengan kehidupannya.

Jakarta 22 Mei 2010

Jika Angklung Di Tangan Anak-Anak


Kalau dunia tak adil, itu sudah pasti. Tapi kalau tentang keadilan dunia, itu cuma proses dan usaha: untuk itulah manusia hidup.

Ada yang tak terjangkau dalam keadilan. Dan itu menyusup dalam suara angklung yang dimainkan oleh sekelompok anak-anak sekolah dasar di museum negara ini. Anak-anak itu menunjukkan “kelasnya” dalam wacana keadilan melalui musik.

Saya masuk ke museum ketika pagi di ibukota menjadi pagi yang damai. Dalam perjalanan sekitar lebih dari setengah jam menuju museum, ibu kota negara sepi. Jalanan lengang. Maklumlah, hari Minggu, sebagian besar orang libur. Semua orang yang bertindih-tindih saban hari di setiap penjuru sedang melupakan jalanan, macet, asap knalpot, dan ambisi.

Saya tak usah sebut acara apa yang membuat saya datang ke museum. Sebab, pada akhirnya, acara itu tidak terlalu penting selain soal keadilan yang menyeruak lewat musik angklung yang dimainkan anak-anak sekolah dasar itu. Yang pasti, niat utama saya bukan untuk menziarahi benda-benda kuno.

Paling tidak, di panggung sederhana itu, saya menyaksikan sekitar 30 anak berusia 7-9 tahun. Mereka datang sebagai murid dari sekolah dasar berlabel internasional. Internasional dan berlabel nama salah satu negara besar di Eropa Barat. Jelas, tak semua anak di kota yang sesak ini bisa bersekolah di tempat tersebut. Yang saya ingat, anak pasangan mantan presenter berita di salah satu televisi nasional dan seorang pengamat politik kondang, ada di panggung itu.

Lalu, tibalah saat yang menggetarkan saya: anak-anak menggetarkan angklung. Dengan angklung, mereka memainkan sebuah lagu populer dari Austria yang berjudul “Edelweiss”. Soalnya, mengapa lagu yang dipilih itu berjudul Edelweiss? Apakah anak-anak di sekolah tak terurus di sudut kota ini juga mengenal lagu berjudul Edelweiss? Atau, jangan-jangan, mereka sama sekali belum pernah mendengar kata Edelweiss? Apa lagi mengetahui sebenarnya Edelweiss adalah bunga yang tumbuh indah di atas gunung?

Musik tetaplah musik. Di dalamnya, kita bisa merasakan harmoni, nuansa, emosi, dan imajinasi. Betapa beradabnya manusia saat menikmati musik. Musik menyajikan kedamaian. Tapi, saat itu saya tidak bisa menyimak musik sebatas musik. Musik, saat dimainkan oleh orang dalam situasi dan keadaan tertentu, bisa menyiratkan politik, dan juga ketidakadilan. Demikian pula ketika lagu Edelweiss itu dimainkan oleh anak-anak dari sekolah mewah itu.

Edelweiss adalah lagu yang lembut dan indah. Ketika anak-anak tersebut menggetarkan setiap angklung sebagai penanda nada secara bergantian, musiknya tampak sebagai sebuah keteraturan. Itulah kemenangan anak-anak dari sekolah internasional itu. Mereka bisa memainkan sebuah keteraturan dalam musik, mereka mengenal harmoni, mereka merasakannya, dan mereka melakukannya. Saat melihat anak-anak itu memainkan nada demi nada, yang ada dalam batin saya adalah “betapa beradabnya anak-anak ini.”

Mereka beradab karena sejak kanak-kanak sudah melakukan sesuatu secara bersama dalam disiplin keindahan. Dalam musik, setiap orang yang memegang instrumen mendapat gillirannya masing-masing sesuai dengan skenario urutan nada sebuah lagu. Dalam musik, seberapa banyak giliran setiap orang memainkan instrumennya bukan berdasarkan siapa yang lebih lihai. Dalam musik, yang dikejar adalah harmoni, keindahan. Bayangkan, anak-anak itu menggetarkan angklung pada giliran masing-masing demi harmoni, demi keindahan. Mereka, sadar atau tidak sadar, sedang menjadi makhluk berbudaya. Mereka bekerja sama menggunakan perasaan, pikiran, mengikuti aturan, demi tujuan mencapai keindahan.

Lalu apakah anak-anak di sekolah tak terurus di kampung kumuh tak berhak menjadi beradab dan berbudaya? Apakah mereka tak berhak memainkan Edelweiss dan menjadi pelaku kebudayaan dalam harmoni musik?

Anak-anak, sebagaimana musik, tetaplah anak-anak. Dunia anak-anak, sebagaimana novelis Ayu Utami menulis dalam salah satu novelnya, dunia yang terpisah dari orang dewasa. Saat manusia menyadari menjadi dewasa, ia lupa kapan imajinasi kanak-kanaknya itu terputus. Anak-anak sekolah internasional itu sama dengan anak-anak di sekolah tak terurus, sama-sama anak-anak.

Dengan alasan apa pun, orang dewasa tak berhak mendendam pada anak-anak dari sekolah mewah itu. Mungkin, dengan alasan ketidakadilan, hanya anak-anak dari sekolah kumuhlah yang berhak iri pada anak-anak di museum itu. Hanya anak-anak yang berhak iri terhadap anak-anak lainnya.

Tapi, bagi saya, beradabnya anak-anak sekolah internasional itu, bukan karena keinginan mereka sendiri. Adalah dunia orang dewasa yang membentuknya. Orang dewasalah yang merumuskan bahwa musik dapat membuat seorang anak belajar berbudaya. Orang dewasalah yang memasukkan anaknya dalam kegiatan bermusik dengan niat agar anaknya berbudaya.

Demikian pula, beradab atau tidaknya anak-anak di sekolah kumuh bukan kemauan mereka. Dunia orang dewasalah yang memaksakannya. Mereka, semiskin-miskinnya, berhak mengetahui dan menyaksikan karya besar bernama Monalisa yang dilukis Leonardo Da Vinci. Mereka, semelarat-melaratnya, berhak mendengarkan Fur Elise gubahan Ludwig Von Beethoven. Sekalipun sehari-hari mereka menikmati pop melayu murah yang melayang-layang di televisi. Sekalipun mereka sehari-hari diajarkan menepuk rebana dalam kasidah atau marawis sekedar penerus kebiasaan. Mereka berhak!

Lalu saya perhatikan wajah anak-anak yang main angklung itu, betapa lembut, betapa ranum, betapa murni. Lalu saya kenangkan wajah saya sendiri semasa kanak, wajah anak-anak di sekolah tak terurus di pojok gang di utara Jakarta. Saya bayangkan wajah anak-anak yang memainkan musik dengan kecrekan dari tutup botol di perempatan jalan. Saya bayangkan semuanya.

Semakin jauh saya membayangkannya, saya lupa kalau saya sedang berada di museum negara. Saya lupa kalau museum adalah tempat untuk membuat setiap anak di bangsa ini bangga terhadap negeri dengan menziarahi masa lalu. Saya lupa kalau harga tiket masuk museum untuk anak-anak tidak terlalu mahal, cuma dua ribu perak. Saya lupa caranya menikmati musik. Saya lupa apa sebenarnya tujuan awal saya ke sini.

Seorang kawan perempuan yang saya bayangkan menjadi istri saya, berdiri di sebelah saya. Tujuan kami sama, tapi saya tak akan menyebutkannya. Sebab saya terlanjur terpukau oleh Edelweiss yang keluar dari getar angklung, saya terpesona karena yang memainkannya adalah anak-anak sekolah dasar. Dalam permenungan saya yang semakin ketat, kawan perempuan yang saya bayangkan menjadi istri saya itu menepuk pundak saya. Saya tersentak. Lalu dia bilang pada saya, “berhentilah menjadi orang yang sinis. Mereka cuma anak-anak.”

Saya diam. Dalam hati, saya bilang, “ya, aku cinta padamu.”

Jakarta, 3 Mei 2009