Messi
Spanyol kembali masuk ke musim panas. Dan musim panas 2011 boleh jadi menjadi lebih panas dan melelahkan. Selama 18 hari pada bulan April Guardiola harus menghadapi pertarungan dengan tensi yang mungkin tak pernah diduganya.
Saya menyaksikan el clasico di Bernabeu untuk liga dengan perasaan tak tenang. Selain strategi bermain kasar yang diterapkan Madrid, Barcelona juga tampil tidak terlalu baik. Jelas, Mourinho tak mau melakukan kesalahan lagi.
Saya bersorak saat Raul Albiol menghentikan David Villa dengan kasar di kotak pinalti. Wasit menunjuk titik putih. Dan Messi, mengelabui Casillas dengan menempatkan bola yang tak kencang di tengah gawang. Inilah kali pertama Messi menjebol gawang Mourinho. Madrid 0, Barcelona 1.
Keadaan itu tak bertahan hingga akhir. Alves dinilai melakukan pelanggaran terhadap wing-back Madrid Marcelo. Dari tayangan lambat, saya merasa Marcelo melakukan diving. Tapi tak ada alasan untuk mengutuk. Sebab tak akan merubah keadaan. Ronaldo secara meyakinkan berhasil menyelesaikan pinalti dengan menempatkan bola di sudut kanan gawang Valdes. Valdes sendiri bergerak ke kiri. Seperti Messi, pinalti ini merupakan gol pertama Ronaldo ke gawang Barcelona. Skor akhir 1-1.
Beberapa hari kemudian, Mestalla membuat Madrid berpesta. Setelah saling berbagi dominasi di dua babak, babak perpanjangan waktu menjadi milik Madrid. Ronaldo melakukan sundulan ke gawang Jose Manuel Pinto di babak tambahan yang pertama. Sebuah hasil dari serangan balik yang cepat. Pinto terperanjat.
Madrid menjaga kemenangan itu dengan bertahan total. Al hasil, Piala Raja menjadi milik Madrid. Dari segi gol el clasico musim ini, sementara Ronaldo unggul satu gol dari Messi. Messi tampak murung usai pertandingan. Ronaldo 2, Messi 1.
Jelas, kini rasa sakit berbalik ke Barcelona. Andaikan pertandingan itu adalah pertemuan terakhir, niscaya musim ini masih terasa sakit meski juara liga ada di tangan Barcelona. Untung saja pertarungan belum berakhir. Masih ada dua kali lagi pertemuan di Liga Champions.
Saya melihat Barcelona datang ke Bernabeu untuk semifinal pertama dengan rasa khawatir. Tapi saya punya sedikit keyakinan. Sebab, menurut saya Guardiola adalah orang yang cepat belajar dari kesalahan. Sebagaimana tercermin dalam pernyataannya menjelang final di Wembley akhir pekan lalu, “kita harus punya sedikit rasa takut dengan kadar tepat agar bisa tidak terlalu takut.”
Pertarungan itu tak jauh dari dua el clasico sebelumnya, yaitu taktik bermain keras dan serangan balik Madrid. Barcelona sendiri tak banyak berubah karena memang pola dasar permainannya sama. Hanya, saya melihat Barcelona lebih percaya diri.
Pertarungan itu terasa monoton karena begitu-begitu saja. Barcelona menyerang, Madrid bertahan dengan cara keras lalu melakukan serangan balik. Terang saja, pertandingan berlangsung panas dan seolah penuh intrik. Bagi saya, inilah pertandingan puncak di era Guardiola dan Messi, serta Mourinho. Pertandingan final di Wembley hanyalah penyempurna.
Entah kenapa, saya merasa ada banyak kebetulan di dunia ini. Seperti nama Messi, yang juga disebut Messiah, atau berarti Sang Penyelamat. Apakah orang tuanya dulu sudah meramalkan anaknya bisa menjadi seorang penyelamat sehingga memberikan nama bocah kurang hormon itu dengan Messi? Kenyataannya, Messi benar-benar sebagai Messiah tidak saja untuk Barcelona, tetapi juga sepak bola.
Kita harus memulai pembicaraan ini dengan apa yang dituduhkan Mourinho dalam apa yang disebut media “Opera Bernabeu.” Yakni, wasit berpihak kepada Barcelona dengan memberikan kartu merah kepada Pepe karena dianggap melanggar Alves dengan keras.
Pelanggaran di pinggir lapangan itu ibarat adegan “Adam memakan buah khuldi di surga”. Alves menggiring bola, Pepe berusaha menghentikannya dengan menghunjamkan kakinya ke arah kaki kanan Alves. Sebelum disiarkan tayangan ulang, pelanggaran Pepe memang terlihat keras. Alves sampai memekik dan dibopong tandu ke pinggir lapangan.
Tetapi mengapa Alves terlalu cepat pulih setelah ditandu dan kembali berlari dengan gesit di lapangan?
Mourinho menganggap Alves diving. Ia memprotes kartu merah Pepe. Akibat protesnya yang dianggap berlebihan, Mourinho diusir dari bench dan hanya menonton di tribun penonton. Ibarat pesakitan, Mourinho duduk ditemani petugas keamanan di Santiago Bernabeu. Di rumahnya sendiri, Mourinho harus diamankan.
Affellay masuk di menit 75 menggantikan Pedro. Sekali mendapat bola, ia mengejutkan Marcelo dengan mengajak berduel lari. Dari sayap kanan, Affellay mengirim bola dengan cepat ke arah kanan lapangan. Di sampingnya Marcelo mengejar.
Marcelo kaget karena Affellay berbeda. Marcelo terbiasa menghadapi pemain Barcelona yang lebih senang menggocek dan mengumpan ketimbang berlari. Dari sana, saya melihat Affellay sebagai pemain masa depan Barcelona. Ia memberikan perbedaan yang bisa menyempurnakan gaya bermain Barcelona.
Sebagai the dutch man, Affellay lebih Eropa sebab pemain Barcelona selain dia dalam pertandingan itu adalah maestro-maestro aliran latin. Affellay ingin menunjukkan sisi lain yang tak terlalu menonjol dalam diri kebanyakan pemain Barcelona lainnya: duel bola pacu.
Dan yang terjadi, Affellay berhasil memenangkan adu lari itu. Ia meninggalkan Marcelo dan mengumpan ke Messi. Messi berlari seperti diam-diam di belakang dua bek Madrid. Ia datang sebagai Messiah dengan cara tiba-tiba dan menyontek bola kiriman Affellay. Casillas hanya bisa terkejut melihat bola melintasi dirinya dan menyentuh jala gawang. Madrid 0, Barcelona 1.
Andaikan saja setelah pelanggaran Alves terhadap Pepe pertandingan ibarat masuk pada periode Adam dan Hawa tinggal di bumi. Ketika Messi mencetak gol keduanya, itulah adegan Adam dan Hawa menemukan cinta dan membuat dunia ini adalah tempat paling indah untuk ditinggali.
Gol kedua itu dimulai tak jauh dari garis tengah lapangan. Messi memberikan bola kepada Sergio Busquets. Busquets menghentikan bola sekaligus menghentikan tubuhnya dengan posisi menyamping. Ia berhenti beberapa saat dan Messi berlari pelan. Saat Messi melintasinya dengan arah ke gawang Madrid, Busquets mengembalikan bola ke Messi. Selanjutnya, Messi melewati Arbeloa, Carvalho, Marcelo, dan Ramos. Dengan cepat ia menendang bola yang tak terlalu deras ke pojok kiri gawang Casillas.
Dua kali Casillas terkejut di Bernabeu. Madrid 0, Barcelona 2. Antara Ronaldo dan Messi, kini situasi berbalik, Messi 3, Ronaldo 2.
Pertandingan leg pertama memang selesai dengan kemenangan Barcelona. Tetapi di media massa, Barcelona harus membayar tuduhan Mourinho hanya dengan mengalahkan United di Wembley.
Lagi-lagi media terbelah. Di satu sisi, ada fakta yang tak bisa dibantah: Messi menunjukkan daya magisnya sebagai Messiah di Bernabeu. Di sisi lain, tayangan ulang jelas memperlihatkan kaki Pepe sama sekali tak mengenai Alves. Alves benar-benar memainkan drama dengan menggunakan teknis sepakbola. Anak Brazil itu bergerak dan berteriak seolah-olah niat melanggar yang dimiliki Pepe benar-benar terjadi.
Mourinho menuduh UEFA melakukan konspirasi untuk memenangkan Barcelona. Ia mengulang pertandingan yang membawa Barcelona menjadi juara Champions. Ia menyebut wasit yang mengalahkannya bersama Chelsea saat Barcelona di era Rijkaard. Ia juga menyebut wasit yang melakoni pertandingan Chelsea-Hiddink saat Barcelona era Guardiola. Ia menyebut wasit yang memimpin pertarungan Inter bersama dirinya melawan Barcelona di Nou Camp, musim lalu. Kini, ia menyebut wasit yang memberikan kartu merah pada Pepe.
Sebagai Barcelonistas, tuduhan itu jelas merusak rasa senang saya sebagai fans Barca. Apalah rasanya memenangkan sesuatu tetapi di tempat lain yang dikalahkan mencaci-maki. Kemenangan malam itu belum memberi rasa aman. Kemenangan yang digugat dengan bahasa luar lapangan.
Di media massa, bius Messi akibat golnya ke gawang Madrid bisa ditandingi dengan tuduhan Mourinho. Tuduhan itu terasa mengganggu karena pertandingan belum selesai. Masih ada satu laga lagi di Nou Camp pekan selanjutnya.
Memang, kemenangan 0-2 itu sudah menjelaskan Barcelona lebih mungkin ke final. Tetapi, pertarungan yang belum selesai membuat kondisi mental fans seperti saya cukup terganggu. Jika fans saja terganggu, bisa dibayangkan bagaimana Guardiola dan skuad Barcelona harus menyiapkan mentalnya.
Di Nou Camp, Messi masuk lapangan dan berbaris sebelum pertandingan dengan bertolak pinggang. Terhadap Madrid, Messi tampil jumawa. Dia memang jagoan. Di kesehariannya ia tampak rendah hati. Tetapi terhadap musuh dalam pertandingan penting, ia menunjukkan diri.
Pertandingan tak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Barcelona menyerang, Madrid bertahan dan menyerang balik. Kali ini Madrid tak melakukan taktik keras. Jelas mental mereka terguncang. Tetapi Barcelona tak kalah guncang. Pertandingan berakhir 1-1. Pedro 1 gol, Marcelo 1 gol. Barcelona merebut tiket ke Wembley diiringi cemoohan Mourinho.
Bagi saya, Mourinho berhak kesal atas aksi drama yang dimainkan Alves. Pelatih Tottenham Hotspurs Harry Redknapp bahkan mengutuk pertandingan di Bernabeu itu sebagai “sampah” dan tak akan terjadi di Inggris.Tetapi ia tak bisa serta-merta menuduh kartu merah yang diberikan untuk Pepe adalah konspirasi UEFA dan Unicef untuk memenangkan Barcelona.
Untuk menilai aksi Alves itu, saya memilih melihat kompetisi kedua tim secara keseluruhan. Kekalahan 5-0 dari Barcelona jelas membuat Mourinho dendam. Taktik bertahan yang dimainkannya saat menukangi Inter Milan diterapkannya di Madrid untuk tidak mengulang kekalahan memalukan di Nou Camp. Hanya saja, Madrid lebih keras ketimbang Inter. Itu tampak pada pertandingan keras di el clasico liga di Bernabeu dan final Piala Raja di Mestalla. Di Bernabeu, pelanggaran Casillas atas David Villa tak dianggap wasit. Permainan keras itu dilanjutkan di Mestalla dan Madrid menang 0-1.
Akankah Barcelona terus-menerus menghadapi permainan keras itu dengan permainan yang sehari-hari diperagakannya? Itu bisa saja terjadi. Tetapi pertandingan akan panas karena kekerasan masuk ke lapangan. Dan situasi panas itulah yang diinginkan Mourinho. Dengan membuat pemain-pemain Barcelona panas, konsentrasi Xavi cs terganggu. Jika serangan Barcelona terganggu, berarti kesempatan untuk serangan balik.
Resiko lain menghadapi permainan keras dengan “polos” adalah cedera. Dengan dasar itu, saya menganggap diving yang dilakukan Alves adalah bagian dari strategi. Ketika kekerasan sebagai kecurangan dipilih, maka diving sebagai kecurangan menjadi lawannya.
Mourinho boleh melakukan kelicikan dengan menggunakan kekerasan serta perang urat syaraf. Tetapi Alves menggunakan kecerdasan untuk mengelabui wasit dan mengusir Pepe ke luar lapangan. Ketiadaan Pepe berarti keleluasaan Messi. Pepe keluar, Messi mencetak gol.
Mourinho lupa, bahwa ia pernah mengatakan setiap pelatih tidak boleh hanya memahami soal pertandingan, tetapi juga hal di luar lapangan. Dengan alasan itu, publik memaklumi Mourinho saat ia mengeluarkan pernyataan yang bisa merusak mental lawan. Mourinho menggunakan sesuatu di luar lapangan untuk mempengaruhi pertandingan.
Barcelona justru mengkonfirmasi apa yang dikatakan Mourinho. Diving yang dilakukan Alves lebih baik ketimbang perang urat syaraf atau tekel kasar. Alves melakukan itu sebagai cara untuk menghindari tekel Pepe. Tapi Alves lebih cerdik, ia menghindari tekel dan memanfaatkannya untuk mengelabui wasit.
Bagi saya, Mourinho tak ubahnya “malaikat” yang yang melarang Adam memakan buah khuldi. Alves melanggar dengan memakan apel itu untuk menipu wasit. Dalam kutukan itu, Messi justru menyelesaikan kebandelan Alves dengan menyarangkan dua gol ke gawang Madrid.
Guus Hiddink berpendapat lebih jernih. Menurutnya, kartu merah itu pantas karena wasit menilai Pepe dari motivasinya menggerakkan kaki. “Seandainya kaki Alves ada di rumput, pasti sudah patah,” kata Hiddink. Jika Anda ingin membuktikan pendapat Hiddink, coba putar lagi rekaman pelanggaran itu, dan lihat ekspresi Pepe saat menjatuhkan kaki. Bagi saya, matanya memang berniat melakukan tekel kasar.
Sebelum pendapat Hiddink keluar, saya lebih banyak melihat cemoohan terhadap Barcelona. Media massa menyebut el clasico di Bernabeu adalah drama yang dimainkan kedua klub. Karena Barcelona pemenang, maka Barcelona pula yang harus menerima tuduhan paling berat. Harus diakui, terlalu banyak hal di luar sepak bola yang masuk ke dalam lapangan malam itu.
“Terima kasih Tuhan untuk Messi.” Begitu bunyi kalimat pembuka di beberapa harian berbahasa Inggris memberitakan pertarungan di Bernabeu itu. Messi, seperti banyak orang menggambarkannya sebagai anak autis, memang tampil bak anak autis di Bernabeu.
Dua golnya, terutama golnya yang kedua, menunjukkan bahwa dia orang yang hanya peduli pada pertandingan. Messi tak peduli Mourinho, Messi tak peduli Pepe, Messi tak peduli pada apapun di luar lapangan, Messi hanya peduli pada sepak bola.
Gol keduanya ke gawang Madrid menggambarkan itu. Ia berlari, membuat gol, dan merayakannya. Harian Kompas menyebut “dua gol Messi menyelamatkan derajat el clasico”.
Guardiola-Messi dan Wembley
Satu hal yang ingin saya ketahui setelah kemenangan Barcelona di Wembley, di mana Mourinho berada saat pertandingan berlangsung?
Apakah dia menonton dari rumahnya bersama istri dan anaknya? Atau ia menonton dengan beberapa pemain Madrid lalu mendiskusikannya? Atau ia berlibur ke suatu tempat yang sunyi tanpa gangguan televisi dengan mematikan alat komunikasi apapun?
Saya jelas tidak tahu. Tapi ketiga kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tetapi, apakah dia masih bertahan dengan segala tuduhannya terhadap Barcelona? Termasuk tuduhan bahwa Busquets bertindak rasis karena diduga mengejek Marcelo dengan kata mono (monyet)?
Andaikan dia melihat koran dan membaca berita tentang kemenangan Barcelona di Wembley, saya ragu dia masih bertahan dengan pendapatnya. Sir Alex Fergusonlah yang membungkam mulutnya. Mourinho pasti sulit membantah lawan, sahabat, sekaligus pelatih yang paling dikaguminya itu.
“Barca benar-benar menyihir kita dengan operan-operan mereka dan kami tidak mampu mengendalikan seorang Messi,” kata Ferguson.
Ferguson menganggap Barcelona adalah lawan terberat yang dihadapinya selama 26 tahun melatih United. Itu berarti Ferguson juga menganggap Barcelona yang dihadapinya di Wembley lebih hebat ketimbang Chelsea era Mourinho.
Pengakuan Ferguson, kemenangan mutlak Barcelona, dan kegemilangan Lionel Messi dua pekan lalu, seharusnya membuat Mourinho mau mengakui perubahan angin. Setiap generasi berganti, setiap bintang lahir dan tenggelam. Masa ini adalah milik Guardiola dan Messi. Keduanya sedang berada di Barcelona. Dan keduanya sedang menjadi yang terbaik.
Bukankah Mourinho juga pernah merasa menjadi yang terbaik sampai-sampai ia menyebut dirinya “The Special One?” Kelak, Guardiola atau Messi juga akan berhadapan dengan bintang-bintang baru yang akan lahir. Sebagai Barcelonistas, saya berharap Guardiola dan Messi tak meniru Mourinho yang tak siap menerima kedatangan jagoan baru yang lebih muda!
selesai...