Friday, October 14, 2011

Catatan Seorang Fans (3)

Messi

Spanyol kembali masuk ke musim panas. Dan musim panas 2011 boleh jadi menjadi lebih panas dan melelahkan. Selama 18 hari pada bulan April Guardiola harus menghadapi pertarungan dengan tensi yang mungkin tak pernah diduganya.

Saya menyaksikan el clasico di Bernabeu untuk liga dengan perasaan tak tenang. Selain strategi bermain kasar yang diterapkan Madrid, Barcelona juga tampil tidak terlalu baik. Jelas, Mourinho tak mau melakukan kesalahan lagi.

Saya bersorak saat Raul Albiol menghentikan David Villa dengan kasar di kotak pinalti. Wasit menunjuk titik putih. Dan Messi, mengelabui Casillas dengan menempatkan bola yang tak kencang di tengah gawang. Inilah kali pertama Messi menjebol gawang Mourinho. Madrid 0, Barcelona 1.

Keadaan itu tak bertahan hingga akhir. Alves dinilai melakukan pelanggaran terhadap wing-back Madrid Marcelo. Dari tayangan lambat, saya merasa Marcelo melakukan diving. Tapi tak ada alasan untuk mengutuk. Sebab tak akan merubah keadaan. Ronaldo secara meyakinkan berhasil menyelesaikan pinalti dengan menempatkan bola di sudut kanan gawang Valdes. Valdes sendiri bergerak ke kiri. Seperti Messi, pinalti ini merupakan gol pertama Ronaldo ke gawang Barcelona. Skor akhir 1-1.

Beberapa hari kemudian, Mestalla membuat Madrid berpesta. Setelah saling berbagi dominasi di dua babak, babak perpanjangan waktu menjadi milik Madrid. Ronaldo melakukan sundulan ke gawang Jose Manuel Pinto di babak tambahan yang pertama. Sebuah hasil dari serangan balik yang cepat. Pinto terperanjat.

Madrid menjaga kemenangan itu dengan bertahan total. Al hasil, Piala Raja menjadi milik Madrid. Dari segi gol el clasico musim ini, sementara Ronaldo unggul satu gol dari Messi. Messi tampak murung usai pertandingan. Ronaldo 2, Messi 1.

Jelas, kini rasa sakit berbalik ke Barcelona. Andaikan pertandingan itu adalah pertemuan terakhir, niscaya musim ini masih terasa sakit meski juara liga ada di tangan Barcelona. Untung saja pertarungan belum berakhir. Masih ada dua kali lagi pertemuan di Liga Champions.

Saya melihat Barcelona datang ke Bernabeu untuk semifinal pertama dengan rasa khawatir. Tapi saya punya sedikit keyakinan. Sebab, menurut saya Guardiola adalah orang yang cepat belajar dari kesalahan. Sebagaimana tercermin dalam pernyataannya menjelang final di Wembley akhir pekan lalu, “kita harus punya sedikit rasa takut dengan kadar tepat agar bisa tidak terlalu takut.”

Pertarungan itu tak jauh dari dua el clasico sebelumnya, yaitu taktik bermain keras dan serangan balik Madrid. Barcelona sendiri tak banyak berubah karena memang pola dasar permainannya sama. Hanya, saya melihat Barcelona lebih percaya diri.

Pertarungan itu terasa monoton karena begitu-begitu saja. Barcelona menyerang, Madrid bertahan dengan cara keras lalu melakukan serangan balik. Terang saja, pertandingan berlangsung panas dan seolah penuh intrik. Bagi saya, inilah pertandingan puncak di era Guardiola dan Messi, serta Mourinho. Pertandingan final di Wembley hanyalah penyempurna.

Entah kenapa, saya merasa ada banyak kebetulan di dunia ini. Seperti nama Messi, yang juga disebut Messiah, atau berarti Sang Penyelamat. Apakah orang tuanya dulu sudah meramalkan anaknya bisa menjadi seorang penyelamat sehingga memberikan nama bocah kurang hormon itu dengan Messi? Kenyataannya, Messi benar-benar sebagai Messiah tidak saja untuk Barcelona, tetapi juga sepak bola.

Kita harus memulai pembicaraan ini dengan apa yang dituduhkan Mourinho dalam apa yang disebut media “Opera Bernabeu.” Yakni, wasit berpihak kepada Barcelona dengan memberikan kartu merah kepada Pepe karena dianggap melanggar Alves dengan keras.

Pelanggaran di pinggir lapangan itu ibarat adegan “Adam memakan buah khuldi di surga”. Alves menggiring bola, Pepe berusaha menghentikannya dengan menghunjamkan kakinya ke arah kaki kanan Alves. Sebelum disiarkan tayangan ulang, pelanggaran Pepe memang terlihat keras. Alves sampai memekik dan dibopong tandu ke pinggir lapangan.

Tetapi mengapa Alves terlalu cepat pulih setelah ditandu dan kembali berlari dengan gesit di lapangan?

Mourinho menganggap Alves diving. Ia memprotes kartu merah Pepe. Akibat protesnya yang dianggap berlebihan, Mourinho diusir dari bench dan hanya menonton di tribun penonton. Ibarat pesakitan, Mourinho duduk ditemani petugas keamanan di Santiago Bernabeu. Di rumahnya sendiri, Mourinho harus diamankan.

Affellay masuk di menit 75 menggantikan Pedro. Sekali mendapat bola, ia mengejutkan Marcelo dengan mengajak berduel lari. Dari sayap kanan, Affellay mengirim bola dengan cepat ke arah kanan lapangan. Di sampingnya Marcelo mengejar.

Marcelo kaget karena Affellay berbeda. Marcelo terbiasa menghadapi pemain Barcelona yang lebih senang menggocek dan mengumpan ketimbang berlari. Dari sana, saya melihat Affellay sebagai pemain masa depan Barcelona. Ia memberikan perbedaan yang bisa menyempurnakan gaya bermain Barcelona.

Sebagai the dutch man, Affellay lebih Eropa sebab pemain Barcelona selain dia dalam pertandingan itu adalah maestro-maestro aliran latin. Affellay ingin menunjukkan sisi lain yang tak terlalu menonjol dalam diri kebanyakan pemain Barcelona lainnya: duel bola pacu.

Dan yang terjadi, Affellay berhasil memenangkan adu lari itu. Ia meninggalkan Marcelo dan mengumpan ke Messi. Messi berlari seperti diam-diam di belakang dua bek Madrid. Ia datang sebagai Messiah dengan cara tiba-tiba dan menyontek bola kiriman Affellay. Casillas hanya bisa terkejut melihat bola melintasi dirinya dan menyentuh jala gawang. Madrid 0, Barcelona 1.

Andaikan saja setelah pelanggaran Alves terhadap Pepe pertandingan ibarat masuk pada periode Adam dan Hawa tinggal di bumi. Ketika Messi mencetak gol keduanya, itulah adegan Adam dan Hawa menemukan cinta dan membuat dunia ini adalah tempat paling indah untuk ditinggali.

Gol kedua itu dimulai tak jauh dari garis tengah lapangan. Messi memberikan bola kepada Sergio Busquets. Busquets menghentikan bola sekaligus menghentikan tubuhnya dengan posisi menyamping. Ia berhenti beberapa saat dan Messi berlari pelan. Saat Messi melintasinya dengan arah ke gawang Madrid, Busquets mengembalikan bola ke Messi. Selanjutnya, Messi melewati Arbeloa, Carvalho, Marcelo, dan Ramos. Dengan cepat ia menendang bola yang tak terlalu deras ke pojok kiri gawang Casillas.

Dua kali Casillas terkejut di Bernabeu. Madrid 0, Barcelona 2. Antara Ronaldo dan Messi, kini situasi berbalik, Messi 3, Ronaldo 2.

Pertandingan leg pertama memang selesai dengan kemenangan Barcelona. Tetapi di media massa, Barcelona harus membayar tuduhan Mourinho hanya dengan mengalahkan United di Wembley.

Lagi-lagi media terbelah. Di satu sisi, ada fakta yang tak bisa dibantah: Messi menunjukkan daya magisnya sebagai Messiah di Bernabeu. Di sisi lain, tayangan ulang jelas memperlihatkan kaki Pepe sama sekali tak mengenai Alves. Alves benar-benar memainkan drama dengan menggunakan teknis sepakbola. Anak Brazil itu bergerak dan berteriak seolah-olah niat melanggar yang dimiliki Pepe benar-benar terjadi.

Mourinho menuduh UEFA melakukan konspirasi untuk memenangkan Barcelona. Ia mengulang pertandingan yang membawa Barcelona menjadi juara Champions. Ia menyebut wasit yang mengalahkannya bersama Chelsea saat Barcelona di era Rijkaard. Ia juga menyebut wasit yang melakoni pertandingan Chelsea-Hiddink saat Barcelona era Guardiola. Ia menyebut wasit yang memimpin pertarungan Inter bersama dirinya melawan Barcelona di Nou Camp, musim lalu. Kini, ia menyebut wasit yang memberikan kartu merah pada Pepe.

Sebagai Barcelonistas, tuduhan itu jelas merusak rasa senang saya sebagai fans Barca. Apalah rasanya memenangkan sesuatu tetapi di tempat lain yang dikalahkan mencaci-maki. Kemenangan malam itu belum memberi rasa aman. Kemenangan yang digugat dengan bahasa luar lapangan.

Di media massa, bius Messi akibat golnya ke gawang Madrid bisa ditandingi dengan tuduhan Mourinho. Tuduhan itu terasa mengganggu karena pertandingan belum selesai. Masih ada satu laga lagi di Nou Camp pekan selanjutnya.

Memang, kemenangan 0-2 itu sudah menjelaskan Barcelona lebih mungkin ke final. Tetapi, pertarungan yang belum selesai membuat kondisi mental fans seperti saya cukup terganggu. Jika fans saja terganggu, bisa dibayangkan bagaimana Guardiola dan skuad Barcelona harus menyiapkan mentalnya.

Di Nou Camp, Messi masuk lapangan dan berbaris sebelum pertandingan dengan bertolak pinggang. Terhadap Madrid, Messi tampil jumawa. Dia memang jagoan. Di kesehariannya ia tampak rendah hati. Tetapi terhadap musuh dalam pertandingan penting, ia menunjukkan diri.

Pertandingan tak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Barcelona menyerang, Madrid bertahan dan menyerang balik. Kali ini Madrid tak melakukan taktik keras. Jelas mental mereka terguncang. Tetapi Barcelona tak kalah guncang. Pertandingan berakhir 1-1. Pedro 1 gol, Marcelo 1 gol. Barcelona merebut tiket ke Wembley diiringi cemoohan Mourinho.

Bagi saya, Mourinho berhak kesal atas aksi drama yang dimainkan Alves. Pelatih Tottenham Hotspurs Harry Redknapp bahkan mengutuk pertandingan di Bernabeu itu sebagai “sampah” dan tak akan terjadi di Inggris.Tetapi ia tak bisa serta-merta menuduh kartu merah yang diberikan untuk Pepe adalah konspirasi UEFA dan Unicef untuk memenangkan Barcelona.

Untuk menilai aksi Alves itu, saya memilih melihat kompetisi kedua tim secara keseluruhan. Kekalahan 5-0 dari Barcelona jelas membuat Mourinho dendam. Taktik bertahan yang dimainkannya saat menukangi Inter Milan diterapkannya di Madrid untuk tidak mengulang kekalahan memalukan di Nou Camp. Hanya saja, Madrid lebih keras ketimbang Inter. Itu tampak pada pertandingan keras di el clasico liga di Bernabeu dan final Piala Raja di Mestalla. Di Bernabeu, pelanggaran Casillas atas David Villa tak dianggap wasit. Permainan keras itu dilanjutkan di Mestalla dan Madrid menang 0-1.

Akankah Barcelona terus-menerus menghadapi permainan keras itu dengan permainan yang sehari-hari diperagakannya? Itu bisa saja terjadi. Tetapi pertandingan akan panas karena kekerasan masuk ke lapangan. Dan situasi panas itulah yang diinginkan Mourinho. Dengan membuat pemain-pemain Barcelona panas, konsentrasi Xavi cs terganggu. Jika serangan Barcelona terganggu, berarti kesempatan untuk serangan balik.

Resiko lain menghadapi permainan keras dengan “polos” adalah cedera. Dengan dasar itu, saya menganggap diving yang dilakukan Alves adalah bagian dari strategi. Ketika kekerasan sebagai kecurangan dipilih, maka diving sebagai kecurangan menjadi lawannya.

Mourinho boleh melakukan kelicikan dengan menggunakan kekerasan serta perang urat syaraf. Tetapi Alves menggunakan kecerdasan untuk mengelabui wasit dan mengusir Pepe ke luar lapangan. Ketiadaan Pepe berarti keleluasaan Messi. Pepe keluar, Messi mencetak gol.

Mourinho lupa, bahwa ia pernah mengatakan setiap pelatih tidak boleh hanya memahami soal pertandingan, tetapi juga hal di luar lapangan. Dengan alasan itu, publik memaklumi Mourinho saat ia mengeluarkan pernyataan yang bisa merusak mental lawan. Mourinho menggunakan sesuatu di luar lapangan untuk mempengaruhi pertandingan.

Barcelona justru mengkonfirmasi apa yang dikatakan Mourinho. Diving yang dilakukan Alves lebih baik ketimbang perang urat syaraf atau tekel kasar. Alves melakukan itu sebagai cara untuk menghindari tekel Pepe. Tapi Alves lebih cerdik, ia menghindari tekel dan memanfaatkannya untuk mengelabui wasit.

Bagi saya, Mourinho tak ubahnya “malaikat” yang yang melarang Adam memakan buah khuldi. Alves melanggar dengan memakan apel itu untuk menipu wasit. Dalam kutukan itu, Messi justru menyelesaikan kebandelan Alves dengan menyarangkan dua gol ke gawang Madrid.

Guus Hiddink berpendapat lebih jernih. Menurutnya, kartu merah itu pantas karena wasit menilai Pepe dari motivasinya menggerakkan kaki. “Seandainya kaki Alves ada di rumput, pasti sudah patah,” kata Hiddink. Jika Anda ingin membuktikan pendapat Hiddink, coba putar lagi rekaman pelanggaran itu, dan lihat ekspresi Pepe saat menjatuhkan kaki. Bagi saya, matanya memang berniat melakukan tekel kasar.

Sebelum pendapat Hiddink keluar, saya lebih banyak melihat cemoohan terhadap Barcelona. Media massa menyebut el clasico di Bernabeu adalah drama yang dimainkan kedua klub. Karena Barcelona pemenang, maka Barcelona pula yang harus menerima tuduhan paling berat. Harus diakui, terlalu banyak hal di luar sepak bola yang masuk ke dalam lapangan malam itu.

“Terima kasih Tuhan untuk Messi.” Begitu bunyi kalimat pembuka di beberapa harian berbahasa Inggris memberitakan pertarungan di Bernabeu itu. Messi, seperti banyak orang menggambarkannya sebagai anak autis, memang tampil bak anak autis di Bernabeu.

Dua golnya, terutama golnya yang kedua, menunjukkan bahwa dia orang yang hanya peduli pada pertandingan. Messi tak peduli Mourinho, Messi tak peduli Pepe, Messi tak peduli pada apapun di luar lapangan, Messi hanya peduli pada sepak bola.

Gol keduanya ke gawang Madrid menggambarkan itu. Ia berlari, membuat gol, dan merayakannya. Harian Kompas menyebut “dua gol Messi menyelamatkan derajat el clasico”.


Guardiola-Messi dan Wembley

Satu hal yang ingin saya ketahui setelah kemenangan Barcelona di Wembley, di mana Mourinho berada saat pertandingan berlangsung?

Apakah dia menonton dari rumahnya bersama istri dan anaknya? Atau ia menonton dengan beberapa pemain Madrid lalu mendiskusikannya? Atau ia berlibur ke suatu tempat yang sunyi tanpa gangguan televisi dengan mematikan alat komunikasi apapun?

Saya jelas tidak tahu. Tapi ketiga kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tetapi, apakah dia masih bertahan dengan segala tuduhannya terhadap Barcelona? Termasuk tuduhan bahwa Busquets bertindak rasis karena diduga mengejek Marcelo dengan kata mono (monyet)?

Andaikan dia melihat koran dan membaca berita tentang kemenangan Barcelona di Wembley, saya ragu dia masih bertahan dengan pendapatnya. Sir Alex Fergusonlah yang membungkam mulutnya. Mourinho pasti sulit membantah lawan, sahabat, sekaligus pelatih yang paling dikaguminya itu.

“Barca benar-benar menyihir kita dengan operan-operan mereka dan kami tidak mampu mengendalikan seorang Messi,” kata Ferguson.

Ferguson menganggap Barcelona adalah lawan terberat yang dihadapinya selama 26 tahun melatih United. Itu berarti Ferguson juga menganggap Barcelona yang dihadapinya di Wembley lebih hebat ketimbang Chelsea era Mourinho.

Pengakuan Ferguson, kemenangan mutlak Barcelona, dan kegemilangan Lionel Messi dua pekan lalu, seharusnya membuat Mourinho mau mengakui perubahan angin. Setiap generasi berganti, setiap bintang lahir dan tenggelam. Masa ini adalah milik Guardiola dan Messi. Keduanya sedang berada di Barcelona. Dan keduanya sedang menjadi yang terbaik.

Bukankah Mourinho juga pernah merasa menjadi yang terbaik sampai-sampai ia menyebut dirinya “The Special One?” Kelak, Guardiola atau Messi juga akan berhadapan dengan bintang-bintang baru yang akan lahir. Sebagai Barcelonistas, saya berharap Guardiola dan Messi tak meniru Mourinho yang tak siap menerima kedatangan jagoan baru yang lebih muda!

selesai...

Catatan Seorang Fans (2)

El Clasico

Mourinho kembali menjadi diri yang diinginkannya. Gelar Liga Champions, scudetto, dan Coppa Italia, yang diberikannya untuk Inter Milan sudah cukup untuk membuat dirinya menjadi orang yang paling diperhatikan.

Sebagai seorang penantang sejati, tantangan harus dicari dan ditaklukkan. Sebagaimana dulu ia meninggalkan Chelsea, Mourinho kembali meninggalkan Inter Milan. Musim 2010-2011, ia lebih memilih Real Madrid ketimbang terus menambah gelar bersama Inter. Baginya, tantangan lebih menarik ketimbang mempertahankan kebersamaan yang emosional.

Mourinho dan Madrid ibarat sepasang kekasih yang bertemu karena keduanya saling menginginkan. Florentino Perez membutuhkan figur yang mampu menumbangkan dominasi Barcelona selama dua musim. Sementara Mourinho membutuhkan klub yang bisa memuaskan hasrat petualangannya untuk menaklukkan Barcelona di Spanyol.

Mourinho semakin pas di los Merengues karena ia bertemu dengan pemain yang juga berambisi untuk kembali mencari diri, yakni Cristiano Ronaldo. Bersama Ronaldo yang kerap dikait-kaitkan dengan Messi, Mourinho mengambil posisi sebagai orang yang menantang Guardiola.

Sebagai Barcelonistas, kedatangan Mourinho ke La Liga bisa berarti dua hal. Pertama, Mourinho adalah kekhawatiran karena bisa memperpendek usia kejayaan Guardiola. Kedua, inilah kesempatan Guardiola untuk membungkam mulut masam Mourinho.

Hasil seri tanpa gol melawan Real Mallorca di debut liga membuat Mourinho gugup. Ia melempar botol minuman ke atap bench saat Iker Casillas nyaris melakukan blunder. Mourinho menginjakkan kaki di Spanyol untuk pertama kali sebagai pelatih dengan perasaan yang gugup. Kegugupan itu kian bertambah setelah sebelumnya Barcelona menang 3-0 versus Racing Santander di jornada pertama.

Namun Madrid segera mengambil alih klasemen setelah Barcelona secara mengejutkan dikalahkan pendatang baru Hercules 0-2 di Nou Camp. Sejak itu, Madrid kokoh di atas Barcelona dengan selisih dua poin. Skuad Mourinho semakin menggila. Seperti tak mau kalah dengan Barcelona, Madrid menang terus-menerus dengan skor seperti besar.

Seorang teman fans Madrid pernah berkata pada saya, “Di Spanyol, Barcelona dan Madrid seperti memiliki liga di dunianya sendiri. Dan pesertanya cuma Barcelona dan Madrid.”

Memang itulah kenyataan yang terjadi. Hampir satu dekade terakhir di La Liga, klub di luar Barcelona dan Madrid hanyalah penggembira. Barcelona dan Madrid boleh saja terpaut satu atau dua poin di klasemen, tetapi jarak antara peringkat kedua dan ketiga bisa mencapai 10 poin.

Kenyataan itu membuat pertemuan antara Barcelona dan Madrid di liga menjadi penting. Siapa yang memenangi el clasico, kemungkinan besar menjuarai La Liga.

Di musim pertamanya sebagai pengendali taktik Madrid, Mourinho datang ke Nou Camp pada sore yang cerah. El clasico pertama Mourinho itu diundur sehari. Awalnya, pertandingan digelar Minggu sore 28 November 2010. Namun, di saat yang bersamaan, pemilihan kepala daerah berlangsung di Catalonia. Khawatir pemilihan akan sepi karena masyarakat lebih antusias menyaksikan el clasico, pertandingan diundur menjadi Senin sore.

Pertandingan itu kelak menjadi salah satu pertandingan yang akan dikenang dalam sejarah kedua klub. Terutama di benak Guardiola dan Mourinho. Itulah peristiwa di mana keduanya bertemu lagi sejak semifinal Liga Champions beberapa bulan lalu.

Tak perlu menceritakan jalannya pertandingan. Dunia mengetahui, Barcelona menang segala-galanya atas Madrid. Skor 5 – 0 untuk Barcelona. Publik Nou Camp bersorak atas dua gol David Villa, satu dari Pedro, satu dari legenda hidup Xavi Hernandez, dan terakhir dari pemain muda keluaran akademi La Masia, Jeffren Suarez.

Messi sendiri tak mencetak gol saat itu. Itu melanjutkan mitos bahwa Messi tak mampu mencetak gol di gawang tim yang ditukangi Mourinho. Meski demikian, tanpa Messi, dua gol Villa takkan menjadi. Messi tetap berdiri di tempatnya sebagai pemain terbaik.

Laga itu terlalu panas. Di menit-menit penghujung, Sergio Ramos dikenakan kartu merah usai mengganjal keras Messi. Tak terima dengan perlakuan Ramos, kapten tim Carlos Puyol berlari menghampiri Ramos. Sebelum langkah Puyol berhenti, Ramos mendorong wajah Puyol. Adegan itu menjadi salah satu foto utama yang menghiasi media massa keesokan harinya.

Los Cules juga sempat meradang setelah Cristiano Ronaldo mendorong Guardiola di pinggir lapangan. Ronaldo berjalan ke garis lapangan yang berbatasan dengan bench Barcelona. Di pinggir, Guardiola berdiri sambil memegang bola. Ronaldo memerlukan bola itu karena wasit memberikan lemparan ke dalam untuk Madrid. Saat Ronaldo mendekat, Guardiola membuang bola ke dalam lapangan. Ronaldo emosi dan mendorong dada Guardiola.

Menyaksikan kejadian itu, Andres Iniesta berlari menghampiri Ronaldo. Wasit sibuk karena harus menengahi. Saya berusaha melihat kejadian itu secara obyektif. Guardiola seharusnya tak perlu membuang bola ke lapangan. Di sisi lain, Ronaldo juga tak seharusnya mendorong Guardiola.

Mourinho sendiri tak banyak bicara. Usai gol pertama dari Xavi, ia seperti biasa mengeluarkan kertas sembari mencoret-coret. Biasanya, coretan itu membawa perubahan di lapangan. Mourinho memang jago mengubah kekalahan menjadi kemenangan.

Namun, kali itu coret-coretan tak banyak membantu. Di babak pertama saja Madrid sudah ketinggalan dua gol. Mourinho hanya duduk diam di bench ditemani asistennya Aitor Karanka. “Satu tim bermain bagus, satu tim lagi bermain jelek. Tidak sulit melupakan kekalahan ini,” kata Mourinho usai pertandingan.

Tak ada pemain Madrid yang menemani Mourinho di ruang konferensi pers. Media Spanyol yang berbasis di Catalonia mengolok-olok pemain Madrid sebagai “pengecut-pengecut putih.”

Xavi, sebagai salah satu ikon Barcelona, meminta media tidak memanas-manasi Madrid. Himbauan yang masuk akal karena di musim panas yang lalu Xavi bersama Ramos bahu-membahu merebut Piala Dunia untuk pertama kali bagi Spanyol di Afrika Selatan. Dua tahun sebelumnya, keduanya juga berada di satu tim saat merebut Piala Eropa 2008 di Jerman.

Pernyataan Xavi menunjukkan bahwa el clasico tak bisa dipandang sebagai pertandingan dua klub bersejarah belaka. Ketegangan di antara kedua tim bisa membawa kerusakan dalam tubuh tim nasional Spanyol. Maklum saja, memori konflik sejarah antara Catalonia (Barcelona) dan Spanyol (Madrid) era diktator Franco selalu saja mewarnai perseteruan dua tim. Jika tak cepat-cepat diredakan, kesuksesan di tim nasional akan berubah menjadi keributan di ruang ganti.

Bagi Barcelonistas, kemenangan 5-0 atas Madrid sudah lebih dari pembalasan dendam terhadap Mourinho. Masih di tahun yang sama, saya mengingat Mourinho berlari di rumput Nou Camp sambil mengacungkan jari telunjuknya ke tribun. Di musim dingin, saya melihat Mourinho tak sedikit pun beranjak dari bench.

Itulah kekalahan terburuk dan terbesar dalam sejarah kepelatihan Mourinho. Media di Eropa menyebut kekalahan itu sebagai penghinaan Barcelona terhadap Madrid. Saya lebih senang mengatakan Guardiola mempermalukan Mourinho. Guardiola menyambut tantangan Mourinho dengan cara yang melebihi harapan fans. Guardiola ternyata juga seorang petarung. Barcelona semakin mencintai Guardiola.

Saat itu, bagi seorang Mourinho, kekalahan itu mungkin yang paling menyakitkan. Ia tentu saja ingat, Guardiola adalah anak bawang yang mencuri perhatian karena menaklukkan United di final Liga Champions 2009. Ia juga tentu saja ingat, anak bawang itulah yang ia lukai dengan menikamkan belati secara diam-diam lalu merebut piala Liga Champions beberapa bulan lalu. Kini, anak bawang itu membalas dengan membuat Mourinho berjalan dengan cara merangkak.

Sejak itu, Barcelona menutup perjalanan tak terkalahkan Madrid di La Liga. Barcelona juga mengambil alih klasemen dan tak memberi kesempatan kepada Madrid untuk menyalip hingga akhir musim.

Namun pertarungan belum berakhir. Takdir memang menginginkan Guardiola dan Mourinho menghabiskan musim ini dengan pertarungan panjang. Dengan sisa satu el clasico di liga, Barcelona dan Mourinho harus bertemu empat kali dalam 18 hari. Yaitu di pertandingan liga di Bernabeu, final Piala Raja di Mestalla-Valencia, dan dua kali di semifinal Liga Champions.

bersambung....

Catatan Seorang Fans (1)

Tulisan ini adalah komentar saya sebagai fans Barcelona terhadap musim 2010-2011 yang melelahkan. Saya yakin ini subjektif. Tapi saya berusaha membubuhkan argumen yang saya anggap masuk akal. Agar tak bosan, saya memuat tulisan ini menjadi tiga bagian. Selamat menikmati!

Usai Barcelona mengalahkan Real Madrid di semifinal leg pertama Liga Champions 2011, saya mendapat pesan pendek dari seorang kawan fans Manchester United yang tinggal di kepulauan Kei, Maluku.

“Gue berharap Barca ketemu MU di final. Biar MU bisa balas kekalahan di Roma,” kata kawan karib saya sewaktu di kampus dulu itu.

Saya menjawab, “kalah di final nggak apa-apa. Asal jangan kalah dari Real Madrid.”

Akhirnya, fakta di Roma pada 2009 terulang lagi. Bahkan lebih gemilang. United takluk di stadion kebanggaan Inggris, Wembley. Gawang Edwin Van der Sar bergetar tiga kali melalui kaki Pedro Rodriguez, Lionel Messi, dan David Villa. Sedangkan United membalas sekali melalui umpan Ryan Giggs yang diselesaikan Wayne Rooney.

Memang, kemenangan itu terasa sangat indah karena di stadion itu pula Barcelona di bawah asuhan Johan Crujff menjadi kampiun Eropa untuk kali pertama pada 1992. Joseph Pep Guardiola, yang berada di lapangan Wembley pada 1992, mengulangnya dengan menggantikan tempat Crujff sebagai pelatih pada 2011.

Gelar itu terasa istimewa juga karena United punya ambisi setelah berhasil melewati raksasa Liverpool dalam hal gelar Liga Inggris. United meraih gelar ke 19, Liverpool tertinggal di angka 18. Jelas, target selanjutnya adalah menjadi juara Eropa untuk yang ke empat di stadion utama Wembley. Barcelona menghapus mimpi sang raja baru di istananya sendiri.

Tapi, bagi saya, seorang anak Indonesia yang terlalu mencintai Barcelona, saya masih mengukur keberhasilan di Wembley itu lewat duel dengan Real Madrid sepanjang musim.

Jose Mourinho boleh jadi menjadi pelatih yang paling tertekan di musim terakhir. Dibeli dari Inter Milan dengan status juara Liga Champions 2010, ia harus memenuhi target Florentino Perez untuk menyeret Real Madrid dari periode tanpa gelar dalam beberapa tahun terakhir.

Perez bukan presiden klub yang pelit. Ia mendatangkan pemain-pemain terbaik dari seluruh penjuru dunia untuk membuat Madrid sebagai klub yang paling gemerlap. Dan Mourinho adalah orang terpilih untuk membawa galaksi Madrid menjelajah semesta sepak bola sebagai bintang yang paling terang.

Tapi kenyataan itu bukan tanpa resiko. Uang yang digelontorkan itu juga berarti resiko pemecatan jika target tak tercapai. Dan di dunia ini, seperti kata Crujff, masalah Mourinho cuma satu: Barcelona.

Di tempat lain, publik lupa bahwa tekanan yang sama juga berada di pundak Pep Guardiola. Ia seperti orang yang terlalu cepat besar dan menerima tekanan untuk memperbesar kebesaran itu bersama klub. Dan bisa dibilang, satu-satunya masalah bagi Guardiola adalah Mourinho.


Guardiola vs Mourinho

Pertarungan antara Guardiola dan Mourinho mungkin merupakan salah satu pertarungan paling panas antar dua pelatih papan atas. Bagi saya, pertarungan itu adalah sesuatu yang alami dalam dunia kompetisi seperti sepak bola.

Mourinho adalah figur fenomenal. Sebagaimana ia menjuluki dirinya sebagai The Special One, harus diakui ia memang khas. Kala julukan itu ia sebarkan kepada dunia, dunia seakan mengakuinya tanpa debat. Media massa pun menyematkan julukan bikinan Mourinho itu sebagai sesuatu yang lumrah.

Saya termasuk orang yang membela Mourinho ketika ramai-ramai orang mengecam mulut masamnya waktu menangani Chelsea. Ia datang dari klub papan atas liga kelas dua di Eropa, FC Porto, dengan bekal juara Liga Champions 2004 usai menaklukkan finalis dari Prancis AS Monaco. Perlu diingat, sebelum melaju ke final, Porto menyingkirkan raksasa Inggris United.

Sebagai pendatang baru di Inggris, ia berhasil merubah konstelasi Premier League. Klub medioker semacam Chelsea diangkatnya tinggi-tinggi dan membuat Sir Alex Ferguson harus membiarkan Chelsea menjadi raja di Inggris selama dua musim.

Kiprah dua musim pertamanya di Chelsea itu membuat dia patut dibela. Saya melihatnya sebagai orang muda yang membuat perubahan. Segala cemoohan yang ditujukan pada Mourinho hanyalah reaksi lazim yang muncul dari pihak yang tak ingin situasi aman kompetisi terusik.

Satu-satunya kekurangan Mourinho di masa suksesnya bersama Chelsea adalah ia gagal membawa klub London itu sebagai raja Eropa sebagaimana Porto. Setelah diisukan bersitegang dengan pemilik klub Roman Abramovich, di penghujung musim ketiga ia meninggalkan John Terry cs ibarat induk ayam yang meninggalkan anak-anaknya.

Selepas kepergian Mourinho, kerajaan Inggris kembali ke tangan United. Puncaknya, Sir Alex merebut gelar Eropa keduanya dari tangan Chelsea dengan cara yang jelas menyakitkan John Terry. Dalam adu pinalti di final Liga Champions di Moskow pada 2008, Terry terpeleset sesaat sebelum mengayunkan kaki. Terry terjatuh dan bola melenceng menjauhi gawang.

Chelsea kalah dalam keadaan compang-camping. Sebagai anak ayam yang kehilangan induk, klub itu masih dibayang-bayangi kenangan manis bersama Mourinho. Dalam semusim itu, mereka harus berhadapan dengan nama baru dari Israel, Avram Grant.

Grant tak terlalu buruk. Sebab ia masih bisa membawa klub yang sedang sedih itu ke partai paling bergengsi di Eropa. Gengsinya menjadi berlipat setelah lawannya adalah United yang selama dua musim bersama Mourinho mereka singkirkan dari kursi raja Inggris.

Sayang, seandainya mereka bersama Mourinho kala itu, mungkin keadaan bisa jadi lain. Sir Alex belum tentu merasakan gelar kedua di Eropa. Dan gelar pemain terbaik dunia tahun itu, bisa jadi tidak jatuh ke Cristiano Ronaldo, tetapi Didier Drogba atau Frank Lampard.

Grant tak bertahan. Abrahamovich mendatangkan Luiz Felipe Scolari yang berhasil membawa Brazil memenangi Piala Dunia untuk yang kelima pada 2002. Di tengah jalan, Scolari dipecat dan digantikan Guus Hiddink. Hiddink, yang kala itu juga mengurus tim nasional Rusia, hanya mampu membawa Chelsea ke semifinal Champions.

Titik cerah baru muncul setelah Ancelotti didatangkan dari AC Milan menggantikan Guus Hiddink di awal musim 2009-2010. Ancelotti membawa harapan baru setelah mengangkat Chelsea merenggut gelar liga dari United. Inilah gelar pertama Chelsea di liga setelah ditinggalkan Mourinho. Ancelotti juga melengkapinya dengan gelar Piala FA.

Lagi-lagi, Mourinho tak tergantikan. Ancelotti dipecat di ujung musim 2010-2011 karena Chelsea kembali terpuruk. Krisis pelatih di Chelsea menunjukkan kepergian Mourinho masih meninggalkan jejak di tubuh The Blues. Silih berganti pelatih kawakan keluar masuk ke Stamford Bridge. Tetapi, tetap saja tak ada yang bisa menggantikan Mourinho.

Atas alasan itu, saya menganggap Mourinho adalah salah satu pembaharu dalam dunia sepakbola, terutama Inggris. Ia pantas menyebut dirinya sebagai “The Special One.

Satu-satunya kekurangan Mourinho yang tidak saya sukai adalah sikapnya yang tak siap menerima perubahan. Sebagai seorang yang membawa perubahan, ia cacat karena tak mau menerima perubahan sebagai sebuah ketetapan.

Perubahan yang tak pernah mau diterima Mourinho adalah kedatangan anak bawang berusia 37 tahun bernama Joseph Guardiola. Bukan saja kedatangan ke sebuah klub bernama Barcelona, tetapi juga kedatangan Guardiola ke dunia sepakbola.

Antara Mourinho dan Guardiola, keduanya punya peran penting yang sama, yaitu membawa perubahan dalam usia yang muda. Mourinho membawa Porto menjadi juara Eropa di usia 42 tahun (bandingkan dengan Sir Alex Ferguson yang baru mengangkat trophi Champions di usia 58 tahun) dan Guardiola lebih muda lagi, 38 tahun.

Dari segi permainan, Mourinho memperkenalkan gaya bermain yang disebut sebagai taktik pragmatis. Yakni taktik yang mengutamakan kemenangan di atas segala-galanya. Di sisi lain, sebagai orang baru, Guardiola datang dengan antithesis Mourinho: sepak bola tak sekedar soal menang kalah, tetapi meraih kemenangan dengan cara yang elegan dan mengutamakan keindahan.

Antara Mourinho dan Guardiola, keduanya memulai di musim 2008-2009. Selepas masa menganggur setahun usai meninggalkan Chelsea, Mourinho direkrut Massimo Moratti untuk menggantikan Roberto Mancini. Sedangkan Guardiola, ditunjuk sebagai penerus Frank Rijkaard.

Inter Milan dan Barcelona adalah dua klub besar. Yang berbeda, saat Mourinho datang ke Giuseppe Meazza, klub itu adalah juara bertahan di liga Italia selama tiga musim berturut-turut di bawah Mancini. Mourinho datang dengan tugas untuk menggenapkan era gemilang itu dengan membawa Inter menjadi juara Eropa.

Di mana posisi Guardiola saat itu? Guardiola hanyalah pelatih Barcelona junior atau yang lebih dikenal dengan Barcelona B. Sebagai pelatih yang belum pernah melatih klub profesional di liga teratas, jelas tugas Guardiola lebih berat. Sebab, saat ia datang, Barcelona mengalami masa suram selama dua musim tanpa gelar liga domestik dan Eropa.

Beban itu menjadi berat sebab pelatih sebelumnya, Frank Rijkaard, adalah pelatih yang kembali menempatkan Barcelona sebagai klub berwibawa di tanah Eropa. Bersama jagoan Nou Camp kala itu, Ronaldinho, Rijkaard memberi Barcelona tropi kedua Eropa pada 2006 setelah Crujff pada 1992.

Bukan cuma itu, di bawah Rijkaard, Barcelona juga memaksa dunia menahbiskan Ronaldinho sebagai pemain terbaik dunia dua kali. Mengulang kejayaan itulah yang harus dilakukan anak bawang bernama Guardiola.

Mourinho memang memiliki tugas berat sebab dia harus memberikan Piala Liga Champions kepada Inter yang terakhir memenanginya pada 1965. Tetapi, saat Mourinho datang Inter adalah raja di Italia. Sedangkan Guardiola harus memulai debutnya untuk mengangkat klub juara yang terperangkap dalam keadaan terpuruk. Saat ia datang, Madrid dua kali berturut-turut menjuarai liga. Di sisi lain, bintang Nou Camp Ronaldinho terus-terusan kehilangan daya magisnya dan berniat hengkang.

Di musim 2008-2009 pula media mulai jarang menyematkan predikat “The Special One” terhadap Mourinho. Angin perubahan sedang bergerak ke Nou Camp dan Guardiola.

Tak ada yang menduga, memulai debut di liga dengan kekalahan 1-0 dari tim promosi Numancia, Guardiola menyempurnakan peninggalan Rijkaard dengan prestasi yang luar biasa. Mungkin ia satu-satunya yang bisa merebut enam gelar juara semusim dalam sejarah Eropa. Enam gelar itu adalah seluruh kompetisi yang diikuti Barcelona. Artinya, Guardiola membuat Barcelona tak memberikan satu piala pun pada pesaingnya.

Dunia mulai melihat Guardiola ketika Barcelona mempermalukan Real Madrid di Santiago Bernabeu dengan skor mencolok 2-6. Beberapa bulan sebelumnya, Madrid baru saja memecat Bernd Schuster dari kursi pelatih. Pemecatan itu diduga sebab Madrid takluk 2-0 di Nou Camp dalam el clasico pertama.

Presiden Madrid kala itu, Ramon Calderon, menggeser Schuster dan menunjuk mantan pelatih Sevilla yang baru saja berhenti dari Tottenham Hotspur, Juande Ramos. Namun di el clasico kedua di Bernabeu, Ramos tak mampu mempertahankan diri. Madrid kalah dengan cara buruk, 2-6.

Di musim itu, Barcelona terus-menerus menang dengan skor besar. Menang dengan selisih tiga gol di musim itu adalah hal yang lumrah bagi Barcelona. Dan selain menerangi Guardiola, lampu panggung juga mulai menyoroti bintang masa depan berusia 21 tahun bernama Lionel Messi.

Puncaknya adalah ketika Guardiola menantang pelatih tersukses di Inggris dan dihormati di seluruh dunia, Sir Alex Ferguson. Setelah menyingkirkan Chelsea di semifinal secara dramatis, Guardiola hadir ke final Liga Champions 2009 untuk menantang juara bertahan Manchester United.

Semua mata memang bergerak ke Barcelona waktu itu. Namun, keunggulan tetap berada di United. Betapa tidak? Mereka memiliki Alex Ferguson dan pemain terbaik dunia Cristiano Ronaldo. Di sisi lain, mereka adalah tim yang tahun lalu mengalahkan Chelsea di final.

Roma akhirnya menjadi milik Barcelona. Barcelona menang 2-0 berkat gol Samuel Eto’o dan Lionel Messi. Bukan hanya menang dari segi gol, malam itu Barcelona membuat juara bertahan tak berkutik. Super star Old Trafford yang juga pemain terbaik dunia, Cristiano Ronaldo, lebih banyak berlari ketimbang menggiring bola.

Sejak itu, Barcelona, Guardiola, dan Messi, adalah hal yang paling ingin dikalahkan oleh semua klub di dunia ini. Makanan empuk bagi si penantang bernama Jose Mourinho.

Di Inter, musim pertama Mourinho tak buruk meski tak terlalu istimewa. Ia dengan kebiasaannya menggetar-getarkan urat syarafnya untuk mengusik urat syaraf pesaingnya, masih bisa melanjutkan scudetto yang diwariskan Mancini.

Dari sekian banyak pelatih yang paling berminat menaklukkan kegemilangan Barcelona, saya hanya akan menyebut satu nama, yakni Mourinho. Dengan dirinya sendiri, Mourinho menapaki musim keduanya dengan lebih yakin, yaitu mengincar scudetto, Coppa Italia, dan tentu saja Liga Champions.

Di Liga Champions 2009-2010 pula rasa sakit John Terry cs semakin menjadi-jadi. Setelah meninggalkan Chelsea seperti membiarkan anak-anak ayam mencari makan sendiri, Mourinho datang ke Stamford Brigde sebagai lawan. Alih-alih menunjukkan rasa cinta terhadap klub yang pernah dibinanya dan membuat perubahan di Inggris, ia justru mengeluarkan kata-kata yang tak setia: “Saya tidak pernah kalah di Stamford Bridge.” Inter menang atas Ancelottian 0-1 di London.

Perang antara Mourinho dan Guardiola dimulai saat pertemuan di semifinal Liga Champions 2009-2010. Barcelona, sebagai juara bertahan dan memiliki pemain terbaik dunia, Messi, datang ke semifinal dengan lebih yakin dan sedikit “besar kepala.”

Guardiola melaju ke semifinal setelah Messi menyarangkan empat gol sendirian ke gawang Arsenal di perempat final yang dimainkan di Nou Camp. Di Emirates, kedua tim bermain imbang 2-2. Di fase grup, Guardiola mengalahkan Inter 2-0 di Nou Camp dan hanya seri tanpa gol di Giuseppe Meazza.

Tak ada yang menyangka, Mourinho bisa membuat Guardiola tersadar dari euforia kejayaannya. Di Giuseppe Meazza, sang juara bertahan lumpuh 3-1 lewat aksi “menyelinap” Diego Milito. Meski satu dari gol Milito berbau off-side dan pelanggaran terhadap Dani Alves tak berbuah pinalti, kekalahan itu tetap menampar kecenderungan yang bisa membawa Barcelona menjadi besar kepala.

Di leg kedua, di Nou Camp, fans Barcelona menyimpan dendam. Bukan kepada Inter, tetapi kepada sosok Jose Mourinho. Barcelona kalah agregat 3-2 karena hanya berhasil melesakkan satu gol melalui Gerrard Pique.

Sebagai orang yang terlalu mencintai Barca, kekalahan itu terlalu menyakitkan. Mourinho memang menggunakan pahamnya dengan cara yang terlalu totok: ia menempatkan 10 pemain sebagai pemain bertahan. Di kubu lawan, saya melihat jagoan yang darahnya tetaplah merah-biru, Samuel Eto’o, ikut berlari-lari menjadi pemain bertahan demi apa yang dikejar Mourinho.

Barcelona memang menang, tapi tak mendapat tempat di final yang digelar di Bernabeu. Usai wasit meniup peluit panjang, Mourinho berlari ke tengah-tengah Nou Camp dan mengacungkan jari tunjuknya ke tribun sebagai perayaan kesuksesannya. Kiper utama Azulgrana Victor Valdes yang masih tak terima akan kenyataan itu, berlari mendekati Mourinho dan menghalang-halangi The Special One berlari-lari menginjak rumput Nou Camp.

Publik terbelah. Yang membela Barcelona menyebut Inter Milan bermain seperti banci karena menumpuk 10 pemain di daerah permainan sendiri. Sedangkan fans Inter sekaligus penonton yang membenci Barcelona mengolok-olok Guardiola ketemu batunya. Keputusan Mourinho menerapkan strategi bertahan total dianggap sebagai buah kecerdasan ketimbang ketidakjantanan.

Bagi saya, itulah pertarungan puncak di Liga Champions waktu itu. Final Inter versus Bayern Muenchen yang menyingkirkan United di semifinal tidak lagi saya hitung. Saya menduga, siapapun yang berhasil menghentikan Barcelona, dialah juaranya. Dugaan saya tak meleset, Inter juara setelah menang 2-0.

Mourinho semakin yakin dengan dirinya. Angin yang tadinya bergerak ke Guardiola, kini berubah arah kembali ke dirinya sendiri. Di mata Mourinho, Guardiola masih tetap anak bawang yang mencoba-coba menggantikan dirinya sebagai yang paling fenomenal.

Saya, mungkin juga Barcelonistas di seluruh dunia, sakit hati saat itu. Bukan karena kalah, tetapi karena cara Mourinho menyingkirkan Barca. Beruntung Barcelona memiliki seseorang yang berjiwa besar seperti Guardiola. Hati saya melunak setelah mendengar komentar Guardiola usai pertandingan itu.

“Pemenang tetaplah pemenang. Bagaimanapun caranya meraih kemenangan,” kata Guardiola.

Di musim itu, Guardiola menyisakan gelar liga sebagai obat bagi saya.

bersambung....

ketika rose meniup peluit di segitiga bermuda

ketika rose meniup peluit di segitiga bermuda. pelukis muda adalah benang wol di layar viking. melalui caranya masing-masing rose terlahir sebagai tumbal

rose mendesakkan pertanyaan dalam suara peluitnya yang gagap, “apa maksudmu?”

bulan melarikan diri setelah membantu malaikat maut bunuh diri. sungguh malaikat malang: ia tak tahan, sepasang mata merahbara milik rose terusmenerus mengajukan protes

jakarta, april 10 2011

Petani

Hybrid, atau hibrida. Betapa rentannya kata itu. Baik dari segi keajegan makna, bahkan referensinya di luar bahasa.

Di kota kecil saya dulu, saya mendengar istilah “kelapa hibrida.” Setelah saya menyaksikan pohon serta meminum air-memakan daging kelapa hibrida, pikiran saya tersugesti bahwa kelapa jenis ini tak sekuat kelapa asli.

Maklumlah, kampung halaman saya itu termasuk negeri kelapa. Meski bukan pantai, kisah tua dari kesusasteraan klasik melayu mengajarkan kami: kelapa lebih dari sekedar tumbuhan belaka.

“Jika kau tersesat di rimba, maka carilah pohon tinggi, panjatlah. Jika sejauh mata memandang kau temukan lambai pohon kelapa, maka bergeraklah ke sana. Sebab, di sana pasti ada manusia, pasti ada masyarakat, meskipun hanya sepasang petani tua.”

Dan yang hybrid itu tak pernah mampu memberikan saya kesan sebagaimana pohon kelapa tradisional yang lebih saya kenal. Kelapa hibrida hanya mengejar sesuatu yang cepat, yang dipaksakan. Dia dihibridisasi agar masa tumbuh-panennya tak perlu seperti kelapa biasa yang bisa hidup seumur rata-rata manusia. Tak seperti kelapa asli, ia korban teknologi yang asing dari manusia.

Di Indramayu, seorang petani melakukan kritik makna atas hibrida. Warsiah namanya. Kakek berusia 60 tahun-an itu menuding bibit padi hibrida dari pemerintah justru membuat masyarakat tak mandiri. Bibit padi hibrida bikinan pemerintah tak ajeg, sehingga petani harus membeli bibit hibrida baru setelah bibit hibrida lama tak mau tumbuh lagi.

Warsiah lantas mengadakan percobaannya sendiri. Dan pelan-pelan ia berhasil menemukan bibit padi yang lebih tahan dengan perubahan iklim di daerahnya. Di titik ini, Warsiah sedang melakukan perlawanannya sendiri terhadap isu besar perubahan iklim. Tidak saja secara alamiah, tetapi juga secara politik.

Jika ada mereka yang meyakini negara tak perlu karena masyarakat seharusnya independen dan diperlakukan dewasa, maka Warsiah telah melakukannya. Kemampuannya mengawinkan bibit dan memprotes manipulasi pemerintah atas makna hibrida adalah bentuk ketidakpeduliannya terhadap negara.

Terlebih dahulu, boleh jadi Warsiahlah yang tak dipedulikan negara. Departemen Pertanian dan sarjana-sarjana pertanianlah yang seharusnya bekerja melakukan penemuan untuk mengatasi kendala petani. Negara, dalam hal ini, mengabaikan masyarakat. Maka, masyarakat (baca Warsiah) dengan caranya sendiri menunjukkan independensinya. Ya, Warsiah yang hanya lulus sekolah dasar itu bisa melakukan pekerjaan ilmuwan.

Jika ia membuka selubung hibrida dan penemuannya adalah pemberontakan antinegara, apakah ia benar-benar menyadarinya? Saya mencoba bertanya secara mendadak pada Warsiah: apakah Anda ikut pemilihan umum?

“O iya dong. Saya kan warga negara,” jawab Warsiah yakin.

Di sinilah sebuah paham menunjukkan wajahnya yang plural. Warsiah melakukan sikap antinegaranya dalam praksis hidupnya sehari-hari. Andaikan ia menyusun buku percobaan bibitnya secara sosiologis, niscaya ada bau antinegara. Warsiah anarki dalam praktek!

Tapi ia tak sadar, bahwa sikap anarkinya itu bisa menjadi kekuatan yang membahayakan politik kekuasaan. Andaikan sikap independensi Warsiah terhadap Departemen Pertanian juga ia sadari merupakan independensi terhadap pemerintah, dan negara, maka Warsiah mungkin saja menolak pemilihan umum. Sebab, lewat pemilihan umumlah pemerintah dipilih. Dan lewat pemerintah pula Departemen Pertanian diperintah.

Ternyata, demokrasi itu tak seluwes yang dimimpikan Amerika Serikat dan barat kepada kita. Dalam keluguannya, Warsiah memainkan peran untuk membelokkan jalan demokrasi itu. Warsiah menyeret demokrasi dan (mungkin secara tak sadar) menunjukkan pada birokrasi serta dunia akademi, betapa wahyu filosof mahsyur asal Prancis itu ada benarnya: manusia ditakdirkan untuk merdeka secara pribadi!

Ambisi Orang-Orang Slum

Bagaimana caranya menghitung ambisi yang berseliweran di bawah atap rumah-rumah kawasan slum?

Saya sendiri tak tahu pasti sebenarnya apakah kata slum itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Mungkin di Indonesia, khususnya di Jakarta, orang lebih terbiasa menyebut slum dengan daerah kumuh.

Di Jakarta, orang-orang dari daerah kumuh, atau kita sebut saja, masyarakat jelata, bisa dilacak dari raut mukanya. Memang, pepatah lama yang menganjurkan "jangan menilai buku dari sampulnya" masih bernada positif. Tapi saya tidak berbohong, di Jakarta, kita bisa melihat dengan jelas perbedaan kelas itu hanya dari raut wajah seseorang.

Kemarin, saya datang ke sebuah sasana kebudayaan di selatan Jakarta. Di sana orang-orang berbicara tentang kebebasan. Mereka menyebut filsuf mahsyur dari Paris, Jean Paul-Sartre, sebagai salah satu penggagas kebebasan. Sartre, kata orang-orang di sana, menganggap kebebasan adalah mutlak dalam diri manusia. Barang siapa tak menggunakan kebebasannya untuk menjadi subjek bagi dirinya sendiri, maka hidupnya tak otentik.

Mendengar gagasan itu, saya langsung teringat orang-orang dari daerah slum. Pada kesempatan pertanyaan, saya mengajukan satu: andaikan Sartre lahir di daerah kumuh di utara Jakarta, putus sekolah, dan miskin, apakah dia memiliki gagasan kebebasan sebagaimana yang sudah dia tulis dan dikenal orang?

Tak ada jawaban untuk itu. Dosen yang menjadi pembicara di sasana kebudayaan itu justru balik bertanya pada saya, "menurut Anda, apakah seorang dengan pikiran seperti Sartre bisa lahir di daerah kumuh seperti di utara Jakarta?"

Saya menggeleng. Di titik ini kebebasan itu menjadi sangat liar dan rentan. Kebebasan agung yang disiarkan Sartre itu memang fenomenal. Bahkan, ketika Sartre meninggal pada 1980, sebuah surat kabar di Prancis mengatakan "Prancis telah kehilangan suara hatinya."

Pada usia 12 tahun, Sartre telah memutuskan tak percaya pada Tuhan. Jelas, Sartre kecil terbiasa dengan buku. Ia kemudian berkelana dari kafe ke kafe di Paris untuk berdiskusi. Dia terhormat. Dan gagasannya mengguncang masyarakatnya.

Tentu saja, kebebasan yang dibayangkan Sartre itu ada dalam masyarakatnya (baca; barat). Sartre membicarakan kebebasan di dalam kafe, di universitas: di tempat di mana kebebasan untuk memikirkan tentang kebebasan itu terbuka lebar. Jelaslah, dalam masyarakat seperti itu, pendapat Sartre bahwa kebebasan mutlak manusia untuk menentukan hidupnya terasa begitu pantas. Apa yang dikatakan Sartre seperti mengembalikan kebebasan seluas-luasnya terhadap setiap manusia. Manusia menjadi sadar bahwa kebebasan yang memang sudah menjadi miliknya itu harus dipergunakan sebaik-baiknya.

Tapi cobalah bicarakan kebebasan semacam itu dengan seorang remaja pengikut organisasi agama radikal di Jakarta. Justru, kebebasan itu terasa menakutkan. Sebab, adakah semacam kebebasan di daerah slum? Adakah kebebasan bagi masyarakat miskin.

Coba kita bayangkan diri kita sebagai seorang anak yang lahir di kampung kumuh di utara Jakarta. Putus sekolah dan miskin. Ketika seorang kita menyadari kebebasan mutlak sebagaimana yang dikatakan Sartre, maka akan ada dua kemungkinan: pertama, kita menjadi kuat, kedua, kita ketakutan dengan kebebasan itu.

Kebebasan bagi masyarakat jelata tak sama dengan ukuran kebebasan yang didiskusikan Sartre di kafe-kafe Paris. Kebebasan bagi masyarakat jelata di Jakarta adalah (sekedar) terbebas dari rasa lapar dan rendah diri. Kebebasan menjadi mengerikan karena kenyataan di dalam masyarakat miskin tak memberi mereka pilihan. Dan kebebasan tak mungkin dibicarakan dalam situasi sedikit pilihan. Lebih mengerikan lagi bahwa pilihan yang sedikit itu juga dipaksakan kepada mereka.

Masalah muncul saat anak-anak dari daerah kumuh itu mulai merumuskan siapa dirinya. Andaikan anda seorang wartawan, maka ketika anda berada di masyarakat, diri anda akan dirumuskan masyarakat sebagai wartawan. Dengan demikian, anda mendapat pengakuan plus makna diri. Pertanyaannya, jika anda lahir di kampung kumuh utara Jakarta, miskin, putus sekolah, mungkinkah anda akan menjadi wartawan? Jawabannya mungkin. Tapi sulit.

Maka jangan heran menyaksikan banyaknya remaja yang melibatkan diri dalam organisasi keagamaan radikal. Sebab, di sanalah remaja dari daerah slum merasa mendapat pengakuan. Mereka menggunakan uniform, melakukan kekerasan, masuk televisi, dan dengan demikian mereka diakui di masyarakat. Mereka menyerahkan kebebasan mutlak yang mereka miliki ke organisasi keagamaan radikal. Mereka menyerahkan hak mereka untuk mendefinisikan diri mereka sendiri ke pemimpin agama. Mereka merasa menjadi sesuatu ketika mereka bergabung dalam kelompok itu. Tapi jelas, mereka tak lagi punya individualitas. Mereka, sebagaimana kata Sartre, adalah orang-orang yang tak otentik.

Jika sekali-sekali anda menemukan demonstrasi atau aksi organisasi yang membawa-bawa agama di jalan-jalan Jakarta, coba periksa dengan teliti para pengikutnya. Jika dia remaja, teliti rautnya, minyak dan jerawat di wajahnya, sorot matanya. Coba tebak harga bajunya, jeans-nya, bahkan sendal dan sepatunya. Saya yakin, anda akan menemukan ikon-ikon yang terbiasa ditemukan di kawasan kumuh atau perempatan jalan.

Ketika saya membenci fanatisme, saya sependapat dengan Sartre. Sebab fanatisme adalah sikap orang-orang yang tidak otentik, yang takut dengan kebebasannya sendiri, yang tidak menjadi subjek murni bagi dirinya sendiri. Tapi jauh dalam diri mereka, apakah kita pernah berpikir, bahwa mereka fanatik karena hanya fanatisme itulah satu-satunya pilihan di tengah kenyataan.

Saya mulai bingung. Antara benci dan merasa orang-orang fanatik itu juga korban ketidakadilan. Siapa yang mengorbankan mereka sudah tidak penting bagi saya. Yang jelas, orang-orang itu akan tetap ada sepanjang masa. Seperti kecoa, mereka tidak mati-mati, meski hanya keluar di malam hari.

Masih adakah ambisi di bawah atap-atap rumah kawasan slum?

Jakarta, 20 2 2011

Hipokrisi

Khotbahkan filsafat itu di Yunani sana, di mana cuaca hangat dengan semerbak jeruk liar, tapi di sini filsafat itu tidak sesuai dengan iklim. Dengan siapa itu saya bicara tentang Diogenes? Apa bukan dengan Anda?

Saya menemukan paragraf dalam cerita pendek Ruang Inap No. 6 karangan Anton Chekov sebelum saya datang ke sebuah desa yang aneh. Saya baru merasakan keanehannya justru setelah saya meninggalkan desa itu. Mungkin saya mau mengatakan, paragraf yang ditulis Chekov adalah yang mempertajam ingatan saya terhadap sebuah kampung.

Nama desa itu dukuh Cihideung. Tercakup dalam dusun Talang Sari III, desa Raja Basa Lama, Lampung Timur, Lampung. Di desa itu, suara daun-daun jauh lebih semarak dari pada suara manusia. Hanya ada rumah, dan sedikit pemuda. Senyap.

Kesenyapan itu terjadi karena mereka bertahan dengan kenangan yang terlampau pahit. Dua puluh dua tahun lalu, rumah mereka dibakar, harta mereka dirampas, dan kerabat keluarga mereka dibantai di depan mereka. Pelakunya, meski belum inkracht, didesas-desuskan tentara. Lebih dari 200 orang, termasuk anak-anak dan perempuan, tewas.

Bagi yang bertahan hidup, mereka dikucilkan, dan dianggap sebagai kelompok terlarang. Tak memiliki akses pendidikan dan pekerjaan membuat mereka miskin. Yang lebih pedih, anak-anak mereka juga dikenal sebagai anak “mujahidin.”

Mujahidin adalah sebutan bagi pesantren Warsidi di Cihideung. Pengajian itu menolak asas tunggal Pancasila. Namun membantah tuduhan ingin mendirikan negara Islam. Fitnah yang menyelimuti pesantren itu membuat Cihideung diserbu tentara. Mereka dianggap separatis.

Kini sebagian dari mereka masih hidup. Hidup bertahun-tahun dengan kenangan yang buruk.Hukum berjalan seperti keong. Kepada saya, korban-korban itu berkeluh-kesah tentang ketidakadilan yang mereka alami hingga kini. Saya merasa tak berdaya di hadapan keluh-kesah mereka. “Apalah saya?” pikir saya. Saya belum tentu mampu menghadirkan keadilan ke hadapan wajah mereka yang lugu.

Lalu saya berbicara dengan nada yang terasa menggurui. Saya katakan kepada mereka, jenderal yang berdosa atas darah di desa kalian itu selalu ketakutan. Itulah sebabnya, meski diktator sudah tinggal belulang, dia tetap mengirim intel ke desa kalian. Tapi, coba lihat kalian? Kalian masih bisa mengisahkan kenangan pahit itu dengan senyum dan tertawa. Bukankah itu berarti pada akhirnya kemenangan itu ada di tangan kalian?

Saya tersentak atas kata-kata saya itu setelah bertemu dengan paragraf Chekov di atas. Itulah saya, orang yang berbicara filsafat yang tak sesuai dengan iklim di mana saya berbicara. Saya berusaha menjadi motivator. Sebagai motivator, saya berusaha menjelaskan persoalan (seolah-olah) secara filosofis. Dengan begitu, saya mendapat kejayaan karena mereka saya anggap memperoleh pencerahan dari kata-kata saya. Saya bangga jika mereka bisa menghanguskan duka sejarah.

Tapi apa? Sejarah tak mungkin pupus. Saya tersadar bahwa saya berbicara dengan lantang karena sebenarnya saya tak mengetahui keadaan sebenarnya. Dalam keadaan saya sekarang, andaikan saya seperti mereka yang kehilangan kerabat dan disiksa di tahanan, mungkin saya sudah menjadi gila gelandangan. Atau, gantung diri.

Penderitaan mereka sebenarnya adalah penderitaan yang tak tertanggungkan. Sebenarnya, saya tak lebih kuat dari mereka. Saya menyembunyikan kerapuhan saya dengan kata-kata filosofis ala motivator. Seingat saya, Nietzsche membenci praktek seperti itu!

Saya tak mau menyimpulkan, karena kesimpulan membuat tulisan ini seperti kata-kata filosofis yang munafik sebagaimana yang saya katakan pada warga Talang Sari. Sebab, daya tahan mereka dengan beban ketidakadilan yang temurun, membuat kita jangan terlalu mudah memamerkan keadilan. Karena “ide” keadilan itu begitu rentan, bisa jadi belati untuk menikam dari belakang!

Jakarta Februari 9 2011