Friday, June 13, 2025

Aku tak Ingin Jadi Baik

Ada di sini dia sekarang

Jari-jari cepat, mata pakar
Dan ‘apa kabar’ yang itu-itu juga
Jijik adalah penyamarannya bodohnya
Dia ingin bersepatah kata denganmu

Masalahnya adalah di akhir
Mulutnya perlu berlatih
Hal terakhir yang kubutuhkan adalah seorang teman yang lain lagi
Aku tak ingin jadi baik

Aku tak ingin jadi baik
Aku kira menyumpah itu cerdas
Lebih baik mencari beberapa suara nasehat
Lebih baik melihat ke tempat lain

Wajahmu adalah sebuah kasus yang jelas
Engkau tak harus menunjukkannya
Ini bukanlah waktunya bukan pula tempatnya
Untuk menyelesaikan masalah-masalah ini

Apa yang kau lihat adalah apa yang kau dapatkan
Engkau hanya hidup dua kali
Seorang teman yang membutuhkan adalah seorang teman yang berutang
Aku tak ingin jadi baik

Tidak kita tak pernah bertemu sebelumnya
Aku sangat senang untuk bilang
Jauh dari orang asing yang sempurna
Aku ingin membiarkannya tetap seperti itu

Aku bukanlah psikoanalismu
Aku lebih suka bicara pada tikus
Engkau terlalu mudah menentang
Aku tak ingin jadi baik

Aku tak ingin jadi baik
Aku kira menyumpah itu cerdas
Lebih baik mencari beberapa suara nasehat
Lebih baik melihat ke tempat lain

Wajahmu adalah sebuah kasus yang jelas
Engkau tak harus menunjukkannya
Ini bukanlah waktunya bukan pula tempatnya
Untuk menyelesaikan masalah-masalah ini

Apa yang kau lihat adalah apa yang kau dapatkan
Engkau hanya hidup dua kali
Seorang teman yang membutuhkan adalah seorang teman yang dalam
Aku tak ingin jadi baik

I Don’t Want To Be Nice (Disguise in Love–1978)
John Clopper Clark (1949 - )

Saturday, June 7, 2025

Buatlah Audiobook Sebelum Buku Dibuat

Setiap pagi, berdiri di depan cermin berkabut
bicara pada bayanganmu. Buku puisimu
sedang dicetak di sana. Nafasmu membelok
ke dalam baris-baris puisi sebelum digandakan kembali
terpisah menjadi beberapa gema dan arah.

Puisi terpenting dan paling tak penting
menjadi ketika air dan cermin memisahkan engkau
ke dalam lapisan-lapisan. Ketika beberapa darinya berkabut
di pagi hari, beberapa jelas seperti kaca,
masa depan datang. Dengan demikian, puisi-puisi
mungkin merefleksikan sudut pandang kaca
yang akan engkau lewati sepanjang hari, seakan
sepasang kembar menghantui penglihatanmu ke sekeliling.
Engkau duduk merokok ketika yang tercinta melayang
menuju pancuran mandimu. Jendela terbuka,
sebuah setapak selalu di sana. Mendengar terasa nyata
dan nirnyata ketika engkau melihatnya seperti sebuah warna
yang tak dinamai oleh siapapun. Di luar, mesin-mesin
meruntuhkan gedung lama untuk membangun
gedung yang lebih baru. Sinar matahari memanjat di antara
tubuh-tubuh berpasangan dan tak berpasangan.
Cermin-cermin membiaskan puisi-puisi terbaik
yang melengkung sehingga membaca terasa
seperti menatap ke dalam lorong beriak.
Cermin-cermin cekung dan cembung membentuk
sampul luar buku melebih-lebihkan ekspresi,
membuat yang lain tampak merentang, tertindih,
dan berubah, mencermini kelenturan
puisi-puisi itu sendiri. Nada dan topik
terangkat seperti cahaya di atas air bergerak.
Hujan jatuh ke pancuran, meluncuri
satu tubuh ia tak bisa menutupi irama
sebuah lagu yang asing. Engkau nyaris bisa mendengar
di dalamnya: sebuah ratapan. Pintu tertutup.
Tak pernah tertutup sebelumnya.
Make the Audiobook Before The Book is Made (The New Yorker–May 19th 2025)
Terrance Hayes (1971-)
 

Perayaan Sang Kadal

Singa-singa di jalan dan berkeliaran
Anjing-anjing sedang birahi, mengamuk, berbusa
Seekor binatang buas terkurung di jantung sebuah kota
Tubuh ibunya
Membusuk di tanah musim panas.
Ia meninggalkan kota.
Ia pergi ke Selatan
Dan menyeberangi perbatasan
Meninggalkan kekacauan dan keberantakan
Di belakang sana
Di atas bahunya.
Suatu pagi ia terjaga di sebuah hotel hijau
Dengan suatu makhluk aneh mengerang di sampingnya.
Peluh mengalir dari kulitnya yang berkilauan.
Apakah semua orang di dalam?
Acara akan dimulai.
Bangun!
Engkau tak bisa mengingat di manakah itu.
Apakah mimpi ini berhenti?
Sang ular pucat keemasan mengkilap dan menyusut
Kami takut menyentuhnya.
Seprei sepanas penjara mati.
Dan ia disampingku, tua,
Dia, bukan; muda.
Rambut merahgelapnya.
Kulit lembut yang putih.
Kini, berlarilah menuju cermin di kamarmandi,
Lihat!
Dia datang ke mari.
Aku tak bisa hidup melalui setiap abad yang perlahan
karena gerakan dia.
Kubiarkan pipiku meluncur turun
Ubin halus yang dingin
merasakan darah dingin menyengat yang bagus.
Desisan halus ular-ular
hujan…
~~~
Aku pernah punya sebuah permainan kecil
Aku suka merayap kembali ke dalam otakku
Aku pikir engkau tahu permainan yang kumaksud
Maksudku permainan yang disebut “Jadilah Gila”
Kini engkau harus mencoba permainan kecil ini
Hanya menutup matamu lupakan namamu
lupakan dunia, lupakan orang-orang
dan kita akan membangun sebuah menara yang berbeda.
Permainan kecil ini menyenangkan untuk dilakukan.
Tutup saja matamu, tak akan kehilangan apa-apa
Dan aku di sini, aku juga akan
Melepaskan kendali, kita akan mendobrak
~~~
Jauh ke belakang ke otak dalam
Jauh ke belakang dunia penderitaan
Ke belakang di mana tidak pernah ada hujan
Dan hujan jatuh dengan lembut ke atas kota
Dan ke atas kepala kita semua
Dan dalam labirin arus di bawahnya
Kehadiran tak tergali hening
bukit yang gugup berdiam dalam bukit-bukit lembut di sekitarnya
Reptil berlimpahan
Fosil-fosil, gua-gua, ketinggian udara dingin
Setiap rumah mengulang cetak bentuknya
Jendela-jendela digulung
Sebuah mobil binatang buas terkunci melawan pagi
Semuanya kini sedang tidur
Karpet-karpet diam, cermin-cermin menganggur
Debu buta di bawah ranjang pasangan-pasangan yang sah
Luka di seprei-seprei
Dan anak-anak perempuan, berpuas dengan air mani
Mata-mata pada puting mereka
Tunggu! Ada satu pembantaian di sini
Jangan berhenti bicara atau melihat ke sekeliling
Sarung tanganmu dan kipas angin ada di tanah
Kita akan keluar dari kota
Kita akan berlari
Dan engkau adalah salah seorang yang kuinginkan datang!
~~~

Tak menyentuh bumi, tak melihat matahari
Tak ada yang tersisa untuk dilakukan kecuali lari, lari, lari
Ayo lari, ayo lari
Rumah di atas bukit, bulan masih membentang
Bayangan-bayangan pepohonan menyaksikan angin semilir liar
Ayo, sayang, berlarilah bersamaku
Ayo lari
Berlarilah bersamaku, berlari bersamaku, berlari bersamaku
Ayo lari
Rumah besar itu hangat di puncak bukit
Kaya dengan kamar-kamar dan kenyamanan-kenyamanan di sana
merah adalah tangan kursi-kursi mewahnya
Dan engkau tak akan tahu apapun sampai engkau masuk
Mayat presiden yang mati di mobil supir
Mesinnya menyala dengan lem dan aspal
Datang bersama-sama, tidak bergerak terlalu jauh
Menuju timur menemui Tsar
 
Berlarilah bersamaku, berlari bersamaku, berlari bersamaku
Beberapa penjahat hidup di tepi sebuah danau
Anak-anak perempuan menteri jatuh cinta dengan ular
Yang hidup di dalam sebuah sumur di tepi jalan
Bangunlah, gadis! Kita sudah hampir sampai di rumah
Matahari, matahari, matahari
Terbakar, bakar, bakar,
Bulan, bulan, bulan
Aku akan mendapatkanmu segera…segera…segera!
Aku adalah Raja Kadal
Aku bisa melakukan apapun
~~~
Kami turun ke sungai-sungai dan jalan-jalan besar
Kami turun dari hutan-hutan dan air terjun-air terjun
Kami turun dari Carson dan Springfield
Kami turun dari Phoenix yang terpesona
Dan aku bisa memberitahumu nama-nama kerajaan
Aku bisa memberitahumu hal-hal yang engkau tahu
Mendengarkan segenggam keheningan
Memanjat lembah menuju tempat teduh
~~~
Selama tujuh tahun aku berdiam dalam istana pengasingan yang longgar
Memainkan permainan-permainan dengan gadis-gadis pulau
Kini aku datang lagi ke tanah keadilan
Dan kekuatan dan kebijaksanaan
Saudara-saudara dan saudari-saudari hutan pucat
Anak-anak malam
Siapa di antara engkau yang akan berlari bersama sang pemburu?
Kini malam tiba dengan legiun ungunya
Mundurlah kini ke tenda-tendamu dan ke mimpi-mimpimu
Esok kita masuk ke kota kelahiranku
Aku ingin bersiap
The Celebration of The Wizard (1970)
Jim Douglas Morrison (1943–1970)

Wednesday, May 28, 2025

Rahasia Diri (17-46)

Aku bikin bisu para musisi ketika mereka berkumpul,
Aku pukul sanubari semua yang mendengarku
Karena kecapi kejeniusanku memiliki melodi yang langka:
Bahkan bagi kawan sejawat pun laguku asing.
Aku lahir ke dunia sebagai sebuah matahari baru,
Aku belum tahu cara dan gaya langit:
Bintang-bintang belum pergi dari hadapan kemegahanku
Air raksaku pun belum bergejolak;
Laut adalah yang tak tersentuh oleh sinar tarianku
Gunung-gunung adalah yang tak tersentuh oleh warna merahtuaku
Mata keberadaan tak familiar denganku;
Aku bangkit gemetar, takut menunjukkan diriku.
Dari Timur subuhku tiba dan mengarahkan Malam,
Sebutir embun segar berdiam di atas mawar dunia.
Aku menantikan para rahib yang bangun di waktu fajar:
Oh, bergembiralah mereka yang akan memuja apiku!
Aku tak butuh telinga hari Ini,
Aku adalah suara penyair hari Esok.
Zamanku sendiri tak mengerti makna-makna dalamku,
Yusufku tidak untuk pasar ini.
Aku putus asa dengan sejawat-sejawat lamaku,
Sinaiku terbakar demi Musa yang datang.
Laut mereka hening, seperti embun,
Tetapi embunku dilanda badai, seperti lautan.
Laguku dari dunia lain dari lagu-laguku mereka:
Lonceng ini mengimbau para musafir untuk mengambil jalan.
Seberapa sering seorang penyair yang setelah mati
Membuka mata kita ketika matanya sendiri tertutup,
Dan bergerak bertualang lagi dari ketiadaan
Ketika mawar-mawar mekar di atas tanah kuburannya!

Muhammad Iqbal (1877-1938)
Diterjemahkan dari versi Bahasa Inggris Asrar-I Khudi berjudul The Secrets of The Self. Terjemahan dari Persia ke Bahasa Inggris oleh Reynold A Nicholson–1920).

Wednesday, May 21, 2025

Ini Kakiku Tuan

loteng dan jendela sepatu luncur esku di dinding
para Pengkhotbah bisa melihat pintu kayu kuning pucat kamar mandi
kamar kecil kaki-kaki muda bulu-bulu kaki hitam berkilau
“ini kakiku tuan.”
kilau tunggul membasuh cakrawala lavendernya
merasakan erangan anak lelaki dan juga maksudnya
wajah seorang bocah jelek di meja dokter
aku adalah bayangan lilin senja dan kaca jendela yang aneh
aku adalah noda dan merengeki waktu yang hilang di bayangan langit
bintik-bintik air terpolusi di bawah kaca jendela cakrawala lavendernya
noda digerayangi oleh beberapa bocah lelaki dingin kehilangan marmer di ruangan
meja dokter bercambang…wajahnya…
kulit si bocah menyebar menjadi sesuatu yang lain
“KRISTUS APA ITU?” IA menjerit
daging dan tulang mawar tornado
“ITU SAKIT”
aku adalah noda dan merengeki bulu belakang kaki yang kemilau
kertas perak di dalam angin berjumbaian suara kota yang jauh.

My Legs Senor (Reality Studio from Second Aeon 16/7 1973)
William S Burroughs (1914-1997)

Friday, May 16, 2025

Aku Dikunjungi oleh Seorang Editor dan Seorang Penyair

aku baru saja menang 115 Dollar dari para penggeleng kepala dan
telanjang di atas ranjangku
mendengarkan sebuah opera seseorang dari para orang Italia
dan baru saja mengusir seorang wanita kendor
ketika ada sebuah ketukan di pintu,
dan sejak para polisi menggeledah sebulan atau lebih yang lalu,
aku jadi berteriak gelisah–
siapa sih ini? apa yang kau inginkan, bung?
aku penerbitmu! seseorang berteriak balik,
dan aku berteriak, aku tidak punya penerbit,
coba pintu sebelah, dan dia balik berteriak,
kau Charles Bukowski, bukan? dan aku bangkit dan
mengintip melalui terali besi untuk memastikan itu bukan polisi,
dan kupakai jubah mandi pada ketelanjanganku,
menendang sebuah kaleng bir dari jalan dan menyuruh mereka masuk,
seorang editor dan seorang penyair.
hanya seorang yang minum bir (si editor)
jadi kuminum dua, satu yang tadinya untuk si penyair dan satu untuk diriku sendiri
dan mereka duduk di sana berpeluh dan melihatku
dan aku duduk di sana berusaha menjelaskan
bahwa aku bukanlah benar-benar seorang penyair dalam arti biasa
kuceritakan mereka tentang peternakan dan rumah jagal
dan lintasan pacu dan kondisi beberapa penjara kita,
dan si editor tiba-tiba mengeluarkan lima majalah dari portofolio
dan melemparkannya ke sela-sela kaleng bir
dan kami bicara tentang Bunga-Bunga Setan, Rimbaud, Villon,
dan beberapa yang mirip penyair modern:
JB May dan Wolf si Hedley sangat rapi, kuku jari bersih, dan sebagainya;
aku minta maaf soal kaleng bir, brewokku, dan semua yang ada di lantai
dan tak lama kemudian semua orang menguap
dan si editor tiba-tiba berdiri dan aku berkata,
kau pergi?
dan kemudian si editor dan si penyair berjalan ke arah pintu
dan kemudian aku berpikir baiklah sialan mereka mungkin tidak suka
apa yang mereka lihat
tetapi aku tak menjual kaleng bir dan opera Italia dan
kaus kaki bolong di bawah tempat tidur dengan kuku-kuku kotor,
aku menjual rima dan hidup dan baris kata,
dan aku berjalan dan membuka sebuah kaleng bir baru
dan aku melihat lima majalah dengan namaku di sampulnya
dan aku bertanya-tanya apa maksudnya,
bertanya-tanya apakah kita menulis puisi atau berkerumun bersama dalam
sebuah tenda besar
                        menjepit lubang pantat.

I Am Visited by an Editor and a Poet (Poetry.org from The Roominghouse Madrigals: Early Selected Poems 1946-1866)
Charles Bukowski (1920-1994)

Sunday, May 4, 2025

Ngent*tin Jiwa

Bak rendam di Hotel Bowery
luar biasa tetapi lebih baik sendirian.
Seperti seks secara umum karena
ngent*tin jiwamu jarang membuat tua.
Makan siang adalah makanan paling sedih hari ini
dan Oktober indah.
Seharusnya datang sekitar dua kali
tetapi ternyata tidak. Beberapa hal
tunggal. Aku memikirkan engkau selalu
bahkan jika orang-orang bilang engkau tak baik.
Apa yang mereka tahu soal
ngent*t jiwa lagi pula?
Sedih betapa bahkan seks
menjadi memakan sebiji jeruk.
Menarik di awal dan kemudian
mencair. Hanya air.
Dan aku tahu kita tidak ngent*t
tetapi seperti berdiri
di depan sebuah lukisan.
Lebih menarik ketimbang
mengetahui sang seniman di atas bumi.
Orang-orang tak akan mengerti
satu sama lain di dunia ini. Benar-benar tidak.
Kita tidak dikenal seperti setiap musim dingin
atau pikiran apa yang melompat
pada seseorang di hari itu. Tak seorangpun
mengenalku persis seperti engkau.
Seorang pribadi memakan sebiji jeruk.
Berjalan di Jalan Bond.
Mencoba sepatu yang tak akan kukenakan
hanya untuk melihat diriku seperti orang lain.
Tak ada diri yang benar-benar.
Tak seorang pun menyentuh dasar apapun.
Aku hanya ingin jiwa
dan aku akan ngent*t jiwa denganmu
di mana saja. Lagi pula.
Aku bisa menonton engkau
mengupas sebiji jeruk selamanya.
Dan tepat sebelum mati
kita harus memikirkan hal-hal terkecil.
Aku bersedia bertaruh untuk ini.
Bukan pada seks atau mengapa setan ada.
Bukan di mana jiwa hidup sepenuhnya.
Lebih seperti seberkas wajah yang
mengenali engkau dari kejauhan.
Sebuah suara yang terasa intim
di momen sebelum
engkau benar-benar berbalik.
Engkau adalah momen itu bagiku.
Engkau adalah berbalik.
Dan ya, aku akan ngent*t jiwa denganmu
menuju keabadian. Aku akan ngent*t jiwa
denganmu tidak seperti siapapun.

Soul Fucking (Ecstasy–2025)
Alex Dimitrov (1984 - )