Saturday, October 11, 2025

Dari “Dunia Setelah Hujan” II: Terbangun Dua Kali

jam tebal, meja kami penuh, ladang kami panjang lagi dengan tebu
            pada beberapa hari yang cerah engkau akan menawari aku tawa
hidupmu dan aku, berat dengan cucipudar
            bergerak seperti asap menuju pintumu, menyeberangi
perkebunan nan amifibi itu, akan menemuimu melintang,
            Anne, dengan sebuah perintah; hasutan damai kita dari banjir
dari sini menemukan sebuah biomassa yang berbeda untuk kebaikan
            karena aku belum mengerti penjelasan singkatmu,
menumbuhkan iman, dan aku harus bilang, inilah ini, bukan itu

dia yang bisa berharap, cerah seperti hijau, untuk semacam akhir
            dan yang bisa bilang, setelah ini sebuah penghargaan atas semua penantianmu
jika puisi harus tertutup, jika hal-hal kosong berongga harus mengapung
            jika beberapa mungkin bilang, setelah menjadi layu ini, engkau harus marah untuk menulis
sebarang puisi sepenuhnya, Anne
            bisakah pohon tin milikmu dihitung
bagaikan selembar daun, sebuah stanza, dan atap runtuh ketika hujan
             dalam silsilah terpencar kita diperdebatkan menuju barang hilang dan ditemukannya seseorang
datanglah untuk mengulangi orang-orang menua yang menembakkan meriam di semua halaman kita

*

mengumpulkan hidup, aku ingat tak ada penjaga malam
             hanya tawa kita mengering ke dalam sebuah serbuan voltase,
kemalanganku dilemparkan ke kematian
             bersembunyi dalam bangkai sebuah perahu tua
kepalaku: sebuah kebun binatang untuk setiap mangkuk kolam data
              aku kembali memikul hadiah tangan-tangan kosong
dan bertobat, ditandai dengan kehilangan tuhan,
              hukum kematian yang meraba-raba ini
aku bayangkan suara kokang pisau bedah
              jatuh ke dalam kaleng logam, dan tanganmu yang sudah pasti mendinginkan,
Anne, memperlambat semua kawanan kompromi yang liar,
             mengadon tepung satu karung 100 pon milikmu

dengan tangan, dengan hati, setiap Sabtu, jam lima pagi, sampai tengah malam
             mendengar perempuan pertama yang berisik
dengan saku atau tangannya sendiri berlatih tentang bahaya menggunakan senyap
             menyampaikan dengan matematika dasar yang menanyakan keajaiban
ketika keajaiban terasa seperti pencurian: tahun-tahun tak pernah memberi

apa yang tahun-tahun tak pernah beri dan tak pernah
             mempertimbangkan logika, siklus yang harus dijalani, aku akan menciptakan logika
bagaimanapun: aku akan menciptakan logika,
             langit dan halilintarnya yang tak bersuara: aku akan menciptakan hari-hari,
sebagaimana ayahku membuat kebun, tukang kebun
             merawat ruang luas dari nisan ke nisan
membunyikan lonceng Minggu, ibuku
             adalah kabut, adalah hujan, menukar tempat-tempat

dengan parkir jalan, mengurangi kesedihan baru, waktu–dilelang
             aku mengingat hal-hal tetapi bukan apa yang ibuku bilang
yang bilang dua tahun; yang bilang kanker
             adalah cara mati tanpa masuk akal, bahkan tidak
pesawat-pesawat yang terserak; aku tak ingat apapun
             ibuku pernah bilang, dengarkan seluruh malam menuju hujan, aku
melihat semuanya:
mata, belati, mulut, Anne, aku sebersemangat gula dalam darah

From “The World After Rain II,” II: Twice Awake (The Yale Review- September 8th 2025)
Canisia Lubrin (1984 - )

 
               
              

Nokturnalku

Buailah mata buailah aku
ciptakan aku sendokkan aku
bawakan aku api unggunkan aku
sungai tak berpasangan
dan pasangkan aku

kota membakarku
surgaku membuaiku
kecerahan darah
arangkan aku karantinakan aku

ranjang ayunkan aku di pemakaman
sendirian di bawah pohon mengkudu sedang berbunga
nenekku dedaunan tertiup angin
itu adalah malam sang malam yang jatuh

Mangga membalukan aku siangharikan aku
nyamuk dan panaskan aku dan puringkan aku
selubungi buihkan aku berpisah dari lembah
berpisah dari rambutnya yang menyelendangi aku

Tengahmalamkan aku kunang-kunangkan aku ikat lavenderkan aku
buaikan aku puringkan aku syalrobekkan aku
hujan memberitahuku
hujan lebat mengguyur

Tengahmalamkan aku bugenvilkan aku pangganglah aku
diperintah oleh caranya yang hening
aku mama aku mama aku
sebuah truk bumerang

laut talium pengantinkan aku
hijau jerukkan aku
minyaki aku dua sungai minyaki aku
lembutkan aku burungkolibrikan aku

gelap geram padaku di atas batunisannya
birukan aku ngengat-ngengat meniup dedaunan
aku mama aku sang masih mencintai dewa
biarkan jatuh padaku jangan sia-siakan aku

My Nocturne (Paris Review–Fall 2025)
Ishion Hutchinson (1983 - )

 

Wednesday, October 8, 2025

Nyanyian Burung

Seekor burung bernyanyi dan aku tak tahu siapa namanya.
Dahan tempat ia bertengger berayun bersama angin yang kasar
tetapi tak membuatnya nyaris patah, aman sebagaimana adanya
pada batang raksasa sebuah pohon yang namanya aku juga tak tahu.
Akar-akarnya bernafas di bawah teka-teki bumi dengan ragam
dedaunan hijau dan bahkan bunga-bunga kecil
yang juga tak memberitahuku nama mereka.
Aku pernah berkata pada orang-orang muda di sebuah ruangan
bahwa setiap penulis pertama-tama harus menjadi seorang pengamat yang baik,
meskipun aku tak bisa membawa diriku
pada persis di momen itu untuk melihat secara langsung ke dalam matamu.
Bahkan apakah mereka mendengar?
Mungkin aku telah tumbuh lelah dengan nama-nama–ilusi dominasi.
Burung pohon dan selimut hijau akan bergerak menjadi diri mereka
di hadapan lelaki-lelaki dengan buku-buku besar mereka yang ditarik kuda.
Di hadapan yang paling pertama dengan kenangan-kenangan mitokondris
es. Es sangat banyak dan banyak nama untuk mereka.
Dan, ngomong-ngomong, sang burung berhenti bernyanyi
dan telah terbang dari pohon di dalam taman,
sang lelaki berpikir angin tergesa melaluinya
seakan-akan lari menjauh.

Bird Song (The New Yorker – Oktober 6th 2025)
Jose Antonio Rodriguez (1971- )

Thursday, September 18, 2025

Burung-Burung Gagak

Di Jepang, di Seattle, Di Indonesia–di sanalah mereka berada–
masing-masing bersuara keras dan lapar,
melintasi sebuah lapangan, atau duduk
di atas kemacetan, atau jatuh

ke halaman rumput beberapa kuil ke matahari itu sendiri
atau berjalan dengan kaki-kaki kuat,
seperti seorang tuan tanah. Aku kira
mereka tak mencemburui siapapun atau apapun–

tidak harimau, tidak kaisar,
bahkan tidak sang filsuf.
Mengapa mereka harus cemburu?
Angin adalah teman mereka, setidaknya pohon adalah rumah.

Tidaklah melodi, yang telah mereka temukan, dibutuhkan.
tidaklah mereka punya langit-langit yang halus;
tanpa ragu mereka akan makan
apapun yang bisa engkau pikirkan–

jagung, tikus, hamburger-hamburger lama–
menelan dengan semacam teriak dan nafsu
tak seorang pun tahu apakah itu adalah pamer
atau doa terimakasih terdalam. Kala matahari terbit, ketika aku berjalan keluar,

Aku melihat mereka di pohon-pohon, atau di atas gedung-gedung,
seceria para malaikat, atau para pencuri kerja kecil
mereka yang, semalam lagi, sukses–
dan seperti semua kesuksesan, mengalihkan pikiran-pikiranku pada diriku sendiri.

Haruskah aku menuju sebuah kehidupan yang lebih sederhana?
Sudahkah ambisiku pantas?
Sudahkah angin, selama bertahun-tahun, juga berbicara padaku?
Di suatu tempat, di antara semua pikiran-pikiranku, ada jalan setapak sempit.

Ia menarik, tetapi siapa bisa mengikutinya?
Perlahan pagi yang penuh
membawa pada kita persamaannya yang misterius dan tercinta.
Kemudian, di cabang-cabang batang dari pusat gelapnya mereka,

semakin lebih luwes dan cerah,
berkilau dari matahari yang terbakar dan melebur di sayap burung-burung,
seakan, cuek dan nyaman,
mereka mendamba, mereka bertengkar di cahaya warna merah, yang luas.

Crows (The New Yorker, September 20th 2000)
Mary Oliver (1935-2019)

Thursday, September 4, 2025

Ichthys

Sedalam pinggang dalam sebuah arus pada suatu hari
Aku menangkap sebuah kilasan
pada cermin sebuah mata jeli
yang membelit menusuk kami berdua
ketika melawan kail yang terkubur
Permukaan sungai dalam
ketenangannya dan luncuran bengkak
mengalir hitam dan berat
di lingkar kaki-kakiku,
mengisap sepatu botku,
melemparkannya kembali
apa yang tampak pada riaknya
berlalu surut, mengerlip
pikiran-pikiran ke dalam
aliran tahun-tahun yang telah lewat–
rasa-rasa bersalah yang keras digigit, luka-luka jalan keluar–
mendorong melalui hati,
meracuni darah, mencuat keluar.
Dalam udara musim panas yang indah,
di antara gelincir dan terjepit
ia terkesiap, dan terlintas
wajah kematian,
tak pas untuk kekacauan sementara ini,
dan kemudian, sebagaimana bahwa, kembali
ke antara dedaunan yang tenggelam,
batu-batu berguling, langit tinggi, rumput cerah–
berkilauan, rapuh seperti kaca.

Ichthys (The New Yorker, August 25th 2025)
Jay Fielden



 

Thursday, August 28, 2025

Kita Akhirnya Bermain

 Nada akar keberadaan kita menjadi malamgerah ini di dalam

ranjang bertingkat anak lelaki

Ketidaksesuaian burunghantu rasasekeliling sinarmatahariberpeluh dan bulanlampusorot

insomnia kedua-duanya.

Perselisihan ala mustang (tulangkering-betis) kita melompati spiralmata

pada matahariteh dan gula.

<< berjaga-jagalah untuk dirimu sendiri aku bisa membunuhmu lagi dengan mudah >>

Sistol diastol tak manis tak terkekang (dan kembali lagi)

(dan seterusnya)

Dari penghasut vs yang diperburuk; tak terkekang-yang di arteri

saudaramemukul

pada tendang-tinju (dan cekik-mencekik dan menangkis) yang bermain di permainan.

We Being Ludere (poets.org, August 28th 2025)
Atsuro Riley

Wednesday, August 20, 2025

Eros

             Antara membiarkan pergi dan membebaskan

Ada sebuah perbedaan yang kukira
             itu adalah aku. Tak diberkati. Arogan. Berbisa
seperti runcing tunjuk. Surai kuda mengendur. Busur
            Gemetar dari jauh yang dalam. Udara memotong
Tanpa jejak. Ada keyakinan, sebuah tarikan
            Mendekat, mendekat, cukup dekat, kemudian
Terlalu dekat. Berharap, merindu, melanjutkan–
            Ke dalam bayangan kubawa diriku
Sejauh yang aku mampu. Jiwa. Tanah. Sedang ternoda
            Kubuktikan aku bisa melangkah ke dalam sekali
Lagi. Hutan. Gunung. Gurun. Darah,
            sumber daya dan penolongku. Sementara dalam perang
Di pikiranku, aku pergi lebih jauh ketimbang dari yang kupikirkan–
            Pemanah, aku adalah kesalahan-kesalahanku. Panahlah, Aku salah
Dalam hasrat. Apakah aku adalah targetku? Tak mengharap belas kasihan.
            Demi kebaikan atau keburukan, apapun yang terjadi,
aku akan lebih baik. Aku akan lebih buruk–
            Ayo pergi. Tak seorang pun mengharapkan kita. Bersiaplah.
Pergi adalah satu jamnya hantu di atas teluk
            Seperti para lumba-lumba, sebuah kenangan, merobek permukaan
Dari kedalaman tak dikenal, tertahan di antara
            Tanah dan apakah dan seandainya dan laut dan
Aku menduganya udara. Sebuah momen yang bukan
            Ini, kami nyalakan. Cemerlang. Temui aku
Di pesisir. Aku bertujuan dengan hidupku untuk membuktikan
            Kita bisa lebih gembira ketimbang orang-orang yang kita cintai.
Yang membedakan adalah jarak, menyingsing. Berselisih jalan. Terbebas–
Eros (Poets.org, August 20th 2025)
Paul Tran