Lelaki kurus tak berbaju
memancing di
tepi sungai. Perempuan
di
sampingnya, merokok.
Dua anak. Yang satu
melihatku sedih.
Yang lainnya dengan benih
kebencian. Lalu,
di manakah
sang angsa? Masih
di bawah-
sungai di bagian yang
bergolak.
Apa yang akan kulakukan
dengan
orang-orang di samping
sungai yang
sama ini,
mata mereka mengikuti
ku seperti sebuah
celah garis
rambut.
Temanku
yang menghubungiku
semalam untuk memberitahu
soal
tetangga-tetangga yang kasar
yang
melihatnya
dengan rasa jijik.
Tetanggaku
yang melihat
ku dengan
jijik.
Semua orang yang
tidak
tahu
tentang
sang angsa yang berpusar
di sungai
yang kasar.
Semua
lelaki yang
melecehkanku yang kini
menikah punya
anak. Bahkan
yang paling kasar,
yang
punya bekas luka
dari leher sampai pinggulnya,
karena hatinya
terlalu sederhana dan
harus digerakkan.
Mereka tak bisa menemukan
hati
manusia,
maka mereka
memasukkan satu
kawanan lebah.
Seorang lelaki lainnya yang
memanggilku
ke
kantornya
Yang berteriak padaku
sambil dia
menarik
bulu
matanya maka
setiap malam
mejanya
terlihat
seperti ladang gandum.
Bahkan, aku sudah tahu
pohon-pohon memiliki
hati.
Aku mengisi semua
persegi panjang
di kertas
kerja
dengan pohon-pohon.
Pada akhir
tahun, aku punya
4.223 pohon.
Tapi tak ada garis
pepohonan.
Maka aku berhenti
dari pekerjaanku.
Dari
kejauhan,
jembatan yang
baru saja
kuseberangi. Jembatan
yang sama sang
angsa
melintas
di bawahnya. Atau
mungkin
sang angsa baru saja
melintas di atas kepalaku.
Bagaimana
bisa angsa di
langit adalah penyelamat
tetapi di sungai
menjadi
sesuatu untuk diselamatkan.
Bagaimana
bisa
di negara ini, tubuhku
robek dari
cahaya matahari.
Bagaimana bisa di tanah
yang berbeda,
tubuhku dipelajari oleh
para ahli
burung.
Ada sangat
banyak hal
kebencian tak punya
urusan dengan: jembatan,
lonceng di
kejauhan, malam.
Ada sebuah teori
bahwa kebencian rapat
berhubungan
dengan cinta.
Bahwa benci
adalah tiruan dari
cinta.
Teori yang lain
cinta adalah
lawan dari
depresi. Karena itu mungkin
pekerjaan
terburuk di
dunia adalah menjadi seorang penyair.
Karena setiap
penyair
berusaha untuk dicintai
oleh masa
depan.
Karena setiap puisi
berusaha menjadi
sebuah puisi cinta.
The Swan
(The Yale Review–June 9th 2025)
Victoria Chang (1970 - )