Thursday, April 24, 2008

Waktu Ibu Mati


padahal, kemarau menjauh


di sudut siang lengang,

tersebab tangis tertahan

pohon yang sebatang itu

meluruhkan segala daun

sebagai sapanya padaku:

............................

kutahu

yang mati di detik lalu

ialah ibumu


kelak kau rindu

mencucuplah

pada puting susu kucing

yang kemarin petang

menumpang beranak

di gelap sebab


Jakarta, April 23 2008

Qurban


mati dibantai seekor lembu
setiap gubuk boleh menunggu
usai setahun lalu

maka perempuan-perempuan pun berjaga di bibir pintu, menunggu. mendadak, pucat kelabu yang menggayut di bibir mereka, menyirah. darah meluncur membentuk sungai, berbuih, berjeram. dengan sorak yang gempita, mereka biari buah dadanya terbujur dan menari. liur bayi yang menyembilu, kini mereka tangguk dengan berani

”nak, menjelang petang, rendang kan masak. menjelang tidur malam, cucuplah aku, reguk sebuasmu. ampuni dosaku olehnya nak. sepanjang musim telah aku seret doa hingga ke pucuk, biar dekat ke fajar muda, dekat ke langit. isyarat baik nak, di balik langit, ada sebuah mata lebam yang kebetulan saja sedang riang mengedipkan matanya: ia sepakat menyuling lembu di lambungku jadi inti, jadi nadi, yang kan kau temui ketika bibirmu mengendus puting”

sehari saja,
pesta sepanjang jalan, bendera-bendera tua dikibarkan

di tempat itu, matahari selalu keberatan menyerahkan siang. sebab, kantuk lebih baik, tidur lebih agung, malam mujarab membalur ngilu
di tempat itu, tikus lebih rajin nyanyi ketimbang biduan
di tempat itu, malam terlalu cepat punah untuk suara kunyah yang capak

mati dibantai seekor lembu
lambung yang dikutuk lesu
dibuatnya terkejap-kejap nafsu



Jakarta, Desember 2007

Wajah Gerakan Perempuan Setelah Satu Dekade Reformasi


Siapa yang bisa menyangkal dua hal adanya keterlibatan Kodim (Komando Distrik Militer-red) dalam menyelesaikan kasus pemogokan buruh tempat Marsinah bekerja dan hancurnya rahim Marsinah yang menurut autopsy hanya bisa terjadi jika dilakukan oleh ledakan senjata melalui lubang vagina.

Kalimat di atas dikutip dari makalah yang ditulis aktivis gerakan perempuan Indonesia era 1990-an, Tati Krisnawaty, yang dipresentasikan dalam diskusi publik bertajuk “ 10 Tahun Reformasi, Quo Vadis Gerakan Perempuan Indonesia?” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (29/2).

Diskusi yang diselenggarakan Institut Ungu dan Yayasan Pitaloka ini juga merupakan bagian rangkaian Pentas Teater Monolog “Perempuan Menuntut Malam” dan penyambutan Hari Perempuan Se-dunia pada 8 Maret.

Yang menarik adalah mengapa Tati masih memuat kematian Marsinah setelah gulir reformasi meruntuhkan rezim orde baru mendekati 10 tahun? Apalagi, sejumlah persoalan kontemporer mengenai perempuan yang belum tertangani pemerintah – seperti kasus buruh migran - terus menyita perhatian publik dan tentunya gerakan perempuan sendiri.

“Memperingati hari perempuan dunia lebih baik dilihat dari sejarah (gerakan perempuan) dan sisi personal aktivisnya,” ungkap Tati dalam diskusi yang dimoderatori Tomy F Awuy itu. Pernyataan itu mengisyaratkan usaha untuk merefleksikan pencapaian gerakan perempuan sampai hari ini dengan melongok kembali sejarahnya.

Kematian Marsinah, dalam hal ini, adalah salah satu tonggak sejarah gerakan perempuan. Tati merasa perlu menceritakan kembali kepiluan kematian Marsinah sebagai korban langsung dari kekejaman orde baru demi mencermati kembali gerakan perempuan dalam 10 tahun keruntuhan rezim itu.

Lalu bagaimana gerakan perempuan setelah satu dekade sejak 1998 itu? Aktivis yang tergabung dalam Solidaritas Perempuan itu tak segan mengaku bahwa gerakan perempuan menerima kekalahan telak.

“Kekalahan telak perempuan adalah adanya Perda-Perda (peraturan daerah) yang diskriminatif (terhadap perempuan), RUU (rancangan undang-undang) anti pornografi, kemiskinan di desa-desa yang menyebabkan perempuan menjadi TKW ke luar negeri, dan belum sinergisnya hubungan antar gerakan perempuan,” papar Tati.

Akibatnya, kata Tati, tak jarang publik salah memahami dengan menilai bahwa semua persoalan itu adalah tanggung jawab gerakan perempuan. Sehingga sejumlah kegagalan diarahkan kepada gerakan perempuan. Padahal, pemerintahlah yang seharusnya dibidik untuk segera mengatasinya.

Apalagi, jelas Taty, di samping kekalahan telak, gerakan perempuan sebenarnya memperoleh keberhasilan yang disebutnya dengan “kemenangan-kemenangan kecil.” “Salah satu kemenangan kecil adalah adanya undang-undang penghapusan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga),” ujar Tati. Kemenangan kecil itu juga ditandai juga dengan diperbincangkannya isu-isu hak perempuan di ranah publik.

Tidak hanya itu, gerakan perempuan juga melakukan eksperimentasi perjuangan tanpa aksi massa - berbeda dengan demonstrasi oleh gerakan perempuan di New York satu abad lalu yang menginspirasi gerakan perempuan di seluruh dunia. Tati mengatakan, eksperimen itu yang melahirkan Komisi Nasional Perempuan.

Untuk mengatasi kekalahan dan mengupayakan “kemenangan kecil” menjadi “kemenangan besar”, Tati mengingatkan perlunya sinergitas antar gerakan perempuan. Dan semangat hari perempuan yang akan disongsong tersebut sangat relevan untuk mewujudkan arah gerakan perempuan.

Perempuan VS Kebudayaan

Kebudayaan yang hidup di dunia dan di Indonesia tidak menyediakan tempat untuk hak-hak perempuan. “Yang ada itu perempuan versus kebudayaan. Penindasan perempuan terjadi karena adanya sebuah kultur (yang menyebabkannya),” kata novelis Mariana Amirudin.

Berbeda dengan Tati, Mariana Amirudin yang juga salah satu nara sumber dalam diskusi tersebut, menyorot gerakan perempuan dari sudut pandang kebudayaan. Dengan mengutip teoritisi sastra Hellen Cixous, Mariana menyatakan kebudayaan “tanpa perempuan” itu tercermin dalam bahasa.

“Kekuasaan ada pada pemaknaan (oleh) laki-laki, perempuan tidak termasuk dalam wilayah kebudayaan,” ungkap Direktur Yayasan Jurnal Perempuan itu. Mariana pun mengusulkan agar perempuan membentuk kebudayaannya sendiri dengan menempatkan diri dalam sejarah.

Caranya? “Tulislah dirimu sendiri,” kata Mariana mengutip Cixous. Sebagai novelis, agaknya Mariana mengusulkan ini dengan kesadaran bahwa tulisan dan bahasa bisa membentuk sejarah. Dan sejarah, merupakan alat untuk menyuarakan hak-hak manusia, termasuk perempuan.

Namun usul Mariana itu terganjal ketika salah seorang penanya, Yuni, menyatakan bahwa di tingkat akar rumput, kesadaran perempuan untuk menulis belum semapan perempuan yang disebut Yuni sebagai “perempuan elite.” “Jangankan menulis, membaca saja mereka susah,” ungkap Yuni.

Mau tidak mau, kata Mariana, perempuan di tingkat elite yang memperoleh akses pendidikan dan informasi itulah yang memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan perubahan. Namun demikian, dia mengatakan, kesenjangan ini harus diselesaikan dengan membangun sinergi antara kelompok intelektual dan akar rumput.

Terlebih lagi, pasca keruntuhan orde baru, kesenjangan itu juga dipengaruhi dengan setumpuk masalah perempuan yang mulai terkuak dan menjadi tantangan yang semakin berat bagi gerakan perempuan. “Karena kebebasan yang terbuka pasca orba, perempuan kocar-kacir mengekspresikan kebebasan,” kata Mariana.

Selain itu juga, krisis ideologi sebagai arah gerakan gerakan perempuan ikut mewarnai kesenjangan itu. “Yang paling kurang adalah elaborasi intelektual,” kata Tati. Akibatnya, aktivis perempuan cenderung terkonsentrasi hanya pada basis massa, tanpa memperhatikan ideologi. “Harus ada keterbukaan antara gerakan massa dan intelektual,” tambah Tati.

Jika kesenjangan tersebut bisa diatasi, gerakan perempuan memiliki keniscayaan untuk membentuk sejarah tidak hanya di Indonesia, namun di dunia. Boleh jadi kini gerakan perempuan dikelilingi persoalan TKW yang tak henti-hentinya memberikan kabar suram. Namun gerakan perempuan tetap menjadi pihak terdepan untuk mengingatkan bahwa tugas memperbaiki nasib perempuan tidak hanya berada di pundak perempuan, tapi juga laki-laki.

artikel ini dapat disimak di www.vhrmedia.com

Bising


Pada suatu malam saya berdiri menunggu bis ke Pancoran. Tepat di seberang saya adalah gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat. Baru saja saya meninggalkannya setelah saya diperintahkan untuk meliput sidang paripurna soal Rancangan Undang-Undang Pemilu yang akan diterapkan pada 2009 nanti.

Masih terngiang di kepala saya betapa bisingnya gedung itu usai sidang . Sebab sidang yang seharusnya melakukan voting itu ditunda lagi setelah sebelumnya juga sempat ditunda-tunda. Tidak semua anggota parlemen yang sepakat dengan penundaan itu. Maka, yang muncul adalah bunyi komentar yang saling bertolak belakang di antara sesama mereka.

Saya tidak mau berlama-lama dalam kebisingan itu. Agaknya kebisingan di jalanan Jakarta yang super sibuk lebih bisa dinikmati ketimbang kebisingan di dalam gedung parlemen. Di parlemen, di dalam kebisingan itu terlalu banyak rahasia. Sedangkan di jalanan, kita adalah rahasia itu sendiri.

Dan bus kota trayek Grogol-Cililitan menghampiri saya. Mungkin karena sudah agak larut malam, sekitar pukul 22.00 wib, bis itu agak santun menjemput saya. Tidak seperti saat pagi atau sore menjelang malam, keganasan bus kota itu menampakkan wajah masamnya.

Beruntung, bus yang senantiasa padat itu tidak penuh. Saya mendapat tempat duduk. Dan saya bertemu dengan sebuah lanskap klise khas Jakarta: seorang anak mengguncang-guncangkan botol plastik berisi beras sambil menyanyikan sebuah lagu yang sedang populer di televisi.

Mungkin karena klise, saya sama sekali tidak tersentuh atau iba dengan bocah lelaki dekil yang masih menyala kejernihan kekanak-kanakannya itu. Satu lagu saja yang dinyanyikannya. Dan saya tidak mengeluarkan sepeser pun untuknya. Dia, si bocah, juga seperti tidak terlalu peduli lagi apakah nyanyian sumbangnya itu akan dibayar dengan uang receh oleh saya.

Begitulah Jakarta, penderitaan dan kemiskinan sudah menjadi common sense. Niscaya, warga Jakarta kebingungan jika secara tiba-tiba kemiskinan, kriminalitas, dan kemacetan di ibu kota Indonesia ini tiba-tiba raib begitu saja. Dan tanpa disadari, alam bawah sadar mereka akan berbicara begini: Mana kemiskinan itu? Mana kriminalitas itu? Mana kemacetan itu? Kalau tidak seperti itu bukan Jakarta namanya!”

Penderitaan dan kemiskinan milik Jakarta itu, karena sudah terlampau sering kita saksikan, sudah tidak lagi dramatis. Ini melumpuhkan hasrat warga Jakarta untuk mau melihat orang lain di luar kita. Orang-orang pinggiran itu, sama sekali tidak punya akses untuk menampilkan diri sebagai bagian dari Jakarta dengan kesadarannya sendiri.

Sedangkan, di gedung parlemen yang saya tinggalkan itu, anggotanya berlelah-lelah membunyikan suara yang bertolak belakang sebagai buntut dari istilah seksi yang kini melanda masyarakat kita: demokrasi. RUU Pemilu yang mereka ributkan itu pun sebenarnya adalah demi rakyat juga, demi bocah pengamen yang tidak mampu membuat saya iba itu.

Ah, terlalu naïf dan klise membanding-bandingkan jalanan dengan parlemen. Tapi saya tetap merasa lebih nikmat berada di tengah kebisingan jalanan ketimbang kebisingan di parlemen. Apalagi, ketika bus yang saya tumpangi hampir sampai di tempat yang saya tuju. Ketika saya beranjak ke pintu bagian belakang bus, saya lagi-lagi melihat bocah pengamen tadi. Dia duduk berdua dengan seorang kawan sebayanya, mungkin abangnya. Mereka tidur, dari tidur mereka, saya yakin tidur mereka nyenyak. Sebab, tidak sedikit pun mereka terjaga meski laju bus menggoyang-goyang leher mereka.

Kali ini saya tidak bisa berbohong, saya tersentuh dengan dua bocah itu. Sebab, seingat saya, saya tidak pernah lagi memperoleh tidur selelap tidur mereka saat itu.

Surat Kepada Sahabat: Wishnu & Ibro


Jakarta, dua pekan sampai 3 April malam 2008

Entah bagaimana harus mengungkapkannya. Sebab, tidak segala sesuatu itu harus diungkapkan. Hanya saja, dalam kegundahan, betapa hidup ini mendekatkan wajahnya kepadaku, dan aku pun bersidekap dengannya. Yang terkenang, kini terkenanglah.

Memang, aku ini adalah salah seorang yang melankolik. Aku baru saja selesai membaca sebuah karangan yang menggairahkan “dendam” disebabkan satu kata: kemiskinan. Dalam melankolikku, kemiskinan itu, jika saja tidak diimbangi dengan kehendak untuk mencari tahu kebenaran dunia yang selalu retak dan meretakkan diri, akan membuat manusia terjerat dalam inferiority complex.

Mungkin kita sudah berhasil mangkir dari perasaan “miskin” itu dengan membiarkan diri tenggelam dalam perburuan kebenaran-kebenaran yang membuat kita terus-menerus menyangsikan keadaan. Dengan terus berjalan di pinggir-pinggir ilmu pengetahuan, (camkan! kita masih di pinggir!) luka kemiskinan kita itu tidak akan membuat kita luka sebagaimana luka yang membasahi kemiskinan di negeri mahsyur selatan Asia.

Tapi itulah kawan, agaknya karena aku terlalu melankolik, sehingga segala sesuatunya seperti kulihat sebagai drama. Kemiskinan itu, lagi-lagi, adalah penyebabnya. Dulu, kukira apa yang diceritakan orang-orang bijak tentang kemiskinan itu memantul kembali ketika kedatangannya sudah berada di depan keningku yang legam. Kini, aku harus memeluknya dengan menung.

Itu sebabnya, aku takut membagi kemungkinan hari depan dengan suasana yang aku miliki saat ini. Lidah kita bahkan patah untuk sekedar menyebut kata “kelak”. “Kelak nanti…” dan kita tak sanggup meneruskannya. Kenyataan telah membuat umur kita terus bergerak, dan menyebabkan kita semakin mengunci kata-kata, semakin diam, semakin bergerak ke inti diri, ke inti bumi.

Dan tidak ada lagi yang patut kusayangi dengan cinta yang berlebih selain dari pada diriku sendiri. Kuharap kalian pun demikian. Biarkan kita menelan cinta kita kepada diri sendiri sampai kita temukan sosok-sosok lain dalam diri kita itu. Perempuan? Ya, barangkali hari ini kita masih menyebutnya dengan perempuan. Tapi sesungguhnya, kita hanya menyebutnya adalah “aku dalam kau, dan kepada kau kucari aku.”

Di depan sebuah ilusi, katakanlah misalnya di depan gambar pria muda yang kerontang dalam sebuah film bisu, aku akan bertegun-tegun. Ke dalamnya, kalau bisa, aku berlibur untuk sekian waktu. Sebab, terlalu banyak kenyataan-kenyataan dramatis dalam sebuah film yang hendak kucicip, aku ingin menjadi ilusi seperti tokoh di dalam film. Sebentar saja, kalau bisa, sebelum kita kembali lagi genggam-menggenggam dengan kemiskinan.

Beberapa waktu lalu di Kuningan, tepat di depan Kedutaan besar China, aku melihat beberapa biksu muda di berunjuk rasa menuntut pembebasan Tibet. Aku terkesan. Sebab, semuda itu, cahaya wajah mereka seperti tak mungkin berbicara kotor dan bertindak kasar. Mereka begitu tenang dan dalam, meski aku yakin, mereka tetap saja anak muda.

Kiblat sudah disediakan untuk kita! Dan tanpa sadar kita terus berkeliar membunuhnya. Sadar bahwa kiblat itu tersedia, sedang kegelisahan tak punah jua, ialah simbol betapa mudanya kita.


Ervin

Friday, April 18, 2008

Cemaskanlah Sayang


“cemaskanlah sayang!” bisikmu saat sedang kugilakan bibir Siberiamu yang ungu pasi bagai Maria Sharapova yang tawa yang kecut. kau menjauh dan mulai berkisah tentang lenguh malam: saat payudara tak lagi mampu meredam duka raya para bayi

lantas sukma menjelma cadascadas

“cemaskanlah sayang!” dan musim hujan melanda lagi dalam musim yang ingkar pada perangai matahari. sebab telah dibungkusnya mulut tuhan agar henti mengulang firman: bahwa setiap hujan setiap musim adalah air mataNya.

berapakah mesti kita kumpulkan jarijari kita demi menghitung dukadukaduka di setiap hujan? duka siapa kini yang tak berbanding?

Jakarta, Desember 2007

Dalam Risau Kita Bercinta


di padang belantara

kau jemput bibirku kau tabuh dadaku

katamu,

angin buruk menjelang hujan tengah malam enyahlah! jangan hirau!

gelinjang kian buta, ilalang layu lambai namun pawai janin yang merangkak di jalan raya memendam o’ak-o’ak dan mengubak tukak gema menggema menggempa gendang telinga

mengapa liurmu tiba-tiba hambar? mengapa dekapmu tiba-tiba tak kekar?

sungguh! hentikan basabasi! janin yang terus menyayat itu mulai berkuku harimau dan para ayahibunya meraung menyuruh pulang dengan mata bersampul basah bendera

hibuk mengejar-ngejarku

Jakarta, Desember 2007