Pada suatu malam saya berdiri menunggu bis ke Pancoran. Tepat di seberang saya adalah gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat. Baru saja saya meninggalkannya setelah saya diperintahkan untuk meliput sidang paripurna soal Rancangan Undang-Undang Pemilu yang akan diterapkan pada 2009 nanti.
Masih terngiang di kepala saya betapa bisingnya gedung itu usai sidang . Sebab sidang yang seharusnya melakukan voting itu ditunda lagi setelah sebelumnya juga sempat ditunda-tunda. Tidak semua anggota parlemen yang sepakat dengan penundaan itu. Maka, yang muncul adalah bunyi komentar yang saling bertolak belakang di antara sesama mereka.
Saya tidak mau berlama-lama dalam kebisingan itu. Agaknya kebisingan di jalanan Jakarta yang super sibuk lebih bisa dinikmati ketimbang kebisingan di dalam gedung parlemen. Di parlemen, di dalam kebisingan itu terlalu banyak rahasia. Sedangkan di jalanan, kita adalah rahasia itu sendiri.
Dan bus kota trayek Grogol-Cililitan menghampiri saya. Mungkin karena sudah agak larut malam, sekitar pukul 22.00 wib, bis itu agak santun menjemput saya. Tidak seperti saat pagi atau sore menjelang malam, keganasan bus kota itu menampakkan wajah masamnya.
Beruntung, bus yang senantiasa padat itu tidak penuh. Saya mendapat tempat duduk. Dan saya bertemu dengan sebuah lanskap klise khas Jakarta: seorang anak mengguncang-guncangkan botol plastik berisi beras sambil menyanyikan sebuah lagu yang sedang populer di televisi.
Mungkin karena klise, saya sama sekali tidak tersentuh atau iba dengan bocah lelaki dekil yang masih menyala kejernihan kekanak-kanakannya itu. Satu lagu saja yang dinyanyikannya. Dan saya tidak mengeluarkan sepeser pun untuknya. Dia, si bocah, juga seperti tidak terlalu peduli lagi apakah nyanyian sumbangnya itu akan dibayar dengan uang receh oleh saya.
Begitulah Jakarta, penderitaan dan kemiskinan sudah menjadi common sense. Niscaya, warga Jakarta kebingungan jika secara tiba-tiba kemiskinan, kriminalitas, dan kemacetan di ibu kota Indonesia ini tiba-tiba raib begitu saja. Dan tanpa disadari, alam bawah sadar mereka akan berbicara begini: Mana kemiskinan itu? Mana kriminalitas itu? Mana kemacetan itu? Kalau tidak seperti itu bukan Jakarta namanya!”
Penderitaan dan kemiskinan milik Jakarta itu, karena sudah terlampau sering kita saksikan, sudah tidak lagi dramatis. Ini melumpuhkan hasrat warga Jakarta untuk mau melihat orang lain di luar kita. Orang-orang pinggiran itu, sama sekali tidak punya akses untuk menampilkan diri sebagai bagian dari Jakarta dengan kesadarannya sendiri.
Sedangkan, di gedung parlemen yang saya tinggalkan itu, anggotanya berlelah-lelah membunyikan suara yang bertolak belakang sebagai buntut dari istilah seksi yang kini melanda masyarakat kita: demokrasi. RUU Pemilu yang mereka ributkan itu pun sebenarnya adalah demi rakyat juga, demi bocah pengamen yang tidak mampu membuat saya iba itu.
Ah, terlalu naïf dan klise membanding-bandingkan jalanan dengan parlemen. Tapi saya tetap merasa lebih nikmat berada di tengah kebisingan jalanan ketimbang kebisingan di parlemen. Apalagi, ketika bus yang saya tumpangi hampir sampai di tempat yang saya tuju. Ketika saya beranjak ke pintu bagian belakang bus, saya lagi-lagi melihat bocah pengamen tadi. Dia duduk berdua dengan seorang kawan sebayanya, mungkin abangnya. Mereka tidur, dari tidur mereka, saya yakin tidur mereka nyenyak. Sebab, tidak sedikit pun mereka terjaga meski laju bus menggoyang-goyang leher mereka.
Kali ini saya tidak bisa berbohong, saya tersentuh dengan dua bocah itu. Sebab, seingat saya, saya tidak pernah lagi memperoleh tidur selelap tidur mereka saat itu.