Tuesday, June 10, 2008
Sapa
hai masa depan,
bagaimanakah kabarmu
setelah kau tampar bibirku
hingga berdarah pecah!
Jakarta, Juni 2008
Thursday, April 24, 2008
Waktu Ibu Mati
padahal, kemarau menjauh
di sudut siang lengang,
tersebab tangis tertahan
pohon yang sebatang itu
meluruhkan segala daun
sebagai sapanya padaku:
............................
kutahu
yang mati di detik lalu
ialah ibumu
kelak kau rindu
mencucuplah
pada puting susu kucing
yang kemarin petang
menumpang beranak
di gelap sebab
Jakarta, April 23 2008
Qurban
mati dibantai seekor lembu
setiap gubuk boleh menunggu
usai setahun lalu
pesta sepanjang jalan, bendera-bendera tua dikibarkan
di tempat itu, tikus lebih rajin nyanyi ketimbang biduan
di tempat itu, malam terlalu cepat punah untuk suara kunyah yang capak
lambung yang dikutuk lesu
dibuatnya terkejap-kejap nafsu
Jakarta, Desember 2007
Wajah Gerakan Perempuan Setelah Satu Dekade Reformasi
Siapa yang bisa menyangkal dua hal adanya keterlibatan Kodim (Komando Distrik Militer-red) dalam menyelesaikan kasus pemogokan buruh tempat Marsinah bekerja dan hancurnya rahim Marsinah yang menurut autopsy hanya bisa terjadi jika dilakukan oleh ledakan senjata melalui lubang vagina.
Kalimat di atas dikutip dari makalah yang ditulis aktivis gerakan perempuan Indonesia era 1990-an, Tati Krisnawaty, yang dipresentasikan dalam diskusi publik bertajuk “ 10 Tahun Reformasi, Quo Vadis Gerakan Perempuan Indonesia?” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (29/2).
Diskusi yang diselenggarakan Institut Ungu dan Yayasan Pitaloka ini juga merupakan bagian rangkaian Pentas Teater Monolog “Perempuan Menuntut Malam” dan penyambutan Hari Perempuan Se-dunia pada 8 Maret.
Yang menarik adalah mengapa Tati masih memuat kematian Marsinah setelah gulir reformasi meruntuhkan rezim orde baru mendekati 10 tahun? Apalagi, sejumlah persoalan kontemporer mengenai perempuan yang belum tertangani pemerintah – seperti kasus buruh migran - terus menyita perhatian publik dan tentunya gerakan perempuan sendiri.
“Memperingati hari perempuan dunia lebih baik dilihat dari sejarah (gerakan perempuan) dan sisi personal aktivisnya,” ungkap Tati dalam diskusi yang dimoderatori Tomy F Awuy itu. Pernyataan itu mengisyaratkan usaha untuk merefleksikan pencapaian gerakan perempuan sampai hari ini dengan melongok kembali sejarahnya.
Kematian Marsinah, dalam hal ini, adalah salah satu tonggak sejarah gerakan perempuan. Tati merasa perlu menceritakan kembali kepiluan kematian Marsinah sebagai korban langsung dari kekejaman orde baru demi mencermati kembali gerakan perempuan dalam 10 tahun keruntuhan rezim itu.
Lalu bagaimana gerakan perempuan setelah satu dekade sejak 1998 itu? Aktivis yang tergabung dalam Solidaritas Perempuan itu tak segan mengaku bahwa gerakan perempuan menerima kekalahan telak.
“Kekalahan telak perempuan adalah adanya Perda-Perda (peraturan daerah) yang diskriminatif (terhadap perempuan), RUU (rancangan undang-undang) anti pornografi, kemiskinan di desa-desa yang menyebabkan perempuan menjadi TKW ke luar negeri, dan belum sinergisnya hubungan antar gerakan perempuan,” papar Tati.
Akibatnya, kata Tati, tak jarang publik salah memahami dengan menilai bahwa semua persoalan itu adalah tanggung jawab gerakan perempuan. Sehingga sejumlah kegagalan diarahkan kepada gerakan perempuan. Padahal, pemerintahlah yang seharusnya dibidik untuk segera mengatasinya.
Apalagi, jelas Taty, di samping kekalahan telak, gerakan perempuan sebenarnya memperoleh keberhasilan yang disebutnya dengan “kemenangan-kemenangan kecil.” “Salah satu kemenangan kecil adalah adanya undang-undang penghapusan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga),” ujar Tati. Kemenangan kecil itu juga ditandai juga dengan diperbincangkannya isu-isu hak perempuan di ranah publik.
Tidak hanya itu, gerakan perempuan juga melakukan eksperimentasi perjuangan tanpa aksi massa - berbeda dengan demonstrasi oleh gerakan perempuan di New York satu abad lalu yang menginspirasi gerakan perempuan di seluruh dunia. Tati mengatakan, eksperimen itu yang melahirkan Komisi Nasional Perempuan.
Untuk mengatasi kekalahan dan mengupayakan “kemenangan kecil” menjadi “kemenangan besar”, Tati mengingatkan perlunya sinergitas antar gerakan perempuan. Dan semangat hari perempuan yang akan disongsong tersebut sangat relevan untuk mewujudkan arah gerakan perempuan.
Perempuan VS Kebudayaan
Kebudayaan yang hidup di dunia dan di Indonesia tidak menyediakan tempat untuk hak-hak perempuan. “Yang ada itu perempuan versus kebudayaan. Penindasan perempuan terjadi karena adanya sebuah kultur (yang menyebabkannya),” kata novelis Mariana Amirudin.
Berbeda dengan Tati, Mariana Amirudin yang juga salah satu nara sumber dalam diskusi tersebut, menyorot gerakan perempuan dari sudut pandang kebudayaan. Dengan mengutip teoritisi sastra Hellen Cixous, Mariana menyatakan kebudayaan “tanpa perempuan” itu tercermin dalam bahasa.
“Kekuasaan ada pada pemaknaan (oleh) laki-laki, perempuan tidak termasuk dalam wilayah kebudayaan,” ungkap Direktur Yayasan Jurnal Perempuan itu. Mariana pun mengusulkan agar perempuan membentuk kebudayaannya sendiri dengan menempatkan diri dalam sejarah.
Caranya? “Tulislah dirimu sendiri,” kata Mariana mengutip Cixous. Sebagai novelis, agaknya Mariana mengusulkan ini dengan kesadaran bahwa tulisan dan bahasa bisa membentuk sejarah. Dan sejarah, merupakan alat untuk menyuarakan hak-hak manusia, termasuk perempuan.
Namun usul Mariana itu terganjal ketika salah seorang penanya, Yuni, menyatakan bahwa di tingkat akar rumput, kesadaran perempuan untuk menulis belum semapan perempuan yang disebut Yuni sebagai “perempuan elite.” “Jangankan menulis, membaca saja mereka susah,” ungkap Yuni.
Mau tidak mau, kata Mariana, perempuan di tingkat elite yang memperoleh akses pendidikan dan informasi itulah yang memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan perubahan. Namun demikian, dia mengatakan, kesenjangan ini harus diselesaikan dengan membangun sinergi antara kelompok intelektual dan akar rumput.
Terlebih lagi, pasca keruntuhan orde baru, kesenjangan itu juga dipengaruhi dengan setumpuk masalah perempuan yang mulai terkuak dan menjadi tantangan yang semakin berat bagi gerakan perempuan. “Karena kebebasan yang terbuka pasca orba, perempuan kocar-kacir mengekspresikan kebebasan,” kata Mariana.
Selain itu juga, krisis ideologi sebagai arah gerakan gerakan perempuan ikut mewarnai kesenjangan itu. “Yang paling kurang adalah elaborasi intelektual,” kata Tati. Akibatnya, aktivis perempuan cenderung terkonsentrasi hanya pada basis massa, tanpa memperhatikan ideologi. “Harus ada keterbukaan antara gerakan massa dan intelektual,” tambah Tati.
Jika kesenjangan tersebut bisa diatasi, gerakan perempuan memiliki keniscayaan untuk membentuk sejarah tidak hanya di Indonesia, namun di dunia. Boleh jadi kini gerakan perempuan dikelilingi persoalan TKW yang tak henti-hentinya memberikan kabar suram. Namun gerakan perempuan tetap menjadi pihak terdepan untuk mengingatkan bahwa tugas memperbaiki nasib perempuan tidak hanya berada di pundak perempuan, tapi juga laki-laki.
artikel ini dapat disimak di www.vhrmedia.com
Bising
Pada suatu malam saya berdiri menunggu bis ke Pancoran. Tepat di seberang saya adalah gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat. Baru saja saya meninggalkannya setelah saya diperintahkan untuk meliput sidang paripurna soal Rancangan Undang-Undang Pemilu yang akan diterapkan pada 2009 nanti.
Surat Kepada Sahabat: Wishnu & Ibro
Jakarta, dua pekan sampai 3 April malam 2008
Entah bagaimana harus mengungkapkannya. Sebab, tidak segala sesuatu itu harus diungkapkan. Hanya saja, dalam kegundahan, betapa hidup ini mendekatkan wajahnya kepadaku, dan aku pun bersidekap dengannya. Yang terkenang, kini terkenanglah.
Memang, aku ini adalah salah seorang yang melankolik. Aku baru saja selesai membaca sebuah karangan yang menggairahkan “dendam” disebabkan satu kata: kemiskinan. Dalam melankolikku, kemiskinan itu, jika saja tidak diimbangi dengan kehendak untuk mencari tahu kebenaran dunia yang selalu retak dan meretakkan diri, akan membuat manusia terjerat dalam inferiority complex.
Mungkin kita sudah berhasil mangkir dari perasaan “miskin” itu dengan membiarkan diri tenggelam dalam perburuan kebenaran-kebenaran yang membuat kita terus-menerus menyangsikan keadaan. Dengan terus berjalan di pinggir-pinggir ilmu pengetahuan, (camkan! kita masih di pinggir!) luka kemiskinan kita itu tidak akan membuat kita luka sebagaimana luka yang membasahi kemiskinan di negeri mahsyur selatan Asia.
Tapi itulah kawan, agaknya karena aku terlalu melankolik, sehingga segala sesuatunya seperti kulihat sebagai drama. Kemiskinan itu, lagi-lagi, adalah penyebabnya. Dulu, kukira apa yang diceritakan orang-orang bijak tentang kemiskinan itu memantul kembali ketika kedatangannya sudah berada di depan keningku yang legam. Kini, aku harus memeluknya dengan menung.
Itu sebabnya, aku takut membagi kemungkinan hari depan dengan suasana yang aku miliki saat ini. Lidah kita bahkan patah untuk sekedar menyebut kata “kelak”. “Kelak nanti…” dan kita tak sanggup meneruskannya. Kenyataan telah membuat umur kita terus bergerak, dan menyebabkan kita semakin mengunci kata-kata, semakin diam, semakin bergerak ke inti diri, ke inti bumi.
Dan tidak ada lagi yang patut kusayangi dengan cinta yang berlebih selain dari pada diriku sendiri. Kuharap kalian pun demikian. Biarkan kita menelan cinta kita kepada diri sendiri sampai kita temukan sosok-sosok lain dalam diri kita itu. Perempuan? Ya, barangkali hari ini kita masih menyebutnya dengan perempuan. Tapi sesungguhnya, kita hanya menyebutnya adalah “aku dalam kau, dan kepada kau kucari aku.”
Di depan sebuah ilusi, katakanlah misalnya di depan gambar pria muda yang kerontang dalam sebuah film bisu, aku akan bertegun-tegun. Ke dalamnya, kalau bisa, aku berlibur untuk sekian waktu. Sebab, terlalu banyak kenyataan-kenyataan dramatis dalam sebuah film yang hendak kucicip, aku ingin menjadi ilusi seperti tokoh di dalam film. Sebentar saja, kalau bisa, sebelum kita kembali lagi genggam-menggenggam dengan kemiskinan.
Beberapa waktu lalu di Kuningan, tepat di depan Kedutaan besar China, aku melihat beberapa biksu muda di berunjuk rasa menuntut pembebasan Tibet. Aku terkesan. Sebab, semuda itu, cahaya wajah mereka seperti tak mungkin berbicara kotor dan bertindak kasar. Mereka begitu tenang dan dalam, meski aku yakin, mereka tetap saja anak muda.
Kiblat sudah disediakan untuk kita! Dan tanpa sadar kita terus berkeliar membunuhnya. Sadar bahwa kiblat itu tersedia, sedang kegelisahan tak punah jua, ialah simbol betapa mudanya kita.
Ervin
Friday, April 18, 2008
Cemaskanlah Sayang
lantas sukma menjelma cadascadas
“cemaskanlah sayang!” dan musim hujan melanda lagi dalam musim yang ingkar pada perangai matahari. sebab telah dibungkusnya mulut tuhan agar henti mengulang firman: bahwa setiap hujan setiap musim adalah air mataNya.
berapakah mesti kita kumpulkan jarijari kita demi menghitung dukadukaduka di setiap hujan? duka siapa kini yang tak berbanding?