Thursday, January 1, 2009

Obama, atau Amerika?

Sebuah Tinjauan Budaya dan Politik Media Massa

Oleh: Ervin Kumbang

Kemenangannya atas Hillarry Rodham Clinton dalam konvensi calon presiden dari Partai Demokrat, seolah-olah sudah menyediakan kursi tertinggi bagi Barack Hussein Obama di Gedung Putih. Dugaan itu memang jitu, suara kemenangan Obama atas kandidat Presiden dari Partai Republik, John McCain, jauh lebih besar ketimbang saat Obama menaklukkan Hillary.

Jauh sebelum pemilihan 4 November itu diraih Obama, lelaki Afro-Amerika itu sebenarnya sudah lebih dahulu “dianggap” sebagai Presiden AS. Hiruk-pikuk kampanye dan penampilannya yang elegan sebagai kandidat pertama calon presiden dari kalangan minoritas negro AS, membuat masyarakat “mabuk” Obama.

Betapa tidak? Ketika perhatian masyarakat dunia tumpah ruah ke AS, secara tidak sadar sebenarnya ada hal penting yang nyaris dilupakan: George Walker Bush. Di saat Obama menjadi buah bibir, di manakah posisi Bush di benak publik? Ada fakta yang seolah-olah ingin cepat dihapus masyarakat, yaitu Presiden AS saat itu masih di tangan Bush. Secara hukum Bush memang masih Presiden, tetapi secara image, Presiden AS adalah Obama. Padahal, kala itu Obama masih kandidat, belum terpilih.

Sekali lagi, kita harus bertepuk tangan atas kehebatan media massa dalam kampanye pemilihan presiden AS. Media massa mampu mendahului kenyataan. Fenomena ini menunjukkan kemampuan media memanipulasi ruang dan waktu yang diperuntukkan bagi seseorang atau satu kelompok. Kemampuan media massa ini, menjadikan Obama di benak khalayak sudah menjadi Presiden sebelum Bush angkat koper dari Gedung Putih.

Demikianlah khasiat bius Obama yang diterjemahkan media massa mampu menghanyutkan masyarakat bahwa Bush telah mati, dan yang ada kini hanya Obama. Di sisi lain, mungkin ini bisa jadi hasil yang mesti didulang Bush atas kebijakan selama pemerintahannya yang membuat AS dipandang sinis oleh dunia. Namun, percepatan kematian Bush di mata masyarakat dunia sejak hadirnya Obama, niscaya digerakkan terutama oleh media massa .

Dalam sebuah perayaan politik, kemampuan media massa mendahului takdir menjadi salah satu alat untuk memainkan kelompok mana yang harus diangkat ke permukaan dan merebut kuasa. Boleh jadi karena kita bersimpati dengan Obama sebagai wakil dari kelompok yang lama tertindas, kemampuan media massa memanipulasi ruang dan waktu itu kita anggap sebagai sesuatu yang sejalan dengan kehendak batin kita.

Lagi pula, sekali pun kita menyatakan tidak sepakat dengan kelompok yang memainkan kepentingannya dengan menggunakan kemampuan manipulasi ruang dan waktu oleh media massa, tentu kita tidak gampang menentangnya. Sebab, sebagaimana yang kita ketahui dari Antonio Gramsci tentang hegemoni, bagaimana pun media massa memanipulasi kesadaran kita akan situasi seseorang melalui situasi bawah sadar - Karl Marx menyebutnya dengan kesadaran palsu.

Dalam konteks yang lebih luas, jika dicermati lagi kemampuan media massa menciptakan kenyataan simulatif sebenarnya tidak hanya menampilkan image kematian Bush dan Obama adalah Presiden AS sebelum waktu riilnya. Namun, media massa bahkan menciptakan “perbedaan dimensi yang tajam” antara Obama dan Amerika Serikat dalam pemilu itu.

Bagaimana perbedaan dimensi antara Obama dan Amerika Serikat dalam kaitannya sebagai produk media massa ?

Usai kemenangan Obama, salah satu editorial surat kabar terkemuka negeri ini pernah menulis seperti ini, “kali ini kita perlu belajar dari AS.” Pernyataan itu merupakan komentar terhadap pidato McCain yang mengakui kekalahannya atas Obama. Sikap McCain ini dianggap sebagai tindakan yang berjiwa besar dan patut dicontoh oleh politisi lokal yang miskin kepercayaan dari publik.

Coba lihat dengan cermat kalimat “kali ini kita perlu belajar dari AS”. Jika dibaca dalam konteks kerja produksi media massa, kalimat itu sebenarnya sedang berusaha memainkan dan mempertahankan hegemoni AS sebagai status quo. Obama dan McCain tidak lebih dari sekedar objek yang digandakan sedemikian rupa dengan cepat lewat layar televisi. Dengan kata lain, AS menggunakan ilusi Obama dan McCain di media massa untuk mengafirmasi apa yang mereka tampilkan selama ini kepada dunia.

Barangkali, sang penulis editorial itu tidak bermaksud memperkokoh hegemoni itu. Namun,ketika dia melemparkan kalimat itu di media massa, maka terjadi interaksi dua pihak yang berjarak sejarak ribuan mil - satu pihak mungkin sedang berada di Chicago, dan satu pihak lagi mungkin sedang berada di Sukabumi. Transaksi wacana yang hegemonik tersebut memancarkan kedigdayaan sebuah negara di atas negara dunia ketiga yang rentan karena cenderung miskin dan ruwet.

Kalimat perlu belajar dari AS itu mencoba memainkan kesadaran di dalam pikiran masyarakat Indonesia - warga dari sebuah negara yang bagaikan haus demokrasi - bahwa “AS adalah negara yang patut menjadi percontohan praktek demokrasi. Dan dalam demokrasi yang (diklaim) sungguh indah itu sedang bermain bintang utama bernama Barack Obama.

Menurut saya, kalimat itu menunjukkan upaya AS memperbaiki citranya dengan memainkan peran Obama. Bius keterpukauan atas Obama sebagai pribadi, ingin dipergunakan untuk menyembuhkan sinisme dunia (khususnya Indonesia) atas AS. Melalui Obama, AS berupaya mempertahankan kebanggaannya atas demokrasi yang diumbarnya dan kini menjadi keyakinan yang seksi dalam situasi sosial Indonesia pasca orde baru.

Saya ingin menggambarkan sebuah ilustrasi guna menjelaskan perbedaan dimensi Obama dan AS dalam konteks Pemilu AS di benak masyarakat kita. Begini, jika diadakan suatu survei dengan pertanyaan seperti ini: “Apakah Anda yakin Obama bisa menjadikan AS lebih baik? Misalnya, AS mampu pro-aktif dengan membangun rekonsiliasi antara Israel dan Palestina dengan posisi ke dua negara setara?” Saya mengira, sebagian besar masyarakat Indonesia tidak akan menjawab dengan kata “tidak”, tetapi “belum tentu”.

Tetapi, jika pertanyaannya seperti ini: “Apakah Anda menaruh harapan akan perubahan perangai AS dengan terpilihnya Obama?” Saya yakin banyak orang, dan bukan saja di Indonesia, akan menjawab dengan kata “ya.”

Keadaan seperti itu telah menunjukkan secara tajam sebenarnya Obama tidak lagi dianggap hanya sebagai seorang warga negara AS yang beruntung terpilih menjadi Presiden. Obama mewakili perasaan dunia yang lelah dalam ketidakstabilan. Dan dalam ketidakstabilan itu, siapakah yang menjadi musuh?” Dalam pendapat saya, yang menjadi musuh bukanlah George Walker Bush, namun AS secara keseluruhan.

Sejarah AS tentu sudah terbenam di benak masyarakat dunia, terutama di negara dunia ke tiga dan Timur Tengah. Memikirkan AS, tidak bisa tidak kita harus mengakui ada perang saudara sebelum George Washington mendeklarasikan kemerdekaan, kematian John F Kennedy dan Martin Luther King, nafsu Richard Nixon dalam perang Vietnam, dukungan terhadap Israel yang menjajah Palestina, hingga kelakuan George Walker Bush yang memperkosa Irak karena kebatuan Saddam Hussein.

Tanpa bermaksud hanya menunjukkan keburukan AS, peristiwa itu menjadi semacam kesimpulan jika membayangkan AS. Maka tidak ada yang mengherankan ketika dunia begitu bergairah menyambut kemenangan Obama.

Sementara itu, dari sisi politik rasial, kemenangan Obama adalah konsensus yang sebenarnya dimenangkan oleh kaum mayoritas kulit putih. Demokrasi, sebagai anak kandung filsafat modern, telah dikhianati oleh AS. Betapa tidak, jika AS menghujat masyarakat tradisional di banyak negara dunia ketiga tidak demokratis karena masih terjebak dalam jerat feodalisme, kasta, dan sukuisme, kemenangan Obama justru menunjukkan betapa kakunya kulit putih memandang manusia dalam hubungannya dengan kesempatan di ruang sosial.

Sebagaimana kita tahu, ibunda Obama, Anne Dunham, adalah kulit putih yang juga keturunan Indian. Sementara ayahnya, Obama Senior, adalah seorang Kenya tulen. Komposisi ras yang mengalir dalam tubuh Obama ini menjadikan Obama diterima hampir di seluruh kalangan AS. Semua pihak di AS merasa hadir dalam tubuh Obama. Namun, takdir Obama memiliki ibu kulit putih itulah sebenarnya yang mendorong kemenangannya secara utama.

Saya mengira, jika saja Obama murni dari ayah dan ibu kulit hitam, dia akan lebih sulit menang. Karena dengan sendirinya masyarakat kulit putih akan alpa kepemilikan atas diri Obama. Dengan asumsi ini, saya berpendapat, untuk menjadi Presiden AS, seseorang harus memiliki keturunan ras kulit putih, meski secara fisik dia Negro atau Indian. Akan tetapi, jika masyarakat kulit putih yang mencalonkan diri jadi Presiden, darah minoritas tidak perlu mengalir dalam dirinya: dia cukup saja seorang kulit putih!

Pandangan demikian semakin menegaskan kepada saya paradoksal demokrasi, dan itu muncul di AS sebagai pilar terbesarnya. Di satu sisi, mereka mengagumi konsensus, di sisi lain, secara bersamaan dalam konsensus itu satu pihak meminta bagian paling banyak. Tentu saja kita tidak bisa menafikkan, bahwa dalam demokrasi dengan sendirinya mayoritas tetap akan dominan. Tetapi lihatlah, AS masih menggunakan warna kulit sebagai ukuran keterwakilan dalam sebuah sistem yang mereka sebut sebagai demokrasi.

Lalu, apakah bedanya dengan masyarakat tradisional yang mereka protes masih menggunakan feodalisme untuk memperoleh tempat utama dalam pertempuran sosial? Bagi saya, yang membedakan adalah demokrasi memainkan diskriminasinya secara lunak dan halus ketimbang feodalisme masyarakat tradisional.

Analisa di atas saya kemukakan untuk menunjukkan bahwa AS merupakan entitas terpisah yang tidak bisa serta merta membersihkan diri melalui Obama. Karena saya menduga, masyarakat hanya terpukau dengan Obama secara pribadi. AS bisa jadi hanya menyediakan tempat untuk sang bintang. Dengan sendirinya tempat tersebut akan dikesankan sehebat sang bintang.

Menggeser kehebatan “sang bintang” menjadi kehebatan “sang tempat” itulah yang saya kira dilakukan AS dengan media massa. Penggandaan image Obama secara luar biasa di media massa seakan menjadi katarsis bagi dosa-dosa AS dengan memainkannya di alam kesadaran kita yang paling rendah.

Saya kira, tulisan ini tidak untuk membangun sebuah prasangka buruk terhadap AS. Namun ini hanya upaya agar masing-masing kita dapat mengambil posisi yang tepat dari serbuan satu kelompok dengan segala kemauannya melalui media massa. Di masa mendatang, image Obama mungkin hanya menjadi satu kasus yang dapat kita jadikan rujukan untuk berhati-hati menghadapi media massa.

Lagi pula, seperti yang disampaikan teoretikus kritis terkemuka Raymond Williams dan Stuart Hall, hegemoni dalam konteks politik mana pun sangat rapuh. Keberlangsungan hegemoni hanya dapat dipertahankan dengan memodifikasi dan menginovasi pesan-pesan dalam media massa sebagai upaya tidak henti-hentinya melakukan penegasan kembali kekuasaan.

Selalu ada celah bagi kita untuk membuat hegemoni itu pincang dan tertatih-tatih. Tulisan ini, hendaknya memancing kita untuk mencucuk celah-celah itu dengan centil dan nakal.

Jakarta, Desember 11 2008


Tuesday, June 10, 2008

Sapa


hai masa depan,


bagaimanakah kabarmu

setelah kau tampar bibirku
hingga berdarah pecah!

Jakarta, Juni 2008

Thursday, April 24, 2008

Waktu Ibu Mati


padahal, kemarau menjauh


di sudut siang lengang,

tersebab tangis tertahan

pohon yang sebatang itu

meluruhkan segala daun

sebagai sapanya padaku:

............................

kutahu

yang mati di detik lalu

ialah ibumu


kelak kau rindu

mencucuplah

pada puting susu kucing

yang kemarin petang

menumpang beranak

di gelap sebab


Jakarta, April 23 2008

Qurban


mati dibantai seekor lembu
setiap gubuk boleh menunggu
usai setahun lalu

maka perempuan-perempuan pun berjaga di bibir pintu, menunggu. mendadak, pucat kelabu yang menggayut di bibir mereka, menyirah. darah meluncur membentuk sungai, berbuih, berjeram. dengan sorak yang gempita, mereka biari buah dadanya terbujur dan menari. liur bayi yang menyembilu, kini mereka tangguk dengan berani

”nak, menjelang petang, rendang kan masak. menjelang tidur malam, cucuplah aku, reguk sebuasmu. ampuni dosaku olehnya nak. sepanjang musim telah aku seret doa hingga ke pucuk, biar dekat ke fajar muda, dekat ke langit. isyarat baik nak, di balik langit, ada sebuah mata lebam yang kebetulan saja sedang riang mengedipkan matanya: ia sepakat menyuling lembu di lambungku jadi inti, jadi nadi, yang kan kau temui ketika bibirmu mengendus puting”

sehari saja,
pesta sepanjang jalan, bendera-bendera tua dikibarkan

di tempat itu, matahari selalu keberatan menyerahkan siang. sebab, kantuk lebih baik, tidur lebih agung, malam mujarab membalur ngilu
di tempat itu, tikus lebih rajin nyanyi ketimbang biduan
di tempat itu, malam terlalu cepat punah untuk suara kunyah yang capak

mati dibantai seekor lembu
lambung yang dikutuk lesu
dibuatnya terkejap-kejap nafsu



Jakarta, Desember 2007

Wajah Gerakan Perempuan Setelah Satu Dekade Reformasi


Siapa yang bisa menyangkal dua hal adanya keterlibatan Kodim (Komando Distrik Militer-red) dalam menyelesaikan kasus pemogokan buruh tempat Marsinah bekerja dan hancurnya rahim Marsinah yang menurut autopsy hanya bisa terjadi jika dilakukan oleh ledakan senjata melalui lubang vagina.

Kalimat di atas dikutip dari makalah yang ditulis aktivis gerakan perempuan Indonesia era 1990-an, Tati Krisnawaty, yang dipresentasikan dalam diskusi publik bertajuk “ 10 Tahun Reformasi, Quo Vadis Gerakan Perempuan Indonesia?” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (29/2).

Diskusi yang diselenggarakan Institut Ungu dan Yayasan Pitaloka ini juga merupakan bagian rangkaian Pentas Teater Monolog “Perempuan Menuntut Malam” dan penyambutan Hari Perempuan Se-dunia pada 8 Maret.

Yang menarik adalah mengapa Tati masih memuat kematian Marsinah setelah gulir reformasi meruntuhkan rezim orde baru mendekati 10 tahun? Apalagi, sejumlah persoalan kontemporer mengenai perempuan yang belum tertangani pemerintah – seperti kasus buruh migran - terus menyita perhatian publik dan tentunya gerakan perempuan sendiri.

“Memperingati hari perempuan dunia lebih baik dilihat dari sejarah (gerakan perempuan) dan sisi personal aktivisnya,” ungkap Tati dalam diskusi yang dimoderatori Tomy F Awuy itu. Pernyataan itu mengisyaratkan usaha untuk merefleksikan pencapaian gerakan perempuan sampai hari ini dengan melongok kembali sejarahnya.

Kematian Marsinah, dalam hal ini, adalah salah satu tonggak sejarah gerakan perempuan. Tati merasa perlu menceritakan kembali kepiluan kematian Marsinah sebagai korban langsung dari kekejaman orde baru demi mencermati kembali gerakan perempuan dalam 10 tahun keruntuhan rezim itu.

Lalu bagaimana gerakan perempuan setelah satu dekade sejak 1998 itu? Aktivis yang tergabung dalam Solidaritas Perempuan itu tak segan mengaku bahwa gerakan perempuan menerima kekalahan telak.

“Kekalahan telak perempuan adalah adanya Perda-Perda (peraturan daerah) yang diskriminatif (terhadap perempuan), RUU (rancangan undang-undang) anti pornografi, kemiskinan di desa-desa yang menyebabkan perempuan menjadi TKW ke luar negeri, dan belum sinergisnya hubungan antar gerakan perempuan,” papar Tati.

Akibatnya, kata Tati, tak jarang publik salah memahami dengan menilai bahwa semua persoalan itu adalah tanggung jawab gerakan perempuan. Sehingga sejumlah kegagalan diarahkan kepada gerakan perempuan. Padahal, pemerintahlah yang seharusnya dibidik untuk segera mengatasinya.

Apalagi, jelas Taty, di samping kekalahan telak, gerakan perempuan sebenarnya memperoleh keberhasilan yang disebutnya dengan “kemenangan-kemenangan kecil.” “Salah satu kemenangan kecil adalah adanya undang-undang penghapusan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga),” ujar Tati. Kemenangan kecil itu juga ditandai juga dengan diperbincangkannya isu-isu hak perempuan di ranah publik.

Tidak hanya itu, gerakan perempuan juga melakukan eksperimentasi perjuangan tanpa aksi massa - berbeda dengan demonstrasi oleh gerakan perempuan di New York satu abad lalu yang menginspirasi gerakan perempuan di seluruh dunia. Tati mengatakan, eksperimen itu yang melahirkan Komisi Nasional Perempuan.

Untuk mengatasi kekalahan dan mengupayakan “kemenangan kecil” menjadi “kemenangan besar”, Tati mengingatkan perlunya sinergitas antar gerakan perempuan. Dan semangat hari perempuan yang akan disongsong tersebut sangat relevan untuk mewujudkan arah gerakan perempuan.

Perempuan VS Kebudayaan

Kebudayaan yang hidup di dunia dan di Indonesia tidak menyediakan tempat untuk hak-hak perempuan. “Yang ada itu perempuan versus kebudayaan. Penindasan perempuan terjadi karena adanya sebuah kultur (yang menyebabkannya),” kata novelis Mariana Amirudin.

Berbeda dengan Tati, Mariana Amirudin yang juga salah satu nara sumber dalam diskusi tersebut, menyorot gerakan perempuan dari sudut pandang kebudayaan. Dengan mengutip teoritisi sastra Hellen Cixous, Mariana menyatakan kebudayaan “tanpa perempuan” itu tercermin dalam bahasa.

“Kekuasaan ada pada pemaknaan (oleh) laki-laki, perempuan tidak termasuk dalam wilayah kebudayaan,” ungkap Direktur Yayasan Jurnal Perempuan itu. Mariana pun mengusulkan agar perempuan membentuk kebudayaannya sendiri dengan menempatkan diri dalam sejarah.

Caranya? “Tulislah dirimu sendiri,” kata Mariana mengutip Cixous. Sebagai novelis, agaknya Mariana mengusulkan ini dengan kesadaran bahwa tulisan dan bahasa bisa membentuk sejarah. Dan sejarah, merupakan alat untuk menyuarakan hak-hak manusia, termasuk perempuan.

Namun usul Mariana itu terganjal ketika salah seorang penanya, Yuni, menyatakan bahwa di tingkat akar rumput, kesadaran perempuan untuk menulis belum semapan perempuan yang disebut Yuni sebagai “perempuan elite.” “Jangankan menulis, membaca saja mereka susah,” ungkap Yuni.

Mau tidak mau, kata Mariana, perempuan di tingkat elite yang memperoleh akses pendidikan dan informasi itulah yang memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan perubahan. Namun demikian, dia mengatakan, kesenjangan ini harus diselesaikan dengan membangun sinergi antara kelompok intelektual dan akar rumput.

Terlebih lagi, pasca keruntuhan orde baru, kesenjangan itu juga dipengaruhi dengan setumpuk masalah perempuan yang mulai terkuak dan menjadi tantangan yang semakin berat bagi gerakan perempuan. “Karena kebebasan yang terbuka pasca orba, perempuan kocar-kacir mengekspresikan kebebasan,” kata Mariana.

Selain itu juga, krisis ideologi sebagai arah gerakan gerakan perempuan ikut mewarnai kesenjangan itu. “Yang paling kurang adalah elaborasi intelektual,” kata Tati. Akibatnya, aktivis perempuan cenderung terkonsentrasi hanya pada basis massa, tanpa memperhatikan ideologi. “Harus ada keterbukaan antara gerakan massa dan intelektual,” tambah Tati.

Jika kesenjangan tersebut bisa diatasi, gerakan perempuan memiliki keniscayaan untuk membentuk sejarah tidak hanya di Indonesia, namun di dunia. Boleh jadi kini gerakan perempuan dikelilingi persoalan TKW yang tak henti-hentinya memberikan kabar suram. Namun gerakan perempuan tetap menjadi pihak terdepan untuk mengingatkan bahwa tugas memperbaiki nasib perempuan tidak hanya berada di pundak perempuan, tapi juga laki-laki.

artikel ini dapat disimak di www.vhrmedia.com

Bising


Pada suatu malam saya berdiri menunggu bis ke Pancoran. Tepat di seberang saya adalah gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat. Baru saja saya meninggalkannya setelah saya diperintahkan untuk meliput sidang paripurna soal Rancangan Undang-Undang Pemilu yang akan diterapkan pada 2009 nanti.

Masih terngiang di kepala saya betapa bisingnya gedung itu usai sidang . Sebab sidang yang seharusnya melakukan voting itu ditunda lagi setelah sebelumnya juga sempat ditunda-tunda. Tidak semua anggota parlemen yang sepakat dengan penundaan itu. Maka, yang muncul adalah bunyi komentar yang saling bertolak belakang di antara sesama mereka.

Saya tidak mau berlama-lama dalam kebisingan itu. Agaknya kebisingan di jalanan Jakarta yang super sibuk lebih bisa dinikmati ketimbang kebisingan di dalam gedung parlemen. Di parlemen, di dalam kebisingan itu terlalu banyak rahasia. Sedangkan di jalanan, kita adalah rahasia itu sendiri.

Dan bus kota trayek Grogol-Cililitan menghampiri saya. Mungkin karena sudah agak larut malam, sekitar pukul 22.00 wib, bis itu agak santun menjemput saya. Tidak seperti saat pagi atau sore menjelang malam, keganasan bus kota itu menampakkan wajah masamnya.

Beruntung, bus yang senantiasa padat itu tidak penuh. Saya mendapat tempat duduk. Dan saya bertemu dengan sebuah lanskap klise khas Jakarta: seorang anak mengguncang-guncangkan botol plastik berisi beras sambil menyanyikan sebuah lagu yang sedang populer di televisi.

Mungkin karena klise, saya sama sekali tidak tersentuh atau iba dengan bocah lelaki dekil yang masih menyala kejernihan kekanak-kanakannya itu. Satu lagu saja yang dinyanyikannya. Dan saya tidak mengeluarkan sepeser pun untuknya. Dia, si bocah, juga seperti tidak terlalu peduli lagi apakah nyanyian sumbangnya itu akan dibayar dengan uang receh oleh saya.

Begitulah Jakarta, penderitaan dan kemiskinan sudah menjadi common sense. Niscaya, warga Jakarta kebingungan jika secara tiba-tiba kemiskinan, kriminalitas, dan kemacetan di ibu kota Indonesia ini tiba-tiba raib begitu saja. Dan tanpa disadari, alam bawah sadar mereka akan berbicara begini: Mana kemiskinan itu? Mana kriminalitas itu? Mana kemacetan itu? Kalau tidak seperti itu bukan Jakarta namanya!”

Penderitaan dan kemiskinan milik Jakarta itu, karena sudah terlampau sering kita saksikan, sudah tidak lagi dramatis. Ini melumpuhkan hasrat warga Jakarta untuk mau melihat orang lain di luar kita. Orang-orang pinggiran itu, sama sekali tidak punya akses untuk menampilkan diri sebagai bagian dari Jakarta dengan kesadarannya sendiri.

Sedangkan, di gedung parlemen yang saya tinggalkan itu, anggotanya berlelah-lelah membunyikan suara yang bertolak belakang sebagai buntut dari istilah seksi yang kini melanda masyarakat kita: demokrasi. RUU Pemilu yang mereka ributkan itu pun sebenarnya adalah demi rakyat juga, demi bocah pengamen yang tidak mampu membuat saya iba itu.

Ah, terlalu naïf dan klise membanding-bandingkan jalanan dengan parlemen. Tapi saya tetap merasa lebih nikmat berada di tengah kebisingan jalanan ketimbang kebisingan di parlemen. Apalagi, ketika bus yang saya tumpangi hampir sampai di tempat yang saya tuju. Ketika saya beranjak ke pintu bagian belakang bus, saya lagi-lagi melihat bocah pengamen tadi. Dia duduk berdua dengan seorang kawan sebayanya, mungkin abangnya. Mereka tidur, dari tidur mereka, saya yakin tidur mereka nyenyak. Sebab, tidak sedikit pun mereka terjaga meski laju bus menggoyang-goyang leher mereka.

Kali ini saya tidak bisa berbohong, saya tersentuh dengan dua bocah itu. Sebab, seingat saya, saya tidak pernah lagi memperoleh tidur selelap tidur mereka saat itu.

Surat Kepada Sahabat: Wishnu & Ibro


Jakarta, dua pekan sampai 3 April malam 2008

Entah bagaimana harus mengungkapkannya. Sebab, tidak segala sesuatu itu harus diungkapkan. Hanya saja, dalam kegundahan, betapa hidup ini mendekatkan wajahnya kepadaku, dan aku pun bersidekap dengannya. Yang terkenang, kini terkenanglah.

Memang, aku ini adalah salah seorang yang melankolik. Aku baru saja selesai membaca sebuah karangan yang menggairahkan “dendam” disebabkan satu kata: kemiskinan. Dalam melankolikku, kemiskinan itu, jika saja tidak diimbangi dengan kehendak untuk mencari tahu kebenaran dunia yang selalu retak dan meretakkan diri, akan membuat manusia terjerat dalam inferiority complex.

Mungkin kita sudah berhasil mangkir dari perasaan “miskin” itu dengan membiarkan diri tenggelam dalam perburuan kebenaran-kebenaran yang membuat kita terus-menerus menyangsikan keadaan. Dengan terus berjalan di pinggir-pinggir ilmu pengetahuan, (camkan! kita masih di pinggir!) luka kemiskinan kita itu tidak akan membuat kita luka sebagaimana luka yang membasahi kemiskinan di negeri mahsyur selatan Asia.

Tapi itulah kawan, agaknya karena aku terlalu melankolik, sehingga segala sesuatunya seperti kulihat sebagai drama. Kemiskinan itu, lagi-lagi, adalah penyebabnya. Dulu, kukira apa yang diceritakan orang-orang bijak tentang kemiskinan itu memantul kembali ketika kedatangannya sudah berada di depan keningku yang legam. Kini, aku harus memeluknya dengan menung.

Itu sebabnya, aku takut membagi kemungkinan hari depan dengan suasana yang aku miliki saat ini. Lidah kita bahkan patah untuk sekedar menyebut kata “kelak”. “Kelak nanti…” dan kita tak sanggup meneruskannya. Kenyataan telah membuat umur kita terus bergerak, dan menyebabkan kita semakin mengunci kata-kata, semakin diam, semakin bergerak ke inti diri, ke inti bumi.

Dan tidak ada lagi yang patut kusayangi dengan cinta yang berlebih selain dari pada diriku sendiri. Kuharap kalian pun demikian. Biarkan kita menelan cinta kita kepada diri sendiri sampai kita temukan sosok-sosok lain dalam diri kita itu. Perempuan? Ya, barangkali hari ini kita masih menyebutnya dengan perempuan. Tapi sesungguhnya, kita hanya menyebutnya adalah “aku dalam kau, dan kepada kau kucari aku.”

Di depan sebuah ilusi, katakanlah misalnya di depan gambar pria muda yang kerontang dalam sebuah film bisu, aku akan bertegun-tegun. Ke dalamnya, kalau bisa, aku berlibur untuk sekian waktu. Sebab, terlalu banyak kenyataan-kenyataan dramatis dalam sebuah film yang hendak kucicip, aku ingin menjadi ilusi seperti tokoh di dalam film. Sebentar saja, kalau bisa, sebelum kita kembali lagi genggam-menggenggam dengan kemiskinan.

Beberapa waktu lalu di Kuningan, tepat di depan Kedutaan besar China, aku melihat beberapa biksu muda di berunjuk rasa menuntut pembebasan Tibet. Aku terkesan. Sebab, semuda itu, cahaya wajah mereka seperti tak mungkin berbicara kotor dan bertindak kasar. Mereka begitu tenang dan dalam, meski aku yakin, mereka tetap saja anak muda.

Kiblat sudah disediakan untuk kita! Dan tanpa sadar kita terus berkeliar membunuhnya. Sadar bahwa kiblat itu tersedia, sedang kegelisahan tak punah jua, ialah simbol betapa mudanya kita.


Ervin