Sunday, December 13, 2009

Privat


Di manakah batas kata “privat”dapat dipancangkan di zaman ini?

Maka menjadi menakutkanlah kata privat itu bagi orang-orang yang berkuasa dan memiliki uang. Kini, manakala orang-orang yang berada dalam lingkar kekuasaan dan uang berusaha bermain-main dengan kata “privat”, terbayang pada mereka sebilah pisau tajam yang akan menusuk dengan buas ke jasad mereka.

Di negara dunia ketiga (bahkan mungkin di negara maju sekalipun), privasi hanyalah milik para penguasa dan milyarder. Orang miskin dan jelata “dilarang” menuntut yang privat!

Berjalanlah ke kompleks perumahan orang kaya (Pondok Indah, misalnya), sebatas mana anda mampu menerka isi rumah, atau kegiatan yang terjadi dalam salah satu rumah besar yang tegak di sana? Privasi pemilik rumah besar-rumah besar itu sudah dimulai sejak pandangan mata kita.

Dalam sekali melintas, mata kita akan menyaksikan pagar tinggi, pos satpam sekaligus sang satpam, dan terkadang anjing penjaga yang gampang menyalak. Panorama itu sudah memberikan pengertian pada kita bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam rumah besar itu, bukan sesuatu yang mudah ditembus. Sekali lagi, privasi telah dimulai sejak pandangan mata.

Di tempat lain, berjalanlah sekali malam di sekitar jalan Latuharhary, atau di sekitar Menteng. Kalau beruntung, anda akan menyaksikan sepasang manusia melakukan persetubuhan di bangku taman. Atau di sekujur jalanan Jakarta, bagi orang-orang di tepian jalan, tidur tidak berada dalam kata-kata “di balik selimut” atau “di dalam kamar”. Tidur dalam pengertian apapun, bukanlah pekerjaan yang privat. Siapa pun, kalau mau, dapat mengakses tidur (kecuali mimpinya) orang-orang jalanan.

Namun, privasi itu kini menjadi pisau bermata dua bagi penguasa dan orang-orang banyak uang. Pisau mata pertama menjadi penanda agar hidup penguasa dan orang kaya dapat disusun sesuai keinginan. Sedangkan pisau mata kedua adalah segala sesuatu yang berusaha dibuat privat yang menghantam di kemudian hari.

Keadaan itu terjadi sejak Mahkamah Konstitusi memperdengarkan rekaman pembicaraan orang-orang yang diduga terlibat dalam rekayasa kriminalisasi kasus pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Bibit Samad Riyanto-Chandra M Hamzah.

Penguasa dan orang kaya kerap mengaburkan atau lupa cara menggunakan hak istimewa dalam privasi. Praktek rahasia yang biasa mereka terapkan dalam kamar tidurnya mau diterapkan pula pada segala sesuatu yang sebenarnya milik publik. Inilah masalahnya: privasi menjadi menakutkan jikalau ia (sebenarnya) berhubungan erat dengan yang publik.

KPK, bail-out dana Bank Century adalah dua hal yang sangat erat hubungannya dengan publik. Ia menjadi pisau yang menakutkan ketika penguasa dan orang kaya berusaha menggunakan kebiasaannya dalam kerahasiaan rumah gedungnya untuk membunuh kebenaran dalam urusan itu. Kini, yang publik sudah menelan privasi yang bukan pada tempatnya itu. Dan bola pun bergulir tanpa basa-basi merobohkan pagar tinggi, pos satpam, dan memenggal moncong anjing penjaga di rumah-rumah besar itu.

Padahal, rekaman, teknik penyadapan, audio, semula adalah ilmu pengetahuan buah modernisme milik renaissance untuk “menaklukkan” dan “mengatasi” alam. Ia semata teknologi yang pada dirinya sendiri tak ada hubungannya dengan sosial, gerak masyarakat, apalagi meja terhormat Machfud Md di sisi taman Monas itu. Ia hanya keangkuhan lama untuk menghukum mitos asli.

bersambung....

Tuesday, November 17, 2009

Sajak Ini Memang Kutulis Buatmu, Puan

:papua

di dalam mata televisi, masih ada mata lagi, di dalamnya, masih ada mata lagi. televisi kita yang sibuk menata cadar pada wajahnya yang pertama. televisi yang meratap karena kucabut cadarnya. sebab, engkau lebih cantik dari televisi. dan aku tak mau televisi menyembunyikan kecantikannya

seperti televisi, cantikmu pada mata. di dalam matamu, masih ada paruparu lagi, masih ada pipa darah lagi, masih ada embun yang turun pelanpelan mengikuti lagu jantung lagi, dan barangkali seplastik air mata

pernahkah kau uji kecantikanmu? masuk ke dalam televisi yang menophause diperkosa nasionalisme? maka mendaratlah kau di wamena, atau serui, atau biak

di langkah pertama:

dengan kakimu, kau harus remukkkan contact lens yang menyebabkan matamu nyaris seindah fajar muda. di papua, yang kabur di mata mungkin lebih asli

di langkah kedua:

dengan tanganmu, kau mesti koyakkan baju yang nyaris selalu cemerlang di tubuhmu. di sana, kecuali aku, siapa ambil peduli misteri tubuhmu? lebih dari sekedar mulus kulitmu, mereka lebih tahu bagaimana misteri di sebaliknya. kulit bukan lagi tirai, sebab masa lalu terlalu terbiasa memaksa mengubah kulit dengan merah daging: setiap kali dendam dikisahkan

tak ada lagi kesempatan mata pace sebagaimana mataku. sebab mereka sedang berlari-lari menyusun kembali usus yang terburai. matamu takkan dipergunjingkan, tubuhmu takkan dikuakkan

aku ingin lihat kau telanjang dan mendengarkan ribut di jantung mama-mama!

bergeserlah sedikit! tubuhmu yang mempesona itu menutupi mata terakhir televisi. mata terakhir yang sedang kelimpungan menandingi mata air di mata mama-mama

November 15 2009

Wednesday, November 11, 2009

Aku Si Cantik


Setiap Jumat siang, selalu saja, aku tak dapat tidak harus melintasi jalan di depan gedung Walikota itu. Ketika melintas, aku selalu memilih melangkah di trotoar seberang gedung. Dan aku akan berjalan mengendap-ngendap sembari menyembunyikan diri di balik pohon penyejuk yang berjajar di sepanjang trotoar.

Sungguhlah mereka yang setiap Jumat terik ada di depan gedung Walikota itu adalah orang-orang berkepala batu. Mereka masih saja bersetia berteriak-teriak ke arah gedung yang tak pernah menjawab itu. Mereka mengibar-ngibarkan spanduk dan panji-panji sambil menuntut yang mati hidup kembali.

“Kembalikan kawan kami! Kembalikan ayah kami! Hidupkan lagi suamiku!”

Dengarlah kawan, ke mana pun kalian pergi, takkan pernah ada orang mati bisa kembali hidup. Dongeng-dongeng mukjizat yang dapat mengembalikan nyawa manusia itu hanya ada di kitab-kitab usang. Kisah-kisah itu hanyalah perumpaan kaum bijaksana agar rakyat dapat dituntun. Namun soal kebenarannya, jelas itu dusta belaka.

Karena kehidupan takkan kembali setelah kematian yang mutlak datang, kita pun memakamkan jenazah. Sebenarnya, apalah gunanya makam dan nisan? Makam dan nisan hanyalah isyarat bahwa kita sebenarnya tak begitu rela dengan hilangnya sesuatu yang pernah hidup di sekitar kita. Mengunjungi makam dan menatap lekat-lekat sebuah nisan, hanyalah cara bagi kita untuk mengatasi kerinduan yang tak mungkin terpuaskan terhadap yang mati.

Padahal, manusia mungkin seperti sepokok beringin di tengah taman kota yang hidup ratusan tahun. Berapapun banyaknya sejarah dan peristiwa yang menyertai beringin itu, dia juga akan rebah dengan sendirinya jika kematian sudah menamatkan. Beringin mati, dan kita memakluminya lebur bersama tanah tanpa memberi tanda dan bersedih.

Tapi kematian bukan demikian bagi orang-orang yang berkumpul di depan gedung Walikota setiap Jumat itu. Bagi mereka, kematian dapat dan harus dikembalikan lagi. Dan orang-orang yang ada di gedung itu dihujat dan dituntut agar dapat menghidupkan kembali. Benar-benar pekerjaan gila!

Namun, semuak-muaknya aku terhadap mereka yang berteriak-teriak itu, aku tetap tidak bisa melewatkan satu Jumat pun dengan tidak melintas di jalan itu. Tentu selalu dengan mengendap-ngendap.

***

Aku si cantik. Itulah pengetahuan tentang diriku yang paling kuketahui sejak kukenal pergaulan dengan orang lain. Sewaktu masih kanak-kanak, tak kumengerti benar apa dan akibat apa yang harus kuterima disebabkan “aku si cantik” itu.

Teranglah kemudian, ketika kali pertama aku masuk ke sekolah menengah, nyaris semua mata kakak kelasku yang lelaki menuju padaku. Mata yang dulu tak kumengerti. Mata dengan niat yang sama. Saat menatapku, mereka tak lagi punya bola mata. Yang ada hanya labirin warna yang tak berhenti berputar seperti lingkar obat nyamuk tanpa ujung.

Keadaan itu terus berlangsung hingga aku dewasa. Mula-mula kunikmati itu. Sebagai perempuan, siapa yang menolak puji-puja? Bukankah perkataan “kamu cantik” dari lelaki buaya mana pun tetap saja membuat diri melambung dan melayang-layang lupa turun?

Namun, dari sekian banyak lelaki tukang puja itu, bagiku satu saja. Aku memang tak menolak pujaan siapa pun. Dan sekali-sekali kutanggapi juga pujaan itu dengan bersedia berkencan sekedar nonton bioskop atau makan malam. Tapi, tentang siapa sebenarnya yang menyebabkan aku sungguh-sungguh merasa menjadi perempuan, aku tak punya nama lain selain “Juan.”

Juan menyenangkan. Dulu, dialah laki-laki yang kuanggap paling gila. Dia atraktif, ekspresif, selalu berpikiran ringan. Berada di dekatnya, aku merasa dunia selalu menghadirkan kegembiraan yang tak pernah usai. Dia suka pesta, namun tidak suka ke diskotik. Dia doyan mabuk, menenggak alkohol, dan menghisap marijuana. Dan dia adalah gitaris blues yang menawan. Hal yang sulit hilang dari kenanganku adalah saat dia mengecup bibirku untuk pertama kali. Dia mengecup sambil menitikkan air mata dan berbisik, “aku lumpuh tanpa kamu.”

Sejak itu, tak ada hari tanpa Juan. Kebahagiaanku mencapai puncak. Jika kebanyakan perempuan cantik sulit menemukan cinta karena hanya tubuhnya yang menonjol, aku sudah menemukannya. Aku tak perlu jauh-jauh memikirkan siapapun, aku cukup membayangkan Juan, lelaki kurus pemabuk yang pemberontak itu. Semakin kularang dia mabuk, semakin membelotlah dia, dan semakin dalam perasaanku padanya.

Namun hidup memang menyediakan tikungan tajam tak terduga. Hidup memang enggan memberikan kebahagiaan dengan gampang. Lewat “waktu”, hidup menghajarku hingga babak belur. Aku pun mulai meragu, sebenarnya tak ada kebahagiaan dalam hidup. Yang ada hanyalah perburuan demi perburuan mencari bahagia. Dan manusia, senantiasa terjebak dalam perburuan tanpa akhir itu.

Hajaran “waktu” datang pada suatu pagi. Ibu membangunkanku lebih awal. Tanpa berbasa-basi, ibu memintaku mandi dan merias diri secantik mungkin. “Dandan yang cantik. Kita ke rumah pamanmu. Sudah ditunggu,” kata ibu.

Awalnya aku menolak. Sebab hari itu aku ada jadwal kuliah. Dan yang lebih penting lagi bertemu dengan Juan. Juan, pasti, dan akan selalu pasti, menjemputku. Dengan sepeda motor tuanya, selepas kuliah Juan biasanya mengajakku menyusuri kota. Atau mengunjungi rumah sahabat lamanya di pinggir kota, meminjam kamar beberapa saat untuk bercumbu-cumbuan.

Namun ibu seperti tak peduli. Tanpa merasa perlu menjelaskan banyak hal, dia hanya memerintahku untuk membersihkan diri dan bersolek. Itu saja!

Dan taksi yang kami tumpangi pun sampai ke rumah paman. Sebagai saudagar peternak ikan, paman mampu membeli rumah yang besar, halamannya luas dan teduh. Semasa kanak, aku sering berkunjung ke tempat paman. Menghabiskan hari bersama Ani dan Linda, anak perempuan paman yang usianya sedikit di bawahku.

Di halaman belakang rumah, paman dan tante menyambut kami. Di meja, sudah tersedia makanan dan minuman yang menerbitkan selera. Ani dan Linda yang kini sudah dewasa pun sudah mengambil tempat masing-masing.

Namun, ada yang berbeda kali ini. Mata ibu, paman, tante, Ani, dan Linda, tak seperti biasanya. Bukan tatapan sebagaimana dulu aku datang untuk menghabiskan hari dengan berlari-larian di halaman. Ada cahaya yang ganjil dari wajah mereka semua.

Dalam suasana ganjil yang sedikit hening itu, paman memecah keadaan dengan meminta tante memanggil Patra. “Suruh dia kemari,” kata paman dengan nada sedikit memerintah.

Maka datanglah Patra. Lelaki tinggi kurus yang setengah rapi itu duduk di salah satu kursi dengan mata yang tak peduli.

“Patra, kamu ingat Aida bukan. Lihat, Aida, anak tante Marni. Dia cantik dan menjadi kembang di mana pun,” ujar Paman.

Sebenarnya aku tak suka dengan perkataan paman. Dia seperti menawar-nawarkan aku kepada Patra. Dia seperti menyuguh-nyuguhkan aku dengan anak sulungnya itu.

O ya, mengenai Patra, sejak bocah aku tak terlalu suka dan terlalu peduli dengan dia. Patra, yang usianya terpaut dua tahun di atasku itu, terlalu pendiam. Dia terlalu banyak tinggal di kamarnya, membaca buku. Sepenglihatanku, dunianya hanyalah buku-buku. Sesekali aku menganggapnya mengidap kelainan jiwa. Jikalau aku dan Linda dan Ani berlarian di halaman, dia hanya sesekali melongok ke luar. Namun, tatapannya tidak menuju padaku, Ani, atau Linda. Tatapannya seperti menuju langit, menuju arah yang tak bersimpul.

Kemudian hari, tahulah aku ihwal perjumpaan di halaman belakang rumah paman pada pagi itu. Ibu memintaku (untuk tidak menyebut memaksaku) menikah dengan Patra. Alasannya, paman khawatir dengan tindak-tanduk Patra. Sejak dia mulai belajar di perguruan tinggi, Patra semakin jarang di rumah. Dan sejak itu pula, paman seringkali merasa rumahnya diintai orang.

Paman merasa pernikahan barangkali dapat menghentikan tindak-tanduk Patra. Setidaknya, dia akan lebih sering di rumah, ada teman berbicara. Jika punya anak, dia akan terikat dengan tanggung jawab, dan hidupnya akan lebih aman.

Sebagai perempuan, satu yang tak bisa kubantah: perintah ibu. Hanya dengan alasan paman yang menghidupi kami dan menyekolahkanku sejak ayahku meninggal belasan tahun yang lalu, aku dipaksa. Paman adalah sahabat terbaik ayahku. Kata ibu, ayahku pernah menyelamatkan paman ketika hidup paman masih miskin. Dan ketika ayah dijemput maut, paman berjanji akan menanggung kehidupan kami.

Sejak pertemuan di rumah paman itu, sekali lagi, aku yakin hidup benar-benar tak membahagiakan. Ia hanya menjerumuskan manusia ke dalam perburuan-perburuan kebahagiaan yang tak berhenti. Dan aku terjebak dalam pusarannya.

Betapa tidak? Aku harus meninggalkan dan kehilangan Juan. Laki-laki pembelot yang kucintai sepenuh hati. Dan secara tiba-tiba aku dipaksa hidup dan bersetubuh dengan laki-laki pendiam yang tak peduli pada dunia sekelilingnya. Juanku harus digantikan dengan seorang laki-laki pengidap kelainan jiwa.

Dan benarlah, hari pertama pernikahan kami, tatapan matanya masih seperti tak peduli, masih melayang ke arah entah. Dia tak menyentuhku malam itu, dan aku pun enggan disentuhnya.

Sebagaimana dulu kukenal semasa kanak, Patra tetaplah pendiam dan tenggelam dalam buku-buku. Ia seperti manusia yang tak bergairah. Ia jelas tak ada apa-apanya dibanding Juan. Aku mengira ia sama sekali tak pernah jatuh cinta, bahkan terhadap lelaki sekali pun.

Jika perasaan “aku cantik” itu muncul, aku benar-benar muak dengan Patra. Aku, si cantik, kembang taman yang tiada banding, seharusnya bisa hidup lebih indah. Jika tidak menjadi istri seorang pengusaha atau selebritas, aku pastilah perempuan yang dapat diandalkan dalam karir. Sementara itu, setiap hari aku harus berhadapan dengan kutu buku yang tak peduli dan jarang bicara. Patra berbicara sedikit banyak hanya ketika di ranjang. Itu pun lebih banyak kudengar lenguhnya saja.

Pada suatu malam yang mendung, aku masih lelap di atas ranjang selepas bersetubuh dengan Patra. Tidurku tiba-tiba terjaga karena petir begitu kerasnya. Hujan pun begitu derasnya, ibarat sejuta dewa menitikkan air mata dari langit.

Itulah untuk kali pertama aku menyaksikan Patra, tepatnya, menyaksikan sesuatu yang tak pernah kutemui dari Patra. Saat kelopak mataku terbuka lamat-lamat, kusaksikan Patra duduk bertekuk lutut di pojok ranjang sambil menatapku. Tatapannya begitu dalam, menelusup pesat ke hatiku yang paling lubuk. Aku sampai-sampai tak sanggup membalas tatapannya.

Patra berkemas. Dia memasukkan sejumlah buku dan beberapa setel pakaian ke dalam tas ransel. Sebelum pergi, ia mengecup keningku.

***

Hujan belum sepenuhnya habis menitikkan air dari langit. Masih pukul setengah tujuh pagi. Pintu rumahku diketuk dengan cara yang sopan, namun tak berhenti. Saat daun pintu kukuak, dua orang yang mengaku polisi mengabarkan padaku:

“Nyonya Aida, maaf mengganggu Anda pagi-pagi. Sebelumnya kami mohon maaf dan berduka cita, suami Anda, tuan Patra Harun, beberapa jam lalu tewas ditembak. Pembunuhnya masih kami cari. Siang ini kami minta Anda datang ke kantor kami untuk dimintai keterangan.”

Sesaat setelah dua polisi itu berlalu, giliran wartawan menyerbuku dengan sejuta pertanyaan. Ternyata, mereka datang bersama polisi dan memberikan polisi kesempatan lebih dulu menyatakan maksud.

“Mbak Aida, bagaimana perasaan Mbak dengan peristiwa ini? Apa pesan terakhir mas Patra sebelum kematiannya? Apakah Mbak merasakan keganjilan sebelum kematiannya, misalnya, rumah Anda diteror, atau Anda sendiri yang diteror?” tanya seorang wartawan yang bertampang cerdas namun kucel dan serius.

“Apakah yang paling berkesan dan Anda ingat dari rumah tangga Anda? Apakah dia suami yang baik? Apakah Anda mencintai dia? Anda berniat menikah lagi? Mengapa Anda tidak pernah tampil di hadapan publik?” tanya wartawan yang berwajah bodoh namun kucel dan tampak suka mengurus perceraian rumah tangga orang.

Selepas semua wartawan itu pergi, aku duduk menekuk lutut di balik pintu. Mereka, wartawan-wartawan itu, pastilah pulang dengan tangan hampa. Mereka juga tak dapat menemukan air muka sedih di wajahku. Ya, aku hanya terkejut mendengar kabar itu. Tak ada rasa kehilangan, bahkan aku tak menitikkan air mata setitik pun.

Aku tak pernah bisa menjawab seluruh pertanyaan itu. Semua pertanyaan, meski terdengar untuk kepentingan investigasi, lebih terdengar seperti ocehan tetangga yang ingin mengusik rumah tanggaku. Bagaimana aku bisa menjawab apakah ada teror sedang aku sendiri tak tahu dan tak mau tahu kehidupan Patra di luar rumah? Dia memang suamiku, tapi pekerjaannya yang kutahu hanyalah pemilik peternakan ikan yang diwariskan ayahnya.

Memang, sekali-sekali kudengar juga kabar bahwa dia adalah orang yang disegani oleh banyak petinggi kota, bahkan negara. Sekali-sekali, kudengar juga kabar bahwa Patra dibenci banyak orang kuat. Tapi, aku tidak terlalu tahu dan tidak mau tahu. Aku tak pernah menaruh perasaan yang dalam padanya. Rumah tangga kami seperti rumah tua tak berpenghuni yang nyaris roboh.

Aku pun diseret-seret ke kantor polisi dan pengadilan. Di tempat-tempat yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya itu, kudengar wartawan berbisik-bisik, “gila, istrinya cantik juga ya. Kasihan, istri secantik itu ditinggal suami.”

Atau, sering kutemui polisi atau aparat yang tampak begitu simpati padaku. Bukan karena aku menjadi janda muda tanpa anak karena suamiku mati dibunuh, tapi karena mereka terpesona dengan kecantikanku. Pada saat-saat itu, aku mulai merasakan kejayaanku yang dulu: aku si cantik. Ternyata, kebebasanku kudapat setelah Patra tiada. Dan aku kembali menjadi kembang yang gemilang.

Sesaat setelah aku dimintai keterangan yang entah keberapa kali oleh polisi, aku langsung berusaha mencari Juan.

***

Manisnya ciuman Juan masih berbekas di bibirku. Sore kemarin, aku mengunjungi rumah kosnya di pojok kota. Tak banyak yang berubah dari penampilan tempat tinggalnya itu. Masih saja berantakan: abu rokok berserak-serak di lantai, poster Jimi Hendrix yang terpampang di salah satu bidang tembok, satu gitar akustik, satu gitar elektrik sekaligus amplifier, dan ranjang yang seprainya tak pernah rapi.

Juan tetaplah Juanku yang dulu. Dia masih periang dan membuatku selalu bahagia di sisinya. Namun demikian, dari matanya yang selalu gembira itu, aku tetap merasakan kepedihannya karena pernikahanku dengan Patra. Ayolah kekasih, aku kini bebas kembali. Mari kita bersama lagi dan tak ada yang mampu menceraikan kita.

Semula Juan memang agak segan padaku. “Di mataku, Kau masih tetap istri orang,” katanya. Tapi aku tahu, Juan kesepian. Bagi laki-laki liar seperti dia, kesepian adalah hal yang menyakitkan. Semakin dia liar, semakin tajam rasa sepinya. Dulu, akulah yang menyebabkan kesepiannya seimbang. “Sejak Kau pergi, aku tak pernah punya perempuan,” tuturnya sambil menundukkan wajah.

Aku tak mampu mengelabui hatiku, aku masih mencintainya. Maka kudekatkan tubuhku padanya, kuusap rambutnya sebagaimana dulu. Kukecup ubun-ubunnya, kuraih bibirnya, dan aku menyerah padanya agar kami masuk ke dalam kenangan kebahagian di masa lampau.

Setidaknya, sejak kematian Patra dua tahun yang lalu, tiga kali seminggu aku selalu mengunjungi Juan. Berulang kali kuminta dia menikahiku. Juan hanya menjawab, “nanti, pasti aku akan menikahimu,” kata dia. Dia hanya ingin meyakinkan diri bahwa aku benar-benar hanya memikirkan dia dan melupakan Patra. Dan baiklah, aku maklum. Dan dia pun maklum dengan kebutuhanku terhadap sentuhannya.

Sebenarnya, ada satu rahasia yang tak kuungkap kepada Juan: aku selalu melintas di trotoar di seberang kantor Walikota setiap Jumat siang. Mengapa itu selalu kulakukan, itu pun masih misteri bagiku. Selalu ada perasaan yang mendorongku untuk melintas di jalan utama itu setiap Jumat. Dan entah kenapa, aku selalu ingin merahasiakannya dari Juan.

Lagi-lagi, untuk yang keberapa kali, kusempatkan melintas ke jalan di depan gedung Walikota itu. Siang kali ini tak terik, tapi mendung. Awan hitam bergayut-gayut menunggu saat menjadi hujan. Dan kilat menyala-nyala meramaikan petir yang bersabung-sabungan.

Aku sudah berdiri di pangkal jalanan. Sebagaimana biasa, orang-orang yang tak sampai jumlahnya dua puluh itu masih berteriak-teriak menuntut yang mati kembali hidup. Aku tak mengenal mereka. Televisi dan media massa hanya menyebut mereka sebagai sahabat-sahabat terbaik aktivis pembela rakyat yang tersohor hingga ke Eropa dan Amerika Serikat bernama Patra. Protes ini pun sebenarnya juga dilakukan di ibukota negara, di depan Istana Kepresidenan.

Dengan pakaian hitam-hitam, mereka mencaci maki gedung Walikota yang angkuh itu. “Kembalikan kawan kami! Kembalikan ayah kami! Hidupkan lagi suamiku!”

Memang bukan Patra seorang yang mereka minta untuk dihidupkan lagi. Di sana ada ibu-ibu tua yang menginginkan anak lelakinya yang hilang, anak kecil yang kehilangan ayah, dan beberapa perempuan yang kehilangan suami. Namun Patralah yang menjadi simbol utama. Gambar Patralah yang tercetak paling besar di spanduk dan bendera protes.

Dan entah kenapa, dalam kunjunganku yang satu ini, firasatku tak baik. Memang aku selalu mengendap-ngendap dari pohon ke pohon yang berjajar di trotoar. Itu kulakukan, karena aku tidak ingin orang-orang berpakaian hitam itu melihatku.

Lalu hujan benar-benar turun. Orang-orang berpakaian hitam itu masih tetap tegak di sana. Satu persatu titik air membasahi baju mereka, melunturkan cat di spanduk, dan menghancurkan kibar panji karena bendera basah menjadi layu. Tapi mereka masih berteriak. Suara protes dari pengeras suara kian hilang karena harus bertempur dengan deru hujan dan gelegar petir.

Jantungku berdegup kencang. Aku masih mengendap-ngendap. Saat melintas di antara satu pohon ke pohon yang lain, aku dikejutkan oleh suara yang membentak: “heh! Kenapa kau kemari! Dasar perempuan pengkhianat! Istri yang tidak berbakti! Perempuan murahan!”

Aku tak berani melihat wajah yang membentak. Dengan penuh rasa takut dan malu, kupacu kedua kakiku sekencang lari kuda meninggalkan jalan itu, meski aku tahu, mereka tak berniat mengejarku, apalagi membunuhku.

Jakarta, 11 Oktober 2009




Tuesday, November 10, 2009

Pada Sebuah Festival Blues Di Negeri Kami


kalau lelaki kuning kelahiran semarang menjambak gitar, penguasa mana berani memperkarakan sipit matanya
nadanya bahkan hitam
nafasnya bau georgia

negro sudah lihai menanak nasi. bule sudah pandai mengukus bolu pandan. dan anakanak melayu keranjingan menyuling bir

doa, doa jualah yang mengupak kulit kami. o, betapa kami mau telanjang saja sampai waktu menyambut mati

dan seorang pendeta negro yang remaja menghembuskan mantra masa lalu lewat setangkai harmonika. menjelang hebat tuak, bibir tebalnya gelegak memerintahkan kayukayu amerika yang berdebu merangkak dan melarungkan diri di kali ciliwung

November 9 2009

Monday, November 9, 2009

Tentang Kebahagiaan

Duka setelah menyimak Snow karangan Orhan Pamuk

Kars adalah kota politik. Namun politik tak selalu menunjukkan ketajaman pikiran. Di dalam kemelut politik, kota dengan musim dingin yang panjang di timur Anatolia, Turki, itu mengajarkan semacam kebahagiaan dalam definisi yang lebih muram: menonjolnya rasa sakit yang menyertai cinta.

Kerim Alakușoğlu, atau Ka, telah datang ke kota politik itu bukan untuk politik, hanya demi cinta. Sang penyair yang lahir dari keluarga menengah Turki itu pindah ke Frankfurt, Jerman, sebagai buangan politik. Setelah dua belas tahun di Eropa bertualang sebagai penyair Turki-Jerman, ia kembali ke Kars dan tenggelam dalam “Salju”.

Memang, dengan status buangan politik, lajang berusia 42 tahun itu tetap berbicara dan terlibat dalam politik perang saudara di Kars. Namun, politik hanyalah menjadi sampiran baginya. Ia datang ke Kars demi kebahagiaan, cintanya yang terpendam selama berbelas-belas tahun pada seorang kawan lama nan cantik, Ipek Hanim.

Selama tiga hari di Kars, pikiran pertama yang ada di kepala Ka adalah memeluk Ipek seerat-eratnya, menciumnya, dan bercinta dengannya. Kebetulan, ia menginap di hotel milik ayah Ipek di mana Ipek juga bekerja di hotel itu. Maka di bawah turunnya salju yang perlahan, ia terlibat dalam emosi yang tiada banding di sepanjang hidupnya.

Inilah yang terjadi, Ipek akhirnya naik ke kamar hotel Ka. Di saat Ka menantikan Ipek, kesakitan justru menyerangnya. Memang menunggu adalah pekerjaan paling menjemukan. Tapi menunggu saat-saat yang dinantikan selama umur, selalu menyertai kesakitan.

Selama Ipek belum mengetuk pintu kamarnya, Ka gelisah seperti anak ayam yang sadar pisau jagal akan menebas lehernya. Meski ia dan Ipek telah sepakat, di dalam benaknya Ipek bisa saja membatalkan pertemuan itu. Dan seperti biasa, Ka sama sekali tak dapat mengajukan keberatan, bahkan jika Ipek mencibirinya dan mengatakan cinta Ka bertepuk sebelah tangan.

Tetapi, Ipek tidak segera naik. Dan menunggu adalah sebuah siksaan-yang terburuk sepengetahuan Ka. Sekarang Ka teringat bahwa kepedihan inilah, siksaan saat menanti inilah, yang membuatnya takut jatuh cinta.

Namun kekhawatiran Ka sama sekali tak terjadi, Ipek mengetuk pintunya. Mereka berciuman, dan pertemuan selanjutnya dihabiskan dengan percintaan. Percintaan yang selama ini hanya ada dalam imajinasi Ka yang sunyi, kini berhasil ia peroleh. Sungguh kebahagiaan yang tak terkira.

Dan tibalah waktunya, ketika seorang penyair akan dirusak oleh perasaannya, oleh cintanya. Persetubuhan itu memang membahagiakan Ka. Namun, di belakangnya, Ka berpikir bahwa penderitaan akan menyertainya, karena kebahagiaan itu tak dapat bertahan lama. Ketakutan akan kebahagiaan yang akan pergi meninggalkannya itu sering kali mencemari kebahagiaan yang sedang ia nikmati.

“Dan ingatlah ini: mereka yang mencari kebahagiaan justru tidak akan pernah menemukannya,” kata Lazuardi, pemimpin kelompok Islamis yang membuat Ka cemburu, karena Ipek pernah jatuh cinta kepada Lazuardi secara gila di masa lalu.

Seringkali, bukan saja Ka, mungkin seluruh penyair, atau calon penyair, atau lelaki manapun, menilai kebahagiaan adalah mata uang dengan dua sisi. Kebahagiaan itu selalu menerbitkan cinta dan kengerian. Seringkali, masa depan dalam cinta itu diukur dengan rasa takut. Dan ketakutan itu akan ikut terseret setiap kali lelaki merasa menemukan kebahagiaannya.

Atau, sebenarnya, lelaki seperti Ka, adalah lelaki yang terlalu pusing memikirkan hal-hal yang tak perlu? Bukankah, kebahagiaan memiliki arti dan batas yang berbeda pada setiap manusia? Apakah takdir kepenyairan Ka menyebabkan ia harus mendefinisikan secara rinci “kebahagiaan”? Sehingga segi-segi kebahagiaan yang paling tersembunyi itu membuatnya merasa frustasi bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya itu tidak pernah ada? Kebahagiaan itu seperti kaki langit: mata dapat memandang, tapi badan takkan sampai padanya.

Maka untuk kebahagiaan yang sulit dicapai itu, Ka, dan laki-laki seperti Ka, harus pandai-pandai menjinakkan pisau kehidupan yang tak berhenti menyayat. Ya, ia hanya mampu menjinakkan, bukan melenyapkan. Sejinak-jinaknya pisau, bukankah ia juga dapat merobek sesiung bawang?

Lagi pula, sebenarnya kebahagiaan tak perlu dirumuskan. Sebab, merumuskan kebahagiaan dengan cara yang puitis hanyalah menyebabkan manusia meletakkan kebahagiaannya dengan standar yang tinggi. Kebahagiaan, misalnya, tidak dapat tidak hanya ada dalam kepemilikan utuh cinta seorang perempuan.

Bagi Ka, atau banyak penyair, atau calon penyair, atau lelaki mana pun, hari akan menjadi gelap ketika mengetahui bahwa perempuan yang dipikirkannya setiap hari, sebenarnya menghormati dan mengistimewakan lelaki lain. Yang diperlukannya hanyalah keutuhan, kepastian bahwa perempuan yang ditujunya sepenuhnya miliknya. Kebahagiaan dalam cinta adalah “kepemilikan”. Lainnya tidak ada!

Setiap lelaki pasti tenggelam dalam perasaan. Namun, tidak semua lelaki merumuskan kebahagiaan dalam dunia perasaannya itu. Maka terkutuklah lelaki yang ditakdirkan mampu merumuskan kebahagiaan itu. Sebab ia tahu, ada kepedihan yang tak dapat dibantah dalam setiap kebahagiaan. Dan kepedihan itulah yang menjadi hantu dalam setiap gerak hidupnya. Ia akan selalu menjadi manusia yang senantiasa khawatir, mampus dalam gelisah.

Malanglah nasib Ka, ia harus kembali ke Frankfurt tanpa Ipek. Di mata Ipek, ia hanyalah pengkhianat yang dengan rasa cemburu membocorkan persembunyian Lazuardi kepada militer. Lazuardi, cinta lama Ipek, tewas dibantai militer yang benci kepada Islamis. Dan Ka tak pernah lagi kembali ke Kars. Empat tahun sejak kunjungan tiga harinya ke Kars, ia tak pernah menulis puisi dan memiliki perempuan lagi. Dalam kesendiriannya yang selalu memikirkan Ipek, Ka mati ditembak di jalan Kaisserrtrasse, Frankfurt.

Dan kematian Ka, menghantarkan Orhan Pamuk, yang menjadikan Ka sebagai bintang utama dalam novel fenomenal berjudul “Snow (Di balik Keheningan Salju)”, meraih Nobel Sastra pada 2006.

November 9 2009

Wednesday, October 28, 2009

Belajar dari Woodstock sambil Menunggu Miyabi


Mereka menari-nari dalam hujan, main perosotan di lumpur pertanian. Sebagian mencopot pakaian, telanjang bulat. Dalam benak anak-anak muda yang sedang menyodorkan budaya tanding ini, tubuh harus diterima sebagaimana adanya. Tubuh-tubuh wanita yang telanjang harus diterima sebagaimana adanya, bukan dalam eksploitasi keindahan ala majalah Playboy. (Bre Redana tentang 40 Tahun Festival Woodstock dalam artikel “Tuhan Memberkati Kalian…” di Kompas edisi 5 Juli 2009).


Kita perlu mencatat pandangan Bre Redana tentang ketelanjangan muda-mudi di Woodstock, Bethel, New York, Amerika Serikat, sesaat setelah hujan badai di pertengahan Agustus 1969 itu. Setidaknya, dengan mengingat-ngingat kembali ketelanjangan mereka, kita tahu bahwa ketelanjangan bukanlah persoalan yang tuntas dalam masyarakat. Dan Woodstock adalah monumen dalam sejarah dunia yang berupaya memberikan pandangan berbeda mengenai “tubuh yang tak bisa lagi dihindarkan dari politik.”

Sejatinya, anak-anak muda barat itu hanyalah berupaya melawan kepicikan orang tua mereka dengan “bertelanjang.” Michel Foucault pernah menelanjangi “politik tubuh” masyarakat barat dalam bukunya yang bertajuk History of Sexuality. Foucault habis-habisan menghujat kemunafikan masyarakat barat yang menistakan ketelanjangan demi kepentingan politik.

Masyarakat barat di zaman dahulu, menurut Foucault, senantiasa menilai ketelanjangan sebagai sesuatu yang tabu. Dengan dalih moralitas agama, ketelanjangan dan seksualitas dilarang muncul di hadapan publik. Namun ironisnya, pentabuan itu dilakukan sekaligus dengan upaya memunculkan kembali seksualitas dalam bentuk yang lebih terselubung dan ideologis.

Dia mencontohkan, urusan ranjang yang seharusnya menjadi urusan paling “privat” dicampuri negara dengan membuat hitung-hitungan statistik untuk membatasi jumlah penduduk. Di sini pembicaraan seks dimunculkan kembali untuk mempolitisasi seks.Di negeri ini, kita pernah mengenal program Keluarga Bencana (KB). Dalam pandangan Foucault, program-program yang membatasi jumlah penduduk berdasarkan perhitungan statistik itu adalah siasat yang ideologis untuk mencampuri urusan ranjang masyarakat.

Program-program semacam itu, tidak semata-mata bermakna untuk membatasi jumlah penduduk demi kepentingan pembangunan. Kekuasaan, dalam rangka mempertahankan kekuasaannya, berkepentingan untuk masuk ke dalam kamar tidur rakyat dan mengatur secara tak langsung persetubuhan rakyat dengan dalih “dua anak saja cukup.” Bukankah target pembangunan suatu rezim-dengan mengendalikan jumlah penduduk-juga bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan rezim itu sendiri?

Kendati demikian, Foucault memuji kerahasiaan ketelanjangan masyarakat timur. Dia menganggap, kebudayaan timur, terutama yang ada dalam kebudayaan agama-agama bumi, justru merahasiakan ketelanjangan dan seksualitas itu untuk menghargai seksualitas itu sendiri. Masyarakat timur, menutup tubuhnya karena bagi mereka, ketelanjangan dan seksualitas adalah sesuatu yang “tinggi." Seks harus dirahasiakan karena masyarakat timur menganggapnya sakral.

Sakralitas dalam ketelanjangan dan seksualitas itulah yang tidak terdapat dalam masyarakat barat. Ketelanjangan anak-anak muda di Woodstock telah membuktikan itu. Karena kemunafikan atas tabu ketelanjangan dan seksualitas, mereka berusaha mengadopsi paradigma masyarakat timur dalam memandang ketelanjangan. Namun, mereka menterjemahkannya dalam bentuk yang lebih berani. Yakni, jika masyarakat timur merahasiakan ketelanjangan sebagai bagian dari sucinya manusia, anak muda Amerika Serikat era 1960-an itu membuka pakaiannya dengan memanusiakan “kebinatangan” manusia dalam hal seksualitas.

Namun, meski bermakna pembebasan, ketelanjangan anak muda di Woodstock tak dapat serta-merta diterapkan di Indonesia. Meskipun yang melakukannya adalah Hippies lokal yang hidup di era 1960-an. Kita tak mungkin telanjang begitu saja meski makna ketelanjangan yang dianut Flower Generation (Generasi Bunga ) itu sesungguhnya meletakkan keagungan manusia di tempat yang paling tinggi.

Tapi kita dapat menyerap prinsip dan cara pandang anak-anak muda Woodstock itu untuk menilai polemik tentang tubuh dan ketelanjangan di negara sendiri. Tanpa perlu membuka baju, bersepakat dengan pandangan “menerima tubuh apa adanya” itu dapat memberikan kita tempat yang nyaman untuk menunggu kedatangan Miyabi.

Oktober 13 2009

Tentang Padang


It is the evening of the day. I sit and watch the children play

Smiling faces I can see. But not for me
I sit and watch, as tears go by
(The Rolling Stones, December's Children (And Every Body's), 1965)

Jiwa adalah sumber utama bagi gerak denyut kehidupan di suatu tempat yang dihuni masyarakat. Jiwalah yang memberikan makanan kepada pikiran untuk menentukan bentuk kehidupan di suatu tempat. Dengan memahami jiwa masyarakatnya, kita hampir mengetahui situasi seluruh kota.

Lalu, apakah yang terjadi dengan sebuah kota jika hampir seluruh penduduknya berada dalam keadaan jiwa yang terguncang nyaris gila?

Pertengahan 2006, seorang kawan mengisahkan kepada saya tentang pengalamannya menjadi relawan gempa bumi Jogjakarta. Hanya karena semangat voluntarismenya sebagai anggota mahasiswa pencinta alam di Jogjakarta, ia datang ke suatu tempat di mana mayat-mayat paling banyak bergelimpang.

Kawan saya bercerita tentang hari yang naas. Ketika truk pengangkut bantuan makanan dan lainnya melintas di jalan desa menuju posko, serombongan penduduk setempat menghadang. Tanpa banyak basa-basi, mereka meminta bantuan itu diturunkan di tempat itu juga. Alasannya, banyak warga di kampungnya yang belum menerima bantuan.

Relawan tentu saja menolak. Sebab, menurut mereka, bantuan harus sampai di posko, dan dibagi secara adil. Nyaris baku hantam terjadi. Siapa yang tidak ngeri dengan orang-orang (korban) yang sedang luka itu? Mereka bisa seperti macan yang darahnya sedang meleler di sekujur tubuh.

Truk memang lolos dan selamat sampai posko. Namun yang lebih naas, penduduk yang menghadang tadi menolak mengantre dan meminta bagian lebih banyak jatah minyak tanah yang sedang dibagikan. Lagi-lagi, terjadi perang mulut. Jika penghadangan masih meloloskan truk, namun kali ini, korban gempa yang bersitegang itu mengeluarkan senjata tajam hendak menikam relawan.

Dalam kondisi normal, relawan tersebut seharusnya pulang meninggalkan posko tersebut. Betapa tidak, pekerjaan relawan yang tanpa upah itu harus ditebus dengan ancaman senjata tajam. Tidakkah ini pelecehan terhadap kerja-kerja sukarela?

Tapi, uniknya kawan saya tidak benci. Dia hanya bilang, kita hanya kaget sebab kita bukan korban. Mereka itu, para korban yang selamat namun kehilangan anak, istri, suami, dan kerabat, sedang terguncang jiwanya. Dalam keguncangan, stabilitas hilang. Dalam instabilitas, kehancuran mendekat, karena angin buruk dari keaslian jiwa manusia muncul secara jujur.

Dengan kata lain, kawan saya mengatakan, "wajarlah mereka menjadi ganas. Sebab, jiwa mereka guncang. Kita, yang bukan korban, tentulah dapat melihat keburukan yang muncul dari keaslian jiwa korban itu, karena kita stabil. Jikalau saja kita berada pada posisi korban, hawa buruk dari keaslian jiwa kita pun akan muncul tanpa kita sadari. Jadi, maklumilah, dan teruslah bekerja."

Dengan pengetahuan akan jiwa itu, cobalah berangkat ke Padang beberapa hari ini. Niscaya, kita yang bukan korban, dengan jiwa yang relatif stabil, dapat melihat keburukan dari keaslian jiwa manusia. Bukan tidak mungkin, kita akan merasa terkejut karena dalam keseharian kita yang bahagia, tak pernah kita menemui keburukan-keburukan manusia yang menjadi korban itu.

Dan bayangkanlah, dengan kondisi jiwa seluruh penduduk Padang yang guncang, kita dapat merasakan ketidaknyamanan di kota itu. Keguncangan jiwa masyarakatnya akan memaksa wajah kota menjadi jorok, menyedihkan, dan seram.

Bencana memang tidak pernah menyajikan keindahan. Siapa (bukan korban) yang berani datang ke Padang beberapa hari ini, tentu saja merasa resah. Sebab, saat-saat itu, kehidupan yang normal masih melekat di kepala dan perasaan. Sekaligus kehidupan yang normal itu, untuk sementara berada nun jauh di rumah, di kampung halaman, kampus, atau tempat kerja.

Tanpa menyadari dan memaklumi keguncangan jiwa itu, kita yang bukan korban sebenarnya sama-sama mabuk. Jika korban mabuk karena kepedihan dan histeria, maka kita yang bukan korban namun sempat ke Padang akan mabuk melihat keburukan sifat manusia, dan menyebabkan kita tak lagi sedih di tengah-tengahnya. Sedangkan kita yang hanya menyimak tragedi itu lewat televisi, mabuk oleh kepedihan-kepedihan citraan yang diglorifikasi media massa.

Oh, senangnya menjadi kanak-kanak!


Oktober 9 2009