Di negeri ini, sepakbola sudah masuk dalam wilayah perasaan. Dia tidak lagi menjadi sekedar “game” dengan bumbu-bumbu kebijaksanaan sebagai miniatur kehidupan. Perasaan, sebagaimana dia mampu memperbudak kita saat jatuh cinta, acap membawa kita pada keadaan yang tak masuk akal.
Bagaimana, misalnya, menjelaskan kerusuhan yang pecah di Ambon, Maluku, beberapa saat setelah kesebelasan Spanyol menaklukkan Belanda secara dramatis dalam laga final Piala Dunia 2010? Kerusuhan itu terjadi karena pendukung Belanda kecewa karena tim yang dibelanya kalah. Setidaknya sembilan kios rusak di jalan Diponegoro, Ambon. Untuk meredamnya, Satuan Brimob Polda Maluku harus menurunkan satu peleton pasukan.
Mengapa orang-orang Ambon yang juga warga negara berkebangsaan Indonesia itu rela membiarkan energi dan perasaannya untuk kecewa terhadap kekalahan negara yang bukan tanah airnya? Tidakkah situasi ini absurd karena ekspresi perasaan itu menggugat nasionalisme sebagai bangsa?
Banyak hal yang bisa dicurigai. Mungkin memang sepakbola sudah menjelma fenomena budaya massa yang dahsyat setelah musik rock. Kini, manusia di mana pun, tidak bisa tidak harus bersentuhan dengan sepakbola. Pun jika dia tidak terlalu menyukai sepakbola sebagai sebuah cabang olah raga. Karena mengabaikan sepakbola di zaman ini, sama saja dengan menolak menjadi warga dunia.
Tetapi, bukankah ada negara lain yang demam sepakbola namun tidak terlalu menggunakan perasaan sebagaimana di Indonesia? Di Malaysia, saat kesebelasan negara itu bertanding sebagai tuan rumah Piala Asia 2007, stadion sepi. Sebagai orang Indonesia, saya juga merasa situasi itu agak absurd. Sebab, keadaannya berbanding terbalik dengan Indonesia.
Saya ingat saat pertandingan pertama Indonesia melawan Bahrain dalam penyisihan Piala Asia. Saya menonton lewat layar televisi di kantor tempat saya bekerja. Saya termasuk orang yang merugi tak hadir di Gelora Bung Karno waktu itu.
Euforia pertandingan itu bermula sejak pagi. Seluruh pendukung Indonesia dari penjuru manapun membludak di Senayan. Sebagian mengamuk karena tak mendapat tiket. Mereka melempar loket pembelian tiket dengan uang receh. Jumlah pendukung yang tak masuk ke stadion itu ribuan.
Lalu masuklah ke dalam adegan pertandingan. Kegilaan orang Indonesia atas sepakbola sekaligus menunjukkan kecintaannya terhadap negara mengemuka saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan sebelum pertandingan. Sekitar 100.000 lebih penonton yang memadati Senayan turut mengumandangkan Indonesia Raya. Bayangkan: sebuah koor ratusan ribu manusia dalam nada yang sama. Betapa mistis!
Bambang Pamungkas meledakkan kegembiraan! Dia babak kedua, dia melesakkan bola ke pojok kanan gawang setelah penjaga gawang Bahrain menepis tembakan Firman Utina. Skor menjadi 2-1. Gol sebelumnya dicetak oleh Elie Aiboy dengan gocekan khas pemain asal Papua.
Saat mata kepala saya yakin bahwa gol kedua dari Bambang Pamungkas itu sah sebagai gol, rasanya darah saya naik ke otak. Gemuruh di stadion seolah mau melompat dari layar televisi dan memporak-porandakan isi kantor saya. Saat itu saya seperti merasa menjadi warga yang negaranya baru saja merdeka dari penjajahan.
Meski menang melawan Bahrain, Indonesia tetap tak lolos pada fase penyisihan grup karena keok melawan Arab Saudi dan Korea Selatan. Tapi, pertandingan itu tetap menjadi pertandingan yang bersejarah dalam catatan sepak bola Indonesia.
Tapi, kalau kita mau jujur, sebenarnya kemenangan itu tidaklah istimewa dalam lanskap sepakbola dunia. Kemenangan itu hanya sekali, pada fase penyisihan, dan hanya di Piala Asia. Jika kita menonton Piala Dunia, negara yang hanya menang sekali di penyisihan seperti Indonesia tentu tak terlalu dianggap oleh warga dunia. Kecuali jika negara tersebut memang memiliki prestasi gemilang dalam sejarah sepakbolanya. Sebut saja mantan Juara Dunia 1998 Prancis yang harus pulang lebih dulu karena tak lolos penyisihan.
Tapi mengapa kita terlalu bahagia dengan kemenangan yang sekali dan hanya pada babak penyisihan itu?
Saya merasa ekspresi itu adalah ekspresi masyarakat yang tertindas dan selalu merasa inferior dalam konstelasi politik dunia. Sulit rasanya membayangkan pemerintah mampu mengubah Indonesia menjadi negara kuat yang diperhitungkan secara politik dan ekonomi di dunia. Jangankan menyamai Amerika Serikat, untuk menjadi negara semaju Jepang atau sefenomenal China, kita hanya menemui jalan buntu.
Di sisi lain, dunia memberikan peluang bagi negara-negara miskin dan berkembang untuk tetap dihargai sebagai sebuah negara dalam gelanggang dunia. Peluang itu hanya ada di sepakbola.
Brazil, misalnya, bukanlah negara kuat secara ekonomi dan politik. Tetapi, sejarah sepakbolanya yang panjang membuat negara itu dipandang sebagai “negeri sepak bola.” Atau, siapa yang peduli dengan negara-negara terbelakang di Afrika jika bukan karena anak-anak Afrika menjadi bintang di klub-klub terbaik Eropa?
Itu pula sebabnya pertandingan antara Spanyol dan Belanda menjadi dramatis. Keduanya belum pernah menjuarai Piala Dunia. Bagi Belanda, final Piala Dunia 2010 adalah yang ketiga. Sedangkan bagi Spanyol, ini final pertamanya. Siapapun yang menang, keduanya akan dianggap sebagai negara besar tidak hanya di dunia sepakbola, namun juga di kancah politik dunia.
Politik! Ya, itu sebabnya Presiden Prancis Nicholas Sarkozy rela turun tangan untuk menyelesaikan kisruh di tubuh tim nasional Prancis. Itu pula yang menyebabkan Presiden Brazil Luis Inacio Lula da Silva memberi komentar yang membela pelatih Carlos Dunga karena dihujat karena tak memanggil Ronaldinho ke timnas Piala Dunia 2010. Bahkan, saat timnas Brazil pulang karena langkah mereka dihentikan Belanda di perempat final, timnas Brazil tetap disambut dengan hormat. Bahkan Lula da Silva angkat bicara. “Kalah bagi tim yang sering menang itu biasa,” kata Lula yang tetap memuji tim nasionalnya.
Di Spanyol keadaan jauh lebih rumit. Barcelona, selalu dikaitkan dengan pemberontakan Catalonia melawan pemerintah pusat di Madrid. Sebulan setelah Perang Sipil Spanyol pecah pada 1936, sejumlah pemain Barcelonda dan Athletic Bilbao yang mewakili etnis Basque masuk daftar orang-orang yang melawan militer.
Pada 6 Agustus di tahun yang sama, Presiden klub Barcelona dan perwakilan partai politik pro-kemerdekaan untuk Catalan, Josep Sunyol, dibunuh oleh militer di dekat wilayah Guadarrama, Spanyol. Momen ini menjadi catatan penting dalam perjalanan Barcelona.
Tentu saja ingatan akan pembunuhan itu menjadi dendam. Sebab itu, saya memaklumi tindakan Xavi Hernandez dan Carlos Puyol saat berlari sambil mengibarkan bendera Catalonia seraya membawa Piala Dunia sebagai selebrasi kemenangan Spanyol atas Belanda.
Buat sebagian orang, mungkin tindakan Xavi dan Puyol terasa tidak bijak. Toh mereka bermain atas nama Spanyol!
Tapi luka sejarah Catalan yang mendalam membuatnya menjadi wajar. Xavi adalah pemain paling penting di balik kemenangan Spanyol di Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Xavi juga dianggap sebagai roh Spanyol dan Barcelona. Dan ketika membawa-bawa nama Barcelona dalam timnas Spanyol, tidak bisa tidak kenangan akan pembunuhan Sunyol oleh tentara diktator Franco akan muncul.
Lagi pula, bagi saya, prestasi terbesar Barcelona bukanlah ketika Josep Guardiola berhasil membawa Barcelona menjuarai enam kejuaraan dalam semusim. Prestasi terbesar Barcelona adalah ketika klub itu menyumbangkan sebagian besar pemain dan pola permainan yang membawa Spanyol menjadi juara dunia. Dan Xavi adalah jantung dari pola permainan sang juara.
Selain soal kepiawaian meramu tim, pelatih Spanyol pun mau tidak mau harus memiliki pandangan politik yang adil atas timnas Spanyol. Bintang Spanyol dan Real Madrid di era 90-an, Fernando Hierro, pernah mengatakan bahwa jika pemain Madrid membuat kesalahan saat bermain untuk Spanyol, pemain Barcelona tidak akan menegurnya. Sementara Fernando Torres mengungkapkan keadaan di timnas Spanyol lebih sulit dari yang dibayangkan orang-orang dari luar. Inilah yang menyebabkan Spanyol tak pernah berbunyi di Piala Dunia meski memiliki segudang pemain berbakat.
Louis Aragones adalah pembuka jalan. Sadar atau tidak, dia menggunakan paradigma yang politis dalam timnas Spanyol. Dalam tubuh timnas Spanyol yang menjuarai Piala Eropa 2008, Aragones memanggil sejumlah pemain yang mewakili sejumlah etnis. Anak-anak Catalonia, Castillia (Madrid), Asturia, bahkan Basque, masuk dalam gerbong Aragones.
Apa yang disebut rekonsiliasi sebagai jalan keluar konflik sudah dimulai Aragones dengan bahasa sepakbola. Dan rekonsiliasi itu mencapai puncaknya ketika Vicente del Bosque melanjutkan paradigma Aragones pada Piala Dunia 2010.
Del Bosque sendiri adalah orang Castillia yang sempat menjadi bintang di Real Madrid semasa menjadi pemain. Ia juga sempat membawa Madrid mencapai kejayaannya kala menjadi pelatih. Tetapi, pelatih yang kalem itu tak tersinggung dengan tindakan Xavi dan Puyol. “Pemain sudah lupa persoalan politik,” kata del Bosque sebelum penyerahan Piala Dunia 2010.
Inilah pendirian yang arif bagi seorang pelatih yang sejarah negaranya bergelimang konflik. Tentu saja, del Bosque menjadi moderat sebab dia juga punya sikap terhadap diktator Franco. Dia berkisah, ayahnya adalah orang Madrid yang sempat dipenjara Franco karena menentang kedikatorannya. Berdasarkan pengalaman itu, dia lebih menghargai perbedaan di Spanyol.
Dari pernyataannya, saya menangkap del Bosque menganggap aksi Xavi dan Puyol adalah ekspresi simbolik semata. Ekspresi simbolik itu menjadi penting untuk mengatasi sejarah yang runyam. Toh, Spanyol tetap tegak meski bendera Catalonia dikibarkan Xavi dan Puyol. Del Bosque sadar bahwa sejarah kelam itu tetap takkan bisa pupus begitu saja di dada orang Catalonia. Sebab itulah, bendera Catalan yang dibawa Xavi dan Puyol merupakan sebuah kompromi yang mengarah pada perdamaian.
Selain itu, dari sosok del Bosque kita bisa menemukan bahwa tidak semua orang Madrid membenci Catalans. Dalam konflik yang pahit itu, ternyata masih ada sejumlah orang yang menginginkan kedamaian. Dari manakah kedamaian itu bisa diraih jika politik tak merestuinya? Inilah sihir sepakbola! Vicente del Bosque mewujudkannya!
Lagi pula, yang menarik dari timnas Spanyol yakni semua unsur yang bertikaian itu direkatkan dengan cara yang sangat indah. Bayangkan, sebagian besar pemain Spanyol adalah pemain Barcelona dan Castillia. Sebagian lagi mewakili etnis yang lain. Lalu, meski gaya permainan dan jantung permainan diambil dari Catalonia, toh kapten kesebelasan Iker Casillas dan pelatih Vicente del Bosque adalah orang Madrid.
Selain itu, gol-gol penting yang membawa Spanyol ke tangga juara dilesakkan oleh anak-anak Barcelona: Iniesta, Pique, dan Puyol. Uniknya, pahlawan Spanyol yang mencetak gol tunggal kemenangan di final melawan Belanda, Andres Iniesta, adalah anak Castillia yang sejak kanak-kanak diasuh oleh Barcelona.
Dengan jalan yang elegan itulah, Spanyol kini diperhitungkan dunia. Dia menjadi negara baru yang sejajar dengan Italia dan Jerman.
Spanyol kini tak lagi menjadi negara medioker dalam sepakbola, sekaligus juga politik dunia. Sungguh kemenangan yang indah, kemenangan yang dicapai dengan pikiran yang damai dan menghasilkan perdamaian pula. Majalah Tempo menyebutkan, di Basque orang tak pernah menyaksikan bendera Spanyol berkibar selain saat Spanyol juara dunia.
Jika kita ingin kembali ke Indonesia, kita tentu akan menghadapi situasi yang sangat berbeda. Indonesia memang rawan konflik dan memiliki sejarah politik yang kelam. Namun sejarah politik kita tak berimbang dengan sejarah sepakbola. Kita belum pernah punya sejarah sepakbola yang mapan.
Jika di Spanyol perseteruan Catalan dan Madrid bisa dipindahkan ke lapangan hijau dan melahirkan rivalitas yang sehat antara Barcelona dan Real Madrid, Indonesia belum memilikinya. Satu-satunya kehebatan Indonesia ketimbang Spanyol adalah, meski kita bersuku banyak, namun timnas tetap satu, timnas Indonesia. Di timnas Indonesia, tak ada konflik yang dilandasi perbedaan etnis itu.
Tapi justru di sanalah masalahnya menjadi pelik. Di satu sisi, masyarakat paham bahwa hanya lewat jalur sepakbola keterpurukan di bidang politik dan ekonomi bisa diatasi. Nasionalisme adalah bentuk lain dari perasaan cinta kepada tanah air, tak mungkin menjadi nasionalis tanpa melibatkan perasaan. Namun di sisi lain, perasaan nasionalisme yang seharusnya bisa ditumpahkan dalam sepakbola itu tak pula berbanding lurus dengan prestasi timnas. Indonesia jarang menang, liga kacau, PSSI-nya korup dan tak berwibawa. Ada jarak antara harapan yang nasionalis dengan wajah sepak bola Indonesia. Wajar saja jika kini cara masyarakat mengkritik PSSI sama kerasnya dengan mengkritik pemerintah.
Sebagai generasi yang hidup di zaman ini, saya hanya bisa bertahan dan yakin bahwa saya orang Indonesia sejati hanya karena pertalian yang erat antara perasaan saya dengan Indonesia. Pertalian itu adalah, sebagaimana disebut novelis Ayu Utami dalam novelnya Bilangan Fu, pengetahuan yang kita peroleh dalam darah. Pengetahuan identitas kita sebagai bangsa itu hadir dalam tubuh kita sejak kita dilahirkan.
Itu berarti perasaanlah yang paling utama. Kalau tidak, dari manakah negara seribu masalah ini bisa tetap tegak tak terpecah-pecah jika bukan karena jalinan emosional yang kuat? Jalinan emosional itu pula yang saya kira menyebabkan masyarakat miskin yang terserak di segala penjuru tidak mudah mati seperti laron.
Buruk atau baiknya pemerintah, perasaan kita sebagai bangsa takkan pernah lenyap. Demikian pula, buruk atau tidaknya sepakbola, batin kita tetap terikat kuat dengan takdir sebagai bangsa. Tapi, jika pemerintah dan sepakbola tak bisa memberi kita semacam kebanggaan, kemana lagi kita harus mencarinya?
Selama ini, kita masih menumpangkan kebanggaan pada negara orang atau klub dari negara orang. Saya pencinta Barcelona, bisa dikatakan fanatik. Saya mencintai Barcelona seperti saya mencintai gitar listrik pertama saya. Pada Piala Dunia 2010, saya mendukung Spanyol, meskipun saya juga mendukung Argentina dan Brazil.
Tetapi, bukankah itu sebenarnya pelarian? Bukankah saya seharusnya mendukung PSSI hidup dan mati dengan perasaan saya? Oh, tidak! Zaman menjerumuskan saya masuk dalam situasi tak menentu, pemerintah karut-marut, sepakbola pun suram. Ya, untuk melepaskan keinginan menjadi “pemenang”, saya hanya bisa menumpang pada Barcelona dan Spanyol dan Brazil dan Argentina. Saya menyimak Lionel Messi seolah-olah dia adalah anak Papua. Saya menyimak Xavi seolah-olah dia adalah pemain didikan PSM Makassar. Nasionalisme saya muntah di tanah orang.
Dengan keadaan ini, maka wajar jika kerusuhan terjadi di Ambon gara-gara Piala Dunia 2010. Mereka mendukung Spanyol atau Belanda seolah-olah negara itu adalah negara mereka sendiri. Dan ketika negara yang mereka dukung kalah, mereka tak segan mengeluarkan amarah bagaikan negaranya sendiri sedang dicaci-maki.
Yang lebih berbahaya, kini sepakbola sudah menjadi keseharian yang penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Paling tidak, ada lebih dari 10 pertandingan sepakbola langsung yang disiarkan per pekan di televisi swasta Indonesia. Jumlah itu belum termasuk siaran yang ditayangkan di televisi kabel.
Hari-hari kita adalah hari-hari sepakbola. Bahkan, kita tak merasa rugi jika televisi menayangkan pertandingan tunda lebih dari sekali. Ya, menonton sepakbola membawa kita pada pergaulan dunia. Tanpa sadar, saat menonton sepakbola, kita seolah berada di Manchester, Turin, atau Valencia.
Tak ada tayangan yang menghadirkan kenyatakan faktual secara langsung di belahan dunia lain sebanyak sepakbola. Peristiwa politik atau bencana alam paling dahsyat sekalipun di negeri orang, takkan disiarkan secara langsung sesering sepakbola.
Menonton sepakbola, kita dapat menyaksikan tubuh, mimik, dan gesture, seluruh orang yang berada di stadion di Inggris atau Italia. Kita menonton hal yang sama, berada pada event yang sama, dan pada saat yang bersamaan. Bukankah itu faktual!
Dan Piala Dunia adalah festival bangsa-bangsa. Tak ada hajat yang melibatkan miliaran manusia di seluruh dunia selain Piala Dunia. Semua orang merasa berkepentingan dengan Piala Dunia meski negaranya sama sekali tak tercatat dalam sejarah Piala Dunia.
Tetapi dunia sudah terlanjur berjalan tak seimbang. Jika saya, Anda, atau massa yang rusuh di Ambon itu adalah salah satu dari orang yang terlibat di festival bangsa-bangsa, maka kita hanya bisa bersorak kagum dengan orang-orang yang ada di panggung utama festival. Mungkin kita sama sekali tak masuk ke dalam arena festival. Tetapi, di sudut yang kelam, kita menjadi gila ketika mendengar sayup-sayup kesebelasan negeri orang yang kita banggakan itu berteriak “gooooooollllll…..!!!”
Oktober 8 2010