Kelapa Dua, Mei 12 2013
Thursday, May 16, 2013
Madrid Melangkah di Bawah Langit Katalunya (Catatan Seorang Fan 4)
Kelapa Dua, Mei 12 2013
Friday, October 14, 2011
Saya Tidak Bisa Berenang
Saya tidak bisa berenang. Tetapi saya sudah di tengah laut. Di atas perahu bermesin ini, sudah tersedia kacamata plus pipa “insang” untuk snorkeling. Di bagian depannya, puluhan sepatu katak bertumpuk-tumpuk.
Kecuali empat orang awak perahu, penumpang lainnya adalah rekan sekantor. Mereka bersemangat meskipun beberapa orang mabuk laut.
Perahu bergerak menjauhi pulau Tidung dan mendekati pulau lainnya. Perjalanan sekitar 45 menit. Saya tak tahu nama pulau yang didekati perahu itu. Saya baru kali pertama datang ke Kepulauan Seribu. Sulit menghapal nama-nama dan memastikan lokasi pulau-pulau yang berdekatan itu.
Perahu tak menepi di pulau tujuan. Hanya berhenti di wilayah yang tak terlalu dalam, mungkin sekitar satu kilometer dari pulau. Di bawah perahu, air berwarna biru dan jernih. Dan saya belum pernah berenang ke laut, selain juga tidak bisa berenang. Tetapi toh ada pelampung.
Saya turun ke air tanpa rasa takut. Tubuh mengapung tanpa harus menggerakkan kaki. Pipa insang sudah saya masukkan ke dalam mulut. Selanjutnya, kacamata snorkeling saya lekatkan ke wajah. Astaga! Saya tidak bisa bernafas. Setiap kali saya mencelupkan kepala ke dalam air, saya muncul kembali ke atas permukaan dengan nafas terengah-engah. Air laut terminum juga sedikit-sedikit. Asin.
Seorang teman mengajarkan caranya. Saya harus bernafas lewat mulut. Hanya lewat mulut. Seperti ikan. Ketika saya mencoba bernafas lewat mulut, saya baru tahu trik dari wisata laut yang belum pernah saya coba ini. Untuk pertama kali ketika saya berhasil bernafas dan mencelupkan kepala ke laut, saya melihat keadaan di bawah laut begitu terang dan berwarna-warni. Ternyata, bawah laut memang ajaib, indah, seperti dunia sendiri.
Sejak itu, saya berkeliaran ke sana-kemari untuk melihat-lihat terumbu karang beserta ikan-ikan berbagai jenis dan warna. Ikan-ikan itu berseliweran di atas kepala saya. Berenang bergerombol di depan mata saya tanpa rasa takut.
Sekali-sekali saya iseng mendekati gerombolan yang tampak sedang berhenti di satu rumpun karang. Mungkin mereka mencari makan. Ketika saya mendekat, mereka menjauh dan sulit saya tangkap. Tetapi mereka sama sekali tidak punya rasa takut terhadap saya, si manusia yang baru pertama kali berkeliaran di dalam laut.
Belakangan, ketika saya sudah sampai di Jakarta lagi, saya ceritakan ke teman-teman saya betapa cueknya ikan-ikan itu terhadap saya. Teman-teman saya menjawab dengan sederhana: “ya wajarlah! Itu memang alamnya dia.” Saya lupa, bahwa di dalam laut, manusia hanyalah orang asing. Ikan adalah tuan rumah di sebuah dunia lain yang mungkin saja seperti surga.
Pukul empat sore, kami semua naik ke kapal. Saya sedikit mual. Rasanya angin yang tidak pernah keluar dari tubuh saya terdesak hingga ke ujung pori-pori. Tetapi pemandangan bawah laut yang dilihat dari permukaan membuat rasa mual itu tak ada artinya.
***
Malam itu kami tak jadi bakar ikan di pinggir laut. Sebagian dari kami lelah. Sore sehabis snorkeling, beberapa dari kami bersepeda ke Jembatan Cinta. Jembatan Cinta mungkin sekitar dua kilometer dari rumah sewa (home stay) yang kami tumpangi. Di halaman rumah sewa berderet puluhan sepeda jenis mini dengan keranjang di depan setang.
Bersepeda ke Jembatan Cinta memberikan hiburan yang lumayan. Kami melewati jalan setapak yang membujur nyaris sepanjang pulau. Hari itu Minggu. Jadi, Jembatan Cinta sangat ramai. Ada perempuan-perempuan dengan rambut basah, anak kecil, dan pemuda-pemuda yang sedang berhitung sebelum melompat ke air dari jembatan.
Kelelahan bermain sepanjang hari membuat sebagian dari kami malas ke pinggir laut. Malam itu, cumi-cumi dan ikan baronang dipanggang di halaman di samping home stay. Rasanya lumayan. Bumbu dan bakarannya pas. Di televisi, Everton ditaklukkan Liverpool 0-2. Manchester United mengalahkan Norwich City juga dengan skor 2-0.
Tapi tak ada bir di pulau ini. Rekan-rekan sekantor saya, terutama yang lelaki, adalah penikmat bir. Biasanya, acara-acara malam seperti itu selalu diwarnai bir. Menurut salah seorang penduduk, bir dilarang di pulau itu. Kafe-kafe di pinggir pantai bahkan tak menjual minuman keras apapun. Bahkan, kata penduduk itu, ada pengunjung yang tertangkap karena membawa ganja. Pengunjung itu langsung diserahkan ke polisi setempat dan dikirim ke Jakarta untuk dimasukkan ke penjara.
Tetapi, bagaimana bisa liburan malam di pinggir pantai tanpa bir? Malam pun bergerak begitu cepat.
Beruntung saya punya Giyatno. Dia bagian pembantu umum di kantor saya. Sebelum orang-orang tidur karena kelelahan, Giyatno mengajak saya berjalan-jalan ke pinggir pantai. Saya mengiyakan. Kami berjalan ke dermaga papan di mana perahu wisata snorkeling bersandar.
Tempatnya terlalu ramai. Sebagian pengunjung duduk di atas tikar sambil membakar jagung. Saya, dan juga Giyatno, butuh tempat yang sepi.
Setelah berjalan-jalan ke sana kemari, akhirnya kami menemukan tempat yang kami inginkan. Sebuah balai-balai dari papan dengan sandaran kepala. Jika anda mengantuk, anda bisa merebahkan badan dan menyandarkan kepala dengan kemiringan leher yang pas. Di kiri-kanan, terdapat rumah penduduk.
Di depan balai-balai, tegak sebuah lampu listrik berwarna merkuri. Anehnya, lampu merkuri tersebut menyala dan mati dalam jarak lima menit sekali. Di sebelah kanannya, dua perahu terikat pada tambatannya.
Dan kami melakukan semacam, sebutlah kegiatan kriminal kecil yang tetap punya resiko. Setelah tubuh dan pikiran bergerak semakin pelan, saya merebahkan badan dan menyandarkan kepala. Ketika memejamkan mata, yang terdengar hanya deru angin, gemerisik dedaunan yang tak berhenti diusik angin, serta lampu yang terus nyala-mati tiap lima menit. Tubuh seperti di dalam buaian. Betapa indahnya!
Giyatno bilang kami bisa saja tertidur di sana. Tetapi saya lebih memilih pulang. Namun begitu, sebelum kami pulang, Giyatno bercerita tentang perjalanan hidupnya. Ia pernah ditangkap polisi karena menggores bodi mobil saat ngamen. Itu terjadi di Yogyakarta saat usianya 15 tahun. Giyatno dibawa ke semacam markas tentara atau polisi. Menurut dugaannya, mobil yang digoresnya di jalanan itu milik petinggi militer atau polisi.
Dari Giyatno juga saya tahu, bahwa di jalanan kota Yogyakarta, orang-orang yang berkeliaran justru tak berasal dari kota itu. Sebagian mereka berasa dari Magelang, Gunung Kidul, dan daerah sekitarnya. Giyatno sendiri berasal dari Solo.
Selanjutnya ia pernah masuk ke dalam diskotik-diskotik di Yogyakarta. Siasatnya, sebelum ke diskotik, dia bersama teman-temannya membeli anggur merah. Anggur merah itu dimasukkan ke dalam tas dan di bawa ke dalam diskotik. Tujuannya untuk menghemat belanja di dalam diskotik. Jadi, di dalam diskotik mereka cukup memesan 3-4 botol bir. Untuk mencari efek mabuk, anggur merah yang dibeli dari luar ditenggak diam-diam.
Saya punya kecocokan sama Giyatno. Pertama, mungkin karena saya dan Giyatno seumuran. Yang kedua, kita sama-sama penggila sepak bola. Saya mencintai Barcelona dan pesimistis dengan liga Indonesia. Tetapi Giyatno berbeda. Dia anggota Pasopati, nama untuk fans Persis Solo. Dalam perjalanan pulang, Giyatno mengenakan kaos berwarna merah dengan tulisan di bagian punggung: Salam Edan Asal Mapan. Saya tak terlalu mempersoalkan arti kalimat itu. Yang jelas, itu semacam semboyan Pasopati.
Saat fans Persebaya, Bonek (Bondo Nekat), dilempari batu dalam perjalanan kereta yang mereka tumpangi lewat Solo, Giyatno rajin mengikuti beritanya. Dari dia juga saya tahu kini Bonek dan Pasopati berdamai. Kalau Bonek masuk ke Solo, Pasopati akan mengawal.
Kami pun pulang ke rumah sewa dalam keadaan pikiran berjalan sangat pelan. Giyatno mendengar suara dangdut. Dia mengajak saya untuk mencari sumber suara musik itu. Dan kami berhenti di sebuah pagar yang membatasi pinggir pantai.
Di balik pagar ada sebuah panggung dengan seorang pria pemain keyboard. Ia mengiringi penyanyi perempuan yang mengenakan baju langsung dengan dada terbuka yang berhenti di atas lutut. Seorang rekan perempuan di kantor saya memberi tahu saya istilah pakaian jenis itu: baby dolls.
Baby dolls itu melekat mengikuti lekuk tubuh si penyanyi. Pas pada tubuhnya yang kecil dan ramping. Dari jauh, gadis baby dolls itu tampak bermotif tutul macan berwarna hitam. Ia sedang menyanyikan lagu dangdut ala Pantura. Tetapi dari cengkoknya, saya menebak penyanyi itu memiliki bahasa ibu Sunda.
Sementara dentam beat dangdut pesisir itu terus keluar dari pengeras suara, penyanyi itu dikelilingi beberapa lelaki muda yang sengaja merapatkan diri ke tubuhnya. Saya menduga, laki-laki muda itu mabuk. Mereka bergantian merapatkan diri ke tubuh si penyanyi sambil nyawer. Penyanyi hanya tertawa sambil sesekali menghindar dari tatapan mata pemuda yang berjoget di depan tubuhnya. Tawanya terdengar sebagai sesuatu yang terpaksa.
Lagu itu pun berhenti. Baby Dolls macan tutulnya masih tetap sedap dipandang. Lalu dia berkata pada lelaki mabuk itu untuk jeda sejenak. Dia mau menyanyikan lagu yang pelan. Maka menyanyilah dia sebuah lagu yang bercerita tentang perasaan perempuan yang tak percaya pada cinta laki-laki. Saya mendengarnya sebagai sebuah pernyataan terhadap lelaki yang nyawer dan merapat-rapatkan tubuh mereka pada tubuhnya.
Giyatno bertanya pada seorang ibu-ibu. Ibu itu tampak seperti penduduk yang tinggal tak jauh dari sana. Dia duduk menyaksikan si baby dolls dari pinggir pagar kawat. Dalam cahaya malam, saya ingat dia mengenakan daster berwarna merah jambu yang memudar. Giyatno bertanya apakah acara gadis baby dolls dibuka untuk umum. Si ibu menjawab tidak tahu. Yang diketahuinya hanyalah acara itu disewa oleh salah satu perusahaan. Dugaan saya, jika acara itu dibuka untuk umum, Giyatno pasti akan joget.
Di sela-sela lagu yang sedih itu, Giyatno mengajak saya pulang dalam keadaan agak sempoyongan. Tetapi lagu sedih yang dinyanyikan gadis baby dolls tetap menarik perhatian. Belum jauh dari panggung, saya berhenti. Saat saya melihat kembali ke panggung, gadis baby dolls sudah tidak ada lagi, tetapi suaranya masih mengalun. Saya bertanya ke Giyatno kemana pergi si penyanyi. Giyatno menjawab tak tahu.
Setelah melihat ke sana-ke mari, barulah saya tahu ternyata gadis baby dolls meninggalkan panggung dan mendekat ke arah penonton. Dia terus bernyanyi dan bergoyang. Sesekali keluar tawanya yang masih saja terdengar keluar dengan terpaksa. Ternyata, lagu yang berkisah tentang rasa sakit hati perempuan karena begitu mudahnya lelaki mengumbar “cinta” hanyalah sebatas musik. Lagu yang sedih itu jelas tak dinyanyikan dengan sedih. Tetapi, namanya dangdut, apalagi lagu tentang kesedihan, meski dinyanyikan hanya demi saweran, tetap saja terdengar mellow. Blue!
Selamat tinggal gadis baby dolls!
***
Pukul setengah dua belas kami meninggalkan home stay. Kapal yang kami tumpangi saat datang, sama dengan yang kami tumpangi untuk kembali ke Muara Angke. Kapal penumpang dua tingkat itu bernama Pesona Indah. Penumpang duduk rapat di atas tikar. Sebagian mengenakan pelampung. Karena memang demikianlah standar keamanannya. Saya malas mengenakannya. Terlalu repot.
Dalam keadaan mata yang mengantuk, kapal bergerak menuju Angke. Saya sempat tertidur di bagian depan tanpa atap lantai dua kapal. Saya terjaga ketika gedung-gedung di pinggir laut yang disebut orang sebagai hunian Pantai Indah Kapuk mulai tampak. Di bawah, air laut berwarna keruh, jika tidak disebut hitam dan kotor.
Dua kapal pom bensin laut Pertamina bergerak pelan. Dalam perjalanan pulang ini, yang saya ingat adalah perubahan warna air. Di sekitar Kepulauan Seribu, air laut biru jernih di mana ikan-ikan berenang tanpa takut di sela-sela manusia yang snorkeling. Semakin menjauh ke tengah, air laut berubah menjadi hijau. Ketika kapal berhenti di Muara Angke, air laut berubah menjadi hitam dan kotor.
Beberapa hal yang saya ingat dari Pulau Tidung adalah pulau itu terlalu kotor untuk sebuah pulau wisata. Lagi pula, banyak orang gila yang berkeliaran di sana. Mungkin menjadi semacam tempat pembuangan orang gila. Tetapi, kami tetap bersenang-senang.
Sekitar pukul setengah tiga siang, air laut di dermaga Angke dan pasarnya yang semrawut adalah situasi khas yang menyambut kami. Kami menumpang angkutan umum ke shelter busway di sela-sela jalan macet. Lewat pukul lima sore bus berhenti di depan kebun binatang Ragunan. Selamat datang kembali rutinitas!
Jakarta, 9 Oktober 2011
di depan tivi
aku pernah berkemah di halaman tak dikenal
pohon tak bertuan, sebiji alpukat belum jatuh
...di rumah itu, tiga gadis kembar 9 tahun menaburi meses di atas es krim.
bisakah kau dengar kemeriahannya?
jakarta, agustus 2011
di jalan tenang...
aku kencing. seekor kucing berguling, menebak kecoa, lalu lenyap di gelap parit
kudekati api kecil jadi kawan. petasan! tadarus!
cuma penjara kosong, sendirian di pedalaman taman
tetapi, di manakah kuncinya?
jakarta, agustus 2011
setasiun yang terbakar
adakah kau cium harumku
di sela abjad surat kabar, tentang setasiun yang terbakar?
jakarta, juli 2011
Rock and Roll Indonesia Belum Ada
Pada akhirnya, kita harus bicara terus-menerus tentang televisi. Karena dengan cara itulah kita bisa meraba bagaimana generasi awal di Indonesia menyambut rock and roll. Televisi adalah alat yang mengembangbiakkan, menggandakan, dan menyebarkan di keramaian. Dan rock and roll memainkan pemberontakannya di “era televisi.”
Masalahnya, televisi datang ke Indonesia ketika setiap rumah di Amerika Serikat sudah disibukkan dengan makhluk televisi bernama Elvis Presley. Elvis bisa dibilang salah satu agen kebudayaan yang memperkenalkan rock and roll kepada dunia melalu televisi.
Ketika Elvis mendaulat dirinya sebagai “The King”, jalanan di Jakarta mungkin masih dipenuhi lubang sebesar kambing. Setidaknya, itulah keadaan Jakarta yang digambarkan majalah National Geographic edisi Agustus 1955. Majalah paling terkenal di dunia itu bahkan menyebut Jakarta saat itu sebagai wilayah kota dengan pola masyarakat desa.
Ketika televisi masuk pada 1962 untuk meramaikan Asian Games, Jakarta masih belum banyak berubah dari keadaan itu. Sadar atau tidak, masuknya televisi bersamaan dengan Asian Games menjadi salah satu terusan yang mengenalkan masyarakat Indonesia dengan dunia rock and roll.
Sebagai seorang yang kosmopolit, Soekarno adalah orang yang membaca fenomena rock and roll. Dengan kebanggaan atas kulit sawo matangnya, Soekarno menjalankan ideologi Pancasila yang kekirian dengan mengusir rock and roll dan memenjarakan Koes Bersaudara.
Kisah ditangkapnya Koes Bersaudara pada 29 Juni 1965 berkembang menjadi salah satu legenda dalam sejarah musik pop(uler) Indonesia. Dari kisah itu, bisa disimpulkan sebenarnya sejak awal rock and roll sudah bersentuhan dengan politik dan status quo di Indonesia.
Momen itu seakan lewat begitu saja tanpa ada hingar bingar sebagaimana rock and roll yang terjadi di tanah asalnya. Penangkapan itu tak menginspirasi anak muda Indonesia untuk mengkultuskan Koes Bersaudara sebagaiana dunia mengkultuskan The Beatles. Tak ada berita demonstrasi kebudayaan untuk membela Koes Bersaudara.
Pemenjaraan Koes bersaudara memberikan makna yang cenderung “negatif” terhadap rock and roll. Alasannya karena kebudayaan sub kultur yang menggemparkan Amerika itu dianggap bertentangan dengan kebudayaan asli Indonesia yang diagungkan Soekarno. Rock and roll dalam kisah Koes Bersaudara dianggap sebagai sesuatu yang asing (baca: tak pantas). Politik tak menyambut rock and roll.
Rock and roll berjalan pincang karena televisi tak memberi tempat. Saat rock and roll mengalami masa emas di Amerika dan Inggris, di Indonesia menjadi sesuatu yang dilarang oleh kekuasaan. Televisi dan rock and roll tak berjalan mesra.
Bagi saya, peristiwa penangkapan Koes Bersaudara sangat mempengaruhi bagaimana rock and roll itu dipahami oleh anak muda Indonesia. Dalam beberapa segi, Soekarno berhasil menjalankan doktrinnya agar Indonesia tak kena wabah “ngak ngik ngok”.
Andai Soekarno tak dijatuhkan pada 1966, mungkin ia bisa berubah pikiran terhadap rock and roll. Di negeri asalnya, rock and roll berkembang menjadi gerakan yang memusuhi apa yang juga dimusuhi Soekarno, yaitu imperialisme (baca: pemerintah Amerika Serikat). Gelombang menentang perang Vietnam yang dilakukan Generasi Bunga bisa jadi sejalan dengan visi politik Soekarno.
Namun sayang, saat para hippie merayakan ekspresi kebudayaan dalam Woodstock 1969, Soekarno justru harus berjuang melawan penyakit dalam pengasingan. Setahun kemudian, Soekarno wafat. Pada masa itu juga, Generasi Bunga mengalami masa surut. The Beatles bubar. Jimi Hendrix tewas di usia 27 dan membentuk club 27 bersama Janis Joplin, Jim Morrison, serta gitaris The Rolling Stones Bryan Jones.
Di Amerika dan Inggris Generasi Bunga dan rock and roll akhirnya berhadapan dengan ideologi yang dipuja-pujanya, yakni perubahan. Woodstock ’69 adalah puncak kebudayaan rock and roll sekaligus isyarat titik balik untuk perubahan. Tahun 1970 menjadi ambang perubahan era yang meninggalkan Generasi Bunga.
Di sisi lain, rock and roll sebagai musik dan persepsi baru dimulai di Indonesia. Untuk mengambil hati anak muda, Soeharto memanfaatkan kesempatan dengan menjadi antitesis Soekarno: memberi kebebasan kepada musik “ngak ngik ngok”.
Sejak itu, Koes Bersaudara kian sukses setelah berubah nama menjadi Koes Ploes. Mereka disebut sebagai The Beatles-nya Indonesia. Mau tidak mau, Koes Ploes harus diakui sebagai pionir yang melakukan pemaknaan awal sekaligus menerjemahkan rock and roll melalui musik dalam sejarah industri musik Indonesia.
Selain karena faktor kultural yang alami, doktrin ketakpantasan rock and roll yang diwariskan Soekarno sesungguhnya masih bercokol dalam benak publik. Koes Ploes menjelma menjadi band yang lebih mengedepankan romantisme serta keindahan alam nusantara. Sebagai band, Koes Ploes adalah rock and roll rasa Indonesia. Tetapi sebagai sebuah urat dalam kebudayaan populer, Koes Ploes hanya memberi trend.
Mungkin karena Koes Ploes hanya menyanyikan cinta dan keindahan alam, ia bisa sukses di dekade 1970-an. Soeharto menganggap keberadaan Koes Plus tak mengancam kekuasaan. Dalam konteks ini, Koes Ploes menjadi role model.
Karena Koes Ploes tak menciptakan nyanyian perlawanan sebagaimana John Lennon sang idola, sejarah musik Indonesia jauh dari gerakan politik.
Di era 70-an pula, majalah musik Aktuil menjadi pegangan bagi anak muda. Aktuil menjadi barometer trend. Namun, Aktuil berbeda dari majalah Rolling Stone. Aktuil lebih banyak memberitakan kehebohan kehidupan selebritas rock and roll ketimbang ideologi kebebasan dalam perlawanan.
Aktuil, sebenarnya lebih tepat disebut majalah showbiz yang menonjolkan gosip musik. Sedangkan majalah Rolling Stone, adalah majalah politik yang memanfaatkan sisi kebudayaan dalam musik. Kebebasan yang ditawarkan Aktuil adalah kebebasan yang cenderung menunjukkan hedonisme rock and roll.
Meski begitu, sebenarnya Aktuil juga memberikan gambaran yang bisa dianalisis secara kebudayaan tentang rock and roll. Namun, kebanyakan itu tampak pada artikel-artikel tentang musisi barat. Ambil contoh, akhir tahun 2010, saya mengikuti diskusi tentang fanzine di Taman Ismail Marzuki. Di sana saya melihat beberapa majalah Aktuil edisi 70 hingga 80-an.
Saya cukup terkesan dengan Aktuil ketika memberitakan tur terakhir Sex Pistol pada Januari 1978. Artikel itu memberi tahu saya informasi tentang keruntuhan sebuah band. Tur itu tak terlalu disorot media. Semula konser itu akan digelar sebelum tahun baru, tetapi imigrasi AS menyulitkan visa Sex Pistol karena catatan kriminal personilnya. Akibatnya, Sex Pistol hanya main di kelab-kelab biasa di daerah selatan yang dihuni kelompok red neck yang tak ramah dengan orang asing.
Karena sentimen anti-Inggris dan perilaku Sid Vicious yang tak senonoh, pengunjung kelab rusuh dan menghajar Sid Vicious. Namun, Sid tetap memetik basnya dengan darah yang mengalir dari hidung. Adegan itu diabadikan dan menjadi foto Sid Vicious yang paling terkenal.
Bagi saya, berita itu sangat berharga karena memberikan gambaran tentang sambutan orang Amerika terhadap band paling berandalan dari Inggris. Artikel itu menggambarkan sentimen antar bangsa. Dan artikel itu menampilkan keliaran dari rock and roll, yakni Sid Vicious dan Sex Pistol.
Namun artikel di Aktuil yang mengulas musisi lokal tak banyak yang bisa dilihat dengan cara pandang seperti itu. Misalnya saja, artikel yang membahas tentang retaknya hubungan antar personil band Bentoel. Basis Bentoel merasa vokalisnya hanya mencari sensasi dan tak berbakat menyanyi. Itulah informasi utama yang hendak diberitakan artikel itu. Bagi saya, berita itu cumalah kabar tentang konflik dalam sebuah band. Berita itu adalah berita tentang band, tapi tak memberikan gambaran tentang kebudayaan yang menjadi implikasi dari band itu.
Hanya, artikel itu memberi tahu, bahwa band rock bernama Bentoel itu adalah band milik perusahaan rokok Bentoel. Sebagai musisi, mereka digaji bulanan, diberikan tempat tinggal, serta bermain dengan alat musik bagus yang disediakan perusahaan. Bentoel mirip seperti kesebelasan sepakbola atau klub voli yang bermain atas nama perusahaan. Ini adalah keganjilan dalam kehidupan musisi, apalagi rock and roll. Sayangnya, tak ada kritik terhadap keadaan itu dalam artikel di Aktuil. Yang menonjol hanyalah kemelut perpecahan sebuah band.
Di sisi lain, kepulangan Ahmad Albar dari Belanda bisa dicatat sebagai salah satu peristiwa penting dalam industri musik dan rock and roll. Setelah membentuk band Clover Leaf di Belanda, ia pulang ke Indonesia dan memainkan lagu-lagu Deep Purple bersama God Bless. Pada 1975, God Bless didaulat untuk bermain sebagai band pembuka konser Deep Purple di Jakarta.
Sebagaimana Koes Ploes menjadi penerjemah rock and roll di dekade 1960-an, God Bless adalah penerjemah di dekade 1970-an. God Bless memboyong Indonesia ke dalam suasana heavy metal. Sebagian besar pemusik di era itu memainkan musik “keras” seperti Led Zeppelin dan Black Sabbath.
God Bless mengambil jalur yang berbeda ketimbang Koes Ploes. Pengaruh rock yang kian kasar menyebabkan God Bless mulai menulis lagu tentang isu sosial. God Bless menjadi istimewa karena karya-karyanya merepresentasikan keadaan masyarakat, terutama Jakarta waktu itu. God Bless bisa bercerita cinta, namun juga bisa bercerita tentang urbanisasi.
Tetapi, posisi God Bless dalam konteks rock and roll masih tetap sama dengan Koes Ploes. Keduanya hanya menjadi ikon rock and roll dalam segi musik. Lirik bertema sosial tak mengundang para penggemar untuk melakukan reaksi atas tema yang diusung God Bless.
Dalam sebuah diskusi, pengamat musik Deny Sakrie mengatakan musisi era God Bless lebih banyak memainkan lagu band barat yang terkenal ketimbang lagu sendiri. Sebuah band akan dihargai dan diberi tepuk tangan jika bisa bermain semirip mungkin dengan band barat yang sedang diidolakan.
Pendapat Deny Sakrie itu mencerminkan bahwa sejarah industri musik di Indonesia tak didasari dengan semangat untuk menciptakan. Memang rock and roll produk kebudayaan barat. Namun ideologi rock and roll adalah kebebasan. Dan dewa-dewi rock and roll di barat, menyanyikan kebebasan dan perlawanan dalam musik-musik mereka.
Tanpa sadar, paradigma meniru ketimbang menafsirkan ulang menjadi definisi bersama tentang rock and roll. Kita terpengaruh untuk menyama-nyamakan musisi Indonesia dengan musisi barat yang mendunia. Misalnya, kita menyebut Farid Hardja sebagai Elton John-nya Indonesia. Kita tak bermasalah ketika Koes Ploes disebut The Beatles-nya Indonesia. Bahkan, kita akan terkagum-kagum melihat band Indonesia yang merupakan imitasi band Islandia Sigur Ros.
Saya pernah menonton film tentang sejarah scene musik Islandia. Dalam satu dekade terakhir, musik Islandia memberikan ciri khas yang menonjol dalam industri musik dunia. Bjork dianggap sebagai pelopor yang membawa Islandia ke MTV. Dalam sebuah wawancara di film itu, Bjork membahas musik dengan menjelaskan jati diri orang Islandia. Ia mengatakan, menjadi Islandis adalah menjadi orang yang melakukan perlawanan untuk kebebasan. Bjork mengatakan definisinya itu terinspirasi dari sejarah perlawanan Islandia yang merdeka dari jajahan Denmark pada 1944.
Di sisi ini saya melihat Bjork memahami musik tak sekedar musik. Ketika bicara musik, ia bicara bangsa, sejarah, dan kelebihan-kelebihan bangsa Islandia. Sebagai musisi, ia membawa jati dirinya sebagai seorang Islandia melalui musik. Ia menciptakan musik yang akan dikenang dunia sebagai musik Islandia. Elemen dasarnya boleh diambil dari Inggris dan Amerika, tetapi warnanya tetap Islandia. Bjork adalah Bjork. Dan Bjork adalah perempuan Islandia.
Semangat penciptaan itulah yang luput dari industri musik Indonesia. Rock and roll yang sampai ke Indonesia hanyalah aksi panggung, tak lebih dari itu. Rock and roll yang sampai ke Indonesia tak mewabah hingga ke gaya hidup dan menjadi “iman” sebagian besar penggemarnya. Ini menunjukkan bahwa rock and roll benar-benar dianggap sesuatu yang “lain”.
Majalah Tempo edisi 1 September 1973 pernah menurunkan artikel tentang konser Summer ’28. Summer adalah singkatan dari Suasana Meriah Menjelang Hari Kemerdekaan RI ke-28. Konser yang diadakan di Ragunan ini dimaksudkan sebagai Woodstock-nya Indonesia.
Mengapa kata summer dipilih sebagai akronim? Memang summer (musim panas) identik dengan hippies dan rock and roll. Tetapi Indonesia tak mengenal musim panas seperti di Amerika dan Eropa. Di Indonesia hanya ada dua musim, kemarau dan hujan. Acara itu kebarat-baratan.
Tempo sendiri tak mengulas perdamaian rock and roll dalam Summer 78. Tak ada penjelasan yang menyeluruh tentang penampilan Bimbo, Harry Roesli, atau God Bless. Artikel itu dipenuhi dengan informasi tentang kerusuhan, botol yang melayang ke panggung, dan penonton yang tak menghargai musisi. Rock and roll lebih banyak dikabarkan sebagai sesuatu yang buruk.
Terdengar seseorang berteriak: "Bakar." Disusul beberapa orang membuat api unggun, membakar kertas-kertas koran bekas alas duduk. Barangkali buat sekedar melawan hawa dingin. Ketika ada yang mau membakar umbul-umbul - bendera hias warna-warni -- bahkan melemparkan api ke panggung tapi tak berhasil, suasana menjadi benar-benar panas. Anehnya, petugas pemadam kebakaran yang sudah siap menstarter mobil malah lari membawa perlengkapan mereka, minggir bersama petugas-petugas yang lain. Ancaman beberapa pemuda tampaknya lebih menggetarkan hati daripada tugas pengamanan. "Ini benar-benar barbar," komentar Sandra Reemer dari God Bless. "Di negeri Belanda, penonton biasanya siap dengan tomat buat melempar kepada artis yang mainnya jelek." Combi.
Masih dengan nada kebarat-baratan, di lapangan Sabuga Bandung pada 31 Agustus 1975, digelar konser bernama Kemarau ’75. Tak jauh berbeda, Tempo edisi 13 September 1975 lebih banyak memberitakan kerusuhan di Kemarau ‘75 ketimbang musik dan perdamaian. Saya tak tahu, apakah acara itu memang hanya dipenuhi kerusuhan atau Tempo yang tak berimbang.
Pesta Kemarau 75 itu benar-benar mulai panas. Blod-Stone: grup dari Bogor yang muncul kemudian, tidak mampu mendinginkan massa yang hampir seluruhnya remaja itu. Cuma dua lagu: sempat diselesaikan. Itupun dibawakan bagaikan maling dikejar hansip. Karena satu dua sandal dan batu mulai berseliweran ke atas pentas. Parit sedalam 1,5 M yang membatasi panggung dan massa penonton, tak mampu berfungsi sebagai benteng pertahanan dari desakan pengunjung ke arah panggung. Beberapa penonton terjatuh dan terjepit dalam parit itu: pingsan dan luka-luka. Lima polisi dari kesatuan Sabhara yang mempertahankan panggung dari serbuan penonton, kewalahan. Di tengah ancaman lemparan sandal, sepatu dan batu, ke 11 grup musik (direncanakan 15 grup) yang sudah hadir itu, memang tak bisa berbuat apa-apa. Musik dengan lagu-lagu keras yang menuntut perlengkapan elektronik mahal dan macam-macam itu, terpaksa hasilnya menjadi tidak keruan. Kabel-kabel yang simpang-siur itu banyak yang putus. Sistim suara listrik yang dibutuhkan oleh musik keras itu ada yang macet. Lagi pula di atas panggung begitu berjubel orang (antara lain dengan anak buah sutradara Ali Shahab yang memanfaatkan peristiwa itu buat filmnya).
Tetapi, terlepas dari sudut pandang Tempo, kerusuhan itu tetap saja tak harus terjadi. Jika acara itu dimaksudkan sebagai perayaan anak muda sebagai biang rock and roll di Indonesia, mereka seharusnya meniru Woodstock ’69. Di Woodstock, penonton berbondong-bondong tanpa ada kekerasan. Seorang hippie bahkan menerima informasi dari panggung bahwa kekasihnya melahirkan anak pertamanya di ruang kesehatan.
Televisi dan media massa sama sekali tak menyiarkan sisi positif rock and roll. Di tempat asalnya, rock and roll menyerukan kebebasan. Memang, di sela-sela itu mereka melakukan seks bebas dan mengkonsumsi narkoba. Namun, di Indonesia rock and roll hanya dikabarkan sebagai alat seks bebas dan narkoba belaka.
Itu wajar terjadi karena memang rock and roll berasal dari barat. Dalam beberapa segi ekspresi rock and roll tak berkesesuaian dengan jati diri ketimuran. Namun media massa hanya mempertontonkan kemewahan ketimbang spritualismenya. Itu pula sebabnya, hingga kini kita belum menemukan musisi Indonesia seperti Bjork yang membawa Islandia ke jagad dunia.
Itulah yang membedakan musik dengan sastra. Sastra Indonesia memiliki sejarah yang bisa dirunut. Penyair-penyair memiliki role model, yaitu Chairil Anwar. Chairil bagi sastra Indonesia ibarat Bjork bagi scene musik Islandia. Tetapi musik populer, kita tak pernah memiliki sejarahnya.
Atas alasan itu, saya menganggap rock and roll Indonesia belum (atau tidak) ada. Mungkin, satu-satunya pengecualian yang bisa ditempatkan dalam sejarah industri musik Indonesia adalah Iwan Fals. Seharusnya, ke sanalah musik Indonesia mengambil jati dirinya, yakni menciptakan musik untuk perlawanan demi kebebasan. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan rock and roll!
Apa dampak terhadap ketiadaan sejarah itu?
Koes Ploes adalah korban langsung. Koes Ploes yang memulai, dan Koes Ploes pula yang merasakan akibatnya.
Saya merasakan itu ketika saya kebetulan lewat di lapangan Blok S, Jakarta Selatan, menjelang Pemilihan Umum 2009. Di lapangan itu sedang diadakan kampanye Partai Demokrasi Pembaruan. Lapangan itu tak terlalu penuh meski ramai. Massa partai berbaju merah itu sibuk bergoyang dan ikut menyanyi mengikuti penyanyi di panggung.
Astaga! Di panggung, saya melihat Yon Koeswoyo sedang memainkan gitar menyanyikan lagu Kolam Susu. Saya berpikir, bukankah kita sudah sepakat bahwa Koes Ploes adalah The Beatles-nya Indonesia? Seandainya The Beatles masih lengkap, mungkin orang harus mengundi untuk bisa membeli tiket mahal konser reuni mereka. Tidakkah kita seharusnya menghargai Koes Ploes sebagaimana dunia menghargai The Beatles?
Saya sedih. Yon tinggal sendiri di panggung itu. Tak ada lagi Tony, Yok, bahkan Murry. Koes Ploes di lapangan Blok S itu diisi musisi muda yang mengiringi Yon bernyanyi. Jika reuni Led Zeppelin minus John Bonham pada 2007 diadakan di tempat pertunjukan O2 Arena yang bergengsi di London, maka nasib Koes Ploes jatuh di panggung kampanye partai politik yang tak mendapat kursi di parlemen. Menyedihkan!
Bagaimana dengan God Bless?
Nasibnya tak jauh berbeda. Pada pertengahan 2010, saya untuk kali pertama menonton konser God Bless di Bengkel Kafe, kawasan SCBD, Jakarta. Acara yang disponsori bir itu menampilkan tiga band dari tiga generasi, yaitu Nidji, Gigi, dan tentu saja God Bless.
Nidji main sebagai pembuka. Sambutan penonton cukup hangat. Meski pop, Nidji cukup lumayan dalam penampilan live-nya. Penonton padat dan ikut menyanyikan lagu Nidji.
Sambutan penonton terhadap Gigi yang main setelah Nidji juga tak berubah. Mereka hangat meski Gigi bermain tak sebaik biasanya.
Saya tak datang ke Bengkel untuk dua band itu. Saya hanya datang untuk God Bless. Saya harus melihat, paling tidak sekali, band rock paling berpengaruh dalam sejarah musik Indonesia.
Saat God Bless naik, Achmad Albar tampak paling muda. Ian Antono dan Donny Fattah sudah terlihat seperti kakek-kakek. Di posisi keyboard ada Abadi Soesman. Tapi, bagi saya Abadi tetap tak bisa menggantikan Jockie Suryoprayogo.
Sementara di belakang, kursi pemain drum diduduki oleh Yaya Moektio. Yaya adalah personil termuda di God Bless.
Di bawah panggung, penonton yang tadinya ramai beringsut-ingsut menepi bahkan pulang. Pertunjukan antiklimaks karena seharusnya penonton menunggu God Bless. Itulah sebabnya God Bless diberikan jadwal manggung terakhir. Oleh panitia, God Bless adalah bintang utama.
Tetapi niat panitia tak berbanding lurus dengan sambutan penonton. Di bawah panggung, hanya ada sekelompok anak muda yang mengenakan kaos fans club God Bless. Tetapi anak-anak muda itu tampak seperti kerumunan di tengah lapangan yang sepi. Beberapa lagu baru dari album terbaru God Bless, Nato, terdengar terlalu berat dan bijaksana bagi anak-anak muda itu. Kerumunan itu hanyalah artifisial.
Seharusnya, orang Indonesia yang datang ke Bengkel hari itu menyambut God Bless sebagaimana orang Inggris menghormati Led Zeppelin! Seharusnya, anak-anak muda atau siapapun yang menyempatkan diri ke Bengkel malam itu datang demi God Bless.
Di luar, tiket seharga 30 ribu itu tak ludes terjual. Sebagian panitia bahkan membagi-bagikan tiket itu secara gratis kepada teman-temannya. Saya sedih, ikon rock Indonesia itu bahkan harus main di panggung yang tiketnya dibagi-bagi secara percuma karena tak laku.
kadang,
kadang,
di dalam hati aku ingin melempar gelas ke tembok. aku perlu suaranya yang prang! untuk melawan tangis bocah di halaman. bergulingan karena kehilangan mainan; sebenarnya mainan itu bukan miliknya
kadang,
di dalam hati aku ingin menggunakan pikiranku untuk berbicara dengan bungabunga. cuma bungabunga yang mampu mengajak si bocah berpikir; bukankah, itu bukan milikmu?
kadang,
di dalam hati aku ingin menjerit lalu mempelajari amarah pada ombak. aku mau lebih tegas daripada racau si bocah; air mata mengalahkan dendam
kadang,
di dalam hati aku ingin ditinggalkan di sebuah taman kecil bersama selembar tikar piknik. tempat yang paling mungkin dalam ketiadaan: daun gugur bunga berkembang...
Lenteng Agung, Juni 28 2011
