Wednesday, August 13, 2025

Puisi Bola

Bagaimana nasib bocah lelaki itu kini, yang telah kehilangan bolanya.
Apa, apa yang akan dilakukannya? Aku lihat bolanya bergerak
Memantul gembira, turun ke jalanan, dan kemudian
Dengan gembira mengapung–di sana di atas air!
Tak ada gunanya bilang ‘O masih ada bola-bola lain’:
Sebuah kedukaan besar yang mengguncang menenangkan sang bocah
Ketika ia berdiri kokoh, gemetar, menatap ke bawah
Seluruh hari-hari mudanya masuk ke dermaga tempat
bolanya pergi. Aku tak ingin mengganggunya,
Sepeser uang, bola yang lain, tak ada artinya. Kini
Ia merasakan tanggung jawab pertama
Dalam dunia kepemilikan. Orang-orang akan mengambil bola,
Bola akan selalu hilang, bocah kecil,
Dan tak seorang pun membeli bolanya kembali. Uang abadi.
Dia belajar, tepat di belakang mata putus asanya,
Epistemologi kehilangan, bagaimana caranya bangkit,
Mengetahui apa yang setiap laki-laki suatu hari harus tahu
Dan di sebagian besar hari tahu, bagaimana caranya bangkit
Dan secara perlahan cahaya kembali ke jalanan,
Sebuah peluit ditiup, bola hilang dari pandangan.
Tak lama kemudian bagian dari diriku akan menggali dalam dan gelapnya
Lantai dermaga.. Aku ada di mana-mana,
Aku menderita dan bergerak, pikiran dan hatiku bergerak
Dengan semua yang menggerakkanku, di bawah air
Atau tiupan peluit, aku bukanlah seorang anak kecil.

The Ball Poem (Collected 1937-1971)
John Berryman (1914-1972)


Sunday, July 20, 2025

Kakek Buaya

Legenda bilang
dan siapalah aku untuk tak percaya!

Matahari bertengger di atas laut
membuka matanya
dan dengan sinarnya
menunjukkan sebuah jalan

Dari kedalaman laut
seekor buaya mencari nasib
mengintai kolam cahaya, dan di sana ia muncul

Kemudian dengan letih, dia merentangkan dirinya
pada waktunya
dan persembunyiannya yang menggumpal berubah wujud
menjadi sebuah pegunungan
di mana orang-orang lahir
dan di mana orang-orang mati

Kakek buaya

–Legenda bilang
dan siapalah aku untuk tak percaya
bahwa dia adalah Timor!

Grandfather Crocodile (Mar Meu–Poemas e Pinturas de Xanana Gusmao (2002). Diterjemahkan dari Bahasa Portugis dengan judul Crocodilo Avo ke Inggris oleh Kristy Sword dan Ana Luisa Amaral . Judul asli dalam bahasa Tetun adalah Abo Lafaek)

Xanana Gusmao (1946– )

Wednesday, July 9, 2025

Sang Nenek Tua di Wastafelnya

Tentu saja, wastafel itu tak pernah kosong,
atau bahkan: dikosongkan, sebentar, kemudian penuh
lagi: satu piring; satu mug;
banyak sendok. Sebilah pisau.
Yang kuasah. Yang tumpul. Di luar
jendela: malam risik ramai, datang;
air mengering, juga logam. Aku, juga, tenggelam
dalam mulut dangkal ranjang, kolongnya
aku masuk ke dalam detaknya. Malam
seperti sebuah wastafel: penuh: getar udara
mempercepat lubang nafas,
membengkakkan kantung tenggorokan;
sebuah sayap hening; kemudian menjerit; cakar basah
di dalam sampah; di dalam sikat. Seperti malam
aku tenggelam; rongga kecil di tenggorokan,
penuh oleh air, bengkak; juga penuh logam. Kurasakan dengan cakarku
lubang-lubang kecil tubuhku,
kolam-kolam kecil; tepian di sampingnya;
merasa dengan sayapku sebuah cangkir yang mendangkal,
cakrawala sendok. Kutelan.
Pisau pikiran. Yang kuasah.
Yang tumpul. Sebuah pedang. Pada diriku sendiri kukatakan:
pilih.
Apakah aku kosong.
Aku penuh.

The Crone at Her Sink (New England Review–July 2025)
Donika Kelly

Saturday, July 5, 2025

Ode

Di taman-taman Adonis, Lydia, aku suka
Sebagian besar dari seluruh mawar-mawar yang
diburu
             Tepat pada hari mereka lahir,
             Tepat pada hari itu, juga harus mati.
Abadi, bagi mereka, cahaya hari:
Mereka lahir ketika matahari sudah tinggi
              Dan mati di depan arus Apollo

             Di seberang langit yang terlihat berlari
Juga kita, dari hidup kita, mesti berhasil suatu hari:
Kita tak pernah tahu, Lydiaku, tidak juga ingin
              Tahu tentang malam sebelum dan atau sesudah
               Yang sebentar ketika kita mungkin bertahan.
2.
Untuk jadi besar, menjadi keseluruhan: tak ada yang
              Harus engkau lebih-lebihkan atau tiadakan.
Dalam setiap hal, jadilah semuanya. Berikan semua dirimu
               Setidaknya engkau pernah berbuat.
Bulan seluruh, karena ia menunggang begitu tingginya,
                Terbayang di setiap kolam.
Odes (Poetry Foundation-1955)
Fernando Pessoa (1888-1935)

Friday, July 4, 2025

tak cukup idiom tentang bintang-bintang

kukira salah satu yang bagus bisa seperti ini:
langit cukup kecil tanpa kita
mengganggunya demi bintang-bintang. atau, terkait itu:
satu bintang yang bagus sulit untuk ditemukan. atau entah bagaimana
di bawah kulit sebiji jeruk engkau akan mendesiri langit. atau: betelgeuse
adalah sebuah jalan neraka untuk menghabiskan malam. atau
sebuah gugus bintang yang lebih baik ketimbang satu tidur buruk lagi.
engkau tidak bisa bermimpi dengan mulutmu
terbuka dan menangkap cahaya bintang yang tepat.
jika engkau merentang di atas ranjang engkau akan menemukan cahayanya
tetap melintasi tanganmu seperti losion.
jika aku melebih-lebihkan, dan meminta perhatian tidak untuk apa-apa,
itu karena aku terlambat, aku telah menjadi
sebuah bintang keras yang keluar fokus. untuk membuat bencana, untuk berada
di antara para bintang, adalah untuk mengutuk seorang musuh dengan tinta tergelap.
bayangkan galaksi sebagai dongeng susu yang tumpah. gambar
menginginkan air jeruk. aku menduga beberapa hal-hal ini
adalah lebih ke idiom-idiom ruang angkasa. memalukan bahwa kapanpun dalam setahun,
apapun yang engkau rasakan, langit malam
tetaplah sama. atau apa yang kumaksudkan adalah aku tidak pernah benar-benar tahu soal musim, tetapi ya, aku memimpikan dia.

there aren’t enough idioms about the stars (Poets.org–July 4th 2025)
Keith S Wilson

Saturday, June 28, 2025

Setiap Pagi

Aku baca koran,
Kubuka lipatannya dan menelitinya dengan cahaya matahari
Cara mortir-mortir merah, dalam foto-foto,
melengkung menuju pemukiman-pemukiman
seperti bintang-bintang, cara kematian
menyisir semua hal ke dalam puing abu-abu sebelum
kamera bergerak. Bagian
mana pada kegelapan jiwaku
bergetar: engkau tak ingin tahu lebih banyak lagi
soal ini. Dan kemudian: engkau tak tahu apapun
kecuali kau melakukannya. Bagaimana orang-orang tidur
bangun dan berlari ke gudang bawah tanah,
bagaimana anak-anak menjerit, lidah-lidah mereka
berusaha untuk berenang menjauh–
bagaimana sang pagi muncul
seperti sekuntum mawar putih yang pelan
ketika jumlah memanjati ambang batas yang menggelembung.
bergerak di antara mobil-mobil yang dihantam, jalan-jalan
di mana ambulans-ambulans berdentang tak akan
berhenti sepanjang hari, kematian seperti sebuah kebiasaan–
bagaimana terkadang kamera jeda ketika satu keluarga
menghitung, dan semua dari mereka hidup,
mulut kering mereka adalah gua tanpa kata-kata
dalam bulan-bulan belepotan di wajah-wajah mereka,
sebuah kegilaan yang sejauh ini kita tidak punya nama untuknya–
semua ini aku baca di koran,
dalam cahaya matahari,
aku membaca dengan mataku yang dingin, tajam.
Every Morning (Poetry–1986)
Mary Oliver (1935-2019)

Thursday, June 26, 2025

Soneta Warga Amerika Karolina Selatan untuk Hari Kemerdekaan

Rasa nyaman bau babi asap di pagi hari sebagian besar membakar lemak dan garam, tetapi rasanya manis sebagai bagian babi yang menyimpan jiwa. “Jika engkau tak memberkatinya, ia mungkin membuatmu tersedak,” demikian sepertinya yang hendak dikatakan Ma di depan piring. Definisiku tentang keluarga termasuk di dalamnya rasa tahu kerabat dan berpikir bahwa mereka semua tahu tentangmu, tetapi hanya membicarakan hal-hal ini dengan anggota keluarga ketika engkau tak ada di ruangan. Terakhir kali aku pulang, sepupuku menawariku daging cincang, sisa tumbukan babi sebelum perang, mendidih, utuh-liver dan paru-paru, otak ke moncong dan tengkorak-tertutup saus panas & dihidangkan di atas setumpuk nasi instan. Aku bilang, “Wah tidak,” tetapi kubiarkan sedikit menyentuh lidahku demi sopan-santun, sebelum bilang “Wah tidak” dua kali.

South Carolinian American Sonnet for Independence Day (The New Yorker-June 23th 2025.

Terence Hayes (1971- )