Showing posts with label dialog imajiner. Show all posts
Showing posts with label dialog imajiner. Show all posts

Wednesday, October 28, 2009

Bung dan Puan (2)


Bung:
apakah istimewa bagimu?

Puan:
pertanyaan jenis apa itu?

Bung:
sudah, jawab saja!

Puan:
tak ada yang istimewa, kecuali Tuhan!

Bung:
astaga! ini "bumi manusia", selain Tuhan, tidakkah kau menemukan keistimewaan dalam kehidupanmu sehari-hari?"

Puan:
menurutmu, apa yang istimewa dari kehidupanku?

Bung:
kau, pelita yang jelita! itu saja!

Puan:
hahahaha...bagiku itu sudah bukan keistimewaan, sebab tertalu sering kudengar. adakah contoh yang lain, mungkin pada hidup orang lain ?

Bung:
kau tahu Soemitro Djojohadikoesoemo?

Puan:
seperti pernah kudengar namanya. siapa dia?

Bung:
Prabowo Subianto?

Puan:
kalau itu semua tahu. calon wakil presiden!

Bung:
ya, dia memang calon wakil presiden. lebih dari itu, dia juga dikenal sebagai penculik dan tukang menghilangkan orang. itulah masa di mana dia jaya sebagai perwira militer. dasar menantu presiden!

Puan:
?

Bung:
dan ketika Soeharto jatuh, kau tahu apa yang terjadi dengan dia? dia dianggap sebagai pelanggar HAM! lebih tragis lagi, dia terusir dari rumah istrinya, dia dianggap pengkhianat oleh ayah mertuanya sendiri. dia terjepit, oleh rakyat dianggap sebagai jenderal penculik, oleh mertua tempat dia menggandulkan kuasanya, dia dianggap pengkhianat.

Puan:
lalu, bagaimana nasibnya?

Bung:
konon, dia lari ke Yordania. di tempat itu, konon dia disambut hangat oleh sang pangeran. Tapi kisahnya di Yordania itu tak terlalu penting bagiku. Aku ingin menceritakan Soemitro.

puanku yang belia. Soemitro itu, sebagaimana dicatat oleh sejarah, dialah begawan ekonomi Indonesia. dialah salah satu anak muda yang menentang Hatta saat mengiyakan permintaan Belanda guna membayar utang kolonial yang akan dipertukarkan dengan kedaulatan negeri.

Lagi-lagi, bukan itu yang hendak kukisahkan.

Soemitro, hanyalah seorang ayah. seorang ayah yang berperasaan sebagai ayah. dan sang anak adalah Prabowo Subianto. ketika genting menguasai Indonesia, ketika Prabowo dicerca sebagai pelanggar HAM dan terusir dari rumah mertua, dengarlah yang dikatakan Soemitro:

“andaikan sampah, seorang anak harus tetap dibanggakan orang tuanya?”

Puan:
O, kau mau mengatakan, betapapun buruknya, seorang anak tetap istimewa bagi orang tuanya?

Bung:
Ya. Dan sekarang apakah istimewa bagimu?

Puan:
Kalau begitu aku tak perlu jauh-jauh mencari keistimewaan. sebuah pengakuan dari orang yang aku anggap istimewa adalah keistimewaan.

Bung:
Apakah orang yang kau anggap istimewa itu dapat dikatakan sebagai kekasih?

Puan:
siapa lagi kalau bukan pacar.

Bung:
(dengan mata yang sayu)
aku tak punya pacar. dan tanpa perlu menunggu dari pacar, aku sudah dianggap istimewa, oleh keadaaan!

Puan:
dasar! fanatik terhadap diri sendiri!

Bung:
ya. keistimewaan itu tak pernah sengaja kucari, meski aku ingin. Ia datang bersama pengalaman hidup.

Dan kini, karena pengalaman hidup, kaulah yang kuanggap istimewa!

Puan:
Dasar! Bajingan!

September 13 2009

Bung dan Puan (1)


Puan:
bung yang sedang cemar, si raja kembara, basuhlah wajahmu agar kau mencahya
tapi ingat, jangan basuh dengan air dari periukku!

Bung:
puanku yang belia, aku memang cemar, sebab manalah ada yang suci di jagad ini?
dalam cemar, bersemayamlah kebebasan,
dan kau tahu, akulah si pencinta kebebasan itu

Puan:
dan akan kau katakan, kebebasan itu ada pada tubuhku,
kau cemar, dan mencari suci pada jasadku
ingat, jangan kau ketuk pintu rumahku!

Bung:
amboi, lelaki pengembara dikutuk selalu berada dalam pengembaraannya. terikat dengan masa lalu yang kuat, masa depan yang tak pasti, dan sunyi dari perempuan

Puan:
ingat, jangan kau hubungi aku lewat telepon!

Bung:
(dengan telinga yang berdarah)
puan, rasanya aku ingin mandi di sendang pojok kota. aku kenal laki-laki tua penjaga sendang itu. dan aku cemburu padanya. betapa tidak? dialah yang memberitahu, kau senantiasa membasuh rambutmu di situ. dan air sendang si tua itulah yang membuat wangi rambutmu, wangi yang membuat dadaku rontok

Puan:
jangan sebut-sebut sendang dan laki-laki tua itu! mereka adalah lambang ketulusan. sebagaimana banyak laki-laki tua, selalu bahagia melihat anak muda. dia melihatku hampir-hampir tanpa niat! dan akulah si anak muda itu, pelita yang jelita!

Bung:
(dengan hidung yang berdarah)
puanku yang belia, bukalah kerudungmu. barang sekejap saja. bukan, bukan untuk mengajakmu mengingkari surah. aku hanya ingin menyematkan sekuntum bunga paling indah dan harum di sela rambutmu

Puan:
(dengan mata yang sayu)
bung, aku semakin ngeri...

Bung:
di mana bisa kukecup rambutmu?

Jakarta, September 11 2009