Showing posts with label feature. Show all posts
Showing posts with label feature. Show all posts

Wednesday, September 7, 2016

Andres Iniestanya Barcelona: Saya Adalah Korban Sesuatu yang Menakuti Saya



Gelandang Barcelona ini berbicara terbuka tentang masa sebelum Piala Dunia 2010, ketika dia berhenti merasa dirinya sebagai seorang pesepakbola dan harus mencari pertolongan profesional. 

Andres Iniesta mengatakan dia mendengar keheningan dan tahu bahwa semua yang harus dilakukannya adalah menunggu Isaac Newton. Bola memantul; gravitasi akan membawanya turun kembali dan, ketika itu terjadi, dia akan mencetak gol. Itu adalah menit ke-166 di Johannesburg dan dia mencetak gol, berlari ke sudut dan membuka kostumnya untuk menunjukkan pesan yang terpampang di sana, ditulis dengan cat biru oleh Hugo, sang pembantu umum (Tim Nasional Spanyol): “Dani Jarque, selalu bersama kami.” Pada jarak sepuluh ribu mil, Spanyol meletus dan Jessica (istri Dani Jarque) menangis. Melalui matanya dia melihatnya: Dani, Dani miliknya.

Final Piala Dunia 2010 merupakan laga pertama yang disaksikan Jessica sejak suaminya meninggal dunia sebelas bulan sebelumnya dalam usia 26 tahun. Dia menonton televisi bersama ibunya, Maria, dan anak perempuannya, Martina, sepuluh bulan, ketika bola memantul. Apa yang mereka saksikan lebih dari sekadar sebuah gol, (namun) pernyataan oleh Iniesta – untuk mereka semua. Dan adalah hari yang cerah di Sant Joan Despi ketika, enam tahun kemudian, Iniesta menjelaskan bagaimana peristiwa itu mencabutnya dari “sebuah tempat yang gelap.” 

Iniesta bisa saja tidak pernah berada di sana dan tanpa gol itu dia tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang. Barangkali dia tidak di sini, kompleks latihan Barcelona, salah satu tempat pesepakbola paling termahsyur di dunia. Di pengujung malam sebelum final, ketika setiap orang tertidur, dia membuka pintu pelan-pelan dan, tanpa meninggalkan hotelnya, bersiap untuk berlari. Dia menuruni koridor dan melakukan sprint hingga dia percaya dia bisa melakukannya. Seluruh tes fisik untuk laga itu, selesai pada pukul empat sore, dan (Iniesta) berjanji (pada tim) bahwa dia akan baik-baik saja bahkan ketika mereka berpikir dia tidak demikian. Saat itu, dia rapuh namun siap-sedia.   

Ini lebih dari sekadar otot-otot Iniesta, sungguh: itu adalah pikirannya. Perasaan aman saat menunggu Newton mencopot ketidaknyamanan dan penderitaan beberapa bulan sebelumnya. Pada 2009 dia memenangi Liga Champions Eropa dan menyusul Piala Dunia di musim panas. Itu sudah pasti menjadi tahun terbaik dalam hidupnya; meskipun adalah yang terberat. Dia menderita (dalam jeda) di antara dua gelar tersebut. “Tidak benar-benar depresi, tidak juga sakit, tidak juga, tapi sebuah kegelisahan,” katanya dalam bukunya, The Artist, yang dipublikasikan hari ini. “Rasanya seperti tidak ada sesuatu pun yang benar.” 

Iniesta bermain di final (Liga Champions) 2009 dengan cedera, diingatkan untuk tidak menembak. Di pramusim, saat dia tetap tidak bugar, Carles Puyol menyampaikan kabar: temannya, Jarque, kapten Espanyol, meninggal dunia. Akibatnya sangat mendalam, tubuh dan pikirannya menderita secara bersamaan. Pemeriksaan (medis) menunjukkan tak ada masalah fisik yang spesifik namun Iniesta tidak bisa menyelesaikan keseluruhan musim, Pep Guardiola memintanya berjalan kapan pun dia butuh, dan dia melakukannya dengan sering. Mereka harus menunggu, kata Guardiola, dan penungguan pun bergulir. Ketika Iniesta bermain dia tidak sama lagi dan April mendatangkan cedera yang lain. Piala Dunia, cahaya yang dicarinya, beresiko menjadi padam.

Selebrasi Iniesta saat mencetak gol tunggal Spanyol di final Piala Dunia Afrika Selatan 2010 menghadapi Belanda. Iniesta membuka kaosnya untuk menunjukkan pesan simpati terhadap almarhum kiper Espanyol, Dani Jarque

Iniesta mengatakan dia merasa seakan-akan dia sedang “terjun bebas”. Karena tak mampu bangkit, dia pergi ke dokter  klub, mencari perawatan psikologi secara profesional. Jika melakukan hal itu bisa membawa sebuah stigma, terutama dalam olahraga, dia berkata: “Ketika Anda butuh pertolongan, Anda harus mencarinya: saat itu saya butuh pertolongan. Orang-orang (psikiater) itu adalah spesialis; itulah kegunaan mereka. Anda harus memanfaatkan mereka.” 

Dan Iniesta melakukannya – dengan tenang dan privat. Dia butuh pertolongan; dia bicara tentang “berada di tubir”, “rapuh”, “korban sesuatu yang menakutiku”. Rekan setimnya tidak tahu. Tidak juga mengatakan sesuatu pun kepada publik. Ada semacam katarsis, atau barangkali suatu “pengkhataman”, dalam apa yang terjadi saat ini. Dia telah berbicara tentang Newton sebelumnya namun bukan tentang apa yang terbentang di depannya, betapa pentingnya momen itu. Apa yang akan terjadi padanya tanpa itu? Bagaimana seandainya Spanyol tidak memenangi Piala Dunia? Ini bukanlah sebuah pertanyaan yang curang.

Sekalipun dia enggan menyebut penderitaannya sebagai “depresi”, ada sebuah lintasan dalam bukunya di mana Iniesta menulis bahwa dia bisa “memahami” mengapa ada orang-orang melakukan “locura”: bagaimana mereka bisa berakhir dengan melakukan sesuatu yang “gila”, sebuah aksi “kesintingan”. Apa yang dimaksudkannya? Dalam konteks bahwa ini adalah sebuah kata yang berkekuatan, kecemasan dan ketidaknyamanan: kesehatan mental bisa menghaluskannya, dengan melemahkan keputusasaan dan konsekuensi kengerian. 

“Ketika Anda tidak baik-baik saja, Anda akan mengalami peristiwa yang menimpa Anda, yang akan membuat Anda cemas,” ujar Iniesta. Kata-katanya – te imponen respeto – menentang penerjemahan bebas namun berarti ketakutan, sebuah perasaan tentang situasi yang menjadi besar ketimbang diri kita, melampaui kita, dan sepenuhnya di luar kontrol. “Kesulitan-kesulitan itu, momen-momen ketidaknyamanan pergi dari sana untuk kepastian-kepastian yang ekstrem,” katanya, “ya, setiap kasus memiliki keanehannya...”

“Ada waktu ketika pikiranmu sangat rapuh. Kau mengalami banyak keraguan. Setiap orang berbeda, dalam setiap kasus. Apa yang saya ingin coba jelaskan adalah Anda bisa berpindah dari wujud yang baik ke dalam situasi buruk dengan sangat cepat. 

“Saya tidak pernah menyentuh titik di mana saya mengatakan: ‘Aku menyerah.’ Saya memahami bahwa saya harus menanggung momen yang sangat sensitif tapi saya mengungsi ke orang-orang di sekitar saya dan, di atas semua itu, pada sepakbola. Saya tidak pernah merasa saya tidak ingin terus bermain. Saya tahu suatu hari saya akan mengambil sebuah langkah maju, barangkali yang berikutnya akan menjadi tiga, lalu lima...ini adalah sebuah proses dan bagaimana kau menjalaninya.

“Orang-orang melihat para pesepakbola sebagai makhluk yang berbeda, seakan-akan mereka tak tersentuh, seakan-akan tak ada yang terjadi pada kami, tapi kami juga manusia. Kami memang diistimewakan namun dalam kenyataan kita semua sama.” 

Kesamaan? Atau barangkali lebih buruk? Menjadi perhatian, tekanan, kompetisi dan kebutuhan untuk tampil, tokoh publik, membuat ini semakin berat? Juga beberapa pekerjaan (tambahan) yang menampilkan orang-orang yang sangat muda. Responnya sangat gesit: “Kami bukanlah martir,” kata Iniesta. “Banyak orang ingin bertukar tempat dengan kami. Setiap pekerjaan punya kesulitannya. Setiap hari, ayah saya, seorang kuli bangunan, pergi ke pembangunan, dia bisa saja jatuh. Tapi dia menerima resikonya; dan dia harus. Atau supir kereta, atau pekerjaan apa pun...pesepakbola tahu; dia tumbuh dengan tekanan, kritik, harus menjadi kuat. Saya yakin tidak banyak orang yang mau melakukannya.”

Iniesta meninggalkan rumah untuk bergabung dengan Barcelona sebagai seorang bocah 12 tahun, setiap hari menangis sendirian di pojokan. Dia mengatakan malam terburuk dalam hidupnya adalah hari pertama dia berada di La Masia sementara orang tuanya pulang ke Fuentealbilla, (sebuah desa) di provinsi Albacete, dengan mobil Ford Orion yang sering mogok. 

Kartu Anggota Pemain Dinas Olahraga Kota Albacete 1993 di mana Iniesta terdaftar sebagai pemain klub Albacete Balompie.

“Kami beruntung menjadi pesepakbola: niat saya menjelaskan saat-saat buruk bukan untuk membuat orang mengatakan ‘betapa malangnya’, sama sekali jauh dari itu. Hanya (untuk menunjukkan) bahwa elemen hidup (seorang pesepakbola), perasaannya, kesulitannya, sama dengan setiap orang lainnya. Ini adalah tentang bagaimana orang-orang hidup. Saya tidak merasa bahwa saya adalah seseorang yang berbeda. Butuh una barbariedad – ongkos yang sangat besar – untuk bisa masuk ke tim utama dan bahkan bertahan di sana. Saya menghabiskan seluruh hidup saya di Barcelona, hidup dengan tekanan sejak berusia 12 tahun. Tapi, jika kau terlahir sebagai seorang pesepakbola, ingin menjadi salah satunya, tidak masalah berapapun usiamu.”
  
Nyaris selama setahun dia merasa seakan-akan dia bukanlah seorang (pesepakbola), identitasnya hilang. Afrika Selatan membawanya melewatinya dan menempatkannya di sini; Iniesta mengakui bahwa hal itu mengizinkannya untuk “merasa seperti seorang pesepakbola lagi.”

Beberapa pesepakbola: kapten Barcelona, yang dikagumi di seluruh semesta, seseorang seperti Lionel Messi mengatakan bahwa, ketika ada  masalah di lapangan, hal terbesar yang ingin dia lakukan adalah mendekati Andres. Pemenang lebih dari 30 gelar: dua trigelar; semua piala ada di sana; juara Liga Champions 2006 (meski dia mengakui bahwa keputusan Frank Rijkaard di final, di mana dia memulainya dari bangku cadangan, dengan berkata “saya tidak bisa duduk tenang”), 2009, 2011 dan 2015; juara Piala Eropa 2008 dan 2012; Juara Piala Dunia pada 2010 dengan mencetak “gol” itu. 

Dan dia tidak ingin berhenti. Di usia 32 tahun, dengan tak lagi bermain bersama Xavi Hernandez dan dengan dimulainya perubahan (permainan) Barcelona dalam sebuah pergeseran gaya, lebih direct, mungkin akan menjadi sesuatu yang alamiah bagi karir Iniesta untuk menarik sebuah garis menuju penutup. Dia mungkin telah menjadi korban alamiah; meskipun dia menikmatinya tidak seperti sebelumnya. Dia menjadi lebih lebih terpusat dalam perasaan apapun, semacam (gabungan) Iniesta dan Xavi.

Kualitas yang membentuknya tidak berkurang; permainannya, sebagaimana yang dikatakannya, “intuitif.” Inilah pengakuan terhadapnya: diringkaskan dalam sebuah foto di mana dia dikelilingi pemain lawan, lebih besar dan lebih banyak ketimbang dia. Seakan hampir-hampir disengaja, menarik mereka ke dalam, bahkan seakan-akan dia mengajukan protes: “saya lebih suka menghadapi satu (pemain) dari pada lima!” Dia menjelaskan: “saya tidak pernah melihat menjadi kecil sebagai sebuah kerugian; setiap orang memiliki kualitasnya. Jangan minta saya mengalahkan seorang pemain dengan tinggi 180 meter di udara: minta saya melakukan hal lain di mana di sana saya lebih baik ketimbang dia. 

Iniesta dalam kepungan lima pemain Italia pada final Piala Eropa 2012

“Sebagian besar hal-hal berasal dari dalam, mereka intuitif, dengan itulah saya menjadi diri saya. Ada taktik, strategi, namun saya memahami sepakbola sebagai sesuatu yang tidak bisa diperkirakan, karena Anda harus memutuskan dalam seperseribu detik. Jika bola datang dan ada seseorang di belakang saya, saya tidak berpikir: ‘saya (bergerak) ke kiri atau ke kanan ya? Itu datang dan pergi saja ... dan, terkadang itu tidak berhasil.”

Dari seberang ruangan seorang teman mendengarkan. “Itu selalu berhasil,” dia berteriak, tertawa. Iniesta menggelengkan kepalanya sedikit ke arah lain. 

“Hal-hal sedikit berubah namun esensinya akan selalu sama,” ujarnya. “Bangkit dan berubahnya sesuatu membutuhkan waktu: kami tidak bermain baik pada September (2014) seperti final (Liga Champions) 2015 di Berlin. Gaya (permainan) adalah produk para pemain; Anda harus menggunakan mereka (Messi, Neymar, dan Suarez) dan mungkin para gelandang mendapatkan lebih banyak lapangan untuk dijelajahi, namun saya bukan seseorang yang hanya bermain pada satu sistem atau gaya tertentu. Tahun lalu adalah salah satu musim yang paling saya nikmati. Saya memecahkan rekor kilometer, tapi itu tidak berhubungan langsung dengan gaya saya.”

Keseimbangan di bawah (kepelatihan) Luis Enrique memikul semua itu: satu trigelar dan satu dwigelar. Kini, ketika mereka memulai musim yang baru, sesosok wajah familiar berdiri di belakang mereka di Liga Champions: seseorang yang melihat keluar dari poster di kamar tidur Iniesta. Pelatih yang mengubah klub (Barcelona) dan mengubah karirnya – dan juga mengubah karir Iniesta. Barcelona versus Manchester City: ini bukanlah hasil undian yang mereka inginkan namun lebih baik saat ini ketimbang di fase gugur. Dan reuni akan menjadi pertandingan penuh cinta. 

Setelah dua pertandingan bersama Guardiola pada 2008 Barcelona belum menang dan tekanan semakin besar. Mengapa mereka memilih “benih” ini ketimbang Jose Mourinho? Suatu hari ada yang mengetuk pintu Guardiola. Dia adalah Iniesta. “Laju terus, Tuan. Kita berlatih dengan sangat brilian dan berdarah-darah,” katanya.

“Hal-hal tidak berjalan baik pada awalnya dan saya percaya bersamanya (Guardiola),” kata Iniesta. “Saya merasakan semacam jalinan. Ketika sesuatu berasal dari dalam, kau tahu itu memang nyata. Saya merasakan hal itu, rasanya seperti harus berbicara padanya, mendukungnya. 

“Kami pulang dari Piala Eropa 2008 dan pergi ke St Andrews dan kami bisa melihat bahwa ini berbeda: latihan, komunikasi, bagaimana manajer bekerja. Sampai saat itu belum ada semacam gaya tertentu dan saya sangat memperhatikan ini. Itu merubah semuanya dan kami membutuhkannya.

“Sejak itu, jika Anda menonton, ada beberapa hal yang oleh pelatih lain tidak pernah berhasil mereka lakukan: bek tengah keluar bermain, atau bek sayap. Menarik gelandang bertahan lebih mundur untuk memulai (pergerakan). Dalam latihan, meski ada dua pemain dalam mundur untuk menerima (bola), dia memaksa kami maju ke gelombang berikutnya, mendukung pemain yang lebih berada di depan, menawarkan pilihan-pilihan umpan. Anda hanya bisa maju sejauh batas; Anda tidak bisa melewati garis ini,” kata Iniesta mengisyaratkan batas dengan tangannya. “Dan mereka menonton untuk memastikan, atau akan ada ‘kerucut’ yang menandai (batas itu). 

“Semua ide-ide itu diungkapkan sejak awal dalam latihan. Atau, menekan setelah kehilangan posesisifitas... ada pemicu ketika, jika lawan memainkan enam umpan tanpa Anda, Anda harus merebutnya dari mereka, dan mereka akan mendapatkan angka.” Bahkan untuk penjaga gawang? “Ya, dia selalu penting bagi kami, pemain yang berbeda: ketika bola datang dari dalam, tergantung apakah penyerang tim lawan memiliki satu atau dua (penyerang), penjaga gawang turut bermain. Dia membuat kami memiliki superioritas yang bisa dihitung."

Joe Hart telah keluar (dari Manchester City). Namun apakah filosofi Guardiola bekerja di Manchester? “Pep tahu bagaimana mengadaptasi dan saya sangat yakin dia akan melakukannya di Inggris,” kata Iniesta. “Dia juga memiliki staf seperti Mikel Arteta yang akan membantu proses itu, yang mengenal liganya. 

City telah merekrut dan memiliki skuad yang sangat kompetitif. Saya tahu Nolito bagus karena dia adalah rekan setim di Barcelona dan Spanyol. Dia melakukan awalan yang hebat dan berharap dia bisa melanjutkannya. Saya mengagumi David Silva bertahun-tahun: menurut saya dia berbeda. Para pemain belajar dari hari ke hari, dari pengalaman, rekan setim dan staf kepelatihan. Saya belajar banyak bersama Pep; dia membantu saya meningkatkan diri dan dia akan melakukan hal yang sama di City.”

Di luar semua itu, bagaimanapun, Guardiola menginginkan Iniesta tetap menjadi Iniesta, tidak hanya selama bulan-bulan dia (Iniesta) tidak menjadi dirinya. Karena ketika Iniesta adalah dirinya sendiri, dia adalah sesosok unik. Fuentealbilla bersama teman-temannya tidak sama seperti Camp Nou dengan 98 ribu fan ­– “Semoga,” katanya – namun di saat tribun memperhatikanmu, juga tekanan, beberapa hal (lama) masih tersisa. “Apa yang saya lakukan di stadion, pernah saya lakukan di taman bermain sekolah,” kata kapten Barcelona. “Apa yang saya lakukan di usia 12, tetap saya lakukan saat ini.” 

Andres Iniesta Lujan

Artikel asli ini ditulis oleh Sid Lowe dengan judul asli “Barcelona’s Andres Iniesta: I Was A Victim of Something That Terrified Me.” Dimuat di situs The Guardian, 6 September 2016.

Friday, July 22, 2016

Cinta Partai Republik yang Tak Dibalas oleh Musik Rock


The Dobbie Brothers
Pendapatan tiket masuk Rock and Roll Hall of Fame di Cleveland meningkat pada pekan ini. Sepertinya karena pengunjung Konvensi Nasional Republikan boleh mengunjungi secara gratis pameran “Louder Than Words: Rock, Power, and Politics” yang menyewa-penuh lantai paling atas area ini. Hal ini tampak seperti sebuah ide bagus. Selama beberapa dekade, kampanye Republikan menyalahartikan, seringkali secara riuh, ideologi musik rock paling penting dan berpengaruh, yang dibuktikan dengan pengelakan tanpa akhir mereka terhadap disiplin pembangkangan dan pembantahan dari musisi yang tidak ingin teriakan pemberontakan mereka diasosiasikan, bahkan meski untuk sementara, dengan agenda-agenda konservatif.

Kadang saya membayangkan ada satu gelak-terkekeh dari seorang DJ gondrong yang bertanggung jawab atas pemogokan kekacaubalauan musik: dia muncul dari belakang panggung, menghisap toke untuk kesehatan, cekikikan, dan memberi isyarat untuk “Born in the USA” untuk Ronald Reagan atau “This Land Is My Land” untuk George HW Bush. Tahun ini, “Dream On” milik Aerosmith, sebuah lagu berat yang menspiral tentang kematian, pada akhirnya mengharuskan Donald Trump berhenti menggunakannya setelah sang band memprotes berulangkali. (“Sekalipun saya memiliki hak resmi untuk menggunakan lagu Steven Tyler, dia meminta saya untuk tidak melakukannya,” tulis Trump di akun Twitter-nya. “(Lagu) ini menjadi lebih baik di ajang ini! Steven Tyler mendapatkan publisitas lebih atas permintaan lagunya ketimbang yang didapatkannya dalam sepuluh tahun terakhir. Hal yang baik untuknya!)

Dari sekian banyak hal saya menemukan pembingungan tentang mekanisme internal Partai Republik, yang ditegaskan dengan menyebarkan anthem-anthem kontrakultur rock sebagai soundtrack kampanyenya—bahkan kini, setelah sekian banyak gugatan—barangkali adalah yang paling membingungkan saya. Tapi saya menduga di sana ada sebuah kebenaran yang terbentang: dalam konteks tertentu, ini bukan soal apakah ada celah yang tampak antara apa yang benar-benar dimaksudkan dan apa yang diinginkan oleh seseorang tentang bagaimana itu dimaksudkan. Persoalannya adalah hal itu terdengar cool.

Tahun ini, Konvensi Republikan melangkah jauh dengan menggabungkan separo dari body gitar listrik dalam logo resmi mereka. Namun, seperti seekor anak anjing yang dengan tidak sabar membuntuti seseorang yang lewat tanpa rasa ketertarikan, cinta terhadap musik rock yang aneh dari Partai Republik hampir seluruhnya tak berbalas. Pada Senin malam, ketika memperkenalkan istrinya, Trump melangkah ke panggung dengan “We Are The Champions” milik Queen. Akun Twitter resmi Queen dengan segera mengeluarkan respon (“Penggunaan tanpa meminta izin di Konvensi Republikan bertentangan dengan kehendak kami – Queen”).

Menjadi masuk akal bahwa nenek moyang dari sebuah genre yang diasosiasikan dengan pembangkangan dan penentangan merasa dongkol dengan pasangan-pasangannya ini. Ketika berkeliaran di Rock Hall pada Selasa pagi, saya menemukan sejumlah ironi yang nyaris terlalu gawat untuk dicatat: sejumlah baliho bertuliskan “Musik Menentang Pembatasan” mengecam hambatan-hambatan saat ini. Satu kelompok delegasi mandat (Partai Republik) berkerumun di depan potret hitam-putih Janis Joplin (lagu “Mercedes Benz”-nya, sebuah lagu rock-folk tentang kesepian dari tahun 1970, meratapi konsumerisme yang merajalela) sementara lagu Missy Elliot, “Get Ur Freak On” (sebuah penghormatan, dari 2001, tentang bentuk kebebasan seks) dimainkan melalui pengeras suara. Para pengunjung bisa menuangkan bercangkir-cangkir kopi gratis dari sebuah jambang berwarna perak yang ditempatkan langsung di bawah sosis sepanjang 15 kaki berwarna baja dan berbusa yang menguasai asap ganja dari band jamming, Phish. Toko hadiah menjual cenderamata dengan brand Konvensi Partai Nasional di samping singlet bertuliskan judul lagu AC/DC, “Money Talks.” Suatu rangkaian keramahtamahan ditempatkan di belakang sebuah replika besar dinding bata dari sampul album Pink Floyd, “The Wall”, sebuah album konsep dari tahun 1979 tentang isolasi dan penyalahgunaan. Seorang lelaki mengenakan setelan dan seikat tali yang kusut memanjat sebuah tangga melingkar dengan lirik “We’re Not Gonna Take It” yang tertera di dinding.

Di sana, tentu saja, ada sejumlah pengecualian—band-band country yang bersandar pada rock yang sesuai dengan idealisme Republikan, atau setidaknya tak menunjukkan cemooh terhadap mereka: Rascal Flatts, Big & Rich, Lynyrd Skynyrd, dan Kid Rock, dijadwalkan tampil pekan ini. The Doobie Brothers tampil pada pembukaan pesta pada Minggu malam. “Saya berada di konser Doobie Brothers yang aneh atau semacam omong-kosong,” ujar seorang rekan reporter yang mengirimkan saya pesan malam itu. “Atau Three Dog Night, mungkin, saya tak tahu.” Ia lalu mengirimkan gambar program acara tersebut, yang menulis “Headliner” di mana nama band yang menjadi headline seharusnya pergi dari sana. Ketika saya berjalan-jalan melalui Rock Hall, saya bertanya pada seorang penjaga keamanan tentang band yang sedang bersiap di dekat panggung tak jauh dari pintu masuk. Dia mengatakan pada saya mereka adalah Radio, house band AT & T (pensponsoran oleh AT & T mengizinkan gratis tiket masuk). “Namun, Third Eye Blind akan bermain malam ini,” katanya.

“O, ya?” tanya saya.

“Acara pribadi,” ujarnya. Wajahnya menyiratkan permintaan maaf. Esok paginya, saya menemukan vokalis band ini, Stephan Jenkins, sedang berusaha mengusik kerumunan Republikan dengan meneriakkan, “angkat tanganmu jika kau percaya pada ilmu pengetahuan!,” dan kemudian daftar lagu yang akan dibawakan dikurangi secara drastis dan tak ada satu pun yang merupakan lagu hit. Ketika sifat pemarahnya menuai ejekan, dia menjawab, “Anda boleh mengeluarkan semua ejekan yang Anda inginkan, tapi saya adalah motherfucking artist di sini.”

Di luar arena, sekelompok musisi jalanan sedang mendirikan kios, tapi, lebih tampak seperti sejumlah lelaki dan perempuan sedang mendorong keranjang bermuatkan cenderamata pro-Trump, gejolak yang tampak adalah mata-duitan ketimbang kebenaran; pengeras suara publik mereka bertarung dengan lolongan para pendeta jalanan. Saya mengkarakterisasi hasil keributan ini dengan (kebisingan) sebuah cakram-gergaji.

Saya menemukan sebuah kalimat yang terdengar menarik, sungguh. Sebuah boy band dari Columbus, Ohio, dengan sebuah nama GOP yang bersahabat dan luar biasa: Liberty Deep Down. Tak seperti koreografi rapi boy band di akhir 1990-an atau awal 2000-an (Backstreet Boys-mu, ‘N Syncs-mu), Liberty Deep Down mengambil aksinya dari sejumlah pengulangan terakhir (5 Seconds of Summers-mu)—dan yang harus disebutkan, setiap anggotanya memainkan satu instrumen, dan mereka tidak menampilkan tarian rutin yang sudah tersinkronisasi. Saya melakukan sedikit korespondensi dengan band ini melalui Facebook, mencoba untuk mendapatkan pembacaan tentang politik mereka. Tak seperti cabang rock dan R&B lainnya, boy band ini sehat dalam sejarahnya—berpura-pura malu secara hati-hati tentang seks­—bahwa mereka tampak seperti tidak membayangkan pengulangan bentuk sayap kanan yang memungkinkan. Mereka bilang mereka lebih ke Maroon 5 dan 1975. “Sampai November kami belum memutuskan partai politik mana yang akan kami pilih,” jawab sang pemain drum, Noah Bouhadana. Saya bertanya apakah mereka sebelumnya memilih Republikan, atau apakah nama band mereka mengkhianati sesuatu hal tertentu. Dia membubuhkan emotikon senyum di akhir kalimatnya.
 
The Liberty Deep Down
Tak seperti Third Eye Blind, mereka tampak bersemangat berada di sini. “Menggairahkan bermain di Cleveland! Sudah lama sekali! Kami tak pernah bermain di acara politik sebelumnya tapi kami tertarik untuk menemukan apa yang kami inginkan. Kami berharap ini bisa menjadi kegembiraan, seperti semua pertunjukan yang sudah kami mainkan,” tulis Bouhadana.

Kelompok ini sudah dipesan untuk tampil selama dua malam beruntun di museum Grays Armory, satu dari beberapa gedung tertua yang masih berdiri di tengah kota Cleveland; dibangun oleh Cleveland Grays, sebuah perusahaan militer swasta, pada 1893. Pekan ini, Armory diubah menjadi markas sementara Republican Party of Cuyahoga County, dan dilabel-ulang sebagai “Republican Party Central.” Saya masih bingung apakah istilah “party” ini diartikan dalam kesadaran yang terbelah dan lebih tradisional, atau barangkali lebih riang, seperti “lets party!”

Beberapa jam sebelum pertunjukan, sambil berbaring di kamar motel, saya menonton sebuah video promosi singkat di situs mereka—menyebut-nyebut keberagaman, menjelaskan bagaimana “jalan menuju Gedung Putih dilakukan melalui Cleveland,” dan pengkonseptualisasikan ulang GOP sebagai “Growth and Opportunity Party.” Saya sangat tidak mampu memahami estetika musik yang menyertainya—yang membangunkan!—tidak juga dari line-up yang tersisa pekan ini, di mana termasuk di dalamnya pendukung southern-rock, Marshall Tucker Band, pianis dewasa kontemporer dan pembawa acara radio Jim Brickman, dan beberapa macam kandang yang hanya digambarkan sebagai “American Idol vs The Voice.”

Saya memancing seorang rekan sesama reporter—seorang lelaki berusia tiga puluh tahun—menemani saya ke pertunjukan, berusaha agar tidak terlihat oleh anggota Partai bahwa saya berkeliaran mencari anak muda; di New York sebelumnya, ketika saya memesan tiket online (50 dollar selembar), saya diminta memasukkan data kelahiran dan nomor lisensi setiap supir kami. Saya meminta supir kami agar mengirimkan info dirinya ke saya. Dia sangat skeptis. “Lu serius, Bro???” tanyanya. Lalu, “Jesus Christ.” Lalu, “Bisa-bisanya lu ngledek gue.” Dia bisa jadi benar dengan mempertanyakan motif saya. Pada akhirnya, ia menyetujui tanpa bantahan.

Ketika kami sampai, kami menyerahkan tali gantungan plakat-plakat plastik dan berjanji untuk tidak akan pernah mengambilnya. Kami mengosongi saku, merayap melalui detektor metal, dan mendapatkan semua hal tentang kehadiran kami yang  ekstrem. Di dalam, seorang lelaki muda menyanyikan lagu kebangsaan di depan satu kelompok kecil kerumunan yang berdesak-desakan. Kepulan asap membubung keluar panggung. Sebuah jaring dengan balon berwarna merah, putih, dan biru, tergantung dari langit-langit, menanti perayaan. Setelah lelaki muda itu menyelesaikan penampilannya—dan sangat mengesankan—dua layar lebar televisi di kedua sisi panggung mulai menayangkan ikrar para delegasi secara langsung. Ketika Trump secara resmi menjadi nominasi (dari Partai Republik), dan “New York, New York” mulai bermain di arena, muncul sejumlah keluhan kenikmatan di kerumunan.

Kami tiba lebih awal. Kami punya beberapa jam untuk membunuh sebelum Liberty Deep Down dijadwalkan bermain. Di luar ada dua truk makanan terparkir yang disebut Manna Truck (“Mereka akan datang menuju airmu...semua yang haus dan lapar, akan dinafkahi di meja surgawi KerajaanNya!”), dan beberapa meja piknik, dan, secara misterius, sebuah iklan lebar Mace menampilkan dua anak di atas sepeda (“Keselamatan dan keamanan adalah tujuan #1 kami dan apa yang membuat kami membuat produk-produk adalah untuk melindungi dan memberikan Anda kekuatan”). Kata kunci Wi-Fi adalah “republican.” Ketika saya tidak menemukan kamar mandi wanita di dalam Armory—meski ada sebuah ruangan terkemuka untuk pria—saya diarahkan ke salah satu gerobak gandeng toilet di dekat gedung. Sebuah howitzer antik (sebuah kanon seperti artileri) ditempatkan di dekat meja di mana para penggembira bisa membeli karcis minum. Kami membeli beberapa karcis minum.

Sekitar pukul 10.30 malam, band (Liberty Deep Down) naik ke atas panggung mengenakan blazer dan skinny jean. “Cleveland, betapa kami merasakan malam ini? Ayo biarkan pesta tetap berputar!” teriak sang vokalis, Dom Frissora. Ruangan itu besar, dan mungkin ada 60 orang di dalamnya, namun bocah-bocah ini benar-benar profesional. Frissora berjingkrakan dan menyentuhkan jarinya ke rambutnya yang indah dan melepas blazer-nya dan menyeret tiang mikrofon berkeliling panggung dan melakukan gerakan itu saat orang-orang menjatuhkan tangannya dan mengayunkan kepala mereka ke belakang di saat bersamaan. Ada solo drum. Ada sejumlah lagu cover: “Sorry” dan “As Long As You Love Me”-nya Justin Bieber, “Larger Than Life”-nya Backstreet Boys, dan “Burnin’ Up”-nya Jonas Brother. Liberty Deep Down tak ada lelahnya..

Cover-cover ini membius!” teriak rekan saya sambil menyeruput wiskinya. Kami berdiri tak nyaman di dekat panggung.

Tentu saja, boy band, yang dimulai oleh Jackson 5 dan Monkees, selalu menyanyikan lagu-lagu manis tentang mendapatkan gadis, tidak lebih. Ada kesungguhan untuk menciptakan kekaguman semacam itu; kata-kata yang terlintas jarang yang berbicara, dan sebagian besar ketidaksepakatan diselesaikan dengan malu-malu, seringai gigi putih, selalu terpancar dengan tipu daya. Ini bukan sebuah perkiraan tentang realitas melalui sembarang penggambaran, tapi ini bisa menjadi semacam penawar terhadapnya, atau setidaknya semacam balsem: di sini, tersuling, adalah beberapa jenis bentuk perikemanusiaan. Di sini kami tak berdosa. Malam kemarin, (musik) itu terdengar sempurna.  

Artikel ini ditulis oleh Amanda Petrusich dengan judul asli "The Republican Party's Unrequited Love of Rock Music" yang dimuat di situs The New Yorker pada 20 Juli 2016.


Saturday, November 15, 2014

Setelah 37 Tahun... (Maestro Folk Nusantara)

Leo Kristi di anjungan Batak, TMII, Juli 2011
Leo Kristi bertemu kawan lama: Titi Soetopo. Konser pertama mereka setelah 37 tahun. 

“Hampir 30 tahun,” kata Titi Soetopo.

Leo Kristi, yang berdiri di sebelah Titi dengan posisi tak berubah sejak tiga dekade silam, membantah dan mengoreksi jumlah tahun itu sambil memeluk gitar, ”padahal sudah lebih (dari 30 tahun)”.

Sambil membenarkan kaca mata dan membolak-balik buku lirik, Titi meralat ucapannya, “ah, ya, sudah 37 tahun.”

Perdebatan kecil itu membuka malam pertemuan kembali antara Leo Kristi dan Titi Soetopo. Di rumah adat Toba, anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (6/7) malam, Leo dan Titi kembali berduet dalam pertunjukan setelah 37 tahun “berpisah”.

Pengurus mailing list penggemar Leo Kristi, LKers, Setiadi, bersama anggota LKers lainnya, menyiapkan konser sederhana itu dengan agak terburu-buru. Pada Minggu (31/7), Leo Kristi datang ke pembukaan taman bacaan Katia-Gusti di rumah Setiadi di daerah Bekasi, Jawa Barat. Karena penggemar Leo belum puas dengan penampilan itu, mereka menyiapkan konser di TMII dalam waktu tiga hari.

“Kerinduan kita sudah cukup lama, kita sudah lama tidak mendengarkan duet Leo Kristi dan Titi Soetopo. Menunggunya sampai 30 tahun,” kata Setiadi.

Terpilihlah anjungan Sumatera Utara. Kebetulan, pengurus anjungan, Tatang Daniel, merupakan penggemar Leo Kristi. Tak ada panggung di ruang mirip pendapa berlantai kayu rumah adat Batak itu. Di tembok, menempel kotak-kotak kaca berisi manekin peraga yang mengenakan pakaian adat Sumatera Utara.

Kotak-kotak manekin itu menjadi latar pertunjukan. Di depannya, dua buah tong (tong menjadi ciri khas setiap pertunjukan Leo Kristi), berdiri. Tempat yang akan menjadi tempat pertunjukan konser Leo Kristi itu di kelilingi 17 buah lilin merah yang menyala. 

Leo tak datang dengan band lengkap. Praktis, satu-satunya musik yang mengiringi pertunjukan malam itu bersumber dari gitar yang dipetik Leo sendiri.

Ketika didaulat untuk naik ke area pertunjukan, Leo berdiri di lantai dengan satu kaki naik ke atas tong. Sekitar 50-an penonton duduk di lantai menunggu aksi Leo. Tak sedikit di antara penonton itu yang membawa anak-anak mereka.

Leo tak langsung menyanyi bersama Titi. Ia membuka pertunjukan itu dengan Kaki Langit Cintaku Berlabuh-sebuah lagu dari album Nyanyian Tanah Merdeka (1978). Lagu yang lirih itu dinyanyikan oleh Riza, penyanyi belia bergaun putih sebatas lutut yang menemani Leo.
 
Riza bernyanyi sekitar lima lagu. Salah satunya adalah lagu milik The Beatles, Across The Universe, yang diiringi petikan gitar ala Leo. Selanjutnya, Leo memanggil teman lamanya, Titi Soetopo. Meski sudah berusia lebih dari 60 tahun, gurat kecantikan belum lekang dari wajah Titi. Titi datang ke tengah pendopo itu dengan mengenakan kaos lengan panjang dan blus berwarna gelap.

Leo mempersilahkan Titi duduk di tong yang lebih tinggi di sebelah kanannya. Penonton beringsut mendekati area pertunjukan. Jarak antara Leo-Titi dan penonton hanya sekitar 4 meter.

Joan Baez
Saya tak mengenal lagu pertama yang dinyanyikan Titi, sebuah lagu berbahasa Inggris. Tetapi, dari lagu pertama, saya sadar bahwa saya sedang menyaksikan permata terpendam di negeri ini. Teknik dan warna suaranya mengingatkan kita pada penyanyi folk terkemuka Amerika Serikat yang pernah akrab dengan Bob Dylan, Joan Baez. Di masa kini, apalagi di negeri ini, sulit menemukan penyanyi perempuan yang memiliki cara bernyanyi seperti Titi. 

“Dia menyanyi dengan sepenuh jiwa,” kata Setiadi.

Tak cuma itu, Titi bisa menjadi penyeimbang Leo. Leo, sebagaimana banyak orang tahu, adalah seorang bohemian dan eksentrik. Mood-nya mudah turun-naik. Jika mood Leo sedang tak enak, pertunjukan juga ikut tak enak dilihat. “Mbak Titi adalah salah satu penyanyi yang bisa mengikuti mood mas Leo,” kata Setiadi, di sela pertunjukan.

Leo dan Titi bernyanyi sebanyak lima lagu. Tak ada satu pun lagu ciptaan Leo. Saya hanya mengenal dua dari lima: Scarborough Fair milik duo Amerika era 1960-an, Paul Simon dan Art Garfunkel, dan Donna-Donna, sebuah lagu teater Yahudi berjudul Esterke (1940-1941) yang dibawakan ulang oleh Joan Baez.
Paul Simon & Art Garfunkel

Agaknya lima lagu pertama adalah nostalgia antara keduanya. Saya jadi tahu, semasa muda, Titi dan Leo adalah penggemar musik folk Amerika yang menjadi cikal bakal musik hippies Amerika pada 1960-an. Jika kita hendak menyebut musisi Indonesia era awal yang terinspirasi musik hippies, Leo dan Titi adalah dua nama yang tak boleh dilupakan.
***
Saya menonton konser Leo Kristi untuk kali pertama sekitar tahun 2004 di gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Leo datang dari Surabaya lengkap bersama personil band-nya. Beberapa bulan setelahnya, saya datang ke sebuah kantor di jalan Diponegoro, Jakarta, kembali untuk menyaksikan Leo Kristi.

Selanjutnya, saya mengikuti beberapa konsernya. Salah satunya di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta Selatan, dan konser Agustus di teater kecil Taman Ismail Marzuki. Tetapi, di masa itu, saya tak mengenal Titi Soetopo. Yang saya kenal hanya Leo Kristi. Musik dan suara perempuan yang cukup berperan dalam lagu-lagu Leo saya anggap sebagai latar. Bintangnya tetaplah Leo Kristi.

Saya beruntung datang ke konser sederhana di anjungan Sumatera Utara, TMII, malam minggu di bulan Ramadhan itu. Setelah saya melihat dan mendengar Titi bernyanyi, saya jadi tahu, Leo ternyata tak sendiri. Ia memiliki kawan sepadan. Bersama Titi, Leo yang slenge’an tampak lebih kalem dan cenderung mengalah. Termasuk mengikuti lagu yang ingin dinyanyikan Titi. Leo harus membagi kebintangannya dengan Titi.

“Lagu-lagu yang mau dinyanyikan ditentukan oleh dia (Titi) sendiri. Dia tahu cikal bakal lagu-lagunya Mas Leo,” kata Setiadi.

Leo dan Titi. Keduanya berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Keduanya saling mengenal sejak usia 12 tahun. Dan bagi orang yang mengenal lagu-lagu Leo Kristi, Titi adalah penyanyi terbaik yang turut sumbang suara dalam album-album terbaik Leo Kristi.

Menurut Setiadi, Titi tak lagi turut bersama Leo pada konser Rakyat tahun 1976. Titi kembali terlibat dalam album Nyanyian Cinta (1979). “Album Nyanyian Cinta merupakan puncak-puncaknya album Leo. Oleh pengamat musik, album itu disebut melebihi zamannya,” kata Setiadi.

Titi mengaku tak pernah bernyanyi setelah berpisah dari Leo. Yang ia ingat, konser terakhirnya bersama Leo dilakukan di Bandung, Jawa Barat. Setelah itu, ia menetap di Surabaya. “Saya hanya bernyanyi sama Mas Leo,” kata Titi usai pertunjukan. 

Selama perpisahan itu, Leo tetap menjalankan aktivitas bermusiknya dengan menggelar Konser Rakyat hampir setiap tahun. Beberapa tahun terakhir, sebagian konser Leo diselenggarakan oleh penggemarnya yang tergabung dalam mailing list LKers. Bahkan, anggota LKers pernah menjadi pemusik yang mengiringi Leo dalam sebuah konser di Taman Ismail Marzuki.

Lalu apa perasaan Titi kembali berduet dengan Leo di pertunjukan setelah 37 tahun? “Saya lega dan senang!” kata Titi.

Namun Titi tak menjawab banyak saat saya minta berkomentar tentang sosok Leo saat ini. “Saya mengenal Leo sejak umur 12 tahun. Jadi saya tidak bisa bilang apa-apa,” kata Titi sambil mengerlingkan matanya ke arah Leo yang sedang berfoto bersama penggemarnya. Seolah-olah, ekspresi itu hendak mengatakan kepada saya, “ya itulah Leo, kamu bisa lihat sendiri bagaimana dia sekarang.”

Setelah lima lagu yang bukan ciptaan Leo, Titi akhirnya datang lagi ke Leo. Beberapa lagu hits dari album Leo di periode 1975-1980, dibawakan secara duet bersama Titi. Setelah banyak lagu dinyanyikan, setiap lagu habis Leo melihat ke Titi. Saya menduga, itu isyarat dari Leo bahwa pertunjukan sudah selesai. Tetapi Titi terus saja membolak-balik kertas lirik seolah-olah pertunjukan masih berlangsung sampai tengah malam. Leo, sekali lagi, mengikuti kemauan Titi.

Penonton larut dalam lagu Siti Komariah Ikal Mayang, Lenggang-lenggung Badai Lautku, Salam dari Desa, Anna Rebanna, dan lagu yang pernah diaransemen ulang oleh band rock Surabaya, Boomerang: Kereta Laju. 

Namun Leo tetaplah Leo. Pertunjukan berlangsung hampir 2,5 jam. Di lagu penutup berjudul Bulan Separuh Bayang, Leo mengulang-ngulang bait yang menjadi jatahnya dengan gayanya yang jenaka. Sebuah lagu yang memang dinyanyikan secara duet. Lagu yang seharusnya sudah selesai itu, terus diulang-ulang Leo. Kini berbalik, Leo yang tak mau berhenti menyanyi, “Belahan hatiku katakan/kita takkan berhenti/tegak di sini nyatakan/teguhlah cinta suci/Putra-putri pertiwi/jiwa petani sejati/kaki-kaki sendiri/guratan sedalam hati ti ti ti.” 

Mau tak mau, dengan raut yang riang, Titi menyambut bait yang merupakan jatahnya, “Sujudku/pada tanah kotor negeri ini/rumah putih berawan hitam/di mana kau dan aku dilahirkan/tiada alas tidur/selain tangan penuh kasih”

Dan penonton pun menyambut dengan menyanyikan reffrein secara meriah, “bulan separuh bayang/bulan separuh bayang/mulai tertutup awan….” 


*Artikel ini pernah dimuat di www.vhrmedia.com pada Agustus 2011 dan mengalami sejumlah penyuntingan.