Wednesday, October 28, 2009

Belajar dari Woodstock sambil Menunggu Miyabi


Mereka menari-nari dalam hujan, main perosotan di lumpur pertanian. Sebagian mencopot pakaian, telanjang bulat. Dalam benak anak-anak muda yang sedang menyodorkan budaya tanding ini, tubuh harus diterima sebagaimana adanya. Tubuh-tubuh wanita yang telanjang harus diterima sebagaimana adanya, bukan dalam eksploitasi keindahan ala majalah Playboy. (Bre Redana tentang 40 Tahun Festival Woodstock dalam artikel “Tuhan Memberkati Kalian…” di Kompas edisi 5 Juli 2009).


Kita perlu mencatat pandangan Bre Redana tentang ketelanjangan muda-mudi di Woodstock, Bethel, New York, Amerika Serikat, sesaat setelah hujan badai di pertengahan Agustus 1969 itu. Setidaknya, dengan mengingat-ngingat kembali ketelanjangan mereka, kita tahu bahwa ketelanjangan bukanlah persoalan yang tuntas dalam masyarakat. Dan Woodstock adalah monumen dalam sejarah dunia yang berupaya memberikan pandangan berbeda mengenai “tubuh yang tak bisa lagi dihindarkan dari politik.”

Sejatinya, anak-anak muda barat itu hanyalah berupaya melawan kepicikan orang tua mereka dengan “bertelanjang.” Michel Foucault pernah menelanjangi “politik tubuh” masyarakat barat dalam bukunya yang bertajuk History of Sexuality. Foucault habis-habisan menghujat kemunafikan masyarakat barat yang menistakan ketelanjangan demi kepentingan politik.

Masyarakat barat di zaman dahulu, menurut Foucault, senantiasa menilai ketelanjangan sebagai sesuatu yang tabu. Dengan dalih moralitas agama, ketelanjangan dan seksualitas dilarang muncul di hadapan publik. Namun ironisnya, pentabuan itu dilakukan sekaligus dengan upaya memunculkan kembali seksualitas dalam bentuk yang lebih terselubung dan ideologis.

Dia mencontohkan, urusan ranjang yang seharusnya menjadi urusan paling “privat” dicampuri negara dengan membuat hitung-hitungan statistik untuk membatasi jumlah penduduk. Di sini pembicaraan seks dimunculkan kembali untuk mempolitisasi seks.Di negeri ini, kita pernah mengenal program Keluarga Bencana (KB). Dalam pandangan Foucault, program-program yang membatasi jumlah penduduk berdasarkan perhitungan statistik itu adalah siasat yang ideologis untuk mencampuri urusan ranjang masyarakat.

Program-program semacam itu, tidak semata-mata bermakna untuk membatasi jumlah penduduk demi kepentingan pembangunan. Kekuasaan, dalam rangka mempertahankan kekuasaannya, berkepentingan untuk masuk ke dalam kamar tidur rakyat dan mengatur secara tak langsung persetubuhan rakyat dengan dalih “dua anak saja cukup.” Bukankah target pembangunan suatu rezim-dengan mengendalikan jumlah penduduk-juga bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan rezim itu sendiri?

Kendati demikian, Foucault memuji kerahasiaan ketelanjangan masyarakat timur. Dia menganggap, kebudayaan timur, terutama yang ada dalam kebudayaan agama-agama bumi, justru merahasiakan ketelanjangan dan seksualitas itu untuk menghargai seksualitas itu sendiri. Masyarakat timur, menutup tubuhnya karena bagi mereka, ketelanjangan dan seksualitas adalah sesuatu yang “tinggi." Seks harus dirahasiakan karena masyarakat timur menganggapnya sakral.

Sakralitas dalam ketelanjangan dan seksualitas itulah yang tidak terdapat dalam masyarakat barat. Ketelanjangan anak-anak muda di Woodstock telah membuktikan itu. Karena kemunafikan atas tabu ketelanjangan dan seksualitas, mereka berusaha mengadopsi paradigma masyarakat timur dalam memandang ketelanjangan. Namun, mereka menterjemahkannya dalam bentuk yang lebih berani. Yakni, jika masyarakat timur merahasiakan ketelanjangan sebagai bagian dari sucinya manusia, anak muda Amerika Serikat era 1960-an itu membuka pakaiannya dengan memanusiakan “kebinatangan” manusia dalam hal seksualitas.

Namun, meski bermakna pembebasan, ketelanjangan anak muda di Woodstock tak dapat serta-merta diterapkan di Indonesia. Meskipun yang melakukannya adalah Hippies lokal yang hidup di era 1960-an. Kita tak mungkin telanjang begitu saja meski makna ketelanjangan yang dianut Flower Generation (Generasi Bunga ) itu sesungguhnya meletakkan keagungan manusia di tempat yang paling tinggi.

Tapi kita dapat menyerap prinsip dan cara pandang anak-anak muda Woodstock itu untuk menilai polemik tentang tubuh dan ketelanjangan di negara sendiri. Tanpa perlu membuka baju, bersepakat dengan pandangan “menerima tubuh apa adanya” itu dapat memberikan kita tempat yang nyaman untuk menunggu kedatangan Miyabi.

Oktober 13 2009

Tentang Padang


It is the evening of the day. I sit and watch the children play

Smiling faces I can see. But not for me
I sit and watch, as tears go by
(The Rolling Stones, December's Children (And Every Body's), 1965)

Jiwa adalah sumber utama bagi gerak denyut kehidupan di suatu tempat yang dihuni masyarakat. Jiwalah yang memberikan makanan kepada pikiran untuk menentukan bentuk kehidupan di suatu tempat. Dengan memahami jiwa masyarakatnya, kita hampir mengetahui situasi seluruh kota.

Lalu, apakah yang terjadi dengan sebuah kota jika hampir seluruh penduduknya berada dalam keadaan jiwa yang terguncang nyaris gila?

Pertengahan 2006, seorang kawan mengisahkan kepada saya tentang pengalamannya menjadi relawan gempa bumi Jogjakarta. Hanya karena semangat voluntarismenya sebagai anggota mahasiswa pencinta alam di Jogjakarta, ia datang ke suatu tempat di mana mayat-mayat paling banyak bergelimpang.

Kawan saya bercerita tentang hari yang naas. Ketika truk pengangkut bantuan makanan dan lainnya melintas di jalan desa menuju posko, serombongan penduduk setempat menghadang. Tanpa banyak basa-basi, mereka meminta bantuan itu diturunkan di tempat itu juga. Alasannya, banyak warga di kampungnya yang belum menerima bantuan.

Relawan tentu saja menolak. Sebab, menurut mereka, bantuan harus sampai di posko, dan dibagi secara adil. Nyaris baku hantam terjadi. Siapa yang tidak ngeri dengan orang-orang (korban) yang sedang luka itu? Mereka bisa seperti macan yang darahnya sedang meleler di sekujur tubuh.

Truk memang lolos dan selamat sampai posko. Namun yang lebih naas, penduduk yang menghadang tadi menolak mengantre dan meminta bagian lebih banyak jatah minyak tanah yang sedang dibagikan. Lagi-lagi, terjadi perang mulut. Jika penghadangan masih meloloskan truk, namun kali ini, korban gempa yang bersitegang itu mengeluarkan senjata tajam hendak menikam relawan.

Dalam kondisi normal, relawan tersebut seharusnya pulang meninggalkan posko tersebut. Betapa tidak, pekerjaan relawan yang tanpa upah itu harus ditebus dengan ancaman senjata tajam. Tidakkah ini pelecehan terhadap kerja-kerja sukarela?

Tapi, uniknya kawan saya tidak benci. Dia hanya bilang, kita hanya kaget sebab kita bukan korban. Mereka itu, para korban yang selamat namun kehilangan anak, istri, suami, dan kerabat, sedang terguncang jiwanya. Dalam keguncangan, stabilitas hilang. Dalam instabilitas, kehancuran mendekat, karena angin buruk dari keaslian jiwa manusia muncul secara jujur.

Dengan kata lain, kawan saya mengatakan, "wajarlah mereka menjadi ganas. Sebab, jiwa mereka guncang. Kita, yang bukan korban, tentulah dapat melihat keburukan yang muncul dari keaslian jiwa korban itu, karena kita stabil. Jikalau saja kita berada pada posisi korban, hawa buruk dari keaslian jiwa kita pun akan muncul tanpa kita sadari. Jadi, maklumilah, dan teruslah bekerja."

Dengan pengetahuan akan jiwa itu, cobalah berangkat ke Padang beberapa hari ini. Niscaya, kita yang bukan korban, dengan jiwa yang relatif stabil, dapat melihat keburukan dari keaslian jiwa manusia. Bukan tidak mungkin, kita akan merasa terkejut karena dalam keseharian kita yang bahagia, tak pernah kita menemui keburukan-keburukan manusia yang menjadi korban itu.

Dan bayangkanlah, dengan kondisi jiwa seluruh penduduk Padang yang guncang, kita dapat merasakan ketidaknyamanan di kota itu. Keguncangan jiwa masyarakatnya akan memaksa wajah kota menjadi jorok, menyedihkan, dan seram.

Bencana memang tidak pernah menyajikan keindahan. Siapa (bukan korban) yang berani datang ke Padang beberapa hari ini, tentu saja merasa resah. Sebab, saat-saat itu, kehidupan yang normal masih melekat di kepala dan perasaan. Sekaligus kehidupan yang normal itu, untuk sementara berada nun jauh di rumah, di kampung halaman, kampus, atau tempat kerja.

Tanpa menyadari dan memaklumi keguncangan jiwa itu, kita yang bukan korban sebenarnya sama-sama mabuk. Jika korban mabuk karena kepedihan dan histeria, maka kita yang bukan korban namun sempat ke Padang akan mabuk melihat keburukan sifat manusia, dan menyebabkan kita tak lagi sedih di tengah-tengahnya. Sedangkan kita yang hanya menyimak tragedi itu lewat televisi, mabuk oleh kepedihan-kepedihan citraan yang diglorifikasi media massa.

Oh, senangnya menjadi kanak-kanak!


Oktober 9 2009

Oleh-oleh dari Mudik (2)


Seingatku, namanya Rosita. Aku bertemu dia di Sekolah Dasar di kota kecil kami. Aku juga tidak ingat betul, kelas berapa dia masuk ke sekolahku sebagai murid pindahan dari sekolah lain di kota kami.

Tak ada yang istimewa dari dia. Sebab itu, aku tak pernah mau terlalu akrab dengannya. Tidak cantik, dan kecerdasannya aku kira masih di bawah kemampuanku. Sebagai perempuan keturunan Tiongkok yang kakek moyangnya mendiami kota kami sejak puluhan tahun lalu, dia dapat dibilang sebagai perempuan yang benar-benar Tiongkok.

Dalam pengamatanku, setidaknya ada dua jenis karakter keturunan Tiongkok yang berdiam di kota kami. Pertama, keturunan Tiongkok yang modern. Golongan ini, biasanya berdandan sebagaimana orang kota besar dan modis. Dan seringkali aku mengagumi kecantikan perempuan-perempuan keturunan Tiongkok yang pandai berdandan ini.

Dan golongan yang kedua, dan termasuk golongan inilah si Rosita, adalah keturunan Tiongkok yang lebih sederhana. Golongan ini lebih cekatan dalam bekerja. Mereka seperti nenek moyang mereka di tanah leluhur yang mementingkan kerja (untuk tidak dibilang gila kerja). Golongan ini biasanya berpakaian lebih sederhana, dapat dikatakan lebih mirip dengan dandanan orang dusun (desa) di sekitar kota kami. Karena penampilannya, kami menjuluki mereka sebagai "Cina Kebun."

Tapi, soal siapa yang paling kaya di antara dua golongan itu, penampilan tidaklah menentukan. Keturunan Tiongkok yang modis belum tentu lebih kaya dari pada Cina Kebun. Yang membedakan mereka adalah penampilan.

Rosita, mungkin dapat dikatakan sebagai Cina Kebun. Penilaian ini kudapat setelah aku berjalan kaki di deretan pertokoan emas. Dalam derap langkah yang tak pernah kuhitung, aku menoleh ke salah satu toko emas yang tidak terlalu besar. Aku menemukan Rosita dalam tolehanku. Inilah yang menyentak perasaanku: aku melihat Rosita tengah menggenjot gas semprot api untuk membakar emas. Ya, dia tampak sebagai tukang emas. Benar-benar tukang emas seperti kakek-nenek dan ayah ibunya.

Mengapa menyentak perasaanku?

Secara ekonomi, Rosita tentu jauh lebih berada dari padaku. Usai kami menamatkan Sekolah Menengah Atas, aku yakin, semua anak muda mulai lebur dalam mimpi membangun masa depan. Di dalam angan, tampaklah kampus di kota-kota yang lebih besar dan maju dari kampung sendiri. Kalau pun ada imaji yang berbeda dari lingkungan kampus, mungkin sebagian dari kami bermimpi menjadi polisi atau tentara. Seingatku, Rosita termasuk lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Samalah denganku. Seingatku pula, dia kuliah di salah satu universitas swasta di kota Padang. Hanya itu yang kudengar waktu aku bertukar kabar saat mudik tahun-tahun pertama.

Dan waktu berjalan. Aku, hingga kini, tetap lebur dalam angan-anganku semasa lulus SMA dulu: mengunjungi negeri-negeri jauh dan mencari tahu tentang segala keadaan sedalam-dalamnya. Aku, setidaknya, masih berada dalam koridor memburu angan-angan itu. Aku, sudah bukan lagi anak kota kecil kami yang tulen. Aku menjadi orang yang berbeda. Aku perlahan mulai menjadi kosmopolit. Dunia menjadi lebih dapat kutempuh. Aku kian tak asing dengan Eropa atau Amerika, meski keinginanku untuk menjamah tempat-tempat itu belum kucapai.

Betapa paradoksnya dunia ini! Aku, yang gila akan cita-cita dan mengagumi kebebasan, ditumbuk oleh kenyataan seseorang yang harus kembali ke kampung halaman dan menggenjot gas semprot api untuk membakar emas. Seseorang itu, akan sangat mungkin, selamanya terpuruk di meja toko emas yang kecil itu. Kalau pun berubah, tentu saja seseorang itu hanya akan meluaskan tokonya, atau membuka usaha lain yang membuatnya tak ubah seperti kakek-nenek dan ayah ibunya.

Seharusnya, Rosita punya keinginan sama besar denganku. Dengan dukungan ekonominya, tentu cita-cita itu lebih gampang diraih. Tapi lihatlah! Betapa masa depan tak bisa ditebak. Di satu sisi, aku kepayahan dan gandrung dengan petualangan ke negeri-negeri jauh. Namun di sisi lain, seseorang harus kembali ke kampung halaman hanya untuk duduk di pojok toko emas.

Rosita hanya satu contoh. Golongan keturunan Tiongkok yang lebih modern, juga banyak yang bernasib seperti Rosita. Mereka sekolah di Universitas mahal seperti Universitas Trisakti dan Universitas Taruma Negara. Setelah bertahun-tahun, mereka akan kembali ke kampung halamannya. Mungkin melanjutkan usaha kelontong ayahnya, atau menjadi toke (cukong) karet.

Berhadapan dengan situasi ini, ada yang bertempur dalam perasaanku. Mengapa hidup begitu misterius? Dalam setiap perjalanan, tak ada yang mampu menerka kapan jalan akan selalu lurus dan menikung. Jika aku sibuk dengan mimpi-mimpi yang intelektual dan ingin menjamah rayah dunia, namun akan lebih banyak orang yang akan kembali ke tempat yang paling sempit dan monoton. Jika aku berusaha melakukan hal-hal baru agar hidup tak membosankan, namun lebih banyak lagi orang yang akan menjalani cara hidup yang sama hingga akhir hayat tanpa pernah mempertunjukkan rasa bosan.

Rantau memang membuatku menjadi lebih kokoh. Di tempat yang jauh dari rumah itu, kebebasan hampir dapat kudefinisikan. Tapi di kampung halaman, dunia tetaplah sesuatu yang kecil. Tentu saja kampung halaman lebih damai dari tanah rantau. Namun kedamaian itu kami jalankan dengan menganggap "yang luas di dunia luar" itu, bukanlah bagian yang perlu kami senggol dengan gairah. Hingga kami pun menjalani keseharian di kota kecil itu sebatas apa yang kami pahami dari pemahaman yang diturunkan orang tua kami.

Di kota kecil kami, kehidupan berjalan dengan lambat. Tak ada keributan besar yang mengancam. Kelakuan buruk pejabat masih bisa ditolerir karena keadaan memang (masih) terasa aman. Sungai kami yang rusak belum dianggap menjadi masalah besar yang akan mengancam kehidupan. Teman kecilku si Dedi, menjadi tukang ojek tanpa banyak mengeluh sebagaimana yang kutemui di kota-kota besar.

Duh, kampung halaman yang tak henti-henti menguji!

September 30 2009



Oleh-oleh dari Mudik (1)


Perantau, disebutlah sebagai perantau, karena ada rindu. Perantau, mestilah sekaligus perindu. Karena rindunya terhadap kampung halamannya itulah yang menyebabkan ia disebut sebagai perantau. Kerinduan itulah yang mengikatkan dirinya terhadap sejarah yang menyertai usianya.

Dan, saya kini bingung mendefinisikan apakah kini saya perantau. Memang, saya meninggalkan kampung halaman tujuh tahun lalu. Namun, selama itu pula saya hampir-hampir tidak merindukan tanah tempat memancar dari ibunda. Kalau pun saya pulang sekali setahun-dua tahun, bukan semata-mata karena saya rindu. Tetapi karena saya sadar, rumah dan ibu saya merindukan saya. Betapa kerinduan orang tua terhadap anak lebih gemerlap ketimbang rindu anak kepada orang tuanya.

Tapi, kerinduan, bagi orang yang sedang menyodorkan diri ke pintu "nganga dunia" sebagaimana saya, bukan dalam bentuk keinginan untuk menjumpai atau menyentuh sesuatu. Inilah kerinduan yang tampil dalam cara yang, menurut saya, asing dan elegan bagi perantau yang khianat:

Saya masuk ke dalam lorong (gang) rumah saya dengan mobil. Di ujung lorong, akan ada turunan pendek melewati mushalla. Dalam lima kali lompat dari mushalla, sampailah ke rumah saya. Tak ada yang berubah dengan rumah yang tak sempurna itu. Angin yang bertiup di tiap lubang jendela, rawa-rawa keladi, masihlah yang dulu-dulu juga. Bukannya tak ada yang berubah dengan rumah kecil di pojok kota kecil ini; perasaan sayalah yang tidak berubah kepadanya.

Inilah dia rahasia: perasaan yang tak berubah.

Ketika berjalan ke pasar sekaligus pusat keramaian kota, jalanan kini kain marak. Dulu, pukul 21.00 wib saja kota sudah mulai lengang. Kini, kelengangan mundur sejam kemudian. Jika waktu mendekati hari raya, kota baru tidur pada dini hari.

Kendaraan lalu lalang tak berhenti, terlalu banyak orang. Pasar yang dulu masih terdiri dari warung-warung kayu, kini berganti rupa dengan ruko-ruko beton. Semakin banyak orang yang tak saya kenal. Bukan karena saya jarang pulang, tapi karena sudah terlalu banyak orang. Tetapi, perasaan saya tidak berubah.

Tibalah saya pada saat di mana kehidupan menampakkan geraknya, sejarah menampakkan pergeserannya. Sebagaimana pergeseran lempeng bumi yang menciutkan nyali manusia, pergeseran sejarah mengharubirukan perasaan saya.

Di kota macam Jakarta, kematian hilang ritual. Jika anda bukan orang besar seperti Soeharto, Ali Alatas, atau WS Rendra, kematian hanya mencatatkan diri dalam sekejap waktu saja, dan sementara. Tapi, di kampung halaman, kematian itu menunjukkan dirinya sebagai bagian dari rantai kehidupan. Dia menyapa dengan lugas.

Di kota kecil itu, sedikit saja saya bertanya tentang tetangga, maka dengan lancar satu persatu ibu saya akan menjelaskan, "si anu meninggal dua tahun lalu karena kanker payudara, si anu pergi setahun lalu setelah saban dua bulan dua anak dan satu cucunya meninggal, si anu hampir gila karena pinjaman di bank tak terbayar hampir 40 juta, si anu belum menikah-nikah, si anu wajahnya rusak disiram air keras karena menggauli istri orang, si anu kini sudah menjadi PNS, si anu beristiri dua setelah sukses menjadi toke karet, si anu jadi bupati, si anu punya pom bensin."

Sebenarnya, peristiwa-peristiwa itu klise saja. Di Jakarta, ada banyak hal yang lebih mengerikan dan membahagiakan. Namun, dia lewat begitu saja bagi saya. Sedang di kota kecil ini, saya seperti mengenal dan mampu mengurai sejarah hidup seseorang. Kematian seorang tetangga yang ditelan usia, akan menyebabkan saya tenggelam dalam ingatan terhadap masa lalunya yang menghardik saya saat mencuri rambutannya, gaya lenggok kepalanya saat berzikir usai tarawih, dan banyak hal lain. Dengan kata lain, saya merasakan pergerakan kehidupan seseorang, terutama ketika hidupnya sudah berakhir.

Boleh dibilang, kini, di lingkungan sekitar rumah saya, sudah banyak yang meninggal. Selain kakek saya, ada banyak orang muda yang mati. Satu di antaranya adalah pemain voli andalan kampung. Satu di antaranya seorang bekas pemutar pita film bioskop kota yang sudah tak ada lagi. Si pemutar film itu mati dalam tahun yang sama dengan cucu dan anak perempuannya yang tak menikah-nikah dan mengidap kanker payudara.

Barangkali, karena kota ini berjalan lambat. Dalam setiap yang lambat, mata dan hati dapat menangkap setiap detil peristiwa, dan merasakan maknanya. Dan kematian orang-orang yang saya temui di masa lalu saya, menyebabkan saya merasa bahwa kehidupan itu benar adanya, dan kematian yang menyimpulkannya.

Saya kira, masa lalu menampar saya dengan menghamburkan deretan kematian tetangga-tetangga saya. Dia memperlihatkan saya waktu yang menguasai hidup seseorang dengan sungguh pelan, seperti adegan orang berlari yang di-slowmotion-kan dalam sebuah film.

Amboi itu hidup!

September 26 2009 Rata Penuh

Bung dan Puan (2)


Bung:
apakah istimewa bagimu?

Puan:
pertanyaan jenis apa itu?

Bung:
sudah, jawab saja!

Puan:
tak ada yang istimewa, kecuali Tuhan!

Bung:
astaga! ini "bumi manusia", selain Tuhan, tidakkah kau menemukan keistimewaan dalam kehidupanmu sehari-hari?"

Puan:
menurutmu, apa yang istimewa dari kehidupanku?

Bung:
kau, pelita yang jelita! itu saja!

Puan:
hahahaha...bagiku itu sudah bukan keistimewaan, sebab tertalu sering kudengar. adakah contoh yang lain, mungkin pada hidup orang lain ?

Bung:
kau tahu Soemitro Djojohadikoesoemo?

Puan:
seperti pernah kudengar namanya. siapa dia?

Bung:
Prabowo Subianto?

Puan:
kalau itu semua tahu. calon wakil presiden!

Bung:
ya, dia memang calon wakil presiden. lebih dari itu, dia juga dikenal sebagai penculik dan tukang menghilangkan orang. itulah masa di mana dia jaya sebagai perwira militer. dasar menantu presiden!

Puan:
?

Bung:
dan ketika Soeharto jatuh, kau tahu apa yang terjadi dengan dia? dia dianggap sebagai pelanggar HAM! lebih tragis lagi, dia terusir dari rumah istrinya, dia dianggap pengkhianat oleh ayah mertuanya sendiri. dia terjepit, oleh rakyat dianggap sebagai jenderal penculik, oleh mertua tempat dia menggandulkan kuasanya, dia dianggap pengkhianat.

Puan:
lalu, bagaimana nasibnya?

Bung:
konon, dia lari ke Yordania. di tempat itu, konon dia disambut hangat oleh sang pangeran. Tapi kisahnya di Yordania itu tak terlalu penting bagiku. Aku ingin menceritakan Soemitro.

puanku yang belia. Soemitro itu, sebagaimana dicatat oleh sejarah, dialah begawan ekonomi Indonesia. dialah salah satu anak muda yang menentang Hatta saat mengiyakan permintaan Belanda guna membayar utang kolonial yang akan dipertukarkan dengan kedaulatan negeri.

Lagi-lagi, bukan itu yang hendak kukisahkan.

Soemitro, hanyalah seorang ayah. seorang ayah yang berperasaan sebagai ayah. dan sang anak adalah Prabowo Subianto. ketika genting menguasai Indonesia, ketika Prabowo dicerca sebagai pelanggar HAM dan terusir dari rumah mertua, dengarlah yang dikatakan Soemitro:

“andaikan sampah, seorang anak harus tetap dibanggakan orang tuanya?”

Puan:
O, kau mau mengatakan, betapapun buruknya, seorang anak tetap istimewa bagi orang tuanya?

Bung:
Ya. Dan sekarang apakah istimewa bagimu?

Puan:
Kalau begitu aku tak perlu jauh-jauh mencari keistimewaan. sebuah pengakuan dari orang yang aku anggap istimewa adalah keistimewaan.

Bung:
Apakah orang yang kau anggap istimewa itu dapat dikatakan sebagai kekasih?

Puan:
siapa lagi kalau bukan pacar.

Bung:
(dengan mata yang sayu)
aku tak punya pacar. dan tanpa perlu menunggu dari pacar, aku sudah dianggap istimewa, oleh keadaaan!

Puan:
dasar! fanatik terhadap diri sendiri!

Bung:
ya. keistimewaan itu tak pernah sengaja kucari, meski aku ingin. Ia datang bersama pengalaman hidup.

Dan kini, karena pengalaman hidup, kaulah yang kuanggap istimewa!

Puan:
Dasar! Bajingan!

September 13 2009

Bung dan Puan (1)


Puan:
bung yang sedang cemar, si raja kembara, basuhlah wajahmu agar kau mencahya
tapi ingat, jangan basuh dengan air dari periukku!

Bung:
puanku yang belia, aku memang cemar, sebab manalah ada yang suci di jagad ini?
dalam cemar, bersemayamlah kebebasan,
dan kau tahu, akulah si pencinta kebebasan itu

Puan:
dan akan kau katakan, kebebasan itu ada pada tubuhku,
kau cemar, dan mencari suci pada jasadku
ingat, jangan kau ketuk pintu rumahku!

Bung:
amboi, lelaki pengembara dikutuk selalu berada dalam pengembaraannya. terikat dengan masa lalu yang kuat, masa depan yang tak pasti, dan sunyi dari perempuan

Puan:
ingat, jangan kau hubungi aku lewat telepon!

Bung:
(dengan telinga yang berdarah)
puan, rasanya aku ingin mandi di sendang pojok kota. aku kenal laki-laki tua penjaga sendang itu. dan aku cemburu padanya. betapa tidak? dialah yang memberitahu, kau senantiasa membasuh rambutmu di situ. dan air sendang si tua itulah yang membuat wangi rambutmu, wangi yang membuat dadaku rontok

Puan:
jangan sebut-sebut sendang dan laki-laki tua itu! mereka adalah lambang ketulusan. sebagaimana banyak laki-laki tua, selalu bahagia melihat anak muda. dia melihatku hampir-hampir tanpa niat! dan akulah si anak muda itu, pelita yang jelita!

Bung:
(dengan hidung yang berdarah)
puanku yang belia, bukalah kerudungmu. barang sekejap saja. bukan, bukan untuk mengajakmu mengingkari surah. aku hanya ingin menyematkan sekuntum bunga paling indah dan harum di sela rambutmu

Puan:
(dengan mata yang sayu)
bung, aku semakin ngeri...

Bung:
di mana bisa kukecup rambutmu?

Jakarta, September 11 2009

Grunge, akankah Sekedar Masa Lalu?


“The Roots of Seattle Sounds”

Pada akhirnya, ruang di depan panggung dalam sebuah kafe di sudut Kemang, Jakarta Selatan, itu kembali sepi. Sejak awal, gig itu memang tidak berhasil membuat Prost Beer Café pada Jumat malam (28/5) sesak oleh pengunjung. Apakah ini terjadi karena musik yang dimainkan oleh pemusik di atas panggung disebut sebagai grunge?

Dan entah sebab apa pula, panitia memberi tajuk gig tersebut dengan “The Roots of Seattle Sounds”. Judul tersebut mengesankan seolah-olah grunge sudah jauh terbenam dan kembali meringkuk di lembabnya cuaca Seattle, kota kecil di Washington, Amerika Serikat, yang sering disebut-sebut sebagai tanah air grunge.

Dalam periode ledakannya, grunge memang tidak sekedar dicatat sebagai genre semata. Mereka lahir dan menguasai dunia pada saat angin politik sedang bergerak untuk perubahan besar. Seperti Flower Generation pada 1960-an yang lahir karena kekesalan akibat Perang Vietnam, grunge-mesti tidak terkait langsung dengan politik internasional kala itu-muncul di masa transisi berakhirnya perang dingin antara blok barat dan blok timur.

Entah kebetulan atau tidak, hingar-bingar grunge mereda seiring dengan meredanya ideologi komunisme yang diwakili Uni Soviet sebagai lawan tanding kapitalisme-liberal yang digenggam Amerika Serikat. Tahun 1994 mungkin bisa dicatat sebagai turning point of grunge. Pada tahun kelam itu, kematian Kurt Cobain pada 8 April 1994 membubarkan salah satu ikon Seattle Sound, Nirvana.

Pada tahun yang sama, Pearl Jam membatalkan konser musim panas. Salah satu mainstreams of Seattle Sound itu keberatan terhadap agen tiket mereka, Ticketmaster, yang memasang tarif konser mereka terlalu mahal. Seakan menggelinding, keruntuhan grunge dilanjutkan dengan penampilan terakhir Alice In Chains pada 1996. Enam tahun setelah itu, vokalis Alice in Chains, Layne Staley, tewas karena overdosis setelah mengasingkan diri.

Pada tahun kematian Staley, dua punggawa Seattle Sound lainnya, Sound Garden dan Screaming Trees, meluncurkan rekaman terakhir lewat album Down on the Upside dan Dust.

Setelah rentetan peristiwa itu, grunge seperti memilih diam dan menyendiri di Seattle. Kini, barangkali hanya Pearl Jam yang menjadi simbol eksistensi kejayaan grunge. Kemunculan album Riot Act yang elegan pada 2002, seperti menjadi seruan pengingat awak Seattle Sound kepada penggila grunge di seluruh dunia: “kami masih ada.”

Lalu, apakah makna gig “The Roots of Seattle Sound” dengan beban sejarah grunge yang tak manis itu?

Sebagaimana Rock & Roll dan Flower Generation, grunge juga sebuah gerakan kebudayaan. Kemunculannya menciptakan sesuatu yang masif sebagaimana disyaratkan dalam budaya populer. Hingga pertengahan 1990-an, berpenampilan belel plus sepatu Converse All Star seperti Kurt Cobain dan mengenakan kemeja kotak-kotak serta sepatu boot ala pekerja Amerika Serikat menjadi sesuatu yang fashionable bagi jutaan anak muda di seluruh dunia.

Lebih dari itu, grunge menjadi sisi lain dari situasi modernitas Amerika Serikat yang berhasil menjadi penguasa tunggal dunia pasca keruntuhan Uni Soviet. Lirik yang satir disertai distorsi yang kelam dan bising, seolah menunjukkan bahwa di negara itu kegelisahan masyarakatnya cukup serius.

Kegelisahan masyarakat modern itu hendak pula ditunjukkan dengan cara menentang kemewahan yang digelar musisi glam rock yang sedang meraja sebelum kemunculan grunge. Grunge melakukan gerakan anti kemapanan dengan menolak pengembang rambut, tata cahaya panggung yang gemerlap, dan aksi panggung yang direkayasa sebelum pertunjukan.

Apakah makna itu sampai di Prost Beer, sebuah kafe di negara dunia ketiga yang sedang dihantui band pop melayu yang menyanyikan cinta dengan cara yang “rendah” di seluruh media massa?

Sebuah kejayaan, jika tidak dipelihara dan dimaknai dengan baik, hanya akan jatuh pada romantisme masa lalu. Bukan tidak mungkin, sepinya Prost Beer di penghujung “The Roots of The Seattle Sound” itu menunjukkan bahwa grunge hanya menyisakan “kenangan,” bukan “gerakan” dari sebuah scene musik. “The Roots” yang hanya menjadi judul dan ajang reuni, bukan sebuah perjumpaan yang memberi inspirasi.

Tapi baiklah, apapun itu, setidaknya gigs itu berupaya memperdengarkan grunge. Ada beberapa band yang saya kira perlu diceritakan penampilannya.

Pertama, si jelita itu bernama Shinta. Perempuan mungil nan manis itu menjadi frontwoman sebagai pemetik bas dan penyanyi utama dalam trio Sonic Death. Setelah membawakan beberapa lagu dari Hole, dia menutup penampilannya dengan membawakan Drunken Butterfly milik Sonic Youth.

Band ini memang dikenal sebagai pembawa lagu-lagu Sonic Youth. Namun, Shinta terlalu jelita, jari mungil yang bergerak pada fret basnya terlalu cantik untuk musik seperti Sonic Youth. Tapi tidak, tentu itu bukan ukuran untuk menilai suatu penampilan. Hanya saja, aura semrawut yang biasa terpancar dalam video-video konser seniman grunge tidak hidup pada band ini.

Lagi pula, pemain gitar Sonic Death tampak begitu rapi memainkan lagu-lagu malam itu. Maksud psychedelia dan keliaran dalam sound eksperimental Sonic Youth seperti terlalu sempurna di tangan Sonic Death!

Selanjutnya, saya terkesan oleh Besok Bubar. Sebagaimana lazimnya gig grunge di mana pun, Besok Bubar membawakan Nirvana. In Bloom dipilih menjadi lagu pembuka. Sang vokalis bernyanyi cukup baik dengan sound gitar yang tidak sembarangan. Penampilan Besok Bubar untuk sementara menghancurkan kekesalan terhadap peniru Nirvana yang tak mengerti kedalaman Kurt Cobain.

Besok Bubar berhasil membakar semangat mencapai puncak dengan Smells Like Ten Spirit. Sayang, penampilan band ini menjadi antiklimaks karena seorang pria yang saya tidak tahu berasal dari negara mana tiba-tiba naik ke panggung. Seperti mabuk alkohol, dalam bahasa Inggris pria tersebut minta diiringi menyanyikan Last Caress-nya band punk rock Misfits.

Sejak itu, penampilan band selanjutnya menjadi tidak bergairah. Besok Bubar tidak melanjutkan penampilannya usai si pria pengacau turun panggung. Tabiat seperti ini sebenarnya tidak boleh dilanjutkan. Bagaimanapun, bagi pemusik yang sedang tampil, panggung ibarat kuil bagi biarawan. Insiden seperti itu jelas merusak konsentrasi dan kenikmatan bermusik!

Apa yang saya duga di awal tulisan ini, bahwa acara ini bisa jatuh pada romantisme dan reuni kian tampak di penghujung acara. Sejak awal acara, memang band-band yang tampil seolah menyajikan ragam muasal genre grunge. Selain hits Nirvana, Pearl Jam, Sound Garden, Alice In Chains, nama-nama yang tidak terlalu mainstream seperti Mad Season, Mudhoney, Tad, juga terpancar dari panggung.

Ruang romantisme dan reuni itu adalah Aliens Sick. Band grunge yang lumayan dikenal di scene lokal ini membuka panggung dengan Glorified milik Pearl Jam. Suasana semakin terasa grunge ketika Aliens Sicks mengiringi Anda (eks gitaris Bunga), Toni Viali (vokalis Bunga), dan Dendi (vokalis kunci) menyanyikan hit Sound Garden nan megah: Spoon Man.

Selanjutnya, panggung nostalgik itu menghabiskan tiga nomor dari Pearl Jam, yakni Yellowledbetter, I am Mine, dan Elderly Woman. Tony Bunga kali ini bertindak sebagai penyanyi utama. Mendengarkan Tony bernyanyi, jelaslah bahwa Tony adalah salah satu penyanyi grunge yang paling soulfull di Indonesia.

Pada akhirnya, generasi dekade grunge Indonesia itu tenggelam dalam River of Deceit, sebuah lagu indah yang diciptakan oleh band semi permanen Mad Season, dengan Mike Mcready (gitaris Pearl Jam) dan Layney Staley sebagai dua personilnya. Cara mereka menyenandungkan lirik dan irama dalam River of Deceit, seolah menunjukkan mereka rindu terhadap masa yang jauh di kehidupan lampau mereka. Masa di mana keputusasaan diterjemahkan dalam musik bernama grunge.

The River of Deceit pulls down
The only direction of flow is down

Down,oh down
Down,oh down
Down,oh down
Down,oh down

(River of Deceit, Mad Season)

artikel ini pernah dimuat di www.jurnallica.com