| Gerardo "Tata" Martino |
Apakah
kematian Tito Vilanova adalah sesuatu yang sentimental? Sulit untuk mengatakan
tidak jika anda memilih Barcelona sebagai klub yang akan anda katakan ke orang
lain sebagai klub di mana anda adalah seorang suporternya.
Seorang
teman yang mengaku sebagai suporter Bayern Muenchen berbicara dengan nada sinis
tentang kegagalan Pep Guardiola usai ditaklukkan Real Madrid versi Carlo
Ancelotti di semifinal Liga Champions 2013-2014. Sinisme itu terasa karena dia
mengatakannya kepada saya, seorang suporter Barcelona.
Jawaban
pertama saya adalah kekalahan Muenchen itu lebih karena faktor mental. Bukan
mental pemainnya, tetapi mental pelatihnya. Apakah kematian Tito bukan sesuatu
yang sentimental bagi Guardiola? “Kesedihan ini akan terus ada di sisa hidup
saya,” kata Guardiola tentang kematian Vilanova.
| Pemain Barca menghadiri persemayaman Tito di Katedral Barcelona, 28 April 2014. |
| Tito Vilanova |
Pertama,
saya katakan padanya bahwa saya adalah seorang fan Guardiola, meski bukan fan
Muenchen. Saya membeberkan fakta bahwa Guardiola adalah pelatih pertama yang
meraih gelar liga di Eropa musim ini dengan sejumlah rekor. Ternyata, itu belum
cukup untuk Guardiola. Menjadi Guardiola, haruslah menjadi juara Liga
Champions.
Catatan ini
ditulis ketika Guardiola sedang menyaksikan pertarungan ketat menghadapi
Borussia Dortmund untuk perebutan gelar DFB-POKAL di Berlin. Di akhir laga,
tuah Tito mungkin baru menghampiri Guardiola. Muenchen menaklukkan Dortmund
dengan skor 2-0 untuk gelar Piala Jerman. Gelar keempat untuk Muenchen dan ke-18
sepanjang karir kepelatihan Guardiola.
![]() |
| Guardiola disiram bir saat perayaan gelar juara Piala Jerman 2014 |
Atletico
Madrid baru saja memastikan gelar La Liga ke-10 mereka. Gelar La Liga terakhir
mereka dicapai pada musim 1995-1996. Pelatih “Rojiblanco” yang memenangi La Liga musim terbaru, Diego Pablo
Simeone, adalah salah seorang pemain yang termasuk dalam tim 1995-1996 itu.
Gol
penyeimbang yang dicetak bek tengah Atletico asal Uruguay, Diego Godin,
membuyarkan sentimentalitas terhadap Tito. Laga berakhir dengan skor 1-1
setelah Barca mendahului dengan gol “ajaib” Alexis Sanchez. Sebelum laga final
di pekan ke-38 itu, seorang kolumnis di harian pro-Barca, El Mundo Deportivo, mengatakan “the
magic of Tito” muncul saat Real Madrid bermain imbang 1-1 di kandang Real
Valladolid di pekan ke-36. Sepekan sebelumnya, “Si Putih” juga imbang 2-2
versus Valencia di Santiago Bernabeu. Di Valencia, Atletico menyerah 2-0 dari
Levante. Hasil itu membuat Barca berpeluang mempertahankan La Liga asalkan bisa
mengalahkan Atletico Madrid di pekan terakhir. Lionel Messi bahkan sudah
berniat untuk mempersembahkan La Liga untuk Tito.
![]() |
| Atletico Madrid berfoto bersama di Camp Nou usai merebut La Liga 2013-2014 |
Kematian
Tito seperti menjadi penanda bergantinya suatu periode. Suporter Barca tidak
sadar bahwa mereka sudah berada di musim keenam sejak Guardiola memulai sebagai
seorang “rookie” pada musim panas
2008. Rookie selalu memiliki
keberuntungan dan simpati. Guardiola membawa kejayaan yang dirasakan oleh
suporter Barca sebagai permulaan sebuah era. Era menaklukkan dunia. Barcelonistas hampir saja lupa, bahwa
pada tahun 2014 Guardiola bukan lagi “rookie”.
Keberuntungan seperti itu sedang bergerak ke arah figur baru di tepi sungai
Manzanares: Diego Pablo Simeone.
![]() |
| Diego Pablo Simeone dielu-elukan pemainnya usai merebut La Liga 2013-2014. |
Maka, Barca,
selama enam musim terakhir, adalah pusat gravitasi. Siapa yang akan menjadi
juara akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana perjalanan Barca dalam satu musim
itu. Dan, tentu saja, disertai dengan segala yang terjadi, baik di dalam atau
di luar lapangan.
Musim yang
baru saja lewat diwarnai dengan kejutan pengunduran diri “lovely guy” Tito Vilanova dari kursi pelatih kepala. Tito belum
sempat menjalani laga resmi musim keduanya setelah kanker kelenjar ludah
memaksanya harus bolak-balik ke New York selama musim 2012-2013. Kejutan
selanjutnya adalah terpilihnya lelaki Argentina yang “low profile”, Gerardo “Tata” Martino.
Saat itu, Tata
belum punya pengalaman di Eropa. Saat direkrut menggantikan Vilanova, ia baru
saja membawa Newell’s Old Boys menjuarai Liga Argentina. Ayah Lionel Messi,
Jorge Messi, adalah seorang fan berat Tata. Dan Messi sendiri diasuh oleh
Newell’s sebelum hijrah ke La Masia. Seperti Messi, Tata adalah lelaki tulen
kelahiran Rosario, kota tempat Newell’s berbasis. Tata pun tak segan mengakui
bahwa faktor ayah Messi turut mempengaruhi kepindahannya ke Barcelona. Catatan
terbaiknya adalah membawa tim nasional Paraguay hingga perempat final Piala
Dunia 2010 di Afrika Selatan.
Musim sebenarnya
berjalan secara mengesankan bagi Tata. Ia tak sampai menunggu tiga menit untuk
gol pertamanya sebagai pelatih Barca. Tata menyaksikan pasukan barunya
menggasak Levante dengan skor 7-0 di pekan perdana. Kemenangan itu membuat Tata
menganggap Barca bermain melebihi harapannya.
Paruh pertama
berlalu seperti yang diharapkan. Tata mendapatkan kemenangan Clasico pertamanya dengan gol dari
pemain asal Brasil yang disebut-sebut mampu menyaingi Messi, Neymar. Publik
memuja Neymar dan mencemooh rival langsungnya yang dijadikan Madrid sebagai
pemain termahal, Gareth Bale, karena bermain buruk.
Paruh kedua
berjalan lebih lebih buruk dengan tiga kekalahan dan empat imbang. Namun,
kekalahan 3-1 atas Real Sociedad adalah pemicu yang menentukan nasib Barca
hingga akhir musim.
Saya termasuk
orang yang percaya bahwa “kekotoran” dalam menjalankan sebuah klub akan
berpengaruh terhadap performa klub tersebut. Dan, kekalahan 3-1 di Anoeta, 22
Februari 2014, terjadi ketika kotoran yang melekat di tubuh Barca sedang
ramai-ramainya ditelanjangi.
Sebulan
sebelumnya, Presiden Barcelona, Sandro Rosell, mengundurkan diri dari
jabatannya karena tidak bisa menjelaskan “dana suap” untuk mendatangkan Neymar
ke Barcelona. Majalah World Soccer
menyebut kepemilikan Neymar terbagi oleh sejumlah perusahaan. Sehingga,
transfer Neymar juga berarti fee
untuk sejumlah perusahaan itu. Rosell menggunakan koneksi yang dijalinnya
ketika menjabat Direktur Pemasaran Nike
untuk kawasan Amerika Latin yang bermarkas di Brasil, untuk mem-booking Neymar.
Suka atau
tidak, sejak kasus itu, penampilan Neymar memburuk. Di Brasil, pelatih Selecao,
Luiz Felipe Scolari, dengan keras mengatakan Neymar tidak terpengaruh dengan
isu itu. Maklumlah, Neymar adalah bintang baru Negeri Samba yang diharapkan
bisa merebut kembali Piala Dunia saat mereka menjadi tuan rumah pada musim
panas 2014. “Kalau Anda datang ke Barcelona, Anda akan melihat dia (Neymar)
baik-baik saja,” kata Scolari.
Perintang lain
adalah cedera yang menimpa Messi menjelang akhir tahun. Sementara itu, lini
belakang tak kunjung membaik setelah mitos Puyol tak juga ditemukan penawarnya.
Dan, semuanya menjadi lebih bisa diterima ketika kapten legendaris Puyol memutuskan berhenti dari
Barcelona karena merasa tak sanggup berada di level yang dituntut klub.
Musim keenam
sejak era baru yang dinyalakan Guardiola telah berubah menjadi akhir episode.
Barca yang indah bertumbuk dengan hukum alam untuk menghabiskan masa transisi
yang harus dibayar dengan musim tanpa gelar.
Puyol pergi,
Victor Valdes juga sudah menulis surat perpisahannya secara terbuka. Semua itu
seakan-akan melengkapi drama sebuah era terbaik dalam sejarah 115 tahun
Barcelona. Musim ini, kami kehilangan Tito Vilanova. Tetapi kami gembira
melihat Guardiola tetap pada tempatnya meski di bawah bendera merah Bayern
Muenchen.
Tentang
sejarah juga, musim 2013-2014 Barca telah memutar-balikkan kesan selalu berada di
bawah bayang-bayang Real Madrid sebelum dekade terakhir. Trigol yang dicetak
Messi dalam El Clasico di Santiago
Bernabeu, 23 Maret 2014, telah mengubah angin dari ibukota Spanyol ke
Katalunya.
Tiga gol
itu, selain memberikan kemenangan 4-3 untuk Barca, sekaligus mengubah kendali
sejarah ke tangan Barca melalui Messi. Tiga gol itu menjadikan Messi sebagai
pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah El
Clasico. Catatan 21 golnya melebihi 18 gol milik bintang Madrid di era
kejayaan 1950-an, Alfredo Di Stefano. Berpindah pula pengaruh Argentina yang
semula lebih dekat ke Madrid - Di Stefano adalah warga Argentina yang bermain
untuk Madrid dan membela tim nasional Spanyol di era diktator Franco – ke sisi
musuh sejarah mereka, Barcelona. Melalui Messi, Argentina kini menatap wajahnya
ke Barcelona.
| Alfredo Di Stefano bersama 5 Piala Eropa Real Madrid |
Jujur saja,
musim tanpa gelar kali ini tidak semenyakitkan kehilangan satu gelar saja di
musim-musim sebelumnya. Ancelotti berhasil membawa “perdamaian” dalam
ketegangan di El Clasico. Dan Simeone
selamanya akan menghargai Barcelona dan Camp Nou. Karena, ketika pasukannya
melonjak gembira di atas rumput Barcelona usai merebut La Liga 2013-2014,
puluhan ribu Barcelonistas
menyambutnya dengan “applaus”. Sambutan
yang menunjukkan kedewasaan setelah mengikuti enam musim yang menakjubkan.
Visca Barca!
Kelapa Dua,
Mei 18 2014












