Monday, October 6, 2014

Oh Sweet Nuthin'

Katakan satu kata untuk Jimmy Brown
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Tidak juga selembar baju yang menutupi punggungnya
Dia sama sekali tak punya apa-apa


Katakan satu kata untuk untuk Ginger Brown
Yang berjalan dengan kepalanya di tanah
Mencopot sepatu di kakinya
Untuk bocah miskin di jalanan


Dan inilah yang dikatakannya
Oh ketiadaan yang indah
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Oh ketiadaan yang indah
Dia sama sekali tak punya apa-apa


Katakan satu kata untuk Polly May
Dia tidak bisa menceritakan tentang malam sejak hari itu
Mereka melemparnya ke jalanan
Tapi, seperti seekor kucing ia mendarat dengan kakinya


Dan katakan sebuah kata untuk Joanna Love
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Karena setiap hari dia jatuh cinta
Dan setiap malam dia jatuh ketika dia melakukannya


Dia berkata
Oh ketiadaan yang indah
Kau tahu dia sama sekali tak punya apa-apa
Oh ketiadaan yang indah
Dia sama sekali tak punya apa-apa


Oh biarkan aku mengatakannya padamu!

Katakan satu kata untuk Jimmy Brown
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Tidak juga selembar baju yang menutupi punggungnya
Dia sama sekali tak punya apa-apa


Katakan satu kata untuk untuk Ginger Brown
Yang berjalan dengan kepalanya di tanah
Mencopot sepatu di kakinya
Untuk bocah miskin di jalanan


Dan inilah yang dikatakannya
Oh ketiadaan yang indah
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Oh ketiadaan yang indah
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Oh ketiadaan yang indah


Dia sama sekali tak punya apa-apa
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Dia sama sekali tak punya apa-apa 


Lou Reed/The Velvet Underground - Loaded (1970)  

Tuesday, August 5, 2014

The End

Ini adalah akhir
Wahai teman yang indah
Ini adalah akhir
Temanku satu-satunya, akhir

Untuk rencana-rencana kita, inilah akhir
Untuk semua yang berdiri, inilah akhir
Tak ada keamanan atau kejutan, inilah akhir
Aku tak akan pernah melihat ke dalam matamu…lagi

Dapatkah kau menggambarkan apa yang akan terjadi
Yang terbatas dan bebas
Putus asa saat membutuhkan…beberapa…tangan orang asing
Di atas…tanah yang putus asa

Tersesat dalam sebuah (mitologi) Roman…keliaran rasa sakit
Dan semua anak-anak sinting
Semua anak-anak sinting
Menunggu hujan musim panas, yeah

Ada bahaya di tepi kota
Bergerak di jalan raya Raja, duhai sayang
Adegan aneh di dalam pikiran emas
berjalan di jalan raya barat, duhai sayang

Menunggangi ular, menunggangi ular
Menuju danau, danau yang kuno, sayang
Ular yang panjang, tujuh mil
Menunggangi ular…dia tua, dan kulitnya dingin

Barat adalah yang terbaik
Barat adalah yang terbaik
Kemarilah, dan kita akan beristirahat

Bus berwarna biru memanggil kita
Bus berwarna biru memanggil kita
Pengendara, kemanakah kau bawa kami

Pembunuh terjaga sebelum fajar, dia menyiapkan sepatu boot-nya
Dia membawa seraut wajah dari galeri kuno
Dan dia berjalan di dalam aula
Dia pergi menuju ruang di mana saudarinya tinggal, dan…kemudian dia
Menebus dengan sebuah kunjungan terhadap saudaranya, dan kemudian dia
Dia berjalan di dalam aula, dan
Dan dia datang ke sebuah pintu…dan dia melihat ke dalam
Ayah, ya Nak, Aku ingin membunuhmu
Ibu…Aku ingin…menidurimu

Mari sayang, ambillah kesempatan bersama kami 
Mari sayang, ambillah kesempatan bersama kami 
Mari sayang, ambillah kesempatan bersama kami 
Dan temui aku di belakang bus biru
Melakukan sebuah hentakan biru
Di atas sebuah bus biru
Melakukan hentakan biru
Mari, yeah

Bunuh, bunuh, bunuh, bunuh, bunuh, bunuh

Ini adalah akhir
Duhai teman yang indah
Ini adalah akhir
Temanku satu-satunya, akhir

Menyakitkan untuk membebaskanmu
Namun kau tak akan pernah mengikutiku
Di akhir tawa dan dusta yang lembut
Di akhir malam saat kita mencoba untuk mati

Inilah akhir

Jim Morisson/The Doors - The Doors (1967) 



Monday, June 9, 2014

Partai Politik Terakhir

Johannes Gutenberg
Siapa nama penemu itu? Siapa? Johannes Gutenberg? Beginilah nasibnya hari ini: dia adalah penyelamat bagi orang yang muak dengan obrolan tentang pemilihan presiden. Politik pun, kawan, punya juga kultur hipster-nya. Dan Gutenberg membuat orang bisa mengambil posisi untuk berada di dalam kemuakan itu. Tidak setuju, tidak keluar, dan tidak pula lari!

Catatan ini ditulis ketika pemilihan presiden langsung yang ketiga sejak kejatuhan Soeharto pada 1998 sedang menghitung mundur kurang dari 30 hari. Selama itu, alangkah membosankannya hari-hari mendengar obrolan yang itu-itu saja. Kukatakan yang itu-itu saja, jika kau adalah seseorang yang tak bisa menghindar dari masyarakat.

Dan Gutenberg adalah penemu mesin cetak. Revolusi komunikasinya - watak jenius dalam teknologinya - telah pula mempertontonkan kebodohan dan kerendahan. Dan sayangnya, itulah yang menyebabkan pemilihan presiden serta segala pembicaraan tentangnya menjadi memuakkan. Tulisan ini memang membicarakan pemilihan presiden, namun dari segi kemuakan terhadapnya!

Harian Kompas, adalah anak kandung Gutenberg yang sulit dibantah keberadaannya. Inilah surat kabar yang paling elegan mengarungi beberapa kali transisi politik. Mengapa pula Kompas harus dipersoalkan? Sederhana saja, karena dia memiliki kekuasaan. Sesuatu yang dimiliki oleh segelintir kecil individu saja di negeri ini, bahkan di seluas bumi ini. Dan, media massa lain di Indonesia pantas iri dengan Kompas.

Bagaimana dia menjalankan kekuasaannya, itu pulalah yang menyebabkan bagaimana dia bisa bertahan dalam pertarungan kekuasaan. Haha…kawan, tentu saja kita harus membicarakan kekuasaan milik Kompas dalam posisinya sebagai produk mesin cetak, bukan seperti nada bicaramu di alam yang “melampaui” Gutenberg: internet.

Rabu, 28 Mei 2014. Itu adalah tanggal terbit Harian Kompas nomor 320 tahun ke-49. Dan dengan itulah aku akan memulai caraku berbicara.

Harian Kompas edisi Rabu 28 Mei 2014
Di halaman paling muka, tanpa kita perlu menebak-nebak sehari sebelumnya, ada potret dua kandidat presiden dan wakil presiden. Masing-masing potret itu berukuran kira-kira lebih besar sedikit dari ukuran pas foto 4x6. Mereka tampil mulai dari kepala hingga dada dengan latar berwarna merah. Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa ada di posisi kiri, kontra dengan rival di sisi kanan, Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Potret masing-masing pasangan itu diletakkan secara vertikal dengan kandidat presiden berada di sisi atas.

Di antara dua sisi potret itu, inilah pokoknya, tertera nama-nama “Tim Kampanye Nasional Capres-Cawapres”. Percayalah, nama-nama di sana akan membuat sejarah politik dalam pengetahuan politik yang kau telan dengan benakmu selama ini, akan rubuh seperti sebuah gedung tua yang diruntuhkan hingga menjadi debu.

Di sisi kiri, ada nama-nama Dewan Penasihat seperti “Amien Rais, Akbar Tanjung, Ustaz Hilmi Aminuddin, Hashim Djojohadikusumo, Zulkifli Hasan, Agung Laksono, dan Jenderal (Purn) Djoko Santoso, dll.” Ketua: Mahfud Md. Wakil Ketua: Jend (Purn) George Toisutta, Letjen (Purn) Burhanuddin, Laksdya (Purn) Moekhlas Sidik, KH Masduki Baidowi.

Aku kira, kita tak perlu meneruskan siapa-siapa orang yang berada di 14 kategori dalam struktur organisasi di bawahnya. Kini semuanya serba terbuka. Dan dengan melihat tiga posisi tertinggi, posisi di bawahnya hanya menjadi teks basa-basi.

Di sisi kanan, Penasihat adalah Megawati Soekarnoputri, Surya Paloh, Muhaimin Iskandar, Wiranto, dan Sutiyoso. Ketua Tim diduduki oleh Tjahjo Kumolo. Wakil Ketua: Patrice Rio Capella, Imam Nachrawi, Dossy Iskandar, Wiranto, dan Sutiyoso.

Mereka bukanlah orang-orang yang setia! Sebab kesetiaan adalah relatif dalam politik, begitulah falsafah mereka tentang politik. Atau, seperti dikatakan oleh seseorang seperti Benedict Anderson, konsep kekuasaan dalam masyarakat Jawa.

Dan ini bukan pula hal yang ingin kupenjarakan dalam kategori salah-benar. Aku hanya ingin mengambil posisi untuk menghadapi falsafah orang-orang yang tidak setia itu. Jawa, dalam hal ini, tidak perlu dilihat dalam alam pemikiran kesukuan-negatif yang turun-temurun, sehingga sikap yang tak setia itu tidak pula perlu dilihat dengan perasaan anti-Jawa. Jika kita melihat Jawa dengan cara Benedict Anderson, maka kita tak perlu takut mengatakan bahwa konsep kekuasaan dari kebudayaan Jawa telah mendominasi sejarah dengan segala sebab-akibatnya tanpa menyinggung perasaan orang bersuku Jawa.

Benedict Anderson
Sudah sejak Pemilihan Umum 1955, dan teori Benedict Anderson itu akhirnya bertemu dengan zaman internet. Pemilu, yang merupakan anak dari kebudayaan barat, menuntut politik membagi diri ke dalam identitas-identitas yang seakan-akan diterima begitu saja sebagai warisan masa lampau. Antropolog Clifford Geertz membagi tiga kelompok yang menjadi “batas” lalu menjelma dalam persetujuan ideologi partai politik peserta pemilu. Yang tiga itu adalah: Abangan, Santri, dan Priyayi.

Suasana menjelang Pemilu 1955
Secara sederhana, Abangan adalah sebutan untuk kaum petani yang menjalani hidup mengikuti kepercayaan nenek moyang, Santri adalah kaum agama, dan Priyayi adalah bangsawan serta orang-orang pemerintahan. Aku tidak akan membahas perbedaan dan konflik ketiganya. Jelas tidak enak rasanya dianggap sebagai objek dalam sebuah penelitian seorang ilmuwan sosial. Aku hanya ingin mengatakan, zaman pasca mesin cetak membuat orang bisa keluar dari tiga kategori itu dan membentuk kategorinya secara pribadi, tanpa berkeinginan untuk mengejewantahkan diri dalam kekuatan partai politik ala barat.

Clifford Geertz (1926-2006)
Internet telah membuat orang boleh menciptakan ideologinya sendiri. Dan karena politik selalu diajarkan sebagai sesuatu yang meniscayakan ketidaksetiaan, maka dengan sendirinya pembagian yang dikatakan Geertz sudah menjadi pengetahuan masa lalu.

Kalau kau tak percaya, coba lihat kembali nama-nama dalam tim kampanye Capres-Cawapres yang ada di halaman muka harian Kompas edisi Rabu 28 Mei 2014.

Di kubu Prabowo, Amien Rais adalah nama pertama. Ia adalah pendiri Partai Amanat Nasional, Ketua Umum Muhammadiyah ke-12 (1995-1998), seorang akademisi, dan berada pada barisan reformis pada reformasi 1998. Dia jelas wakil kaum Santri. Lalu ada Akbar Tanjung, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam dalam transisi politik 1966, bekas Ketua Umum Golkar, dan menteri di era Orde Baru. Akbar adalah contoh kelompok Priyayi.

Satu kategori lain yang menurutku adalah warisan kultur militer Soeharto adalah kaum Militer, di mana di sana ada mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Djoko Santoso. Nama lainnya adalah Zulkifli Hasan (PAN) dan Agung Laksono (Golkar). Dua nama ini pernah menjabat menteri.

Lalu di mana watak Abangan dalam tim ini? Posisi ini nyaris tak punya wakil, karena satu-satunya warna Abangan terletak pada citra yang ingin ditunjukkan Prabowo sebagai ciri partai politik yang didirikannya, Gerindra. Gerindra menjual kepedulian terhadap petani dan masyarakat kelas bawah sebagai misinya. Kasus Abangan dalam Gerindra ini menggambarkan semakin buramnya kategori Geertz karena latar belakang Prabowo sebenarnya lebih dekat dengan kalangan Priyayi dan Militer.

Di kubu sebelahnya, ada Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden dan Wakil Presiden, tokoh PDI-P. PDI-P, inilah partai yang secara sejarah pewaris kelompok Abangan, partainya para petani. Namun, Megawati sendiri, sebagai seorang simbol, sebenarnya sudah lahir di alam Priyayi karena pernah tidur di kamar Istana Negara sebagai seorang putri Presiden Soekarno. Surya Paloh adalah bos media pendiri partai debutan, Nasional Demokrat. Dia boleh disebut wakil Priyayi karena sebelumnya dia adalah tokoh Golkar, bahkan pernah turut dalam konvensi calon presiden partai itu di masa lalu. Begitu pula Wiranto, wakil kelompok Militer yang kini berdiri dengan partai yang ingin tampil sebagai kelompok Abangan, Hanura. Dari kelompok Santri, ada seorang menteri sekaligus pemimpin partai berbau Nadhlatul Ulama yang didirikan oleh mantan presiden Abdurrahman Wahid, Muhaimin Iskandar untuk Partai Kebangkitan Bangsa.

Komposisi itu membawa kita pada kondisi di mana konflik Abangan, Santri, dan Priyayi yang termahsyur itu sudah tak ada lagi. Maksudnya, persetujuan ideologi yang mereka jadikan sebagai keputusan untuk mendukung salah satu partai politik dalam pemilihan umum yang datang dari dunia barat, sudah tidak lagi dipertimbangkan oleh elit-elitnya.

Ada Golkar di kubu Prabowo melalui Akbar Tanjung, tapi ada Golkar juga di kubu Joko Widodo dengan sosok Jusuf Kalla. Entah di mana Golkar berdiri dalam kompetisi ini. Ada PAN dan PKS di sisi Prabowo. Tetapi ada juga PKB karena Ketua tim kampanye adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang dibesarkan oleh PKB, Mahfud MD. Entah bagaimana caranya dia dan rekan sekaumnya, Muhaimin Iskandar, berdiri di kubu yang berseberangan.

Aku harap kau tidak bosan membaca komposisi itu. Karena kita memang harus mengurainya dengan melihat mereka melalui alat dari barat yang mereka gunakan untuk kekuasaan: partai politik. Sudah sejak pemilu 2004 sebagai pemilu pertama di mana aku diizinkan untuk mencoblos, aku lebih memilih tidur. Dan itu tak berubah hingga kini.

Seorang penyanyi dangdut dalam kampanye Pemilu 2014
Jikalau kontestan dan sebab pemilihan umum itu diwakili oleh sesuatu yang abstrak bernama partai politik, maka kenyataan koalisi Pemilihan Presiden 2014 menunjukkan kesia-siaan bagi mereka yang memutuskan untuk menggunakan hak suaranya dua bulan yang lalu. Koalisi kedua kandidat tak menunjukkan perbedaan identitas seperti dalam pembagian Abangan, Santri, dan Priyayi. Aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Namun doktrin ketidaksetiaan dalam politik membuat partai politik boleh-boleh saja meletakkan dua kaki terhadap masing-masing kandidat.

Sampai kini, aku tak menemukan alasan yang mendasari mengapa mereka memilih kecenderungan ke arah ke salah satu kandidat. Alasan itu penting bagiku karena itu adalah alasan yang membuat warga negara memilih partai yang menjadi alat bagi mereka dalam pemilihan parlemen. Sekaligus alasan untuk menemukan arti partai politik bagi mereka yang memutuskan untuk memberikan suaranya.

Bagiku, partai politik sebenarnya sudah tidak ada. Mungkin sudah lama tidak ada. Aku bingung menyebutkannya karena ini akan jatuh kepada klise: yang ada hanyalah tawar-menawar. Mereka menyebutnya dengan ”sharing power”, sebuah keniscayaan yang tampaknya diperlakukan sama seperti anggukan terhadap ketidaksetiaan dalam politik.

Aku memang orang yang pesimistis, tetapi aku mencintai misteri masa depan. Aku lebih suka memikirkan masa depan ketimbang bernostalgia. Maka, apa yang terjadi hari ini seringkali kutempatkan di masa depan. Yang menarik bagiku, setelah partai politik hari ini tak ada artinya dan pemilu hanyalah basa-basi untuk meneruskan takdir demokrasi, adalah keingintahuanku terhadap apa yang akan terjadi di masa datang sebagai akibat dari semuanya hari ini.

Kau silahkan meneruskan pembicaraanmu tentang pemilihan presiden kali ini. Tapi, aku tidak pernah mendapatkan alasan untuk menjadi seperti engkau.

Jakarta, 10 Juni 2014






  
   




Friday, May 23, 2014

With God on Our Side

Oh namaku bukanlah sesuatu
Usiaku belumlah seberapa
Negeri dari mana aku datang
Disebut dengan Midwest
Itulah yang diajarkan dan disebarkan di sana
Hukum yang dipatuhi
Dan tanah tempat ku hidup
Memiliki Tuhan di sisinya

Oh buku sejarah menceritakannya
Mereka menceritakannya dengan baik
Kavaleri bekerja
Para Indian jatuh
Kavaleri bekerja
Para Indian mati
Oh negeri yang masih muda
Bersama Tuhan di sisinya

Perang Spanyol-Amerika
memiliki harinya
Dan Perang Sipil juga
Segera terbentang
Dan nama para pahlawan
Memang menjadi kenangan
Dengan senjata di tangan mereka
Dan Tuhan di sisi mereka

Perang Dunia Pertama, oh Nak
Datang dan pergi
Alasan untuk bertarung
Tak pernah kudapatkan
Namun aku belajar untuk menerimanya
Menerimanya dengan rasa bangga
Agar kau tidak menghitung yang mati
Ketika Tuhan di sisimu

Perang Dunia Kedua
Datang dan berakhir
Kami memaafkan orang Jerman
Dan kini kami berteman
Meskipun mereka membantai enam juta
Dalam oven tempat mereka mengeringkannya
Jerman sekarang juga
Memiliki Tuhan di sisi mereka.

Aku sudah belajar membenci orang Rusia
Di seluruh hidupku
Jika ada perang lain yang datang
Adalah mereka yang harus kita perangi
Untuk berlari dan bersembunyi
Dan menerima itu semua dengan berani
Bersama Tuhan di sisiku

Namun sekarang kita memiliki senjata
Debu kimia
Jika ditembakkan ke mereka kita memaksa
Lalu saat menembak mereka kita harus
Menekan satu tombol
Dan sebuah tembakan dilepaskan ke seluruh dunia
Dan kau tidak pernah bertanya
Ketika Tuhan berada di sisimu

Di dalam banyak jam-jam gelap
Aku berpikir tentang ini
Bahwa Yesus Kristus
Telah dikhianati oleh sebuah ciuman
Dan aku tidak bisa berpikir untukmu
Kau harus memutuskan
Apakah Judas Iscariot
Memiliki Tuhan di sisinya

Kini saat aku pergi
Aku sudah sangat lelah
Kebingungan yang kurasakan
Tak ada lidah yang bisa menjelaskan
Kata-kata menjatuhi kepalaku
Dan jatuh  ke lantai
Dan seandainya Tuhan ada di sisi kita
Dia akan menghentikan perang berikutnya.
Bob Dylan - The Times They Are A-Changin' (1964)

Monday, May 19, 2014

Semerah Warna Shampoo

Cristiano Ronaldo adalah peraih Ballon D’Or edisi terakhir. Di negerinya, penghargaan itu disambut oleh bintang penghargaan yang diberikan Presiden Portugal, Anibal Cavaco Silva. Dalam momen “kemenangan” itu, pesepakbola berusia 29 tahun itu memerankan dua peran sekaligus: sebagai individu dan lambang negara.

Mari melihat kabar-kabar itu melalui penampakan Ronaldo di dalam iklan. Ini bukan kalimat propagandis yang terobsesi dengan pembicaraan tentang iklan. Dengan membicarakannya melalui iklan, sekurang-kurangnya kita bisa melihat sepakbola negeri kita sendiri.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia menyaksikan sosok “CR7” – julukan Ronaldo – dalam laga-laga Real Madrid dan tim nasional Portugal yang disiarkan di televisi swasta, dan, iklan.

Salah satu yang familiar adalah iklan shampooClear”. Dalam tayangan iklan Clear di televisi, Ronaldo tampil sesuai dengan identitas profesionalnya, yakni sebagai pesepakbola. Salah satu adegan dalam iklan tersebut adalah Ronaldo menggeleng-gelengkan kepala untuk menunjukkan rambutnya yang bersih dan bebas dari ketombe.

Sebagai iklan, adegan tersebut sangatlah wajar. Karena iklan pada dasarnya adalah alat untuk memancing konsumen membeli produk yang diiklankan. Jadi, janji “bebas ketombe” adalah petanda permukaan yang memenuhi sifat dasar iklan sebagai alat perdagangan.

Pada akhirnya, gambaran tersebut menghasilkan “mitos” tentang sepakbola. Ronaldo hanyalah aktor dalam sejarah besar bernama sepakbola. Maka, simbol-simbol sepakbola dalam iklan itu haruslah dipertimbangkan sebagai cara untuk melihat politik pemilihan pemeran dan apa yang ingin ditampilkannya.

Jersey atau kaos tim sepakbola adalah simbol yang paling cepat merebut perhatian penonton iklan. Salah satunya karena kaos adalah fashion, dan fashion sebenarnya bukanlah “kemewahan” seperti yang digambarkan oleh majalah fashion internasional yang terbit di Indonesia dalam bahasa Indonesia. Kaos, adalah bentuk dari salah satu komponen primer – pangan, sandang, dan papan – dan karena itu kaos adalah kebutuhan pokok. Mengapa fashion tiba-tiba menjadi ekslusif padahal kata itu berkaitan erat dengan sesuatu yang bersifat umum: pakaian?

Jersey Ronaldo dalam iklan itu menggunakan warna netral: hitam. Warna itu tak melambangkan klub juga negaranya. Dalam urusan dagang itu, Ronaldo menjual citra pribadinya sebagai bintang sepakbola. Dia memainkan peran hanya sebagai pribadinya saja.

Iklan shampoo Clear lain yang disiarkan di periode yang sama dibintangi oleh sejumlah pemain tim nasional Indonesia. Di beberapa toko swalayan, konsumen bisa menyaksikan foto tiga pemain tim nasional Indonesia, Raphael Maitimo-Andik Vermansyah-Ahmad Busthomi, di rak tempat botol shampoo Clear dipajangkan. Slogan yang tertulis di sana adalah, “Ayo, Indonesia Bisa!”

Di televisi, Andik mendapatkan peran utama. Faktor kebintangan tentu saja berperan dalam pemilihan Andik sebagai bintang utama Clear. Andik, Arek Suroboyo kelahiran 1991 itu adalah winger yang dikenal saat membela klub Persebaya Surabaya. Kelincahannya menyerang dari sisi sayap adalah keunggulannya yang paling mencolok. Kebetulan, posisi itu adalah posisi pemain idola Andik yang membintangi iklan produk yang sama, Cristiano Ronaldo.

Saat LA Galaxy melakukan uji coba melawan Indonesia Selection, pemain yang baru-baru ini hijrah ke klub Malaysia, Selangor FC, mendapat ruang yang cukup luas dalam pemberitaan. Saat itu, Andik berhasil menggocek legenda Inggris, David Beckham. Selain itu, Andik termasuk dalam tim nasional U-23 yang tampil untuk cabang sepakbola dua Sea Games terakhir. Status-status itu telah menempatkan Andik dalam kapasitasnya sebagai bintang.

Andik saat diganjal Beckham di GBK pada 2011
Mari melihat mitos sepakbola dalam iklan yang dibintangi Andik. Seperti di iklan Clear versi Ronaldo, jersey adalah salah satu yang digunakan untuk membentuk citra produk. Yang membedakan keduanya adalah konsep yang digunakan untuk membentuk citra tersebut.

Di iklan versi Ronaldo, warna hitam dipilih untuk mencari kenetralan dari lembaga yang berkaitan dengan Ronaldo, yaitu Real Madrid dan Portugal. Di iklan versi Andik, jersey justru sengaja menghindari kenetralan dari struktur besar yang memiliki posisi politis.

Pertama, mencolok pada warna. Warna merah dalam jersey yang dipakai Andik, Maitimo, dan Busthomi, dengan mudah menghubungkan memori masyarakat terhadap warna jersey tim nasional sepakbola Indonesia. Iklan itu tidak menjual tim nasional Indonesia sebagai “brand” secara resmi seperti Manchester United menjual brand klub kepada perusahaan penyedia pulsa, 3 (Three).


Penggunaan citra negara melalui kesamaan warna dengan jersey tim nasional Indonesia bahkan dilakukan dengan cara yang lebih terbuka melalui tagline “Ayo, Indonesia Bisa!”. Iklan itu secara terang-terangan telah menggunakan kata yang merupakan nama sebuah negeri dan negara, Indonesia, sebagai simbol dagang.

Di televisi, iklan itu menampilkan Andik sedang berjalan di jalan raya, mengenakan sweater biru. Adegan itu diselingi dengan adegan lain di mana Andik sedang berada dalam sebuah pertandingan dan gagal mencetak gol. Adegan itu menggambarkan pikiran Andik saat sedang berjalan di jalanan.

Tiba-tiba, di belakang Andik sudah berkumpul puluhan orang yang membawa bendera merah-putih serta berdiri di belakang spanduk putih bertuliskan “Ayo, Indonesia Bisa!” Simbol yang digunakan seperti bendera merah-putih mengesankan bahwa kumpulan orang itu adalah suporter tim nasional Indonesia. Andik, sebagai anggota tim nasional, merasa mendapat dukungan melalui sorak-sorai kumpulan orang itu. Itu membuatnya bangkit, membelai rambutnya, dan berlari ke stadion. Di stadion, ia tampil bersama Busthomi dan Maitimo. Meski tanpa lambang Garuda di dada kiri, jersey itu berwarna merah.

Tak ada penjelasan secara rinci tujuan akhir Andik dan sekelompok orang itu. Penonton diajak untuk menganggap tujuan mereka sebagai sebuah fatamorgana yang berarti simbol kejayaan Indonesia. 

Tak ada hukum formal yang menyalahkan cara seperti itu untuk menggambarkan Indonesia dan sepakbolanya. Karena iklan adalah dunia simbol. Dan simbol merupakan sesuatu yang tak mungkin hidup tanpa penafsiran. Oleh sebab itu, hukum yang menuntut kepastian sulit berlaku dalam dunia penafsiran yang serba relatif.

Bagaimanapun saya menutup-nutupinya, saya tetap mengalami ketegangan moral menghadapi iklan itu. Indonesia, dan negara, bukanlah sesuatu yang diperdagangkan. Keterwakilan negara dalam sepakbola tak lebih dari seluas simbol, yang pada akhirnya disebut dengan nasionalisme.

Andik, Maitimo, dan Busthomi, adalah pemain tim nasional Indonesia. Memang bukan tugas mereka untuk sibuk mengawasi remeh-temeh seperti warna dalam iklan yang akan mereka bintangi. Semuanya menjadi rumit karena simbol-simbol itu menjadi alat pertarungan, ekonomi, dan mendapatkan tempat di media massa.

Kenyataannya, siapapun yang membintangi iklan shampoo “Clear”, tujuannya tetaplah menjual cairan kental pembersih rambut yang terbungkus apik dalam kemasan. Shampoo tetaplah shampoo. Tetapi shampoo “mencuci” pengertian negara (baca: nasionalisme) melalui iklan-iklannya.

Harus diingat pula, iklan itu diluncurkan menjelang tim nasional U-23 - di mana Andik adalah salah satu anggotanya - berlaga di Sea Games Myanmar 2013. Faktanya, Indonesia takluk di final oleh Thailand dengan skor 1-0. Dan, Andik hanya bermain sebagai starter di dua laga awal. Tampil di bawah standar saat dikalahkan 4-1 oleh Thailand di fase grup memaksa sang bintang harus duduk di bangku cadangan hingga akhir kompetisi.



Kelapa Dua - Di sela-sela Sea Games 2013

Saturday, May 17, 2014

Opps! Sudah Sampai di Tahun Keenam

Gerardo "Tata" Martino
Apakah kematian Tito Vilanova adalah sesuatu yang sentimental? Sulit untuk mengatakan tidak jika anda memilih Barcelona sebagai klub yang akan anda katakan ke orang lain sebagai klub di mana anda adalah seorang suporternya.

Seorang teman yang mengaku sebagai suporter Bayern Muenchen berbicara dengan nada sinis tentang kegagalan Pep Guardiola usai ditaklukkan Real Madrid versi Carlo Ancelotti di semifinal Liga Champions 2013-2014. Sinisme itu terasa karena dia mengatakannya kepada saya, seorang suporter Barcelona.

Jawaban pertama saya adalah kekalahan Muenchen itu lebih karena faktor mental. Bukan mental pemainnya, tetapi mental pelatihnya. Apakah kematian Tito bukan sesuatu yang sentimental bagi Guardiola? “Kesedihan ini akan terus ada di sisa hidup saya,” kata Guardiola tentang kematian Vilanova.


Pemain Barca menghadiri persemayaman Tito di Katedral Barcelona, 28 April 2014.
Terhadap Barca, seringkali saya menempatkan figur-figur di klub itu sebagai manusia biasa. Meskipun sebenarnya mereka orang-orang yang istimewa. Dan Guardiola, juga seorang manusia yang bisa saja sedih karena ditinggal sahabat dalam petualangan “menaklukkan dunia.” Apakah kesedihan semacam itu tidak memengaruhi mentalnya, mood-nya, dalam melaksanakan pekerjaannya di Bavaria?
Tito Vilanova
Liga Champions seperti kutukan bagi Guardiola. Fan selalu ingin melihat Guardiola menjadi juara. Di mana pun ia melatih, klub yang diurusnya itu mestilah juara Liga Champions. Dan, kutukan itu membuat teman saya yang mengaku suporter Muenchen itu menganggap Guardiola gagal mewujudkan kelasnya sebagai pemegang dua piala Liga Champions.

Pertama, saya katakan padanya bahwa saya adalah seorang fan Guardiola, meski bukan fan Muenchen. Saya membeberkan fakta bahwa Guardiola adalah pelatih pertama yang meraih gelar liga di Eropa musim ini dengan sejumlah rekor. Ternyata, itu belum cukup untuk Guardiola. Menjadi Guardiola, haruslah menjadi juara Liga Champions.

Catatan ini ditulis ketika Guardiola sedang menyaksikan pertarungan ketat menghadapi Borussia Dortmund untuk perebutan gelar DFB-POKAL di Berlin. Di akhir laga, tuah Tito mungkin baru menghampiri Guardiola. Muenchen menaklukkan Dortmund dengan skor 2-0 untuk gelar Piala Jerman. Gelar keempat untuk Muenchen dan ke-18 sepanjang karir kepelatihan Guardiola.


Guardiola disiram bir saat perayaan gelar juara Piala Jerman 2014
Beberapa jam sebelum Phillip Lahm mengangkat Piala, sekitar 1.500 kilometer ke arah barat dari Berlin, sentimentalitas Tito Vilanova yang sebenarnya sedang hidup dalam harapan. Di tempat yang bernama Camp Nou, tempat yang tak bisa dilupakan oleh Guardiola dan Tito. Di sana, duka kematian Tito Vilanova diperlengkap oleh hilangnya gelar La Liga yang direbut dari tangan Real Madrid musim lalu.  

Atletico Madrid baru saja memastikan gelar La Liga ke-10 mereka. Gelar La Liga terakhir mereka dicapai pada musim 1995-1996. Pelatih “Rojiblanco” yang memenangi La Liga musim terbaru, Diego Pablo Simeone, adalah salah seorang pemain yang termasuk dalam tim 1995-1996 itu.

Gol penyeimbang yang dicetak bek tengah Atletico asal Uruguay, Diego Godin, membuyarkan sentimentalitas terhadap Tito. Laga berakhir dengan skor 1-1 setelah Barca mendahului dengan gol “ajaib” Alexis Sanchez. Sebelum laga final di pekan ke-38 itu, seorang kolumnis di harian pro-Barca, El Mundo Deportivo, mengatakan “the magic of Tito” muncul saat Real Madrid bermain imbang 1-1 di kandang Real Valladolid di pekan ke-36. Sepekan sebelumnya, “Si Putih” juga imbang 2-2 versus Valencia di Santiago Bernabeu. Di Valencia, Atletico menyerah 2-0 dari Levante. Hasil itu membuat Barca berpeluang mempertahankan La Liga asalkan bisa mengalahkan Atletico Madrid di pekan terakhir. Lionel Messi bahkan sudah berniat untuk mempersembahkan La Liga untuk Tito.
Atletico Madrid berfoto bersama di Camp Nou usai merebut La Liga 2013-2014
Faktanya, musim 2013-2014 diselesaikan tanpa satu gelar pun. “Gagal adalah kata yang terlalu berat bagi saya,” kata Direktur Olahraga sekaligus kiper legendaris, Andoni Zubizaretta. Sementara itu, Andres Iniesta mengungkapkan musim ini dengan “banyak hal berakhir ketika musim berakhir”.

Kematian Tito seperti menjadi penanda bergantinya suatu periode. Suporter Barca tidak sadar bahwa mereka sudah berada di musim keenam sejak Guardiola memulai sebagai seorang “rookie” pada musim panas 2008. Rookie selalu memiliki keberuntungan dan simpati. Guardiola membawa kejayaan yang dirasakan oleh suporter Barca sebagai permulaan sebuah era. Era menaklukkan dunia. Barcelonistas hampir saja lupa, bahwa pada tahun 2014 Guardiola bukan lagi “rookie”. Keberuntungan seperti itu sedang bergerak ke arah figur baru di tepi sungai Manzanares: Diego Pablo Simeone.
Diego Pablo Simeone dielu-elukan pemainnya usai merebut La Liga 2013-2014.
Dan bandul yang selama ini seperti mengikuti napas Barca semakin bergeser. Apa yang disebut Cristiano Ronaldo sebagai “pergantian siklus” saat memenangi La Liga bersama Jose Mourinho di musim 2011-2012 agaknya benar-benar menunjukkan gejala di akhir musim ini. Namun, bukan dalam pengertian yang dimaksud oleh Cristiano, yaitu beralihnya kekuasaan dari Barcelona ke Real Madrid, melainkan pecahnya duopoli Barca-Madrid dengan gelar La Liga ke-10 Atletico.

Maka, Barca, selama enam musim terakhir, adalah pusat gravitasi. Siapa yang akan menjadi juara akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana perjalanan Barca dalam satu musim itu. Dan, tentu saja, disertai dengan segala yang terjadi, baik di dalam atau di luar lapangan.

Musim yang baru saja lewat diwarnai dengan kejutan pengunduran diri “lovely guy” Tito Vilanova dari kursi pelatih kepala. Tito belum sempat menjalani laga resmi musim keduanya setelah kanker kelenjar ludah memaksanya harus bolak-balik ke New York selama musim 2012-2013. Kejutan selanjutnya adalah terpilihnya lelaki Argentina yang “low profile”, Gerardo “Tata” Martino.

Saat itu, Tata belum punya pengalaman di Eropa. Saat direkrut menggantikan Vilanova, ia baru saja membawa Newell’s Old Boys menjuarai Liga Argentina. Ayah Lionel Messi, Jorge Messi, adalah seorang fan berat Tata. Dan Messi sendiri diasuh oleh Newell’s sebelum hijrah ke La Masia. Seperti Messi, Tata adalah lelaki tulen kelahiran Rosario, kota tempat Newell’s berbasis. Tata pun tak segan mengakui bahwa faktor ayah Messi turut mempengaruhi kepindahannya ke Barcelona. Catatan terbaiknya adalah membawa tim nasional Paraguay hingga perempat final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Musim sebenarnya berjalan secara mengesankan bagi Tata. Ia tak sampai menunggu tiga menit untuk gol pertamanya sebagai pelatih Barca. Tata menyaksikan pasukan barunya menggasak Levante dengan skor 7-0 di pekan perdana. Kemenangan itu membuat Tata menganggap Barca bermain melebihi harapannya.

Paruh pertama berlalu seperti yang diharapkan. Tata mendapatkan kemenangan Clasico pertamanya dengan gol dari pemain asal Brasil yang disebut-sebut mampu menyaingi Messi, Neymar. Publik memuja Neymar dan mencemooh rival langsungnya yang dijadikan Madrid sebagai pemain termahal, Gareth Bale, karena bermain buruk.

Paruh kedua berjalan lebih lebih buruk dengan tiga kekalahan dan empat imbang. Namun, kekalahan 3-1 atas Real Sociedad adalah pemicu yang menentukan nasib Barca hingga akhir musim.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa “kekotoran” dalam menjalankan sebuah klub akan berpengaruh terhadap performa klub tersebut. Dan, kekalahan 3-1 di Anoeta, 22 Februari 2014, terjadi ketika kotoran yang melekat di tubuh Barca sedang ramai-ramainya ditelanjangi.

Sebulan sebelumnya, Presiden Barcelona, Sandro Rosell, mengundurkan diri dari jabatannya karena tidak bisa menjelaskan “dana suap” untuk mendatangkan Neymar ke Barcelona. Majalah World Soccer menyebut kepemilikan Neymar terbagi oleh sejumlah perusahaan. Sehingga, transfer Neymar juga berarti fee untuk sejumlah perusahaan itu. Rosell menggunakan koneksi yang dijalinnya ketika menjabat Direktur Pemasaran Nike untuk kawasan Amerika Latin yang bermarkas di Brasil, untuk mem-booking Neymar.

Suka atau tidak, sejak kasus itu, penampilan Neymar memburuk. Di Brasil, pelatih Selecao, Luiz Felipe Scolari, dengan keras mengatakan Neymar tidak terpengaruh dengan isu itu. Maklumlah, Neymar adalah bintang baru Negeri Samba yang diharapkan bisa merebut kembali Piala Dunia saat mereka menjadi tuan rumah pada musim panas 2014. “Kalau Anda datang ke Barcelona, Anda akan melihat dia (Neymar) baik-baik saja,” kata Scolari.

Perintang lain adalah cedera yang menimpa Messi menjelang akhir tahun. Sementara itu, lini belakang tak kunjung membaik setelah mitos Puyol tak juga ditemukan penawarnya. Dan, semuanya menjadi lebih bisa diterima ketika kapten legendaris Puyol memutuskan berhenti dari Barcelona karena merasa tak sanggup berada di level yang dituntut klub.
Carlos Puyol

Musim keenam sejak era baru yang dinyalakan Guardiola telah berubah menjadi akhir episode. Barca yang indah bertumbuk dengan hukum alam untuk menghabiskan masa transisi yang harus dibayar dengan musim tanpa gelar.

Puyol pergi, Victor Valdes juga sudah menulis surat perpisahannya secara terbuka. Semua itu seakan-akan melengkapi drama sebuah era terbaik dalam sejarah 115 tahun Barcelona. Musim ini, kami kehilangan Tito Vilanova. Tetapi kami gembira melihat Guardiola tetap pada tempatnya meski di bawah bendera merah Bayern Muenchen.

Tentang sejarah juga, musim 2013-2014 Barca telah memutar-balikkan kesan selalu berada di bawah bayang-bayang Real Madrid sebelum dekade terakhir. Trigol yang dicetak Messi dalam El Clasico di Santiago Bernabeu, 23 Maret 2014, telah mengubah angin dari ibukota Spanyol ke Katalunya.

Tiga gol itu, selain memberikan kemenangan 4-3 untuk Barca, sekaligus mengubah kendali sejarah ke tangan Barca melalui Messi. Tiga gol itu menjadikan Messi sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah El Clasico. Catatan 21 golnya melebihi 18 gol milik bintang Madrid di era kejayaan 1950-an, Alfredo Di Stefano. Berpindah pula pengaruh Argentina yang semula lebih dekat ke Madrid - Di Stefano adalah warga Argentina yang bermain untuk Madrid dan membela tim nasional Spanyol di era diktator Franco – ke sisi musuh sejarah mereka, Barcelona. Melalui Messi, Argentina kini menatap wajahnya ke Barcelona.

Alfredo Di Stefano bersama 5 Piala Eropa Real Madrid
Inilah pergantian siklus yang sebenarnya. Dan pemain seperti Lionel Messi, sepertinya sudah menempatkan pikirannya jauh-jauh ke Brasil untuk mencium bau trofi Piala Dunia. “Piala Dunia sudah ada dalam pikiran kami,” kata Messi. Boleh jadi, setelah periode dengan empat Piala Ballon D’Or, “Messiah” sedang menyongsong fajar baru yang lain: Piala Dunia.  

Jujur saja, musim tanpa gelar kali ini tidak semenyakitkan kehilangan satu gelar saja di musim-musim sebelumnya. Ancelotti berhasil membawa “perdamaian” dalam ketegangan di El Clasico. Dan Simeone selamanya akan menghargai Barcelona dan Camp Nou. Karena, ketika pasukannya melonjak gembira di atas rumput Barcelona usai merebut La Liga 2013-2014, puluhan ribu Barcelonistas menyambutnya dengan “applaus”. Sambutan yang menunjukkan kedewasaan setelah mengikuti enam musim yang menakjubkan.

Visca Barca!

Kelapa Dua, Mei 18 2014





  









Wednesday, May 14, 2014

Master of War

Datanglah kau para ahli perang
Kau yang merakit senapan-senapan besar
Kau yang membangun pesawat-pesawat kematian
Kau yang membuat seluruh bom
Kau yang bersembunyi di balik dinding
Kau yang bersembunyi di balik meja-meja
Aku hanya ingin kau tahu
Aku bisa melihat ke dalam topengmu

Kau yang tidak pernah melakukan apa-apa
Namun menciptakan kerusakan
Kau bermain-main dengan duniaku
Seolah-olah mainan kecilmu
Kau meletakkan sebuah senjata di tanganku
Dan kau bersembunyi dari mataku
Dan kau berbalik dan berlari menjauh
Ketika peluru-peluru cepat berterbangan

Seperti Judas yang tua
Kau berdusta dan menipu
Sebuah perang dunia bisa dimenangkan
Kau ingin aku percaya
Namun aku lihat ke dalam matamu
Dan aku lihat ke dalam otakmu
Seperti aku melihat ke dalam air
Yang mengarusi saluranku

Kau pasang semua pemicu
Untuk ledakan lainnya
Lalu kau mundur dan menonton
Ketika jumlah kematian bertambah
Kau bersembunyi di rumah besarmu
Saat darah orang-orang muda
Membasahi tubuh mereka
Dan terkubur di dalam lumpur

Kau telah lemparkan ketakutan terburuk
Yang bisa kau lontarkan
Ketakutan yang membawa anak-anak
Menuju dunia
Untuk mengancam bayiku
Yang belum lahir dan belum bernama
Kau tidak layak untuk darah
Yang bergerak dalam pembuluh darahmu

Berapa banyak yang kutahu
Untuk berbicara tentang penghentian
Kau mungkin akan mengatakan aku masih muda
Kau mungkin mengatakan aku tidak belajar
Namun ada satu hal yang kutahu
Sekalipun aku lebih muda ketimbang kau
Bahkan Yesus tidak akan pernah
Memaafkan apa yang kau lakukan

Biarkan aku menanyakanmu satu pertanyaan
Apakah uangmu itu baik
Akankan dia membeli permohonan maafmu
Apakah kau pikir itu bisa terjadi
Aku rasa kau akan tahu
Ketika kematianmu adalah korbannya
Semua uang yang kau hasilkan
Tidak akan pernah membayar kembali jiwamu

Dan aku berharap kau mati
Dan kematianmu akan segera datang
Aku akan mengikuti arak-arakan peti matimu
Dalam sore yang pucat
Dan aku akan menyaksikanmu ketika kau diturunkan
Menuju ranjang kematianmu
Dan aku akan berdiri di atas kuburanmu
Sampai aku benar-benar yakin bahwa kau sudah mati



Bob Dylan - The Freewheelin' (1963)