Saturday, March 7, 2015

Lolongan (I)

         Untuk Carl Salomon 

I 


Aku melihat pikiran-pikiran terbaik generasiku dirusak oleh kegilaan, histeris telanjang kelaparan,
menyeret diri mereka menuju jalan-jalan negro di waktu subuh mencari pelipur amarah,
malaikat penuntun para hipster terbakar demi jalinan surgawi kuno ke dinamo bintang-bintang pada mesin-mesin malam,
yang miskin dan koyak dan bermata cekung dan tinggi duduk menghisap dalam kegelapan gaib rumah susun air dingin yang mengapung di pucuk kota-kota yang merenungkan jazz,
yang menunjukkan benak mereka kepada Surga di bawah Al dan menyaksikan para malaikat Muhammad,
terhuyung-huyung di atap rumah-rumah petak bercahaya,
yang lewat menuju universitas-universitas dengan mata-mata dingin yang berseri-seri menghalusinasikan Arkansas dan tragedi cahaya Blake
di antara perang para sarjana,
yang tersingkir dari akademi karena gila dan mengumumkan ode-ode cabul di jendela-jendela tengkorak,
yang meringkuk dalam ruang yang tak dicukur dalam celana kolor, membakar uang mereka dalam keranjang sampah dan mendengarkan Teror ke arah dinding,
yang memecah dalam bulu kemaluan mereka kembali menuju Laredo dengan sabuk mariyuana untuk New York,
yang mengunyah api dalam hotel-hotel berwarna atau mabuk terpentin di Paradise Alley, mati, atau membakar-sucikan tubuh mereka malam demi malam
dengan impian-impian, dengan obat-obatan, dengan sentakan mimpi-mimpi buruk, alkohol dan zakar dan buah tak berujung,
tak bisa membandingkan jalanan buta kabut gigil dan nyala dalam pikiran yang melompat ke arah batas-batas Kanada & Paterson, menerangi semua dunia Waktu tak bergerak di antara,
aula kokoh Peyote, subuh di taman belakang pemakaman pohon hijau, mabuk anggur di loteng, area etalase teh (pendamping ganja) yang ngebut di atas kelap-kelip lampu neon rambu jalan, matahari dan bulan dan lambaian pohon dalam raungan senja musim dingin Brooklyn, seng penangkal debu mengoceh dan semacam raja cahaya pikiran,

yang merantai diri mereka dengan kereta bawah tanah pada perjalanan tak berujung dari Battery menuju Bronx suci di atas benzedrine sampai keributan roda-roda dan anak-anak membawanya dengan gemetar ke mulut mereka yang rontok dan otak suram yang babak-belur semuanya mengucurkan kecerdasan dalam cahaya redup Kebun Binatang,
yang menenggelamkan seluruh malam dalam keterapungan cahaya kapal selam Bickford dan duduk melalui bir basi
sore hari di Fugazzi nan sunyi, mendengarkan retakan ajal di atas jukebox hidrogen,
yang berbicara terus-menerus tujuh puluh jam dari taman ke buku catatan ke bar ke Bellevue ke museum ke
Jembatan Brooklyn,
satu batalion para pembicara platonik yang tersesat melompat menuju api yang memadam melarikan diri (melalui) ambang jendela bulan Empire State,

mengoceh menjerit muntah membisikkan fakta-fakta dan kenangan-kenangan dan anekdot-anekdot dan bola mata
menendang dan kekagetan rumah sakit-rumah sakit dan penjara-penjara dan perang-perang,
seluruh intelektual yang berhulu pada penarikan total selama tujuh hari tujuh malam dengan mata yang brilian, daging untuk Sinagog yang dilemparkan ke trotoar,
yang menghilang menuju entah kemana Zen New Jersey meninggalkan jejak gambar ambigu kartu pos Atlantic City Hall,
menderitakan panasnya Timur dan penggilingan tulang orang Tangier dan migrain China di bawah pengangkutan rongsokan di ruang dengan perabot yang suram,
yang mengembara berkeliaran dan berkeliaran pada tengah malam dalam rel kereta api yang bertanya-tanya ke mana akan pergi, pergi tanpa meninggalkan satu patah-hati pun,
yang menyalakan rokok dalam gerbong-gerbong gerbong-gerbong gerbong-gerbong gaduh melintasi salju menuju ladang sunyi dalam malamnya sang kakek,
yang mempelajari telepati Plotinus Poe St John of the Cross dan bop kaballah karena kosmos bergetar naluriah pada kaki mereka di Kansas,
yang menyendiri di jalanan Idaho mencari para malaikat indian visioner yang merupakan para malaikat indian visioner,
yang berpikir bahwa mereka jadi gila ketika Baltimore bersinar dalam ekstasi supernatural, 
yang melompat ke dalam limusin-limusin bersama lelaki China dari Oklahoma dalam hasrat terhadap cahaya jalan hujan tengah malam musim dingin di kota kecil,
yang bermalas-malasan lapar dan kesepian menuju Houston mencari jazz atau seks atau sup, dan mengikuti orang Spanyol yang cerdas bercakap-cakap tentang Amerika dan Keabadian, tugas tanpa harapan, dan berlayar menuju Afrika,
yang menghilang ke dalam gunung api-gunung api Meksiko tanpa meninggalkan jejak apa-apa hanya bayangan celana dungaree dan larva dan debu puisi terserak di perapian Chicago,
yang muncul kembali di Pesisir Barat menyelidiki FBI dalam janggut dan celana pendek bersama mata seksi para pasifis dalam kulit mereka yang gelap yang pingsan karena selebaran yang tak dimengerti,
yang membakar lubang-lubang rokok di atas tangan-tangan yang memprotes kabut tembakau narkotik Kapitalisme,
yang menyalurkan pamflet Superkomunis di Union Square menangisi dan bertelanjang dada saat sirene-sirene Los Alamos meratapi mereka, dan meratapi Wall, dan kapal fery Staten Island juga diratapinya,
yang merobek tangis dalam gimnasium-gimnasium putih bertelanjang dan gemetar sebelum mesin-mesin dengan kerangka-kerangka lain,
yang mengekang leher para detektif dan menjerit dengan kesenangan dalam mobil-mobil polisi untuk mengaku tak melakukan kejahatan namun keliaran mereka memasak hubungan seksual antar jantan dan mabuk,
yang melolong sambil berlutut di kereta bawah tanah dan menyeret atap alat kelamin-alat kelamin keriting dan naskah-naskah,
yang membiarkan diri mereka disodomi melalui anus oleh pengendara sepeda motor suci, dan menjerit gembira,
yang menghembus dan terhembus oleh manusia serafim, para pelaut, belaian Atlantik dan cinta Karibia, 
yang mengepal di waktu pagi di senja-senja di taman-taman mawar dan rumput taman-taman umum dan pemakaman-pemakaman menyerakkan air mani mereka dengan bebas kepada siapapun yang mungkin akan datang,
yang tersedak tanpa henti mencoba cekikikan namun terluka dengan sebuah isak di belakang sebuah sekat dalam sebuah Turki Bath ketika malaikat pirang dan telanjang datang membolongi mereka dengan sebuah pedang,
yang kehilangan bocah-bocah kekasih mereka kepada tikus-tikus pohon tua nasib tikus bermata satu dollar heteroseksual tikus bermata satu yang mengedipkan mata rahim dan tikus bermata satu yang tak melakukan apa-apa kecuali duduk di atas pantatnya dan menggunting benang emas tenun pengrajin, 
yang bersanggama dengan ekstatis dan tak puas-puas dengan sebuah botol bir seorang kekasih sebuah bungkus rokok sebuah lilin dan jatuh ke ranjang, dan melanjutkannya di lantai dan rebah di koridor dan berakhir lemah di dinding dengan sebuah visi vagina terakhir dan menghindari orgasme terakhir kesadaran,
yang memanisi potongan sejuta gadis yang gemetaran pada matahari terbenam, pantat yang berkilat di bawah gudang dan telanjang di danau,
yang pergi melacuri Colorado di mobil-mobil malam curian yang tak terhitung, N.C., pahlawan rahasia puisi-puisi ini, lelaki gila seks dan Adonis of Denver-kebahagiaan terhadap kenangan gadis-gadisnya yang berbaring tak terhitung dalam lotere kosong & halaman belakang tempat makan malam, jajaran rumah-rumah film reyot, di puncak-puncak gunung di gua-gua atau dengan pelayan-pelayan suram di sisi jalan sepi yang familiar rok yang terangkat & khususnya pom-bensin rahasia solipsisme john, & juga lorong kampung halaman, 
yang menghilang ke dalam film-film mesum yang panjang, yang berubah dalam mimpi-mimpi, terjaga pada sebuah ketiba-tibaan Manhattan, dan membawa diri mereka keluar dari dasar yang tergantung dengan Tokay kejam dan impian-impian besi horor Third Avenue dan tersandung kantor-kantor pengangguran,
yang berjalan sepanjang malam dengan sepatu mereka yang penuh darah di atas dermaga tumpukan besar salju menunggu sebuah pintu di East River terbuka untuk sebuah ruangan yang penuh dengan asap-hangat dan opium,
yang menciptakan drama-drama bunuh diri besar di apartemen tepi jurang Hudson di bawah arus cahaya bulan kabur masa perang dan kepala-kepala mereka akan dimahkotai dengan mahkota daun dalam kelupaan, 
yang memakan rebusan anak domba imajinasi atau mencerna kepiting di lantai dasar lumpur sungai-sungai Bowery,
yang menangis di jejalan romansa dengan kereta dorong mereka yang penuh bawang dan musik buruk,
yang duduk di kotak-kotak sambil bernapas dalam kegelapan di bawah jembatan, dan bangkit untuk menegakkan hapsichord di loteng-loteng mereka,
yang terbatuk di lantai keenam Harlem bermahkotakan api di bawah langit penderita tuberkolosis yang dikelilingi peti kayu oranye teologi, 
yang mencorat-coret sepanjang malam mengguncang dan menggelinding di atas mantera mulia di mana pagi kuning adalah stanza-stanza bacot tak berarti,
yang memasak sup borsht & tortilla ekor kaki jantung paru-paru binatang busuk memimpikan kerajaan sayur-mayur murni,
yang menceburkan diri mereka ke dalam truk-truk daging mencari sebutir telur,
yang melempar arloji-arloji mereka ke atap untuk memberikan suara mereka bagi Keabadian di luar Sang Waktu, & jam-jam alarm jatuh ke atas kepala mereka setiap hari untuk dekade selanjutnya,
yang memotong pergelangan tangan mereka tiga kali berturut-turut dengan kegagalan, menyerah dan memaksa membuka toko-toko barang antik di mana mereka pikir mereka akan menjadi tua dan menangis,
yang terbakar hidup-hidup dalam pakaian kotak-kotak tak bersalah mereka di Madison Avenue di tengah ledakan kelam ayat dan mabuk gemerincing resimen besi fashion & nitrogliserin jeritan-jeritan peri-peri iklan & gas moster editor-editor cerdas-jahat, atau terperosok karena taksi-taksi mabuk Realitas Absolut,
yang melompat ke Jembatan Brooklyn, ini yang sebenarnya terjadi dan berjalan menjauh tak dikenal dan terlupakan menuju kekagetan remang-remang sup lorong-lorong Chinatown dan mobil pemadam kebakaran, bahkan tidak satu bir gratis pun,
yang menyanyi di jendela-jendela mereka dalam putus asa, jatuh ke jendela kereta api bawah tanah, melompat ke Passaic yang kotor, melompat ke atas negro-negro, menangis di seluruh jalan, menari di atas gelas anggur pecah telanjang kaki mendobrak fonograf rekaman-rekaman nostalgia jazz Eropa Jerman 1930-an mengakhiri wiski dan melemparkan rintihan ke dalam toilet berdarah, mengerang di telinga-telinga mereka dan ledakan peluit-peluit uap kolosal,
yang menyelaraskan jalan raya-jalan raya petualangan masa lalu kepada mobil balap-penjara Golgotha-arloji kesendirian masing-masing atau mantera jazz Birmingham,
yang berkendara melintasi negeri tujuh puluh dua jam untuk menemukan apakah Aku memiliki sebuah visi ataukah kau memiliki sebuah visi ataukah ia memiliki sebuah visi untuk menemukan Keabadian,
yang bertualang ke Denver, yang mati di Denver, yang kembali ke Denver & menanti sia-sia, yang menyaksikan seluruh Denver & merenung & menyendiri  di Denver dan akhirnya pergi untuk menemukan Waktu, & saat ini Denver adalah kesepian bagi para pahlawannya,
yang menjatuhkan lutut mereka dalam katedral-katedral tanpa harapan mendoakan keselamatan masing-masing dan cahaya dan payudara-payudaranya, hingga jiwa diterangi rambutnya untuk satu detik,
yang menabrakkan pikiran-pikiran mereka ke penjara menunggu penjahat-penjahat yang tidak mungkin dengan kepala-kepala emas dan pesona kenyataan di jantung-jantung mereka yang menyanyikan blues manis untuk Alcatraz,
yang mundur ke Meksiko untuk menanam sebuah kebiasaan, atau Pegunungan Rocky untuk mengasihi Buddha atau orang Tangier untuk bocah-bocah lelaki atau Pasifik Selatan untuk lokomotif hitam atau Harvard untuk Narsissus untuk Woodlawn untuk kembang daisychain atau kuburan, 
yang meminta kewarasan menguji tuduhan radio hipnotis & pergi bersama kewarasan mereka & tangan-tangan mereka & sebuah penolakan keputusan,
yang melempar salad kentang ke arah dosen-dosen CCNY saat (mata kuliah) Dadaism dan kemudian memunculkan diri mereka di atas lantai granit rumah gila dengan kepala-kepala gundul dan badut berpidato bunuh diri, meminta operasi lobotomi cepat,
yang melakukan protes miskin humor menjungkirbalikkan satu-satunya meja pingpong simbolik, beristirahat sejenak di katatonia, mengembalikan tahun-tahun belakangan yang benar-benar botak kecuali untuk segumpal wig darah, dan air mata dan jari-jemari, untuk laki-laki kasat mata bangsal kiamat kota-kota gila wilayah Timur,
koridor pengap Rockland Pilgrim State dan Greystone, bertengkar dengan gema jiwa, menghentak dan berputar pada tengah malam bangku-sunyi dolmen-nyata cinta, impian hidup sebuah mimpi buruk, tubuh-tubuh yang membatu seberat bulan,
dengan ibu yang akhirnya ******, dan buku fantastis terakhir yang terlempar keluar jendela rumah petak, dan pintu terakhir yang tutup pada pukul 4 dini hari dan telepon terakhir terbanting di tembok saat menjawab dan perabot terakhir ruangan kosong menjadi kepingan perabot logam terakhir, selembar kertas mawar kuning terpilin di atas sehelai kawat gantungan di kamar mandi, dan bahkan khayali itu, tiada kecuali suatu harapan sedikit halusinasi
ah, Carl, saat kau tak aman aku juga tak aman, dan sekarang kau benar-benar berada dalam sup binatang waktu total
dan yang karenanya berlari menuju jalanan beku terobsesi dengan sebuah cahaya mendadak alkimia penggunaan katalog elipsis sebuah ukuran yang tidak tetap dan getaran pesawat,

yang bermimpi dan menciptakan mantra jurang Waktu dan Ruang menuju persandingan citra-citra, dan menjerat malaikat tertinggi dari jiwa antara dua citra visual dan menggabungkan kata kerja-kata kerja dasar dan membangun kata benda dan garis kesadaran bersama melompat dengan sensasi Pater Omnipotens Aeterna Deus
untuk menciptakan sintaksis dan menilai prosa manusia miskin dan berdiri sebelum kau tak berkata apa-apa dan cerdas dan mengguncang dengan rasa malu, menolak namun mengakui jiwa untuk menyelaraskan dengan irama pikiran dalam ketelanjangannya dan kepala tak berujung,
pantat lelaki gila dan hentakan malaikat dalam Waktu, namun meletakkan di sini apa yang mungkin tertinggal untuk dikatakan di waktu yang datang setelah mati, 
dan membangkitkan reinkarnasi dalam pakaian buram jazz dalam bayangan band domba bertanduk emas dan meniup penderitaan pikiran telanjang Amerika untuk cinta menuju sebuah ratapan saksofon eli eli lamma lamma sabachtani yang menggigilkan kota-kota menuju radio terakhir
dengan jantung absolut puisi hidup membantai tubuh-tubuh mereka sendiri yang baik untuk dimakan seribu tahun.    

San Fransisco, 1955-1956




Allen Ginsberg - Howl and Other Poems (1956)

Saturday, November 15, 2014

Setelah 37 Tahun... (Maestro Folk Nusantara)

Leo Kristi di anjungan Batak, TMII, Juli 2011
Leo Kristi bertemu kawan lama: Titi Soetopo. Konser pertama mereka setelah 37 tahun. 

“Hampir 30 tahun,” kata Titi Soetopo.

Leo Kristi, yang berdiri di sebelah Titi dengan posisi tak berubah sejak tiga dekade silam, membantah dan mengoreksi jumlah tahun itu sambil memeluk gitar, ”padahal sudah lebih (dari 30 tahun)”.

Sambil membenarkan kaca mata dan membolak-balik buku lirik, Titi meralat ucapannya, “ah, ya, sudah 37 tahun.”

Perdebatan kecil itu membuka malam pertemuan kembali antara Leo Kristi dan Titi Soetopo. Di rumah adat Toba, anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (6/7) malam, Leo dan Titi kembali berduet dalam pertunjukan setelah 37 tahun “berpisah”.

Pengurus mailing list penggemar Leo Kristi, LKers, Setiadi, bersama anggota LKers lainnya, menyiapkan konser sederhana itu dengan agak terburu-buru. Pada Minggu (31/7), Leo Kristi datang ke pembukaan taman bacaan Katia-Gusti di rumah Setiadi di daerah Bekasi, Jawa Barat. Karena penggemar Leo belum puas dengan penampilan itu, mereka menyiapkan konser di TMII dalam waktu tiga hari.

“Kerinduan kita sudah cukup lama, kita sudah lama tidak mendengarkan duet Leo Kristi dan Titi Soetopo. Menunggunya sampai 30 tahun,” kata Setiadi.

Terpilihlah anjungan Sumatera Utara. Kebetulan, pengurus anjungan, Tatang Daniel, merupakan penggemar Leo Kristi. Tak ada panggung di ruang mirip pendapa berlantai kayu rumah adat Batak itu. Di tembok, menempel kotak-kotak kaca berisi manekin peraga yang mengenakan pakaian adat Sumatera Utara.

Kotak-kotak manekin itu menjadi latar pertunjukan. Di depannya, dua buah tong (tong menjadi ciri khas setiap pertunjukan Leo Kristi), berdiri. Tempat yang akan menjadi tempat pertunjukan konser Leo Kristi itu di kelilingi 17 buah lilin merah yang menyala. 

Leo tak datang dengan band lengkap. Praktis, satu-satunya musik yang mengiringi pertunjukan malam itu bersumber dari gitar yang dipetik Leo sendiri.

Ketika didaulat untuk naik ke area pertunjukan, Leo berdiri di lantai dengan satu kaki naik ke atas tong. Sekitar 50-an penonton duduk di lantai menunggu aksi Leo. Tak sedikit di antara penonton itu yang membawa anak-anak mereka.

Leo tak langsung menyanyi bersama Titi. Ia membuka pertunjukan itu dengan Kaki Langit Cintaku Berlabuh-sebuah lagu dari album Nyanyian Tanah Merdeka (1978). Lagu yang lirih itu dinyanyikan oleh Riza, penyanyi belia bergaun putih sebatas lutut yang menemani Leo.
 
Riza bernyanyi sekitar lima lagu. Salah satunya adalah lagu milik The Beatles, Across The Universe, yang diiringi petikan gitar ala Leo. Selanjutnya, Leo memanggil teman lamanya, Titi Soetopo. Meski sudah berusia lebih dari 60 tahun, gurat kecantikan belum lekang dari wajah Titi. Titi datang ke tengah pendopo itu dengan mengenakan kaos lengan panjang dan blus berwarna gelap.

Leo mempersilahkan Titi duduk di tong yang lebih tinggi di sebelah kanannya. Penonton beringsut mendekati area pertunjukan. Jarak antara Leo-Titi dan penonton hanya sekitar 4 meter.

Joan Baez
Saya tak mengenal lagu pertama yang dinyanyikan Titi, sebuah lagu berbahasa Inggris. Tetapi, dari lagu pertama, saya sadar bahwa saya sedang menyaksikan permata terpendam di negeri ini. Teknik dan warna suaranya mengingatkan kita pada penyanyi folk terkemuka Amerika Serikat yang pernah akrab dengan Bob Dylan, Joan Baez. Di masa kini, apalagi di negeri ini, sulit menemukan penyanyi perempuan yang memiliki cara bernyanyi seperti Titi. 

“Dia menyanyi dengan sepenuh jiwa,” kata Setiadi.

Tak cuma itu, Titi bisa menjadi penyeimbang Leo. Leo, sebagaimana banyak orang tahu, adalah seorang bohemian dan eksentrik. Mood-nya mudah turun-naik. Jika mood Leo sedang tak enak, pertunjukan juga ikut tak enak dilihat. “Mbak Titi adalah salah satu penyanyi yang bisa mengikuti mood mas Leo,” kata Setiadi, di sela pertunjukan.

Leo dan Titi bernyanyi sebanyak lima lagu. Tak ada satu pun lagu ciptaan Leo. Saya hanya mengenal dua dari lima: Scarborough Fair milik duo Amerika era 1960-an, Paul Simon dan Art Garfunkel, dan Donna-Donna, sebuah lagu teater Yahudi berjudul Esterke (1940-1941) yang dibawakan ulang oleh Joan Baez.
Paul Simon & Art Garfunkel

Agaknya lima lagu pertama adalah nostalgia antara keduanya. Saya jadi tahu, semasa muda, Titi dan Leo adalah penggemar musik folk Amerika yang menjadi cikal bakal musik hippies Amerika pada 1960-an. Jika kita hendak menyebut musisi Indonesia era awal yang terinspirasi musik hippies, Leo dan Titi adalah dua nama yang tak boleh dilupakan.
***
Saya menonton konser Leo Kristi untuk kali pertama sekitar tahun 2004 di gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Leo datang dari Surabaya lengkap bersama personil band-nya. Beberapa bulan setelahnya, saya datang ke sebuah kantor di jalan Diponegoro, Jakarta, kembali untuk menyaksikan Leo Kristi.

Selanjutnya, saya mengikuti beberapa konsernya. Salah satunya di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta Selatan, dan konser Agustus di teater kecil Taman Ismail Marzuki. Tetapi, di masa itu, saya tak mengenal Titi Soetopo. Yang saya kenal hanya Leo Kristi. Musik dan suara perempuan yang cukup berperan dalam lagu-lagu Leo saya anggap sebagai latar. Bintangnya tetaplah Leo Kristi.

Saya beruntung datang ke konser sederhana di anjungan Sumatera Utara, TMII, malam minggu di bulan Ramadhan itu. Setelah saya melihat dan mendengar Titi bernyanyi, saya jadi tahu, Leo ternyata tak sendiri. Ia memiliki kawan sepadan. Bersama Titi, Leo yang slenge’an tampak lebih kalem dan cenderung mengalah. Termasuk mengikuti lagu yang ingin dinyanyikan Titi. Leo harus membagi kebintangannya dengan Titi.

“Lagu-lagu yang mau dinyanyikan ditentukan oleh dia (Titi) sendiri. Dia tahu cikal bakal lagu-lagunya Mas Leo,” kata Setiadi.

Leo dan Titi. Keduanya berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Keduanya saling mengenal sejak usia 12 tahun. Dan bagi orang yang mengenal lagu-lagu Leo Kristi, Titi adalah penyanyi terbaik yang turut sumbang suara dalam album-album terbaik Leo Kristi.

Menurut Setiadi, Titi tak lagi turut bersama Leo pada konser Rakyat tahun 1976. Titi kembali terlibat dalam album Nyanyian Cinta (1979). “Album Nyanyian Cinta merupakan puncak-puncaknya album Leo. Oleh pengamat musik, album itu disebut melebihi zamannya,” kata Setiadi.

Titi mengaku tak pernah bernyanyi setelah berpisah dari Leo. Yang ia ingat, konser terakhirnya bersama Leo dilakukan di Bandung, Jawa Barat. Setelah itu, ia menetap di Surabaya. “Saya hanya bernyanyi sama Mas Leo,” kata Titi usai pertunjukan. 

Selama perpisahan itu, Leo tetap menjalankan aktivitas bermusiknya dengan menggelar Konser Rakyat hampir setiap tahun. Beberapa tahun terakhir, sebagian konser Leo diselenggarakan oleh penggemarnya yang tergabung dalam mailing list LKers. Bahkan, anggota LKers pernah menjadi pemusik yang mengiringi Leo dalam sebuah konser di Taman Ismail Marzuki.

Lalu apa perasaan Titi kembali berduet dengan Leo di pertunjukan setelah 37 tahun? “Saya lega dan senang!” kata Titi.

Namun Titi tak menjawab banyak saat saya minta berkomentar tentang sosok Leo saat ini. “Saya mengenal Leo sejak umur 12 tahun. Jadi saya tidak bisa bilang apa-apa,” kata Titi sambil mengerlingkan matanya ke arah Leo yang sedang berfoto bersama penggemarnya. Seolah-olah, ekspresi itu hendak mengatakan kepada saya, “ya itulah Leo, kamu bisa lihat sendiri bagaimana dia sekarang.”

Setelah lima lagu yang bukan ciptaan Leo, Titi akhirnya datang lagi ke Leo. Beberapa lagu hits dari album Leo di periode 1975-1980, dibawakan secara duet bersama Titi. Setelah banyak lagu dinyanyikan, setiap lagu habis Leo melihat ke Titi. Saya menduga, itu isyarat dari Leo bahwa pertunjukan sudah selesai. Tetapi Titi terus saja membolak-balik kertas lirik seolah-olah pertunjukan masih berlangsung sampai tengah malam. Leo, sekali lagi, mengikuti kemauan Titi.

Penonton larut dalam lagu Siti Komariah Ikal Mayang, Lenggang-lenggung Badai Lautku, Salam dari Desa, Anna Rebanna, dan lagu yang pernah diaransemen ulang oleh band rock Surabaya, Boomerang: Kereta Laju. 

Namun Leo tetaplah Leo. Pertunjukan berlangsung hampir 2,5 jam. Di lagu penutup berjudul Bulan Separuh Bayang, Leo mengulang-ngulang bait yang menjadi jatahnya dengan gayanya yang jenaka. Sebuah lagu yang memang dinyanyikan secara duet. Lagu yang seharusnya sudah selesai itu, terus diulang-ulang Leo. Kini berbalik, Leo yang tak mau berhenti menyanyi, “Belahan hatiku katakan/kita takkan berhenti/tegak di sini nyatakan/teguhlah cinta suci/Putra-putri pertiwi/jiwa petani sejati/kaki-kaki sendiri/guratan sedalam hati ti ti ti.” 

Mau tak mau, dengan raut yang riang, Titi menyambut bait yang merupakan jatahnya, “Sujudku/pada tanah kotor negeri ini/rumah putih berawan hitam/di mana kau dan aku dilahirkan/tiada alas tidur/selain tangan penuh kasih”

Dan penonton pun menyambut dengan menyanyikan reffrein secara meriah, “bulan separuh bayang/bulan separuh bayang/mulai tertutup awan….” 


*Artikel ini pernah dimuat di www.vhrmedia.com pada Agustus 2011 dan mengalami sejumlah penyuntingan.



Monday, October 6, 2014

Oh Sweet Nuthin'

Katakan satu kata untuk Jimmy Brown
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Tidak juga selembar baju yang menutupi punggungnya
Dia sama sekali tak punya apa-apa


Katakan satu kata untuk untuk Ginger Brown
Yang berjalan dengan kepalanya di tanah
Mencopot sepatu di kakinya
Untuk bocah miskin di jalanan


Dan inilah yang dikatakannya
Oh ketiadaan yang indah
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Oh ketiadaan yang indah
Dia sama sekali tak punya apa-apa


Katakan satu kata untuk Polly May
Dia tidak bisa menceritakan tentang malam sejak hari itu
Mereka melemparnya ke jalanan
Tapi, seperti seekor kucing ia mendarat dengan kakinya


Dan katakan sebuah kata untuk Joanna Love
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Karena setiap hari dia jatuh cinta
Dan setiap malam dia jatuh ketika dia melakukannya


Dia berkata
Oh ketiadaan yang indah
Kau tahu dia sama sekali tak punya apa-apa
Oh ketiadaan yang indah
Dia sama sekali tak punya apa-apa


Oh biarkan aku mengatakannya padamu!

Katakan satu kata untuk Jimmy Brown
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Tidak juga selembar baju yang menutupi punggungnya
Dia sama sekali tak punya apa-apa


Katakan satu kata untuk untuk Ginger Brown
Yang berjalan dengan kepalanya di tanah
Mencopot sepatu di kakinya
Untuk bocah miskin di jalanan


Dan inilah yang dikatakannya
Oh ketiadaan yang indah
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Oh ketiadaan yang indah
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Oh ketiadaan yang indah


Dia sama sekali tak punya apa-apa
Dia sama sekali tak punya apa-apa
Dia sama sekali tak punya apa-apa 


Lou Reed/The Velvet Underground - Loaded (1970)