Monday, January 19, 2026

Hari Ketika Sang Nyonya Mati

Jam 12:20 di New York suatu Jumat
tiga hari setelah hari Bastille, ya
ini 1959 dan aku akan menyemirsepatu
karena aku akan keluar jam 4:19 di Easthampton
jam 7:15 dan langsung ke makan malam
dan aku tak tahu siapa yang akan memberiku makan

Aku berjalan di jalanan panaslembab mulai menuju matahari
dan memegang sebuah hamburger dan roti gandum dan membeli
sebuah NEW WORLD WRITING buruk untuk melihat apa yang dilakukan para penyair di Ghana hari-hari ini

                                                                       Aku pergi ke bank
dan Nona Stillwagon (pernah kudengar nama depannya Linda)
bahkan tak melihat saldoku sekalipun seumur hidupnya
dan di GOLDEN GRIFFIN aku mendapatkan buku kecil Verlaine
untuk Patsy dengan gambar oleh Bonnard meskipun aku memikirkan
Hesiod, trans. Richmond Latimore atau naskah drama baru Brendan Behans atau Le Balcon atau Les Negres-nya
Genet, tetapi tidak, aku tetap dengan Verlaine
setelah praktis akan tidur dengan ketidakmenentuan

Dan untuk Mike aku hanya berjalan-jalan ke toko minuman keras
PARK LANE dan meminta sebotol Strega dan
kemudian aku kembali ke tempat aku datang di Jalan 6th
dan tukang tembakau di Teater Ziegfeld dan
biasanya meminta kartun Gauloises dan kartun
Picayunes, dan NEW YORK POST dengan wajahnya di sana

dan aku kini sangat berpeluh dan membayangkan
bersandar di pintunya john di 5 SPOT
sementara dia bersiul sebuah lagu dengan kibor
untuk Mal Waldron dan semua orang dan aku berhenti bernafas

The Day Lady Died (Poetry Foundations from Lunch Poems 1964)
Frank O’Hara (1926-1966)

Tuesday, January 13, 2026

Macbeth (Act IV: Scene III)

Macbeth:

Seyton! Aku sakit hati,
Ketika kulihat–Seyton, kubilang!–Desakan ini
Akan menyambutku atau menyingkirkanku kini.
Aku sudah hidup cukup lama: jalan hidupku
jatuh ke dalam kering, daun kuning;
Dan yang seharusnya menemani masa tua,
Seperti kehormatan, cinta, kepatuhan, teman-teman tentara
Aku seharusnya tak mencari itu; tetapi, dalam tenangnya mereka
Kutukan, tidak keras tapi dalam, penghormatan lisan, nafas
Yang hanya oleh hati yang miskin akan menyangkal, dan tak berani.
Seyton!

Seyton:

Apa yang engkau inginkan?

Macbeth (1623)
William Shakespare (1564-1616)

Saturday, January 10, 2026

Mendekati Matahari Terbenam

ada yang tiba-tiba
untuk semua permukaan–
di ladang-ladang
menuju ke depan

terjerat, & semuanya
berhenti. Halaman rumput
adalah tuhan. Sebuah pintu di pepohonan
terbuka. Koridor muncul di mana-mana

sebagai cahaya & cahaya berkata
engkau ingin hidup &
tak ada yang
terjadi. Cahaya yang lebih rendah

berkumpul di pinggang
hari, berkilau
di kulit kayu di atas serpihan
batu & tepat di sana di lengkung

daun kering di atas kursi
biru dan juga di sana
di atas daun hidup di ujung dahan
pohon oak muda

yang beberapa saat lalu
berlagak dalam sedikit angin & kini
brutal dalam
diamnya.

Seekor burung towhee terbang & meninggalkan

ini.

Kita tak menghembuskan nafas.

Adalah memungkinkan kesadaran meng-

hilang dari atmosfer
dibawanya menit-menit
gila
berlari menuju akhir

hanya karena mereka
membiarkannya longgar
sekali–& engkau tak bisa menanggalkan
kulit yang menahanmu

di dalam, engkau tak bisa bersembunyi
dari tergesa-gesa
yang akan memulai lagi
segera ketika engkau meng-

hembus nafas, tetapi kini
rasa sakit bangkit untuk menemukan dirinya sendiri
bukan rasa sakit, apapun yang
menetaskan kita telah

selesai & tumbang
menjauh & kita
turun
terjatuh. Inkubasi

tiba-tiba selesai.
Sesuatu terjadi sebelum
dihapus. Jangan
lupakan ini

ketika engkau kembali

ke dunia itu

di mana pengerasan jiwa
yang hidup dalam bayang-bayang
dimulai lagi,
di mana daun-daun berpusar

ke dalam puntiran dada
angin
yang sekali lagi ingin mengintip
ke dalam semua arah

yang lain–
di mana jangkrik-jangkrik
yang berhenti tiba-tiba,
ketika persetubuhan bebas

dengan menatap
berhenti–ketika
menginginkan & mengetahui
telah–memulai lagi–tetapi untuk sekarang, karena

keabadian yang mustahil pada detik
ini,
apapun itu
yang juga semua itu

berdiri tak terpatahkan di hadapan kita.

Approaching Sundown (The New Yorker January 5th 2026 from Killing Spree)
Jorie Graham (1950 - )

Monday, January 5, 2026

Pekerjaan Rumah

Jika aku mengerjakan cucianku aku akan membasuh Iranku
     yang kotor
Aku akan melemparkannya ke dalam Amerika Serikatku, dan menuangkan
     Sabun Ivory, mengusap Afrika, menempatkan semua burung
     dan gajah kembali ke hutan,
Aku mencuci sungai Amazon dan membersihkan Karibia & Teluk Meksiko
     yang berminyak,
Menggosok kabutasap Kutub Utara, menyeka semua
     saluran pipa di Alaska,
Menggosok jelaga untuk Dataran Rocky dan Los Alamos,
     Menyiram Cesium dari Kanal Cinta yang Berkilau
Membilas Hujan Asam di atas Parthenon &
     Sphinx, Lendir Pembuangan Air keluar dari
     cekungan Mediterania & membuatnya birulangit lagi,
Membubuhkan belau kembali ke langit di atas
     Rhine, memutihkan Awan-Awan kecil agar salju kembali
     putih sebagai salju,
Membersihkan Hudson Thames & Neckar, Mengeringkan
     Drainase Kota dari Danau Erie
Kemudian aku melemparkan Asia besar dalam satu Muatan raksasa &
     membasuh darah & Agen Oranye,
Membuang seluruh kekacauan Rusia dan China di
     pemeras air, meremasnya dari cepu Abu-abunya
     kantor polisi AS bagian Amerika Tengah,
& memasukkan planet dalam pengering & membiarkan ia duduk 20
    menit atau semasa Abadi sampai ia keluar dengan bersih.

Homework (Poetry Foundation from Collected Poems 1947-1980)
Allen Ginsberg (1926-1997)

Monday, December 29, 2025

Lelaki Dalam Angin

Lelaki dalam angin
yang membuat kita tetap terjaga malam ini
bukanlah rahib hitam angin
meringkuk di sudut-sudut dan rahim-rahim
atau wajah putih di bawah lampu jalan
dilanda oleh rasa bersalah karena hidungnya
atau tamparan besar tangan angin
memukul dan memukul lorong-lorong hujan
sementara para penyiksa memproses dengan
interogasi
dan suara terpidana yang membesar
berdarah di atas simbal dan timpani.

Dengar.
Mimpinya tentang angin
adalah amarah yang menyelaraskan pikirannya
dan mengenakan kulitnya.
Tangisnya bukanlah apa yang dikatakan angin
tetapi ketakutan di mana ia hidup di dalamnya.
Tidaklah angin kurang manusia karena menjadi lebih liar
atau menjadi, sebagaimana kini, sebuah raungan, raungan yang terus-menerus
seperti ombak di mana tak ada pesisir,
tak ada, dan tak ada pedalaman atau tanjung untuk menghalangi
tumpahan air hitam di atas air yang tetap lebih banyak.

Dan kini ia menenggelamkan pulau sopan kita,
pelabuhan-pelabuhan kecil bebas dengan cahaya pengintai mereka yang waspada
kapal-kapal, gedung-gedung bertingkat, derek, menara lonceng, tiang,
kakilangit yang membusuk menghilang dengan cakrawala terakhirnya
untuk sebuah ujung yang bersih murni,
untuk satu-satunya ujung di malam yang tak tercipta ini
di mana anginnya angin, dilonggarkan oleh tidurnya
menuju kekuatannya sendiri,
bergerak tanpa makna, atau menjadi–
sebuah ombak yang memulai sebelum permulaan,
yang tak akan berakhir setelah akhir.

The Man in The Wind (The Guardian from Minute by Glass Minute-1982)
Anne Stevenson (1933-2020)

 

 

Friday, December 26, 2025

Angsa

           Lelaki kurus tak berbaju
                      memancing di
       tepi sungai. Perempuan

                      di sampingnya, merokok.
                      Dua anak. Yang satu

                   melihatku sedih.
         Yang lainnya dengan benih

             kebencian. Lalu, di manakah

     sang angsa? Masih di bawah-
                       sungai di bagian yang bergolak.
                  Apa yang akan kulakukan

               dengan orang-orang di samping
                              sungai yang sama ini,
             mata mereka mengikuti

                             ku seperti sebuah
                        celah garis rambut.

             Temanku yang menghubungiku
                                      semalam untuk memberitahu
                       soal tetangga-tetangga yang kasar

                                       yang melihatnya
                                       dengan rasa jijik.
                                       Tetanggaku

                                   yang melihat

                                      ku dengan

                                     jijik.

                           Semua orang yang
                                    tidak tahu
                                 tentang sang angsa yang berpusar
                               di sungai yang kasar.

                                             Semua lelaki yang
                                        melecehkanku yang kini

          menikah punya anak. Bahkan
                                         yang paling kasar,

                 yang punya bekas luka

                             dari leher sampai pinggulnya,
                  karena hatinya
                                     terlalu sederhana dan
                                         harus digerakkan.

                                               Mereka tak bisa menemukan 

                                             hati manusia,
                                                   maka mereka
                               memasukkan satu
                                           kawanan lebah.

                                Seorang lelaki lainnya yang
                                            memanggilku
                                    ke kantornya

                   Yang berteriak padaku
                             sambil dia
                             menarik

                                     bulu matanya maka
                            setiap malam

                                     mejanya terlihat

                           seperti ladang gandum.

                                          Bahkan, aku sudah tahu
                                                pohon-pohon memiliki
                                            hati.

                                    Aku mengisi semua persegi panjang
                              di kertas kerja

                                   dengan pohon-pohon.

                                              Pada akhir
                                          tahun, aku punya
                                             4.223 pohon.

                                          Tapi tak ada garis pepohonan.      

                                                    Maka aku berhenti
                                                               dari pekerjaanku.

                                          Dari kejauhan,
                          jembatan yang baru saja

                              kuseberangi. Jembatan
                        yang sama sang angsa
                                           melintas di bawahnya. Atau

                                           mungkin sang angsa baru saja
                                    melintas di atas kepalaku.

                                                     Bagaimana bisa angsa di
                                                langit adalah penyelamat

                                                   tetapi di sungai menjadi
                                   sesuatu untuk diselamatkan.

                                                      Bagaimana bisa                                       
                                          di negara ini, tubuhku
                                                  robek dari
                                                  cahaya matahari.

                                             Bagaimana bisa di tanah
                                             yang berbeda,
                                    tubuhku dipelajari oleh
                               para ahli burung.

                                                                  Ada sangat
                                                       banyak hal

                                                             kebencian tak punya
                                                  urusan dengan: jembatan,

                                                          lonceng di
                                                       kejauhan, malam.

                                                    Ada sebuah teori

                                                        bahwa kebencian rapat
                                                                        berhubungan

                                                            dengan cinta.

                                                           Bahwa benci
                                                 adalah tiruan dari cinta. 

                                              Teori yang lain

                                                   cinta adalah

                                                    lawan dari
                                            depresi. Karena itu mungkin

                                   pekerjaan terburuk di
                                                        dunia adalah menjadi seorang penyair.

                                                      Karena setiap penyair
                                               berusaha untuk dicintai

                                         oleh masa depan.

                                                  Karena setiap puisi
                                                                berusaha menjadi
                                                 sebuah puisi cinta.

The Swan (The Yale Review–June 9th 2025)
Victoria Chang (1970 - )
            

Sunday, December 21, 2025

Nokturnal Arena Sepatu Roda

Ketika kita mencoba berpura-pura bahwa bulan bergerak melintasi wajah kita, kita mendapatkan sebuah bola disko. Kilatan

petir dan karpet dengan cetakan gambar bintang mengilaukan fluoresensi kuning dan ungu di bawah cahaya hitam. Ketika

kita lapar dan garis rambut kita basah dengan sebuah lagu peluh, kita mengumpulkan uang kertas kusut dari saku-saku kita

dan berbagi sepotong yang panas dan RC cola sedang. Jika engkau belajar meluncur mundur, di sini, selama beberapa jam,

engkau bisa menjadi bangsawan. Jika seseorang memintamu meluncur di waktu Meluncur Berpasangan, engkau adalah Legiun Kekaisaran.

Jika engkau masuk ke dalam Luncuran Romeo, Cannonball, atau Menembak-Bulan, engkau mungkin akan disebut

Pemimpin Tertinggi Laksamana Konvoi. Semua yang engkau butuhkan adalah berlatih. Ketika kita bermain malam, mata dan tubuhmu

jangan pernah dilupakan. Tubuh kita mengingat luncuran, seperti sebuah sungai yang mengingat setiap likunya.

Roller Ŕink Nocturne (The New Yorker, December 15th 2025)

Aimee Nezukhumatathil (1974- )