Lelaki dalam angin
yang membuat kita tetap terjaga malam ini
bukanlah rahib hitam angin
meringkuk di sudut-sudut dan rahim-rahim
atau wajah putih di bawah lampu jalan
dilanda oleh rasa bersalah karena hidungnya
atau tamparan besar tangan angin
memukul dan memukul lorong-lorong hujan
sementara para penyiksa memproses dengan
interogasi
dan suara terpidana yang membesar
berdarah di atas simbal dan timpani.
Dengar.
Mimpinya tentang angin
adalah amarah yang menyelaraskan pikirannya
dan mengenakan kulitnya.
Tangisnya bukanlah apa yang dikatakan angin
tetapi ketakutan di mana ia hidup di dalamnya.
Tidaklah angin kurang manusia karena menjadi lebih liar
atau menjadi, sebagaimana kini, sebuah raungan, raungan yang terus-menerus
seperti ombak di mana tak ada pesisir,
tak ada, dan tak ada pedalaman atau tanjung untuk menghalangi
tumpahan air hitam di atas air yang tetap lebih banyak.
Dan kini ia menenggelamkan pulau sopan kita,
pelabuhan-pelabuhan kecil bebas dengan cahaya pengintai mereka yang waspada
kapal-kapal, gedung-gedung bertingkat, derek, menara lonceng, tiang,
kakilangit yang membusuk menghilang dengan cakrawala terakhirnya
untuk sebuah ujung yang bersih murni,
untuk satu-satunya ujung di malam yang tak tercipta ini
di mana anginnya angin, dilonggarkan oleh tidurnya
menuju kekuatannya sendiri,
bergerak tanpa makna, atau menjadi–
sebuah ombak yang memulai sebelum permulaan,
yang tak akan berakhir setelah akhir.
The Man in The Wind (The Guardian from Minute by Glass Minute-1982)
Anne Stevenson (1933-2020)
Monday, December 29, 2025
Lelaki Dalam Angin
Friday, December 26, 2025
Angsa
Lelaki kurus tak berbaju
memancing di
tepi sungai. Perempuan
di
sampingnya, merokok.
Dua anak. Yang satu
melihatku sedih.
Yang lainnya dengan benih
kebencian. Lalu,
di manakah
sang angsa? Masih
di bawah-
sungai di bagian yang
bergolak.
Apa yang akan kulakukan
dengan
orang-orang di samping
sungai yang
sama ini,
mata mereka mengikuti
ku seperti sebuah
celah garis
rambut.
Temanku
yang menghubungiku
semalam untuk memberitahu
soal
tetangga-tetangga yang kasar
yang
melihatnya
dengan rasa jijik.
Tetanggaku
yang melihat
ku dengan
jijik.
Semua orang yang
tidak
tahu
tentang
sang angsa yang berpusar
di sungai
yang kasar.
Semua
lelaki yang
melecehkanku yang kini
menikah punya
anak. Bahkan
yang paling kasar,
yang
punya bekas luka
dari leher sampai pinggulnya,
karena hatinya
terlalu sederhana dan
harus digerakkan.
Mereka tak bisa menemukan
hati
manusia,
maka mereka
memasukkan satu
kawanan lebah.
Seorang lelaki lainnya yang
memanggilku
ke
kantornya
Yang berteriak padaku
sambil dia
menarik
bulu
matanya maka
setiap malam
mejanya
terlihat
seperti ladang gandum.
Bahkan, aku sudah tahu
pohon-pohon memiliki
hati.
Aku mengisi semua
persegi panjang
di kertas
kerja
dengan pohon-pohon.
Pada akhir
tahun, aku punya
4.223 pohon.
Tapi tak ada garis
pepohonan.
Maka aku berhenti
dari pekerjaanku.
Dari
kejauhan,
jembatan yang
baru saja
kuseberangi. Jembatan
yang sama sang
angsa
melintas
di bawahnya. Atau
mungkin
sang angsa baru saja
melintas di atas kepalaku.
Bagaimana
bisa angsa di
langit adalah penyelamat
tetapi di sungai
menjadi
sesuatu untuk diselamatkan.
Bagaimana
bisa
di negara ini, tubuhku
robek dari
cahaya matahari.
Bagaimana bisa di tanah
yang berbeda,
tubuhku dipelajari oleh
para ahli
burung.
Ada sangat
banyak hal
kebencian tak punya
urusan dengan: jembatan,
lonceng di
kejauhan, malam.
Ada sebuah teori
bahwa kebencian rapat
berhubungan
dengan cinta.
Bahwa benci
adalah tiruan dari
cinta.
Teori yang lain
cinta adalah
lawan dari
depresi. Karena itu mungkin
pekerjaan
terburuk di
dunia adalah menjadi seorang penyair.
Karena setiap
penyair
berusaha untuk dicintai
oleh masa
depan.
Karena setiap puisi
berusaha menjadi
sebuah puisi cinta.
The Swan
(The Yale Review–June 9th 2025)
Victoria Chang (1970 - )
Sunday, December 21, 2025
Nokturnal Arena Sepatu Roda
Ketika kita mencoba berpura-pura bahwa bulan bergerak melintasi wajah kita, kita mendapatkan sebuah bola disko. Kilatan
petir dan karpet dengan cetakan gambar bintang mengilaukan fluoresensi kuning dan ungu di bawah cahaya hitam. Ketika
kita lapar dan garis rambut kita basah dengan sebuah lagu peluh, kita mengumpulkan uang kertas kusut dari saku-saku kita
dan berbagi sepotong yang panas dan RC cola sedang. Jika engkau belajar meluncur mundur, di sini, selama beberapa jam,
engkau bisa menjadi bangsawan. Jika seseorang memintamu meluncur di waktu Meluncur Berpasangan, engkau adalah Legiun Kekaisaran.
Jika engkau masuk ke dalam Luncuran Romeo, Cannonball, atau Menembak-Bulan, engkau mungkin akan disebut
Pemimpin Tertinggi Laksamana Konvoi. Semua yang engkau butuhkan adalah berlatih. Ketika kita bermain malam, mata dan tubuhmu
jangan pernah dilupakan. Tubuh kita mengingat luncuran, seperti sebuah sungai yang mengingat setiap likunya.
Roller Ŕink Nocturne (The New Yorker, December 15th 2025)
Aimee Nezukhumatathil (1974- )
Sunday, December 7, 2025
Air Menjawab
Mungkin kita sudah membasuh tangan kita
dan mabuk berat dan berenang
dan berpikir kita mengenalnya,
tetapi reputasi air bergerak di hadapannya seperti banjir:
ia tak membiarkan orang-orang bodoh dan para pengganggu.
Karena itu aku menyiapkan beberapa pertanyaan.
Dari mana engkau mendapatkan ide-ide dan ombakmu?
Jangan katakan bulan-itu terlalu dibuat-buat.
Tetapi ketika aku turun ke pesisir
Aku kehilangan langkahku dan menghabiskan waktu yang ada dilemparkan ke arus baliknya,
dipukul oleh bebatuan kecil.
Ketika aku dibaptis aku bertanya pada air
Ke mana iblis-iblis pergi?
Apakah mereka bersembunyi di belakang H, 2, atau O?
Aku muncul akhirnya bisa melihat apa yang belum kuubah,
yang aku sendiri tak melakukan apa-apa, airlah yang memutuskan.
Di jalan setapak di belakang gereja
Aku memeras jaketku. Kubertanya pada air:
Akankah engkau menyampaikan pikiran-pikiran ini sampai jauh?
Rasa gatal kebencian-kebencian ini, sakit gigi karena cemburu,
Selera-selera buruk dan hausnya anjing ini?
Sejauh saja yang akan dilakukan kota berikutnya.
Riak-riak tabulasi bulan.
Kapan terakhir kali engkau menangis, dan mengapa?
Aku bertanya pada air. Aku bertanya pada air.
Apakah engkau punya rencana untuk nanti?
The Water Replies (The Poetry Society)
Luke Kennard (1981- )
Saturday, November 29, 2025
Surat di Bulan April
Apakah engkau masih menerima surat dari kematian? Aku menuliskanya untukmu di tahun setelah kematianmu-tanpa mata, apa yang kau lihat?
Di sini, semak kacang biru dan rumput liar tumbuh, kelak menyingkapkan dirinya, yang kalimat-kalimatnya penting. Masihkah engkau menulis surat-surat, aku menulis untuk diriku sendiri di tahun aku lahir, gulungan lukisan yang terbuka di lapangan parkir, kaligrafi ban-ban. Sudahkah engkau jadi tua, apakah mobil yang melewati jalur bawah tanah melihatmu, apakah pohon mapel menahanmu di selanya? Berjanjilah padaku engkau tetap terjaga, berjanjilah padaku sebuah pidato untuk jiwa dalam rangkai putih buah sanca dan jintan. Berjanjilah padaku engkau akan bangun.
Aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu.
Letter in April (The New Yorker, November 24th 2025-terjemahan dari Jerman ke Inggris oleh Kathleen Heil)
Marie T Martin (1982-2021)
Tuesday, November 25, 2025
Merindukanmu
Mungkin ia harus pulang ke sebuah rumah?
Sebagaimana yang dilakukan orang yang sudah tua.
Tetapi Humphrey Davy menemukan lampu penambang.
Malam ini, kita punya Perang Sipil Spanyol.
Engkau tak boleh seperti ini, bulan,
Mengintip ke kamar-kamar tidur orang
Dan bintang-bintang punya hidupnya sendiri untuk diteraju.
Kapan terakhir kali engkau memikirkan Cassiopeia? Sungguh? Pikirkan!
Engkau harus menenangkan dirimu sendiri, bulan.
Apa yang bisa kau ingat?
Memalukan. Kau pikir kau benar.
Baru kemarin kau taruh nasi garing di lemari es.
Jika tanganmu gemetar, duduklah di sana. Seka mulutmu.
Berlarian ke sana ke mari. Kapan engkau pernah punya sebuah pekerjaan yang layak?
Engkau harus menenangkan dirimu sendiri
Dan tutuplah pintu jika engkau tak bisa menyanyi tanpa sumbang
Dan membuatku memikirkan ruang-ruang berperabot
Matamu tampak seperti sungai-sungai kecil yang terlantar.
Miles Burrow (1936- )
Thursday, November 20, 2025
Merah
Aku punya rumah merah dan mobil merah
Bergerak dengan baterai-baterai besar merah
Pernah jadi biru 15 menit yang lalu
Tetapi kemudian berubah jadi merah hanya untukku
Kudapatkan seekor kuda merah dan kukendarai ia
Aku punya beberapa teman biru, mereka yang terbaik
Pernah berkendara keliling dunia dengan pesawat jet besar
Yang mereka sebut The Lolita Express
Aku punya dasi merah dan panjangnya satu mil
Dan cocok dengan topi merahku
Kudapatkan seekor burung merah, dan seekor ikan merah
Anjing merah dan kucing merah
Dan kudapatkan sebuah pena merah, dan kugunakan ia
Aku juga punya gergaji mesin besar merah
Teman-teman merahku menyukai bubuk putih itu
Yang membuat tangannya melakukan gerakan salut aneh
Ketika perang sampai ke sini
Kita semua akan berpegangan tangan
Semua Baptis dan Katolik
Semua Marxis dan Fasis
Ketika perang sampai ke sini
Kita akan sampai ke level
Setiap orang akan tampak sedikit lebih menyenangkan
Ketika engkau akhirnya bertemu dengan Iblis
Aku melakukan percakapan merah di hari merah
Mencari sebuah terimakasih berpakaian biru
Jika engkau ingin memenangi perang, kawanku
Engkau tahu engkau lebih baik mengenakan pakaian setelan
Kudapatkan seekor bulldog merah, sahabat
Teknokratis dengan sepatu but terikat
Dia menulis elegi untuk orang-orang yang dia tak kenal
Dan itu tak lucu
Ada sebuah rawa dalam dan aku akan mengeringkannya
Untuk orang-orangku yang sedang dalam bahaya
Siapa yang bakal berpikir bahwa Deep State
adalah penjaga Taman Nasional?
Kudapatkan beberapa pil merah dan botol
Aku juga punya yang hitam dan biru
Semua pil adalah sama semua
Ilusinya engkau yang pilih
Ketika perang sampai ke
sini
Kita semua akan berpegangan tangan
Semua koboi dan hippie
Membuang semua kekhawatiran aneh mereka
Ketika perang sampai ke sini
Kita akan sampai ke level
Setiap orang akan tampak sedikit lebih menyenangkan
Ketika engkau akhirnya bertemu dengan Iblis
Ketika raja menyingkirkan teman dan musuh
Dan setiap bangsa mengetahui kemarahannya
Ketika ia mati dalam 15 tahun lagi
Kita semua akan di sini dan mereka akan kembali
Ketika kita semua nongkrong untuk dikeringkan
Oleh para teknokrat penyelamat kita
Tak soal apakah engkau neocon
Atau seorang MAGA demokrat
Ketika perang sampai ke sini
Kita semua akan berpegangan tangan
Semua Baptis dan Katolik
Semua Marxis dan Fasis
Ketika perang sampai ke sini
Kita akan sampai ke level
Setiap orang akan tampak sedikit lebih menyenangkan
Ketika engkau akhirnya bertemu dengan Iblis, oh
Red (Domestic
Error-2025)
Jesse Welles (1992- )
Thursday, November 6, 2025
Maaf karena Menjadi Ada
Di Art Chat, Jamie membangun
sesuatu.
Aku akan menawarkan dia adegan-adegan kecil
Kekakuan atau keintiman–
Di kedai cukur seukuran lemari dinding di mana
Sang lelaki botak, yang nyaris bernafas di pipiku,
Mengomentari gelombang rambutku.
Atau di toko mineral, di mana udara
Adalah udara keabadian–kayumerah
Jatuh ke tanah hutan-hujan, pada akhirnya
Menjadi penyangga buku. Momen-momen
Ketika engkau merasa baru menetas
Engkau tak tahu di mana menempatkan dirimu–
Maaf karena menjadi ada. Atau waktu aku menabrak
Sebuah pose besar di pesta cocktail
Dan kemudian menyadari aku berada di samping
PowerPoint dan harus menjadi patung
Untuk tiga puluh menit berikutnya. Jamie melakukan
Sebuah gerakan kecil di permukaan dadanya
Yang seperti memindahkan setiap tisu Kleenex
dari satu kotak sekaligus dan itu menyembuhkan–
Sakit, kesedihan, tak menjadi! Aku bisa melihat
Lagu, tarian. “Ini adalah sebiji telur besar.”
Ipar laki-lakiku mengirimkan sebuah gambar
karya pahat dari Seoul. “Sebiji telur
memiliki bentuk yang sederhana tetapi bermakna kemungkinan
Tak terbatas. Hidup dimulai dan semua hal
Diciptakan dengan gerakan osilasi yang halus
Terasa dari keOvalannya”. Eja seperti itu.
Sebiji telur mesti retak, adalah rahasia.
Harus selalu dalam proses menjadi retak:
Menghasilkan bulu, kebaruan, sayap.
Ketika angin mengepak melalui Katalog
Noguchi di pekarangan, ia menjedakan
Jantung 1000 Tenagakuda. Terbang
Melewati Miss Universe yang Melebar
Dan datang untuk beristirahat dalam sebuah fotonya
Merakit Sosok di bengkelnya.
Selalu dan selamanya merakit
Sosok, dengan sepasang celana bertali.
Maaf karena menjadi ada. Lalat hitam mendarat
Di punggung pergelangan kakiku dan menggigit.
Telur berukir sidik jari
Seorang manusia. Dunia yang panjang, dan pola-pola
Terlempar besar dan kecil. Di halaman rumput
Tanpa batas, seorang bocah lelaki berlari dengan raket
bulutangkis di satu tangan–berfoto untuk sebuah
Gambar perspektif dengan burung-burung kecil–
Dan sebuah bak kecil pembawa jala di sisi lainnya.
Jantung 1000 tenagakuda telah hilang.
Sosok tidak akan pernah dirakit lagi.
Momen terkecil, adegan termungil:
Pandangan yang melintas antara
Aku dan ibunya
Ketika aku melihat itu adalah sesuatu yang hidup.
Sorry For Existing (The New Yorker, November 3th
2025)
Patricia Lookwood (1982 - )
Wednesday, October 29, 2025
Ladang Kecil
melalui kabut rendah
gunung jones
menyingsing biru terbilas
terpenoid
pepohonan menitis
perlahan mengapung
menuju musim semi
mapel dan beech
dan sungai birch
dalam banjirdatar
di mana terpencar cepat
warna-warna kuarsa
menuju kabuthutan
mencariku
+
jika aku adalah apapun
di bumi ini
aku sejak awal
adalah fana
dalam teriak
di bawah pohon
tanpa dedaunan
matahari menyentuh
setiap pola
sahabat
daunkembar
toothwort
bunga
hepatica
+
cara hujan
menyalakan arus
sungai
merentangkan hari
menambah jeda
cahaya pada langit
menjadi jujur
pada musimku
engkau butuh
presisi
aku condong
di tengah-maret
menuju matahari penuh
46˚
+
daun-daun palem tua
yang memakan cahaya
seluruh musim dingin
mati menyusut
di antara batu granit
tumbuh baru
warna-warna kesukaan
dijilat dengan
perak di bawah
sedikit merah jambu
seperti telinga
seekor tupai
cahaya belakang oleh matahari
aku menyukainya
+
aku tawarkan keindahan
juga obat-obatan
juga racun
apa yang kutawarkan
padamu tergantung
pada tepatnya
pendekatan
mengenal
tubuh ini
logikanya
seberapa salah
keintiman
akan menyakiti
kita berdua
+
kastanye pertama
ditebangkan hama
kemudian hemlock
daya tahannya
kemampuannya
di lembah-lembah ini
yang mengapung turun
dalam naiknya
yang perlahan
yang cepat
di bawah tanah
jaringan
aku tersambung pada
kebertahananhidup kita
+
tak ada ibukota
provinsi ini
batu-batu menyingsing
menuju punggung bukit
di barat
tak ada modal
di setapak ini
yang hanya memperbesar
ketinggian
di ceruk ini
kekecilanku
memegang kuasa
hidupku yang singkat
menciptakan nilai
+
cara batu
di sungai
tumbuh berlumut
menggaris dekat
cara mata air
tetap dekat pada
daun palem dan teman
menggaris dekat
siapa diriku
di mana diriku
pikiranku tenggelam
matahari dalam sebuah akar
perlahan ia membakar
pembuluh-pembuluh darah bumi
Smallholding
(Poets.org–Oct 29th 2025)
Brian Teare (1974)
Thursday, October 16, 2025
Matinya Seorang Naturalis
Sepanjang tahun bendungan dari rami bernanah di jantung
kota; hijau dan berkepala berat
Rami telah membusuk di sana, memberat oleh gumpalan besar rumput
Sehari-hari ia kepanasan oleh matahari yang menghukum.
Gelembung-gelembung berkumur dengan halus; botol-botolbiru
Menjahit selembar kain kasa suara yang kuat di sekitar bau.
Ada capung-capung, para kupu-kupu tampak,
Tetapi yang terbaik dari semuanya adalah air liur tebal telur katak
yang hangat yang tumbuh seperti air beku menggumpal
Di bawah teduhan tepi sungai. Di sini, setiap kali musim semi
Aku akan mengisi setoplespenuh bintik-bintik
Agar-agar sampai rentang tepi jendela di rumah,
Di laci-laci sekolah, dan tunggu dan lihat sampai
benjolan yang membesar meletus, menjadi kecebong
Lincah yang berenang. Nyonya Walls akan memberitahu kami bagaimana
Sang ayah kodok disebut seekor kodokbanteng
Dan bagaimana ia mati dan bagaimana ibu kodok
Menyebarkan ratusan telur kecil dan ini adalah
Telur kodok. Engkau juga bisa tahu cuaca dari kodok
Karena mereka kuning di bawah matahari dan coklat
Saat hujan.
Kemudian suatu hari
yang panas ketika ladang berderet
Dengan tai sapi di rumput katak-katak yang marah
Menyerbu bendungan rami; Aku menunduk melalui pagar
Menuju suara serak kasar yang belum pernah kudengar
Sebelumnya. Udara tebal dengan refrain bas.
Tepat di bawah bendungan kodok-kodok berperut kotor
terangkat di atas rumput; leher kendur mereka berdenyut seperti layar. Beberapa
berharap:
Tamparan dan ceburan adalah ancaman yang kabur. Beberapa duduk
Tenang bagaikan granat-granat lumpur, kepala-kepala berlumpur mereka kentut.
Aku mual, berbalik, dan lari. Lendir raja-raja besar
Berkumpul di sana untuk membalas dendam dan aku tahu
Jika aku mencelupkan tanganku telur-telur akan mencengkamnya.
Death of
Naturalist (Opened Ground–Selected Poems 1966-1999)
Seamus Heaney (1939-2013)
Saturday, October 11, 2025
Dari “Dunia Setelah Hujan” II: Terbangun Dua Kali
jam tebal, meja kami penuh, ladang kami panjang lagi dengan
tebu
pada beberapa hari yang cerah
engkau akan menawari aku tawa
hidupmu dan aku, berat dengan cucipudar
bergerak seperti asap menuju
pintumu, menyeberangi
perkebunan nan amifibi itu, akan menemuimu melintang,
Anne, dengan sebuah perintah;
hasutan damai kita dari banjir
dari sini menemukan sebuah biomassa yang berbeda untuk kebaikan
karena aku belum mengerti
penjelasan singkatmu,
menumbuhkan iman, dan aku harus bilang, inilah ini, bukan itu
dia yang bisa berharap, cerah seperti hijau, untuk semacam
akhir
dan yang bisa bilang, setelah
ini sebuah penghargaan atas semua penantianmu
jika puisi harus tertutup, jika hal-hal kosong berongga harus mengapung
jika beberapa mungkin bilang,
setelah menjadi layu ini, engkau harus marah untuk menulis
sebarang puisi sepenuhnya, Anne
bisakah pohon tin milikmu
dihitung
bagaikan selembar daun, sebuah stanza, dan atap runtuh ketika hujan
dalam silsilah terpencar
kita diperdebatkan menuju barang hilang dan ditemukannya seseorang
datanglah untuk mengulangi orang-orang menua yang menembakkan meriam di semua
halaman kita
*
mengumpulkan hidup, aku ingat tak ada penjaga malam
hanya tawa kita mengering ke
dalam sebuah serbuan voltase,
kemalanganku dilemparkan ke kematian
bersembunyi dalam bangkai
sebuah perahu tua
kepalaku: sebuah kebun binatang untuk setiap mangkuk kolam data
aku kembali memikul hadiah
tangan-tangan kosong
dan bertobat, ditandai dengan kehilangan tuhan,
hukum kematian yang
meraba-raba ini
aku bayangkan suara kokang pisau bedah
jatuh ke dalam kaleng
logam, dan tanganmu yang sudah pasti mendinginkan,
Anne, memperlambat semua kawanan kompromi yang liar,
mengadon tepung satu karung
100 pon milikmu
dengan tangan, dengan hati, setiap Sabtu, jam lima pagi,
sampai tengah malam
mendengar perempuan pertama yang berisik
dengan saku atau tangannya sendiri berlatih tentang bahaya menggunakan senyap
menyampaikan dengan
matematika dasar yang menanyakan keajaiban
ketika keajaiban terasa seperti pencurian: tahun-tahun tak pernah memberi
apa yang tahun-tahun tak pernah beri dan tak pernah
mempertimbangkan logika,
siklus yang harus dijalani, aku akan menciptakan logika
bagaimanapun: aku akan menciptakan logika,
langit dan halilintarnya
yang tak bersuara: aku akan menciptakan hari-hari,
sebagaimana ayahku membuat kebun, tukang kebun
merawat ruang luas dari
nisan ke nisan
membunyikan lonceng Minggu, ibuku
adalah kabut, adalah hujan,
menukar tempat-tempat
dengan parkir jalan, mengurangi kesedihan baru, waktu–dilelang
aku mengingat hal-hal tetapi
bukan apa yang ibuku bilang
yang bilang dua tahun; yang bilang kanker
adalah cara mati tanpa masuk
akal, bahkan tidak
pesawat-pesawat yang terserak; aku tak ingat apapun
ibuku pernah bilang,
dengarkan seluruh malam menuju hujan, aku
melihat semuanya:
mata, belati, mulut, Anne, aku sebersemangat gula dalam darah
From “The
World After Rain II,” II: Twice Awake (The Yale Review- September 8th
2025)
Canisia Lubrin (1984 - )
Nokturnalku
Buailah mata buailah aku
ciptakan aku sendokkan aku
bawakan aku api unggunkan aku
sungai tak berpasangan
dan pasangkan aku
kota membakarku
surgaku membuaiku
kecerahan darah
arangkan aku karantinakan aku
ranjang ayunkan aku di pemakaman
sendirian di bawah pohon mengkudu sedang berbunga
nenekku dedaunan tertiup angin
itu adalah malam sang malam yang jatuh
Mangga membalukan aku siangharikan aku
nyamuk dan panaskan aku dan puringkan aku
selubungi buihkan aku berpisah dari lembah
berpisah dari rambutnya yang menyelendangi aku
Tengahmalamkan aku kunang-kunangkan aku ikat lavenderkan aku
buaikan aku puringkan aku syalrobekkan aku
hujan memberitahuku
hujan lebat mengguyur
Tengahmalamkan aku bugenvilkan aku pangganglah aku
diperintah oleh caranya yang hening
aku mama aku mama aku
sebuah truk bumerang
laut talium pengantinkan aku
hijau jerukkan aku
minyaki aku dua sungai minyaki aku
lembutkan aku burungkolibrikan aku
gelap geram padaku di atas batunisannya
birukan aku ngengat-ngengat meniup dedaunan
aku mama aku sang masih mencintai dewa
biarkan jatuh padaku jangan sia-siakan aku
My
Nocturne (Paris Review–Fall 2025)
Ishion Hutchinson (1983 - )
Wednesday, October 8, 2025
Nyanyian Burung
Seekor burung bernyanyi dan aku tak tahu siapa namanya.
Dahan tempat ia bertengger berayun bersama angin yang kasar
tetapi tak membuatnya nyaris patah, aman sebagaimana adanya
pada batang raksasa sebuah pohon yang namanya aku juga tak tahu.
Akar-akarnya bernafas di bawah teka-teki bumi dengan ragam
dedaunan hijau dan bahkan bunga-bunga kecil
yang juga tak memberitahuku nama mereka.
Aku pernah berkata pada orang-orang muda di sebuah ruangan
bahwa setiap penulis pertama-tama harus menjadi seorang pengamat yang baik,
meskipun aku tak bisa membawa diriku
pada persis di momen itu untuk melihat secara langsung ke dalam matamu.
Bahkan apakah mereka mendengar?
Mungkin aku telah tumbuh lelah dengan nama-nama–ilusi dominasi.
Burung pohon dan selimut hijau akan bergerak menjadi diri mereka
di hadapan lelaki-lelaki dengan buku-buku besar mereka yang ditarik kuda.
Di hadapan yang paling pertama dengan kenangan-kenangan mitokondris
es. Es sangat banyak dan banyak nama untuk mereka.
Dan, ngomong-ngomong, sang burung berhenti bernyanyi
dan telah terbang dari pohon di dalam taman,
sang lelaki berpikir angin tergesa melaluinya
seakan-akan lari menjauh.
Bird Song
(The New Yorker – Oktober 6th 2025)
Jose
Antonio Rodriguez (1971- )
Thursday, September 18, 2025
Burung-Burung Gagak
Di Jepang, di Seattle, Di
Indonesia–di sanalah mereka berada–
masing-masing bersuara keras dan lapar,
melintasi sebuah lapangan, atau duduk
di atas kemacetan, atau jatuh
ke halaman rumput beberapa kuil ke matahari itu sendiri
atau berjalan dengan kaki-kaki kuat,
seperti seorang tuan tanah. Aku kira
mereka tak mencemburui siapapun atau apapun–
tidak harimau, tidak kaisar,
bahkan tidak sang filsuf.
Mengapa mereka harus cemburu?
Angin adalah teman mereka, setidaknya pohon adalah rumah.
Tidaklah melodi, yang
telah mereka temukan, dibutuhkan.
tidaklah mereka punya langit-langit yang halus;
tanpa ragu mereka akan makan
apapun yang bisa engkau pikirkan–
jagung, tikus,
hamburger-hamburger lama–
menelan dengan semacam teriak dan nafsu
tak seorang pun tahu apakah itu adalah pamer
atau doa terimakasih terdalam. Kala matahari terbit, ketika aku berjalan keluar,
Aku melihat mereka di
pohon-pohon, atau di atas gedung-gedung,
seceria para malaikat, atau para pencuri kerja kecil
mereka yang, semalam lagi, sukses–
dan seperti semua kesuksesan, mengalihkan pikiran-pikiranku pada diriku sendiri.
Haruskah aku menuju sebuah
kehidupan yang lebih sederhana?
Sudahkah ambisiku pantas?
Sudahkah angin, selama bertahun-tahun, juga berbicara padaku?
Di suatu tempat, di antara semua pikiran-pikiranku, ada jalan setapak sempit.
Ia menarik, tetapi siapa
bisa mengikutinya?
Perlahan pagi yang penuh
membawa pada kita persamaannya yang misterius dan tercinta.
Kemudian, di cabang-cabang batang dari pusat gelapnya mereka,
semakin lebih luwes dan
cerah,
berkilau dari matahari yang terbakar dan melebur di sayap burung-burung,
seakan, cuek dan nyaman,
mereka mendamba, mereka bertengkar di cahaya warna merah, yang luas.
Crows (The New Yorker,
September 20th 2000)
Mary Oliver (1935-2019)
Thursday, September 4, 2025
Ichthys
Sedalam pinggang dalam sebuah arus pada suatu hari
Aku menangkap sebuah kilasan
pada cermin sebuah mata jeli
yang membelit menusuk kami berdua
ketika melawan kail yang terkubur
Permukaan sungai dalam
ketenangannya dan luncuran bengkak
mengalir hitam dan berat
di lingkar kaki-kakiku,
mengisap sepatu botku,
melemparkannya kembali
apa yang tampak pada riaknya
berlalu surut, mengerlip
pikiran-pikiran ke dalam
aliran tahun-tahun yang telah lewat–
rasa-rasa bersalah yang keras digigit, luka-luka jalan keluar–
mendorong melalui hati,
meracuni darah, mencuat keluar.
Dalam udara musim panas yang indah,
di antara gelincir dan terjepit
ia terkesiap, dan terlintas
wajah kematian,
tak pas untuk kekacauan sementara ini,
dan kemudian, sebagaimana bahwa, kembali
ke antara dedaunan yang tenggelam,
batu-batu berguling, langit tinggi, rumput cerah–
berkilauan, rapuh seperti kaca.
Ichthys
(The New Yorker, August 25th 2025)
Jay Fielden
Thursday, August 28, 2025
Kita Akhirnya Bermain
Nada akar keberadaan kita menjadi malamgerah ini di dalam
ranjang
bertingkat anak lelaki
Ketidaksesuaian
burunghantu rasasekeliling sinarmatahariberpeluh dan bulanlampusorot
insomnia
kedua-duanya.
Perselisihan
ala mustang (tulangkering-betis) kita melompati spiralmata
pada
matahariteh dan gula.
<< berjaga-jagalah
untuk dirimu sendiri aku bisa membunuhmu lagi dengan mudah >>
Sistol diastol
tak manis tak terkekang (dan kembali lagi)
(dan
seterusnya)
Dari penghasut
vs yang diperburuk; tak terkekang-yang di arteri
saudaramemukul
pada
tendang-tinju (dan cekik-mencekik dan menangkis) yang bermain di permainan.
We Being
Ludere (poets.org, August 28th 2025)
Atsuro Riley
Wednesday, August 20, 2025
Eros
Antara membiarkan pergi dan membebaskan
itu adalah aku. Tak diberkati. Arogan. Berbisa
seperti runcing tunjuk. Surai kuda mengendur. Busur
Gemetar dari jauh yang dalam. Udara memotong
Tanpa jejak. Ada keyakinan, sebuah tarikan
Mendekat, mendekat, cukup dekat, kemudian
Ke dalam bayangan kubawa diriku
Sejauh yang aku mampu. Jiwa. Tanah. Sedang ternoda
Kubuktikan aku bisa melangkah ke dalam sekali
Lagi. Hutan. Gunung. Gurun. Darah,
sumber daya dan penolongku. Sementara dalam perang
Di pikiranku, aku pergi lebih jauh ketimbang dari yang kupikirkan–
Dalam hasrat. Apakah aku adalah targetku? Tak mengharap belas kasihan.
Demi kebaikan atau keburukan, apapun yang terjadi,
aku akan lebih baik. Aku akan lebih buruk–
Ayo pergi. Tak seorang pun mengharapkan kita. Bersiaplah.
Pergi adalah satu jamnya hantu di atas teluk
Seperti para lumba-lumba, sebuah kenangan, merobek permukaan
Tanah dan apakah dan seandainya dan laut dan
Aku menduganya udara. Sebuah momen yang bukan
Ini, kami nyalakan. Cemerlang. Temui aku
Di pesisir. Aku bertujuan dengan hidupku untuk membuktikan
Kita bisa lebih gembira ketimbang orang-orang yang kita cintai.
Yang membedakan adalah jarak, menyingsing. Berselisih jalan. Terbebas–
Paul Tran