Lelaki dalam angin
yang membuat kita tetap terjaga malam ini
bukanlah rahib hitam angin
meringkuk di sudut-sudut dan rahim-rahim
atau wajah putih di bawah lampu jalan
dilanda oleh rasa bersalah karena hidungnya
atau tamparan besar tangan angin
memukul dan memukul lorong-lorong hujan
sementara para penyiksa memproses dengan
interogasi
dan suara terpidana yang membesar
berdarah di atas simbal dan timpani.
Dengar.
Mimpinya tentang angin
adalah amarah yang menyelaraskan pikirannya
dan mengenakan kulitnya.
Tangisnya bukanlah apa yang dikatakan angin
tetapi ketakutan di mana ia hidup di dalamnya.
Tidaklah angin kurang manusia karena menjadi lebih liar
atau menjadi, sebagaimana kini, sebuah raungan, raungan yang terus-menerus
seperti ombak di mana tak ada pesisir,
tak ada, dan tak ada pedalaman atau tanjung untuk menghalangi
tumpahan air hitam di atas air yang tetap lebih banyak.
Dan kini ia menenggelamkan pulau sopan kita,
pelabuhan-pelabuhan kecil bebas dengan cahaya pengintai mereka yang waspada
kapal-kapal, gedung-gedung bertingkat, derek, menara lonceng, tiang,
kakilangit yang membusuk menghilang dengan cakrawala terakhirnya
untuk sebuah ujung yang bersih murni,
untuk satu-satunya ujung di malam yang tak tercipta ini
di mana anginnya angin, dilonggarkan oleh tidurnya
menuju kekuatannya sendiri,
bergerak tanpa makna, atau menjadi–
sebuah ombak yang memulai sebelum permulaan,
yang tak akan berakhir setelah akhir.
The Man in The Wind (The Guardian from Minute by Glass Minute-1982)
Anne Stevenson (1933-2020)
Monday, December 29, 2025
Lelaki Dalam Angin
Friday, December 26, 2025
Angsa
Lelaki kurus tak berbaju
memancing di
tepi sungai. Perempuan
di
sampingnya, merokok.
Dua anak. Yang satu
melihatku sedih.
Yang lainnya dengan benih
kebencian. Lalu,
di manakah
sang angsa? Masih
di bawah-
sungai di bagian yang
bergolak.
Apa yang akan kulakukan
dengan
orang-orang di samping
sungai yang
sama ini,
mata mereka mengikuti
ku seperti sebuah
celah garis
rambut.
Temanku
yang menghubungiku
semalam untuk memberitahu
soal
tetangga-tetangga yang kasar
yang
melihatnya
dengan rasa jijik.
Tetanggaku
yang melihat
ku dengan
jijik.
Semua orang yang
tidak
tahu
tentang
sang angsa yang berpusar
di sungai
yang kasar.
Semua
lelaki yang
melecehkanku yang kini
menikah punya
anak. Bahkan
yang paling kasar,
yang
punya bekas luka
dari leher sampai pinggulnya,
karena hatinya
terlalu sederhana dan
harus digerakkan.
Mereka tak bisa menemukan
hati
manusia,
maka mereka
memasukkan satu
kawanan lebah.
Seorang lelaki lainnya yang
memanggilku
ke
kantornya
Yang berteriak padaku
sambil dia
menarik
bulu
matanya maka
setiap malam
mejanya
terlihat
seperti ladang gandum.
Bahkan, aku sudah tahu
pohon-pohon memiliki
hati.
Aku mengisi semua
persegi panjang
di kertas
kerja
dengan pohon-pohon.
Pada akhir
tahun, aku punya
4.223 pohon.
Tapi tak ada garis
pepohonan.
Maka aku berhenti
dari pekerjaanku.
Dari
kejauhan,
jembatan yang
baru saja
kuseberangi. Jembatan
yang sama sang
angsa
melintas
di bawahnya. Atau
mungkin
sang angsa baru saja
melintas di atas kepalaku.
Bagaimana
bisa angsa di
langit adalah penyelamat
tetapi di sungai
menjadi
sesuatu untuk diselamatkan.
Bagaimana
bisa
di negara ini, tubuhku
robek dari
cahaya matahari.
Bagaimana bisa di tanah
yang berbeda,
tubuhku dipelajari oleh
para ahli
burung.
Ada sangat
banyak hal
kebencian tak punya
urusan dengan: jembatan,
lonceng di
kejauhan, malam.
Ada sebuah teori
bahwa kebencian rapat
berhubungan
dengan cinta.
Bahwa benci
adalah tiruan dari
cinta.
Teori yang lain
cinta adalah
lawan dari
depresi. Karena itu mungkin
pekerjaan
terburuk di
dunia adalah menjadi seorang penyair.
Karena setiap
penyair
berusaha untuk dicintai
oleh masa
depan.
Karena setiap puisi
berusaha menjadi
sebuah puisi cinta.
The Swan
(The Yale Review–June 9th 2025)
Victoria Chang (1970 - )
Sunday, December 21, 2025
Nokturnal Arena Sepatu Roda
Ketika kita mencoba berpura-pura bahwa bulan bergerak melintasi wajah kita, kita mendapatkan sebuah bola disko. Kilatan
petir dan karpet dengan cetakan gambar bintang mengilaukan fluoresensi kuning dan ungu di bawah cahaya hitam. Ketika
kita lapar dan garis rambut kita basah dengan sebuah lagu peluh, kita mengumpulkan uang kertas kusut dari saku-saku kita
dan berbagi sepotong yang panas dan RC cola sedang. Jika engkau belajar meluncur mundur, di sini, selama beberapa jam,
engkau bisa menjadi bangsawan. Jika seseorang memintamu meluncur di waktu Meluncur Berpasangan, engkau adalah Legiun Kekaisaran.
Jika engkau masuk ke dalam Luncuran Romeo, Cannonball, atau Menembak-Bulan, engkau mungkin akan disebut
Pemimpin Tertinggi Laksamana Konvoi. Semua yang engkau butuhkan adalah berlatih. Ketika kita bermain malam, mata dan tubuhmu
jangan pernah dilupakan. Tubuh kita mengingat luncuran, seperti sebuah sungai yang mengingat setiap likunya.
Roller Ŕink Nocturne (The New Yorker, December 15th 2025)
Aimee Nezukhumatathil (1974- )
Sunday, December 7, 2025
Air Menjawab
Mungkin kita sudah membasuh tangan kita
dan mabuk berat dan berenang
dan berpikir kita mengenalnya,
tetapi reputasi air bergerak di hadapannya seperti banjir:
ia tak membiarkan orang-orang bodoh dan para pengganggu.
Karena itu aku menyiapkan beberapa pertanyaan.
Dari mana engkau mendapatkan ide-ide dan ombakmu?
Jangan katakan bulan-itu terlalu dibuat-buat.
Tetapi ketika aku turun ke pesisir
Aku kehilangan langkahku dan menghabiskan waktu yang ada dilemparkan ke arus baliknya,
dipukul oleh bebatuan kecil.
Ketika aku dibaptis aku bertanya pada air
Ke mana iblis-iblis pergi?
Apakah mereka bersembunyi di belakang H, 2, atau O?
Aku muncul akhirnya bisa melihat apa yang belum kuubah,
yang aku sendiri tak melakukan apa-apa, airlah yang memutuskan.
Di jalan setapak di belakang gereja
Aku memeras jaketku. Kubertanya pada air:
Akankah engkau menyampaikan pikiran-pikiran ini sampai jauh?
Rasa gatal kebencian-kebencian ini, sakit gigi karena cemburu,
Selera-selera buruk dan hausnya anjing ini?
Sejauh saja yang akan dilakukan kota berikutnya.
Riak-riak tabulasi bulan.
Kapan terakhir kali engkau menangis, dan mengapa?
Aku bertanya pada air. Aku bertanya pada air.
Apakah engkau punya rencana untuk nanti?
The Water Replies (The Poetry Society)
Luke Kennard (1981- )